Silet, Memanjangkan Prasangka

March 31, 2009

Tentu, aku tak bercerita pada Papa. Di kafe itu, kucoba tertawa, sembari menyimpan  airmata. Papa berkali-kali mengelusi rambutku, dan bertanya, mengapa tadi aku menangis. Aku tak menjawab, mengalihkan cerita. Papa tertawa.

“Ila, Papa tahu ada rahasia antara kita. Dan itu tak apa-apa. Tapi, Ila juga harus adil.”

“Adil, Pa?”

“Iya. Jika Ila boleh punya rahasia, orang lain tentu juga punya. Dan seperti Papa yang tak memaksa Ila untuk bercerita, Ila pun tidak punya hak memaksa atau membuka rahasia orang lain.”

“Lho, memang Ila telah membuka rahasia siapa? Papa jangan asal tuduh, dong?!”

Papa tertawa. Jemarinya mengacak rambutku lagi. “Siapa yang menuduh. Papa hanya menjelaskan bahwa kita harus adil, Ila. Apa yang tidak kita sukai dilakukan orang lain pada kita, jangan juga kita perbuat pada orang lain. Papa ingin Ila tahu bahwa ada situasi tertentu yang membuat seseorang tak bisa berbagi atau bercerita. Seperti Ila saat ini misalnya. Dan Papa tidak punya hak untuk memaksa. Ila mengerti?”

Aku mengangguk. Papa menyorongkan kup es krimnya. “Tuh, dihabiskan, kita pulang.”

Kusodorkan juga mangkuk es krimku ke depan Papa. “Stoberinya terlalu asam,” kataku.

“Bukan stoberinya, Nak, tapi suasana hatimu…” bisik Papa, menggoda. 

Tiga menit kemudian, Papa menggenggamkan dompetnya ke tanganku, dan menunjuk kasir. Aku tertawa.

Lima menit berikutnya, kami sudah lepas dari parkiran, dan untuk kali pertama, Papa mengizinkanku menjadi sopirnya.

 

********

 

Biru, pernahkah engkau merasa kecewa? Pernahkah engkau bangun dan melihat pagi dengan warna yang berbeda? Tahukah Engkau bahwa hujan bisa begitu kejam menjarumi kulitmu, perih dan pedih?

Pagi ini Biru, aku merasai semua itu. Sesak di dadaku tak punah. Ganjalan di hatiku tak pergi. Meski Papa bilang setiap orang boleh punya rahasia, aku harus adil kepada siapa saja. Iya, aku pasti bisa adil, bisa… jika rahasia itu tidak melukaiku dan juga Papa. Aku barangkali tak peduli jika Mama menyimpan bawang di kasur atau menyembunyikan cabe di saku kemeja. Tapi ini kan tidak, Mama menyimpan lelaki lain!

Lelaki lain!  Bisa kamu bayangkan itu? Bagaimana aku harus adil?

Biru, bagaimana aku harus menghadapi hal ini? Haruskah aku menelpon lelaki itu dan bertanya, “Hey, kamu siapa? Ada hubungan apa kamu dengan Mamaku?” Sopan tidak ya jika aku bertanya begitu, Biru? Tapi, apakah aku harus bersopan-sopan menghadapi lelaki semacam itu, yang memanggil mesra istri orang lain? Atau aku langsung saja bicara dengan Mama, dan memaksa Mama bercerita, meninggalkan lelaki itu, kalau tidak akan aku laporkan pada Papa. Aku bingung, Biru. Aku mencintai Papa, juga Mama. Aku tak ingin keduanya bertengkar dan apa jadinya jika mereka kemudian berpisah.

Telah dua hari ini tubuhku rasanya berat sekali, seperti menanggung beban yang luar biasa. Telah tiga kali kunaikkan kaki ke timbangan badan, tapi kulihat angka itu seperti tak menunjukkan fakta yang sebenarnya, beratku tak bertambah, bahkan cenderung menurun. Itu kan tidak mungkin, karena aku tahu persis kakiku kini pun mulai goyah untuk melangkah, terutama jika makan malam, sebuah situasi yang membuatku tak bisa tidak harus bertemu Mama.

Iya Biru, telah dua hari ini aku mencoba menghindari Mama. Tak lagi berlama-lama bersama, termasuk menemani membuat sarapan untuk Papa dan adikku. Aku juga tahu, Mama pasti menyadari perubahanku itu, karena berkali-kali kutangkap Mama menatapku dan mulutnya terbuka, tapi tak ada suara. Barangkali Mama mulai menyadari rahasianya sudah kuketahui, dan malu. Barangkali Mama ingin bercerita tapi ragu. Barangkali Mama merasa aku masih terlalu kecil untuk mengerti hal yang sebenarnya. Barangkali…. Ah entahlah, aku pusing.

Tapi tahu tidak, Papa tenang-tenang saja, Biru. Masih tertawa-tawa, memangku Mama sehabis makan malam sembari membaca koran, masih semesra biasa, seperti tak ada apa-apa. Ya, Papa memang tak mengerti bahwa Mama telah berubah, bahwa perempuan yang selalu mencium punggung tangannya, dan selalu Papa hadiahi kecupan di kening itu, bukan lagi sosok yang sama.

Biru, pedih sekali rasanya melihat Papa menjadi korban sandiwara Mama. Sakit melihat Mama menggelendot manja. Padahal….

Biru, aku tak bisa bercerita langsung padamu. Kutuliskan resahku ini, dan tak akan sampai padamu. Maaf, aku harus menjadikan rahasia ini sebagai milikku sendiri. Biarlah diari ini menjadi bukti, aku telah bercerita padamu, telah berbagi. Bahwa di saat-saat paling pedih pun dalam hidupku, engkaulah sumber energiku, Biru. Kepadamulah kukabarkan semuanya, meski kali ini engkau cuma sosok yang kuhadirkan dalam anganku saja.

 

******

 

“Ila, tahu tidak mengapa banyak orang yang merasa tidak bahagia dengan hidupnya?”

Kuurungkan membuka pintu mobil. Tak biasa Papa mengajak bicara dalam situasi yang pendek seperti ini. Biasanya, Papa hanya berpesan, “Riangkan hatimu, hari ini pasti menyenangkan,” dan mendadaiku yang melangkah ke halaman sekolah. Pasti ada sesuatu. Apakah Papa melihat ada yang berubah dengan diriku?

“Maksud Papa apa Ila terlihat tidak bahagia?”

Papa tertawa. “Kamu itu, selalu saja mengambil kesimpulan…, dan salah. Papa tidak mengatakan dirimu, hanya bertanya apakah Ila tahu apa sebab orang sering merasa tidak bahagia dengan hidupnya. Kalau Ila ya pasti bahagia, ada Papa yang sebaik ini, dan ada Mama yang sesempurna itu. Iya, kan?”

Aku menggeleng.

“Lho, jadi Ila tidak bahagia?” suara Papa agak bergetar, seperti terkejut.

Aku tertawa. “Papa itu selalu saja menyimpulkan…, dan salah. Ila menggeleng itu karena tidak tahu mengapa banyak orang yang tidak bahagia. Bukan karena Ila tidak bahagia dengan keluarga kita.”

Papa meninju pundakku, tersenyum. “Kamu itu, mulai pintar membolak-balik kata. Ya sudah, sana turun, nanti terlambat.”

“Lho, terus apa sebabnya orang merasa tidak bahagia dengan hidupnya, Papa?”

Dari tasnya, Papa mengambil selembar kertas kecil berlipat. “Nih, baca di kelas.” Papa menggenggamkan kertas itu, menarikkan pundakku agar hidungnya menjangkau keningku. “Gembirakan dirimu…” bisiknya.

Aku bergegas turun. Kujejalkan kertas berlipat itu ke saku tasku.

Di dalam kelas, segera kubuka lipatan kertas itu. Ada tulisan tangan Papa, bertinta biru, bertandatangan. Aku tersenyum. Papa selalu saja bisa melakukan hal-hal yang membuat aku bahagia. Kubaca kalimat yang cuma dua baris itu. “Angan-angan. Memanjangkan kenyataan. Membenihkan praduga dan syakwasangka, menanam ketakutan dan kesedihan. Itulah sebabnya, Ila. Jadi, jika Ila ingin terus dalam lingkupan suasana bahagia, semailah kepercayaan bahwa kebaikan tidak akan pernah mengkhianati dirimu. Bahwa yang tampak di mata terkadang bukan kenyataan yang sebenarnya, dan jangan dipanjangkan menjadi cerita dengan praduga dan wasangka.”

Aku membaca berkali-kali, mencoba mencerna. Ah, iya aku ingat, Papa pasti tengah memintaku untuk tak seperti Fenny Rose, pembawa acara “Silet”, yang selalu berpraduga atas sebuah peristiwa.

Tapi, memangnya aku tengah menduga-duga apa??

Selingkuh Tiga Pembunuh

March 24, 2009

 

Warung di pinggir kompleks pelacuran itu masih seperti biasa. Tak ada bir di tiap meja, hanya sebotol kecil kecap, sekuah sambal, dan gulungan tisu kasar. Di kanan bagian dalam, Narto, pemilik warung, juga masih terkantuk-kantuk. Selalu begitu. Jam berapa pun melihatnya, kau akan selalu mendapatinya terkantuk. Tapi cobalah kau sapa, maka dia akan sigap menjawab. Matanya memang seperti orang nggelek, tapi telingnya tetap terbuka. Ia dapat mendengar apa saja. Juga suara tamu-tamu yang selalu ketagihan menyantap sotonya.

“Kalian tahu perempuan yang mati terlindas truk kemarin pagi? Akulah pembunuhnya. Akulah yang membuatnya tergelincir dari motor, menggelinding ke kolong truk, dan krass! kepalanya berhamburan.”

“Kau yang menyenggol motornya?” tanya sebuah suara. Narto hapal suara itu, Yoyok. Ya, pemuda setengah pengangguran itu.

“Tidak.”

“Kalau bukan kau yang menyenggol motornya, kenapa kau mengaku yang membunuhnya?”

“Tapi aku yang membuat dia terjatuh.”

“Kau berada di sekitar peristiwa itu?”

“Tidak.”

“Kau melihat perempuan itu jatuh, berteriak, ‘Ya Allah…’ sebelumnya kepalanya dilindas truk?”

“Tidak. Tapi aku yang menyebabkannya begitu.”

“Halah! Kau cuma mabuk!”

Tak ada jawaban. Mata Narto terbuka. Dilihatnya lelaki yang bicara itu menyalakan rokok.

“Pagi itu susu anakku habis. Aku ke minimarket,” laki-laki itu bersuara lagi. “Begitu mau bayar, ada empat antrean. Karena ingin cepat, aku memotong barisan, masuk ke nomor dua. Perempuan di belakangku protes. Kami ribut sebentar. Aku sempat marah dan menjelaskan kalau anakku sudah menunggu di rumah. Dia juga bilang hal yang sama. Tapi aku tak percaya. Dia memakai baju kantoran. Dia, dengan bersungut-sungut, akhirnya mengalah.”

“Apa hubungannya dengan tabrakan tadi pagi?”

“Perempuan yang ribut sama aku itulah yang mati.”

“Lalu apa hubungannya? Apa karena emosi kemudian kau ikuti dia lalu kau senggol motornya?”

“Kau tidak mengerti. Seandainya aku tidak menyerobot antrean, tentu dia tidak akan berada dalam tabrakan itu. Gara-gara serobotanku, waktunya jadi terbuang lima menit. LIMA MENIT! Jika lima menit itu tidak aku ambil, dia pasti sudah melewati jalan itu, tidak menyenggol motor pengendara lain, oleng dan jatuh ke truk itu. Jika lima menit itu tidak aku ambil, dia tidak akan mati. Kepalanya tidak akan berhamburan seperti semangka.”

Sepi. Yoyok tak memberi sanggahan.

“Kau memang mencuri lima menit waktunya. Tapi bukan kau yang membunuhnya.” Narto melirik. Dia kenali yang bicara. Jono, tukang parkir.

“Kalau tidak karena lima menit itu Jo, dia tidak akan mati.”

“Kalau cuma karena lima menit, dia memang tidak akan mati.”

“Maksudmu?”

“Aku juga mencuri waktunya, San. Jadi akulah yang membunuhnya.”

“Kau juga mengambil waktunya?”

Jono mengangguk. “Setelah kau bertengkar dengan dia seperti kau ceritakan tadi, dia tergesa-gesa ke parkiran. Tapi kutahan. Dia tak bisa menunjukkan bukti parkir. Katanya hilang, barangkali tersangkut di belanjaan. Aku tak percaya. STNK dia pun tak bawa. Kubawa dia di posko. Kami berdebat. Jalan tengah, aku minta dia ngasi nomor yang bisa kuhubungi untuk mengecek motor itu. Dia beri nomor kakaknya. Aku telepon, kakaknya bisa menyebutkan nomor motor itu, lengkap. Dia minta maaf, aku lepaskan dia. Mungkin SEPULUH MENIT aku mencuri waktunya. Itu lebih banyak dari kau, San. Jadi, aku yang lebih pantas menjadi pembunuhnya. Mungkin karena pertengkaran kami, dia jadi emosi dan tak stabil naik motor. Atau terlambat dan ngebut. Itu karena aku San, bukan kau.”

Hasan diam. Yoyok diam. Narto mendengarkan.

“Sebelum kau bercerita tadi San, tak pernah kupikirkan kalau akulah jadi sebab utama matinya perempuan itu.”

“Iya, kau benar, Jo. Kalau Hasan tadi tidak bercerita soal waktu, aku pun tak pernah tahu kalau aku juga telah jadi pembunuh.”

“Kauu…” Narto mendengar seruan Hasan dan Jono. Dia tersenyum. Pasti Hasan dan Jono tidak tahu kalau sejak tadi Espe sudah duduk di situ, mendengar percakapan mereka. Narto tahu, seruan kaget itu punya dua alasan. Pertama, Espe itu polisi, dan mereka berdua mengaku sebagai pembunuh di depan polisi. Kedua, sebagai polisi justru Espe juga mengaku telah menjadi pembunuh. Makin menarik saja, batin Narto.

“Iya, aku,” sahut Espe. “Aku juga bagian dari pembunuhan ini. Ibaratnya, kita seperti telah berencana membunuhnya. Pembunuhan terencana. Manimal 15 tahun, maksimal hukuman mati.”

“Kau juga mencuri waktunya?” tanya Jono dan Hasan bersamaan.

Espe mengangguk. “Aku menilangnya.”

“Dia menerobos lampu merah?”

Espe menggeleng.

“Ngebut? Tidak pake helm?”

Espe menggeleng. “Dia terlihat panik.”

“Kau menilang orang hanya karena dia terlihat panik?!”

Espe mengangguk. “Kau harus tahu pikiran polisi, San. Kalau kau lihat wajah seseorang panik, itu artinya ada kesempatan.”

“Kesempatan apa?”

“Sarapan.” Espe meminum kopinya. “Aku selalu menghentikan pengendara yang terlihat panik. Biasanya, wajah yang demikian pasti memberi rejeki.”

“Dia itu panik karena aku telah mencuri waktunya,” jelas Hasan.

“Aku juga mencurinya….” tambah Jono.

“Iya, aku tahu hal itu sekarang.” Espe mengangguk-angguk. “Waktu kuhentikan, dia terlihat langsung seperti akan menangis. Aku tertawa. Aku pasti bisa sarapan. Aku tak tahu dia mau menangis karena kalian telah menzaliminya terlebih dahulu.”

“Kau tilang dia?”

Espe mengangguk. “Dia tak bawa STNK.”

“Kau sarapan?”

Espe menggeleng. LIMA BELAS MENIT kutahan-tahan, dia tak mengeluarkan uang selembar pun. Ya kutilang, kutahan SIM-nya.” Espe berdiri, dia rogoh saku, dia lemparkan sesuatu ke Jono. “Namanya Cempaka. Dia tidak akan pernah mengambil lagi SIM itu ke pengadilan.  Ketika kubaca koran tadi pagi, aku masih tenang-tenang saja. Kalau tidak karena kau, San, tidak pernah kupikirkan akulah sesungguhnya yang membunuh Cempaka.”

“Bukan kau, Pe. Kita…” sahut Hasan.

“Ya, kita,” tambah Jono. “Kita ternyata telah mencuri TIGA PULUH MENIT waktunya. Bayangkan! Dengan tiga puluh menit itu, dia pasti telah tiba di kantornya. Dan jika pun kecelakaan itu terjadi, dia tidak akan berada di sana, bukan kepalanya yang berhamburan.”

“Tiga puluh menit yang kita curi itu telah mengubah garis takdirnya. Kau benar Pe, kita telah melakukan pembunuhan terencana. Kukira kita akan seumur hidup menanggungkannya.”

“Hanya karena susu anakku.”

“Hanya karena karcis parkir.”

“Karena aku ingin sarapan.”

“Seandainya tiga puluh menit itu tidak kalian curi…” Yoyok bersuara lagi.

“Seandainya tiga puluh menit itu tidak bisa kalian curi, dia tidak akan mati.” Tiba-tiba, entah dari mana, seorang lelaki telah duduk di bagian kanan warung. Narto tak pernah tahu kapan lelaki itu hadir di sana. “Kalian tidak akan bisa mencuri waktunya kalau tidak karena aku.”

“Kau?!”

“Pagi kemarin dia tidak akan ke kantornya,” lelaki itu menaikkan kakinya ke kursi, menghembuskan asap rokok. “Dia berjanji dengan seorang lelaki untuk bercinta. Telah tiga minggu mereka tidak bercinta. Keduanya ngebet. Waktu begitu pendek, mereka harus bisa memanfaatkannya.

“Kalian tahu, apa yang dia beli di minimarket itu?”

Hasan, Jono, Espe, juga Yoyok, menggeleng.

“Kondom,” kata lelaki itu. “Dua kotak, enam biji. Mereka ingin bercinta berkali-kali. Di kamar hotel, lelaki itu telah menunggu.”

“Lelaki itu kau?”

Lelaki itu mengangguk. “Aku yang memintanya untuk tidak bekerja. Aku yang memintanya membeli pengaman, aku yang memintanya meminjam motor kakaknya agar kami lebih cepat bertemu. Aku yang membuatnya terhubung dengan kalian. Aku yang membuat kalian dapat mencuri waktunya. Jadi, sejak janji untuk bercinta itu kami sepakati, akulah yang telah membunuhnya.”

“Ya, benar, kaulah yang membunuhnya,” tuding Hasan. “Kalau tidak membeli kondom, dia tak akan bertemu denganku.”

“Iya, kalau tidak karena meminjam motor kakaknya, aku pun tak harus meminta karcis parkirnya.”

“Aku pun tidak harus menilangnya.”

Lelaki itu tertawa. “Kalian benar. Aku memang yang membunuh Cempaka. Sekarang kalian pulanglah. Jangan pikirkan soal ini lagi. Pulanglah…”

Narto bengong. Dia lihat Hasan, Jono, Espe, Yoyok, langsung berdiri, dan pulang. Menuruti perintah lelaki itu. Patuh. Narto sungguh tak menyangka. Dengan heran, dia dekati lelaki itu, dia ambil SIM yang ditinggalkan Espe. “Kau terlalu muda untuk jadi kekasih perempuan ini…” katanya.

Lelaki itu mengangguk. “Aku memang bukan kekasihnya.”

“Jadi, kau menipu mereka?”

Lelaki itu mengangguk lagi.

“Mengapa?”

“Aku tak ingin mereka menjadi pembunuh. Aku hanya ingin mereka tahu, sekecil apa pun, kita pasti selalu terhubung dengan kematian seseorang. Tapi itu tak membuat kita jadi pembunuh.”

“Sebenarnya, kau siapa?”

Lelaki itu tersenyum. “Akulah penulis cerita ini.”

Anak Raja Berjiwa Tentara

March 23, 2009

 

SEUSAI sidang Dewan Siasat Militer yang dihadiri Soedirman, Gatot Subroto, dan Sungkono, di tahun 1948, Bung Karno memanggil Djatikusomo. Di ruangannya, wajah Bung Karno tampak keruh.

“Lain kali, kalau rapat dewan Siasat Militer, jangan ajak Gatot Subroto,” perintah Bung Karno.

“Kenapa?” tanya Djatikusumo.

“Aku ndak mengerti jalan pikirannya.”

Djatikusumo tersenyum.

Dalam jajaran petinggi militer saat itu, Djatikusumo memang punya posisi penting. Dia acap diminta menghadiri rapat-rapat penting oleh Jenderal Soedirman. Alasan Soedirman sepele: hanya dengan mengikutsertakan Djatikusumo, dia dan beberapa jenderal lain dapat memahami pikiran Bung Karno, Syahrir, Hatta, dan anggota kabinet lain.

“Saya akui, Bung Karno, Hatta, dan Syahrir itu memang orang hebat. Pikiran-pikirannya cemerlang. Para jenderal semacam Soedirman yang hanya guru, Gatot Subroto dan Sungkono yang hanya tamat sekolah dasar, sering sulit memahami pikiran mereka. Saya jembatan bagi mereka untuk memahami jalan pikiran tokoh-tokoh hebat itu,” aku Djatikusumo, sebagaimana dikutip Tempo.

Dalam rapat Dewan Siasat Militer itu juga, para petinggi negara yakin, Belanda akan menyerang Indonesia. Bung Karno menghendaki, militer membentuk wadah angkatan. Dan karena dianggap sebagai tokoh yang paling tepat, Bung Karno menunjuk Djatikusumo menjadi Kepala Staf Angkaran Darat RI, untuk pertama kali (1 Maret 1948-1 Mei 1950).

 
Perang adalah Guru Terbaik

Djatikusumo  lahir 1 Juli 1917, atau tepat hari ke-11 Ramadan, di kedaton Surakarta. Ayahnya adalah Susuhunan Paku Buwono X. Ibunya bernama Kirono Rukmi, garwa ampeyan Sri Susuhunan, bukan permaisuri. Karena itu, berdasarkan asal ibunya yang dari desa Kajoran, di selatan Klaten, Djatikusumo lebih merasa sebagai orang desa.

“Lingkungan kraton dan desa, kelak membentuk watak saya menjadi bangsawan sekaligus rakyat,” akunya, di Mei 1991.

Sejak kecil, ayahnya sudah menanamkan jiwa nasionalis, dengan menceritakan penjarahan Belanda. Tapi, dengan alasan untuk lebih memahami watak Belanda, biar lebih mudah mengalahkannya, Subandono –nama kecil Djatikusumo– justru disekolahkan  di Eurepesche Lagere School di Solo, 1924.

Selepas ELS 1931, Djatikusumo dikirim ke HBS di Bandung, dan dititipkan pada keluarga Belanda. Ia “menumpang” selama 8 tahun.

“Kelak, pemahaman saya pada watak, tingkah laku dan pola pikir Belanda, amat mendukung karier Militer dan perjuangan saya saat menghadapi Belanda.”

Karena tak ingin mengangkat sumpah setia pada Sri Ratu dan Konstitusi Belanda, Djatikusumo menolak masuk Akademi Militer Breda di Belanda. Dia malah memilih Institut Technologie Delf di Nederland, 1936.

Tahun 1940, saat pecah Perang Dunia II, dia pulang, dan melanjutkan studi ke ITB.

1941, karena percaya pada Jangka Jayabaya, Djati memutuskan masuk milisi Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) di Bandung. Pangkat kopral ia sandang.

Ternyata ramalan Jayabaya benar, Jepang masuk, Belanda kalah. Dan karier militer Djatikusumo dimulai. Dia masuk PETA. 8 bulan di PETA, tugas berat datang, bernegosiasi dan meminta Jepang menyerah, di Semarang.

“Saat berunding, pikiran saya hanya satu, bagaimana bisa keluar dari markas Jepang dengan selamat,” akunya pada Tempo.

Karena prestasinya, Jenderal Oerip Soemahardjo memintanya menjadi kepala divisi di Salatiga. 1946, ia menjadi Kepala Divisi Ronggolawe untuk wilayah Pati, Bojonegoro dan Muncung. Tapi, selama masa ini, hutan jadi wilayah Mantingan justru tempat yang paling berkesan bagi Djati. Di tengah hutan jati itu, dalam suasana perang, ia menikahi Raden Ayu Suharsi, wanita yang kelak memberinya tiga anak.

Agresi Belanda yang pertama pecah. Djatikusumo diminta menguasai Gresik-Lamongan. Tapi, para prajurit yang ia pimpin justru kecut, dan hampir mogok perang. Djatikusumo meradang.

“Mencari musuh itu malah susah. Sekarang, ketika musuh ada di depan mata, kalian malah kecut. Gugur dalam perang adalah hal yang biasa. Guru terbaik bagi prajurit adalah perang itu sendiri. Maju!”

Karena prestasinya, Soedirman menariknya ke Yogya. Dan di sinilah, Djatikusumo mulai berkenalan dengan petinggi negara, Hatta dan Soekarno, sampai ia diminta menjadi KSAD.

Tahun 1950, saat RI menjadi RIS, Djatikusumo adalah saksi hidup kekacauan sistem pemerintahan itu. Sistem federal ternyata tak jalan, dan Bung Karno lebih berkuasa daripada perdana menteri. Bahkan, banyak politisi yang tak tahu harus melakukan apa, termasuk membentuk kabinet. Pada saat itulah, Bung Karno mengeluarkan Surat Keputusan: “Presiden Republik Indonesia Sukarno, dengan ini menunjuk warga negara Indonesia Sukarno untuk membentuk kabinet.”

Atas kekacauan konstitusi itulah, Djatikusumo berinisiatif mengumpulkan para petinggi militer, dan mengusulkan kemungkinan Indonesia kembali memakai UUD 1945.

Kekacauan inilah yang membuat meriam dan tank akhirnya mengarah ke Istana, dan TNI mendesak Bung Karno untuk kembali ke UUD 1945. Tapi, para politisi menolak. Akhirnya, Bung karno mengambil tindakan, memecat AH Nasution dan Gatot Subroto sebagai KSAD dan wakil KSAD, dan melemparkan Jenderal Mokoginta, perancang utama Peristiwa 17 Oktober 1950 itu, ke Amerika, bersekolah ke Port Levenberg.

Djatikusumo sendiri terkena imbasnya, dan dicopot dari jabatannnya sebagai Kepala Biro Perancang Operasi TNI, dan ditugaskan sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat. Ia kemudian dipindah lagi menjadi Direktur Zeni AD, dan ikut aktif menyelesaikan masalah pemberontakan PRRI/Permesta. Sebagai Direktur Zeni inilah, Djati kembali memiliki pasukan, yang salah seorang diantaranya Try Sutrisno, yang sepanjang pengamatannya, tak punya kapasitas istimewa.

Djati kemudian menjadi Dubes di Malaysia. Sayang, hanya 100 hari ia di sana. Konfrontasi Indonesia-Malaysia, membuat karier politiknya nyaris tamat. Terakhir, ia menjadi Dubes Luar Biasa untuk Maroko. Dan di saat jauh dari pusat kekuasaan inilah, dia tak menyaksikan, kejatuhan Bung Karno, orang yang amat ia kagumi.

Semasa Soeharto, ia diangkat menjadi anggota DPA, juga merangkap anggota Tim-BP7. Di masa tua, ia pun mulai berbisnis, merambah bidang yang luas, dari telekomunikasi, perkayuan, sampai konstruktor.

“Ini karena pensiun saya sebagai jenderal, tak cukup untuk hidup,” katanya, sambil menjelaskan uang pensiunnya yang hanya Rp 300 ribu perbulan, di tahun 1991.

Sabtu, 5 Juli 1992, saksi sejarah, dan KSAD RI pertama ini meninggal dunia, di tengah 5 orang cucunya. 

Si Doel dan WC Kita

March 20, 2009

Di dalam tiap keramaian, tempik-sorak, tawa-bahak, selalu ada suara sepi. Dan itulah yang kita saksikan dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang kini tayang ulang di RCTI, setiap pagi. Ada suara Mandra, Atun, dan Mas Karyo, yang selalu ingar. Atau deram Babe yang seakan marah, juga desis Mak Nyak yang tergambar sabar. Tapi, lebih dari semua itu, ada si Doel, pemilik porsi terbesar, yang sunyi.

Kalau bicara, Doel bersuara dengan nada ngambang, mirip gumam. Matanya tak pernah berdiam pada objek, mengalih, lebih sering menerawang. Sinar wajahnya kusam, dengan kening yang selalu berhias kerutan. Bahkan cinta Sarah pun, dia rasakan sebagai beban.

Ia wakil dari suara yang, seakan, kehilangan gairah.

Sinetron itu memang dipenuhi “caci-maki” khas Betawi, pertengkaran segitiga Mandra-Atun-Karyo pun menjadi warna utama. Tapi makna sinema itu justru hadir dalam gelisah senyap Doel. Meminjam kosa kata pantun; pertengkaran adalah sampiran, kesunyian menjadi isi. Meski isi itu, dalam beberapa hal, terlihat anomali.

Doel, tokoh kita itu, memang tak mematok tujuan. Ia bergerak dari saat ke saat, setindak-tindak, laku dalam proses. Dia seperti laku yang diminati kaum “nihilis-aktif”, bergerak tanpa patokan, kreativitas yang lahir dalam suasana.

Tapi, di situlah anomali terjadi. Ketakterpatokan itu terasa dalam gairah yang tidak kentara, atau mungkin tak ada. Berbeda dari kaum nietzschean yang bergerak dalam gairah, menerima nasib dengan rasa cinta, “kusayangi apa yang terberi”, atau menjadi “gila”, Doel justru menepi, merenung, seakan pasti menyerah. Ia lebih seperti ketenangan air danau, yang menutupi gerak arus di bawahnya.

Doel memang tak menampik apa pun yang diberi hidup, tapi keberterimaan itu tidak dengan cinta. Ia menerima dalam keadaan yang seakan, “Apa boleh buat…” Dalam hal ini, dia lebih seperti yang dikatakan Camus dalam Mite Sisifus, “Selalu tiba saatnya kita harus memilih antara renungan dan tindakan. Begitulah hakikatnya menjadi manusia. Kepedihan-kepedihan itu mengerikan. Namun untuk hati yg memiliki kebanggaan, di situ tidak mungkin ada pilihan tengah. Ada tuhan atau waktu, salib atau pedang. Dunia ini mempunyai arti yang lebih tinggi yang melampaui segala hiruk pikuknya atau tidak ada suatu pun yang benar selain hiruk pikuk itu.”

Tapi, suara Doel, getar yang kehilangan gairah, atau ajakan Camus untuk merenung, mendapatkan arti yang melampaui kehirukpikukan itu, kini tak kita temukan lagi. Yang kita dengar saat ini dan lusa adalah “tidak ada suatu pun yang benar selain hiruk-pikuk itu.”

Fitri dan Farel contohnya. Dua tokoh utama dalam sinetron Cinta Fitri itu tak pernah sekalipun “jatuh” menjadi Doel, senyap dalam permenungan, diam yang “apa boleh buat”. Fitri dan Farel, dan juga semua tokoh dalam cerita itu, larut dalam keingaran yang tanpa ujung, untuk mendapatkan sesuatu yang mereka jadikan tujuan. Seluruh kisah bermuara menjadi perlawanan pada “nasib”, dengan mengatakan “Tidak!”

Doel mengatakan “Ya”, afirmatif, meski tidak dengan cinta, dan itu membuat dia tahu potensi dirinya di depan nasib, “Aku ingin….” Berbeda dari Farel dan semua tokoh di Cinta Fitri, yang menidakkan nasib, sehingga tak mampu melihat diri dalam relasi dengan dunia, sehingga berkata, “Kalian harus!”

Energi “Kalian harus!” itulah juga yang mendasari keseluruhan sinetron di televisi saat ini. Karena itu, meski cerita bising oleh kebencian, warna dendam, dan alur ketakmasukakalan, sinema itu tetap saja jalan. Ketakberterimaan pada “nasib” itu juga yang membuat cerita sinetron kini terasa jauh, bukan menjadi bagian dari kisah kita. Sinema itu tak mampu memupus keberjarakan seperti yang pernah dilakukan Kisah Serumpun Bambu, Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara, atau Jendela Rumah Kita.

“Beberapa waktu lalu saya ke Bandung. Kemudian ada seorang bertanya kepada saya. ‘Bang, apakah anak-anak sekolah di Jakarta seperti di film atau sinetron, ya?’ Saya jadi sedih, kita harus punya tanggung jawab atas tontonan yang kita tampilkan,” harap Rano Karno.

Tanggung jawab itu sebenarnya sudah lama diambil alih kesepian dan permenungan, yang kini menjadi “si entah” dalam televisi kita. Yang kalau pun datang, “si entah” itu hadir tak dalam kesebandingan. Sepi itu muncul sebagai ulangan, bukan dauran. Dan di dalam ulangan, tak ada lagi proses, tak terjadi perubahan, Si Doel tak seperti Si Unyil yang bermetamorfosa. Si Doel lebih seperti Oshin yang juga tayang lagi di TVRI, hadir sebagai kenangan, untuk ingatan suatu masa, untuk ikatan sebuah massa. Massa yang bukan menjadi bagian dari penonton teve kini.

Dengan kata lain, meski yang sunyi itu tetap hadir, sebenarnya dia ditampik. Yang diterima adalah kebingaran yang telah menjadi “kebenaran”. Kebenaran, yang cuma sampiran itu,   dibobotkan ke dalam selera penonton, rating, dan iklan. Kebenaran yang seakan berkata, “Tak ada lagi tempat untuk kesepian dan renungan.”

Barangkali, tempat untuk itu masih ada, di WC kita. Sayangnya, tak pernah ada yang betah berlama di sana.

 

[Dalam versi yang lebih pendek dan berbeda, telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 21 Maret 2009]

SMS, Rahasia yang tak Terjaga

March 18, 2009

Sepanjang hidup, cukupkah kita dijaga oleh satu cinta? Aku pasti menjawab ‘Cukup!’ Atau, dicukup-cukupkan. Aku juga percaya, meski usiaku masih jauh dari pengenalan cinta, pendapatku itu pasti disetujui banyak orang. Satu cinta adalah tanda setia. Satu cinta adalah tanda penyerahan diri yang utuh pada seseorang, tanpa rahasia. Semuanya. Semua-muanya. Dan aku percaya, Papa pun telah lama mencukupkan dirinya dengan hanya satu cinta dari Mama.

Tapi ternyata Mama tidak.

Aku menemukan rahasia itu tak sengaja. Dari sebuah SMS.

Sebuah SMS dari satu telepon. Sebuah telepon yang menyimpan satu SMS yang sempat kubaca, dan ratusan SMS lain yang belum sempat kubuka.

Tapi satu SMS itu pun sudah cukup membuatku menjerit: Mama telah tak setia.

Dan semua adalah salahku.

Sore itu, aku berjanji bertemu dengan Papa di sebuah mal. Karena Papa pulang agak telat, aku diminta menunggu di suatu tempat. Sebelum berangkat, aku kirim SMS ke Papa. Tapi gagal. Kucek, pulsaku ternyata telah karam. Takut Papa teraniaya, aku pun meminjam ponsel Mama. “Di meja kerja,” teriak Mama, yang tengah mandi.

Aku segera menemukan ponsel Mama. Segera kuketikkan nama sebuah kafe, dan kukirim ke Papa. Tapi, pada saat itulah, aku mendengar suara SMS masuk. Bukan. Bukan ke ponsel yang aku pegang. Tanda SMS itu keluar dari ponsel yang lain, yang aku tak tahu di mana.

Barangkali, seharusnya aku abai pada suara itu. Dan bergegas keluar dari ruang kerja. Tapi aku justru segera mencari, dan menemukan asal suara itu: dari tas Mama. Aku juga tak meminta izin Mama untuk membuka tasnya. Padahal, dari kecil, tak pernah kami berani membuka milik pribadi siapa pun di rumah ini, tanpa diizinkan. Aku tak tahu, mengapa tiba-tiba saja menarikkan resluiting tas itu. Barangkali aku kaget, ternyata Mama punya lebih dari satu ponsel. Mungkin aku telah curiga.

Tuhan, betapa jahatnya aku. Kepada Mama pun aku curiga.

Tapi kecurigaan itu ada hasilnya. Di tas itu, ada ponsel. Refleks, aku buka SMS itu. Dari “Masku”. Mama punya Mas? Siapa? Bukankah Mama anak tertua? Kupencet, dan pesan itu terbuka: “Dik, nanti pake lingerie yang merah transparan itu, ya?”

Deg!

Dadaku seperti dipukul puluhan palu. Sesak sekali. Tanganku gemetar. Ponsel itu nyaris terlepas dari genggamanku. Mama, Mama… punya seseorang yang memanggilnya “Dik”? Seseorang yang memintanya memakai lingerie? Ya Tuhan….

Airmataku tiba-tiba telah menggenang. Dan dalam mata kaburku, kulihat puluhan SMS lain, hanya dari satu pengirim “Masku”. Mama telah lama berhubungan dengan lelaki itu. Mama telah lama menyimpan rahasia itu. Mama telah lama telah tak setia. Mama telah lama telah mengkhianati Papa.

Dadaku kian sakit, airmataku makin berloncatan.

Kuhapus SMS yang kubuka tadi, kukembalikan ponsel itu ke tempatnya semula. Segera kuhapus airmata, ketika kudengar teriakan Mama, “Ila…, ayo berangkat, jangan membuat Papamu menunggu. Kasihan…”

Kasihan? Mama yang tidak kasihan dengan Papa. Mama! Bukan aku.

Segera aku bergegas. Kuhampiri Mama tanpa menatap wajahnya. Aku takut, Mama dapat melihat airmataku, dan curiga. Aku tak ingin Mama tahu kalau aku telah menemukan rahasianya. Kucium tangannya tanpa suara. Aku tak ingin Mama mendengar isak di antara pamitku. Setengah berlari, selepas pintu, tangisku pecah lagi.

Di sepanjang jalan, dalam angkot, kukuatkan hati. Aku tak boleh menunjukkan wajah sedih. Aku tak boleh membuat Papa bertanya, “Ila, ada apa?” Aku harus tabah. Aku harus membiarkan rahasia itu tersimpan dulu. Aku harus mencari tahu, siapa lelaki itu. Siapa lelaki yang telah membuat Mama tega mengkhianati Papa. Aku harus membuat Mama kembali ke Papa, tanpa Papa harus tahu tentang kesalahan Mama. Aku tak ingin keluarga ini berantakan. Ya, aku harus gembira. Harus. Papa tak boleh melihat apa pun di wajahku.

Tapi niat itu tak terlaksana. Begitu melihat Papa berdiri, aku telah lupa diri. Seperti terbang, aku berlari, memeluknya, dan… menangis. Entah kenapa, melihat Papa, tiba-tiba dadaku sakit sekali. Aku merasa tak pantas Papa dikhianati. Sangat tak pantas.

“Ila, Ila, ada apa? Ehh, ehh, kok menangis begitu. Hey, Ila… Lho?” Suara Papa yang bingung memasuki telingaku.

Mungkin 10 menit aku tergugu di dada Papa. Kunikmati belaiannya di kepalaku. Lalu, ketika sesak di dadaku sedikit berkurang, kulepaskan tanganku dari pinggangnya. Kemeja Papa basah. Kulihat Papa merogoh sakunya, dan menyodorkan saputangan. “Tuh, lap dulu ingus kamu. Sudah gadis kok masih suka nangis.”

Selalu Dibuang Tangan Kekuasaan

March 9, 2009

PERISTIWA 17 Oktober 1952, tentang serangkaian aksi angkatan darat yang mengarahkan meriam ke Istana, sampai saat ini masih menjadi misteri. Tapi satu yang nyata dari peristiwa itu adalah tersiarnya isu kudeta oleh Kolonel Abdul Haris Nasution, yang membuat ia dipecat sebagai Kasad, dan dimahkamahmiliterkan. Padahal, Nasution hanya korban dari intrik “sandiwara” politik itu.

“Saya kemudian dipecat, November 1952, semasa kabinet Wilopo. Secara institusional, sayalah yang bertanggung jawab atas peristiwa itu,” akunya pada Tempo, 12 tahun sebelum kematiannya.

Sebelum peristiwa itu, sebelumnya Angkatan darat telah mengirim petisi kepada Presiden untuk membubarkan parlemen, yang kekuasaannya amat besar, sehingga turut campur dalam urusan internal kemiliteran. Petisi itu disusun di kamar kerja Nasution, dan karena semua kepala divisi menandatangani, Nasution pun ikut.

Kemudian, “sandiwara” 17 Oktober pun dimulai.

Malam sebelum tanggal itu, Nasution mengirim Kolonel Mustopo kepada presiden Sukarno. Dia melaporkan bahwa pada esok harinya, akan ada demonstasi Angkatan Darat ke Istana, dengan tujuan presurre, memakai tank, panser, supaya presiden mau membubarkan parlemen. Ini hanya semacam “permainan” politik. Karena itu, pengiriman Moestopo diharapkan Nasution supaya Presiden tak kaget. Hasil pertemuan dengan Presiden pun kemudian dilaporkan Moestopo pada Nasution.

Tapi sandiwara itu tak sepenuhnya berhasil.

Tanpa perintah Nasution, pasukan mengarahkan meriam ke Istana. Nasution kaget. Tapi, ketika dia tahu kepala pasukan Jakarta adalah Kemal Idris, yang tak menyukai Sukarno, dia bisa mengerti.

Nasution kemudian menghadap Sukarno, yang telah didampingi Hatta, Sri Sultan, dan Wilopo, serta TB Simatupang. Presiden tampak santai, bahkan acap tersenyum, meskipun Simbolon, terutama Kawilarang, memberikan pernyataan yang keras atas “politik” yang dimainkan parlemen.

Dan Bung Karno tetap tak mau membubarkan parlemen, atas nama Undang-Undang Dasar.

“Sandiwara” ini baru meminta korban beberapa hari kemudian, saat Kolonel Zulkifli Lubis, Kepala Biro Informasi Angkatan Perang di Hankam, membuat laporan, “Waktu menghadap Presiden, Kasad Nasution menuntut supaya negara dinyatakan dalam keadaan bahaya.” Laporan itu kemudian melanjutkan, Presiden menjawab, “Baiklah, kalau saya yang memegang kekuasaan, saya akan pecat kamu.”

Padahal, dalam pertemuan itu, Zulkifli tidak hadir. Nasution menduga, laporan itu bagian dari permainan Bung Karno. Laporan itu dikirim ke daerah-daerah, dan militer bersepakat, Nasution berencana kudeta! Mahkamah militer pun digelar.
Nasution pun dipecat, dan posisinya sebagai Kasad diserahkan pada Mayor Jenderal Bambang Sugeng.

Guru yang menjadi Prajurit

Sewaktu kecil, kakek Nasution mengharapkan dia menjadi seorang pendekar silat, meneruskan jejaknya. Tapi, Ayahnya, justru selalu mengharapkannya jadi kiai. Dari ibunya, dia selalu diobsesikan menjadi dokter. Nasution bingung, apalagi ketiga orang yang amat dia sayangi itu, selalu bersikeras dengan keinginannya. Nasution sendiri, lebih bersetuju dengan keinginan ibunya.

Umur 7 tahun, Nasution masuk HIS, dan sorenya, harus masuk maktab, semacam pesantren, belajar agama. Guru yang amat keras di pesantren itu adalah ayah Nasution sendiri.

Kampung Nasution, Kotanopan, Tapanuli, Sumatera Timur, adalah basis pergerakan Syarikat Islam. Ayahnya, terutama pamannya, Syeikh Musthafa, adalah pendiri Pesantren Purba, pesantren tertua di Sumatera Timur, yang saat itu menjadi basis pergerakan melawan Belanda. Lingkup pergaulan inilah yang membuat Nasution kental dengan semangat nasionalisme.

Tapi, yang mempengaruhi jiwa Nasution adalah Kemal Attaturk. Saat itu, di Kotanopan, pemimpin Turki ini menjadi semacam ikon perlawanan.

Selepas HIS, dia masuk sekolah guru. “Posisi menjadi guru saat itu amat dihormati. Kelak, saat gerilya semasa Agresi Belanda di Jawa, saya juga tahu, posisi guru pun sangat dihormati,” kenangnya.

Sekolah guru saat itu hanya ada di Bukittinggi. Dan di sanalah Nasution sekolah, sekaligus “berkenalan” dengan Bung Karno, melalui serangkuman pujian dari tokoh pergerakan saat itu.

“Bung Karno amat dipuja di Bukittinggi, foto-fotonya dicetak dengan posisi sedang berpikir keras, dengan pena yang selalu terselip di saku bajunya,” jelasnya.

Tiga tahun di Bukittinggi, dia melanjutkan ke Bandung. Lulus, dia melamar jadi guru partekelir di Muara Dua, Bengkulu, yang membuatnya secara fisik berkenalan dengan Bung Karno, yang sedang diasingkan.

1938, Nasution diterima sekolah cadangan perwira di Bandung. Teman seangkatannya adalah Kawilarang dan Simatupang, yang juga lulus dengan prestasi tertinggi, dan diperbolehkan masuk Akademi Militer di Bandung.

11 November 1945, setelah pertempuran Surabaya, seluruh perwira militer dikumpulkan di Yogyakarta oleh Kepala staf Umum TKR. Pada saat itu disetujui untuk mengangkat panglima besar. Ada beberapa calon, yang paling populer adalah Urip Soemahardjo dan Kolonel Soedirman. Akhirnya, Kolonel Soedirman terpilih, dan tentara pecah dua, karena Urip tak menerima kekalahannya.

Pulang dari Yogya, Nasution menjadi Panglima Divisi III TKR seluruh Priangan ditambah Sukabumi dan Cianjur.

Maret 1946, karena belum memiliki pertahanan yang baik untuk melawan sekutu, laskar dan tentara di Bandung tak sudi menyerahkan Bandung, dan memilih membakar, menjadikan “Bandung Lautan Api”.

“Saya selalu terharu mengenang peristiwa itu. Lasjkar membakari sendiri barak-baraknya, rakyat membakari rumah-rumahnya, semua ikhlas, daripada jatuh ke tangan sekutu,” ucapnya dengan nada pelan.

Mei 1946, Nasution diangkat jadi Panglima Divisi I, wilayah Bandung.

Januari 1948, dalam rangka melawan Agresi Belanda, Nasution Hijrah ke Jawa Tengah. Februari ia diangkat jadi Wakil Panglima Besar Soedirman, yang saat itu mulai sakit-sakitan. Di sinilah ia menerapkan konsep membuat kantung-kantung gerilya, yang menjadi acuan semua panglima divisi, atas perintah Soedirman.

Setelah itu karier Nasution melonjak terus, sampai ia menduduki posisi Kasad saat peristiwa 17 Oktober itu terjadi.
Setelah pemberontakan PKI gagal, Supersemar keluar, dan Suharto berkuasa, status kemiliteran Nasution dipulihkan. Ia kemudian masuk wilayah politik, menjadi Ketua MPRS yang mencabut mandat Bung Karno, dan mengangkat Suharto sebagai Pejabat Presiden.

Tapi, kelak, ia juga yang menjadi “musuh” utama Suharto dengan menjadi anggota Petisi 50, dan “kebebasannya” pun dirampas. Sejarah kemudian mencatat, dalam hidupnya, Nasution memang tak pernah duduk mesra dengan pemegang kekuasaan, sampai Yang Maha Hidup memanggilnya, Mei 2001.

Citra & Moralitas Budak

March 9, 2009

SIAPAKAH aku? Siapakah engkau? Benarkah diriku dan dirimu itu ada, maujud, nyata?

Barangkali, telah lama kita tak bertanya, dan jika pun bertanya, kita tak tahu jawabannya.

Tapi tidak bagi Fariz Rustam Munaf. Penyanyi era 80-an itu justru telah sampai pada kesimpulan, “Saya bukan Fariz RM. Fariz RM itu fiktif!”

Seperti tanpa beban ketika pernyataan negasi itu terbir dari bibirnya. Dengan santai, dia meyakinkan bahwa dirinya yang acap kita lihat bernyanyi itu bukanlah dirinya.

Lho, lalu siapa?

“Fariz RM itu adalah tokoh rekayasa yang saya buat untuk kepentingan industri.”

Fariz RM adalah fiksi, sosok tak nyata, yang hadir sebagai teman fantasi bagi penggemar dan penonton semata.

“Fariz itu tidak suka pop, tapi dia harus main pop, main ini, main itu. Sementara Fariz sendiri senangnya Led Zepelin, Pink Floyd, Beatles, Jimmy Hendrik, blues,” jelasnya.

Mengejutkan. Mengejutkan karena Fariz baru menyadarinya sekarang. Karena sesungguhnya, apa yang terjadi dengan dirinya, adalah hal yang biasa di dunia industri pencitraan. Film America’s Sweethearts, misalnya, dengan bening telah lama menunjukkan hal itu. Pencitraan, panggung, dan mata publik, selalu mengubah seseorang, meski sang objek terkadang tak menyadari.

Di atas panggung, di mata penggemar, apa boleh buat, diri asali harus undur diri.

Yang tampil adalah sosok “sempurna” sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan, searah dengan harizon pengharapan publik.

Tapi, pencitraan itu tak sepenuhnya dalam kendali. Terkadang, tekanan dan sorotan mata publik, justru meniadakan diri yang asli. Di ruang yang paling pribadi pun, sosok citraan itu tak bisa diselehkan, ditanggalkan lagi. Diri yang asali, bukan saja mengecil, bahkan menghilang. Karena itulah, kata rekayasa tak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan situasi ini. Rekayasa mengisyaratkan kesadaran, ketaatan pada sebuah prosedur, tindak yang diarahkan. Padahal, dalam prosesnya, bukan rekayasa itu yang bekerja melainkan si citra. “Metamorfosa” diri itu sang aktris akhirnya bekerja secara alamiah, menihilkan kesadaran, bergerak tanpa kendat, juga kendali, ke arah horizon pengharapan penggemar atau penonton. Horizon pengharapan itulah yang memiliki energi, menggulung diri asali.

Sayang, Fariz tak menyadari hal itu, dan dengan keyakinan yang sama, mengatakan, “Selama ini, masyarakat telah terkecoh….”

Padahal, untuk kasus Fariz, masyarakat tak pernah terkibuli. Sosok Fariz RM selama ini adalah “pribadi” yang memang diinginkan –dan juga diciptakan– masyarakat.

Keterkecohan masyarakat, barangkali, terjadi hanya dalam kasus Aris di “Indonesian Idol”.

Ketika memasuki panggung itu, Aris dicitrakan sebagai calon idola. Bukan saja cara berpakaian, teknik bicara dan pola tatapan pun telah diubah. Maka, selama pemanggungan itu, pencitraan yang ditembakkan –inilah fase rekayasa itu– berhasil masuk ke publik. Masyarakat terpesona, menerima, dan menambah kualitas pencitraan itu ke dalam horizon pengharapan mereka. Maka, ketika Aris berjanji, “Saya tidak akan berubah…” semua terkesima, dan memilihnya untuk menjadi juara.

Dan Aris memenuhi janjinya.

Dia tidak berubah.

Dia tidak masuk ke dalam rekayasa citra, dan juga horizon pengharapan pemirsa. Aris tetap menjadi dirinya, yang liar, kasar, dan keras kepala. Ia kembali menjadi pria yang dulu memaknai hidup dengan mencari receh dari satu gerbong kereta ke stasiun lainnya. Dan ketika recehan itu bernilai juta, watak kasar, liar, dan keras kepala pun kian mengemuka. Dia gunakan uangnya untuk membalas dendam atas kemiskinannya; rumah kecil dan istri yang sederhana, tak lagi cukup baginya. Uang, mata publik, popularitas, ternyata tak dapat membeli kepribadiannya, tak mampu menghilangkan watak asalinya.

Di sisi inilah masyarakat yang terkecoh, terkibuli, karena Aris yang mereka beli –dan mereka ciptakan di dalam angan– tak mewujud dalam kenyataan.

Dalam kasus Fariz, dirinyalah yang tertipu, karena tak mampu terus bertahan dalam “nilai diri” dan meletakkan wajah ke dalam cermin publik.

Fariz, dalam bahasa Nietzsche, telah jatuh ke dalam moralitas kawanan, nilai budak.

Dalam bahasa Pramudya Ananta Toer, Fariz tak beda dengan ternak.

Tapi Fariz bukan ternak yang tak berpikir. Dia kemudian menyadari diri yang telah tertipu, dan memutus tali angonan publik. Fariz mulai mengenali dirinya yang asali, dan menguatkan keasalian itu untuk mengerdilkan yang ilusi, yang fantasi.

Untuk semua itu, Fariz harus berterimakasih pada terali besi. Di penjaralah, di luar mata publik, diri asali itu menguar lagi, dan memegang kendali. Di bui-lah, setelah bisa khatam mengaji, Fariz bertemu diri.

“Dan siapa yang mengenal dirinya, pasti juga mengenal Tuhannya.” Fariz kini tengah menuju ke sana.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 10 Maret 2009]