Perlawanan Tanda Ahmad Dhani

August 16, 2006

Di atas panggung “Indonesian Idol” itu, Ahmad “Dewa” Dhani “melawan” infotainmen dengan senyuman. Dia memakai kaos hitam, dengan tulisan besar “HARAM” di bagian depan.

Dhani memang melawan dengan diam. Hanya kepada orang tuanya, sebagaimana yang terus diberitakan infotainmen saat itu, dia memberikan “perlawanan” nyata, mengirimkan SMS-SMS yang kasar, sangat-sangat menunjukkan kemarahan dan keterlukaan. SMS yang memang seharusnya tidak “pantas” ditujukannya kepada Eddy Manaf, ayah kandungnya. Sampai kakak tirinya, Dadang S Manaf merasakan bahwa ada yang salah ketika membaca SMS itu. “Pasti ada komunikasi yang salah…” terangnya sebagaimana tampak di “Espresso” Anteve. Tapi, Dadang sendiri tidak begitu kaget dengan pertengkaran orangtua dan anak itu. Di matanya, Dhani dan Eddy adalah sosok yang sama. Menurut Dadang, ia biasa melihat kedua orang itu berbeda pendapat, dan menyampaikan perbedaan itu dengan sangat terus-terang. “Mirip pertengkaran lawan politik,” saksinya. Meski begitu, Dadang tak berani menyalahkan siapa pun. Ia hanya berharap, sebagai anak, Dhani mau mengalah dan memahami sikap ayahnya, sebagai tanda sayang. Apalagi, jika Dhani terus “melawan”, menurutnya, itu sama seperti melawan diri sendiri. Karena di mata Dadang, Dhani dan Eddy itu memiliki karakter yang sama. “Dhani, ingat… Papi sudah tua, sudah sakit-sakitan…” katanya cemas.

Pendapat Dadang ini, sayangnya, jarang sekali dikutip infotainmen. Sepanjang ikutan saya atas “gosip” nikah siri Dhani-Mulan, hanya “Expresso” dan “Insert” TransTV yang mengutip pendapat Dadang dengan kelengkapan sejarah “pertengkaran” mereka, dengan pendapat yang tidak menyudutkan Dhani. Selebihnya, infotainmen bereuforia memberitakan kabar nikah siri dan “kedurhakaan” itu dengan Dhani sebagai “terdakwa”. Informasi atau tanggapan balik yang sangat minim, bahkan nyaris tak ada dari Dhani, atau duo Ratu Maya dan Mulan, membuat citranya nyaris habis.

Dhani bukan artis sembarangan. Ingat, Yudhistira Masardi pun dia “lawan” dalam kasus pemakaian judul “Arjuna Mencari Cinta” di dalam album terdahlulunya. Bahkan, orangtuanya pun dia “lawan”, sebuah sikap yang agaknya akan menjadi “antiklimaks” dari citranya selama ini yang, meski arogan, tapi tampak cukup mengerti agama, orang tua yang santun bagi anak-anaknya. Maka, agak mengherankan jika infotainmen pun tidak dia lawan, kabar nikah siri itu tidak dia bantah.

Perlawanan Tanda

Ternyata, Dhani tetaplah Dhani, dan ia memang melawan, –tidak dengan caranya yang biasa, cenderung frontal– dengan menggunakan tanda. Tanda yang paling jelas, adalah penampilan Dewa dalam ajang spektakuler “Indonesian Idol” tiga besar, Dirly, Gea, dan Ihsan. Di penampilan pertama Dewa, saat melantunkan lagu “Larut” Dhani tampil biasa, berada di belakang keyboard. Tapi saat lagu kedua, “Sedang Ingin Bercinta” yang memang biasanya Dhani yang melantunkan, dia telah mengenakan kaos legam dengan tulisan “HARAM” di bagian dada. Lagu rancak itu, yang memaksa Titi DJ dan Indy Barens turut bergoyang, membuat kamera selalu menampilkan aksi Dhani. Akibatnya, teks “HARAM” itu pun selalu tayang di layar kaca. Sebuah sikap yang tampaknya dinyatakan Dhani sebagai dukungan atas fatwa haram Nahdhatul Ulama (NU) terhadap isi infotainmen yang hanya memberitakan kejelekan artis. Di atas panggung itu, dengan gitarnya, Dhani bergerak, berkeringat, dan tersenyum. Ia seperti tengah menikmati “kemenangannya” atas hak pribadinya yang “Sedang Ingin Bercinta” dari sorotan kamera. Dhani melawan infotainmen tidak dengan cela atau makian, tapi dengan tanda, tanda yang sangat nyata. Dan, sebenarnya, itu bukan perlawanan Dhani yang pertama.

Jauh sebelum fatwa haram itu turun, ketika masih menjadi sorotan atas kasusnya yang “mendurhakai” Eddy, Dhani juga melawan rentetan berita “kedurhakaan” itu dengan tanda, sinyal yang sangat halus, tapi mengena. Perlawanan itu dia tunjukkan dengan “kelembutan” yang biasa, sebuah tangisan. Ya, Dhani menangis saat tampil dalam acara “Lelaki Pilihan” di RCTI, tapi bukan tangis penyesalan.

“Lagu ini saya persembahkan untuk Mama Joice, yang telah mengenalkanku bagaimana menikmati dan menciptakan lagu-lagu indah,” katanya, yang tampil sebagai penutup acara. “Mama Joice, silakan naik ke panggung…” Lalu kamera menyorot perempuan paro baya yang masih tampak cantik, dengan slayer lebar menggantung, yang diminta Dhani duduk di kursi panjang yang telah ada di pentas. Begitu Joice duduk, Dhani pun melantunkan “My Way”, lagu yang kata Dhani merupakan kesukaan mereka berdua.

Dan lihatlah. Baru saja satu bait lagu itu dilantunkan Dhani, mata Joice sudah basah. Dhani yang bernyanyi dengan sepenuh perasaan, membuat berkali-kali perempuan itu mengenakan slayernya untuk membendung airmata. Mama Joice terisak, pundaknya tampak bergetar. Di depannya, anaknya, bernyanyi tanpa memandangnya, nyanyian seperti rintihan, dikumandangkan dengan mata terpejam, “ini jalanku… jalan yang kupilih…” Dan, sebelum lagu itu berakhir, Dhani berjalan memutar, lalu di depan ibunya, dia bersimpuh, dia rangkul kaki ibunya, dia benamkan kepalanya ke pangkuan sang ibu yang mengelusi rambutnya, tangis Dhani pecah. Dhani menangis! Ini sesuatu yang tak terduga, sangat, sangat, tak terduga. Dan lihatlah, dengan senggukan yang jauh lebih keras, Joice merangkul anaknya, demikian ketat, lalu menarikkannya untuk berdiri. Dengan suara serak, mata basah, Dhani mengakhiri lagunya.

Tidakkah itu tangis perlawanan? Di tengah sorotan tentang kedurhakaan kepada ayahnya, Dhani menunjukkan bahwa ibunya dan dia tak ada masalah. Mereka demikian dekat, bertangisan, sebagai sebuah pengertian bahwa Dhani telah “memilih” jalannya. Bahwa “kedurhakaan” itu adalah sebuah sikap, yang betapa pun pedihnya, harus dia ambil. Dan Dhani menunjukkan, dengan ibunya, dia justru bersujud, dia menangis, dia tetaplah seorang anak, anak yang tahu bagaimana berbakti.

Tentang Surga

Tak cukup sampai di situ, Dhani juga “melawan” sampai ke tingkat yang paling esensial menyangkut kedurhakaan itu. Untuk perlawanan ini, Dhani memakai “jurus” andalah pengarang silat Cina Kho Ping Hoo, “meminjam tenaga lawan”. Dia tak menyuarakannya sendiri. Dia memakai acara “Request with Chrisye” di SCTV sebagai medan tanda. Acara yang disiarkan secara live itu kebetulan bersamaan jam dengan “Indonesian Idol” saat Dewa tampil sebagai bintang tamu, Jumat (4/8). Sebagai salah seorang yang pernah bekerjasama dengan Chrisye, Dhani seharusnya tampil juga di SCTV, dan karena berhalangan, dia dimintai komentar secara langsung melalui telepon oleh Nirina. Dan, inilah jawaban Dhani. “Maaf Nirina, aku tidak begitu jelas suara kamu. Tapi aku request lagu “Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada”. Pesanku kepada penonton agar mau mendengarkan syair lagu itu baik-baik, dan memahami maknanya. Itu aja, terimakasih….” Dan, karena Chrisye yang belum terlalu fit, lagu itu pun tampil dengan klip, duet Dhani-Chrisye.

Di sinilah dapat dibaca, Dhani masih melakukan “perlawanan”. Jika kedurhakaan selama ini dimaknai sebagai tanda telah tertutupnya pintu surga sampai ada ampunan dari orang tua, Dhani menunjukkan pikiran yang berbeda. Bagi Dhani, melalui lagu itu, bakti dan sujud pada Tuhan, menjalankan ibadah agama, berbakti kepada orang tua, bukanlah sebuah jalan dengan pengharapan akan surga. “Jika surga dan neraka tak pernah ada… Masihkah kau, sujud kepada-Nya…” dia melantunkan itu.

Lagu Dhani itu jelas disemangati oleh zuhud Rabiah al-Adawiyah, yang terkenal dengan doanya, “Tuhanku, jika sujudku karena takut akan neraka-Mu, maka bakarlah aku di dalam api-Mu. Dan jika aku beribadah hanya karena mengharap surgamu, maka tutuplah rapat-rapat pintu surgamu. Tapi bila ibadahku hanya karena mencari ridha-Mu, hanya karena Engkau ya Allah, maka janganlah kau tutupi keindahanmu.” Senyawa bukan?

Dhani memang tak mengatakan banyak. Ia hanya meminta penonton menyimak syair lagu itu. Tapi, dari situ, dari gestur tubuh dan suaranya, kita dapat membaca tanda, bahwa ada pesan yang ingin dia katakan, Tuhanlah yang maha mutlak, yang memiliki kebenaran, yang paling tahu siapa yang durhaka, siapa yang pantas masuk surga dan neraka. Dan hak itu, janganlah diambil alih oleh manusia…

[Versi yang lebih pendek dan berbeda dari artikel ini telah dimuat di Tabloid Cempaka, Rabu 16 Agustus 2006]

Gusti Randa dan Imajinasi Fakta

August 11, 2006

Ketika fakta dibekap citra penguasa, Gusti Randa memainkan “fiksi” untuk mengungkapkan semuanya.


Begitulah. Untuk kesekian kali, sinetron Selebriti Juga Manusia digugat. Gugatan yang kali ini tidak main-main. Barisan Muda PAN mendatangi TransTV dan menuntut penghentian tayangan sinetron itu. Alasan mereka gampang diduga, sinetron yang mengangkat kisah hidup Gusti Randa-Nia Paramitha dalam episode “Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin” itu menghina PAN, terutama mendiskreditkan Ketua Umum Sutrisno Bachir.

Tidak mengagetkan. Sejak tayang pertama, yang mengangkat kisah hidup Cut Memey, Selebriti Juga Manusia memang telah siap menghadapi masalah demikian. Sebelum tayang pun, pihak Indika menyatakan telah siap jika ada pihak yang keberatan. Namun, kesiapan Indika itu bukan berhadapan di pengadilan, melainkan membuatkan sinetron baru jika ada pihak yang keberatan dengan cerita yang ditayangkan. Maka, ketika Jackson Perangin-angin keberatan dengan cerita versi Cut Memey, Indika menawarinya Rp 50 juta, untuk cerita versinya. “Saya tolak. Saya tidak ingin menjelekkan siapa-siapa,” ungkap Jackson.Cerita berdasarkan satu versi memang menjadi kelemahan utama Selebriti Juga Manusia. Selain Jackson, Rhoma Irama, Yuma, dan Ferry juga pihak yang dirugikan oleh cerita yang hanya berdasarkan versi dari mantan istri mereka. Karena satu versi, acap cerita menjadi berbeda jika dibandingkan dengan “kisah” yang sebelumnya marak di infotainmen. Kisah Andara Early misalnya, yang selama ini dalam tiap infotainmen dikabarkan sebagai istri yang tak setia, berselingkuh, dan memiliki anak bukan dari benih suaminya, menunjukkan “fakta” berbeda. Ternyata, perselingkuhannya adalah wujud balas dendam dari perselingkuhan yang telah terlebih dahulu dilakukan suaminya, Ferry. “Itu kan Fitnah!” geram Ferry, yang urung melapor ke polisi, untuk menghindari masalah lagi. Angel Lelga menampilkan “fakta” yang lebih terang. Jika dalam infotainmen Angel adalah pihak yang diceraikan Rhoma, sehingga si cantik itu pingsan, dalam Selebriti Juga Manusia berlaku sebaliknya. Angel-lah yang memaksa Rhoma untuk menceraikannya, demi kebaikan semua orang. Dan karena paksaan Angel itulah, Rhoma sampai masuk rumah sakit karena tiba-tiba dadanya mengalami nyeri hebat.

Anomali Fiksi

Keberbedaan cerita dalam Selebriti Juga Manusia memang mengayakan pemirsa. Lepas apakah kisah itu benar nyata atau tidak, penonton mendapatkan perspektif yang berbeda. Ada hal-hal yang semula tidak dibayangkan, dan seolah telah finis diungkap infotainmen, tampil dan menjadi unsur penting. Ini karena, Selebriti Juga Manusia akhirnya memang menjadi medium bagi para artis untuk “membersihkan” dirinya dari segala kabur-kabar infotainmen. Karena itu, meski bukan hal yang mengagetkan, Ria Irawan lebih menceritakan derita batinnya ketika berumahtangga dengan Yuma. Dan derita batin, adalah “situasi” personal yang bisa lepas dari jerat kategori fakta dan fiksi. Ria Irawan seakan menegaskan bahwa, “Sesuatu yang aku alami, deritaku ini…” adalah fakta baginya, sungguh terjadi, tapi bisa menjadi fiksi, sesuatu yang khayali, di mata orang lain. Ria lebih menampilkan rasa sebagai fakta, sesuatu yang subjektif, dan karena itu, kisahnya menjadi pembersihan diri yang lebih dapat diterima.

Berbeda dari Ria, Angel Lelga, Cut Memey, Andara Early, dan yang lainnya, lebih menampilkan fakta-fakta kasuistik, sesuatu yang kebenarannya dapat diperdebatkan. Karena itu, sebagai medium pembersihan diri, sinetron mereka tidak terlalu berbunyi, tak mampu menggugah simpati. Dan barangkali, inilah yang tidak diinginkan Gusti Randa. Ia tidak mengikuti cara tutur Angel Lelga atau Andhara, melainkan memodifikasi gaya Ria, dan memberi kejutan dengan menambahkan kehadiran Nia Paramitha. Gusti tidak hanya menawarkan “derita subjektifnya” tapi juga memberikan cerita yang “kebenarannya” disetujui pihak yang bersengketa dengannya, Nia Paramitha.

Di kepala penonton, kasus perceraian Gusti-Nia pasti masih terpatri. Di infotainmen, terungkap jelas dua versi sebab perceraian itu. Versi Gusti, Nia berselingkuh, hamil, dan digugurkan tanpa persetujuannya. Selingkuhan Nia adalah Mr X dan Mr Y, dua lelaki yang punya posisi tinggi di partai Z. Infotainmen menjelaskan kasus Gusti dengan memberi sosok pada Mr X sebagai Sutrisno Bachir, dan Mr Y dengan Andi Harun, serta partai Z dengan PAN. Gusti tidak mengiyakan, tapi tidak membantah. “Nanti akan terungkap semua di persidangan,” katanya. Versi Nia adalah bantahan dari semua itu. Dia tidak berselingkuh. Kehamilan itu adalah buah persetubuhannya dengan Gusti. Dan dia tidak melindungi siapa pun. Dua-duanya kukuh dengan versi masing-masing. Tapi Gusti punya banyak bukti, juga saksi, bahkan dari orang-orang terdekat Nia sendiri. Mereka bercerai. Tapi, bagi Gusti, bukan perselingkuhan itu yang membuat dia menjatuhkan talak, melainkan karena, “.. Mitha telah berubah. Dia tidak lagi lagi membela kepentingan keluarga dan anak-anak. Dia lebih memilih menjadi pembela orang lain. Sebagai lelaki, sebagai suami, sebagai seorang ayah, habis saya. Habis…” katanya sembari mengembuskan asap rokok.

Itu cerita di “sinetron” infotainmen. Di Selebriti Juga Manusia justru terjadi pembalikan yang luar biasa. Jika versi infotainmen seluruh persangkaan terhadap Mr X dan Mr Y masih mendapat pembelaan dengan penyangkalan Nia Paramitha, dalam versi sinetron, Nia mengamininya. Dalam “”Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin” Nia yang menjadi Mia memainkan skenario yang “dulunya” adalah versi Gusti, yang dia bantah kebenarannya. Semua karakter jelas mengarah pada seluruh jalinan cerita yang terungkap di infotainmen, hanya nama saja yang diubah, Gusti jadi Gustaf, Mr X jadi Sutrisno Bahar dan PAN jadi PAM. Apakah dengan ikut berperan dalam sinetron itu berarti Nia membenarkan seluruh cerita berdasarkan versi Gusti? Tak ada jawaban pasti. Dalam “Expresso Prime Time” Rabu malam pun (9/8) Nia lebih banyak diam, dan, semoga pandangan mata saya salah, dia tampak tertekan. Berbeda dengan Gusti yang tetap tenang, dan cerdas memberikan jawaban-jawaban. Dan kepada wartawan, inilah jawaban Gusti, “Dia tertarik memerankan diri sendiri. Jadi, saya tidak mencari figur lain. Alasannya, dia juga ingin merehabilitasi kasus kemarin terhadap saya.”

Jadi, sangat-sangat dapat dimengerti jika sampai Barisan Muda PAN marah atas tayangan itu. Apalagi, sebelum ini Nia diberitakan sebagai kader PAN yang cukup membantu partai dalam kapasitasnya sebagai artis. Jadi jika sampai dia berubah sikap, tentu…. Imajinasi penonton pun bergerak, berkelindan.

Imajinasi Publik


Ya, imajinasi publik. Menyaksikan episode “Selingkuh, Politik, dan Penjahat Kelamin” imajinasi publik dipaksa untuk bergerak liar, merangkai cerita, membentuk sebuah sketsa utuh dari seluruh cerita heboh perceraian Gusti-Nia. Dan pergerakan imajinasi publik inilah yang ditakuti Barisan Muda PAN.

Secara sederhana, imajinasi publik tersusun dari imajinasi personal yang memilik satu pandangan yang sama atas sebuah peristiwa. Dalam politik, muncul kesadaran baru bahwa kekuatan massa yang didasarkan pada mobilitas massalnya ternyata lebih digerakkan oleh kekuatan imaji komunal tersebut. Imajinasi komunal inilah yang kemudian menjadi pegangan tiap individu untuk memasuki dan mengalami realitas kehidupan. Secara politik juga, menguasai imajinasi publik berarti mendapatkan kekuatan atau kekuasaan atas publik. Karena itulah pembentukan imajinasi publik ini menjadi vital, dan media adalah mesin utama pembentuk imaji tersebut. Sekali sudah terbentuk, imajinasi publik ini akan dapat dimanfaatkan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mendapatkan pengaruh atau mengindoktrinasi orang lain, menjadi sebuah imaji politis, yang identik dengan kekuasaan atas massa.

Tanpa disadari, imajinasi publik itu juga yang tengah berproses atas kasus perceraian Gusti-Mia, dan terlebih atas bersatunya mereka dalam sinetron di atas. Senaif apa pun pihak Indika mengatakan bahwa cerita itu hanya diilhami, dan mungkin bagian kecil saja yang merupakan fakta, imajinasi penonton tak lagi dapat dibendung. Apalagi, ini juga tanpa disadari, pengaburan nama-nama tokoh kian memberi energi pada imajinasi publik tersebut. Tak terbantahkan, dalam benak penonton PAM pasti terbaca PAN, Mia disamakan dengan Nia, dan Gustaf adalah Gusti. Jika pun yang memerankan tokoh itu bukan Nia dan Gusti, rangkaian imajinasi penonton akan tetap menisbatkan hal itu. Dan itulah yang terjadi pada Sutrisno Bahar. Berbeda dari Gustaf dan Mia, karakter ini tidak diperankan oleh sosok asli Sutrisno Bachir. Tapi, imajinasi siapa yang dapat mengatakan bahwa Bahar itu bukan personifikasi dari Bachir?

Di situlah dapat dilihat betapa “hebatnya” sinetron Gusti ini. Dia bukan saja menciptakan semesta ruang imajinasi penonton dengan kejutan pada seluruh cerita yang sama persis, dan sosok Nia yang hadir, melainkan juga menuntun ke arah mana imajinasi itu. “Untuk pihak yang berseberangan, dengan bersatunya kami adalah sebuah pukulan,” ucapnya. Penonton tahu, siapa pihak yang berseberangan yang dia maksudkan itu. Apakah cukup? Belum, Gusti kian menggiring imajinasi tersebut, “Bagi saya, yang penting Mitha kembali. Minimal dia sudah menemukan kesadaran dan kembali ke jalan yang benar. Buat saya, yang kemarin itu bukan sikap Mitha sesungguhnya. Dia telah mengatakan kepada saya, telah melakukan hal terbodoh di dalam hidupnya.”

Mitha telah sadar, dan kembali ke jalan yang benar. Sinetron itu telah menunjukkannya. Dan Gusti, dengan kecerdikannya, berhasil menggiring imajinasi publik untuk tahu seperti apa epos perkawinannya, justru ketika fakta yang dia ungkap diragukan kebenarannya. Gusti tahu bagaimana memanfaatkan media, untuk melawan kekuatan kuasa dan massa. Dia memberi “fiksi” yang mengubah dan menambah kuat semua fakta-fakta yang telah dia sodorkan, dia rangkul Nia sebagai picu utama. Dan yang istimewa, dia giring imajinasi penonton untuk dapat melihat hal-hal yang selama ini tersembunyi, kebenaran yang tak mendapat gema. Kini, Gusti melenggang….

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 13 Agustus 2006]

Infotainmen, Hak Publik, dan Pengharaman

August 4, 2006

Di mata infotainmen, selebriti diwajibkan berprilaku seperti nabi.


“Kalau infotainmen memberitakan selebriti yang berbohong, selingkuh, dan kawin cerai, itu juga mendidik masyarakat agar tidak mengikuti hal-hal seperti itu,” yakin Wina Armada, pengurus PWI Pusat. Keyakinan yang berlebihan, tentu. Tapi, hal-hal semacam itulah yang tampak dalam “Topik Minggu Ini” di SCTV, Rabu malam (2/8). Wina, Ilham Bintang, Veven SP Wardhana, dan para pemilik production house yang hadir dalam acara itu, sangat yakin masyarakat berhak tahu tentang apa pun yang terjadi dengan seorang selebritis. Sementara KH Said Aqil Siradj dari PBNU, dan beberapa pengamat dan praktisi jurnalisme, meyakini konten infotainmen sudah terlalu berlebihan, sangat tidak mendidik, yang kelak, dapat membentuk “budaya” pergunjingan. “Infotainmen yang membuka aib seseorang, haram hukumnya,” tegas Said Aqil. Ia yakin, tak ada kebaikan apa pun yang didapat dengan pemberitaan sejenis itu. “Agama memerintahkan itu, untuk tidak membuka aib saudaramu,” ucapnya.

Wina Armada berang. Ia yakin, selebriti bukan seperti orang kebanyakan. “Kalau mau jadi selebriti, jangan jadi pembohong, jangan munafik, jangan selingkuh! Kalau masih mau berbohong, jangan jadi selebriti!” sergahnya. Dengan argumen itulah dia beranggapan, infotainmen pantas jika membongkar kebohongan dan aib selebriti. Tapi, siapakah sebenarnya selebriti itu, Wina?Hak Publik?

Wina, dan para produser infotainmen, yakin, publik memiliki hak untuk tahu apa pun yang dilakukan oleh seorang selebritis. Karena itulah, infotainmen wajib memberitakan hal tersebut. Apalagi, para pekerja infotainmen adalah wartawan yang dalam menjalankan profesinya dijamin dengan undang-undang. Mereka mencontohkan kasus Bill Clinton dan Monica Lewinsky, yang perselingkuhan antara keduanya sampai mengguncang Amerika. Argumen ini sebenarnya mendapat sanggahan dari Ketua AJI Heru Nugroho. Sayang, Rosiana Silalahi tak banyak memberi ruang untuk mengelaborasi bantahan itu.

Seperti ketika Clinton berselingkuh, benarkah publik punya hak untuk tahu seluruh hidup selebriti? Kalau mau jujur, seharusnya dua hal di atas tidak pantas diperbandingkan. Ada status yang sangat berbeda antara Clinton dan selebriti atau artis. Clinton adalah pejabat negara, yang mendapatkan mandat dari publik untuk dapat menjalankan tugasnya. Seperti di sini pun, pejabat publik selalu bersumpah sebelum menerima mandat itu. Presiden SBY atau Bagir Manan, misalnya. Karena mendapat mandat dari publik-lah, kerja mereka dapat diawasi dan dilaporkan kepada publik. Untuk itu, publik juga memberi “mandat” kepada wartawan agar dapat mengawasi, melaporkan, dan memverifikasi seluruh kerja pejabat publik ini. Sebab itu juga, seperti pejabat publik, wartawan pun tidak boleh berbohong, menerima amplop, atau membingungkan publik, dengan gosip atau rumor, misalnya. Wartawan juga harus independen, dan kuat menghadapi tekanan siapa pun, termasuk institusi tempat dia bekerja. Hanya dengan kemandirian itulah seorang wartawan dapat menjaga mandat yang telah diberikan publik tersebut.

Dengan argumen di atas menjadi jelas, pejabat publik adalah abdi masyarakat. Sebagai abdi, mereka harus dipantau, diberitakan, dijaga agar tak punya kesempatan berbuat kesalahan. Karena tiap kesalahan yang mereka perbuat pasti memberi efek atas kehidupan masyarakat yang memandatinya. Bupati yang selingkuh layak diungkap, bahkan diselidiki, jika perlu diperadilankan. Siapa tahu, dia menggunakan kekuasaannya untuk dapat berselingkuh? Siapa tahu dia memakai dana publik untuk membiayai selingkuhannya? Siapa tahu, untuk melegalkan tindakannya itu, dia akan membuat RUU bebas selingkuh?

Selebritis tidak seperti itu. Tak perlu mandat rakyat atau sumpah untuk menjadi selebritis. Artis adalah profesi yang secara generik setara dengan supir, tukang, pedagang, dan lainnya. Artinya, seluruh tindakan seorang artis tidak memberi dampak secara langsung pada kehidupan masyarakat. Dengan demikian, mereka tidak perlu diawasi, dijaga, atau dikuras rahasianya. Mereka tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada publik. Karena itu juga, publik tidak bisa memberi “mandat” kepada wartawan untuk “menyelidiki” rahasia seorang artis. Publik pun tidak punya hak untuk tahu sampai ke rahasia kamar seorang artis. Karena, apa sih dampaknya bagi kehidupan masyarakat kalau, seperti yang dihebohkan infotainmen, Nana Mirdad benar-benar hamil sebelum menikah?

Bermain Prasangka

Dengan demikian, layakkah hukum haram untuk tayangan infotainmen yang membuka aib seorang artis? Said Aqil dan ulama NU yang tentu paling tahu jawabannya. Sebagai penonton infotainmen, saya hanya melihat sebuah proses yang dilakukan dengan semangat yang tidak “baik”. Said Aqil menunjukkan hal itu dengan, “Apa pantas untuk membuka aib seorang artis sampai harus menanyai pembantunya, sopirnya?” Dan semangat semacam itu memang jadi kemajemukan infotainmen. Mareka bekerja atas dasar asumsi, yang dihidupi dengan semangat hiperbola. Seluruh rangka bangun cerita diproduksi untuk melahirkan opini, yang celakanya, selalu tanpa bukti. Berita pernikahan siri Ahmad Dani dan Mulan Kwok, misalnya. Sampai kini, tak ada satu tayangan infotainmen pun yang dapat menunjukkan bukti pernikahan itu. Siapa saksinya, siapa penghulunya, dan di mana? Seluruh jalinan cerita adalah praduga yang dihiperbolakan dengan semangat bahwa pernikahan itu telah benar terjadi. Titik pijak diletakkan pada pengakuan Eddy Abdul Manaf, yang juga bukan saksi mata, tapi keyakinan seorang ayah yang telah tersakiti oleh perkatakan anaknya lewat SMS. Benar, di “Expresso Prime Time” Anteve Eddy menyebutkan pengakuan Ujang yang menjadi saksi pernikahan itu. Tapi, ketika Dave Hendrik menghubunginya, Ujang membantah tegas kesaksian itu. “Bohong itu, bohong!”


Yang kemudian merebak adalah pelebaran masalah. Terbentuk opini baru, karena Eddy membuka “aib” Dhani, personel Dewa itu pun memutuskan hubungan darah, dengan kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang anak. Infotainmen mendudukkan perseteruan itu terjadi karena ada “kebenaran” dari ucapan Eddy. Faktanya, tidak begitu. Tapi mau apalagi, seluruh infotainmen “seperti” berkolaborasi untuk mewujudkan opini itu.

Hal lain, kenapa suara Eddy yang menjadi titik pijak? Kenapa tidak dicari suara lain yang mungkin bisa melemahkan seluruh “prasangka” Eddy? Suara Ujang misalnya? Yang terjadi justru seperti yang dilakukan “Expresso”, meminta pendapat Farhan dan Silvana Herman, kalau benar pernikahan itu sungguh terjadi. Bayangkan, pendapat dengan dasar “kalau”. Jurnalisme seperti apa itu? “Jurnalisme proses…” kata pengamat infotainmen Veven Sp Wardhana dalam acara “Topik Minggu Ini” di SCTV itu. Entah, proses semacam apa yang dia maksudkan.

Masalahnya adalah, jika pun Dani telah menikah siri, kenapa? Tidak ada yang dia langgar dengan pernikahan itu? Tidak akan ada proses publik yang terkendala dengan pernikahan itu. Dan, ini yang paling penting, jika infotainmen tidak memburu Eddy Manaf, sehingga orang tua yang tak tahu hukum infotainmen itu, dan mengatakan, mungkin benar telah terjadi…” (bagi infotainmen, kata mungkin = pasti), maka tidak akan ada cerita anak durhaka dan orang tua durhaka dalam episode hidup mereka.

Infotainmen, tampaknya, telah memosisikan diri sebagai minyak bagi bara perselisihan tiap artis. Maka Fatma Farida memburu mereka untuk mewartakan keburukan anaknya, Kiki Fatmala. Dan segalanya keluar, menjadi sengketa keburukan, episode yang seperti memindahkan neraka ke dunia. Jika Nahdhatul Ulama memberi fatwa, hukum haram, memang bukan sesuatu yang berlebihan…

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 6 Agustus 2006]