Potret Lusuh Seorang Sastrawan

August 23, 2008

SENJA 1943, seorang lelaki bermata merah, ceking dan lusuh, berjalan di antara gerbong-gerbong tua di Stasiun Senen. Matanya menerawang, sebelum langkahnya terhenti di gubuk reot mesum. Dihampirinya perempuan hamil penunggu gubuk itu, di rebahkannya tubuh ringkih itu di pangkuan si perempuan, matanya tetap menerawang.

Perempuan itu, Marsiti, segera membukai baju si lelaki, memijat punggungnya, dan mereka bermesraan sesaat. Kemudian lelaki itu kembali tenggelam dalam bacaannya, buku puisi Marsman, yang dia curi entah dari mana.

Lelaki itu adalah Chairil Anwar, yang jika gundah pasti mendatangi Marsiti, entah itu untuk bermesraan, mencari makan, atau memamerkan beberapa puisi baru yang telah dia ciptakan atau terjemahkan.

Chairil memang sosok yang jalang. Pelacuran, minuman keras, pencurian buku kecil-kecilan, tapi juga kekacauan perang, selalu dia masuki. Semua itu, bagi dia, adalah kebalauan yang selalu memberi inspirasi. Tak heran jika di kepala dia hanya ada satu kata; sastra. Akibatnya, secara ekonomi Chairil tak pernah mandiri.

Ketakmandirian inilah yang justru membuat Chairil punya banyak teman. “Kadang dia datang menyerahkan sebuah puisi, dan langsung meminta honorariumnya. Dia selalu yakin puisinya pasti kami muat,” kenang Kodrat, redaktur Pustaka Jaya.

Di mata Ida Rosihan Anwar, sosok Chairil selalu menyebalkan. “Ia selalu kelaparan, minta uang, dan makan di sana-sini,” kenangnya. “Tapi anehnya, dia selalu diterima semua kawan, dan jika dia tak datang, banyak yang merasa kehilangan,” tambah Ida, dalam acara “50 Tahun Wafatnya Chairil Anwar” di Taman Ismail Marzuki, 1999 lalu.

“Jika tiga hari dia tidak datang, kami semua kehilangan. Tapi jika dia datang, jatah makan kami pun berkurang. Dia sosok yang menjemukan, sekaligus dirindukan. Bicara dengannya, saya selalu merasa kecil,” kenang Sobron Aidit, dalam situs pribadinya.

Keusilan Chairil memang banyak menebar kenangan. Chairil pernah meminta puisi Sobron untuk dimuat, dan saat dimuat, honornya tak pernah dia terima. “Waktu saya tanya, dengan senyum Chairil bilang, ‘Soto yang kau makan lahap kemarin itulah honormu’. Saya selalu ingat gaya tenangnya jika ketahuan menipu,” tambah Sobron.

Berpihak pada Ibu

Chairil lahir di Medan, 26 Juli 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya kawin lagi. Setelah perceraian itu, saat usai SMA, Chairil ikut ibunya ke Jakarta.

Masa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Kedekatan ini begitu berkesan bagi Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda keberpihakan akan nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acap kehilangan sosoknya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada sang ibu.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal liat. Jassin punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dia dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu karena kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil menikah.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Karena kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah mengajukan cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusastraan Indonesia. Dia bahkan menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersetengah-setengah di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”

Kesepian dan Airmata

August 21, 2008

TAK ada teman yang paling setia, selain kesepian dan airmata. Begitulah Khalil Gibran pernah berkata. Dan di minggu-minggu ini, kesepian dan airmata itulah yang menjadi teman Sheila Marcia. Setelah tertangkap karena mengonsumsi narkoba, di dingin penjara, Sheila pasti telah menemukan sahabat setianya itu. Hanya kesepian, juga airmata. Tak ada orang lain, termasuk pria yang dia cinta, Roger Danuarta.

Tapi di luar penjara, kesepian dan airmata juga dimiliki perempuan lain, Maria Cecelia, ibu Sheila. Perempuan yang tampak masih cantik di usia paro baya itu pasti merasa sepi, karena buah cintanya harus hidup dalam terali. Kesepian yang lahir bukan karena malu, melainkan perasaan gagal sebagai seorang ibu. “Sebagai ibu, sudah saya akui, saya yang salah. Jangan diskriminasikan anak saya. Sebagai ibu saya yang kurang atensi. Saya manusia biasa, saya tolol,” ucapnya pelan, menahan sedan.

Itulah kesepian yang paling dalam, sesal seorang ibu. Dan sesal itu, rasa gagal itu, hanya bisa dihapus dengan pengakuan, bukan pengambinghitaman. Maria menempuh hal itu. Membiarkan Sheila sendirian di Jakarta sejak berusia 14 tahun, bukanlah langkah bijaksana. Mengenalkan dunia malam, ke disko dan klab malam, adalah memamahkan racun ke dalam raga muda Sheila. “Waktu dia umur 14 tahun, sudah diajak clubbing sama kami. Kami memang salah,” akunya.

Maria memang punya alasan, Sheila terlalu manja. Dan dia berharap, di Jakarta, kemandirian akan menjadi pengasuhnya. Ternyata Maria salah. Jakarta terlalu buas untuk jiwa muda Sheila. “Itu keputusan yang salah. Maaf kepada semua pihak, termasuk orang yang nama baiknya ikut dirugikan,” pintanya.

Pembiaran itu juga yang membuat banyak gosip tak sedap meruyak. Maria dikabarkan berada di belakang penangkapan itu. Dia yang menelpon polisi untuk menangkap putrinya.

Kabar yang gila. Meski mengaku gagal sebagai ibu, Maria tentu tak mungkin mengerkah anaknya sendiri. Karena itu, tubuhnya gemetar dan limbung ketika mendengar kabar itu. “Buar apa? Itu lebih kejam dari pembunuhan! Masa ada seorang ibu yang memanggil polisi untuk menangkap anaknya sendiri!” teriaknya. Dan, braakk!! Maria pingsan.

Kesepian. Airmata. Hanya itulah teman ketika kegagalan menerpa. Berkali-kali tampil di kamera, tak ada wajah suaminya, Joseph, menemaninya. Maria bernasib sama dengan anaknya, yang ketika berada dalam kegagalam mereka, justru kehilangan dukungan, dampingan, dari orang-orang yang mereka cinta. Maka, menangislah Maria, menangislah Sheila. Meski, tangis kesekian itu, akunya, bukan lagi tangisan kesedihan. “Saya menangis karena bahagia. Saya gagal sebagai ibu, tapi saya bangga, Sheila bisa menghadapi situasi ini.”

Bangga, karena Sheila, seperti dirinya, mampu sendirian menghadapi semua. Bahagia karena anaknya, tertangkap ketika semua belum terlambat. “Mungkin, inilah bagian dari pelajaran hidup.”

Hidup memang memberi pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan, melalui tangis dan tawa. Sheila dan Maria telah merasakan keduanya. Sebuah situasi yang membuat mereka tahu, dalam nestapa, dalam bencana, akan teruji siapa sebenarnya orang-orang yang mencintai mereka. Sheila tahu, nyaris dua minggu, tak datang juga Roger menguatkannya. Maria tahu, sampai kini, tak muncul juga Joseph merangkul bahunya. Dalam nestapa, ibu-anak itu merasa kuat, karena mereka punya teman terakrab dan setia, kesepian dan airmata.

Hanya melewati nestapa kita bisa tahu rasa bahagia, kita tahu makna cinta. Maria, Sheila, hari-hari ini, sedang diasuh kehidupan untuk lebih dewasa. “Sebagai ibu, saya yang salah,” kata Maria. Ucapan itu, kini terasa lebih mirip sebagai doa, untuk anaknya.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Sabtu 23 Agustus 2008]

Jika Hidup adalah Kemunafikan

August 21, 2008

“Kalau kamu berusaha mencukupi kebutuhan orang lain, otomatis kebutuhan kamu pun tercukupkan. Percayailah hal itu,” tutur Ny Lalu Slamet, menirukan ucapan suaminya. “Saya ikuti saja apa kata suami, meski saya tak mengerti.”

1/

HIDUP terkadang memang tak butuh pengertian. Dia hanya minta dijalani, tanpa tanya apalagi gugat. Karena kearifan diberikan kehidupan bukan melalui serangkaian teori dan abstraksi, melainkan praktek dan pengalaman. Lalu Slamet membuktikan hal itu. Di desanya, Dompu, di pedalaman Nusa Tenggara Barat, yang ada hanya kegersangan. Tanah membentang, tapi kering kerontang. Tak ada sumber air kecuali sebuah sungai besar berpagar bukit cadas, bermuara ke laut. Slamet selalu mendengar ricik itu, dan membayangkan arus air berbelok ke desanya, membasahi bentangan gersang ladang-ladang yang tak memiliki tuan.
Tapi pembayangan adalah impian. Dan Slamet tak cukup puas dengan itu. “Saya lalu lubangi bukit, dan membelokkan arus sungai agar mengaliri tanah kami,” ceritanya.

Dalam tayangan “Balada di Balik Nama”, di Trans TV, Selasa pagi (29/7) itu, Slamet dan beberapa penduduk memulai kerja dengan linggis. Rekaman dengan gambar bergaris dan buram itu menunjukkan bagaimana tekad baja mampu merontokkan bukit padas. Bukit berlubang, air sungai pun bisa menerjang ladang. Slamet pun mulai menanam. Lebih dari 20 tahun dia merekayasa alam, dua kali dia belokkan arus sungai, membuat irigasi, dan membuka jalan tembus antardesa. Hasilnya, kini tak ada lagi tanah gersang. Sisi lembah di utara bukit padas itu, telah lama menjadi waduk buatan dengan ribuan ikan tanaman. Di genangan air itu, dia dirikan berbagai rumah apung untuk memancing. “Sekarang desa ini lebih dikenal sebagai tempat wisata,” ceritanya, bangga. Slamet memang layak bangga, karena dia berhasil “menyelamatkan” lebih dari 23 ribu hektar tanah di wilayahnya.

Slamet hanya orang biasa. Tubuh dan wajahnya hitam dan kering, dijilat matahari terlalu sering. Dalam tayangan itu, selama menunjukkan hasil karyanya, dia hanya bersandal jepit, berkaos dan bersarung. Tak ada nada bangga dalam tiap ucapannya. Meski semua kehijauan dan kemakmuran desa itu akibat kerja tangannya, Slamet selalu mengikutsertakan bantuan warga desa dalam tiap penegasannya. Tak ada niat pamer. Padahal, “Ya kalau dihitung, barangkali sudah menghabiskan puluhan miliar ya?”

Untuk kerja kerasnya itu, Slamet tak meminta apa pun, meski dia mendapatkan banyak rasa hormat dan kagum dari warga desa. Tokoh beberapa desa mengaku berhutang budi pada kerja Slamet. Dan dampaknya jelas, berkali-kali mereka mendesak Slamet untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Mereka yakin Slamet pantas dan pasti terpilih. Tapi Slamet menolak. “Modal saya cuma ikhlas, jujur, dan tawakal. Saya tidak cocok untuk berpolitik. Itu bukan tujuan saya,” elaknya.

2/

HIDUP adalah perbuatan. Itulah moto iklan politik Soetrisno Bachir. Iklan manis dengan wajah riang anak-anak itu berkali-kali tayang di berbagai televisi. Soetrisno, ditemani istrinya yang sumringah menyapa dan tertawa bersama warga, mengajak untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa. Meski, di mata ahli komunikasi Effendi Ghazali, iklan itu tak jelas untuk apa. “Saya hanya jadi tahu ternyata istri Mas Soetrisno itu cantik ya? Tapi iklannya sendiri ingin mengatakan apa, saya tidak dapat menangkap. Kurang spesifik,” gugatnya dalam acara “Topik Kita” di Anteve, Minggu (17/8).

Soetrisno membalas ketakmengertian Ghazali itu dengan, “Saya kira, meski sudah doktor, tak ada salahnya ya, untuk rendah hati, mau belajar ilmu komunikasi dengan saya yang cuma lulusan S1.” Lalu Soetrisno menjelaskan makna iklan itu, bahwa hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang seperti apa? Di mana, dan siapa yang berbuat, juga untuk apa, memang tak terjelaskan. Iklan itu, tagline itu, tetap hanya menjadi moto, semboyan, abstraksi, logos, ilmu, dan bukan laku. Dalam iklan itu, “hidup adalah perbuatan” masih duduk sebagai predikat, tanpa subjek, juga objek. Dia tak sempurna.

Barangkali, Ghazali, seperti juga banyak pengamat lain, ingin bertanya, selain iklan itu, apakah “hidup adalah perbuatan” telah menjadi laku-lahir Soetrisno Bahir. Dan Soetrisno paham dengan hal itu, dan mengakui di berbagai forum, bahwa telah miliaran uang dia habiskan untuk membantu orang lain.

3/

HIDUP adalah perbuatan, berbuat untuk bangsa. Dalam bahasa iklan politik Rizal Mallarangeng menjadi “Save Our Nations”. Berlanskap rumah pembuangan Bung Karno di Bandaneira, dengan aroma laut dan gairah persatuan, Rizal tampil sebagai sosok muda yang mengerti kebutuhan bangsa. “Save Our Nations” menjadi begitu indah dan nyaman didengar telinga. Kenyamaman yang memaksa John Pantau untuk bertanya kepada Rizal, berapa sebenarnya jumlah provinsi di Indonesia?

Rizal tampak tak nyaman dengan pertanyaan itu. Dalam tayangan “John Pantau” di TransTV, Minggu 817/8), wajahnya tak yakin ketika menjawab, “34.”

John Pantau terkikik, dan dengan gayanya yang selalu menggoyang-goyangkan tubuh dan biji mata, dia tertawa tak yakin. Rizal dapat membaca “ejekan” ketakyakinan itu, dan menambah dengan, “Pasti kamu belum tahu kan, provinsi yang terakhir masuk, yakni Sulawesi Barat.” John makin tertawa, tubuhnya kian bergoyang, “Sulawesi Barat yaaaa?”

Di layar, tertera tulisan, “Bukannya Sulawesi Barat telah jadi provinsi sejak 2004″. Rizal memang salah, sampai kini Indonesia baru memiliki 33 Provinsi. “34, kalau Singapura diikutkan,” kata Soetrisno Bachir di acara yang sama, tanpa bermaksud meledek Rizal, tentunya.

Rizal juga mengelak ketika diminta hanya menyanyikan refrain “Indonesia Raya”, karena “Saya kalau bernyanyi harus dari awal, sudah jadi kebiasaan.” Rizal tahu dia diuji, dan dia tak ingin salah lagi.

Padahal, tagline “Save Our Nations” Rizal menyimpan anomali dalam dirinya sendiri. Bagaimana menyelamatkan bangsa, jika Rizal adalah pawang utama yang mendukung liberalisasi harga BBM dan privatisasi BUMN, dan negosiator yang menyerahkan pengelolaan Blok Cepu ke Exxon Mobile.

4/

HIDUP adalah perbuatan, berbuat untuk menyelamatkan bangsa. Barangkali, dibandingkan Soetrisno dan Rizal, hanya Lalu Slamet yang telah melakukannya. Lebih dari 20 tahun dia bekerja, membelah gunung dan membelokkan aliran sungai, tanpa bertanya apakah itu akan bermakna untuk bangsa, tanpa berpikir apakah “kegilaan” itu dilihat Indonesia. “Modal saya cuma ikhlas, jujur, dan tawakal. Saya tidak cocok untuk berpolitik,” katanya.

Lalu Slamet tahu, politik tak pernah menginginkan keikhlasan, kejujuran, dan ketawakalan. Karena politik dihidupkan oleh popularitas, uang, dan sebesar-besarnya kemunafikan. Dan kemunafikan adalah watak yang dihinggapi kemudahan untuk cidera janji, berkhianat, dan berbohong. Sayangnya, kebohongan terbesar acap kita temukan dalam iklan, –dalam arus kata-kata yang cuma duduk sebagai semboyan, dalam watak-peranan para aktris yang kini diundang ragam partai untuk berpolitik di senayan.

5/

Hidup adalah kemunafikan. Indonesia sungguh tak bisa lagi diselamatkan.

[Artikel di atas telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 24 Agustus 2008]

Kala Bayang

August 20, 2008

keakraban kita dulu alangkah
tanpa batas. keakraban yang kita pintal dulu
alangkah seumpama rama-rama yang bebas
sungguh seumpama rama-rama dan
musim bunga, musim bunga dan
rama-rama, dan bunga-bunga…
*

cantik, masih ingat kamu dengan semua percakapan kita? hari ini, aku membaca ulang semua bincang kita. entah kenapa, aku kangen banget sama kamu, dan aku malu. ini kejadian yang langka; aku kembali ke muasalku, mengedepankan rasa, bertungku dan hangat dengannya.

membaca ulang ucap-riang itu, senyum dan rasa bahagia mendatangiku lagi. aku takjub pada kebersamaan kita dulu –alir cerita yang dahsyat, alur yang begitu lena, pembagian tawa dan luka yang mahasempurna– yang kini, aduh, entah kemana? aku takjub dengan keberanianku dulu, yang demikian nyaman mengungkapkan betapa aku kangen kamu, sayang kamu, dan ingin –suatu waktu– menikmati malam dan hujan denganmu. aku takjub dengan magnit dan segala suasana, yang membuatku terhubung denganmu, salut dengan diriku yang begitu ikhlas terbuai dengan rasa itu, tanpa takut kehilangan apa pun dari harap yang jelas tak bersandar pada sebuah nisbat tentang kebersatuan.

kukira, dulu, aku jatuh cinta padamu. sekarang, aku tahu, aku memang pernah mencintaimu. dan mungkin akan mencintaimu lagi, jika kau satukan ruang-waktu untuk kembali menyapaku.

ah, sudahlah. aku menyapamu, hanya mengabarkan, betapa aku memutar ulang kembali apa pun tentang kita; semuanya, tanpa sisa, memamahnya, mencoba mengerti, mencari lagi, semoga magnit itu, masih memberi kesempatan untuk menautkan kita, membuat kenangan yang lebih banyak, lebih panjang, lebih melenakan, lebih ngalir, meski tak kita bebankan pada tujuan.

aku mengenangmu, cantik: mengenangmu, sama seperti ketika kali pertama kita berbaku sapa, kala aku membayangkan kamu, dalam bingkai yang tak tercemari apa pun, sampai kini.

maafkan, jika kekangenan ini, sekarang, mengganggumu.

*) dikutip dari ingatan pasase pertama dari novel segi empat patah sisi

Hatta, Revolusioner di Jalur Lurus

August 15, 2008

SEPANJANG hidup Hatta, ada satu masa yang membuat matanya berlinang air mata. Bukan saat proklamasi, karena ini memang air mata duka. Suatu masa ketika Soeharto berkuasa, dan Hatta tak mendapat izin membentuk Partai Demokrasi Islam Indonesia, ramuan antara Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia, yang diberangus Soekarno.

Masa itu, awal tahun 1970-an, Soeharto adalah raja. Dan Hatta, yang seluruh hidupnya ia baktikan untuk kepentingan negara ini, tak dianggap sebelah mata oleh Soeharto. Bukan hanya haknya untuk mendirikan partai politik dihapus, tapi hak Hatta untuk ambil bagian dalam kehidupan politik pun ditangkal. Hatta tak tahu lagi harus berbuat apa.

Hatta memang adalah sosok yang sunyi. Ia selalu menempuh jalur lurus, dan tak heran, jalam pikirannya gampang ditebak. Tapi dia kukuh dalam pilihan. Hidupnya adalah bauran antara keberhasilan seorang anak manusia, dan kegagalan cita-cita besar: mendemokratisasikan bangsanya. Bukan karena dia tak punya kuasa, melainkan jalan yang telah ia rintis, tiba-tiba ditutup, dibelokkan, bahkan diputuskan. Namun Hatta, dalam diam, tak pernah merasa optimisme itu harus ia tinggalkan.

Tak heran jika Mavis Rose, sejarawan Australia, menulis sosok proklamator ini dengan penuh takjub. Dalam bukunya Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, yang ia selesaikan jauh setelah Hatta meninggal, terasa sungguh, Rose merasa kehilangan.

“Hatta melukiskan ketegasan, keberanian, dan optimisme yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin Indonesia jika dia harus menghadapi kekuasaan kolonial, dan memerdekakan bangsanya.

“Dia telah memainkan peran yang penting dalam mendirikan Indonesia, sekaligus menjadi seorang negarawan kaliber tertinggi yang siap mengorbankan ambisi, kekayaan, dan kedudukan demi cita-citanya.”

Bukan Sosok Pemberontak

Hatta lahir 12 Agustus 1902, di Bukittinggi, Sumatra Barat. Alam minang, ayah dan kakeknya yang ulama tarekat terkenal, mendidik Hatta kecil dalam kehidupan yang egaliter-demokratis.

Hatta sesungguhnya seorang muslim yang elektis; sufi, wahabi, sekaligus modernis. Meski pendidikan Belanda yang ia terima kelak membuat ia terbius pada filsafat Barat, Hatta yakin, perjuangan untuk rakyat adalah tugas suci agama.

Ketertarikan Hatta pada ekonomi bukan sebuah kebetulan. Semua datang dari keluarga ibunya sebagai pedagang yang berhasil. Dari sinilah Hatta melihat faktor-faktor ekonomi amat berpengaruh bagi rakyat, terutama setelah ia aktif di Jong Sumatren Bond.

Selepas MULO, ia bersekolah ke Prins Hendrikschool, sekolah menengah dagang di Batavia. Di sini ia akrab dengan de Socialisten karya HP Quark, yang membuka matanya, sosialisme bukan temuan Marx tapi sudah ada sejak zaman Yunani.
Sosok Hatta memang bukan tampilan pemberontak. Tapi setelah dia bersekolah di Rotterdam Handelshogeshcool, jiwanya menjadi revolusioner sejati. Dia aktif di Perhimpunan Indonesia, dan saat dilantik menjadi ketua, dia menggugat lewat pidato “Struktur Dunia Ekonomi dan Konflik Kekuasaan” dengan analisa Marx dan Hegel.

Hatta mulai terkenal, dan dunia kolonial agak guncang. Kecamannya dalam jurnal Indonesia Merdeka di jantung kekuasaan Belanda, membuat Kolonial mulai memperhitungkan sosok ini. Terutama setelah raga yang menjauhi minuman keras, dansa dan pergaulan kalangan atas ini bersumpah, tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Sumpah yang memang ia tepati!

24 September 1927, Hatta menulis pembelaan atas pembuangan dr Tjipto Mangunkusumo ke Bandaneira. Ia ditangkap. Tapi, dalam sidang di mahkamah Belanda, Hatta kian beringas. Gugatannya berjudul “Indonesia Vrij, Indonesia Merdeka”, sangat keras dan tajam: kini menjadi literatur politik klasik.

Hatta tak jera. Namanya melambung, dia kembali ke Jawa. Dia, bersama Sjahrir, mendirikan koran Daulat Rakjat dan menulis dengan pedas. Ini merisaukan Gubernur Jendral Belanda De Jonge, yang menilai dua orang itu lebih berbahaya dari Soekarno. Keduanya ditangkap Februari 1934, dan kemudian di buang ke Boven Digul, Irian. Di tempat paling mengerikan ini, Hatta membawa 16 peti bukunya, dan sampai bebas di tahun 1941, ia tetap menulis untuk koran Melayu dan Belanda.

Selalu Memaklumi Soekarno

Melalui tulisan-tulisannya itu Hatta bukan saja berhasil mengembangkan pemikian politik, ekonomi dan sosial yang amat orisinal melainkan ia juga secara jenial mengaitkan semua itu dalam konsep kedaulatan rakyat. Dia menemukan kontradiksi antara “kolektivisme-komunisme” dan nasionalisme-daulat rakyat”, yang membuat dirinya acap bersebrangan dengan Soekarno.

Hubungan Hatta dengan Soekarno memang drama paling menarik dalam kehidupan awal bangsa ini. Untuk banyak hal, dalam gaya dan konsepsi serta arah perjuangan, mereka memang berbeda. Dan Hatta selalu mengecam keras tingkah laku dan kebijakan politik Soekarno. Tapi secara pribadi, ia merasa saudara kandung Soekarno.

Dalam Demokrasi Kita, bukunya yang mengecam demokrasi terpimpin Soekarno, dia meramalkan kegagalan konsep itu, tapi tetap mencoba memahami Soekarno.

“Soekarno adalah kebalikan dari tokoh Memphisthopeles dalam Faust-nya Gothe. Tujuan Soekarno selalu baik, tapi langkah-langkah yang ia tempuh, acap menjauhkannya dari tujuan itu,” tulisnya.

Demokrasi Kita tentu saja bukan sekadar polemik pribadi Hatta dengan Soekarno. di buku itu dia meramalkan, demokrasi yang disusun atas akar kebudayaan kita akan jaya. Sayang, kejatuhan Soekarno, dan bangkitnya firaun Soeharto tak mewujudkan ramalannya. Maka, dengan masgul dia menulis, mengutip Julian Benda tentang pengkhianatan kaum intelektual, mengecam Soeharto dan menikam cendekiawan yang mengabdi pada kekuasaan itu.

Rahim Kemarau

August 14, 2008

kulupakan hari-hari yang lewat
agar aku dapat hidup kembali di hari ini
kubuang puing waktu ke kuburannya yang paling rahasia
barangkali serahasia mimpi
yang ada kemudian hanyalah kesamaran
semakin samar
dan… hilang*

tapi dia tidak sepenuhnya hilang. gerimis yang tiba-tiba merintih pagi ini, yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku mengingatnya. kepedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk tetap bertandang.

“ia, aku senang kok sempat jadi hujanmu. makasih juga telah dibuatkan tulisan seperti itu.”

aku hanya bisa menulis, debar. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang “sempat” bisa jadi abadi, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu, tulisanku dapat membuat hujan mau tercurah selamanya.

“hujan akan selalu ada, ia. meski bukan aku lagi. bukan aku lagi…”

******

“kamu bisa ikhlas kan, ia?”

bukan bisa. tapi harus, debar. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. jika yang memintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan…

“iya ya, bener banget.”

setiap sahabat adalah rahmat. setiap rahmat adalah harap, debar…

“dan setiap harap pasti berjawab, kan?”

dan harap itu cintaku, tidak bicara tentang keabadian, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan.

“bagaimana syukur dalam keterbatasan, ya?”

iya, dengan meyakini, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahmu yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku harus mampu berterimakasih dengan meski….

*******

alam memang contoh terbaik dari keajaiban. jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata. pelan-pelan, aku patrikan hal itu di benakku. aku ikhlaskan dia pergi, tanpa sesal, tanpa pedih. aku kenang semuanya dengan tawa, ucap syukur, dan rasa lega, seperti keleluasaan rasa yang hinggap saat pertamakali kukecup matanya.

berjalanlah, kasih. aku tak memberatimu lagi. karena seperti katamu, engkau tetap akan pergi, kini atau nanti. bergeraklah, raihlah kegembiraanmu. yakinlah, dari tiap sujud sempurnaku, akan tetap lahir doa-doa terbaik tempaan ribuan tahun, yang memanteraimu, menjagamu, agar tetap bahagia, seperti saat sebelum engkau denganku berjumpa. bergegaslah….

*) dikutip dari ingatan, satu pasase dalam novel segi empat patah kaki

Dewasa, Mencari Lelaki

August 14, 2008

Papa sudah dari tadi mengetok kamarku, dan masuk begitu aku izinkan. Matanya agak kaget melihatku belum cuci muka. Tapi, Papa kemudian tersenyum, dan ikut menempelkan keningnya di kaca jendela. Kami berjajaran, belum juga bicara. Kulirik, kaca di depan Papa pun mengembun, bau rokok yang samar kurasakan keluar.

“Ada apa, Ila? Mau main hujan?” tanya Papa, tanpa mengalihkan wajah.

Aku mengangguk.

“Ila….”

Oalah, Papa pasti tak melihat anggukanku. “Iya… tapi malu, Pa. Nanti pasti Papa meledek, bilang Ila belum dewasa.”

Papa memaling, tersenyum. “Apa hubungannya hujan dan dewasa?”

“Ya ada, Pa. Papa kan tahu, Ila suka mandi hujan. Dari dulu. Dan kalau mandi hujan, Papa juga pasti tahu, paling enak itu telanjang. Nah, kalau Ila telanjang, Papa pasti marah, dan menganggap Ila kekanak-kanakan, atau edan. Iya, kan?”

Papa tertawa, bergelak. Jemarinya mengacak rambutku. “Hari ini tidak sekolah?”

Aku menggeleng. “Malas, Pa.”

“Ya sudah. Tapi jangan lama-lama malasnya.” Papa pergi, setelah mengelus pipiku. Aku tahu, Papa pasti menuju kamar adikku, bertanya ini-itu, selalu begitu sejak dulu.

Aku kembali terperangkap kemalasan. Tak tahu sebabnya. Jendela kubuka, angin yang basah segera menyerbu kamarku. Tapi kemalasan ini tak juga pergi. Aku tak akan sekolah. Bolos. Tanpa surat izin. Tak mungkin kan, menulis “malas” di surat izin? Berbohong dan bilang sakit? Papa pasti akan marah.

Ihh… kenapa ya bisa begini, bahkan keluar kamar pun aku tak tergoda. Mama pasti sibuk di dapur sana. Membuat sarapan, meski sekadar telur ceplok atau dadar. Samar, angin menerbangkan bau dapur ke kamarku, memancing kemeriyuk usus di perutku. Sarapan? Malas ah!

Aku memang diizinkan Papa untuk tak sekolah, jika malas. Papa tidak pernah ingin aku melakukan sesuatu dengan terpaksa. “Kemalasan itu bukan dosa,” kata Papa, “Sepanjang tidak membuat orang lain jadi menderita.” Maksud Papa, aku boleh malas dan tidak melakukan apa pun, jika kemalasan itu tidak membuat rugi orang lain. Bersekolah misalnya. Cuma satu kemalasan yang tak diizinkan Papa, salat. “Malas pun, semalas-malasnya, kamu harus tetap salat,” pintanya. Itu harga mati. Aku tak pernah menawarnya, tak pernah berani.

Papa sesungguhnya ayah yang luar biasa. Meski sedikit bicara, tapi seluruh gestur Papa menunjukkan dia sangat <I>care</I> pada keluarga ini. Papa juga sangat menghargai hak pribadi. Ia tidak akan pernah berani masuk kamarku sebelum aku izinkan. Papa juga tak pernah membuka laci mejaku, telepon selulerku, bahkan saku kemeja atau celanaku. Bagi Papa, sesuatu yang belum aku ceritakan, adalah rahasiaku. “Rahasia itu adalah harta berharga bagi setiap orang. Hanya kepada orang yang paling dia cintai, harta itu ikhlas dia bagi,” kata Papa.

Aku selalu tertawa jika Papa bicara begitu. Dan sambil kurangkul, selalu aku “sanggah” ucapannya. “Kalau Ila belum cerita, itu bukan berarti Ila tidak cinta Papa. Ila cuma menunggu, sampai cinta itu bertambah tua. Seperti Papa, hahaha….” Papa biasanya tertawa, dan memencet hidungku.

Papa juga tidak berusaha tampil sempurna. Kalau ke mal, misalnya, Papa masih sering tergoda pada wajah-wajah cantik, dan menatap lama, terkagum-kagum. Papa tak pernah menyembunyikannya. Dulu aku pernah “marah” dan menegur Papa. Tapi dia cuma tertawa, demikian juga Mama.

“Kenapa Ila tidak marah kalau Papa juga memandang Ila, berlama-lama?”

“Lho, memang Ila cantik?”

Papa mengangguk, tersenyum.

“Tapi…, tapi kan Ila anak Papa.”

“Papa juga memandang mereka dengan mata seorang ayah….”

Halah!

Papa tergelak, demikian juga Mama.

Itulah Papaku, demikian dekat denganku. Aku kadang merasa bukan hanya menjadi anaknya, tapi juga sahabatnya. Bahkan, kemesraan Papa membuat aku kadang merasa menjadi “kekasihnya”.

Dan kedekatan itu mulai berubah. Papa bilang, aku harus mulai kenal lelaki, yang bukan Papa. Lelaki yang seusia denganku, dengan emosi dan pikiran yang setara. “Lelaki yang kepadanya, kamu berani membagi sedikit rahasia.”

“Ila sudah punya, Papa.”

“Hah! Siapa?”

“Elang.”

“Lha, itu kan adikmu?”

Aku tertawa.

Papa ingin aku tidak berada terus dalam image Papa sebagai lelaki yang “sempurna”. Papa bilang, kalau aku masih selalu membandingkan seorang lelaki dengan Papa, itu artinya aku belum dewasa. “Perempuan yang dewasa Ila, sudah dapat lepas dari bayang ayahnya. Menerima lelaki lain tanpa membanding. Kamu harus bisa.”

“Papa ingin aku punya pacar?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Papa ingin kamu punya teman lelaki agar kamu dapat belajar bernegosiasi. Percayalah, makin banyak kamu kenal teman lelaki, kamu akan tahu betapa menarik pikiran mereka. Mengenal mereka membuat kamu tidak akan terpedaya, Ila.”

“Apakah lelaki suka memperdaya, Papa?”

“Untuk wanita cantik, iya?”

“Papa juga sering, dong?”

“Lho, kok?”

“Ila kan cantik. Juga Mama.”

Papa tertawa, begitu kerasnya.

Yah, aku memang harus mengenal lelaki. Hmm… tapi siapa ya? Ray? Nggak ah, dia gak asyik. Heru? Ah, dia masih kekanak-kanakan. Viktor? Emoh ah, dia Batak. Hahaha… apa juga hubungannya. Kayaknya si Galang aja deh. Anaknya pendiam, penyendiri, dan suka puisi. Dia agak mirip Papa. Lho, kok malah “mencari” yang mirip Papa? Tidak, tidak boleh. Lalu siapa?

Papa….. Ila bingung niihhh!

Kepahitan Nabi Komunisme

August 8, 2008

SORE di tahun 1883 adalah senja kemurungan. Di sebuah perkuburan, Engels berkali-kali mengejapkan mata, merangkul dan menghibur Jenny von Westphalen, dan menyuruh para tukang menutup lubang pusara itu. Hanya delapan orang berdiri di sana, bergumam, mungkin berdoa, mengiringi kematian nabi komunisme, Karl Marx.

Ya, Marx memang mati dalam kesepian.

Sepanjang hidupnya Marx memang dikenal sebagai lelaki yang payah. Ia otoriter, dan dalam debat, selain tak mau kalah. Dia juga acap mencibir, lalu memburuk-burukkan pribadi rekannya. Tak heran, jika akhirnya Marx seakan tak punya teman, juga di saat ia sedang kesulitan. Teman yang paling bisa mengerti Marx, dengan segala keburukannnya itu hanya Engeles, penajam pemikirannya, sekaligus sekretaris tak resmi, dan penjamin finansial Marx. Jenny pun, istri Marx, meski terbilang bisa menerima kekasaran lelaki itu, setelah kematian putra mereka saat diterkam kemiskinan, setiap malam, acap histeris, seperti dikejar mimpi buruk.

Marx lahir 5 Mei 1818 di Trier, kota di perbatasan Barat Jerman, yang saat itu masuk wilayah Prussia. Ayahnya, Heinrich, seorang ahli hukum, yang meraih jabatan itu dengan berpindah agama dari Jahudi ke Protestan. Ibu Marx, Henreitta, semula menolak pindah, tapi 8 tahun kemudian, ia menyerah. Marx kecil tahu benar posisi sulit ibunya. Dan kelak, kemudahan si ayah untuk berpindah agama, membuat Marx kehilangan minat untuk beragama.
Sastra, Filsafat, Tersesat

Sejak kecil, perhatian Marx sudah terpusat pada sastra dan humaniora. Dia mendapat tentor yang baik, Ludwig von Westphalen, yang dengan riang menjejali Marx sastra dan filsafat. Hidup Marx pun berjalan dari Shakespeare, Carventes, dan Hegel.

Selepas sekolah menengah, Marx tak membantah di masukkan ke Fakultas Hukum Bonn. Namun, cuma setengah semester ia bertahan, dan melompat ke Universitas Berlin, fokus pada filsafat. Masih semester dua, Marx sudah masuk kelompok diskusi paling ditakuti di kampus itu, Klub Para Doktor, dan menjadi anggota yang paling radikal. Kelompok ini selalu memakai Filsafat Hegel untuk menyerang kekolotan Prussia. Tak heran, klub ini pun digelari “Kaum Hegelian Muda”. Namun karena mereka juga menentang agama Protestan, klub ini digolongkan menjadi Hegelian Kiri, lawan Hegelian Kanan, yang menafsirkan Hegel sebagai teolog Protestan.

1841, Marx menjadi doktor dengan disertasi “The Difference between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus”. Kertas kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat Hegelian, dan antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat, dan mulai dijauhi rekan-rekannya.

Meski terkesan, tapi nalar kritis Marx menemukan inkonsistensi filsafat Hegel. Satu pertanyaan selalu mengiang di benak Marx, mengapa masyarakat Prussia tidak seperti yang dicita-citakan Hegel. Marx kemudian tahu jawabnya: Hegel hanya seorang teoretikus. Bagi Marx, itu tak cukup. Ia beranggapan, filsafat harus menemukan tenaga ledaknya sebagai praxis, memerdekakan manusia, menjadi tenaga praktis-revolusioner.

Tulisan-tulisan Marx berikutnya sangat memesona kaum bohemian Jerman. Ketika pemilik koran Reinische Zeitung Moses Hess memintanya menjadi penulis tetap, Marx tak menolak. Tapi, kehadiran Marx cuma membawa bencana bagi Reinische. Tulisan-tulisannya yang secara tajam menghina Rusia, dan membela kaum buruh, mendapat sambutan luas, terutama ajarannya untuk membentuk serikat buruh. Teorinya tentang nilai lebih, membuat Kaisar Rusia Nicholas 1, tak kuasa menahan marah. Nicholas meminta Jerman membredel koran itu, dan tamatlah karier kerja Marx.

Dalam masa menganggur dan miskin itu Marx justru jatuh cinta, dan melamar Jenny, putri mentor masa kecilnya, Ludwig von Westphalen. Keluarga Westphalen menolak, tapi Jenny yang kagum dengan pikiran Marx justru menerima. Dalam kucilan keluarga, di sore April 1843 mereka menikah.
Bersandar pada Engels

Bulan madu bagi Marx justru diisi dengan menulis. Ia meringkas hampir seratus jilid buku-buku filsafat-politik, dari Montesquieu, Rousseau, dan The Essence of Christianity Feuerbach. Kelak, hampir seluruh pemikiran Marx bersandar dari filsafat Feuerbach ini.

1843, Marx pindah ke Perancis. Di sini, meski miskin, pikiran Marx berkembang bak spora. Ia tenggelam dalam filafat Proudhon, Louis Blanc, Fourier, Saint-Simon, dan Blanqui. Tapi, keberuntungan terbesar Marx adalah saat berkenalan dengan Engels. Bersama Engels, Marx menjadi seorang sosialis, yang berpendapat segala masalah sosial bertumpu dari kepemilikan pribadi.

Engels yang kaya, pemilik industri tekstil, menjadi sahabat sejati Marx. Ia merevisi banyak pendar-pendar pikiran Marx menjadi uraian yang tajam dan berstruktur. Engels hanya meminta Marx berpikir dan menulis, dan menjamin ekonomi keluarga Marx, meski tak mewah. Saat Marx diusir dari Perancis pun, Engelslah yang menawarkan London sebagai persinggahan terakhir Marx. Di sini, Marx mencoba bekerja di bagian karcis kereta bawah tanah. Tapi karena tulisan tangannya yang tak terbaca, Marx pun dipecat.

Marx kemudian fokus menulis dan berhenti jadi motivator kaum buruh. Obsesi Marx kemudian adalah menunjukkan teori-teori sosial yang dia tulis menjadi kenyataan. Marx menceburi filsafat ekonomi, dengan susah payah. Baru 1867 ia berhasil menerbitkan magnum opus-nya, das Kapital. Meski buku pertama ini tak jelas fokusnya, nama Marx kian menjulang. Dan Asosiasi Buruh Internasionale Pertama memintanya menjadi pimpinan.

Marx kemudian menjadi penasihat utama dalam aksi-aksi organisasi itu. Tapi, perbedaannya dengan sayap anarkistik Michael Bakunin membuat organisasi itu pecah, sembilan tahun kemudian.

Setelah itu, meski terkenal, kehidupan Marx sepenuhnya berada dalam kesepian. Dia menyelesaikan dua jilid das Kapital lanjutan, menerbitkan artikel untuk New York Daily Trubune, semua atas suntingan Engels. Dan di tahun 1883, nabi komunisme ini meninggal, dalam kemelaratan, dan dikubur tanpa perayaan. Tapi dalam kuburnya, Marx mungkin tersenyum, karena di antara 8 orang yang ikut memakamkannya, ada beberapa buruh dan tukang, kaum yang selama hidup menjadi titik pembelaannya.

Taman, Prasasti Ingatan

August 8, 2008

Tak ada hujan di dua hari ini. Kemarau –musim yang kubenci– tampaknya, mulai bertandang. Pagi tadi, uap embun pun tak kurasakan bersisa di ujung pohon singkong, yang memagari taman belakang rumahku. Udara memang masih dingin, dingin yang kering. Mawar ungu, yang dahan berdurinya menjuntai, kelopak kembangnya tak menyisakan bintik air sisa malam. Juga talas hutan, telapak daunnya mengasap, menahan kering.

Aku pun telah merasakan kemarau, di dadaku.

Kemarau adalah bunga yang menguning satu-satu, lalu layu. Talas yang berubah hijau tua, juga tanah yang ditinggalkan rerumputan, menandus, dan merekah, beretakan. Aku tahu betul metamorfosa alam itu. Dari jeruji jendela kamarku yang menghadapi taman, perubahan itu selalu terbaui hidungku. Setiap tahun, jika kemarau mampir, siklus sikap tetumbuhan di tamanku itu nyaris sama. Di sisi kanan taman, yang dipagari koral-koral bulat sekepalan, akan terbaring selang. Pagi dan sore, jika sempat, kusemburkan air, menepikan kemarau.

Karena, hanya taman itulah yang bisa mengusir kemarau, di dadaku.

Tamanku berada di bagian belakang rumah. Tak luas, 9×7 meter, di lingkari teras. Di taman itulah masa kanakku terpahatkan. Rumput Jepang yang menjadi alas tanah, membuat aku bebas bermain, tanpa takut jatuh dan terluka. Pinus paro-baya besar, tempat bersandar, ketika lelah mulai menggoyahkan kakiku. Saat menyandar di pinus itu, dapat kulihat seluruh bagian belakang rumah. Meski tak pernah bisa lama aku melepas lelah bertopang dagu. Papa yang biasanya duduk sembari membaca koran, akan memanggilku, memintaku masuk dalam pelukannya, memangku. Papa akan meminumkan teh dari gelasnya, mengusap keringat dari keningku sebelum mendaratkan ciumannya, dan berbisik pelan di telingaku, “<I>I love you</I>.” Papa lalu membacakan koran dengan suara yang cukup keras, meski aku acap tak mengerti. Tak lama, Papa pasti menggelar kolam-kolaman plastik, mengisikan air, dan membiarkan aku bermain di dalamnya, sepuasnya. Sesekali Papa akan mengangsurkan gelasnya, memaksaku mereguk teh pahit hangat kesukaannya.

Itulah rutinitas pagiku di hari Minggu. Bertahun lalu.

Di taman, masih kulihat jelas jejek-jejak kemesraan itu. Pinus itu telah kian menua, dengan batang yang membersih di bagian bawahnya, karena terlalu sering kusandari. Mawar ungu telah berganti beberapa kali. Nyaris tiap awal penghujan, ditanam mawar-mawar baru, mengganti mawar lama yang pasti mati. Hanya talas hutan itu yang kuat bertahan, dengan cara menuakan kehijauan daunnya. Rerumputan Jepang pun menguningkan diri, sebagian mati. Meski nanti ketika hujan datang, seperti disihir, mereka menghijau lagi.

Kemarau memang mengubah tamanku. Tapi setiap penghujan, mereka akan kembali. Utuh lagi.

Cuma aku yang tak bisa kembali. Ditinggalkan masa lalu, masa kanakku.

“Menjadi gadis,” kata Papa, “adalah meluangkan waktu untuk diri sendiri. Menjadi gadis adalah rajin bertanya, apa yang aku maui untuk hidupku.”

Aku mau kembali menjadi anak kecil Papa, yang disulangi ketika lapar, dan dipangku sembari minum teh bersama. Aku mau bermain air bersama, bergulingan di taman, dan berpura-pura jatuh dan terluka. Aku mau digendong, diayun-ayunkan, atau duduk di pundak Papa, dan memandang taman dari ketinggian tubuhnya. Aku mau dibedaki, diminyaki, diparfumi, sebelum dipakaikan kemeja atau celana. Aku mau semua hal yang dulu begitu indah dan mengundang tawa. Aku mau….

Tapi, “Bukan itu, Ila. Bukan itu. Semua yang kamu inginkan itu masih ada. Akan selalu ada, dalam wujud yang beda. Ila cuma harus menerima perubahan kemesraan kita. Karena Ila sudah dewasa,” jelas Papa.

Papa, kalau harus kehilangan semua itu, aku tak mau jadi gadis, apalagi dewasa. Aku tidak mau, Papa…

maafkan aku

August 8, 2008

Debar jantungku, telah kuikhlaskan engkau pergi. pergilah…

tapi, sebelum langkahmu menjauh, tolong maafkan kesalahanku. kau ingat, betapa dulu begitu susah aku menyebutkan namamu. tiga kata saja, dan begitu repot kuhapal urutannya. sungguh, aku tak tahu kenapa bisa begitu. namun percayalah, seterbalik apa pun aku menyapamu, di benakku kamu tetap indah. dengan kata apa pun lidahku menjeritkanmu, kaulah itu. ya, kamu.

aku juga sering salah mengenali suaramu, maafkanlah. kau tentu tahu, selalu kusapa mesra setiap kali operator telepon kantormu menghubungiku. kukira itu kamu, selalu kamu. sebenarnya, bukan hanya operator kantormu, nyaris setiap suara kukira kamu. terutama di hari-hari kangenku.

debar, aku bukan tak kenal warna suaramu. begitu terjajah gendang telingaku, sehingga membuat setiap gema selalu kukenali sebagai kamu. kini, setiap suara harus kusaring dua-tiga kali, sampai aku yakin, itu bukan kamu.

maafkan juga, aku yang sering menghubungimu tiba-tiba, hanya untuk mengatakan, “aku kangen kamu, kangen kamu…” percayalah, sebelum mengatakan itu, telah habis tenagaku untuk menahan gempurannya. aku kalah. jadilah, di saat-saat yang barangkali tidak kamu sangka, aku mengucapkannya. kini kusadari, betapa hal itu pasti membuatmu jengah, malu pada sekitarmu. sehingga, selalu kamu berbisik, “aku tahu, ia. aku tahu…” ucapan yang pasti membuat semua gemuruh di dadaku punah. gempa yang kehilangan tenaga.

yang utama, maafkanlah aku di pertemuan itu, karena kubiarkan waktu berjalan dalam diam. dan hanya kunikmati kamu bermain dengan ponsel, tanpa ada usaha untuk menarikmu masuk dalam arusku. tak kututupi pandanganmu yang “berjalan” pada lelaki di luarku. kubiarkan kamu bercerita tentang semuanya, tapi bukan tentang kita.

debar, aku sudah bahagia bisa bersama kamu. melihatmu, merasakan keras napasmu, melihat kau nyata, seperti keringatmu yang kuseka tanpa sengaja di punggung tanganmu. seluruh sketsa tubuhmu, yang semula hanya permainan bayang di benakku, adalah keajaiban. keajaiban itu pula yang membuatku tidak bisa melakukan apa pun, kecuali membebaskanmu, meluaskan pandanganmu. saat itu, kamulah yang memenuhi duniaku. jadi, bagaimana mungkin aku dapat menarikkanmu ke garis edarku?

aku juga pernah membuat kamu marah. ahh-, terlalu sering bahkan. ketika engkau cemas, aku seperti meringankan ketakutanmu. ketika kamu ingin berbagi, aku seperti berlari. ketika kamu menangis, aku malah memberi lelucon basi. ketika kamu cemburu, aku tak tahu. ketika aku cemburu, aku memaksamu tahu. maafkahlah semua itu… tak ada alasan pembenaran apa pun atas kebodohan itu. yang aku tahu, aku menyayangimu.

debar…, banyak sekali kebodohanku. menilasi semua kesalahan itu, aku insyaf, kamu telah menghipnotisku. dalam ketaksadaran atas pesonamu itulah aku berani mendekatkan garis takdirku, menjajarimu. kumimpikan, suatu waktu, garis itu akan menyilang, bersinggungan, nasib kita bertemu. nyatanya, kamu bergerak lebih lekas, terlepas. jadi, jika memang kau harus pergi, pergilah…. karena aku tak akan mampu menahanmu. cuma, jangan paksa aku melupakanmu. karena dengan mengingatmulah aku merasa, ada satu fase dalam hidupku yang demikian bermutu.

pergi, pergilah, debaranku. maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu. karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu.

Next Page »