Berani Melewati Kesakitan

November 28, 2008

HANYA sebuah pukulan, dan hidup Sarah berubah selamanya. Pukulan itu bukan hanya membuat hidung Sarah, “Seakan meledak, darah bercipratan ke mana-mana,” kenangnya, melainkan juga menumbuhkan kesadaran bahwa kekerasan itu harus jadi yang pertama dan terakhir. Sarah memutuskan berpisah. Lelaki itu dia maafkan, tapi hubungan asmara mereka tak perlu diselamatkan.

Sarah kehilangan cinta. Juga rupa.

Hidungnya patah. Sebuah operasi membuat wajahnya tambah parah.

“Saya ingin sembunyi. Dunia rasanya tak sama lagi. Saya merasakan ada yang salah dengan diri saya.”

Usianya baru 19. Remaja. Dunia terasa sudah mengabaikannya.

Tapi Sarah bukan remaja yang putus asa. Jika dua perceraian –sebelum usianya 19– tidak dapat menjatuhkannya, apalagi sebuah pukulan. Sarah mulai memikirkan jalan untuk mengejar kebahagiaan. Suatu pagi, dia melihat kepompong kosong, dan kupu-kupu yang terbang. Sarah tersenyum. Sebuah rencana melintasi benaknya. Satu keputusan telah dia bulatkan.

Sarah ingin menjadi boneka.

Boneka yang cantik. Selalu muda. Punya banyak pemuja. Dikenali seantero dunia.

Barbie.

Ya. Sarah ingin menjadi Barbie.

Barbie yang berbahagia.

Sarah pun memermak diri. 592 juta rupiah dia keluarkan untuk mengubah hidung, melicinkan wajah, dan memudakan pauh pipi. 490 juta dia buang untuk memermak payudara; membulat-kencangkan dan memindah letak puting. 555 juta untuk memperbaiki tulang dagu, dan sekitar 230 juta untuk mengencangkan dan mengangkat lemak di perut. Entah berapa rupiah untuk memperbaiki pantat, tangan, paha, dan kaki, juga tentu sikembar labia. Total, 100 operasi itu menghabiskan 16,8 miliar rupiah.

Bukan hanya kehilangan uang, Sarah juga mendapatkan kesakitan. “Kukira, kita harus mau melewati berbagai kesakitan untuk mendapatkan kegembiraan.”

100 kali operasi. Sarah belum mau berhenti. Sayatan pisau itu membuatnya sakau, ketagihan. Tapi tentu bukan itu alasan utama. Sarah percaya, operasi itu telah menghentikan jalaran usia di tubuh dan kulitnya. Di rumahnya, di St Neots, Cambridgeshire, Inggris, Sarah tinggal bersama tiga putrinya, yang bangga akan keberanian yang diambil ibu mereka. “Tak ada yang menyangka kalau saya seorang ibu dengan anak tertua berusia 23,” ucapnya, bangga.

Usianya 50 kini. Tubuhnya masih seseksi remaja, kulitnya sesegar janda. Mimpinya pun menyata, Sarah Burge menjelma jadi “The Real Barbie”. Dia punya acara teve, dan dapat keliling dunia, sebagai utusan pesan, agar setiap wanita berani mewujudkan mimpinya, menjadi apa saja. Agar wanita berani mengejar kebahagiannya, dan hidup dalam kegembiraan. Bahwa kegembiraan hidupmu ditentukan oleh setiap keputusan yang engkau ambil.

Satu pukulan saja, dan Sarah menemukan pelita.

100 kali operasi, Sarah pun jadi pelita.

“Kita harus mau melewati berbagai kesakitan untuk mendapatkan kegembiraan.” Betapa benar ucapannya. Betapa berani tindakannya.

2/

BERADA dalam kegembiraan adalah keputusan yang engkau pilih.

Rossa, barangkali, mengerti frasa itu. Tiga bulan lalu, sehabis pengajian, dia berlari dan menangis. Jiwanya guncang, ketika ustad Jefri mendoakan agar rumah tangganya bahagia. Doa yang mereka panjatkan itu membuat Rossa tahu, betapa banyak yang peduli pada dirinya, dan berharap dia berbahagia, bergembira.

Tapi dari mana kegembiraan itu datang, jika rumah tangganya telah lama hanya berjalan karena ikatan, bukan getar asmara. Yoyok, suaminya, tertangkap kamera mendua. Kepercayaan di antara mereka pun karam. Rossa mencoba menyimpan luka itu sendirian. Ia belajar bertahan.

Bertahan dalam situasi seperti itu, barangkali adalah kepompong yang tak menetas jadi kupu-kupu. Perlahan tapi pasti, Rossa melepaskan diri dari situasi itu. Posisinya bergerak, tak lagi berproses sebagai seorang istri, tapi menjadi sosok ibu. “Saya sekarang hidup untuk Rizky Langit Ramadhan,” begitulah ucapnya, suatu kali.

Bagaimana dengan sang suami, Yoyok Padi? Rossa hanya tersenyum. Tak mengucapkan apa pun.

Tapi senyum itu mengatakan banyak hal. Rossa telah memilih.

Ia juga memilih tak lagi melibatkan Yoyok dalam banyak jalannya. Ketika memenangi SCTV Award, tak sekalipun dia menyebut nama suaminya, sebagai orang yang berjasa. Dia menyebut nama anaknya, lalu orangtuanya.

Yoyok, bagi Rossa, mungkin jalan menuju kesedihan. Rossa tidak melupakannya, cuma meninggalkannya.

Itulah sebabnya, tak ada paras sedih ketika dalam konser tunggal bertajuk “Persembahan Cinta”, Yoyok tak berada di sisinya. Di panggung itu, Rossa bernyanyi dari sisi panggung gelap, lalu bergerak menuju sisi lain panggung yang bersiram cahaya. Rossa seakan menegaskan metamorfosa dirinya, bahwa gulita kepompong itu telah terbuka. Di pentas itu, lihatlah, bibirnya lebih banyak melahirkan tawa. Rossa mungkin telah mampu melewati kesakitan itu…

3/

TORA Sudiro. Tampan. Terkenal. Kaya. Bertato. Dalam dirinya tersimpan 7 kriteria lelaki idaman wanita. Tapi, Anggie Kadiman tak melihat lagi hal itu. Telah lama dia diam, berpikir. Dan di suatu titik, dia memutuskan memilih untuk menemukan kegembiraannya, sendiri. Tora dia ogahi.

Anggie memilih bercerai.

“Kami sama-sama menyadari, hubungan kami sudah kadaluwarsa,” kata Dewi Lestari, menyangkut perceraiannya dengan Marcel. Entah kenapa, ucapan itu terasa juga gaungnya untuk Anggie.

Setahun lebih tak serumah –tentu tanpa mendapat nafkah cinta– Anggie merasa sudah cukup dia bersitahan dengan rasa sakit dan harapan. Keadaan harus berubah. Tora barangkali milik dunianya, dengan segenap tawa dan kelucuannya. Tora mungkin telah lama dimiliki Amalia.

Di persidangan pertama, Anggie sudah berkata, tak ada lagi kemungkinan untuk bertahan. Dia telah memutuskan untuk berjalan dari rasa sakit itu, untuk melepaskan diri.

4/

DAN kini Okie. Dia hamil. Di tubuhnya masih berdiam benih asmara yang kian membesar. Buah cinta, yang dia tumbuhkan bersama Pasha, sebagai janji untuk menebalkan ikatan antara mereka yang pernah guyah.

“Nanti kami akan buat lagi,” begitulah janji Okie, ketika keguguran anak ketiga, beberapa waktu setelah rumah tangganya diributkan kabar perselingkuhannya dengan Idea Pasha Marvel. Janji itu seakan peneguhan, bahwa yang pernah retak, akan direkatkan, yang terluka akan disembuhkan.

Tapi luka itu mungkin tak pernah disembuhkan. Keretakan itu barangkali tak pernah dapat direkatkan. Dua jiwa itu bersimpang jalan. “Saya lebih suka Pasha yang dulu,” katanya suatu waktu.

“Saya menikahi Okie karena berpikir kalau tidak cepat, pasti akan disambar lelaki lain. Dia perempuan yang mengerti dan memahami saya,” kenang Pasha.

Tapi Okie justru tak lagi mengenali Pasha. Telah lama, seperti kata “Kabar-Kabari”, Okie tak terlihat tertawa. Okie barangkali telah dilupakan bahagia. Dan karena Pasha tak lagi memberi, Okky pun memutuskan untuk mencari kegembiraan sendiri.

5/

SARAH Burge, melakukan hal yang tak terbayangkan untuk mewujudkan mimpinya, hidup dalam kegembiraan. Rossa meninggalkan kotaknya, dan melesat bersama cahaya. Anggie melepaskan Tora, lelaki yang di “Extravaganza” selalu membuat orang lain tertawa, tak lagi mampu menerbitkan bahagia di rumah tangganya. Okie mencoba menarik diri dari Pasha.

Empat perempuan. Mereka digerakkan oleh satu semangat, bahwa hanya dengan berani melewati kesakitan, kegembiraan akan dapat dijelang. Melewati, dan bukan mendiami. Melewati berarti bergerak, bertindak, berbuat. Dalam proses melewati itu, mereka percaya kegembiraan telah menunggu, bersiap merangkuli. Karena mereka memang berani.

[Esai di atas telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 29 November 2008]

Peletak Imaji Keindonesiaan

November 24, 2008

SATU saat yang tak pernah dilupakan Muhammad Yamin adalah ketika dia ditangkap dan diinapkan di penjara, dua tahun, tanpa peradilan, oleh bangsa yang kemerdekaannya turut dia rancang. Oleh Syahrir, Yamin dan Tan Malaka dituduh mendalangi peristiwa perebutan kekuasaan –Peristiwa 3 Juli 1946– hanya semata karena beda diplomasi dengan Belanda.

Tapi Soekarno memandang lain, dan melalui grasi, membebaskan Yamin, 1948.

Apakah Yamin kecewa? Tidak. Bagi Yamin, dalam perjuangan ada masanya, kecurigaan dan kesalahpahaman harus dibayar mahal. Dan dia siap, bahkan saat Soekarno memintanya ikut delegasi KMB, Yamin bersetuju.

Kariernya kemudian bergerak, dia menteri dalam beberapa kabinet, anggota DPR, staf Panglima Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, dan Ketua Dewan Pengawas Kantor Berita Antara (1961-1962).

Tapi karier terbesar Yamin sesungguhnya sebagai seorang sejarawan dan sastrawan.

Imaji Puitis Keindonesiaan

Yamin lahir 1903 di Bogor, dari keluarga mantri kopi, posisi yang terhormat di masa itu. Terakhir dia bersekolah di Recht Hogeschool Jakarta, meraih gelar sarjana hukum (1929). Setahun sebelumnya, dia menikahi Raden Ajeng Sundari Mertoatmodjo, dan memiliki seorang anak lelaki.

Sedari kecil Yamin hidup di tengah generasi setipe Muhammad Hatta. Tak heran, visi nasionalismenya amat kental. Dia pernah mendirikan Jong Sumatranen Bond, dan menjadi ketua. Pada 1931, ia masuk Partai Indonesia, dan menolak bekerja sama dengan Belanda.

Setelah Partai Indonesia bubar, ia membentuk Partai Gerakan Rakyat Indonesia bersama Wilopo, Amir Syarifuddin, Sumanang, dan Adam Malik, 1936. Ia kemudian masuk Volksraad, dan amat keras menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Satu hal yang paling hebat dari Yamin adalah visi dan pengetahuan kesejarahannya. Ia, dalam pidat0 Kongres Jong Sumatranen Bond misalnya, telah meramalkan masa depan Bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia. Ramalan dan ide yang kemudian disetujui dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Ia juga perumus dasar negara, sebagai salah satu anggota teraktif BPUPKI. Dan gagasan dialah tentang dasar negara yang kemudian menginsiprasikan Soekarno mengonsepkan Pancasila. Bahkan, saat konsep Piagam Jakarta dituliskan, Yaminlah yang paling aktif menyusun redaksional dokumen yang amat berharga itu.

Yang tak dapat dilupakan, Yamin juga, bersama Hatta, yang menambah beberapa pasal penting dalam rancangan UUD 1945, terutama pasal-pasal hak asasi manusia.

Kejeniusan Yamin memang diakui banyak pihak. Sejarawan Taufik Abdullah bahkan menempatkannya sebagai sejarawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia. Pujian yang bukan tanpa bukti. Sepanjang hidupnya, Yamin telah melahirkan buku sejarah yang amat otoritatif. Gadjah Mada (1945), Sedjarah Peperangan Dipanagara (1945), Tan Malaka (1945) dan Kebudayaan Asia-Afrika (1955) adalah beberapa karyanya yang kian menegaskan pengetahuan kesejarahannya dan visi nasionalismenya.

Merasa tak lengkap menggambarkan visi kesejarahannya dalam buku sejarah, Yamin menulis sajak dan drama, sejak 1920. Tanah Air (1920) dan Indonesia Tumpah Darahku (1928) adalah dua kumpulan sajaknya yang paling terkenal. Ia juga menyusun drama Ken Arok dan Ken Dedes (1938) dan menerjemahkan karya-karya Rabindranath Tagore dan William Shakespeare.

Lewat beberapa naskah-naskah awalnya, sangat tampak Yamin sangat mengimajinasikan Indonesia mampu kembali ke masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Dia bahkan tanpa ragu menyebut Indonesia adalah Imperium Nusantara ketiga, setelah dua kerajaan itu, yang dikecam para sejarawan sebagai pengembang mitos masa lalu. Tapi Yamin tak menanggapi. Karena baginya, imajinasi puitis keindonesiaan yang di masa muda hanya ia bayangkan, telah ikut juga ia wujudkan menjadi kenyataan, sebuah bangsa yang besar, meski selalu juga menyimpan masalah yang besar.

Istri Kaya Istri Miskin

November 14, 2008

Jika Robert T Kiyosaki tinggal di Indonesia, saya yakin dia tidak akan menulis buku Rich Dad Poor Dad, melainkan Istri Kaya Istri Miskin. Isinya tentu mirip, meski tak sebangun, bagaimana melepaskan diri dari beban finansial, bahwa setiap orang punya kesempatan untuk menikmati waktu dan juga uang.

Dia pasti akan bercerita, seperti ayah miskin yang juga ayah kandungnya, istri miskin juga istri sendiri. Sedangkah ayah kaya dan istri kaya adalah ayah teman, atau istri orang lain, istri yang diangankan. Tapi tentu, dalam beberapa hal fundamental mengenai jurus bebas dari beban keuangan itu, buku Istri Kaya Istri Miskin akan amat berbeda. Buku ini, karena belajar dari “pengalaman” hidup keindonesiaan, tentu akan lebih aplikatif, gampang dipraktekkan, tanpa harus melalui seminar motivasi berharga jutaan.

Kiyosaki, saya bayangkan, akan memandu beberapa langkah jitu berdasarkan “kemampuan alamiah” seseorang. Misalnya begini, jika engkau seorang pelayan kafe dan haus seks, maka usahakan menikah dengan seorang janda. Kalau bisa, carilah yang bernama Ratna. Dialah istri miskinmu. Sebagai istri miskin, dan juga janda, dia akan memenuhi fantasi seksualmu. Dan bukan itu saja, karena kecintaannya, dia tentu akan membukakan jalan bagimu untuk melangkah maju. Ratna, karena koneksinya yang luas, akan mengenalkanmu pada Andika, yang pernah memopulerkan Ariel. Dan nasibmu akan berubah, engkau akan segera terkenal jadi penyanyi, wajahmu akan cepat terpampang di televisi.

Tapi ingat, Ratna itu hanya istri miskinmu, engkau harus lepas darinya. Maka, buatlah dia putus asa atas tingkahmu. Rekamlah keliaranmu dalam bercinta, dan biarkan dia membuka ponselmu. Buat semua seakan itu keteledoranmu. Dan kalau bisa, tularkan penyakit dari “jajanmu”, biar dia makin tersiksa. Jika Ratna mengugat cerai, kabulkan saja. Kini engkau bebas waktu, bebas dari beban uang, bebas meliarkan hasrat seksualmu. Eh, namamu masih Rizky The Titan, kan?

Jika engkau hanya pengamen di kereta, mimpimu harus dibangun dengan sederhana. Pertama, di antara penumpang kereta, carilah wanita yang terhitung bersih. Usahakan namanya Fani. Tipe ini akan menerimamu apa adanya, kedekilanmu, juga kemiskinanmu. Dia pasti akan selalu mendoaimu. Dan percayalah doa seorang istri yang acap bersimbah airmata, selalu dikabulkan Tuhan. Jadikan doa dan tangis itu jalanmu meraih kesuksesan. Ikutilah acara reality show semacam “Indonesian Idol”, engkau akan jadi pemenang. Kepopuleran dan juga uang akan segera jadi milikmu.

Tapi ingat, Fany hanya istri miskinmu. Dia cuma jalanmu meraih kesuksesan, dan harus segera engkau tinggalkan. Kirimlah seorang penggemarmu ke rumah, dan kesankan kalau perempuan itu adalah kekasih barumu. Usahakan jangan pernah menemui Fany, juga jangan berkirim uang. Biarkan saja dia menangis, menyesal, dan berbicara ke media. Dia hanya mencoba menarikmu ke masa lalu. Padahal, engkau milik masa depan. Engkau milik istri kaya-mu, yang telah antre berada di bibir panggung, memujamu, memohonkanmu, “Aris… Aris….”

Kalau engkau berbakat jadi pengarang, siapkan kisahmu dari hal yang paling sederhana, misalnya sekolah yang buruk, guru yang luar biasa, dan teman-teman bersahaja tapi setia. Kalau ingatanmu buruk, minta bantuan istrimu. Ah, pasti namanya Roxanna, kan? Dia pasti membantumu, karena dia juga bagian dari laskarmu, anak orangkaya yang karena sesuatu jadi dapat bersamamu. Percayalah, kisahmu akan populer. Engkau akan cepat bebas dari beban finansial, royaltimu nilainya bermilyar. Lalu engkau harus berpura-pura jadi malaikat, suci, dan tulus. Susunlah jutaan pujian dan kekaguman orang-orang menjadi daya jual novelmu. Jadikan film, dan katakan, film itu sungguh nyata menggambarkan masa mudamu yang penuh derita. Ah, engkau akan kian mendapat puja.

Tapi ingat, Roxanna itu harus engkau enyahkan. Dia benalu untuk dirimu kini yang telah penuh puji. Maka, kalau dalam beberapa wawancara, akuilah engkau perjaka. Dan kalau Roxanna yang mengaku Flo itu menggugatmu, lecehkan saja. Bukankah dia tak punya bukti engkau pernah menikahinya, kecuali sebuah fotocopy? Santai saja, katakan itu hanya ulah fans fanatikmu. Engkau akan bebas dari istri miskinmu itu, dan di depan pemujamu, yakinlah engkau akan tetap jadi Andrea yang malaikati itu….

Dan ini yang terakhir. Jika modalmu hanya tampang yang tampan dan sedikit bisa melucu, carilah istri yang mapan. Namanya pasti Anggi Kadiman. Dia perempuan miskinmu, yang akan mengantarkan pada kemujuran. Jadi, biarkan jika selama beberapa tahun pernikahan itu, engkau cuma menganggur dan mertua menanggung biaya hidupmu. Percayalah, Anggi mencintaimu, dan akan mencarikan jalan untukmu agar bebas dari masalah keuangan. Dan lihatlah, dia memintamu ikut kasting “Extravaganza”. Karena kamu tampan, dan penuh tato, gambaran kenakalan sekaligus kemisteriusan, engkau akan diterima. Kian hari, bersama doa Anggi, engkau akan populer. Produser film pun antre meminta tandatanganmu. Engkau sibuk, dan manfaatkanlah itu untuk lupa pada Anggi dan anakmu. Santai saja, kalau bisa, selama setahun engkau jangan pulang. Kirimi saja sedikit uang, beres.

Jika Anggi bertahan dalam situasi itu, ciptakan asmara baru. Pacari rekan kerjamu. Namanya Mike Amalia, bukan? Dan buat mertuamu tahu. Anggi pasti malu, dan dia pasti akan meminta untuk berpisah. Kini, engkau dapat bebas dari masa lalu, dan meluangkan waktu untuk menikmati uang dan popularitaasmu.

Saya percaya, buku Istri Kaya Istri Miskin akan populer, lebih dari Ayat-ayat Cinta. Siapa yang meragukan Kiyosaki, coba?

[Esai ini dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 15 November 2008]

Nasib Getir Burung Kelana

November 10, 2008

Sutan Sjahrir adalah nama yang dicuplik ibunya dari kegemerlapan kisah Seribu Satu Malam di Istana Baghdat. Tapi kehidupan Sjahrir justru getir dan kelam, sejelaga belanga.

Dialah orang yang paling jenius dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hanya bermain di belakang gemebyar Soekarno dan memimpin pergerakan di Bandung, Amsterdam, dan Leiden, jiwanya menjadi matang. Dialah pengelana yang hidup untuk kampung halaman: pribadinya matang dalam tempaan cita-cita kemerdekaan.

Menghabiskan delapan tahun dalam penjara kolonial dan pembuangan, tiga kali menjadi Perdana Menteri di rezim Soekarno, tapi saat mati, Sjahrir justru berstatus tahanan politik, dari sebuah bangsa yang dengan darah dan airmata ia perjuangkan kemerdekaannya.

Dialah Don Quixote, sekaligus Kafka.

Sendiri, pedih, getir.

Tapi amat mencintai sesama atas nama kemanusiaan.

Tak heran, pada hari penguburannya, 18 April 1966, jasadnya yang baru datang dari Zurich, disambut 250 ribu massa, yang mengelu-elukannya dalam tangis, mengantar bunga dukacita ke Kalibata. Helikopter berputar, meraung, menabur wewangian kembang, tembakan salvo pun menggelegar, mengiringi jasad ringkih, pucat, tapi tersenyum, turun ke liang lahat.

Pemerintah menginstruksikan mengibarkan bendera setengah tiang tiga hari; tanda duka, dan jasad yang kering itu pun dibaptis sebagai pahlawan nasional.

Tapi apakah arti upacara itu?

Adakah kemeriahan penghormatan dan anugerah itu dapat mengobati luka Sjahrir, yang lebih membutuhkannya di hari-hari panjang yang dingin, pengap, meringkuk sakit, sendiri, sepi, di sebuah penjara, di Jakarta.

Hidup Sjahrir mungkin sebuah biografi yang tak indah. Tapi, siapa yang bisa melepaskan namanya dari triumvirat Bung, pendiri negara ini? Dalam tahap ini, jelas, Sjahrir berarti, sangat berarti.

Dia berjuang untuk memerdekakan negeri ini dengan konsep yang ganjil tentang nasionalisme. Nasionalisme bagi si Bung berdarah Minang ini bukanlah dewa. “Nasionalisme hanya kendaraan yang kita pakai saat ini untuk memerdekakan diri,” ucapnya.

“Sjahrir adalah burung kelana yang mendahului terbang melampaui batas-batas nasionalisme. Dia salah seorang tokoh terbesar dalam kebangkitan Asia,” puji Indonesianis, Herbert Feith.

“Perjalanan hidup Sjahrir,” tulis Rudolf Mrazeck dalam Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, adalah gerak universalisme dari satu tradisi sempit. Dia tak pernah membawa bau tradisional, primordial, atau parokial. Ia secara jujur mengaku, tak punya hubungan batin dengan dunia Minang.”

Dalam posisi itu, Sjahrir amat berbeda dari Soekarno, Hatta, bahkan Tan Malaka. Sjahrir adalah anak panah, melesat dari busurnya, tak pernah kembali.

Intelektual Marxis Sejati

Seperti pemimpin pergerakan lainnya, Sjahrir adalah buah dari politik etis van Deventer. Ia lahir di Padangpanjang, Sumatra Barat, 5 Maret 1909, dan dewasa di Medan. Di kota itulah jiwa muda Sjahrair sudah kenyang melihat penderitaan kaoem koeli, bukti eksploitasi kolonialisme.

Dia mengenyam sekolah dasar (ELS) dan sekolah menengah (MULO) terbaik di Medan, dan membetahkannya bergaul dengan pustaka dunia, karya-karya Karl May, Don Quixote, dan ratusan novel-novel Belanda. Malamnya dia ngamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk kulit putih, kecuali musisi dan pelayan.

1926, ia selesai dari MULO, masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung, sekolah termahal di Hindia Belanda saat itu.

Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Hasil mentas itu dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volkuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.

Sebelum Soekarno membentuk Perserikatan Nasional Indonesia, 4 Juli 1927, Sjahrir telah membentuk Jong Indonesie, yang kelak menjadi Pemoeda Indonesia. Ini oerganisasi baru yang jauh dari warna kesukuan, dan ia menjadi pemimpin redaksi organisasi itu.

Kuliah hukum di Universitas Amsterdam, Sjahrir berkenalan dengan Salomon Tas, ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kelak dinikahi Sjahrir, meski sebentar.

Dari mereka Sjahrir mengenal Marxisme, dan melalui Hatta, dia masuk Perhimpunan Indonesia. Bersama Hatta, keduanya rajin menulis di Daulat Rakjat, majalah milik Pendidikan Nasional Indonesia, dan memisikan pendidikan rakyat harus menjadi tugas utama pemimpin politik.

“Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan,” katanya.

Tulisan-tulisan Sjahrir berikutnya, terutama dalam manifestonya, Perjuangan Kita, membuatnya tampak berseberangan dan menyerang Soekarno. Jika Soekarno amat terobsesi pada persatuan dan kesatuan, Sjahrir justru menulis, “Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.”

Dan dia mengecam Soekarno. “Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita.” Dia juga mengejek gaya agitasi massa Soekarno yang menurutnya tak membawa kejernihan.

Perjoeangan Kita adalah karya terbesar Sjahrir, kata Salomon Tas, bersama surat-surat politiknya semasa pembuangan di Boven Digul dan Bandaneira. Manuskrif itu disebut Indonesianis Ben Anderson sebagai, “satu-satunya usaha untuk menganalisa secara sistematis kekuatan domestik dan internasional yang memengaruhi Indonesia dan yang memberikan perspektif yang masuk akal bagi gerakan kemerdekaan di masa depan.”

Pujian yang tak berlebihan. Karena melalui Partai Sosialis Indonesia yang melahirkan Soejatmoko, Sutan Takdir Alisjahbana, jejak-jejak Sjahrir sampai kini masih terasa, kuat, masih menggelora.

Mendengar Suara yang Kalah

November 7, 2008

OBAMA. Obama. Obama. Itulah histeria publik hari-hari ini. Semua bergembira, dunia berpesta. Media massa, ataupun media pribadi semacam blog, juga menghisteriakan Obama. Kita larut untuk merayakan –dan seolah sungguh dapat merasakan– kemenangan itu. Di layar televisi, aktris-aktris pun ikut senang. Rianti berkaos Obama, mengaku ikut berdoa. Naisyila Mirdad merasa bangga. Semua bersuara, mengekor di belakang yang menang, tertawa, berteriak senang.

Tapi lihatlah, di panggung Grant Park, Chicago, Obama tidak tertawa-jejingkrak. Apalagi berteriak.

Obama hanya tersenyum. Santun.

Jas Obama berwarna hitam. Dua anaknya, Malia dan Sasha, bergaun hitam dan merah. Istrinya, Michele, juga bergaun sederhana, hitam dengan pendaran merah di bagian depan.

Obama dari Partai Demokrat. Demokrat adalah biru. Obama dan keluarga tak mengenakan warna itu.

Di seluruh panggung, hanya alas pentas yang berbeludru biru. Biru adalah alas, dasar. Partai adalah langkah, jalan. Ketika sampai ditujuan, politik “warna”, tak pantas lagi dikenakan.

Obama tahu persis hal itu.

Ia dewasa. Matang.

Di panggung, dalam pidato kemenangan, dia tak menepuk dada. “Kemenangan ini milik Anda semua,” ucapnya. Obama memilih menggunakan kata “Anda”, bukan “Kita”. Bahkan, ucapan pertamanya ketika menang pun, dia telah merangkul yang kalah.

“Saya takkan pernah lupa, siapa yang layak menikmati kemenangan ini. Ia milik Anda… Saya berjanji kepada Anda, kita sebagai bangsa akan sampai ke tujuan!”

Di depan pecintanya, ratusan ribu pendukungnya, euforia itu diletakkan Obama langsung pada esensinya, kemenangan mereka sebagai bangsa. “Jika masih ada orang di luar sana meragukan bahwa Amerika adalah tempat di mana semua hal mungkin; yang masih mempertanyakan kekuatan demokrasi Amerika, malam ini adalah jawaban Anda,” kata Obama.

Ia juga memuji McCain dan Palin, sebagai lawan yang tangguh dan terhormat. Obama meminta keduanya membantu, bersama, dalam kemenangan Amerika. Di panggung itu, dia tak meletakkan McCain sebagai lawan lagi. Tak ada Republik, juga Demokrat. Usai pertarungan itu, yang tersisa adalah warga Amerika.

“Ini adalah malam yang agung. Ini adalah malam yang sulit dipercaya,” kata John Lewis, anggota Republik, pecinta McCain, dari Georgia.

******

McCAIN. Nama itu akan segera menghilang. Riwayat yang kalah selalu begitu, kadang bahkan ditulis sebagai sebuah kesalahan sejarah. Pedih memang. McCain tahu itu, bahkan setelah dia dengan berani menunjuk Sarah Palin, sebagian pendukungnya telah mengatakan dia salah langkah.

Tapi McCain telah berusia 72. Kekalahan bukan sesuatu yang tampak terlalu menyakitkan baginya.

Dia dengan enteng, mengakui dan menyelamati kemenangan Obama. “Dia saingan yang kini telah menjadi presiden saya.”

McCain tentu tak memilih Obama. Tapi ketika kalah, dengan cepat dia mengubah statusnya sebagai calon presiden menjadi warga, yang kini telah memiliki presiden baru.

Dia, di depan ribuan pendukungnya, keluarganya, pecintanya, di Phoenix, Arizona, mengaku kalah. Itu bukan hal yang mudah. Di depannya, ratusan orang menangis. McCain menatap semuanya. Ia tahu, tangis itu tak akan pernah dapat dia miliki lagi. Dia tahu, tangis itu tak boleh lebih dari malam itu.

McCain mengambil alih, kesedihan itu harus jadi miliknya.

“Saya sangat bersyukur atas dukungan yang Anda berikan terhadap saya. Saya ingin, hasil pemilu tidak seperti ini, sahabatku…” Ratusan orang menjawab, “Kami pun tak menginginkan ini…”

“Kita berjuang, sekeras mungkin. Dan walapun kita merasakan kekurangan, ini adalah kekalahan saya, bukan kekalahan Anda.”

Pecintanya, sebagian terisak, menjawab, “Tiiidaakkk….”

McCain Diam. Matanya berkedut berkali-kali. Jelas ada yang bergolak di dadanya, melihat bahwa dia masih dicintai, bahwa ada orang yang mau bersama dalam kesakitan itu. Tapi itu tak boleh terjadi. Kekalahan, kesakitan, harus dienyahkan, untuk tak jadi dendam. Karena pertarungan telah usai, arena telah digulung. Banyak hal yang harus dibersihkan.

“Besok kita harus beranjak dan bekerja sama menggerakkan negara kita…. Saya menawarkan kepadanya segala kemampuan saya membantu dia memimpin kita menghadapi tantangan besar yang ada. Karena, apa pun perbedaan yang ada, kita tetap sesama warga Amerika.”

Dengar frasa itu, “…membantu dia memimpin kita.” Terasa sungguh keikhlasan, keberterimaan. McCain mengaku kalah, dan itu tak membuatnya malu. Karena bertarung melawan Obama, bagi dia adalah sebuah kehormatan. “Saya adalah orang yang selalu beruntung. Dan semua itu tidak akan terjadi tanpa cinta dan semangat Anda kepada saya.”

Suara yang kalah. Tak terdengar pasrah, getir, dan resah.

******

OBAMA. Nama ini punya gema yang luar biasa di Indonesia. Apalagi setelah dia menang. SBY pun mengucapkan selamat, seraya mengingatkan masa empat tahun Obama di Indonesia. Entah untuk apa. Andi Mallarangeng malah merasa bangga jadi anggota Partai Demokrat setelah kemenangan Obama. Entah apa alasannya. Tapi beginilah watak kita, selalu hanya mau bersama yang menang, selalu meletakkan diri dalam sejarah mereka yang tertawa riang.

McCAIN. Dia memang kalah. Tapi sebagai politikus, dia sungguh menang. McCain menunjukkan etika yang benar setelah pertarungan, menegaskan bahwa dia memang pantas berada di arena itu. Seharusnya, sikap semacam inilah yang wajib digugu. Watak seorang ksatria, ketika kekalahan tak membuatnya takut dan jadi pengecut.

[Dimuat sebagai "Jeda" di tabloid Cempaka, Sabtu 8 November 2008]