Episode Para "Pendurhaka"

December 28, 2005

KIKI Fatmala “didakwa” sebagai anak durhaka. Dia bukan yang pertama.

Sambil mengacungkan telunjuknya, Fatma Farida mengutuk, “Saya sumpahi dia tidak akan bisa punya anak selamanya! Biar semua orang tahu, Kiki itu anak durhaka. Saya sumpahi dia!” Fatma juga mengharamkan dirinya dimandikan Kiki, ketika kelak, dia mati.

Merinding kuduk saya menyaksikan sumpah itu. Apalagi, “Go Show” TPI menayangkan sumpah itu dengan slow motion, membuat desis, mimik, dan gerak tubuh Ny Fatma sepenuhnya tertangkap kamera. Lanskap yang menunjukkan betapa sakitnya perasaan Ny Fatma atas perlakuan Kiki. Dan tampaknya, sepanjang tahun ini, kasus “durhaka” Kiki adalah episode yang paling “mengerikan” yang terjadi di dunia selebriti kita. Ya, Kiki memang bukan yang pertama.

Sebelumnya, kengerian kasus “durhaka” ini dipegang Della Puspita. Perseteruannya dengan Hendry Pasman bahkan sampai ke pengadilan. Della, yang tidak mau mengakui Pasman sebagai ayahnya, yakin dia berayahkan pria jepang, Yakumi Sato, seperti pengakuan ibunya, Ngatimah. Sayang, tes uji DNA yang diperkirakan akan menentukan siapa yang benar dalam kasus ini, tak “berani” dilakoni Della. Dua kali surat pemanggilan dikirim, tapi Della dan Ngatimah tidak hadir.

“Kalau memang dia merasa tak bersalah, datang saja lalu tes DNA, supaya kelihatan siapa yang salah dan yang benar. Kalau seperti ini, kan, jadi berbelit-belit,” papar Hendry.

Kasus ini “berakhir” tidak jelas. Dan sampai kini, meski banyak bukti dan pengakuan dari tetangga Della di Malang bahwa Pasman memang ayahnya, Hendry Pasman yang merasa sakit tak pernah mengutuk Della. Dia hanya merasa harga dirinya terkoyak. Tapi ketika Della menikah pun, akhirnya dia mendoakan yang terbaik untuk Della. Pasman membiarkan masyarakat yang menilai, siapa yang benar antara dia dan Della.

Sikap Pasman itu tidak sendirian. Youke Mambo pun menempuh cara yang sama. Ia tetap mendoakan Pingkan Mambo yang menikah dan mengakui telah dia restui. Restu dari Youke inilah yang memancing keributan di keluarga besar Pingkan. Meski Youke akhirnya membantah dan mengatakan tak pernah dimintai restu oleh Pingkan, dia tak mau memperpanjang masalah. Ibu Pingkan pun, yang hubungan personalnya dengan sang anak tidak baik, tetap berusaha menampilkan sisi baik Pingkan. Ia misalnya, mengatakan Pingkan telah menikah, dan kehamilan Pingkan bukan tanpa suami. Meski akhirnya terbukti ucapan ini hanya pembelaan, sikap sang ibu, yang juga mengaku jarang sekali ditemui Pingkan, tetaplah berlaku sebagai ibu. Ia tak pernah mengutuk dan menyumpahi anaknya. Ia tetaplah seorang ibu dalam segala sikap dan watak anaknya. “Kedurhakaan” biarlah penilaian yang datang dari pihak luar.

Sebab Menantu

Buruknya hubungan ibu-anak, tak selamanya karena rasa malu si artis akan masa lalu keluarganya, seperti Della Puspita. Beberapa kasus menunjukkan, hubungan itu memburuk karena masuknya “orang lain” dalam kehidupan ibu-anak tersebut. Contoh terakhir adalah pernikakan Lyra Virna yang tak mendapat restu sang ibu, Mariana Wati. Eric Scada yang tak pernah direstui Mariana tetap dinikahi Lyra, yang memilih restu sang ayah di Pekanbaru. Padahal, seperti pengakuan Mariana, dialah yang mengurus Lyra sampai seperti sekarang ini. “Tiba-tiba dia mendapatkan ayah entah dari mana,” desisnya, seperti banyak tampil di infotainmen. Perseteruan itu menghebat. Saling klaim dan “hujat” juga terjadi. Dan di teve, kita melihat Lyra yang menangis, Eric yang bingung. Mariana yang marah, tapi dia tak menyumpah. Mariana tetaplah berlaku sebagai seorang ibu, meskipun sedang menyemburkan marah.

Itje Komar yang telah sekian tahun “berseteru” dengan Amara karena pernikahan anaknya dengan Frans Mohede pun tidak “mendurhakakan” anak. Ia juga menerima Amara dan cucunya. “Tidak pernah saya membenci mereka. Silakan Amara datang kapan pun, dia tetap darah daging saya. Tapi saya tidak bisa menerima suaminya…” Perseteruan mereka adalah soal pilihan hidup. Bagi Itje, Frans tidak pernah menjadi menantunya. Bagi Amara, dia tidak bisa ke rumah ibunya, jika Frans tidak diterima sebagai menantu. Di luar itu, ibu dan anak ini tak pernah saling hujat. Frans pun selalu santun mengomentari mertuanya. Frans bahkan mengakui, restu dari Itje Komar adalah harapan yang terus dia impikan. “Durhaka” adalah yang dituduhkan infotainmen, bukan yang Itje dan Amara defenisikan dari hubungan mereka.

Kasus “orang ketiga” juga terjadi pada Tere. Penyanyi ini memilih Eka sebagai suami, dan mengikutkan agama suami. Suatu pilihan yang tidak diterima keluarga. Tak ada restu dari keluarga besar Tere, apalagi dari ayahnya Drs. Tombang Mulia Pardede. Tapi Tere bergeming, ia tetap menikahi Eka. Dan di perbagai infotainmen, kita lihat Mulia Pardede yang sakit dan marah. Kita lihat Tere yang minta pengertian atas pilihannya. Fakta dan gosip bercampur, tapi satu hal, kasus ini tak berubah jadi saling menjelekkan dan menjatuhkan. Tak ada sumpah yang jatuh, tak ada kutuk yang tanggal. Tere melenggang dengan pilihannya.

Lalu ada Roger Danuarta, yang dikabarkan lupa pada ibunya yang miskin, dan berjualan makanan ringan di Surabaya. Juga ada kabar Lola Amaria yang lupa pada ibunya, tak pernah sowan apalagi titip uang. Tapi kembali, infotainmen tidak mendapat “kejutan”. Semua “kedurhakaan” itu “selesai” dengan tenang. Bombasme tidak pernah terjadi, dan gema tayangan “pendurhakaan” ini pun tidak lama. Tak ada pihak yang mau menjadi api untuk dibensini infotainmen. Maka, ketika Fatma Farida mendatangi teve dan menyumpahi Kiki Fatmala, saya terhenyak dan bertanya, kesakitan semacam apa yang telah ditikamkan Kiki pada ibunya? Kesakitan semacam apa, yang dapat membuat Fatma, melupakan nalurinya sebagai ibu, yang seharusnya –atau ini sudah semacam mimpi?– dapat menerima anaknya di dalam segala suasana. Dan ketika melihat air mata Kiki, saya seperti dapat membaca, itu bukan saja airmata penyesalan dan permohonan ampun, tapi juga airmata “kehilangan”, kehilangan kepercayaan pada arti paling murni dari seorang ibu, yang kini telah memberinya sumpah!