Engkau Saja Dik, Cukuplah!

October 17, 2008 · Print This Article

Saya bayangkan, sehabis dibakar siang dan deram kereta yang memekakkan telinga, Aris pulang dengan wajah kecewa. Terbungkuk, dia masuk ke rumah yang masih separuh gubuk. Membuang napas, dia sandarkan gitar di dinding bercat kelabu yang mengelupas satu-satu, lalu dia gapai Mocalist Rasya Fattirullah, anak semata wayangnya, yang merangkak mendekati. Di sudut sana, menyandari panglari, Fany, istrinya, menyambut dengan senyum, lebih mirip setengah tawa.

Sembari memanggu Rasya, dan membelai kepala bocah yang belum ditumbuhi rambut sempurna itu, Aris menatap Fanny dan berkata, “Dik, hari ini kita tak ada lagi uang.”

Saya bayangkan juga, Fanny akan menyambut ucapan itu dengan wajah yang biasa. Tersenyum, lalu bibir yang terbiasa mengucapkan cinta itu berkata, “Bang, jangan bicarakan uang di rumah ini. Karena memang tak pernah ada uang di ruangan ini. Marilah Bang, kita bicarakan Allah. Karena hanya Allah sajalah Bang, Allah saja, yang masih tersisa di rumah tangga ini.”

Saya bayangkan, saya melihat air yang mengalir bening di sisi hidung Aris. Lalu Fany mendekat, menyusut tangis itu dengan telunjukknya, menggarisi pipi Aris dengan runcing hidungnya. Dan Aris merangkul bahu istrinya, mengecup kening, dan berbisik, “Dik, bagiku, di dunia ini engkau saja cukuplah. Cukuplah.”

Saya tak tahu, mengapa membayangkan adegan itu milik Aris dan Fany. Padahal, di layar kaca, dialog itu milik Asrul dan istrinya, dalam sebuah lanskap Para Pencari Tuhan yang selalu terlem di benak saya. Saya membayangkan Aris dan Fany, juga Rizky “The Titans” serta Ratna, barangkali karena mereka, kini, setelah lepas dari masalah uang, justru kehilangan kemesraan, cinta, dan juga Tuhan. Aris, yang selalu berkeringat itu, kini telah tak ada lagi. Fany, yang wajahnya kusam dibintiki jerawat, telah bening terawat. Hidup mereka tak lagi melarat. Aris yang selalu pulang ke rumah bercat pucat, kini telah tinggal di flat. Tapi dia sendirian dalam kemewahan itu, tanpa Fany.

“Sehabis menjuarai Indonesian Idol, cuma seminggu dia bersama kami,” terang Fany.

Aris berubah? Ya. “Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit banget. Dia bilang, ‘Boleh dong hatiku berpaling.’ Enak banget dia ngomong begitu,” geram Fany.

Tak hanya kepada Fany, Aris juga seakan lupa pada Rasya. Itulah yang membuat Fany tak lagi dapat memberi maaf. “Aku sudah menemani dia dari bawah sampai ke atas. Jadi, jika nanti dia sudah kembali ke bawah, aku nggak mau lagi sama dia.”

Uang, memang mengubah orang. “Aku lebih baik bersuami pengamen dengan uang 30 ribu perhari daripada seperti ini.”

Uang, juga membelokkan cinta. “Tiba-tiba datang seorang wanita ke rumah, mengaku sebagai kekasih Aris. Dia menunjukkan bukti-bukti. Aku seperti tersambar petir.”

Uang, dapat menduakan Tuhan. “Sampai sekarang, dia belum syukuran,” kecam Fany. “Saya berharap Aris menjalankan nazarnya untuk syukuran,” tambah Siti Rohaya, ibu Aris.

“Sesuatu yang didapatkan dengan teramat cepat dan gampang, lebih sering membuat orang lupa bersyukur,” kata pemikir Islam, Haidar Bagir.

Aril memang terlalu cepat populer. “Indonesian Idol” melempangkan mimpinya, sebuah jalan yang sedari awal tidak disetujui istrinya untuk dia tempuh. “Fany melarang saya untuk ikut acara ini. Dia takut saya berubah. Tapi di panggung ini, saya berjanji, Aris tidak akan berubah,” teriak Aris, ketika masuk ke-3 besar “Indonesian Idol”. Di bawah panggung, kamera menyorot Fany yang terisak. Mungkin dia menyesal pernah melarang Aris, dan merasa bersalah. Barangkali dia percaya, suaminya tak akan berubah.

Tapi Aris berubah.

Barangkali, dia tak ingin berubah. Tapi, dia juga tak bisa bertahan dengan masa lalunya. Aris, mungkin hanya ingin menyingkirkan kesilaman itu dengan cepat, berpaling, tanpa menoleh lagi. Sayang, Aris lupa, ada Fany di sana, masih berdiri di peta masa lalunya. Masih berharap, silau uang dan gemerincing pujian tak mengubah kecintaannya. Fany hanya ingin, seperti dulu, mereka bisa bahagia, meski tanpa nama dan harta.

“Banyak orang percaya, kalau sukses dan punya uang, kita akan bahagia,” terang Haidar, padahal “kebahagiaan terbesar adalah memberi.”

Kebahagiaan terbesar adalah memberi. Dan memberi mengandung sebuah makna “membagi apa yang telah kita dapatkan”. Aris telah mendapatkan semua yang dia impikan, popularitas dan uang. Tapi, dia menggenggamnya sendirian. Dia lupa, ada hak anak dan istrinya dalam semua yang telah dia raih. Ada doa dan airmata, juga kesepian panjang, yang diserahkan Fany, untuk melempangkan jalannya. Aris adalah contoh tentang popularitas dan uang yang dengan gampang diraih, tapi tidak untuk kebahagiaan. “Kita harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan mau memberi,” tambah Haidar.

Maka, saya bayangkan suatu hari nanti, Aris kembali ke rumah setengah gubuk itu, dengan langkah guyah meski tanpa peluh. Dia ketuk pintu, dia peluk Fany, dan bersimpuh. “Dik, maafkan aku. Untukku di dunia ini, engkau dan Rasya saja, cukuplah.”

Lalu Fany menarikkan Aris agar tak bersimpuh, dan memeluk tubuh yang wangi itu. “Bang, dari dulu, engkau telah cukup bagiku. Jadilah pengamen saja, dan nyanyikanlah lagu cinta. Hanya untukku, hanya untuk Rasya. Masuklah, mari, di rumah ini masih ada Allah, masih banyak cinta….”

Lalu Aris akan tertawa, berpaling memandang kamera. “Cut!” teriak sang sutradara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 18 Oktober 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

26 Comments »

Comment by Goen
2008-10-17 19:37:12

Ah, saya jadi merasa takjub melihat acara yang biasa ditayangkan di infotainment bisa diolah segini indah. :D

Nampaknya magnet uang begitu kuatnya menempel pada seseorang yang dulunya tak mempunyai apa-apa. Lupa diri, dan janji tinggal janji.

Endingnya itu.. Hahahaa… Bikin ketawa miris. :P

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-17 20:33:48

maturnuwun mas. uang memang mengubah orang, pasti. semoga untuk kita, ke arah yang lebih baik, hihihii

 
 
Comment by haris
2008-10-20 08:59:06

wah, sy malah belum tahu soal aris dan fany ini, mas. mungkin lebih baik gelar “indonesian idol”-nya dicopot aja. kan dia keoilih bukan karena suaranya tapi karena latar belakang hidupnya:) eh, malah dia jadi kayak gitu.

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-21 14:35:20

hihihii… manalah aku berhak mencopot gelarnya, ris? tapi di bulan ini kasus seperti itu kok banyak ya? rizky the titans, juga lupa istri, padahal dulu hidup dibiayai mertua. tora sudiro, juga lupa istri, juga dulu hidup disubsidi istri dan mertua. lelaki yang aneh… hihiihhi

 
Comment by haris
2008-10-22 09:50:09

mari berdoa, mas. supaya kita gak kayak mereka!

berdoa mulai!

amin.

:)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-22 14:39:01

mari ris, mari….

 
 
Comment by amin fauzi
2008-10-22 10:05:11

emang ya mas, di zaman yang serba susah ini, masihkah ada kesetiaan….?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-22 14:40:26

di zaman susah inilah kesetiaan jadi penting lagi untuk didengungkan, dan jangan tergadaikan.

 
 
Comment by Arief
2008-10-26 11:06:48

Mas aulia masih ingat email saya dulu kan? tentang idol idolan. mereka menang bukan karena suara bagus. tapi karena latar belakang hidupnya. sehingga juri dan para pemirsa memilih mereka karena kasihan. Tapi saya belum tahu tentang masa lalu mike, delon dan dirly mas. Apa anda punya referensi? Apa mereka juga berubah seperti aris dan rizky?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-27 14:23:29

gak tahu rief, maafkan….

 
 
Comment by enno
2008-10-28 19:33:08

waaah…. kasusnya sih nyebelin, tapi disini kok jadi mengharukan sih? keren hehehe ;)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-29 10:40:16

masa sih jadi mengharukan?

 
 
Comment by ernie
2008-10-29 09:00:47

aku malah lebih terkesan kali ini mas awl kok nampakin fotonya hihihihi…
Kasus Aris dan Rizky ini memang sudah kuduga sblmnya, aplg mereka, kan laki2! Lebih gampang kalo mau “berpaling”. Mudah2an aja ketenaran mereka gak lama, biar kapokk hihihi…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-29 10:40:54

foto? yang manna?

 
 
Comment by hesra
2008-10-31 12:30:52

saya justru tertarik dengan kutipan perkataan haidar bagir, mengenai kebahagiaan ialahsaat memberi.
hm, jika kita renungkan, kebahagiaan itu akan lengkap jika kita juga ikhlas menerima. nah, pada kasus aris dkk ini, menurut saya bisa terjadi pada siapa saja, termasuk saya, atau siapalah…
mungkin proses ‘menerima’ kejutan dalam hidup yang perlu di tinjau lagi.

salam,
hesra

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-31 13:47:32

jadi, fany juga harus menerima “keberbedaan” aris? masa begitu?
yang barangkali hersa “belum paham” adalah pengandaian memberi itu. jika semua orang memaknai kebahagiaan adalah saat memberi, maka dalam saat yang bersamaan semua orang juga akan menerima. begitulah pemahaman daku. bukan menerima dulu…

 
 
Comment by edhitok
2008-11-01 22:02:51

Mas, tulisan mas kali ini saya print dan saya kasih ke Istri saya.
Dan ternyata, istri saya bener2 terharu mas. Sebenarnya sih mau nangis….tapi begitu membaca kalimat terakhir pada kata “CUT” jadinya ngekeh deh dia, Tersenyum lagi.
Dia nitip salam buat Elang dan Ibunya, doanya semoga ga menjadi seperti Fanny. :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-03 12:20:53

salam telah sampai, mas. kata mereka, saya tak berbakat kaya dan populer, jadi tak akan dapat lupa pada kesilaman, hahaha…

 
 
Comment by Neni
2008-11-04 16:12:13

Awalnya…aku terharu, tapi endingnya kok menyebalkan ya ! merusak hayalan banget. Cut!

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-05 12:33:00

hahahaha…. masa sih?

 
 
Comment by eL
2008-11-06 15:15:28

hahahaa….
mbak Neni di atas itu, senang sinetron pasti..
damai.. damai… saya jangan dibalang sandal.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-06 19:03:27

imajinasi kita memang telah dicemari estetika layarkaca, hahaha….

 
 
Comment by LUKA
2008-11-10 17:42:20

LUKA SUkAAA BANGET SAMA BLOG NYA RumAH PUTIH…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-10 18:15:36

itu suka apa marah? hahaha… hurufnya kapital semua!

 
 
Comment by Taswin
2009-03-25 15:42:04

Bagaimana dengan lelaki yang jadi korban dalam Acara Playboy Kabel (pernah jg sampeyan tulis). Samakah Aris dan Rizky dengan mereka (korban Palyboy KAbel?

Comment by Aulia A Muhammad
2009-03-30 16:35:27

gak sama, hahaha

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post