Perselingkuhan Hitam Putih

December 16, 2012

hitam putih

Memilih berselingkuh daripada diselingkuhi lebih dimaknai sebagai laku heroik, kemenangan, dan karena itu, layak mendapat tepuk tangan.

”Selingkuh atau diselingkuhi?!”  Itulah pertanyaan yang nyaris dilontarkan Deddy Corbuzier dalam tiap acara ”Hitam Putih” ,  terutama untuk bintang tamu yang tergolong muda. Pertanyaan yang biasa sebenarnya, apalagi disodorkan kepada para artis yang  menyangkut  perselingkuhan seakan sudah jadi bagian dari ”gaya panggung”. Maka, pertanyaan itu harus dijawab, seperti permintaan Deddy, dengan cepat, tangkas, dan cerkas, tanpa berkerut jidat.

Sebagian artis akan mengakhiri jawaban dengan tertawa, dan atau teriakan bangga, ”Yes!” seperti yang, jika tak salah ingat,  dilakukan oleh Dewi Perssik. Dan di bagian pertanyaan inilah yang biasanya membuat penonton tergelak, tersenyum, terutama ketika bintang tamu seperti bingung, mesam-mesem, dan seolah berpikir.

Padahal, menjawab dua hal itu seharusnya tak perlu menyita waktu.

Selingkuh atau diselingkuhi adalah soal pilihan. Bukan sesuatu yang sulit dijawab, karena ini lebih merupakan sikap moral, sesuatu yang tak perlu penalaran berlebih. Sebagai sikap moral, selingkuh atau diselingkuhi, adalah pilihan yang sebenarnya sudah terintegrasi di dalam pikiran. Jadi, jika pun ditanyakan,  pasti akan terjadi otomatisasi pikiran untuk segera menyatakan pilihan.

Wajar jika Deddy meminta waktu cepat.

Dan jadi aneh ketika para artis salah tingkah, terpekur, lamban, bahkan terlihat gugup-merona, menggeragap.

Tapi, justru itu yang banyak terjadi. Selalu ada jeda waktu sebelum para bintang tamu memberikan jawab. Dan Deddy, biasanya, tersenyum, menaikkan alisnya, atau mengedipkan matanya, menggoda, seakan ”mengejek”  proses jawaban yang lamban itu.

Mengapa Deddy terkesan ”mengejek”? Sepele soalnya. Jawaban mereka, meski seperti berpikir, justru nyaris seragam.

”Selingkuh atau diselingkuhi?!” tanya Deddy.

”Selingkuh! Yess!!” jawab Depe.

”Selingkuh, dong. Enak aja,” kata Jessika Iskandar.

Nyaris, selalu itu jawabannya.  Bisa dengan diksi yang mantap, geram manja, tegas tangkas, atau getar yang ragu, bingung, dan gelengan kepala yang tak jelas maknanya.  Tapi toh, dengan berkerut kening, tertawa, jawabannya tetap sama. Nara sumber pria atau wanita, menjawab seakan seiya-sekata: ”Selingkuh!”

Laku Heroik

hitam putih2Mengapa para narasumber memilih ”Selingkuh”? Tak sulit menebak apa yang mereka pikirkan. Jawaban, ”Selingkuh dong. Enak aja…” mengindikasikan hal itu. Memilih selingkuh daripada diselingkuhi menyatakan posisi, mengejawantahkan  sikap aktif, memilih untuk berada dalam situasi si atas, mendominasi, berkehendak. Memilih selingkuh daripada diselingkuhi menyatakan diri ”tidak sebagai korban”.

Memilih selingkuh daripada diselingkuhi adalah sebuah sikap menolak untuk dikalahlan oleh pihak ketiga.

Sekilas, sikap ini tampak dapat dibenarkan. Masalahnya, jika dalam sebuah hubungan ada ”wilayah pilihan” tentang kemungkinan untuk tidak menjadi ”korban”, bukankah yang terjadi kemudian adalah perselingkuhan-perselingkuhan?  ”Daripada dia duluan, daripada gue diselingkuhin, gue duluan deh. Enak aje…”

Sikap para narasumber ini tampaknya diamini para penonton. Tepuk tangan dan pemberian tawa, tentulah sebuah afirmasi pada jawaban.  Karena, tampaknya, tanpa sadar,  memilih selingkuh daripada diselingkuhi lebih dimaknai sebagai laku heroik, kemenangan, dan karena itu, layak mendapat tepuk tangan.

Benar bahwa jika diselingkuhi setiap orang akan merasakan sakit, nyeri hati, kehilangan kepercayaan pada diri, merasa dicampakkan, tak berharga. Tapi, apakah semua rasa sakit dan ketakberdayaan itu layak dilabeli sebagai korban? Sehingga, menampik diselingkuhi dan memilih untuk (ber)selingkuh adalah tindak untuk menolak menjadi sang korban?

Rasanya tidak.

Jika pun terjadi sebuah perselingkuhan, maka yang layak dijadikan sebagai korban adalah komitmen, kesetiaan. Di sini, korban bukan mengacu pada sosok, pada tubuh atau nama, atau harga diri, tapi lebih kepada nilai-nilai.  Setiap perselingkuhan selalu mengikis nilai kesetiaan. Perselingkuhan menghancurkan sendi komitmen dan kepercayaan.  Perselingkuhan mengorbankan keyakinan tentang cinta yang suci dan menyatukan.

Jadi, salah besar jika posisi korban diletakkan pada sosok yang diselingkuhi. Karena, diselingkuhi adalah situasi yang justru terlindung dari kemunafikan, kebohongan, kejahatan rasa, dan keliaran badaniah.

Diselingkuhi adalah sebuah posisi yang, sebenarnya, terselamatkan!

”Selingkuh atau diselingkuhi?!” serang Deddy.

”Diselingkuhi!” tangkis Tya Ariestya, yakin!

”Diselingkuhi atau jomblo selamanya!” cecar Deddy lagi.

”Jomblo!”

Tya Ariestya tahu, jika dia diselingkuhi, maka lelaki itu tak pantas menjadi kekasihnya, tak pantas menjadi pendampingnya. Dia memilih diselingkuhi, karena hal itu menjadi saring bagi asmaranya, bagi kehidupannya kelak. Diselingkuhi membuat dia terlindungi. Diselingkuhi membuat dia selamat dari cinta yang khianat.

Tya tak memilih (ber)selingkuh karena menyadari itu bukan laku heroik, bukan tindak untuk tak menjadi sang korban, tapi lebih sebagai aktivitas menyalurkan keliaran hasrat.

Bagi Tya, mungkin, memilih selingkuh daripada diselingkuhi adalah mengafirmasi sebuah sikap aktif untuk menghancurkan nilai kesetiaan dan merusak makna cinta.


Hasrat Bicara

Dengan demikian, memilih (ber)selingkuh adalah pernyataan tentang keberpihakan  untuk berbuat jahat, menyakiti, daripada disakiti. Melibatkan diri untuk menjadi perusak aktif kesetiaan dan nilai cinta  ketimbang melawan atau terselamatkan dari kepalsuan.

Memilih (ber)selingkuh adalah pernyataan tentang kebebasan diri untuk memenuhi hasrat libinal, petualangan, keliaran, dan pendobrakan pada nilai kesetiaan.

Itulah sebabnya, memilih (ber)selingkuh dilakukan dengan sedikit rasa bangga, kegelian, atau tertawa yang berderai-derai.

”Ketahuan selingkuh atau menangkap istri sedang selingkuh?” tanya Deddy.

”Lha, kan sudah ketahuan selingkuh, jadi mau bagaimana lagi, hahahaha…” Tora Sudira ngakak.

Penonton lebih lebar tertawa, bahkan terpingkal-pingkal.

Entah apa yang lucu.

Padahal, Deddy bertanya dengan frasa yang berbeda. Bukan lagi, ”Selingkuh atau diselingkuhi?!” tapi ”Ketahuan…”

Artinya, untuk Tora Sudiro, Deddy tidak lagi meminta memilih soal setia atau tidak, tapi lebih pada ketahuan berbuat tak setia atau tidak. Dari pertanyaan ini saja sudah dapat disimpulkan bahwa Deddy menempatkan Tora sebagai pelaku selingkuh. Persoalamnya, ketahuan atau tidak.

Dan memang itulah kenyataannya. Perselingkuhan yang selalu menjadi berita di televisi bukanlah perkara kesetiaan yang tercerabut, tapi soal ketahuan atau tertangkap kamera semata. Dengan kata lain, kesetiaan atau komitmen adalah perkara yang manis di mulut tapi tak jelas sudah bentuk dan wujudnya. Ia hanya ada di awal perpacaran atau pernikahan, dan lalu semua hilang. Perselingkuan adalah bagian integral dari panggung, dunia yang yang tak bisa mereka lepaskan. Dan karena itu lalu  jadi hal yang biasa. Yang mereka lakukan, dengan demikian, bukanlah menghindari perselingkuhan, tapi sekuat mungkin menutupinya.

Selingkuh adalah pilihan untuk merayakan keberhasratan. Dan karena ”perayaan”, maka laku itu dilakukan dengan riang gembira, tertawa, ”Yess!”

Inilah perilaku yang menurut Marquis de Sade sebagai, ”menikmati penyimpangan  dan menertawakannya sebagai bagian dari lelucon kehidupan.” Ssebagai sesuatu yang biasa, dan menjadikan, ”kehidupan adalah perjanjian sadar untuk memuasinya dengan cerita indah dan lucu tentang kesetiaan yang dikutuk.”

Betapa menyeramkan!

Mereka yang memilih (ber)selingkuh daripada diselingkuhi, menurut de Sade, adalah orang yang hidupnya melulu mengejar kenikmatan-kenikmatan inderawi (sense pleasure), dan motivasi hidupnya adalah murni untuk memuaskan seluruh hasrat dirinya. Mencari kenikmatan tubuh dengan melampaui batas-batas normalitas, dan memasuki area-area yang menyimpang.

Lalu, tanya diri Anda, pilih mana,  berselingkuh atau diselingkuhi.

Klien yang Melayani Penonton

May 6, 2009

Ketika reality show hanya bertugas menghibur penonton, tayangan itu pun berubah menjadi sinetron.

Sambil menatap Siksa, dengan yakin Dedy berkata, “Saya tidak pernah menyesal menikahinya. Saya masih mencintainya….” Mendengar pengakuan itu, penonton bertepuk tangan. Sebagian tersenyum dan –ini di-close up berkali-kali– menyusut air mata. Di sisi kanan panggung, Siska, istri Dedy, menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan pengakuan itu. Ia terisak….

Helmi Yahya kemudian mempertemukan keduanya di panggung.

Dapat ditebak, Dedy dan Siska bersedia kembali untuk berbaikan, melupakan berbagai masalah, menempuh hidup bersama dengan cara yang berbeda. Keduanya berpelukan, bertangisan. Dan kembali kamera beredar ke penonton, yang menyambut adegan itu dengan leleran air mata.

Itulah klimaks acara “Masihkah Kau mencintaiku???” yang tayang di RCTI, Rabu malam (29/4). Reality Show yang dipandu Helmi Yahya dan Dian Nitami itu memberikan berbagai pertanyaan untuk menguji “kelekatan” sebuah pasangan. Siksa dan Dedy misalnya, yang tampil dalam tajuk “Suami Kurang perhatian, Istri Menuntut Cerai”, mendapat pertanyaan yang menguji ingatan mereka tentang ukuran beha, kapan ulangtahun mertua, hari lahir anak, sampai apa yang mereka rasakan setelah 11 tahun menikah. Dari ketakyakinan, juga kesalahan, jawaban itulah konflik kemudian tercipta, ditambah keterlibatan kedua orangtua mereka yang selalu membela anak masing-masing. Bahkan, Ray Sita, yang dihadirkan sebagai konsultan, melihat keterlibatan orangtualah yang menjadi konflik utama Siksa dan Dedy.

Memang, dalam tayangan itu tampak ibu Dedy amat membenci dan menyalahkan Siska. Dalam satu adegan, dia bahkan sampai melompat dari bangkunya dan dengan tangan terkepal menuju ke Siska. “Untung” Helmi berhasil menahan langkahnya. Jika tidak, perkelahian mertua-menantu pasti tak terelakkan.

Tapi, di acara sejenis di TPI, “Curhat Bareng Anjasmara”, perkelahian antarkeluarga tak terelakkan. Perkelahian itu juga yang menjadi iklan utama tayangan itu, dengan memperlihatkan Anjasmara yang emosional, berteriak, seakan putus harapan.

Harus diakui, dan seperti telah menjadi kesepakatan, reality show di televisi memang sarat dengan pertengkaran dan perkelahian.  ”Termehek-mehek”, “Kacau”, sampai “Cinta Pertama”, adalah contoh acara yang mengadopsi jurus itu. Tak ada kreativitas yang berbeda untuk menciptakan klimaks yang bukan berwujud kekerasan. Mereka hanya percaya, klimaks berupa perkelahianlah yang dapat membuat akhir cerita menjadi penuh airmata. “Masihkah Kau Mencintaiku???” memang kembali membuktikan ampuhnya resep standar tersebut. Rabu malam itu, sebagian penonton bahkan membiarkan airmata mereka jatuh begitu saja. Mereka seperti terkesima.
Tanpa Empati

“Masihkah Kau Mencintaiku???” dan “Curhat Bareng Anjasmara”, sebagaimana tayangan reality show  lainnya, adalah “adopsi” dari produk mancanegara. Acara jenis ini telah hadir kurang lebih 5 tahun lalu di berbagai televisi di Amerika, Eropa, bahkan India. Di Amerika misalnya, tersedia “The Jerry Springer Show” yang tayang di NBC. Sedangkan di Inggris, acara sejenis bernama “The Jeremy Kyle Show” tayang di ITV. Bahkan, di India Kiran Deli memandu “Aap Ki Kachehri… Kiran Ke Saath”, show dengan tema yang sama.

Sebagai contekan, seharusnya dua acara di atas mampu tampil lebih baik dari yang mereka adopsi. Kenyataannya, Helmi dan Anjasmara hanya menang dalam membuat keributan. Konklusi yang tercipta pun hadir hanya dari kesepakatan hati, berupa kesediaan memberi dan menerima maaf. Pengakuan bersalah muncul bukan sebagai kesadaran personal tapi keterdesakan dari opini konselor dan teriakan penonton. Ini berbeda dari “The Jeremy Kyle Show” misalnya. Jeremy ttampak tak terlalu pusing dengan respon penonton, dia hadir untuk membuktikan agar seorang “tertuduh” menerima kesalahan sebagai pengakuan pribadi. Dalam satu sesi, Jeremy bahkan menghadirkan bukti DNA, sehingga seorang pria tak lagi dapat membantah untuk mengakui anak yang selama ini dia ingkari.

Pembuktian semacam itu penting untuk menjadi pembeda utama acara ini. Jerry, Jeremy dan Kiran, hadir untuk melayani klien yang punya problem dan mencarikan solusi yang tak terbantahkan, bukan sekadar memaafkan. Sedangkan Helmi dan Anjasmara, juga acara dengan embel-embel reality show lainnya, menghadirkan klien tak lebih hanya untuk melayani penonton. Dan untuk melayani penonton, klien pun harus berlaku sebagai aktor.

Pengaktoran itu tampak sekali dalam “Masihkah Kau Mencintaiku???” Sebagai “pemilik” masalah, Siska dan Dedy tampak rumit mendeskripsikan diri, mereka justru terasing dari problem itu. Bahkan, dalam kategori tertentu, terutama dengan dukungan “aktor” cadangan ibu Dedy, masalah mereka terlihat sebagai naskah yang dihapalkan, skenario yang dimainkan. Gestur ayah Dedy tak bisa menipu. Dia tampak tak cemas dengan kebringasan istrinya, dan hanya bisa berakting dengan mengusapi bahu, untuk menyabarkan. Siska sendiri –duh, memungut dari mana sih,  Hel?– sepanjang acara hanya merengek. Dia tak terlihat menderita dengan permasalahan itu.

Tapi, masalah utama “pengaktoran” justru berada pada Helmi dan Dian Nitami. Helmi masih saja tampil seperti membawakan kuis “Siapa Berani” yang dulu populer di Indosiar, tanpa keterlibatan emosional, tanpa empati. Dia terpaku pada pertanyaan, melempar, selesai. Tak ada penggalian lebih jauh untuk memunculkan endapan-endapan psikologis klien. Helmi bahkan tidak berada di dalam masalah, tidak mengambil posisi untuk terlibat. Barangkali kesadaran bahwa masalah adalah rekaan yang membuat Helmi sudah untuk terlibatkan. Dian Nitami? Ah, setali tiga uang. Dia lebih banyak tertawa, tergelak menikmati “sandiwara”.

Kesadaran hanya untuk melayani penonton juga membuat tayangan ini harus happy ending, berakhir riang gembira, penonton harus bahagia. Perceraian tak akan pernah menjadi solusi. Padahal, dari pemanggungan masalah, sulit diterima nalar hanya dengan 60 menit dikurangi iklan, semua dapat diselesaikan. Penonton di studio dan di rumah bertepuk tangan, terpuaskan dalam tangisan.
Reality show sejenis tayangan itu  pada dasarnya hadir untuk melayani klien, mencarikan solusi terbaik, yang jernih dari infiltrasi kepentingan penonton. Klien hadir di panggung sebagai diri sendiri dan tanpa keinginan untuk memberi inspirasi. Mereka bukan aktor. Tapi di sini, apa pun jenisnya, reality show dihadirkan untuk menjadi hiburan. Klien hanya figuran, yang barangkali diambil dari jalanan, dan dijebloskan ke dalam skenario yang berantakan. Mereka harus menyenangkan penonton, dan karena itu, reality show  selalu berubah jadi sinetron.

 [Artikel di atas telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Mei 2009]

Hantu dari Masa Lalu

January 9, 2009

Kita tidak hidup dalam firdaus, dan karena itu kita tak mampu menampik masa lalu.

Walter Benyamin benar ketika mengatakan itu. Masa lampau, bagi filsuf Jerman itu, bukan saja tak pernah tertinggal bahkan terus menghampiri, kadang hadir berulang. “Hanya sejarah-lah yang sesungguhnya dapat menerangkan, siapakah sesungguhnya manusia itu,” demikian dia berkata, menguatkan mazhab historisisme.

Tapi, sejarah semacam apa yang tak bisa diogahi itu? Benyamin punya jawaban: sejarah dengan kepedihan.

“Sejarah yang selalu dikenang ini bukanlah sejarah yang penuh dengan romantika manis. Namun, apa yang selalu membayangi orang adalah ingatan akan penderitaan, memoria passionis.”

Sejarah yang tak hanya menjejaki otak dengan tanggal, hari, percik suasana dan hangat percakapan, melainkan telah berubah menjadi verstehen; pemahaman dalam diri, terinternalisasikan, tertubuhkan. Dalam sejarah semacam itulah, masa depan, hidup yang kini dijalani, mendapatkan penebusan.

“Aku tak bisa melupakan masa lalu. Ada fase dalam hidupku yang begitu bodoh, yang sampai kini pun masih membuatku bertanya, ‘kok bisa aku melakukan hal itu’,” kata Shu Qi, aktris China yang kini telah menapak di Hollywood. “Tapi ya, itu memang hidupku. Dulu.”

Shu Qi memulai karier dengan cara yang tak lazim; dia memanfaatkan tubuhnya.

Dalam film Sex & Zen, yang menjadi sangat populer di Indonesia, aktris itu tak beradegan lain, kecuali menggeliat dan mendesis, menyayukan mata ketika menanggalkan busana, mengelinjangkan pinggul seakan berkuda.

Ya, Shu Qi memulai karier sebagai bintang porno.

Cara yang tepat.

Namanya pun melesat.

Tapi Shu Qi justru merasa cacat.

yang ia rasa, sebenarnya dia tak pernah ke tujuan melangkah.

Shu Qi salah arah.

Shu Qi ingin berubah. “Aku tahu telah berbuat keliru. Saat itu, dalam ketiadaan pengharapan dan dukungan keluarga, aku merasa telah dewasa untuk melakukan apa saja,” tuturnya dalam sesal yang punah sebagai tangis.

Shu Qi berbenah. Ia berakting dengan Jacky Chan dalam Gorgeous, sebagai gadis lugu, tak lagi bersayu-sayu. Aktingnya tak cemerlang di situ. Tapi Shu Qi tahu, dia telah melangkah.

Kemudian, perlahan, dia mulai menemukan arah.

Kini, dia terpilih sebagai aktris dengan bibir terseksi di dunia, mengalahkan Angelina Jolie. Sampai 2010, jadwal filmnya telah penuh, beberapa di antaranya produksi Hollywood. Dia telah bermetamorfosa dari siburik itik menjadi angsa.

Tapi kemana pun melangkah, Shu Qi tak menampik masa lalunya, memoria passionis itu.

Dalam hal itulah Shu Qi berbeda dari Rahma Azhari.

Rahma sampai kini tak mengakui masa lalunya.

Ketika tampil sebagai tamu dalam “Bukan Empat Mata”, dia masih mengelak, dan cuma berkata, “Terserah orang mau bilang apa.” Dalam berbagai tayangan infotainmen, Rahma hanya mengiyakan foto dia dan Sarah yang belum lepas busana. Foto bugil bertiga, dalam tawa riang dan senyum cerah dengan tubuh bersabun busa, Rahma tak mengingatnya. Dia alpa.

Ya, sama seperti Shu Qi, Rahma pun menangis. Tapi tangis Rahma adalah rintihan pengingkaran, bahwa ada seseorang yang dengan sengaja telah menyakitinya, membuatkan aib untuknya. Roy Suryo pun dia anggap menguatkan sesuatu yang bukan saja tak ada, melainkan juga tak pernah dia lakukan.

Tapi, “Foto itu asli,” kata Roy Suryo.

Sarah dan Rahma, di mata Roy adalah korban. Dan karena itu, dia berharap keduanya tak mengingkari. Bahkan harus lapor ke polisi.

Roy barangkali tak menyadari bahwa Rahma tak sepenuhnya ingkar. Rahma hanya lupa.

“Masa lalu yang dapat dilupakan, adalah kelampauan yang tak menyimpan ingatan akan penderitaan,” kata Walter Benyamin. Bagi Rahma, mandi bertiga lepas busana sembari  menggelakkan tawa bukanlah penderitaan, bukan aib atau pun kesalahan. Foto-foto itu adalah pameran kesenangan, kegembiraan, kegenitan, dan juga, berahi; hal yang hanya dilakukan mereka yang lupa diri.

Jadi, biarkan saja Rahma alpa. Karena, kelupaan pada masa lalu itu, kata Benyamin lagi, adalah tanda manusia yang telah kehilangan pathos, tujuan, dan juga sikap moral. Apalagi, tetap akan ada yang mencatatnya dalam sejarah ingatan banyak orang, bahwa ada jenis Shu Qi dan Rahma; yang satu telah berbenah dan melangkah dari masa lalu, satunya lagi masih amnesia, berkubang selamanya.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 10 Januari 2009]

Engkau Saja Dik, Cukuplah!

October 17, 2008

Saya bayangkan, sehabis dibakar siang dan deram kereta yang memekakkan telinga, Aris pulang dengan wajah kecewa. Terbungkuk, dia masuk ke rumah yang masih separuh gubuk. Membuang napas, dia sandarkan gitar di dinding bercat kelabu yang mengelupas satu-satu, lalu dia gapai Mocalist Rasya Fattirullah, anak semata wayangnya, yang merangkak mendekati. Di sudut sana, menyandari panglari, Fany, istrinya, menyambut dengan senyum, lebih mirip setengah tawa.

Sembari memanggu Rasya, dan membelai kepala bocah yang belum ditumbuhi rambut sempurna itu, Aris menatap Fanny dan berkata, “Dik, hari ini kita tak ada lagi uang.”

Saya bayangkan juga, Fanny akan menyambut ucapan itu dengan wajah yang biasa. Tersenyum, lalu bibir yang terbiasa mengucapkan cinta itu berkata, “Bang, jangan bicarakan uang di rumah ini. Karena memang tak pernah ada uang di ruangan ini. Marilah Bang, kita bicarakan Allah. Karena hanya Allah sajalah Bang, Allah saja, yang masih tersisa di rumah tangga ini.”

Saya bayangkan, saya melihat air yang mengalir bening di sisi hidung Aris. Lalu Fany mendekat, menyusut tangis itu dengan telunjukknya, menggarisi pipi Aris dengan runcing hidungnya. Dan Aris merangkul bahu istrinya, mengecup kening, dan berbisik, “Dik, bagiku, di dunia ini engkau saja cukuplah. Cukuplah.”

Saya tak tahu, mengapa membayangkan adegan itu milik Aris dan Fany. Padahal, di layar kaca, dialog itu milik Asrul dan istrinya, dalam sebuah lanskap Para Pencari Tuhan yang selalu terlem di benak saya. Saya membayangkan Aris dan Fany, juga Rizky “The Titans” serta Ratna, barangkali karena mereka, kini, setelah lepas dari masalah uang, justru kehilangan kemesraan, cinta, dan juga Tuhan. Aris, yang selalu berkeringat itu, kini telah tak ada lagi. Fany, yang wajahnya kusam dibintiki jerawat, telah bening terawat. Hidup mereka tak lagi melarat. Aris yang selalu pulang ke rumah bercat pucat, kini telah tinggal di flat. Tapi dia sendirian dalam kemewahan itu, tanpa Fany.

“Sehabis menjuarai Indonesian Idol, cuma seminggu dia bersama kami,” terang Fany.

Aris berubah? Ya. “Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit banget. Dia bilang, ‘Boleh dong hatiku berpaling.’ Enak banget dia ngomong begitu,” geram Fany.

Tak hanya kepada Fany, Aris juga seakan lupa pada Rasya. Itulah yang membuat Fany tak lagi dapat memberi maaf. “Aku sudah menemani dia dari bawah sampai ke atas. Jadi, jika nanti dia sudah kembali ke bawah, aku nggak mau lagi sama dia.”

Uang, memang mengubah orang. “Aku lebih baik bersuami pengamen dengan uang 30 ribu perhari daripada seperti ini.”

Uang, juga membelokkan cinta. “Tiba-tiba datang seorang wanita ke rumah, mengaku sebagai kekasih Aris. Dia menunjukkan bukti-bukti. Aku seperti tersambar petir.”

Uang, dapat menduakan Tuhan. “Sampai sekarang, dia belum syukuran,” kecam Fany. “Saya berharap Aris menjalankan nazarnya untuk syukuran,” tambah Siti Rohaya, ibu Aris.

“Sesuatu yang didapatkan dengan teramat cepat dan gampang, lebih sering membuat orang lupa bersyukur,” kata pemikir Islam, Haidar Bagir.

Aril memang terlalu cepat populer. “Indonesian Idol” melempangkan mimpinya, sebuah jalan yang sedari awal tidak disetujui istrinya untuk dia tempuh. “Fany melarang saya untuk ikut acara ini. Dia takut saya berubah. Tapi di panggung ini, saya berjanji, Aris tidak akan berubah,” teriak Aris, ketika masuk ke-3 besar “Indonesian Idol”. Di bawah panggung, kamera menyorot Fany yang terisak. Mungkin dia menyesal pernah melarang Aris, dan merasa bersalah. Barangkali dia percaya, suaminya tak akan berubah.

Tapi Aris berubah.

Barangkali, dia tak ingin berubah. Tapi, dia juga tak bisa bertahan dengan masa lalunya. Aris, mungkin hanya ingin menyingkirkan kesilaman itu dengan cepat, berpaling, tanpa menoleh lagi. Sayang, Aris lupa, ada Fany di sana, masih berdiri di peta masa lalunya. Masih berharap, silau uang dan gemerincing pujian tak mengubah kecintaannya. Fany hanya ingin, seperti dulu, mereka bisa bahagia, meski tanpa nama dan harta.

“Banyak orang percaya, kalau sukses dan punya uang, kita akan bahagia,” terang Haidar, padahal “kebahagiaan terbesar adalah memberi.”

Kebahagiaan terbesar adalah memberi. Dan memberi mengandung sebuah makna “membagi apa yang telah kita dapatkan”. Aris telah mendapatkan semua yang dia impikan, popularitas dan uang. Tapi, dia menggenggamnya sendirian. Dia lupa, ada hak anak dan istrinya dalam semua yang telah dia raih. Ada doa dan airmata, juga kesepian panjang, yang diserahkan Fany, untuk melempangkan jalannya. Aris adalah contoh tentang popularitas dan uang yang dengan gampang diraih, tapi tidak untuk kebahagiaan. “Kita harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan mau memberi,” tambah Haidar.

Maka, saya bayangkan suatu hari nanti, Aris kembali ke rumah setengah gubuk itu, dengan langkah guyah meski tanpa peluh. Dia ketuk pintu, dia peluk Fany, dan bersimpuh. “Dik, maafkan aku. Untukku di dunia ini, engkau dan Rasya saja, cukuplah.”

Lalu Fany menarikkan Aris agar tak bersimpuh, dan memeluk tubuh yang wangi itu. “Bang, dari dulu, engkau telah cukup bagiku. Jadilah pengamen saja, dan nyanyikanlah lagu cinta. Hanya untukku, hanya untuk Rasya. Masuklah, mari, di rumah ini masih ada Allah, masih banyak cinta….”

Lalu Aris akan tertawa, berpaling memandang kamera. “Cut!” teriak sang sutradara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 18 Oktober 2008]

Kezaliman Kelaziman

October 7, 2008

ASRUL barangkali memang tak beruntung. Baru bekerja, dan merasakan hidup senang sesaat, dia memutuskan mundur. Rasa bersalah, dan juga malu, membuatnya berani untuk mengambil keputusan pahit itu, meninggalkan Azzam dan Aya, yang kaget, dan tak bisa berbuat apa-apa.

Adegan dalam sinetron “Para Pencari Tuhan” itu memang menyentuh. Gestur Asrul, juga mimiknya yang tertolong rambut ikal bergayut lemak, sangat mengesankan. Tapi, tak ada yang lebih pedih daripada ketika menyaksikan dia harus berterus-terang, mengaku kepada istrinya, bahwa dia tak lagi bekerja. “Dik, kayaknya kita akan kembali miskin, hidup seperti dulu.”

Perempuan itu kaget, matanya meredup, kehilangan cahaya. Setelah membuang napas, wajah yang sempat pias tadi, kembali bersemu. Paras yang sudah terbiasa meredam kecewa. “Nggak apa-apa, Bang. Aku juga sudah menduga hal ini akan terjadi pada kita. Terlalu lama hidup dalam kemiskinan telah membuat Abang tak bisa hidup dengan cara yang lain.”

Tak ada marah dalam kalimat itu, hanya kecewa yang dibungkus sebuah praduga-pemakluman, kebiasaan membuat manusia sulit berubah. Kebiasaan membuat sisi kreatif manusia menjadi tumpul, terbelenggu dalam rutinitas yang mempermajal daya cipta.

Tapi uniknya, dalam “Para Pencari Tuhan” juga kemajalan daya cipta itu dibobol. Sinetron ini, berbeda dari yang lain, menunjukkan, meski kebiasaan mengurung sisi kreatif manusia, tapi sebuah “kejutan” bisa menembusnya. Dalam sinetron itu, kejutan hadir lewat sosok Baha, Zulfikar Baharuddin, pemabuk yang justru mampu menunjukkan bahwa kiblat Mushala al-Taufik, melenceng sekian derajat.

Seorang pemabuk, yang meninggalkan salat, tapi menunjukkan kesalahan arah kiblat; bukankah ramuan yang memikat? Di sinilah kelaziman –yang acap jadi kezaliman– itu ditundukkan, bahwa suara kebenaran bisa datang dari siapa saja, sepanjang manusia mau mendengarkannya. Bahwa, “Kebenaran itu tetap kebenaran, sekalipun datang dari mulut seorang pemabuk,” kata Bang Jack.

Tapi kenapa seorang pemabuk? “Karena yang tidak mabuk, tidak pernah peduli pada arah kiblat.” Bang Jack bersungut.

Yang tidak mabuk, bukan tidak peduli, tapi sudah masuk dalam iklim kebiasaan, menerima tanpa bertanya. Yang tidak mabuk sudah masuk dalam ketunggalan, keberterimaan, bahwa kebenaran harus datang dari ulama, atau setidaknya, dari mereka yang bersih zahirnya. Tapi Baha menunjukkan, seperti juga manusia, hidup pun tak bisa diduga. Anomali bisa datang kapan saja.

Suara sinetron itu, dengan demikian, adalah wajah manusia yang tampil dengan banyak sisi. Asrul bukan pemalas, tapi dia tak tahu cara hidup di luar meminta. Bang Jack, pengurus mushola, bahkan acap “memiringkan” nasihatnya untuk mendahulukan kepentingan pribadinya. Juga ustad Jeffy, juga Pak Jalal, orang terkaya di desa, yang pasti memberi setelah melepas caci.

Di sinetron itu, manusia hadir sebagai mahkluk yang memiliki hati, qalbu –yang makna etimologisnya gampang terombang-ambing. Manusia yang bukan menerima, tapi mencari, sedang menuju, dan tak akan sampai. Di sinilah, watak fiksional manusia berjiwa malaikat ditampik, kebejadan yang hitam pun dibuang. Sinetron ini menunjukkan, manusia sesungguhnya berada di garis abu-abu, belang-belang. Bersifat hitam atau putih, iblis atau malaikat, adalah pilihan yang, mungkin, sesaat, bertukaran, tak menetap. Kecuali telah dikurung oleh kebiasaan.

Lalu bagaimana membuang kebiasaan? Sulit memang. Tapi, Baha memberikan sedikit titik terang, jadilah pemabuk. Mabuk pada hal-hal baru. Hanya dalam “mabuk” saja, kelenjar psikedelik terpancing, “mata ketiga” terbuka. Sehingga kreativitas mengelana, dan diri dapat suntuk mencari jalan. Karena, nilai manusia diukur bukan pada apa yang telah dia capai, melainkan bagaimana cara dia mencapai. Karena Tuhan pun harus dicari, barulah Dia mau menampakkan diri.

Tuhan dan Kecemburuan

September 18, 2008

Marilah kita bicara tentang Tuhan, yang kata Amir Hamzah, juga ganas dan memangsa: Engkau ganas/ Engkau cemburu/ Mangsa aku dalam cakar-Mu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Tuhan di sini, ibarat kekasih, yang tak ingin kecintaannya berpaling. Karena itulah, Ustad Fery, dalam satu nasihat yang bening, memperingatkan Azam, agar tak terlalu memikirkan Aya. “Jangan buat Allah cemburu, Azam. Karena tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah.”

Azam, tentu saja, terhenyak. “Kenapa Allah cemburu pada saya, Ustad?”

“Karena hatimu, setiap hari, lebih menzikirkan hal-hal duniawi.”

Bagi Ustad Fery, yang dimainkan Akri Patrio dengan bagus dalam Para Pencari Tuhan, cinta manusia pada apa pun, haruslah merupakan jalan untuk mencintai dan mendapatkan cinta Allah. Karena itu, anak, istri, kekasih, jabatan, harta, baru bernilai ketika dapat menjadi selasar untuk menjumpai sang Khalik.

Bertuhan, dengan demikian, lebih merupakan suatu pengalaman personal.

Dalam personalisasi semacam itulah, Tuhan acap “ditemukan” dalam banyak “wajah”. Novelis Danarto misalnya, mengaku melihat Tuhan dalam paras kanak, yang bercahaya. Atau Alm Gito Rollies, yang menjadi “kenal” dan akrab dengan Tuhan, ketika menanggungkan sakit. Zaskia Mecca malah merasa “ditegur” Tuhan lewat foto merokoknya yang tersebar. Di sini, dalam pengalaman personal mereka, Tuhan telah hadir, meski tersamar,  tampak, mengejawantah. Mereka merasakan persentuhan itu. Padahal, Chairil Anwar, merasakan betapa… susah sungguh/ Mengingat Kau penuh seluruh.

Tapi di sinilah dilema itu dimulai. Mengingat, mengenal, ditegur, adalah pengalaman yang mewaktu, ketika alpa dan ingat, dapat bertukar lepas dengan tangkap. Padahal, Tuhan yang datang lewat wahyu, justru mengatasi waktu. Wahyu hakikatnya tak mewaktu, melampaui masa, di luar fase sejarah. Jadi, bagaimana mungkin “sesuatu” yang di luar waktu, dbahasakan dalam personalisasi pengalaman?

Dilema itu punya titik temu: bertuhan adalah pengalaman personal yang terbahasakan.

Pengalaman personal yang dimaksud di sini adalah sebuah situasi yang berada di luar kala, semacam ekstase kaum sufi, suasana ning ketika berzikir, atau blank, suwung, tatkala menanggungkan sakit atau rindu. Dalam ketakmewaktuan itulah Tuhan hadir. Seperti “ketercerabutan” Muhammad dari realitas, kebersaatan, ketika menerima wahyu melalui Jibril.

Nah, kehadiran Dia yang di luar kala itu, tak punya arti, sebelum dikatakan dalam bahasa orang ramai. Itulah sebabnya, al-Hallaj, membuka rahasia syatahat. Yazid al-Bistami bernubuat di kelimun umat. Tuhan yang mereka dapat di dalam ketakberkalaan, bukan mereka simpan, tapi dileburkan dalam kancah perbuatan.

Bertuhan dengan demikian adalah perilaku. Adalah akhlak, sikap, tindak, adalah cara mencinta.

Ukuran kebertuhanan pun menjadi bukanlah pada pengalaman personal seseorang dalam kesendirian, kealiman batin dan kesantunan pribadi, melainkan kesalehan sosial, keberdampakan iman bagi orang banyak. Bertuhan, dan beriman, dalam skala yang paling akbar, adalah perjalanan atau pengalaman personal mikraj Muhammad, ketika mendapat pesan melalui bahasa langit, dan kembalinya Muhammad untuk mewartakan pesan tadi kepada umat ke dalam bahasa bumi.

Bertuhan, dan sekaligus beriman, “Bukanlah orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid,” kata Emha, “dan membiarkan beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.” Bertuhan adalah melihat segala hal sebagai “tak ada yang bukan Tuhan”,  al-fana’ ‘an al-nafs wa al-baqa, bi ‘l-Lah.  Segala nikmat dan laknat ibarat thariqah dan syariah,  sebagai jalan, atau pintu, meraih Tuhan.  Menyatunapaskan tugas lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Tapi tentu,  bukan dengan keinginan untuk meraih surga sendirian.  ”Di pintu-Mu aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling,” kata Chairil.

Diri yang tak bisa berpaling itulah, barangkali, insan yang  tak lagi dicemburui Tuhan.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 20 September 2008]

Sumur di dalam Kamar

September 12, 2008

“BANG…,” sapa Intan, begitu kakiku melewati pintu, mau masuk ke kantor tabloid, “Ada yang mau bertemu. Tuh, nunggu di depan.” Bibirnya maju, menunjuk ke arah tamu itu.

Aku mengangguk dan memberi senyum thanks, meletakkan tas di meja, lalu bergegas ke ruang tamu redaksi. Di sofa hijau itu, seorang perempuan paro baya, tengah menantiku.

“Mas Aulia?” tanyanya, berdiri dan menyorongkan tangan.

Aku mengangguk, menyambut salamnya. Sembari menyilakan dia duduk kembali, kutanyakan tujuannya.

“Begini Mas, Saya Witri. Saya kan selalu membaca zodiak di tabloid. Nah, selama ini saya merasa apa yang ada di situ cocok sekali dengan situasi saya. Kena, gitu. Lalu saya telepon redaksi, tanya siapa yang menulis zodiak. Tenyata Mas Aulia. Nah, sekalian saya datang, ingin konsultasi.”

Konsultasi? Kuamati perempuan di depanku itu. Kutaksir usianya di bawah 35. Dengan kemeja ketat-putih, dan rok pendek, dia dapat tetap duduk dengan nyaman, meski sebagian pahanya terbuka. Jelas busana itu adalah pilihan sadarnya. Tas bermerek, berselimutkan blazer, tertidur di samping pinggulnya, juga menegaskan seleranya. Terkadang, selera seseorang dapat menunjukkan tingkat pendidikannya. Dan karena berpendidikan, tentu dia mengerti, psikolog-lah tempat yang paling cocok untuk berkonsultasi. Lha, aku? Maka kutanyakan, apakah dia tidak salah orang? Pertama, karena aku bukan psikolog, apalagi juru terawang. Kedua, aku tak pintar mengarang. Orang yang tak pandai mengarang, tak cocok untuk tempat berkonsultasi.

Perempuan itu akhirnya menjelaskan, bahwa dia percaya, aku dapat memberikan “sesuatu” berkaitan dengan hidupnya. Karena, selama ini, tanpa disadari, melalui “ramalam” di zodiak, dia sudah merasa terbantu. Dia minta kesediaan aku mendengarkan ceritanya, dan memberikan pendapat.

Aku tak bisa mengelak. Aku yakin, jika gusti “mengirimkan” seseorang kepadamu untuk meminta tolong, pasti dia pun telah menyiapkan “sesuatu” dalam diriku untuk menolong orang itu. Aku percaya, selalu ada jawaban di dalam tiap misteri. Masalahnya adalah bagaimana menemukan atau mencari jawaban itu.

“Saya bermimpi, Mas,” Witri memulai ceritanya. “Tepatnya tiga malam lalu, dan telah dua kali berulang. Di dalam kamar saya, di bawah tempat tidur, tiba-tiba terdapat sumur, dengan mata air yang jernih dan berlimpah sekali. Di mimpi itu, saya sampai meraupi air yang berlimpah itu, mencuci wajah dan meminum airnya. Segar sekali. Tapi anehnya, suami saya tidak tahu sumur itu. Ia bahkan tidak melihat saya yang mencuci muka dan minum air sumur itu. Saya ajak dia melihat, tapi dia tidak mau membuka mata. Katanya, sumur itu hanya khayalan aku saja. Saya memaksa. Tapi, ketika suami akhirnya mau, mendadak sumur itu kering. Tak ada air sama sekali. Berkali-kali saya ciduk, tak ada air yang tertangkap gayung. Saya sedih sekali, Mas. Dan terbangun.”

Witri menatapku, jarinya memilin-milin ujung roknya. “Kira-kira apa artinya, Mas?”

Oalah, ternyata ini yang akan dia “konsultasikan.” Aku tertawa. Bukan, bukan menertawai mimpinya, melainkan nasibku yang harus kembali jadi pembaca mimpi. Kenapa aku pakai kata “kembali”, akan terjawab di cerita-cerita berikutnya.

Aku menarik napas. Biasanya, dalam tarikan napas itulah, kudapatkan letikan-letikan informasi di kepalaku untuk dapat menjawab hal-hal semacam ini. Letikan informasi itu sangat penting bagiku, bukan karena kandungan kebenarannya, melainkan kemampuannya membebaskanku dari tagihan penafsiran.

Kutarik napas lagi. Kok masih blank, ya? hahaha parah, nih! Terpaksalah kuulur waktu. Kutanyakan pekerjaannya, usia, pekerjaan suami, dan berapa tahun mereka sudah menikah. Kujelaskan juga bahwa aku bukanlah tukang ramal. Kemampuanku menulis nasib di tabloid, bukanlah karena indera keenam, melainkan tugas redaksionalan semata. Jadi, aku tidak punya kemampuan apa pun untuk dapat menerawang nasib, membaca takdir, atau menujum mimpi. Jadi, jika pun aku memberikan tafsir, itu semata “pembacaan” biasa atas mimpinya. Tidak ada hubungannya dengan mistik, atau patgulipat terawangan alam gaib.

Lalu bagaimana tafsirku. Begini. “Dari mimpi Mbak Witri, saya hanya membaca bahwa ada masalah dalam wilayah kamar tidur, Mbak. Masalah itu muncul dalam petanda sumur. Dan dalam banyak kebudayaan, sumur dapat dimaknai apa pun. Tapi karena berlokasi di kamar, makna itu dibatasi konteks. Saya menafsirkan sumur sebagai subur.”

“Maksudnya, Mas?”

“Barangkali, rumah tangga Mbak telah lama dirisaukan oleh masalah kesuburan ini. Maaf, apakah Mbak telah memiliki anak?” Witri menggeleng. Aku membuang napas, lega. Tafsir bisa dilanjutkan. “Mungkin, ketakhadiran anak telah membuat benih curiga lahir di antara Mbak dan suami, tentang siapa yang subur dan siapa yang tidak. Tapi, kecurigaan itu tak pernah dikomunikasikan. Makanya, sumur itu berada di bawah tempat tidur. Tertutupi, tertiduri, sesuatu yang tak ingin diketahui, tak ingin dijamah.”

“Artinya, apakah saya yang tidak subur, Mas?”

“Sekali lagi, ini tafsir, Mbak. Bukan mutlak-mutlakan. Dan tafsir saya, justru tidak mengatakan begitu.”

“Maksud Mas, saya subur, begitu? Bisa hamil?”

Witri menatapku. Di mata itu, aku tahu, dia berharap –bahkan mungkin meminta– aku mengatakan, ‘Ya.’ Tapi, aku harus jujur. Aku tak boleh menjawab hanya untuk menyenangkan hatinya.

Aku mengangguk. Dia membuang napas. Terlihat begitu lega. “Tapi masalahnya bukan di situ, Mbak?” sambungku.

“Maksud Mas, suamiku yang tidak subur?”

Aku menggeleng. Kulihat bibirnya membuka, setengah melongo. Manis juga Witri ini kalau bengong begitu, hahaha…

“Lalu siapa yang tidak subur?”

“Yang tidak subur adalah kejujuran, Mbak.”

“Maksud Mas Aulia apa? Saya kok tidak mengerti?”

“Sekali lagi, ini tafsir ya Mbak, bukan mutlak-mutlakan. Dari yang saya baca, suami Mbak sebenarnya tidak atau belum menginginkan anak. Saya tidak tahu sebabnya. Tapi, seperti mimpi Mbak, ternyata dia tidak mau melihat sumur itu, kesuburan itu. Dan ketika Mbak paksa, sumur itu jadi tidak ada, kesuburan itu jadi kering. Nah, di sini terlihat, bahwa ada ketidakjujuran. Suami tidak mengatakan kepada Mbak bahwa dia belum atau tidak ingin memiliki momongan. Dan membiarkan ketidakhadiran anak itu sebagai masalah kesuburan, dan bukan persoalan kesengajaan. Jadi, saran saya, coba suami diajak bicara, jujur-jujuran, ceritakan mimpi Mbak, dan tanya dia, apakah sungguh ingin punya momongan atau tidak. Semoga saja, apa yang kita baca dari mimpi itu benar adanya, dan Mbak bisa merumuskan bagaimana selanjutnya.”

Witri diam. Menyandari sofa, matanya menerawang. Aqua yang tadi diberikan Intan, belum dia sentuh. Barangkali dia berpikir, mencari-cari apakah benar suaminya tidak ingin momongan, apakah benar mimpi itu bicara demikian. Aku menunggu, sembari memperhatikan lebih jeli dirinya, terutama posisi duduknya. Hahaha….

Tak lama kami dirampas diam. Witri kemudian mengucapkan terimakasih, menggapai sesuatu dari tasnya. Tapi aku bertindak cepat. Aku tahu, dari tas yang terbuka itu, telah kulihat amplop sejak tadi. Aku tak ingin menerima hal itu. Maka, ketika dia berdiri dan mengansurkan itu, kutepiskan tangannya. “Tak perlu, Mbak. Saya tak memberi apa-apa, kok. Cuma mendengarkan mimpi Mbak, dan mengomentarinya. Anggap saja itu bonus karena Mbak telah membuang waktu untuk datang ke kantor ini.”

Dia tersenyum, aku tertawa. Setelah meminta, dan kuberikan nomor ponsel, dia pun pamit, setelah berkali-kali mendaraskan terimakasih. Aku mengantarnya sampai parkiran, melihatnya masuk mobil, dan pergi. Kuhembuskan napas. Satu tafsir, selesai sudah, intuisi semoga kian terasah.

*****

Tiga hari setelah itu, sebuah SMS masuk. “Mas, ini Witri. Cerita Mas kemarin benar semua. Suami sudah mengakui semuanya. Thanks banget, ya?” Aku tertawa, tertawa. Tuhan memang maha mengatur segalanya.

Rintihan Rumah Tangga

September 4, 2008

Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang tak diungkapkan. Karena dalam tali percintaan, engkau dan aku belum menjadi kita. Pernikahanlah yang kemudian dipercaya dapat menyembuhkan luka, menerbangkan dusta, dan membuka kejujuran. Sebab dalam sebuah pernikahan, selepas ijab dalam satu tarikan napas itu, engkau dan aku telah melebur menjadi kita. Tubuhmu dan tubuhku telah diizinkan menjadi satu, bersetubuh.

Tapi, tidak setiap pernikahan dapat menyebuhkan. Dewi Yull malah percaya, seperti juga percintaan, perkawinan, rumah tangga, selalu menyimpan luka, dusta, dan kejujuran yang tak diucapkan.

“Tidak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga memiliki rintihan,” katanya dengan mata berkaca, ketika menjelaskan perceriannya dengan Ray Sahetapi, Agustus 2004.

Karena berisi rintihan itulah, setiap rumah tangga, pada hakikatnya, berdiri di tepi jurang perceraian. Sedikit saja rintihan itu naik menjadi jerit atau pekik, perkawinan pun kehilangan pondasi. Jadi, mengikuti ucapan Dewi, berumah tangga sebenarnya adalah mau mendengar rintihan, dan tidak mengabaikannya. Hanya dengan mau mendengar, sebuah rintihan akan berdiam hanya sebagai erang, dan perkawinan tak sampai guncang.

Kini, Andara Early yang merasakan rintihan dalam perkawinan. Rumah tangga yang dia pancang dengan Cessa David Lukman, guyang. Early pun meyakini, hanya perceraian yang bisa menyelamatkannya. “Untuk kebaikan bersama, satu-satunya jalan!” ucapnya. Padahal dulu, ketika tengah dilanun asmara, Early justru merasa Cessa-lah juru selamatnya. Dia menjanda dengan aib yang susah dicerna. Ferry, suaminya, mengira Maghali, anak mereka, lahir bukan dari benihnya. Ada lelaki lain yang telah membuahi Early. Betapa ngeri. Tapi Cessa abai itu. Dia mencinta, matanya tak hirau perawan atau janda, teraibi atau mulia. Cessa percaya, pernikahan akan menyembukan Early, menyatukan mereka dalam kejujuran dan keberterimaan.

Tapi, keberterimaan Cessa berhimpitan dengan masa lalu. Ia pun jadi begitu menjaga kecintaannya. Penjagaan yang, dalam bahasa Early, berubah menjadi posesivitas. Early merasa dihaki, dimiliki, diawasi, dibatasi; tak dipercayai. “Yang saya dengar dari Early, Cessa sangat posesif, ruang gerak Earlu jadi terbatas,” jelas Agus, pengacaranya. Early merasa dimiliki, padahal, “Suami, anak, itu milik Allah. Manusia tak boleh mengklaim memiliki manusia lain,” jelas Dewi Yull.

Merasa memiliki. Barangkali, ketika itulah perkawinan mulai menerbitkan rintihan. Karena tak ingin menghaki jugalah, Dewi pun melepaskan Ray. Karena tak ingin dihaki, dimiliki itu juga, Early memilih bercerai.

Pernikahan dengan demikian, apakah bukan sebuah kemenyatuan? Bukan engkau dan aku yang melebur menjadi kita? Khalil Gibran dengan pasti menjawab, bukan.

Berpasangan kalian telah diciptakan, maka bersamalah
selamanya
Bersamalah, saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan

Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.

Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama

Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi.

Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang disimpan. Dan kerena itulah, percintaan selalu memiliki gairah penaklukan, ketika belum ada yang dikuasakan. Tampaknya, pernikahan harus juga dibayangkan seperti percintaan, sebelum ijab, ketika aku dan engkau tak harus menjadi kita. Hanya dengan begitu, pernikahan, rumah tangga, tak lagi diisi rintihan.
[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 6 September 2008]

Kesepian dan Airmata

August 21, 2008

TAK ada teman yang paling setia, selain kesepian dan airmata. Begitulah Khalil Gibran pernah berkata. Dan di minggu-minggu ini, kesepian dan airmata itulah yang menjadi teman Sheila Marcia. Setelah tertangkap karena mengonsumsi narkoba, di dingin penjara, Sheila pasti telah menemukan sahabat setianya itu. Hanya kesepian, juga airmata. Tak ada orang lain, termasuk pria yang dia cinta, Roger Danuarta.

Tapi di luar penjara, kesepian dan airmata juga dimiliki perempuan lain, Maria Cecelia, ibu Sheila. Perempuan yang tampak masih cantik di usia paro baya itu pasti merasa sepi, karena buah cintanya harus hidup dalam terali. Kesepian yang lahir bukan karena malu, melainkan perasaan gagal sebagai seorang ibu. “Sebagai ibu, sudah saya akui, saya yang salah. Jangan diskriminasikan anak saya. Sebagai ibu saya yang kurang atensi. Saya manusia biasa, saya tolol,” ucapnya pelan, menahan sedan.

Itulah kesepian yang paling dalam, sesal seorang ibu. Dan sesal itu, rasa gagal itu, hanya bisa dihapus dengan pengakuan, bukan pengambinghitaman. Maria menempuh hal itu. Membiarkan Sheila sendirian di Jakarta sejak berusia 14 tahun, bukanlah langkah bijaksana. Mengenalkan dunia malam, ke disko dan klab malam, adalah memamahkan racun ke dalam raga muda Sheila. “Waktu dia umur 14 tahun, sudah diajak clubbing sama kami. Kami memang salah,” akunya.

Maria memang punya alasan, Sheila terlalu manja. Dan dia berharap, di Jakarta, kemandirian akan menjadi pengasuhnya. Ternyata Maria salah. Jakarta terlalu buas untuk jiwa muda Sheila. “Itu keputusan yang salah. Maaf kepada semua pihak, termasuk orang yang nama baiknya ikut dirugikan,” pintanya.

Pembiaran itu juga yang membuat banyak gosip tak sedap meruyak. Maria dikabarkan berada di belakang penangkapan itu. Dia yang menelpon polisi untuk menangkap putrinya.

Kabar yang gila. Meski mengaku gagal sebagai ibu, Maria tentu tak mungkin mengerkah anaknya sendiri. Karena itu, tubuhnya gemetar dan limbung ketika mendengar kabar itu. “Buar apa? Itu lebih kejam dari pembunuhan! Masa ada seorang ibu yang memanggil polisi untuk menangkap anaknya sendiri!” teriaknya. Dan, braakk!! Maria pingsan.

Kesepian. Airmata. Hanya itulah teman ketika kegagalan menerpa. Berkali-kali tampil di kamera, tak ada wajah suaminya, Joseph, menemaninya. Maria bernasib sama dengan anaknya, yang ketika berada dalam kegagalam mereka, justru kehilangan dukungan, dampingan, dari orang-orang yang mereka cinta. Maka, menangislah Maria, menangislah Sheila. Meski, tangis kesekian itu, akunya, bukan lagi tangisan kesedihan. “Saya menangis karena bahagia. Saya gagal sebagai ibu, tapi saya bangga, Sheila bisa menghadapi situasi ini.”

Bangga, karena Sheila, seperti dirinya, mampu sendirian menghadapi semua. Bahagia karena anaknya, tertangkap ketika semua belum terlambat. “Mungkin, inilah bagian dari pelajaran hidup.”

Hidup memang memberi pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan, melalui tangis dan tawa. Sheila dan Maria telah merasakan keduanya. Sebuah situasi yang membuat mereka tahu, dalam nestapa, dalam bencana, akan teruji siapa sebenarnya orang-orang yang mencintai mereka. Sheila tahu, nyaris dua minggu, tak datang juga Roger menguatkannya. Maria tahu, sampai kini, tak muncul juga Joseph merangkul bahunya. Dalam nestapa, ibu-anak itu merasa kuat, karena mereka punya teman terakrab dan setia, kesepian dan airmata.

Hanya melewati nestapa kita bisa tahu rasa bahagia, kita tahu makna cinta. Maria, Sheila, hari-hari ini, sedang diasuh kehidupan untuk lebih dewasa. “Sebagai ibu, saya yang salah,” kata Maria. Ucapan itu, kini terasa lebih mirip sebagai doa, untuk anaknya.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Sabtu 23 Agustus 2008]

Doa Kamis Malam

August 8, 2008

tidurlah, kekasih. tidurlah. pejamkan matamu, ikutkan kantuk yang membujuk. tujulah seberang impian itu, sehingga kau terlelap dalam senyum.

duduk di samping pinggulmu, kukagumi lentik bulu matamu yang rebah. baru kutahu, dalam lelap pun kau bisa begitu indah. keningmu yang bersih, yang selalu kau tempeli punggung tanganku ketika berpamit, begitu bersih. maafkan, jika tak dapat kutahan bibir ini untuk menciumnya.

tapi kekasih, kenapa napasmu mengeras? adakah ciumanku mengganggumu? atau impimu sedikit berjeda? ahh– lama sekali aku tak melihat sempurna tidurmu. biasanya, sehabis bercinta, akulah yang tertidur, dan kamu hanya tersenyum sambil memandangi alisku, yang katamu tebal. sering, sebelum terlelap, kau garisi alisku dengan telunjukmu, dan kau selalu senang kalau aku terganggu. tapi kini, melihat alismu yang tipis, dengan keringat halus yang membeningkan garisnya, wajahmu nyaris seperti sketsa, dengan kehalusan arsir yang sempurna. tuhan barangkali tengah tertawa ketika menciptakanmu. dan pasti Dia juga tengah bersuka, sehingga menjadikan kau bilah rusukku.

aku tak tahu kamu memimpikan apa, sehingga bibirmu membuka. ahh-, jika engkau tidak pulas, pastilah bukaan bibir itu kuanggap sebagai undangan untuk menciummu. engkau tahu sayang, menciummu adalah mendapatkan kesegaran, kelembutan alamiah. kekenyalan yang mendatangkan ricik air di kali bening, hujan tipis berkabut, dan… berahi. tapi kamu, ahh– selalu menakaliku tiap berciuman. selalu kau tarikkan bibirmu, tersenyum, menikmatiku yang sesaat terbebas dari nikmat. “aku suka melihatmu seperti haus…” bisikmu, sebelum kulekapkan bibirmu.

tidurlah kekasih, tidurlah. malam ini kuwakafkan waktu untuk menjagamu. akan kumanterai ubun-ubunmu, dengan doa-doa jutaan tahun, agar cinta kita terikat, seperti takdir adam dan hawa yang selalu merapat. akan kurajahi dahimu dengan isim yusuf, sehingga cahaya cinta zulaikha menapasimu.

tidurlah kekasih, tidurlah. jemputlah impimu, dan ceritakan padaku, nanti. karena kutahu, dalam mimpimu pun, kita selalu bersatu. tidurlah cintaku, bilah rusukku, ibu anak-anakku, lelaplah….