Gibran, dan Moralitas Orang Tua

September 15, 2006

Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra kerinduan diri Sang Hidup. Melaluimu mereka ada, namun bukan darimu. Meskipun bersamamu, mereka bukan milikmu.

Five V sesenggukan. Air matanya menggerus make-up di sisi hidungnya. Di depannya, di atas meja yang rapi tertata , terpajang tart dengan lilin menyala. “Untuk anakku, di mana pun kamu berada… selamat ulang tahun, ya…” Tangisnya kembali pecah.

Ya, Five V merayakan hari ulang tahun anaknya, Bilkis Emeliski. Namun, tak ada raut Bilkis di antara kerumunan itu. Mantan suami Five V, Iwan, membawa Bilkis usai perceraian mereka, dan tak pernah membolehkan artis cantik itu untuk menemuinya. Five V bahkan tak tahu di mana Bilkis berada. Padahal, Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan memberi hal pada Five V untuk mengasuh Bilkis. “Ternyata, lewat hukum pun, dia tak merespon baik,” tutur Five V di “Otista”. “Ini sungguh nggak fair. Kayak dia yang ngelahirin aja,” geramnya.Five V tidak sendiri. Zarima dan Jane Shalimar pun mengalami hal yang sama. Usai perceraian, anak mereka dijadikan sandera oleh mantan suami. Seperti Five V, Jane dan Zarima juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk dapat memeluk buah hatinya. Apa daya, hanya tangis yang akhirnya mereka dapat. Kedua suami mereka merasa lebih berhak untuk mendidik sang anak.

Uniknya, nasib ketiga wanita ini berbanding terbalik dengan Tamara Bleszinsky. Tamara justru merasa lebih berhak untuk mengasuh Rassya, buah cintanya dengan Rafly. Delapan bulan dia menghaki Rassya sendiri, dan membiarkan Rafly menempuh semua cara. Sampai akhirnya, di ujung bulan lalu Tamara “menyerah”, dan bersedia berbagi asuh dengan Rafly, di kantor polisi, dengan berbagai kompensasi. Rafly lega, Rassya juga. “Yang terpenting sekarang membuat Rassya senang. Saya ingin mengembalikan delapan bulan yang hilang,” ucapnya, sebagaimana tayang di “Insert” TransTV.

Seteru pikir

Berikan kasih sayangmu, tapi jangan paksakan pikiranmu. Sebab mereka berbekal pikiran sendiri. Berikan rumah untuk raganya, bukan jiwanya. Jiwa mereka adalah penghuni masa depan. Yang tak dapat kau gapai, meski dalam impian.

Berbeda dari kasus di atas –anak dianggap sebagai milik–, kasus Kiki Fatmala dengan Fatma Farida, Jonathan Frizy dengan mamanya, dan Dhani Ahmad dengan Eddy Manaf, lebih mencerminkan konflik antara orang tua dan anak. Tak heran, cap durhaka pun mampir kepada Kiki, Jonathan, dan Dhani. Meski, kalau mau dilihat dari perspektif lain, “orang tua” durhaka pun layak dicapkan untuk kasus ini. Fatma Farida yang menyumpahi Kiki, bahkan berikrar untuk tak rela dimandikan dan dikafani jika dia menjadi mayat nanti, dan mengungkapkan semua “keburukan” anaknya ke media, sulit untuk diterima dengan simpati. Demikian ibu Jonathan, yang ternyata tak membantah telah “lupa” atas diri anaknya, membuat pemirsa mulai ragu tentang mitos kasih seorang ibu. Perseteruan Dhani dan Eddy apalagi. Keduanya memakai bahasa yang sama, untuk mengungkapkan kemarahan mereka. Tapi, lebih daripada persoalan “siapa mendurhakai siapa”, untuk kasus Dhani dan Eddy, kita dapat menilainya dengan kacamata yang lebih jernih, menisik akar persoalan.

Masalah Dhani-Eddy bermula dari kabar kawin siri. Eddy tidak setuju dengan hal itu. Di tayangan awal kasus itu, dengan santai pria tua ini berkata, “Saya sayang sama tiga cucu saya, pintar-pintar dan tampan-tampan. Bagi saya, hanya Maia itu menantu saya. Jadi, saya tidak akan merestui jika Dhani mau kawin lagi.” Barangkali, akar masalah ini yang tidak “diinvestigasi”, “diinsert”, “disilet” oleh media teve, ketidaksetujuan Eddy jika Dhani sampai kawin lagi. Dan, sikap “politik” itu yang kemudian memicu pertengkaran antara keduanya, setelah Dhani mengirim SMS, “Urus saja kepentingan Papa sendiri…”

Akar masalahnya di situ, perbedaan pandangan. Dhani, di “Lepas Malam” TransTV dengan santai berkata, “Yang penting jangan berzinah, jangan memfitnah.” Dan satu lagi, seperti Eddy, media pun tak dapat “membaca” Maia, istri Dhani, yang tenang, diam, dan tertawa, ketika diimpit gosip itu. Dan di sinilah kita dapat melihat, Eddy masih menganggap Dhani adalah miliknya saja, bukan milik Maia, atau Joice, istrinya. Dhani adalah anaknya, kepunyaannya. Dan sebagai milik, anak harus dapat dikendalikan, diarahkan, dijaga, karena selalu dianggap belum dewasa. Ini pandangan yang umum, dan masih menjadi “arus utama moralitas” masyarakat kita. Karena itu juga, media pun bersikap sama. Tak heran jika akhirnya, “pertengkaran pikiran” itu dimaknai sebagai kedurhakaan. Stigma yang terlalu terburu dan kejam.

Moral tua

Engkau dapat menjadi seperti mereka. Tapi jangan buat mereka menjadi seperti kamu. Sebab kehidupan tidak surut, dan tiada tinggal bersama kemarin. Engkaulah busur, dam mereka anak panah yang meluncur.

Dari ragam peristiwa di atas, kita dapat melihat bagaimana “ambiguitas moral” media, terutama televisi. Dapat dikatakan, untuk tiap acara, teve punya ukuran moral yang berbeda. TransTV misalnya, memakai “moralitas longgar” untuk tayangan “Fenomena” atau “Penjaga Pantai” , dan “moralitas ketat” untuk tayangan “Cerita Sore”. Karena itulah, di “Fenomena”, seks bebas dan segala variasinya, dianggap sebagai gaya hidup metropolitan. Ditayangkan tanpa sinisme, kecaman, atau makian. Presenter berada di tapal netral, dan terkadang memaklumkan. Di “Cerita Sore” sebaliknya. Tak ada tapal netral. Semua jelas, hitam atau putih, dosa dan pahala. Anehnya, untuk “infotainmen” semua teve memakai moralitas yang sama, keketatan atau “moralitas orang tua”.

Yang dimaksud dengan “moralitas orang tua” adalah ukuran nilai yang telah mapan dan terus dimapankan, sebagai model yang dipercayai menjadi jaminan untuk mendapatkan kepastian di dalam hidup. Karena itu juga, nilai ini dianut oleh banyak orang, dimitoskan, diwariskan, dan dijaga. Nyaris menjadi sebuah kemustahilan untuk mengevaluasi moralitas tua ini. Anak sebagai milik adalah salah satunya. Ucapan untuk bayi yang baru lahir, “semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua, bangsa, negara…” menegaskan hal itu. Bahkan sebelum hak untuk dibesarkan dalam kasih sayang dinikmati si anak, “kewajiban” baginya telah diikatkan. Anak dan orang tua tak dapat dipisahkan. Dalam moralitas ini, orang tua yang justru menjadi beban bagi anak, membebani si anak. Contohnya, tampak di “Dorce Show”, yang menampilkan anak-anak Krisdayanti, Ruth Sahanaya, dan Ikang Fauzi-Marisa Haque. Di akhir acara, Dorce “menguji” mereka, apakah dapat bernyanyi seperti orang tuanya. Anak Uthe bernyanyi gemilang, demikian juga anak KD, dan Ikang. Penonton bertepuk tangan. Tapi, lihatlah, apa yang mereka tampilkan hanyalah kemampuan teknis bernyanyi, bukan ekspresi diri. Bukan sebagai ekspresi, di panggung itu, mereka pasti tersiksa.

Moralitas orang tua memang menghilangkan suara anak. Itu juga yang terjadi pada Rassya, anak Tamara. Suaranya tak pernah didengar. Kalau pun didengar, dianggap tak ada. Kalau pun ada, dianggap tak punya harga. Rassya, bagi Tamara, adalah miliknya. “Dalam kasus ini, sudah waktunya kami mendengar suara anak. Kami tanya pada Rassya, dia mau ikut siapa? Dia memilih di sini, bersama ayahnya. Ini menunjukkan, fundamen pergaulan Rassya dan Rafly cukup kuat. Meski sudah 8 bulan tidak bertemu, sehari bersama, dia sudah memiliki lagi ikatan bersama ayahnya,” kata Iqbal Anshori dari Komnas HAM anak, di “Insert” (4/9), yang mencoba mendengar keinginan Rassya. Berapa banyak infotainmen yang berpikir untuk ikut “menyuarakan” suara Rassya? “Mempercayai” juga suara Dhani, Della Puspita, dan Kiki Fatmala? Dan tidak hanya menggemakan suara serta kesakitan orang tua, dan membuat gaung suara itu sebagai “kebenaran”? Kita tahu jawabnya, karena infotainmen sebenarnya manisfestasi dari kecemasan orang tua. Tak heran, di tayangan itu, kita acap lihat orang tua yang merasa jera dengan kelakuan anaknya, dan melabelinya dengan kata durhaka.

Padahal, “Setiap anak,” kata Tagore, “selalu membawa pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia.” Padahal, “Tuhan mengasihi anak yang panah yang melesat,” ucap Gibran, “juga mengasihi busur panah yang mantap.” Tapi kenapa, akhir-akhir ini, sebagai orang tua, kita seperti melupakannya….

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 17 September 2006]

Cinta dan Kebohongan Situasional

September 8, 2006

Cinta dirawat dan dipertahankan bukan saja oleh kejujuran, melainkan juga oleh kebohongan-kebohongan kecil, yang tak dapat diungkapkan, yang terpaksa disimpan untuk kebaikan.

“Plakk!!” Tamparan keras mendera pipi kiri Ricky, yang wajahnya masih pias, terkejut dengan kedatangan Ima, kekasihnya. “Jadi, begini ya kerjaan kamu di studio? Bersama perempuan lain?!” pekik Ima. Ia marah. Tapi lihatlah matanya, basah.

Ricky panik. Ia tergeragap, kehilangan kata-kata. “Ya.. mem.. memang begini ini, begini kerjaku?” Dan dia makin pucat ketika melihat lelaki di belakang Ima, pria tinggi-tambun, Danu, ayah Ima, calon mertuanya. Di belakang dan di samping Danu, tampak Yulia Rachman yang tersenyum, dan Joe Richard yang cengengesan. Ricky bahkan seperti tak menyadari Uya yang telah berjaga di sampingnya. Perlu beberapa waktu sampai Ricky menyadari apa yang tengah menimpanya. Ia sempat tampak emosi, dan mengacungkan telunjuknya pada Joe Richard, tapi Uya menghelanya ke luar studio. Sebelum berlalu, kata-kata Danu masih menghajarnya, “Hey, jangan pernah lagi berani kau injak rumahku!!”

Begitulah klimaks “Playboy Kabel” Sabtu (2/9), reality show yang berusaha “membuka” kegombalan pasangan cinta sang “pelapor”. Dan, tayangan Sabtu itu terasa istimewa, karena untuk kali pertama, pelapor adalah orang tua dari pasangan yang tengah berpacaran, Danu. Biasanya, kecurigaan datang dari salah satu pasangan, dan bukan orang tua. Tapi Danu berbeda. Dia menilai Ricky tak pantas untuk Ima. “Saya pernah melihatnya bersama perempuan lain di mal,” adunya pada Yulia Rachman. Dan untuk membuktikan ketaksetiaan itulah, dia mengajak Ima menghubungi “Playboy Kabel”. Dan “terbukti”, Ricky memang “tak setia”. Yulia mengamini keyakinan Danu itu, dengan “firasat orang tua memang banyak benarnya.”Godaan Bohong

Sebagai reality show, “Playboy Kabel” sejauh ini berhasil membuktikan asumsi umum bahwa lelaki memang makhluk yang paling tidak dapat dipercayai. 99% dari lelaki dan perempuan yang diuji “setia” dalam tayangan itu, gagal. Lucunya, kegagalan itu nyaris dengan alasan yang sama. Kepada sang penggoda, mereka mengaku belum memiliki pasangan. Padahal, di ruangan lain, pasangannya tengah menatap kamera tersembunyi, dan menangis, melihat ketidaksetiaan itu dipertontonkan. “dasar cowok tidak tahu diuntung!” umpat salah seorang pelapor.

Dalam tayangan itu juga, kadang tersibak beberapa kasus yang “ajaib”. Lelaki yang ternyata nyambi menjadi gigolo, hanya ingin mendapatkan harta dari pasangannya, atau bahkan yang ternyata gay. Realitas ini kadang membuat penonton terperangah. Apalagi melihat “Pelapor” tersedu menyadari kekasihnya ternyata seorang gigolo, mata duitan, atau diam-diam, gay. Namun di luar kamera “Playboy Kabel”, kesakitan tentu milik para lelaki yang terungkap “motifnya” itu. Andy yang gay misalnya, seperti apa dia menjalani hidupnya kemudian, ketika kamera menayangkan pengakuan tentang orientasi seksnya itu. Pasangannya pun, setelah keterungkapan, dan kelar dari kejut, memeluknya dan menangis. Barangkali ia sedih karena mencintai lelaki yang ternyata gay. Barangkali juga, ia menyesal, telah membuka orientasi seksual lelaki yang dia cintai itu kepada publik, yang sampai saat ini menganggap ke-gay-an adalah sebuah aib. Padahal, “Pelapor” mengungkap jati diri pasangannya secara detil, mulai nama, kuliah di mana, sampai tempat tinggal. Kamera yang acap close-up pun membuat penonton dapat mengingat wajahnya. Sekarang, bayangkan akibat untuk kasus lelaki yang terungkap sebagai gigolo?

Lucunya, “Playboy Kabel” telah membuat tiga kategori untuk para “pemain” dalam tayangan ini. Pertama adalah “pelapor”, lalu “korban”, dan “penggoda”. Penggoda, dengan arahan tim “Playboy Kabel” akan merancang skenario untuk menguji kesetiaan “korban”. Namun, yakinlah, seluruh struktur acara ini seakan menegaskan satu tujuan, “penggoda” harus berhasil menjalankan misinya. Maka, penggoda wajib lebih cantik dan seksi daripada “pelapor”. Lebih genit, dan sangat agresif. Keagresifan yang dapat disamakan dengan gaya pedagang asongan menjajakan barang. Bayangkanlah!

Kasus Ricky misalnya. Penggoda bertubuh sangat sintal, dan wanita matang, berbeda jauh dari Ima. Sangat agresif, manja, bicara dengan mendesah-pasrah, bahkan tak risi memberikan ciuman. Agresivitas yang bukan saja dapat mengguncang kesetiaan, melainkan juga struktur iman. Jika Ricky tergoda, dan saat ditanya mengaku belum memiliki pacar, bukan sesuatu yang mengejutkan. Kebohongan Ricky adalah jenis kebohongan yang lahir dari “situasi” yang memang diciptakan, dan “memaksanya”. Kebohongan yang, mungkin, lahir lebih bukan sebagai upaya mencari keuntungan diri semata. Karena, di depan perempuan yang demikian agresif, pasrah, mengaku suka, dan ketika dia bertanya, “kamu punya pacar, nggak“, lelaki mana pun akan berpikir dua kali untuk menjawab, “punya!” Pikiran pertama adalah, kalau dijawab jujur, tentu perempuan ini akan kecewa, malu, dan terluka. Kelak, lepas dari situasi ini, akan bisa dijelaskan semuanya. Pikiran kedua, “Masa sih gue harus jujur di depan kesempatan yang tidak akan datang dua kali??” Itu kebohongan situasional. Dalam kondisi itu, kebohongan tidak mengindikasikan bahwa Ricky telah mendua hati, dan tak lagi cinta pada Ima. Kebohongan yang lahir karena jebakan, sepatutnya dimaafkan.

Persoalannya akan berbeda tentu, jika seorang perempuan yang seperti Ima, datang tanpa pendekatan yang intens dan agresif, lalu bertanya pada Ricky, apakah dia memiliki kekasih. Jika situasinya seperti itu, Ricky pasti menjawab jujur. Kejujuran yang juga diciptakan oleh situasi. Itulah sebabnya, “Playboy Kabel” telah menerakan label “Korban” untuk si terlapor. Label yang sudah diciptakan bahkan sebelum terungkap “kebohongan” situasional tadi. Ricky dan lelaki lain yang pernah menjadi terlapor, adalah korban. Dan seharusnya, simpati untuk mereka, yang dijebak dalam situasi yang direkayasa, untuk memaksa mereka berbohong.

Makna Setia

Sebagai reality show, “Playboy Kabel” memang berpihak pada realitas yang selama ini dipercayai, lelaki adalah makhluk yang tidak setia. Karena itu jugalah, kesetiaan pada pasangan diukur dengan parameter yang sangat sederhana, kejujuran. Jika kejujuran berhenti, kesetiaan pun padam. Cinta pun usai. Padahal, kesetiaan seperti inilah yang dikecam filsuf cinta Gabriel Marcel. Bagi Marcel, kesetiaan bukanlah aktivitas yang tidak mengenal henti. Bukan pula ketahanan menghadapi godaan. Marcel dalam Homo Viator: Introduction to A Metaphysic of Hope mengatakan, “seseorang disebut setia jika memiliki kehendak untuk terus memelihara hubungan pribadinya dengan orang lain. Sikap setia itu dia tunjukkan untuk terus memperbarui komitmen kesatuannya dengan orang lain.” Itulah yang oleh Marcel disebut kesetiaan yang kreatif, yang tetap teguh dan mampu menciptakan kembali ikatan persatuan yang mungkin telah retak. Kesetiaan adalah kekuatan untuk menjaga, membimbing, menghadirkan ikatan, ketika ada komitmen yang terciderai. Di situlah tampak, kesetiaan tidak otomatis gugur hanya karena sebuah kebohongan karena ukurannya adalah keinginan untuk tetap terikat selepas kebohongan itu terungkap.

Nah, jika mengikuti pendapat Marcel, ujian kesetiaan justru lebih pada pihak “pelapor” daripada “korban”. Apakah si pelapor masih setia untuk tetap memperbaharui keterhubungan dan ikatan itu, ketika dia melihat pasangannya “berbohong”. Kesetiaan adalah energi maaf yang berusaha menarik kembali pasangan kita untuk berada di dalam komitmen yang sama, seperti sebelumnya. Kesetiaan adalah kebersediaan untuk menerima kembali “sang korban”.

Tampaknya, ukuran kesetiaan Gabriel Marcel ini yang paling tepat untuk menilai “Playboy Kabel”. Apalagi, tidak hanya lelaki, perempuan yang menjadi “korban” pun selalu gagal di acara ini. Tergoda lelaki yang lebih tampan, kaya, dan romantis. Artinya, dengan melihat betapa sedikitnya persentase “kejujuran” yang dapat dibuktikan dalam acara itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebohongan adalah sebuah hal yang menjadi mungkin ketika seseorang didudukkan dalam kondisi tertentu. Dan kebohongan situasional itu tidak pararel dan cocok sebagai ujian kesetiaan. Karena, saya percaya, jika Pak Danu, ayah Ima yang dijadikan “korban” dan digoda, dia pasti akan bertindak lebih jauh daripada yang dilakukan Ricky.

Maka, masalahnya tidak terletak pada “sang korban”, melainkan pada rekayasa yang membuat sebuah dusta terpaksa tercipta. Karena, cinta dirawat dan dipertahankan bukan saja oleh kejujuran, tapi juga oleh kebohongan-kebohongan kecil, yang tak dapat diungkapkan, yang terpaksa disimpan untuk kebaikan….

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 10 September 2006]