Catatan 2008

December 26, 2008

Apa yang bisa dicatat dari 2008, barangkali tentang kadar kepedihan. Inilah “tahun duka cita”, kata Mama Laurent dalam terawangannya di awal tahun; 3 orang pejabat tinggi, dengan banyak jasa dan pengikut, akan berpulang dalam sakit akut; beberapa selebrita akan celaka, dimakan karma dan juga narkoba; tragedi akan kian terawat dalam bencana alam dan juga kecelakaan pesawat.

“Saya melihat banyak kesedihan,” katanya, dalam sebuah acara infotainmen.

Soeharto, Ali Sadikin, Sophan Sophiaan, Ali Alatas. Marcella dan Sheila. Longsor, banjir, AdamAir dan Garuda. Mama Laurent akan terlihat digdaya jika kita membabi buta membaca ramalannya. Padahal, dengan logika sederhana, –tanpa semedi, kartu tarot, atau bantala Betal Jemur Adam Makna dan juga memutar bola kristal — cara kita meramal Indonesia saat itu pasti akan sama: negara dengan sejuta kemalangan.

Kemalangan paling nyata itu kita saksikan di televisi. Sehari-hari.

Dalam lingkup paling kecil, kepedihan itu hadir dalam berita selebriti.

2008 ini, tak kurang telah terjadi 16 perceraian, dari Yulia Rahman, Halimah, Willy Dojan, Ariel, Amanda, Yuni Shara, Dewi Lestari, Moudy, Maya Dhani, Tora, Rizky, Pasha, Edo, sampai Hanung dan Andhara Early. Barangkali, sejak infotainmen merajai “jenis” pemberitaan di negeri ini, 2008 akan tercatat sebagai tahun perceraian tertinggi. Bukan saja dari segi jumlah, melainkan peliknya masalah. 2008 juga akan dicatat sebagai tahun “keterbukaan”, ketika Dhani begitu enteng berkisah, Okie Pasha gampang berkesah, sampai Ratna Damayanti yang ringan mengungkap sakit kelamin Rizky.

Aib tiba-tiba menjadi senjata.

Aib, entah bagaimana, bermetamorfosa dari kesalahan menjadi semacam rasa bangga.

Barangkali karena, “Kita selalu haus akan drama,” kata Dewi Lestari.

Kebutuhan akan drama membuat aib menjadi tema sebuah cerita, dan kisah cinta dipandang dengan sepenuh curiga. Kalau pun ada pelangi bahagia, warna itu dipercayai cuma hadir di permukaan saja. Itulah sebabnya, dalam senyum-tawa pernikahan Bunga Citra Lestari dan Ashraf Sinclair pun, infotainmen melaporkan konflik dua keluarga dan ketaksesuaian biaya. Bahkan “patahnya” hak sepatu Bunga, ditarik-ulur menjadi sebuah cerita, membentuk narasi akan sebuah pertanda tentang pernikahan yang sudah terbaca, tak akan langgeng selamanya.

Dalam perceraian “bahagia” Dewi Lestari-Marcell, terbubuhi cerita bahwa keduanya telah saling memilihkan pengganti. Perceraian itu tak menyakitkan lagi. Perceraian itu adalah kompromi atas cinta yang telah terkhianati.

Drama membuat segala hal dipandang sebagai tragedi.

Kehausan akan drama membuat fakta dan kebenaran bukan saja tak asyik, melainkan harus ditampik. Yang muncul kemudian adalah asumsi, sebagai anak dari perkawinan imajinasi dan sensasi.

Tapi benar, 2008 adalah tahun kepedihan. Karena sampai kini, infotainmen hanya mencatat 14 kelahiran, berselisih tipis dengan perceraian.

Jika kelahiran adalah buah dan pengukuhan cinta, sedangkan perceraian adalah tanda kegagalan, 2008 adalah catatan bagaimana cinta tak lagi memiliki kekuatan, untuk menyatukan, untuk memperindah hidup. Yang tumbuh, yang utuh dan kukuh, kalah dengan yang guyah dan lemah.

Barangkali, masih ada kegembiraan terselip di tahun ini. Meski kelahiran lebih rendah dari perceraian, tapi angka tertinggi justru diraih perkawinan. Tercatat sampai akhir tahun ini, telah terjadi 20 perkawinan. Dua dari 20 perkawinan itu, adalah mereka yang juga bercerai di tahun ini, Dewi Lestari dan Yulia Rahman. Cukup menggembirakan. Di tengah mereka yang bercerai, yang tak lagi dapat “memercayai” cinta dalam ikatan, masih banyak yang berusaha untuk meyakini bahwa hidup adalah ikhtiar mencintai. Perkawinan, apa pun sebabnya, adakah sebuah kepercayaan bahwa cinta membutuhkan ikatan, bahwa hidup masih dapat dijalani bersama, dalam janji, dalam keyakinan akan sebuah tujuan di seberang. Perkawinan adalah tanda bahwa perceraian tak membuat orang kehilangan kepercayaan pada cita-cita membangun sebuah keluarga.

Jadi, masihkah tahun ini penuh aroma kepedihan. Ya, jika ukurannya adalah perceraian, juga pernikahan selebriti. Karena kita yang sudah kadung percaya, dan menunggu, pecahnya perkawinan itu. Karena kepala kita, yang telah tertanam kehausan akan drama itu, meyakini, dalam tiap pernikahan selebriti, otomatis telah menunggu perceraian.

2008 adalah tahun kepedihan, terutama karena kita sudah “dipaksa” percaya, sebagaimana kata Dewi Kumala, presenter “Obsesi” di GlobalTV, bahwa “Gosip adalah kebenaran yang tertunda.”

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 27 Desember 2008]

Tentara Berjiwa Gereja

December 19, 2008

PERISTIWA 17 Oktober 1952, saat militer mengarahkan meriam ke Istana, tak hanya meminta korban Nasution. TB Simatupang, rekannya seangkatan di Akademi Militer Bandung pun, yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP), terkena imbas. Ia dipecat, dan dipensiunkan, saat masih berusia 39 tahun.

Awal masalah besar di tubuh militer itu adalah keinginan Nasution dan Simatupang untuk membentuk militer yang profesional. Kedua orang ini yakin, hanya dengan cara itu, militer tak akan masuk dalam garis PKI.

Tapi, parlemen justru memandang lain, dan mengkritik kebijakan itu, bahkan “mengobok-obok” persoalan internal militer. Hal ituilah yang membuat militer marah, dan meminta presiden membubarkan DPR melalui aksi 17 Oktober itu, yang sebenarnya merupakan sandiwara politik, karena Bung Karno telah tahu skenario itu.

Tapi, ulah seorang kolonel, Bambang Supeno, membuat skenario itu berubah. Bung Karno yang dibuat percaya bahwa militer tak lagi mendukung kepemimpinan Nasution, berhasrat memecatnya. Simatupang bereaksi.

“Saya marah. Bersama Nasution, dan Menteri Pertahanan Hamengku Buwono, kami datangi Presiden. Kami jelaskan yang sebenarnya. Saya tak setuju keinginannya untuk memecat Nasution. Selama saya KSAP, tak akan ada pemecatan itu!” kenang Tahi Bonar Simatupang, saat diinterview Tempo, beberapa tahun sebelum kematiannya.

Tapi ia kalah. Nasution dipecat, bahkan dimahkamahmiliterkan. Simatupang menjadi saksi.

“Saya katakan, jika kami memang ingin kup, pasti militer akan menang. Jakarta sudah kami kuasai. Jadi, tak ada itu keinginan kup. Saya jelaskan keinginan kami, agar pemilu dipercepat, untuk mewujudkan DPR yang representatif,” jelasnya.

Kesaksiannya tak didengar. Bahkan, melalui mosi tak percaya Manai Sophian, seluruh kekuatan politik tak lagi memercayainya, meski tentara mendukungnya. Lewat serangkaian “aksi” politik, kedudukannya sebagai KSAP hilang, dan dia diangkat sebagai penasihat militer, sebelum pensiun tahun 1959, di usia 39 tahun.

“Tak pernah ada militer yang pensiun di usia itu….”

Dari Tentara ke Gereja

Tahi Bonar Simatupang lahir 29 Januari 1920, di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Ia bukan orang Dairi, berbapak Batak pegawai negeri Belanda, yang hidup berpindah-pindah. Ibunya hanya wanita biasa, yang menjadi pedagang saat bapaknya meninggal dunia, 1946.

Ia anak kedua dari 7 bersaudara. 1937, bersama abang dan satu adiknya, mereka berangkat ke Jakarta, bersekolah. Tapi, berbeda dari saudaranya yang memilih kuliah, Simatupang memilih karier di militer. Maka, begitu ada pengumumam penerimaan tentara sukarela di Bandung, ia masuk, satu kelas dengan Nasutioan, Kawilarang dan Kartakusuma. Bersama Nasution dan Kawilarang, ia pun tercatat sebagai lulusan terbaik Koro, sehingga berhak masuk Akademi Militer Belanda di Bandung.

“Saya ingin hancurkan mitos Belanda yang mengatakan Indonesia tak akan mampu membentuk angkatan perang mandiri.”

1942, Jepang masuk. Sekolah diberhentikan, dan semua calon perwira itu diperbantukan dengan pangkat pembantu letnan. Nasution ke Jawa Timur, Simatupang ke kesatuan di Ciganjur, wilayah Bandung.

Saat Belanda menyatakan kalah, dan KNIL dibubarkan, Simatupang bahkan menjadi pedagang buku. Ia berdagang dari Jakarta, Bogor, bandung, Tegal, Pekalongan, Semarang hingga Surabaya, dan satu hal membuka matanya, Jepang pasti kalah. Ia lalu segera bertolak ke Jakarta, dan bergabung dengan Sutan Sjarir.

“Pertemuan dan diskusi dengan Sjarir membuka mata saya mengenai arah perjuangan Indonesia,” katanya.

Bergaul dengan kelompok intelektual Sjarir, Simatupang belajar banyak tentang kemiliteran. Dia juga yang mendesain segala bentuk perundingan dengan Belanda, sambil mempertimbangkan strategi perang jika perundingan gagal. Otaknya diakui Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat Urip Soemahardjo, dan ia menjadi tangan kanan. Panglima Soedirman pun acap meminta nasihatnya. Saat Soedirman meninggal, ia kembali ke Jakarta, dan diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang, dalam usia 29 tahun, 1949.

Simatupang pun kemudian terlibat dalam setiap keputusan politik. Ia juga menjadi wakil militer dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), dan mendesak pengakuan TNI sebagai kesatuan internal dalam wilayah Republik Indonesia Serikat. Dengan kata lain, Simatupang tak ingin ada campur tangan pada kedaulatan organisasi TNI.

Kariernya melesat. Ia dianggap sebagai pemikir militer paling kuat, di samping Nasution. Bung Hatta bahkan acap memakai pikirannya, untuk mewujudkan militer yang profesional. Sayang, ketika Bung Hatta jatuh, ia tak punya tangan kuat di sebalik kekuasaan. Dan konflik dengan Bung Karno mengakhiri karier cemerlang militernya.

Setelah “tamat” di militer, Simatupang masuk gereja. Ia melihat, pengabdian dalam militer dan gereja ada kemiripan, dapat lebih dekat dengan permasalahan sebenarnya masyarakat. Keaktifannya itu juga dalam rangka menciptakan kesalingpengertian antarumat beragama.

“Awal tahun 1970-an, saya bahkan menjadi pioner dialog antar-agama di Pematang Siantar. Wakil Islam saat itu adalah Harun Nasution, yang teman saya satu sekolah saat di Sidikalang,” kenangnya.

Ia merasa dapat lebih berbakti bagi masyarakat justru sesudah berada dalam gereja. Ia menjabat Ketua Dewan Gereja se-Indonesia, Kemudian meningkat untuk kawasan Asia, lalu Ketua Dewan Gereja Dunia, prestasi yang tak pernah diulang putra Indonesia lain.

Meski aktif di gereja, bukan berarti perhatiannya pada militer berkurang. Sebagai salah satu pengonsep Dwifungsi AbRI –meskipun ia tak menyetujui istilah itu diterapkan– ia amat memperhatikan perkembangan militer. Ia yakin, demokrasi juga dapat dipercepat jika militer ikut serta. Karena itu ia menolak keras anggapan, demokrasi akan tegak jika fungsi militer diminimalkan.

Sebagai militer yang jujur, Simatupang percaya, besarnya pesan militer dalam kehidupan sipil justru akan mempercepat perubahan ke arah demokratisasi. Ia yakin, fungsi militer pada akhirnya hanya semacam pengawas dari kekuatan sipil agar tak melakukan penyimpangan di dalam berdemokrasi.

Sayang, sampai ia meninggal, cita-cita dan pengharapannya pada militer tak pernah terwujud. Ia pergi, di saat militer justru unjuk gigi, menghancurkan kekuatan sipil, menjadi kaki tangan kekuasaan, di bawah kendali Soeharto.