Yang Menyapa Tuhan Begitu Akrab

May 19, 2011

Malam telah sampai di ujungnya. Di samping ranjang yang reot, lelaki muda, tirus dan kurus, duduk menghadapi bukunya. Beberapa kali matanya memejam, napasnya tampak mengejan, seperti ingin melahirkan. Pena di tangannya digerakkan ke buku tulis itu, tapi ditarikkannya lagi. Setelah membuang napas, tubuhnya membungkuk, menuliskan sesuatu.

15 Juli 1969, Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya.

Tubuhnya menegak. Jemari tangan kirinya bergerak meluruskan rambut ikalnya  yang menjatuhi dahi. Ia menulis lagi.

Aku baru tahu Islam menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, menurut Johan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain. Dan terus-terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya.

Bagaimana? Langsung studi dari Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang lain pun akan beranggapan yang kudapat adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah islam yang menurut Allah.

Aku harus yakin itu.

Lelaki itu tersenyum, bangkit, bergerak, menjatuhkan dirinya di ranjang.

Di luar, embun telah jatuh.

Di Yogya, hampir semua intelektual muda mengenalnya. Pergaulannya luas, dan dengan satu ciri khas, pertanyaan yang menyentuh wilayah tak terpikirkan, mendobrak tabu. “Ia acap membuat dahi orang lain mengerut. Lebih lagi, apa yang dia persoalkan bagi orang lain adalah sesuatu yang tabu dan telah final,” kenang Mukti Ali dalam pengantar buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib.

Kelebat lelaki itu, Ahmad Wahib, adalah gerak intelektual. Ia penggagas “Lingkaran Diskusi Limited Group”, forum Jumatan di rumah Mukti Ali, kompleks IAIN Sunan Kalijaga, Demangan. Anggota inti forum ini adalah intelektual yang bersinar: Dawam rahardjo, Djohan Effendi, Syuba’ah Asa, Syaifullah Mahyuddin, Djauhari Muslim, Kuntowidjoyo, Syamsuddin Abdullah, Simuh, Rendra, Deliar Noer, sampai Nono Anwar Makarim. Empat yang pertama adalah anggota inti grup itu.

Wahib juga aktivis HMI. Di kelompok mahasiswa islam ini, ia pun menonjol. Kemenonjolan ini, dalam aktivitas dan pemikiran, membuat “kariernya” melesat, memasuki “lingkaran elite” HMI Yogya, dan Jawa Tengah. Djohan Effendi mengenangnya sebagai sosok yang berani berpendirian dan bersikap beda, malah kadang berlawanan dengan sikap umat dan golongan Islam pada umumnya.

“Bagi Wahib, komitmen muslim, pertama-tama dan terutama adalah pada nilai-nilai Islam dan bukan pada organisasi Islam atau pun tokoh Islam tertentu,” kenang Djohan.

Atau dalam kata-kata Wahib, tertanggal 9 Oktober 1969:

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.

Memahami manusia sebagai manusia.

Mengakrabi Tuhan

Ahmad Wahib dilahirkan 9 Nopember 1942 di Sampang, Madura. Lingkungan bergaulnya di masa kanak adalah iklim beragama yang ketat. Ayahnya, Sulaiman, tergolong pemuka agama. Ia sendiri meski tak total, pernah mengecap bangku pesantren.

Namun, keterbukaan ayahnya membuat Wahib bebas memasuki pendidikan umum. Selepas SMA Pamekasan bagian Ilmu Pasti, 1961, ia berangkat ke Yogyakarta. Ia mengambil Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) UGM. Sayang, meski mengecap sampai tingkat terakhir, ia tak menamatkannya.

Di Yogya, Wahib tinggal di Asrama Mahasiswa Realino, asrama Katolik. Dan dalam pergaulan bersama para Romo dan teman seasrama, ia merasa sangat bahagia. Sampai, “Aku tak yakin, apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka,” tanya dalam buku harian itu.

Di luar HMI, lingkungan pergaulan Wahib sangat luas. Dia akrab dengan AR Baswedan, pendiri partai Arab, Ki Muhammad Tauchid, tokok Taman Siswa, Karkono, mantan anggota PNI, dan dari kalangan muda, Ashadi Siregar, Tahi Simbolon, dan Aini Chalid.

Namun, Baswedan dan Wajiz Anwar yang paling ia akrabi. Di mata Baswedan, ia sosok muda yang mengagumkan. Ia banyak yang tak sepaham dengan pikiran Wahib, tapi ia yakin, pemuda itu sangat jujur dengan pikiran-pikirannya.

Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang….

Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kpadaku dengan kemampuan bebasnya sekali?….

Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan  yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri (9 Juni 1969).

Orang kedua, Wajiz Anwar, adalah dosen filsafat di IAIN Sunan Kalijaga, alumnus Gontor, yang minggat ke Mesir, tapi membelot ke Jerman untuk mendalami filsafat. Sama seperti Wahid, ia juga orang yang sangat getol melempar persoalan yang sangat menggoda pikiran dan mengguncangkan sendi.

Dan karena merasa tak sejalan lagi dengan “kekakuan” di HMI, Wahib pun –bersama Djohan Effendi– menyatakan ke luar, dengan mengeluarkan “Memorandum Pembaharuan dan Kekaderan”. Ia ingin mencari dunia yang lebih memberi arti pada keberbedaan.

Berada di luar HMI, pikiran liar Wahib kian menguar. Ia mengkritisi “sekularisasi” yang dipopulerkan Nurcholis Madjid, mengkritik Mukti Ali, dan kian tajam dalam perenungan-perenungan. Namun, dunia kerja memintanya ke Jakarta. Menjadi reporter Tempo, kuliah di STF Driyarkara, dan aktif berdiskusi di rumah Dawam Rahardjo.

Namun, Tuhan yang acap diajak Wahid berdiskusi, ternyata tak kuat menahan rindu. 31 Maret 1973, tengah malam, ketika ke luar dari kantor Tempo, sebuah sepeda motor menerjangnya. Ia terlempar, dan dalam keadaan tak sadar, kaum gelandanganlah yang membopong tubuh lunglainya ke RS Gatot Subroto. Sayang, lukanya sangat parah, dan dalam perjalanan pemindahan ke RSUP, ia menghembuskan napas terakhir.

“Subuh 1 April 1973, Amidhan, dengan suara terputus menahan tangis mengabarkan kepergiannuya kepada saya. Di sebelahnya, seingat saya, Nurcholis Madjid diam tak mampu bersuara,” kenang Djohan.

Semua sahabat menyesali kepergian Wahid yang terlalu cepat. Tapi Wahid sendiri, mungkin telah lama merindukannya:

Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali...

Begitulah tulis Wahib, dalam 17 buku catatan harian, yang tersusun rapi di kamar sempit, di gang sempit, Kebon Kacang I/12. Catatan harian yang kemudian diterbitkan LP3ES, yang sempat dilarang beredar karena dikhawatirkan telah “menyempal dari akidah Islam”.

Melawan Normalitas Kebangsawanan

May 10, 2011

Dari abad kedelapan belas, dunia mencatat kisah gemilang dari tanah Britania lewat mata Daniel Defoe melalui novel Robinson Cruse, Samuel Richardson, dan Henry Fielding. Karya mereka indah, menakjubkan, penuh dengan petualangan dan imaji yang menggeletarkan.

Namun, ada kritik yang cukup tajam atas “imajinasi” mereka, yakni selalu mendasarkan cerita pada harapan “orang kebanyakan”, mimpi dan petualangan penjajah ke daerah lain, realitas yang telah dijinakkan. Mereka, para pengarang abad itu, terselamatkan dari kritik yang tajam itu hanya karena seorang Jane Austen, yang berdiri di luar pagar arus utama saat itu, mencoba memaparkan sebuah cerita yang dekat-dekat saja dengan pengalamannya, bukan mimpi atau semangat penaklukan, bukan heroisme, bahkan lebih semacam igau kepedihan, namun menyentuh, dan dekat, teramat dekat dengan kenyataan.

Pada sosok Jane Austen-lah para kritikus menemukan semangat modern, naluri untuk mengkritisi semangat zaman, bukan semacam penganggukan atau pemberhalaan pada budaya yang melingkupinya. Melalui enam novelnya, Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, Northanger Abbey dan Persuasion, ia mencoba meletakkan diri sebagai kaca pembesar yang menampilkan renik-renik ekses konflik masyarakat kelas menengah saat itu, lengkap dengan kisah lucu dan tragis.

Selalu mengambil setting kehidupan masyarakat bangsawan, novel komedi-tragedi yang ia tulis didominasi kisah pencarian jatidiri seorang gadis muda, yang untuk zaman itu pun, sudah tak lazim, mendudukkan posisi seorang wanita dalam sebuah konflik masyarakat, tertekan dan melawan, menggugat dan terkalahkan, dalam gerak masyarakat yang amat mengokohi tradisi dan kehormatan status.

Juru Cerita Tragedi Wanita

Jane Austen (1775-1817) menulis di usia yang sangat muda, 12 tahun, ketika mendapat dorongan dari ayahnya yang seorang agamawan dan guru yang berpikiran progresif, untuk mendalami kesusasteraan. Maka, dunia kanaknya pun dipenuhi pengembaraan dalam imajinasi liar, pejal dan luas dari pengarang dunia, tenggelam dalam puisi, naskah drama, novelet dan prosa, dan mencoba mengungkapkan ketidakpuasan atas pembacaan itu dalam bentuk cerita.

Di usia 18 tahun, sekitar 1793, manuskrip dari serpihan cerita-ceritanya dikumpulkan menjadi tiga bundel, dan menunjukkan satu kesan yang sangat jelas, Jane muda amat terpesona pada parodi yang begitu dominan menguasai cerita-cerita romatik kala itu. Namun, parodi ini tak terlalu lama memesonanya.

Setahun kemudian, ia mulai tertarik dengan tragedi, terutama yang menyangkut ketertekanan wanita. Ia lalu menulis keputusasaan seorang wanita dalam kukungan tradisi. Karena masih sulit mencari bentuk ungkap, Jane masih menulis novelet itu dalam bentuk surat kepada sahabatnya Lady Susan. Cara ini ia anggap sebuah teknik yang lebih menggampangkannya mengungkapkan pikiran dan gagasan tanpa takut terjadi reduksi yang parah. Sayang, baru setengah abad setelah kematiannya novelet-surat ini diterbitkan.

Namun, kemudian Jane mengambil garis tegas, mulai gemar menampilkan perempuan yang pada masa itu danggap sangat maskulin dan menentang arus, sebagai tokoh yang mengambil peran penyampai gagasannya.

Sikap kontroversial itu juga ditunjukkan Jane dalam kehidupan pribadinya. Di usia 23 tahun, ia mengikuti kehendak orang tuanya untuk menikah dengan Harris Bigg-Whither, bangsawan kaya dari Hampshire. Namun, sehari sebelum “ijab-kabul”, Jane membatalkan pernikahan itu, sebuah tindakan yang amat berani. Sikap ini ia tempuh karena “tak bisa mengkhianati perasaan cintanya pada kekasih pertama”. Sebelumnya, Jane memang pernah berpacaran, namun tak langgeng karena kekasihnya itu mati muda. Jane merasa harus tetap mempertahankan kesucian cinta mereka, dengan tak akan menikah untuk seumur hidupnya. Pilihan yang juga teramat berani saat itu. Banyak yang melihat, riwayat cinta yang pedih –juga agung– ini yang menjadi dasar watak tokoh perempuan dalam setiap novelnya.

Novel pertamanya, Sense and Sensibility yang ia tulis sebagai surat antara dua tokoh wanita Elinor dan Marrianne –yang menjadi nama lain novel ini– terbit pada tahun 1795. Namun pasar belum bereaksi. Dua tahun kemudian, ia juga menyelesaikan versi pertama dari novel populernya, Pride and Prejudice, yang saat itu lebih dikenal dengan judul First Impression. Namun, tak ada juga penerbit yang tertarik. Sang ayah yang sangat mendukung profesi anaknya, menyurati penerbit-penerbit di London, dan tak ada jawaban. Gagal! Tapi Jane tak berhanti menulis.

Jane tak putus asa. Lima tahun kemudian, cahaya itu datang. Seorang agen penerbitan Richard Crosby membeli novelnya, Susan –kini dikenal sebagai Northanger Abbey– seharga sepuluh Pound, namun tetap saja karya itu tak juga diterbitkan.

Baru sewindu kemudian karyanya muncul di pasar, tepatnya di tahun 1811, dan ia menyiasati dengan tak mencantumkan nama aslinya sebagai penulis. Setelah mendapatkan ulasan yang positif, ia berani memakai nama asli, dan memang meraih popularitas yang hebat, membanjiri pasar, menjalani cetak ulang, bahkan menjadi incaran penerbit hingga sampai ke luar Inggris. Bahkan Pangeran Regent –kelak menjadi Raja George IV– dikenal sebagai penggemar berat Austen.

Saat sedang di puncak popularitas, ia mulai sakit-sakitan. Para dokter mendiagnosa ada yang salah dengan empedunya. Kelak, ternyata pengarang ini terkena penyakit Adisson, yang saat itu belum dikenali. Namun, meski sakit, ia tetap menulis novel terakhinya, Sandition, sampai rumah sakit tak dapat lagi ia tinggalkan. Sebulan di rawat intensif, dokter bedah yang selalu memantaunya tak dapat melawan maut yang telah sabar menjemput, dan ia rubuh. Jane dimakamkan di Katedral Winchester. Novelnya yang setengah jadi itu tetap diterbitkan, dan dijadikan simbol sebuah semangat penciptaan, sebuah kecintaan pada kerja.

Ayah Kandung Panji Tengkorak

May 6, 2009

SIAPA  pun Anda, yang sudah melek huruf di tahun 1970-an, pasti tak akan lupa dengan nama satu ini: Panji Tengkorak. Inilah sosok yang menjadi bagian dari kehidupan remaja di akhir 1960-an. Dan, tak pelak lagi, nama penciptanya pun menjadi identik, dialah Hans Jaladara.

Hans adalah salah satu dari 7 “pendekar” komik Indonesia di masanya, selain Jan Mintaraga, Ganes Th, Sim, Zaldy, Djair, dan Teguh Santosa. Dari 7 pendekar itu, hanya Hans dan Djair yang masih bertahan. Selebihnya, telah tunduk di depan maut.

Panji Tengkorak yang terdiri dari 5 jilid, boleh dikatakan karya masterpiece Hans. Meski karya lain, Walet Merah, Si Rase Terbang juga meraih popularitas. Setelah Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes Th, hanya karya Hans itulah yang mampu menyamainya, difilmkan, bahkan sampai mengundang aktris Taiwan Shan Kuang Ling Fung sebagai Dewi Bunga.

“Setelah Si Buta… populer, sebuah penerbit meminta saya membuat cerita serupa Jan. Tapi saya tak mampu meniru. Saya buat Panji, meski tetap saja banyak yang melihat mirip karya Jan,” cerita Hans, sebagaimana dikutip Kompas.

Ia pun membuat tokok yang anti-si Buta, Badra Mandrawata. Jika si Buta berambut panjang, Panji pendek. Si Buta rapi berbaju kulit ular, Panji compang camping. Si Buta membawa wanara, Panji menyeret keranda. Semua berbeda.

Banyak yang menilai, Panji adalah campuran koboi Italia dan silat Cina masa itu. Bahkan, adegan menyeret keranda, adalah peniruan dari film A Coffin for Jango yang dibintangi Franco Nero.

Tiga versi panji

Hans Jaladara bernama KTP Hans Rianto, kelahiran Yogyakarta 1947, anak kedua dari keluarga Linggodigdo. Nama Jaladara baru ia pakai di awal 1970, karena ada yang meniru namanya. Ia ambil Jaladara dari komik wayang karya Ardi Soma, Wiku Paksi Jaladara.

Ayah Hans adalah guru bahasa Inggris, yang memperkenalkan Shakespeare. Ia bahkan hapal pidato Mark Anthony dalam Julius Caesar itu. Ia pun mewarisi bakat melukis.

“Sampai ditimpuk Bu Guru, karena di sekolah menggambar terus,” kenangnya.

Kebiasaan membaca meliarkan imajinasinya. Melihat pengemis, kadang ia berpikir itu orang sakti yang sedang menyamar. Untuk adegan silat komiknya, ia mempertanggungjawabkannya. Maklum, ia belajar kungfu di Cheng BU Mangga Besar, dan belajar Judo pada Tjoa Kek Tiong.

Hans mulai berkomik sejak 1966, Hanya Kemarin yang diilhami film Hollywood Only Yesterday. Honornya kecil. Namun, saat Panji jaya, satu naskahnya sama dengan satu ons emas.

Namun itu tak lama. 1975, ia menurun. Komik mulai kalah saing. Ia masih bertahan dengan melahirkan Durjana Pemetik Bunga. Tapi, 1987, ia tersungkur. “Bikin komik, hasilnya tak seberapa. Temen-temen lain sudah lari, cari usaha lain. Sim misalnya, jauh hari sudah jadi wartawan,” kenangnya.

Untuk bertahan hidup, ia pindah ke Kebumen, 1978-1983, dan 1988-1994. Istrinya, Risnawati, membuka salon. Ia membeli truk dan pikup, tapi bangkrut. Membeli sedan ikut taksi gelap, malah tertangkap. “Jiwa saya memang tidak untuk dagang.” Ia tertawa.

Selama di Kebumen itu, dia masih mengirim naskah ke Jakarta, meski hasilnya sangat kecil, tak dapat diharapkan menjadi sumber penghidupan. Daya gembur komik Jepang tak dapat ia hadapi.

Namun, dalam “dunia persilatan” yang kacau itu, Hans akhirnya melahirkan “tiga Panji”, setidaknya di mata pengamat komik, Seno Gumira Ajidarma. Pertama, Panji Tengkorak 1968. “Adegan perkelahian silatnya melahirkan gambar koreografi yang artistik. Para petarung bergerak bagai penari, bentuk dan gerakan tubuh ditata harmonis. Ia tak mengacu pada pentuk baladiri mana pun, setia pada imajinasinya,” nilai Seno di situs komikaze.

Panji kedua, 1985. Hans sudah terpengaruh Jepang. Gerakan silat pertarungan, khas kungfu baku, seolah diambil dari buku petunjuk. Kostum bajak laut 1968, jadi bajak laut Jepang 1980-an. “Terjadi degradasi di segala aspek, mengurangi teks, mengosongkan ruang gambar.” Hans mulai diikat pasar.

Tapi, kehancuran Panji di mata Seno, terjadi saat Hans menggambar ulang untuk ketiga kali, 1996. “Semua gaya mengadopsi sepenuhnya pada komik Jepang. Mata yang membelalak dan bidang gambar yang bersih tanpa arsiran memenuhi ruang gambar, teks yang pendek. Hans Jaladara yang jago dalam detail dan imajinasi, seperti pelukis yang dikebiri,” kecam Seno.

“Tak ada lagi pendekar bercaping yang berjalan di lembah sunyi, rimbun dan berkabut, yang memberi perasaan teduh. Tak ada lagi gerobak eksotik yang berderak lambat di tengah padang rumput atau tepi jurang. Juga pertarungan yang artistik dalam siluet hitam membayang. Tak ada lagi drama. Ibarat kata,  Panji Tengkorak cuma tinggal tengkorak, tanpa daging, apalagi nyawa. Yang tersisa hanya kostum genit dari pertunujukan yang gagal!”

Pengakuan Hans: semua atas pesanan penerbit.

Perubahan drastis itu tetap saja tak berpengaruh apa-apa pada pasar. Komik itu tak juga laku, apalagi meledak. Inilah yang dinilai Seno, kesalahan kategoris dalam “mengangkat kembali” komik Indonesia. Karena komik kemudian berubah mengikuti selera pasar, bukan kembali ke asalnya, artistik semula, dengan strategi pasar yang baru. Untunglah, telah ada penerbit dari Yogya, yang akan menerbitkan serial Panji dalam bentuk aslinya.

Kelesuan komik itu membuat Hans berusaha menaikkan profesi, jadi pelukis. Tapi sudah terlambat. Beberapa kali mengikuti pameran, nasibnya tak kunjung beranjak. Ia datang di saat yang tak tepat, ketika booming lukisan sudah redup, tak seperti di awal 1990-an.

Kini, sejak 1995 ia kembali ke Jakarta, menempati rumah di kawasan Lippo Cikarang, 30 kilometer sebelah timur Jakarta. Ia masih aktif berkomik di majalah Kita, mengasuk rubrik “Mari Menggambar bersama Pak Hans”, dan membuat serial Kita dan Tata. Tiga kali seminggu, ia mengajar menggambar di SD, SMP, dan SMU Pelita Harapan.

Apa pun kecemerlangan dan kesuraman masa komik Hans, kini, dengan tunjangan usaha istri, ia telah memiliki rumah, dan anak yang sukses bersekolah. Putrinya, Maureen Maybelle (26) sarjana sastra Inggris UKI, dan Elizabeth Visandra, masih kuliah di desain grafis Tarumanegara, mengikuti jejak ayahnya.

Hans apa boleh buat, ibarat pesilat yang telah terlanjur masuk dunia persilatan. Tak ada lagi jalan mundur. Bertarung atau mati. Maka, ia pun tetap berkelana, dalam dunia yang mulai dilupakan…. 

Anak Raja Berjiwa Tentara

March 23, 2009

 

SEUSAI sidang Dewan Siasat Militer yang dihadiri Soedirman, Gatot Subroto, dan Sungkono, di tahun 1948, Bung Karno memanggil Djatikusomo. Di ruangannya, wajah Bung Karno tampak keruh.

“Lain kali, kalau rapat dewan Siasat Militer, jangan ajak Gatot Subroto,” perintah Bung Karno.

“Kenapa?” tanya Djatikusumo.

“Aku ndak mengerti jalan pikirannya.”

Djatikusumo tersenyum.

Dalam jajaran petinggi militer saat itu, Djatikusumo memang punya posisi penting. Dia acap diminta menghadiri rapat-rapat penting oleh Jenderal Soedirman. Alasan Soedirman sepele: hanya dengan mengikutsertakan Djatikusumo, dia dan beberapa jenderal lain dapat memahami pikiran Bung Karno, Syahrir, Hatta, dan anggota kabinet lain.

“Saya akui, Bung Karno, Hatta, dan Syahrir itu memang orang hebat. Pikiran-pikirannya cemerlang. Para jenderal semacam Soedirman yang hanya guru, Gatot Subroto dan Sungkono yang hanya tamat sekolah dasar, sering sulit memahami pikiran mereka. Saya jembatan bagi mereka untuk memahami jalan pikiran tokoh-tokoh hebat itu,” aku Djatikusumo, sebagaimana dikutip Tempo.

Dalam rapat Dewan Siasat Militer itu juga, para petinggi negara yakin, Belanda akan menyerang Indonesia. Bung Karno menghendaki, militer membentuk wadah angkatan. Dan karena dianggap sebagai tokoh yang paling tepat, Bung Karno menunjuk Djatikusumo menjadi Kepala Staf Angkaran Darat RI, untuk pertama kali (1 Maret 1948-1 Mei 1950).

 
Perang adalah Guru Terbaik

Djatikusumo  lahir 1 Juli 1917, atau tepat hari ke-11 Ramadan, di kedaton Surakarta. Ayahnya adalah Susuhunan Paku Buwono X. Ibunya bernama Kirono Rukmi, garwa ampeyan Sri Susuhunan, bukan permaisuri. Karena itu, berdasarkan asal ibunya yang dari desa Kajoran, di selatan Klaten, Djatikusumo lebih merasa sebagai orang desa.

“Lingkungan kraton dan desa, kelak membentuk watak saya menjadi bangsawan sekaligus rakyat,” akunya, di Mei 1991.

Sejak kecil, ayahnya sudah menanamkan jiwa nasionalis, dengan menceritakan penjarahan Belanda. Tapi, dengan alasan untuk lebih memahami watak Belanda, biar lebih mudah mengalahkannya, Subandono –nama kecil Djatikusumo– justru disekolahkan  di Eurepesche Lagere School di Solo, 1924.

Selepas ELS 1931, Djatikusumo dikirim ke HBS di Bandung, dan dititipkan pada keluarga Belanda. Ia “menumpang” selama 8 tahun.

“Kelak, pemahaman saya pada watak, tingkah laku dan pola pikir Belanda, amat mendukung karier Militer dan perjuangan saya saat menghadapi Belanda.”

Karena tak ingin mengangkat sumpah setia pada Sri Ratu dan Konstitusi Belanda, Djatikusumo menolak masuk Akademi Militer Breda di Belanda. Dia malah memilih Institut Technologie Delf di Nederland, 1936.

Tahun 1940, saat pecah Perang Dunia II, dia pulang, dan melanjutkan studi ke ITB.

1941, karena percaya pada Jangka Jayabaya, Djati memutuskan masuk milisi Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) di Bandung. Pangkat kopral ia sandang.

Ternyata ramalan Jayabaya benar, Jepang masuk, Belanda kalah. Dan karier militer Djatikusumo dimulai. Dia masuk PETA. 8 bulan di PETA, tugas berat datang, bernegosiasi dan meminta Jepang menyerah, di Semarang.

“Saat berunding, pikiran saya hanya satu, bagaimana bisa keluar dari markas Jepang dengan selamat,” akunya pada Tempo.

Karena prestasinya, Jenderal Oerip Soemahardjo memintanya menjadi kepala divisi di Salatiga. 1946, ia menjadi Kepala Divisi Ronggolawe untuk wilayah Pati, Bojonegoro dan Muncung. Tapi, selama masa ini, hutan jadi wilayah Mantingan justru tempat yang paling berkesan bagi Djati. Di tengah hutan jati itu, dalam suasana perang, ia menikahi Raden Ayu Suharsi, wanita yang kelak memberinya tiga anak.

Agresi Belanda yang pertama pecah. Djatikusumo diminta menguasai Gresik-Lamongan. Tapi, para prajurit yang ia pimpin justru kecut, dan hampir mogok perang. Djatikusumo meradang.

“Mencari musuh itu malah susah. Sekarang, ketika musuh ada di depan mata, kalian malah kecut. Gugur dalam perang adalah hal yang biasa. Guru terbaik bagi prajurit adalah perang itu sendiri. Maju!”

Karena prestasinya, Soedirman menariknya ke Yogya. Dan di sinilah, Djatikusumo mulai berkenalan dengan petinggi negara, Hatta dan Soekarno, sampai ia diminta menjadi KSAD.

Tahun 1950, saat RI menjadi RIS, Djatikusumo adalah saksi hidup kekacauan sistem pemerintahan itu. Sistem federal ternyata tak jalan, dan Bung Karno lebih berkuasa daripada perdana menteri. Bahkan, banyak politisi yang tak tahu harus melakukan apa, termasuk membentuk kabinet. Pada saat itulah, Bung Karno mengeluarkan Surat Keputusan: “Presiden Republik Indonesia Sukarno, dengan ini menunjuk warga negara Indonesia Sukarno untuk membentuk kabinet.”

Atas kekacauan konstitusi itulah, Djatikusumo berinisiatif mengumpulkan para petinggi militer, dan mengusulkan kemungkinan Indonesia kembali memakai UUD 1945.

Kekacauan inilah yang membuat meriam dan tank akhirnya mengarah ke Istana, dan TNI mendesak Bung Karno untuk kembali ke UUD 1945. Tapi, para politisi menolak. Akhirnya, Bung karno mengambil tindakan, memecat AH Nasution dan Gatot Subroto sebagai KSAD dan wakil KSAD, dan melemparkan Jenderal Mokoginta, perancang utama Peristiwa 17 Oktober 1950 itu, ke Amerika, bersekolah ke Port Levenberg.

Djatikusumo sendiri terkena imbasnya, dan dicopot dari jabatannnya sebagai Kepala Biro Perancang Operasi TNI, dan ditugaskan sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Ia kemudian dipindah lagi menjadi Direktur Zeni AD, dan ikut aktif menyelesaikan masalah pemberontakan PRRI/Permesta. Sebagai Direktur Zeni inilah, Djati kembali memiliki pasukan, yang salah seorang diantaranya Try Sutrisno, yang sepanjang pengamatannya, tak punya kapasitas istimewa.

Djati kemudian menjadi Dubes di Malaysia. Sayang, hanya 100 hari ia di sana. Konfrontasi Indonesia-Malaysia, membuat karier politiknya nyaris tamat. Terakhir, ia menjadi Dubes Luar Biasa untuk Maroko. Dan di saat jauh dari pusat kekuasaan inilah, dia tak menyaksikan, kejatuhan Bung Karno, orang yang amat ia kagumi.

Semasa Soeharto, ia diangkat menjadi anggota DPA, juga merangkap anggota Tim-BP7. Di masa tua, ia pun mulai berbisnis, merambah bidang yang luas, dari telekomunikasi, perkayuan, sampai konstruktor.

“Ini karena pensiun saya sebagai jenderal, tak cukup untuk hidup,” katanya, sambil menjelaskan uang pensiunnya yang hanya Rp 300 ribu perbulan, di tahun 1991.

Sabtu, 5 Juli 1992, saksi sejarah, dan KSAD RI pertama ini meninggal dunia, di tengah 5 orang cucunya. 

Selalu Dibuang Tangan Kekuasaan

March 9, 2009

PERISTIWA 17 Oktober 1952, tentang serangkaian aksi angkatan darat yang mengarahkan meriam ke Istana, sampai saat ini masih menjadi misteri. Tapi satu yang nyata dari peristiwa itu adalah tersiarnya isu kudeta oleh Kolonel Abdul Haris Nasution, yang membuat ia dipecat sebagai Kasad, dan dimahkamahmiliterkan. Padahal, Nasution hanya korban dari intrik “sandiwara” politik itu.

“Saya kemudian dipecat, November 1952, semasa kabinet Wilopo. Secara institusional, sayalah yang bertanggung jawab atas peristiwa itu,” akunya pada Tempo, 12 tahun sebelum kematiannya.

Sebelum peristiwa itu, sebelumnya Angkatan darat telah mengirim petisi kepada Presiden untuk membubarkan parlemen, yang kekuasaannya amat besar, sehingga turut campur dalam urusan internal kemiliteran. Petisi itu disusun di kamar kerja Nasution, dan karena semua kepala divisi menandatangani, Nasution pun ikut.

Kemudian, “sandiwara” 17 Oktober pun dimulai.

Malam sebelum tanggal itu, Nasution mengirim Kolonel Mustopo kepada presiden Sukarno. Dia melaporkan bahwa pada esok harinya, akan ada demonstasi Angkatan Darat ke Istana, dengan tujuan presurre, memakai tank, panser, supaya presiden mau membubarkan parlemen. Ini hanya semacam “permainan” politik. Karena itu, pengiriman Moestopo diharapkan Nasution supaya Presiden tak kaget. Hasil pertemuan dengan Presiden pun kemudian dilaporkan Moestopo pada Nasution.

Tapi sandiwara itu tak sepenuhnya berhasil.

Tanpa perintah Nasution, pasukan mengarahkan meriam ke Istana. Nasution kaget. Tapi, ketika dia tahu kepala pasukan Jakarta adalah Kemal Idris, yang tak menyukai Sukarno, dia bisa mengerti.

Nasution kemudian menghadap Sukarno, yang telah didampingi Hatta, Sri Sultan, dan Wilopo, serta TB Simatupang. Presiden tampak santai, bahkan acap tersenyum, meskipun Simbolon, terutama Kawilarang, memberikan pernyataan yang keras atas “politik” yang dimainkan parlemen.

Dan Bung Karno tetap tak mau membubarkan parlemen, atas nama Undang-Undang Dasar.

“Sandiwara” ini baru meminta korban beberapa hari kemudian, saat Kolonel Zulkifli Lubis, Kepala Biro Informasi Angkatan Perang di Hankam, membuat laporan, “Waktu menghadap Presiden, Kasad Nasution menuntut supaya negara dinyatakan dalam keadaan bahaya.” Laporan itu kemudian melanjutkan, Presiden menjawab, “Baiklah, kalau saya yang memegang kekuasaan, saya akan pecat kamu.”

Padahal, dalam pertemuan itu, Zulkifli tidak hadir. Nasution menduga, laporan itu bagian dari permainan Bung Karno. Laporan itu dikirim ke daerah-daerah, dan militer bersepakat, Nasution berencana kudeta! Mahkamah militer pun digelar.
Nasution pun dipecat, dan posisinya sebagai Kasad diserahkan pada Mayor Jenderal Bambang Sugeng.

Guru yang menjadi Prajurit

Sewaktu kecil, kakek Nasution mengharapkan dia menjadi seorang pendekar silat, meneruskan jejaknya. Tapi, Ayahnya, justru selalu mengharapkannya jadi kiai. Dari ibunya, dia selalu diobsesikan menjadi dokter. Nasution bingung, apalagi ketiga orang yang amat dia sayangi itu, selalu bersikeras dengan keinginannya. Nasution sendiri, lebih bersetuju dengan keinginan ibunya.

Umur 7 tahun, Nasution masuk HIS, dan sorenya, harus masuk maktab, semacam pesantren, belajar agama. Guru yang amat keras di pesantren itu adalah ayah Nasution sendiri.

Kampung Nasution, Kotanopan, Tapanuli, Sumatera Timur, adalah basis pergerakan Syarikat Islam. Ayahnya, terutama pamannya, Syeikh Musthafa, adalah pendiri Pesantren Purba, pesantren tertua di Sumatera Timur, yang saat itu menjadi basis pergerakan melawan Belanda. Lingkup pergaulan inilah yang membuat Nasution kental dengan semangat nasionalisme.

Tapi, yang mempengaruhi jiwa Nasution adalah Kemal Attaturk. Saat itu, di Kotanopan, pemimpin Turki ini menjadi semacam ikon perlawanan.

Selepas HIS, dia masuk sekolah guru. “Posisi menjadi guru saat itu amat dihormati. Kelak, saat gerilya semasa Agresi Belanda di Jawa, saya juga tahu, posisi guru pun sangat dihormati,” kenangnya.

Sekolah guru saat itu hanya ada di Bukittinggi. Dan di sanalah Nasution sekolah, sekaligus “berkenalan” dengan Bung Karno, melalui serangkuman pujian dari tokoh pergerakan saat itu.

“Bung Karno amat dipuja di Bukittinggi, foto-fotonya dicetak dengan posisi sedang berpikir keras, dengan pena yang selalu terselip di saku bajunya,” jelasnya.

Tiga tahun di Bukittinggi, dia melanjutkan ke Bandung. Lulus, dia melamar jadi guru partekelir di Muara Dua, Bengkulu, yang membuatnya secara fisik berkenalan dengan Bung Karno, yang sedang diasingkan.

1938, Nasution diterima sekolah cadangan perwira di Bandung. Teman seangkatannya adalah Kawilarang dan Simatupang, yang juga lulus dengan prestasi tertinggi, dan diperbolehkan masuk Akademi Militer di Bandung.

11 November 1945, setelah pertempuran Surabaya, seluruh perwira militer dikumpulkan di Yogyakarta oleh Kepala staf Umum TKR. Pada saat itu disetujui untuk mengangkat panglima besar. Ada beberapa calon, yang paling populer adalah Urip Soemahardjo dan Kolonel Soedirman. Akhirnya, Kolonel Soedirman terpilih, dan tentara pecah dua, karena Urip tak menerima kekalahannya.

Pulang dari Yogya, Nasution menjadi Panglima Divisi III TKR seluruh Priangan ditambah Sukabumi dan Cianjur.

Maret 1946, karena belum memiliki pertahanan yang baik untuk melawan sekutu, laskar dan tentara di Bandung tak sudi menyerahkan Bandung, dan memilih membakar, menjadikan “Bandung Lautan Api”.

“Saya selalu terharu mengenang peristiwa itu. Lasjkar membakari sendiri barak-baraknya, rakyat membakari rumah-rumahnya, semua ikhlas, daripada jatuh ke tangan sekutu,” ucapnya dengan nada pelan.

Mei 1946, Nasution diangkat jadi Panglima Divisi I, wilayah Bandung.

Januari 1948, dalam rangka melawan Agresi Belanda, Nasution Hijrah ke Jawa Tengah. Februari ia diangkat jadi Wakil Panglima Besar Soedirman, yang saat itu mulai sakit-sakitan. Di sinilah ia menerapkan konsep membuat kantung-kantung gerilya, yang menjadi acuan semua panglima divisi, atas perintah Soedirman.

Setelah itu karier Nasution melonjak terus, sampai ia menduduki posisi Kasad saat peristiwa 17 Oktober itu terjadi.
Setelah pemberontakan PKI gagal, Supersemar keluar, dan Suharto berkuasa, status kemiliteran Nasution dipulihkan. Ia kemudian masuk wilayah politik, menjadi Ketua MPRS yang mencabut mandat Bung Karno, dan mengangkat Suharto sebagai Pejabat Presiden.

Tapi, kelak, ia juga yang menjadi “musuh” utama Suharto dengan menjadi anggota Petisi 50, dan “kebebasannya” pun dirampas. Sejarah kemudian mencatat, dalam hidupnya, Nasution memang tak pernah duduk mesra dengan pemegang kekuasaan, sampai Yang Maha Hidup memanggilnya, Mei 2001.

Juru Tafsir kebudayaan Jawa

January 2, 2009

“Skenario Illahi memang tidak dapat diduga. Tampaknya Tuhan memang menghendaki saya akhirnya berbahagia di tanah Jawa,” aku Romo Zoetmulder pada R Fajri dari Tempo, 8 tahun sebelum kematiannya.

Pengakuan di atas, sesungguhnya lebih mencitrakan betapa rendah hati sosok pemerhati budaya Jawa ini. Padahal, kehadirannya di tanah Jawa lebih membahagiakan penduduk negeri ini. Dialah tokoh yang sepanjang hidupnya suntuk mempelajari bahasa Jawa, dan selama lebih dari 30 tahun berkonsenterasi penuh demi melahirkan kamus lengkap berbahasa Jawa Kuno.

Pengabdian yang luar biasa, yang hanya muncul dari rasa kecintaan semata.

Dan cinta itu, ternyata datang dari sebuah pertemuan yang biasa.

Saat sampai di Jawa tahun 1925, ia masuk novisiat Yogyakarta. Itulah kala pertama ia belajar bahasa Jawa dari teman seangkatannya seperti Martewordoyo dan Pusposuwarto. Selepas kuliah, menjelang sore, biasanya ia akan mengajar ke desa-desa, berkendara sepeda. Wilayah pengajaranya adalah desa Sleman.

“Saya mengajarkan agama sambil duduk di tikar, dikitari para penduduk. Dalam pertemuan semacam inilah saya manfaatkan untuk belajar bahasa Jawa, dan menikmati tembang-tembang Jawa,” kenangnya.

Dari kebiasaan itulah, pelan tapi pasti, rasa cintanya pada bahasa Jawa tumbuh.

Selalu berbahagia di Jawa

Petrus Josephus Zoetmulder lahir di Utrecht Belanda, 29 Januari 1906. Tapi, dalam beberapa kesempatan, ia juga acap memakai nama Artati, padanan kata zoet yang berarti manis, atau Resi Ciptoning, nama yang ia pakai saat menyelesaikan studi Teologi di Maastricht.

Ayahnya adalah insinyur di Delft, dan ibunya adalah pemain piano profesional, yang menurunkan bakat musik padanya. Tapi, berbeda dari ibunya, Zoet malah lebih menyukai memainkan biola. Sejak kecil, Zoet telah bercita-cita menjadi imam. Tak aneh. Keluarganya tercatat sebagai katolikus yang taat. Dua pamannya adalah pastor, sedang bude dan bibinya menjadi suster di Afrika dan Suriname. Kelak, anak sulung Zoet pun menjadi pastor.

Karena telah terbiasa membaca, saat masuk SD Lagere School 1912, dia tampil menonjol, terutama dalam ilmu bahasa, sejarah dan agama. Ketika melanjutkan ke Gymnasium Kanisius College, cita-citanya untuk menjadi imam kian menguat. Zoet kemudian masuk ke Novisiat Serikat Yesus, pendidikan awal untuk Imam Jesuit, di bawah bimbingan Pater P Willekens. Pembimbingnya itu jugalah yang kemudian menugasi ia bermisi ke Jawa, 1925.

1928, Willekens menyusul ke Jawa, dan meminta Zoet untuk belajar studi Kebudayaan jawa pada Dr CC Berg, yang saat itu menetap di Solo.

“Ternyata tugas ke Jawa, adalah skenario dia untuk membuat saya mempelajari budaya Jawa. Itu yang ikut mengubah takdir saya,” ingatnya.

1931, Zoet lulus dengan predikat cumlaude, dan bersamaan dengan itu ditahbiskan sebagai calon pastor di Girisanta, Ungaran, Semarang.

7 Desember 1933, ia pun lulus sarjana Sejarah Jawa dan Purbakala dari Universitas Leiden. Gelar yang amat menonjol karena diberikan oleh CC Berg dan Snouck Hourgronje, ahli Jawa dan Islam yang tak terbantahkan reputasinya.

Tak puas dengan gelar itu, Zoet melanjutkan studi doktor. Dan 30 Oktober 1935, ia meraih gelar doktor cumlaude dengan disertasi “Pantheisme en Monisme in de Javaansche Soeloek-Litteratuur”, yang 50 tahun kemudian diterbitkan Gramedia dalam versi terjemahan, Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa.

Tapi, selalu lulus cumlaude tak menjamin Zoet untuk lulus ujian mengambil SIM, sekitar tahun 1953. “Hal itu sampai ditulis wartawan Kedaulatan Rakyat, ada profesor yang tak lulus ujian rijbewijs, mengambil SIM, hahhaa….”

Saat Jepang masuk Indonesia 1942, Zoet termasuk warga Belanda yang ditahan. Tapi, dia beruntung, selama ditahan, buku dan pena masih boleh ia bawa. Saat dipindahkan ke penjara Cimahi, ia terpaksa menyeludupkan serat Adiparwa suntingan Dr HH Joynboll. Zoet berusaha menerjemahkn buku itu, dan tahun 1950, atas bantuan Poedjawiatna, buku setebal 267 halaman itu terbit dengan judul Bahasa Parwa, yang kelak menjadi acuan dasar mahasiswa studi Jawa Kuno.

1945, ia lolos dari tahanan interniran Baros, dan mulai mengajar di UGM. Dan 1950, berdasarkan SK Mendikbud, ia diangkat menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra Pedagogik, Filsafat UGM.

1955, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Sastra UGM, dan menanggalkan kewarganegaraan Belanda. Sehari-hari tugasnya menjadi lebih berat karena harus mewakili Dekan Fakultas Sastra Prof Dr RM Ng. Poerbatjaraka, yang lebih banyak berada di Jakarta. Ini masih ditambah tugas lain, menjadi guru bahasa Jawa Kuno untuk wilayah Yogya.

Pertama memberi kuliah, Zoet memakai bahasa Jawa. Tapi. kemudian dia menyadari, mahasiswanya banyak yang berada dari luar Jawa. Ia pun kemudian menulis buku panduan, Sekar Sumawur, bunga rampai prosa dalam Jawa Kuno.

“Saya keras pada mahasiswa. Jika mereka mempelajari Sekar Sumawur secara serius, saya jamin lulus. Tapi, itu bukan berarti karena mereka membeli buku saya,” katanya, dalam Basis, Maret 1980.

Semasa menjadi dosen itu, ada kenangan yang sampai menjelang ajalnya sulit ia lupakan, perdebatannya dengan mahasiswa yang berasal dari luar Jawa, yang merasa tak mampu dan menolak belajar bahasa Jawa Kuno.

“Saya bilang, saya sendiri dari Belanda, dan saya mampu. Yang terpenting kemauan dan niat. Apa pun bisa dipelajari, tak ada yang sulit.”

Ucapan Zoet ini kemudian menjadi terkenal, dan membuatnya menjadi dosen yang amat disegani.

lalu, untuk membantu kesulitan itu, Zoet bermaksud membuat kamus bahasa Jawa Kuno. Dan sejak tahun 1950 ia kerjakan. Semula ia yakin, 10 tahun adalah waktu yang ia butuhkan, tapi kenyataan bicara lain. Tugas itu berat sekali.

“Ternyata saya butuh 30 tahun untuk menyelesaikan kamus itu. Pekerjaan yang luar biasa berat,” akunya.

Kamus itu kemudian terbit, Kamus Bahasa Jawa Kuno, diikuti buku Kalangwan yang mengupas kehidupan empu dan sastra Jawa Kuno. Tentang kesulitannya, Zoet mengaku karena ia harus mengumpulkan naskah dari mikrofilm dan naskah handsbooks dari Universitas Leiden.

Di masa tuanya, ada satu hal yang acap ditanyakan orang pada Romo Zoet, yaitu apakah ia menyesal menanggalkan kewarganegawaannya? Sambil tersenyum, ia akan menjawab: “Bagi saya, sebenarnya menjadi warga negara Belanda atau Indonesia sama saja. Saya juga tak pernah merasa rindu dengan negeri Belanda… Bahkan kalau Tuhan mencabut nyawa saya, saya ingin itu terjadi di Jawa.”

Pengharapan yang kemudian memang diberikan Tuhan, yang mungkin sebagai rahmat bagi Zoet, yang selalu merasa bahagia di tanah Jawa.

Tentara Berjiwa Gereja

December 19, 2008

PERISTIWA 17 Oktober 1952, saat militer mengarahkan meriam ke Istana, tak hanya meminta korban Nasution. TB Simatupang, rekannya seangkatan di Akademi Militer Bandung pun, yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), terkena imbas. Ia dipecat, dan dipensiunkan, saat masih berusia 39 tahun.

Awal masalah besar di tubuh militer itu adalah keinginan Nasution dan Simatupang untuk membentuk militer yang profesional. Kedua orang ini yakin, hanya dengan cara itu, militer tak akan masuk dalam garis PKI.

Tapi, parlemen justru memandang lain, dan mengkritik kebijakan itu, bahkan “mengobok-obok” persoalan internal militer. Hal ituilah yang membuat militer marah, dan meminta presiden membubarkan DPR melalui aksi 17 Oktober itu, yang sebenarnya merupakan sandiwara politik, karena Bung Karno telah tahu skenario itu.

Tapi, ulah seorang kolonel, Bambang Supeno, membuat skenario itu berubah. Bung Karno yang dibuat percaya bahwa militer tak lagi mendukung kepemimpinan Nasution, berhasrat memecatnya. Simatupang bereaksi.

“Saya marah. Bersama Nasution, dan Menteri Pertahanan Hamengku Buwono, kami datangi Presiden. Kami jelaskan yang sebenarnya. Saya tak setuju keinginannya untuk memecat Nasution. Selama saya KSAP, tak akan ada pemecatan itu!” kenang Tahi Bonar Simatupang, saat diinterview Tempo, beberapa tahun sebelum kematiannya.

Tapi ia kalah. Nasution dipecat, bahkan dimahkamahmiliterkan. Simatupang menjadi saksi.

“Saya katakan, jika kami memang ingin kup, pasti militer akan menang. Jakarta sudah kami kuasai. Jadi, tak ada itu keinginan kup. Saya jelaskan keinginan kami, agar pemilu dipercepat, untuk mewujudkan DPR yang representatif,” jelasnya.

Kesaksiannya tak didengar. Bahkan, melalui mosi tak percaya Manai Sophian, seluruh kekuatan politik tak lagi memercayainya, meski tentara mendukungnya. Lewat serangkaian “aksi” politik, kedudukannya sebagai KSAP hilang, dan dia diangkat sebagai penasihat militer, sebelum pensiun tahun 1959, di usia 39 tahun.

“Tak pernah ada militer yang pensiun di usia itu….”

Dari Tentara ke Gereja

Tahi Bonar Simatupang lahir 29 Januari 1920, di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Ia bukan orang Dairi, berbapak Batak pegawai negeri Belanda, yang hidup berpindah-pindah. Ibunya hanya wanita biasa, yang menjadi pedagang saat bapaknya meninggal dunia, 1946.

Ia anak kedua dari 7 bersaudara. 1937, bersama abang dan satu adiknya, mereka berangkat ke Jakarta, bersekolah. Tapi, berbeda dari saudaranya yang memilih kuliah, Simatupang memilih karier di militer. Maka, begitu ada pengumumam penerimaan tentara sukarela di Bandung, ia masuk, satu kelas dengan Nasutioan, Kawilarang dan Kartakusuma. Bersama Nasution dan Kawilarang, ia pun tercatat sebagai lulusan terbaik Koro, sehingga berhak masuk Akademi Militer Belanda di Bandung.

“Saya ingin hancurkan mitos Belanda yang mengatakan Indonesia tak akan mampu membentuk angkatan perang mandiri.”

1942, Jepang masuk. Sekolah diberhentikan, dan semua calon perwira itu diperbantukan dengan pangkat pembantu letnan. Nasution ke Jawa Timur, Simatupang ke kesatuan di Ciganjur, wilayah Bandung.

Saat Belanda menyatakan kalah, dan KNIL dibubarkan, Simatupang bahkan menjadi pedagang buku. Ia berdagang dari Jakarta, Bogor, bandung, Tegal, Pekalongan, Semarang hingga Surabaya, dan satu hal membuka matanya, Jepang pasti kalah. Ia lalu segera bertolak ke Jakarta, dan bergabung dengan Sutan Sjarir.

“Pertemuan dan diskusi dengan Sjarir membuka mata saya mengenai arah perjuangan Indonesia,” katanya.

Bergaul dengan kelompok intelektual Sjarir, Simatupang belajar banyak tentang kemiliteran. Dia juga yang mendesain segala bentuk perundingan dengan Belanda, sambil mempertimbangkan strategi perang jika perundingan gagal. Otaknya diakui Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat Urip Soemahardjo, dan ia menjadi tangan kanan. Panglima Soedirman pun acap meminta nasihatnya. Saat Soedirman meninggal, ia kembali ke Jakarta, dan diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang, dalam usia 29 tahun, 1949.

Simatupang pun kemudian terlibat dalam setiap keputusan politik. Ia juga menjadi wakil militer dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), dan mendesak pengakuan TNI sebagai kesatuan internal dalam wilayah Republik Indonesia Serikat. Dengan kata lain, Simatupang tak ingin ada campur tangan pada kedaulatan organisasi TNI.

Kariernya melesat. Ia dianggap sebagai pemikir militer paling kuat, di samping Nasution. Bung Hatta bahkan acap memakai pikirannya, untuk mewujudkan militer yang profesional. Sayang, ketika Bung Hatta jatuh, ia tak punya tangan kuat di sebalik kekuasaan. Dan konflik dengan Bung Karno mengakhiri karier cemerlang militernya.

Setelah “tamat” di militer, Simatupang masuk gereja. Ia melihat, pengabdian dalam militer dan gereja ada kemiripan, dapat lebih dekat dengan permasalahan sebenarnya masyarakat. Keaktifannya itu juga dalam rangka menciptakan kesalingpengertian antarumat beragama.

“Awal tahun 1970-an, saya bahkan menjadi pioner dialog antar-agama di Pematang Siantar. Wakil Islam saat itu adalah Harun Nasution, yang teman saya satu sekolah saat di Sidikalang,” kenangnya.

Ia merasa dapat lebih berbakti bagi masyarakat justru sesudah berada dalam gereja. Ia menjabat Ketua Dewan Gereja se-Indonesia, Kemudian meningkat untuk kawasan Asia, lalu Ketua Dewan Gereja Dunia, prestasi yang tak pernah diulang putra Indonesia lain.

Meski aktif di gereja, bukan berarti perhatiannya pada militer berkurang. Sebagai salah satu pengonsep Dwifungsi AbRI –meskipun ia tak menyetujui istilah itu diterapkan– ia amat memperhatikan perkembangan militer. Ia yakin, demokrasi juga dapat dipercepat jika militer ikut serta. Karena itu ia menolak keras anggapan, demokrasi akan tegak jika fungsi militer diminimalkan.

Sebagai militer yang jujur, Simatupang percaya, besarnya pesan militer dalam kehidupan sipil justru akan mempercepat perubahan ke arah demokratisasi. Ia yakin, fungsi militer pada akhirnya hanya semacam pengawas dari kekuatan sipil agar tak melakukan penyimpangan di dalam berdemokrasi.

Sayang, sampai ia meninggal, cita-cita dan pengharapannya pada militer tak pernah terwujud. Ia pergi, di saat militer justru unjuk gigi, menghancurkan kekuatan sipil, menjadi kaki tangan kekuasaan, di bawah kendali Soeharto.

Peletak Imaji Keindonesiaan

November 24, 2008

SATU saat yang tak pernah dilupakan Muhammad Yamin adalah ketika dia ditangkap dan diinapkan di penjara, dua tahun, tanpa peradilan, oleh bangsa yang kemerdekaannya turut dia rancang. Oleh Syahrir, Yamin dan Tan Malaka dituduh mendalangi peristiwa perebutan kekuasaan –Peristiwa 3 Juli 1946– hanya semata karena beda diplomasi dengan Belanda.

Tapi Soekarno memandang lain, dan melalui grasi, membebaskan Yamin, 1948.

Apakah Yamin kecewa? Tidak. Bagi Yamin, dalam perjuangan ada masanya, kecurigaan dan kesalahpahaman harus dibayar mahal. Dan dia siap, bahkan saat Soekarno memintanya ikut delegasi KMB, Yamin bersetuju.

Kariernya kemudian bergerak, dia menteri dalam beberapa kabinet, anggota DPR, staf Panglima Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, dan Ketua Dewan Pengawas Kantor Berita Antara (1961-1962).

Tapi karier terbesar Yamin sesungguhnya sebagai seorang sejarawan dan sastrawan.

Imaji Puitis Keindonesiaan

Yamin lahir 1903 di Bogor, dari keluarga mantri kopi, posisi yang terhormat di masa itu. Terakhir dia bersekolah di Recht Hogeschool Jakarta, meraih gelar sarjana hukum (1929). Setahun sebelumnya, dia menikahi Raden Ajeng Sundari Mertoatmodjo, dan memiliki seorang anak lelaki.

Sedari kecil Yamin hidup di tengah generasi setipe Muhammad Hatta. Tak heran, visi nasionalismenya amat kental. Dia pernah mendirikan Jong Sumatranen Bond, dan menjadi ketua. Pada 1931, ia masuk Partai Indonesia, dan menolak bekerja sama dengan Belanda.

Setelah Partai Indonesia bubar, ia membentuk Partai Gerakan Rakyat Indonesia bersama Wilopo, Amir Syarifuddin, Sumanang, dan Adam Malik, 1936. Ia kemudian masuk Volksraad, dan amat keras menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Satu hal yang paling hebat dari Yamin adalah visi dan pengetahuan kesejarahannya. Ia, dalam pidat0 Kongres Jong Sumatranen Bond misalnya, telah meramalkan masa depan Bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia. Ramalan dan ide yang kemudian disetujui dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Ia juga perumus dasar negara, sebagai salah satu anggota teraktif BPUPKI. Dan gagasan dialah tentang dasar negara yang kemudian menginsiprasikan Soekarno mengonsepkan Pancasila. Bahkan, saat konsep Piagam Jakarta dituliskan, Yaminlah yang paling aktif menyusun redaksional dokumen yang amat berharga itu.

Yang tak dapat dilupakan, Yamin juga, bersama Hatta, yang menambah beberapa pasal penting dalam rancangan UUD 1945, terutama pasal-pasal hak asasi manusia.

Kejeniusan Yamin memang diakui banyak pihak. Sejarawan Taufik Abdullah bahkan menempatkannya sebagai sejarawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Pujian yang bukan tanpa bukti. Sepanjang hidupnya, Yamin telah melahirkan buku sejarah yang amat otoritatif. Gadjah Mada (1945), Sedjarah Peperangan Dipanagara (1945), Tan Malaka (1945) dan Kebudayaan Asia-Afrika (1955) adalah beberapa karyanya yang kian menegaskan pengetahuan kesejarahannya dan visi nasionalismenya.

Merasa tak lengkap menggambarkan visi kesejarahannya dalam buku sejarah, Yamin menulis sajak dan drama, sejak 1920. Tanah Air (1920) dan Indonesia Tumpah Darahku (1928) adalah dua kumpulan sajaknya yang paling terkenal. Ia juga menyusun drama Ken Arok dan Ken Dedes (1938) dan menerjemahkan karya-karya Rabindranath Tagore dan William Shakespeare.

Lewat beberapa naskah-naskah awalnya, sangat tampak Yamin sangat mengimajinasikan Indonesia mampu kembali ke masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Dia bahkan tanpa ragu menyebut Indonesia adalah Imperium Nusantara ketiga, setelah dua kerajaan itu, yang dikecam para sejarawan sebagai pengembang mitos masa lalu. Tapi Yamin tak menanggapi. Karena baginya, imajinasi puitis keindonesiaan yang di masa muda hanya ia bayangkan, telah ikut juga ia wujudkan menjadi kenyataan, sebuah bangsa yang besar, meski selalu juga menyimpan masalah yang besar.

Nasib Getir Burung Kelana

November 10, 2008

Sutan Sjahrir adalah nama yang dicuplik ibunya dari kegemerlapan kisah Seribu Satu Malam di Istana Baghdat. Tapi kehidupan Sjahrir justru getir dan kelam, sejelaga belanga.

Dialah orang yang paling jenius dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hanya bermain di belakang gemebyar Soekarno dan memimpin pergerakan di Bandung, Amsterdam, dan Leiden, jiwanya menjadi matang. Dialah pengelana yang hidup untuk kampung halaman: pribadinya matang dalam tempaan cita-cita kemerdekaan.

Menghabiskan delapan tahun dalam penjara kolonial dan pembuangan, tiga kali menjadi Perdana Menteri di rezim Soekarno, tapi saat mati, Sjahrir justru berstatus tahanan politik, dari sebuah bangsa yang dengan darah dan airmata ia perjuangkan kemerdekaannya.

Dialah Don Quixote, sekaligus Kafka.

Sendiri, pedih, getir.

Tapi amat mencintai sesama atas nama kemanusiaan.

Tak heran, pada hari penguburannya, 18 April 1966, jasadnya yang baru datang dari Zurich, disambut 250 ribu massa, yang mengelu-elukannya dalam tangis, mengantar bunga dukacita ke Kalibata. Helikopter berputar, meraung, menabur wewangian kembang, tembakan salvo pun menggelegar, mengiringi jasad ringkih, pucat, tapi tersenyum, turun ke liang lahat.

Pemerintah menginstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang tiga hari; tanda duka, dan jasad yang kering itu pun dibaptis sebagai pahlawan nasional.

Tapi apakah arti upacara itu?

Adakah kemeriahan penghormatan dan anugerah itu dapat mengobati luka Sjahrir, yang lebih membutuhkannya di hari-hari panjang yang dingin, pengap, meringkuk sakit, sendiri, sepi, di sebuah penjara, di Jakarta.

Hidup Sjahrir mungkin sebuah biografi yang tak indah. Tapi, siapa yang bisa melepaskan namanya dari triumvirat Bung, pendiri negara ini? Dalam tahap ini, jelas, Sjahrir berarti, sangat berarti.

Dia berjuang untuk memerdekakan negeri ini dengan konsep yang ganjil tentang nasionalisme. Nasionalisme bagi si Bung berdarah Minang ini bukanlah dewa. “Nasionalisme hanya kendaraan yang kita pakai saat ini untuk memerdekakan diri,” ucapnya.

“Sjahrir adalah burung kelana yang mendahului terbang melampaui batas-batas nasionalisme. Dia salah seorang tokoh terbesar dalam kebangkitan Asia,” puji Indonesianis, Herbert Feith.

“Perjalanan hidup Sjahrir,” tulis Rudolf Mrazeck dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, adalah gerak universalisme dari satu tradisi sempit. Dia tak pernah membawa bau tradisional, primordial, atau parokial. Ia secara jujur mengaku, tak punya hubungan batin dengan dunia Minang.”

Dalam posisi itu, Sjahrir amat berbeda dari Soekarno, Hatta, bahkan Tan Malaka. Sjahrir adalah anak panah, melesat dari busurnya, tak pernah kembali.

Intelektual Marxis Sejati

Seperti pemimpin pergerakan lainnya, Sjahrir adalah buah dari politik etis van Deventer. Ia lahir di Padangpanjang, Sumatra Barat, 5 Maret 1909, dan dewasa di Medan. Di kota itulah jiwa muda Sjahrair sudah kenyang melihat penderitaan kaoem koeli, bukti eksploitasi kolonialisme.

Dia mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan pustaka dunia, karya-karya Karl May, Don Quixote, dan ratusan novel-novel Belanda. Malamnya dia ngamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk kulit putih, kecuali musisi dan pelayan.

1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu.

Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volkuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.

Sebelum Soekarno membentuk Perserikatan Nasional Indonesia, 4 Juli 1927, Sjahrir telah membentuk Jong Indonesie, yang kelak menjadi Pemoeda Indonesia. Ini oerganisasi baru yang jauh dari warna kesukuan, dan ia menjadi pemimpin redaksi organisasi itu.

Kuliah hukum di Universitas Amsterdam, Sjahrir berkenalan dengan Salomon Tas, ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Sjahrir, meski sebentar.

Dari mereka Sjahrir mengenal Marxisme, dan melalui Hatta, dia masuk Perhimpunan Indonesia. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.

“Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan,” katanya.

Tulisan-tulisan Sjahrir berikutnya, terutama dalam manifestonya, Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Sjahrir justru menulis, “Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.”

Dan dia mengecam Soekarno. “Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita.” Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.

Perjoeangan Kita adalah karya terbesar Sjahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrif itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, “satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memengaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan.”

Pujian yang tak berlebihan. Karena melalui Partai Sosialis Indonesia yang melahirkan Soejatmoko, Sutan Takdir Alisjahbana, jejak-jejak Sjahrir sampai kini masih terasa, kuat, masih menggelora.

Diplomat Minang Berlidah Pedang

October 14, 2008

Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum.

“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.

Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”

“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.

“Kucing!”

“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.

Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?”

Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”

Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda.

Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim, pentolan Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan Muso. Tapi, Agus Salim selalu menanggapi semua perdebatan dengan Muso, bahkan sampai menyentuh hal yang amat pribadi. Bagi Agus Salim, setiap perdebatan harus ia hadapi, dan mesti ia menangi.

“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat ahli berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,” jelas Mohamad Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten Bond.

Menolak Bea Siswa

Agus Salim lahir di kota Gedang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Ia anak keempat dari Haji Moehammad Sali, jaksa di pengadilan negeri setempat. Karena kedudukan ayahnya itu, Agus kecil yang bernama asli Mashudul Haq, dapat bersekolah Belanda. Hebatnya, lelaki yang memang sedari muda suka memelihara janggut ini, amat pintar. Waktu lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 19 tahun, ia meraih predikat sebagai lulusan terbaik untuk wilayah tiga kota: Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus kemudian mengajukan permintaan beasiswa pada pemerintaan Belanda. Tapi, permintaan itu ditampik. Agus Salim patah arang.

Sementara itu, di Jawa, tepatnya di Jepara, Kartini yang mendapat beasiswa tapi tak diizinkan orang tuanya, mendesak pemerintahan Belanda untuk menghibahkan beasiswa itu pada Agus Salim. Pemerintah Belanda menyanggupi. Tapi apa kata Agus Salim?

“Jika beasiswa itu diberikan kepadaku karena desakan Kartini, dan bukan karena penghargaan atas diriku sendiri, lebih baik tidak akan pernah kuterima,” kecamnya.

Sebagai sikap pembangkangan, Agus Salim bahkan hengkang ke Jeddah, dan belajar pada ulama di sana, sambil bekerja di konsulat Belanda.

Karier politik Agus Salim bermula saat dia pulang ke Indonesia, dan bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis di Sarekat Islam. Waktu kedua tokoh SI itu mundur dari Volksraad (dewan rakyat), Agus menggantikannya. Tapi, karena Belanda tak juga mengubah kebijakanannya pada Indonesia, Agus pun akhirnya mundur.

SI kemudian pecah, antara golongan Semaun dan Muso yang condong ke garis kiri, dan Agus Salim-Tjokro yang tetap di jalur agama. SI Semaun-Muso berkembang menjadi partai komunis, sedangkan Agus Salium kemudian aktif di Jong Islamieten Bond.

Di organisasi baru ini, Agus pernah dituduh memecah belah pemuda berdasarkan sentimen keagamaan. Tapi Agus menolak, dan mengajak berdebat, dan dia menang.

Di lembaga ini Agus kemudian melakukan gebrakan. Dalam kongres Jong Islamieten Bond di Yogyakarta 1925, peserta lelaki dan wanita duduk terpisah dan berbatas tabir, sesuai syariah Islam. Tapi, dua tahun kemudian, dalam kongres di Solo, Agus atas nama pengurus membuka tabir itu, setelah menjelaskan penafsirannya. Semangat pembaruan Islam ini terus berkembang.

“Ajaran dan semangat Islam, memelopori emansipasi perempuan. Itu pasti,” ucapnya, berapi. Kisah ini sering diucapulangkan Seokarno dalam tiap pidatonya, untuk menerangkan perlunya memandang Islam dan berbagai agama dengan dada terbuka.

Tak Hirau Harta Dunia

Setelah Indonesia merdeka, bakat debat dan ketajaman lidah Agus Salim dimanfaatkan untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus menjadi diplomat, yang bahkan atas lobinya, Mesir mau mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali. Dalam perjanjian dengan Belanda dan negara lain pun, Agus pasti disertakan. Tapi, sebagai pejabat negara, hidup keseharian Agus tak ubahnya rakyat jelata.

Hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain. Kadang, rumah itu hanya satu kamar, di gang becek, dan dia huni bersama 8 anaknya, serta ribuan buku koleksinya.

Tapi, menjadi miskin tak membuat keluarga itu murung. Penampikan Agus pada harta tak membuat anaknya kehilangan kegairahan dan keceriaan hidup. Mohamad Roem yang acap bertandang, menjadi saksi: “Kegembiraan berada di tengah keluarga Agus Salim, membuat kita acap lupa, sungguh betapa melaratnya keluarga ini,” katanya.

Agus Salim memang tak dendam pada kemiskinannya. Yang ia dendami adalah perlakuan Belanda yang menolak beasiswa dia. Karena itu, sedari lahir, tak pernah anaknya ia sekolahkan formal, kecuali yang bungsu. Agus mendidik sendiri anaknya dengan cinta dan pengertian. Bermain bagi Agus adalah belajar, belajar juga adalah permainan.

Hebatnya, sistem pendidikan informal ini cukup berhasil. Anak tertuanya, Jusuf Taufik, telah mampu membaca Mahabrata berbahasa Belanda di usia 13 tahun, dan yang lainnya, di usia belasan telah mampu menghapal syair Belanda. Perlu diketahui, tata bahasa Belanda amat sulit, sehingga butuh ketekunan yang luar biasa untuk bisa menguasainya.

Bagi Agus Salim, keberhasilan dirinya dia ukur dengan kemampuannya mengantarkan jiwa merdeka dan mandiri bagi anak-anaknya, tak menggantungkan hidup pada orang atau bangsa lain.

Jiwa yang merdeka ini, lidah yang amat tajam ini, dan otak yang luar biasa cemerlang itu, akhirnya rebah, 4 November 1954, di usia 70 tahun, sambil tersenyum. Dia tak pernah berhutang pada dunia.

Next Page »