Tuhan dan Kecemburuan

September 18, 2008

Marilah kita bicara tentang Tuhan, yang kata Amir Hamzah, juga ganas dan memangsa: Engkau ganas/ Engkau cemburu/ Mangsa aku dalam cakar-Mu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Tuhan di sini, ibarat kekasih, yang tak ingin kecintaannya berpaling. Karena itulah, Ustad Fery, dalam satu nasihat yang bening, memperingatkan Azam, agar tak terlalu memikirkan Aya. “Jangan buat Allah cemburu, Azam. Karena tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah.”

Azam, tentu saja, terhenyak. “Kenapa Allah cemburu pada saya, Ustad?”

“Karena hatimu, setiap hari, lebih menzikirkan hal-hal duniawi.”

Bagi Ustad Fery, yang dimainkan Akri Patrio dengan bagus dalam Para Pencari Tuhan, cinta manusia pada apa pun, haruslah merupakan jalan untuk mencintai dan mendapatkan cinta Allah. Karena itu, anak, istri, kekasih, jabatan, harta, baru bernilai ketika dapat menjadi selasar untuk menjumpai sang Khalik.

Bertuhan, dengan demikian, lebih merupakan suatu pengalaman personal.

Dalam personalisasi semacam itulah, Tuhan acap “ditemukan” dalam banyak “wajah”. Novelis Danarto misalnya, mengaku melihat Tuhan dalam paras kanak, yang bercahaya. Atau Alm Gito Rollies, yang menjadi “kenal” dan akrab dengan Tuhan, ketika menanggungkan sakit. Zaskia Mecca malah merasa “ditegur” Tuhan lewat foto merokoknya yang tersebar. Di sini, dalam pengalaman personal mereka, Tuhan telah hadir, meski tersamar,  tampak, mengejawantah. Mereka merasakan persentuhan itu. Padahal, Chairil Anwar, merasakan betapa… susah sungguh/ Mengingat Kau penuh seluruh.

Tapi di sinilah dilema itu dimulai. Mengingat, mengenal, ditegur, adalah pengalaman yang mewaktu, ketika alpa dan ingat, dapat bertukar lepas dengan tangkap. Padahal, Tuhan yang datang lewat wahyu, justru mengatasi waktu. Wahyu hakikatnya tak mewaktu, melampaui masa, di luar fase sejarah. Jadi, bagaimana mungkin “sesuatu” yang di luar waktu, dbahasakan dalam personalisasi pengalaman?

Dilema itu punya titik temu: bertuhan adalah pengalaman personal yang terbahasakan.

Pengalaman personal yang dimaksud di sini adalah sebuah situasi yang berada di luar kala, semacam ekstase kaum sufi, suasana ning ketika berzikir, atau blank, suwung, tatkala menanggungkan sakit atau rindu. Dalam ketakmewaktuan itulah Tuhan hadir. Seperti “ketercerabutan” Muhammad dari realitas, kebersaatan, ketika menerima wahyu melalui Jibril.

Nah, kehadiran Dia yang di luar kala itu, tak punya arti, sebelum dikatakan dalam bahasa orang ramai. Itulah sebabnya, al-Hallaj, membuka rahasia syatahat. Yazid al-Bistami bernubuat di kelimun umat. Tuhan yang mereka dapat di dalam ketakberkalaan, bukan mereka simpan, tapi dileburkan dalam kancah perbuatan.

Bertuhan dengan demikian adalah perilaku. Adalah akhlak, sikap, tindak, adalah cara mencinta.

Ukuran kebertuhanan pun menjadi bukanlah pada pengalaman personal seseorang dalam kesendirian, kealiman batin dan kesantunan pribadi, melainkan kesalehan sosial, keberdampakan iman bagi orang banyak. Bertuhan, dan beriman, dalam skala yang paling akbar, adalah perjalanan atau pengalaman personal mikraj Muhammad, ketika mendapat pesan melalui bahasa langit, dan kembalinya Muhammad untuk mewartakan pesan tadi kepada umat ke dalam bahasa bumi.

Bertuhan, dan sekaligus beriman, “Bukanlah orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid,” kata Emha, “dan membiarkan beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.” Bertuhan adalah melihat segala hal sebagai “tak ada yang bukan Tuhan”,  al-fana’ ‘an al-nafs wa al-baqa, bi ‘l-Lah.  Segala nikmat dan laknat ibarat thariqah dan syariah,  sebagai jalan, atau pintu, meraih Tuhan.  Menyatunapaskan tugas lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Tapi tentu,  bukan dengan keinginan untuk meraih surga sendirian.  ”Di pintu-Mu aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling,” kata Chairil.

Diri yang tak bisa berpaling itulah, barangkali, insan yang  tak lagi dicemburui Tuhan.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 20 September 2008]

Wahidin, Pionir BU

September 12, 2008

Di penghujung tahun 1907, seorang lelaki tua, berteman sebatang tongkat dan blangkon yang memudar warnanya, memberi ceramah di depan mahasiswa STOVIA. Pramudya Ananta Toer dalam Jejak Langkah, melalui tokoh Minke, melukiskan lelaki tua ini dengan menakjubkan. Mata lelaki tua itu, bercahaya, seakan menyimpan bara semangat yang luar biasa. Dia berpidato tentang gagasan baru, tentang masa depan Indonesia. Gagasan yang di era itu seperti bersit sinar di malam gulita.

Di antara mahasiswa Stovia, hadir Soetomo. Dia tergugah dengan pidato yang tenang tapi meledak-ledak itu. Dalam buku Kenang-kenangan, Herrineringen Soetomo menulis dengan penuh puji. “Berbicara dengan dia merupakan pengalaman yang sangat mengharukan. Dengan mudah orang tahu tentang luhurnya semangat pengabdian dokter ini”. Dan kelak, Soetomolah yang berusaha mewujudkan pidato lelaki tua itu.

Pengide yang tersingkir

Tapi, siapakah lelaki berblangkon yang sanggup memukai mahasiswa STOVIA itu? Dia tak lain adalah Dr Wahidin Sudirohusodo. Kedatangan dokter jawa ini tak lain karena dia sudah merasa putus asa menyampaikan ide-ide besarnya pada rakyat jelata.

Lima tahun sebelum pidato yang menggemparkan itu, Wahidin sudah mulai menyebarkan idenya melalui majalah Retnodoemilah, berbahasa Melayu dan Jawa. Di majalah yang terbit tiga kali seminggu itu, dia meliput tentang organisasi-organisasi pribumi tradisional. Dalam terbitan 4 Januari 1901 misalnya, dia menulis tentang Mardiwara (Berupaya), organisasi diskusi di antara pejabat kerajaan. Tiga edisi kemudian, dia meliput kelahiran Suria Sumirat (Matahari Bersinar), sebuah organisasi pengrajin yang bertujuan meningkatkan mutu produk dan daya sebar barang sampai ke Eropa. Di edisi ke-15, Wahidin bahkan langsung memuat pidatonya di depan organisasi tradisional itu, tentang perlunya kebangkitan Jawa. Dia menggelar bukti, pendidikan modern dapat disatukan dengan budaya Jawa, untuk memperbaiki kualitas hidup. Dalam pidato yang berisi itu, Wahidin memaparkan kebangkitan bangsa lain di Asia, seperti Cina dan Jepang. Juga mencontohkan kaum pendatang di Jawa yang justru lebih maju dan giat berorganisasi.

Tapi, semua ”provokasi” Wahidin tak menemukan gema. Para pembaca dan pendengarnya hanya mengangguk, tanpa berbuat apa-apa. Dan Wahidin takut, cita-citanya lapuk di makan usia.

Di usia 53, di pertengahan tahun 1906, dia mengambil keputusan penting, meninggalkan Retnodoemilah dan berkelana. Tujuannya satu, memprovokasi para pemuka Jawa sekelas bupati (regent) untuk menggalang dana yang kelak disalurkan sebagai beasiswa (studiefond) untuk rakyat tak mampu, yang berminat sekolah ke Nederland.

Tapi, banyak bupati yang tak mendukung ide itu. Mereka takut, jika peradaban baru muncul, posisi kepriyayian mereka akan tergeser, dan keistimewaan keluarga akan lenyap. Namun, Bupati Serang Raden Adipati Aria Achmad Djajadiningrat mendukung tulus ide ini, dan memberikan berbagai bantuan bagi Wahidin untuk meluaskan ide-idenya, hingga sampai diundang ke Stovia.

Para mahasiswa itu, dimotori Soetomo, mewujudkan ide Wahidin. Budi Utomo pun lahir. Sayang, organisasi modern pertama ini justru menciderai ide mulia itu, dengan menekankan unsur kesukuan, kejawaan. Dengan alasan demi perkembangan organisasi, usul Tirto Adisurjo tentang paham kebangsaan dan usul Wahidin tentang beasiswa, ditolak. Sampai bubarnya, Budi Utomo tetap berorientasi kesukuan, dan tak mengadopsi ide-ide Wahidin. Dia pengide, dan dia disingkirkan.

Jiwa yang Gelisah

Wahidin lahir di desa Mlati, Yogyakarta, pada 17 Januari 1852, sebagai priyayi desa bergelar Mas Ngabehi. Sejak kecil, dia dikenal lincah dan pintar. Tak heran jika kemudian Wahidin kecil tercatat sebagai bumiputera pertama yang diterima di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa.

Tahun 1869 dia tamat, dan langsung melanjutkan ke Inlandsch Geneeskundige, sekolah dokter bumiputera. Di sini Wahidin pun terkenal giat dan pintar. kejutan kembali dia raih, menjadi asisten dosen, dan setelah tamat, 1872, dia mengajar di sekolah itu.

Selama mengajar inilah Wahidin merasa betapa jauhnya jarak antara pribumi dan warga Belanda. Dia kemudian keluar, dan membaktikan diri menjadi dokter kesehatan di Yogyakarta. Namun, selama menjadi dokter pun, dari keliling daerah saat mengunjungi pasien, dia merasa gelisah melihat bangsanya. Dia menyusun pikiran besar, dan di tahun 1899, dia keluar. Di usia 49 tahun, Wahidin percaya, hanya perslah yang akan mampu menyebarkan dan membantu mewujudkan idenya. Sayang, kenyataan berbicara lain.

Tak banyak catatan tentang kehidupan pribadi dokter santun ini. Dia menikahi wanita Betawi, Anna, dan berputra dua. Seornag putranya adalah ahli lukis terkenal di masa itu, Abdullah Subroto. Dan cucunya adalah maestro seni lukis realis Indonesia, Basuki Abdullah.

Sembilan tahun setelah Budi Utomo lahir, dokter yang amat mencintai bangsanya ini meninggal dunia, 26 Mei 1917, dan dimakamkan di desa Mlati, Yogyakarta.

Sumur di dalam Kamar

September 12, 2008

“BANG…,” sapa Intan, begitu kakiku melewati pintu, mau masuk ke kantor tabloid, “Ada yang mau bertemu. Tuh, nunggu di depan.” Bibirnya maju, menunjuk ke arah tamu itu.

Aku mengangguk dan memberi senyum thanks, meletakkan tas di meja, lalu bergegas ke ruang tamu redaksi. Di sofa hijau itu, seorang perempuan paro baya, tengah menantiku.

“Mas Aulia?” tanyanya, berdiri dan menyorongkan tangan.

Aku mengangguk, menyambut salamnya. Sembari menyilakan dia duduk kembali, kutanyakan tujuannya.

“Begini Mas, Saya Witri. Saya kan selalu membaca zodiak di tabloid. Nah, selama ini saya merasa apa yang ada di situ cocok sekali dengan situasi saya. Kena, gitu. Lalu saya telepon redaksi, tanya siapa yang menulis zodiak. Tenyata Mas Aulia. Nah, sekalian saya datang, ingin konsultasi.”

Konsultasi? Kuamati perempuan di depanku itu. Kutaksir usianya di bawah 35. Dengan kemeja ketat-putih, dan rok pendek, dia dapat tetap duduk dengan nyaman, meski sebagian pahanya terbuka. Jelas busana itu adalah pilihan sadarnya. Tas bermerek, berselimutkan blazer, tertidur di samping pinggulnya, juga menegaskan seleranya. Terkadang, selera seseorang dapat menunjukkan tingkat pendidikannya. Dan karena berpendidikan, tentu dia mengerti, psikolog-lah tempat yang paling cocok untuk berkonsultasi. Lha, aku? Maka kutanyakan, apakah dia tidak salah orang? Pertama, karena aku bukan psikolog, apalagi juru terawang. Kedua, aku tak pintar mengarang. Orang yang tak pandai mengarang, tak cocok untuk tempat berkonsultasi.

Perempuan itu akhirnya menjelaskan, bahwa dia percaya, aku dapat memberikan “sesuatu” berkaitan dengan hidupnya. Karena, selama ini, tanpa disadari, melalui “ramalam” di zodiak, dia sudah merasa terbantu. Dia minta kesediaan aku mendengarkan ceritanya, dan memberikan pendapat.

Aku tak bisa mengelak. Aku yakin, jika gusti “mengirimkan” seseorang kepadamu untuk meminta tolong, pasti dia pun telah menyiapkan “sesuatu” dalam diriku untuk menolong orang itu. Aku percaya, selalu ada jawaban di dalam tiap misteri. Masalahnya adalah bagaimana menemukan atau mencari jawaban itu.

“Saya bermimpi, Mas,” Witri memulai ceritanya. “Tepatnya tiga malam lalu, dan telah dua kali berulang. Di dalam kamar saya, di bawah tempat tidur, tiba-tiba terdapat sumur, dengan mata air yang jernih dan berlimpah sekali. Di mimpi itu, saya sampai meraupi air yang berlimpah itu, mencuci wajah dan meminum airnya. Segar sekali. Tapi anehnya, suami saya tidak tahu sumur itu. Ia bahkan tidak melihat saya yang mencuci muka dan minum air sumur itu. Saya ajak dia melihat, tapi dia tidak mau membuka mata. Katanya, sumur itu hanya khayalan aku saja. Saya memaksa. Tapi, ketika suami akhirnya mau, mendadak sumur itu kering. Tak ada air sama sekali. Berkali-kali saya ciduk, tak ada air yang tertangkap gayung. Saya sedih sekali, Mas. Dan terbangun.”

Witri menatapku, jarinya memilin-milin ujung roknya. “Kira-kira apa artinya, Mas?”

Oalah, ternyata ini yang akan dia “konsultasikan.” Aku tertawa. Bukan, bukan menertawai mimpinya, melainkan nasibku yang harus kembali jadi pembaca mimpi. Kenapa aku pakai kata “kembali”, akan terjawab di cerita-cerita berikutnya.

Aku menarik napas. Biasanya, dalam tarikan napas itulah, kudapatkan letikan-letikan informasi di kepalaku untuk dapat menjawab hal-hal semacam ini. Letikan informasi itu sangat penting bagiku, bukan karena kandungan kebenarannya, melainkan kemampuannya membebaskanku dari tagihan penafsiran.

Kutarik napas lagi. Kok masih blank, ya? hahaha parah, nih! Terpaksalah kuulur waktu. Kutanyakan pekerjaannya, usia, pekerjaan suami, dan berapa tahun mereka sudah menikah. Kujelaskan juga bahwa aku bukanlah tukang ramal. Kemampuanku menulis nasib di tabloid, bukanlah karena indera keenam, melainkan tugas redaksionalan semata. Jadi, aku tidak punya kemampuan apa pun untuk dapat menerawang nasib, membaca takdir, atau menujum mimpi. Jadi, jika pun aku memberikan tafsir, itu semata “pembacaan” biasa atas mimpinya. Tidak ada hubungannya dengan mistik, atau patgulipat terawangan alam gaib.

Lalu bagaimana tafsirku. Begini. “Dari mimpi Mbak Witri, saya hanya membaca bahwa ada masalah dalam wilayah kamar tidur, Mbak. Masalah itu muncul dalam petanda sumur. Dan dalam banyak kebudayaan, sumur dapat dimaknai apa pun. Tapi karena berlokasi di kamar, makna itu dibatasi konteks. Saya menafsirkan sumur sebagai subur.”

“Maksudnya, Mas?”

“Barangkali, rumah tangga Mbak telah lama dirisaukan oleh masalah kesuburan ini. Maaf, apakah Mbak telah memiliki anak?” Witri menggeleng. Aku membuang napas, lega. Tafsir bisa dilanjutkan. “Mungkin, ketakhadiran anak telah membuat benih curiga lahir di antara Mbak dan suami, tentang siapa yang subur dan siapa yang tidak. Tapi, kecurigaan itu tak pernah dikomunikasikan. Makanya, sumur itu berada di bawah tempat tidur. Tertutupi, tertiduri, sesuatu yang tak ingin diketahui, tak ingin dijamah.”

“Artinya, apakah saya yang tidak subur, Mas?”

“Sekali lagi, ini tafsir, Mbak. Bukan mutlak-mutlakan. Dan tafsir saya, justru tidak mengatakan begitu.”

“Maksud Mas, saya subur, begitu? Bisa hamil?”

Witri menatapku. Di mata itu, aku tahu, dia berharap –bahkan mungkin meminta– aku mengatakan, ‘Ya.’ Tapi, aku harus jujur. Aku tak boleh menjawab hanya untuk menyenangkan hatinya.

Aku mengangguk. Dia membuang napas. Terlihat begitu lega. “Tapi masalahnya bukan di situ, Mbak?” sambungku.

“Maksud Mas, suamiku yang tidak subur?”

Aku menggeleng. Kulihat bibirnya membuka, setengah melongo. Manis juga Witri ini kalau bengong begitu, hahaha…

“Lalu siapa yang tidak subur?”

“Yang tidak subur adalah kejujuran, Mbak.”

“Maksud Mas Aulia apa? Saya kok tidak mengerti?”

“Sekali lagi, ini tafsir ya Mbak, bukan mutlak-mutlakan. Dari yang saya baca, suami Mbak sebenarnya tidak atau belum menginginkan anak. Saya tidak tahu sebabnya. Tapi, seperti mimpi Mbak, ternyata dia tidak mau melihat sumur itu, kesuburan itu. Dan ketika Mbak paksa, sumur itu jadi tidak ada, kesuburan itu jadi kering. Nah, di sini terlihat, bahwa ada ketidakjujuran. Suami tidak mengatakan kepada Mbak bahwa dia belum atau tidak ingin memiliki momongan. Dan membiarkan ketidakhadiran anak itu sebagai masalah kesuburan, dan bukan persoalan kesengajaan. Jadi, saran saya, coba suami diajak bicara, jujur-jujuran, ceritakan mimpi Mbak, dan tanya dia, apakah sungguh ingin punya momongan atau tidak. Semoga saja, apa yang kita baca dari mimpi itu benar adanya, dan Mbak bisa merumuskan bagaimana selanjutnya.”

Witri diam. Menyandari sofa, matanya menerawang. Aqua yang tadi diberikan Intan, belum dia sentuh. Barangkali dia berpikir, mencari-cari apakah benar suaminya tidak ingin momongan, apakah benar mimpi itu bicara demikian. Aku menunggu, sembari memperhatikan lebih jeli dirinya, terutama posisi duduknya. Hahaha….

Tak lama kami dirampas diam. Witri kemudian mengucapkan terimakasih, menggapai sesuatu dari tasnya. Tapi aku bertindak cepat. Aku tahu, dari tas yang terbuka itu, telah kulihat amplop sejak tadi. Aku tak ingin menerima hal itu. Maka, ketika dia berdiri dan mengansurkan itu, kutepiskan tangannya. “Tak perlu, Mbak. Saya tak memberi apa-apa, kok. Cuma mendengarkan mimpi Mbak, dan mengomentarinya. Anggap saja itu bonus karena Mbak telah membuang waktu untuk datang ke kantor ini.”

Dia tersenyum, aku tertawa. Setelah meminta, dan kuberikan nomor ponsel, dia pun pamit, setelah berkali-kali mendaraskan terimakasih. Aku mengantarnya sampai parkiran, melihatnya masuk mobil, dan pergi. Kuhembuskan napas. Satu tafsir, selesai sudah, intuisi semoga kian terasah.

*****

Tiga hari setelah itu, sebuah SMS masuk. “Mas, ini Witri. Cerita Mas kemarin benar semua. Suami sudah mengakui semuanya. Thanks banget, ya?” Aku tertawa, tertawa. Tuhan memang maha mengatur segalanya.

Kau yang Dikirim Hujan

September 9, 2008

Kaki hujan itu, Lita, menghampiri lagi rumah kita, menjarumi gentengnya, dengan rintik yang pernah kita khayalkan akan kita dengar bersama.

“Aku akan menghangatkan tubuhmu, dengan peluk dan cium, segelas kopi hangat, atau cerita tentang Luka, anak kita,” katamu di suatu senja yang basah, yang aku tak ingat lagi tanggalnya.

Tapi khayalan memang selalu lebih manis dari apa pun. Di rumah ini, rumah yang kita angankan akan kita tempati bersama, aku terbaring sendiri, menikmati curah hujan yang begitu ritmis, yang menghantarkanku pada kenangan tentangmu.

Rumah ini Lita, kubeli sebulan setelah engkau pergi, kuharapkan, rumah ini akan memanggilmu kembali. Tapi ternyata tidak. Sampai rintik hujan yang kesekian, tak kudengar ketukan di pintu, darimu.

Kau tahu, Lita: kunci itu selalu kuletakkan di bawah pot bunga, di depan rumah kita, seperti yang dulu kamu pinta. “Nanti kuncinya selalu kita letakkan di bawah pot bunga, ya? Biar jika Abang atau aku yang pulang duluan, kita sudah dapat selalu berada di dalamnya,” pintamu, suatu kali, dengan mata terbakar cinta.

Aku selalu menunggumu, Lita, sendiri, terpenjara di sini, dikuasai kenangan tentangmu.
****

Di senja itu, di beranda kontrakannya, rasanya sudah lama sekali, dengan secangkir kopi dan sepotong donat, juga gerimis, ia memulai membuka peta. “Aku harus pergi, Bang,” bisiknya. “Ada yang ingin kuyakinkan.”

Aku diam. Kopi ini terlalu berharga jika harus dipotong dengan percakapan yang serius. Kuacak rambutnya, kutarik pundaknya, menyandar di dadaku. “Kenapa? Tidakkah aku cukup bagimu?”

Dia mencium pipiku, lembut, basah aroma kopi. “Aku hanya ingin pergi,” desisnya. “Nggak tahu kenapa?”

“Berapa lama?”

Dia menggeleng. “Aku akan kirim surat, SMS, atau e-mail, nanti.”

“Ya, sudah, pergilah.”

“Abang nggak ingin tahu alasanku?”

Aku menggeleng. Dia mencium pipiku, membasahi bibirku. “Jika ada uang, belilah rumah yang kita lihat kemarin ya? Suatu waktu, aku akan berada di dalamnya.”
****

Tapi menunggu, Lita: adalah Hawa yang digoda buah khuldi. Dan kesepian, lebih sunyi dari bangun tengah malam dengan irama titik air yang jatuh dari kran. Tidakkah engkau pernah melihat gelisah bayi kehausan yang mencari ujung puting ibunya? Kukira aku kuat. Tapi cinta, ternyata tak lebih seperti Adam, yang mengikutkan Hawa, tergelincir, takut ditinggalkan. Aku pun, ternyata, tak selamanya bisa berpegang hanya pada kenangan. Rumah kita ini, Lita: memanggil penghuninya yang lain, suatu sore.

Hujan. Deras. Genteng rumah seperti disirami ribuan pasir. Di langit utara, lidah petir berkali-kali menyambukkan pijar. Dan di ujung jalan itu, di bawah rimbun pohon mangga, aku melihatnya: tubuh yang hanya berlindungkan payung kecil, kaki yang dirapatkan, tak jelas, adakah gigil yang dia tahan. Aku melambainya. Tubuh itu bergerak.

Kesalahan acap datang dari keramahan yang tanpa pamrih. Begitu dia mendekat –rambut basah panjang, kemeja yang mencetak tubuh, dan pucat pada bibir, juga gigil —menerbitkan iba yang aneh. Kuhangatkan dia dengan senyuman, kuayun tangan memintanya masuk.

“Mau handuk?”

Dia menggeleng.

Tapi, kusorongkan juga handuk padanya. Ragu, dia tarik, dan kemudian, terjadilah visualisasi ini: dia mengelap muka, kedua tangannya membuka ketika mengeringkan rambut, menggoyangkan kepala membuang butir air, yang sebagian dinginnya menerpai wajahku. Sensual sekali.

Hidup, barangkali, berjalan seperti patahan-patahan dalam teka-teki silang, kita tinggal mengisi di kotak-kotak yang kosong, dalam lajur yang telah disediakan. Satu kata, mengisi dan menjadi penentuk kata lain. Namanya Maia, sekretaris di sebuah media. Sore itu, dia ingin melihat salah satu rumah yang diklankan, tapi hujan dan angin mengirimkannya padaku.

Jika kemudian Adam dan Hawa dilempar dari surga, siapakah yang patut disalahkan? Bagiku, kesalahan Adam dan Hawa justru terjadi kemudian, ketika mereka melahirkan keturunan: aku, Lita, dan Maia. Dan hidup, ternyata tak sama persis dengan teka-teki silang, yang jika gagal diisi hari ini, minggu esok sudah tersedia jawaban. Tangan yang kusodorkan pada Maia, siapa sangka, adalah tulang rusuk Adam yang mengubah diri jadi Hawa.
****

Kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan kita rencanakan. Aku pun memilih merangkai peta lain. Tapi, siapa sangka, peta baru ini begitu memesona, bayi yang tergeragap mengayun langkah pertama. Lita, perlahan, jadi hanya berupa bayang, baur, berjalan antara kenangan dan penghargaan. Dan cakrawala, ternyata memberi warna yang berbeda tiap sore, atau hati kita kah yang mengubah warna, Maia? Sampai suatu sore…

Aku, Maia, dan gerimis. Secangkir teh, kopi, dan secukupnya pelukan. Lalu sebuah ketukan…

Maia bergerak, aku menahan pundaknya. Aku takut itu Lita. Tapi terlambat, Maia sudah bergerak, meninggalkan aku yang sibuk berdoa. Lalu, di sisi pintu itu, Maia berdiri, menatapku. Dia seperti bingung. Tak ada siapa-siapa, katanya. Lega. Maia pun masuk lagi ke rangkulanku, menyandarkan pipinya pada hangat punggung tanganku. Lalu ketukan lagi….

Maia beranjak. Aku gelisah. Kususul dia. Di teras, aku melihat Lita yang melihat Maia, rambut basah panjang, kemeja yang mencetak tubuh, dan pucat pada bibir, juga gigil —menerbitkan iba yang aneh. Seperti pada Maia, kaki hujan itu, telah kembali mengirimkan Lita padaku.

Tapi, kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan yang kita rencanakan. Hidup, seperti kubilang, juga bukan semacam teka-teki silang. Atau, barangkali, aku adalah Adam, yang diletakkan antara Qain dan Qabil. Ketika Lita, Maia, bersamaan bertanya padaku, sambil saling menunjuk, “siapa?”, aku kehilangan suara, tak punya jawab. Kurasakan sore begitu senyap, dan titik air di kran, entah kenapa, jadi terasa begitu dekat, begitu nyaring.

Rintihan Rumah Tangga

September 4, 2008

Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang tak diungkapkan. Karena dalam tali percintaan, engkau dan aku belum menjadi kita. Pernikahanlah yang kemudian dipercaya dapat menyembuhkan luka, menerbangkan dusta, dan membuka kejujuran. Sebab dalam sebuah pernikahan, selepas ijab dalam satu tarikan napas itu, engkau dan aku telah melebur menjadi kita. Tubuhmu dan tubuhku telah diizinkan menjadi satu, bersetubuh.

Tapi, tidak setiap pernikahan dapat menyebuhkan. Dewi Yull malah percaya, seperti juga percintaan, perkawinan, rumah tangga, selalu menyimpan luka, dusta, dan kejujuran yang tak diucapkan.

“Tidak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga memiliki rintihan,” katanya dengan mata berkaca, ketika menjelaskan perceriannya dengan Ray Sahetapi, Agustus 2004.

Karena berisi rintihan itulah, setiap rumah tangga, pada hakikatnya, berdiri di tepi jurang perceraian. Sedikit saja rintihan itu naik menjadi jerit atau pekik, perkawinan pun kehilangan pondasi. Jadi, mengikuti ucapan Dewi, berumah tangga sebenarnya adalah mau mendengar rintihan, dan tidak mengabaikannya. Hanya dengan mau mendengar, sebuah rintihan akan berdiam hanya sebagai erang, dan perkawinan tak sampai guncang.

Kini, Andara Early yang merasakan rintihan dalam perkawinan. Rumah tangga yang dia pancang dengan Cessa David Lukman, guyang. Early pun meyakini, hanya perceraian yang bisa menyelamatkannya. “Untuk kebaikan bersama, satu-satunya jalan!” ucapnya. Padahal dulu, ketika tengah dilanun asmara, Early justru merasa Cessa-lah juru selamatnya. Dia menjanda dengan aib yang susah dicerna. Ferry, suaminya, mengira Maghali, anak mereka, lahir bukan dari benihnya. Ada lelaki lain yang telah membuahi Early. Betapa ngeri. Tapi Cessa abai itu. Dia mencinta, matanya tak hirau perawan atau janda, teraibi atau mulia. Cessa percaya, pernikahan akan menyembukan Early, menyatukan mereka dalam kejujuran dan keberterimaan.

Tapi, keberterimaan Cessa berhimpitan dengan masa lalu. Ia pun jadi begitu menjaga kecintaannya. Penjagaan yang, dalam bahasa Early, berubah menjadi posesivitas. Early merasa dihaki, dimiliki, diawasi, dibatasi; tak dipercayai. “Yang saya dengar dari Early, Cessa sangat posesif, ruang gerak Earlu jadi terbatas,” jelas Agus, pengacaranya. Early merasa dimiliki, padahal, “Suami, anak, itu milik Allah. Manusia tak boleh mengklaim memiliki manusia lain,” jelas Dewi Yull.

Merasa memiliki. Barangkali, ketika itulah perkawinan mulai menerbitkan rintihan. Karena tak ingin menghaki jugalah, Dewi pun melepaskan Ray. Karena tak ingin dihaki, dimiliki itu juga, Early memilih bercerai.

Pernikahan dengan demikian, apakah bukan sebuah kemenyatuan? Bukan engkau dan aku yang melebur menjadi kita? Khalil Gibran dengan pasti menjawab, bukan.

Berpasangan kalian telah diciptakan, maka bersamalah
selamanya
Bersamalah, saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan

Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.

Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama

Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi.

Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang disimpan. Dan kerena itulah, percintaan selalu memiliki gairah penaklukan, ketika belum ada yang dikuasakan. Tampaknya, pernikahan harus juga dibayangkan seperti percintaan, sebelum ijab, ketika aku dan engkau tak harus menjadi kita. Hanya dengan begitu, pernikahan, rumah tangga, tak lagi diisi rintihan.
[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 6 September 2008]

STA, Perangkum Semua Kebudayaan

September 1, 2008

INDONESIA hari ini, juga Indonesia akan datang, tidak dibangun dalam satu hari, juga tidak oleh satu orang. Meski, untuk peletak dasar kebudayaan, ada satu orang yang namanya tak mungkin dihapuskan. Dialah Sutan Takdir Alisjahbana, yang namanya biasa disingkat STA.

Takdirlah yang dengan serius memikirkan kebudayaan Indonesia. Tak hanya melalui Polemik Kebudayaan –yang sampai kini masih acap dibicarakan- dan Majalah Pujangga Baru yang semua dia garap dengan sangat serius, tapi juga upayanya menjadikan bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa modern.

Bagi Takdir, bahasa bukanlah semata alat untuk berpikir. Bahasa adalah pikiran itu sendiri.

Dan modernisasi adalah kunci dari pemikiran Takdir, yang sering diidentikkan orang dengan pembaratan. Padahal, Takdir memaksudkan itu sebagai adopsi rasionalitas. Dan itulah yang terus ia pertahankan mulai Polemik Kebudayaan, sampai di akhir masa hidupnya.

“Perdebatan ketika itu adalah mengenai perbedaan antara yang saya namakan kebudayaan progresif –penguasaan ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi-dan kebudayaan ekspresif –kebudayaan tradisional yang dikuasai nilai agama dan seni. Yang pertama berdasarkan kerasionalan berpikir, yang kedua berdasarkan intuisi, dan imajinasi,” terangnya di tahun 1986.

“Perbedaan kedua hal itu amat besar. Seperti perbedaan antara kebudayaan Indonesia dan pra-Indonesia. Zaman Islam dan zaman Jahiliyah,” tambahnya di tulisan yang lain.

Sebelumnya di tahun 1985, saat dia berumur 77 tahun, dengan marah Takdir menyerang pihak yang masih merindukan kebudayaan lama atau daerah, sewaktu seminar di Bali. “Kebudayaan lama adalah kebudayaan pramodern yang sama sekali ta pernah menghasilkan teknologi.” Bagi Takdir, kebudayaan adalah totalitas agama, ilmu dan teknologi. “Kebudayaan pramodern, irrelevant dengan totalitas itu,” kecamnya.

Guru yang Ganas

“Sewaktu lahir, Takdir tak menangis, tapi langsung berdebat.” Begitulah kelakar teman-teman masa mudanya, menggambarkan betapa acapnya tokoh satu ini mendebatkan banyak soal.

Lahir di Natal Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 11 Februari 1908, Takdir mengaku berdarah campuran.
“Ayah saya berdarah Jawa, namanya Raden Alisjahbana, gelar Sutan Arbi. Gelar Raden itu diakui Kesultanan Yogyakarta, dan ayahlah yang pernah diminta memata-matai kegiatan Sentot Alibasjah di Bengkulu. Dari jurusan darah ini, saya memang orang campuran,” akunya sambil bergelak pada Tempo.

Ayah Takdir seorang guru, dan Takdir mewarisi bakat itu. Setelah menamatkan sekolah di HIS Bengkulu (1921) dan melanjutkan ke Kweekschool, Bukittinggi, Lahat, Muaraenim (1925) dia mulai mengajar. Tapi bakat yang diturunkan ayahnya ternyata tak cuma menjadi guru, juga suka bermain bola, berdebat, dan ini yang paling parah, pemberang. Tak heran, dia acap mengamuk mengamati kebodohan murid-muridnya.

“Sering betul saya menampar murid-murid. Suatu hari, saya malah menampar seluruh kelas,” kenangnya.

Peristiwa itu berlanjut. Seorang murid melaporkan peristiwa itu, dan nama Takdir tercantum dalam sebuah liputan di koran Pertja Selatan, dengan berita panas, “Guru yang Ganas”.

Mungkin karena itu Takdir terbang ke Jakarta, melamar menjadi redaktur di majalah Panji Poestaka, tapi ia malah diterima di bagian penerbitan buku. Di Jakarta ini dia masih melanjutkan sekolahnya di Hogere Hoofdacte Curcus (1933), dan melahirkan roman pertamanya, Dian yang tak Kunjung Padam, dan dilanjutkan dengan Layar Terkembang.

Kariernya melesat karena redaktur Panji Poestaka Adinegoro pindah ke Medan. Takdir menggantikannya, dan melesatkan projek “Gerakan Sastra Baru” pada tahun 1933. Gerakan ini membuat dia akrab dengan sastrawan kondang masa itu, Armijn Pane dan Amir Hamzah.

Takdir kemudian berkenalan dengan A Dahleer, seorang Belanda pemilik percetakan Kolf. Lewat percetakan itulah Poejangga Baru pertama kali terbit, yang kemudian Takdir terbitkan sendiri.

“Meskipun pembaca Majalah itu tidak banyak, tapi pengaruhnya besar sekali. Banyak ahli yang menyumbangkan tulisan, di antaranya Prof Husein Djajadiningrat, Maria Ulfah Santoso, Amir Sjarifuddin, Mr Sumanang, dan Poerwadarminta. Ada sekitar 20 orang intelektual Indonesia yang menjadi inti gerakan itu,” kenangnya.

Tenggelam dalam Bahasa

Ketika Jepang masuk Indonesia, Takdir masih sempat menamatkan sekolahnya di Rechtshogeschool dan Leeterkundige Fakulteit Jakarta (1942). Dan ketika Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia, Takdir pegang peranan penting.

“Saya diangkat jadi Sekretaris Ahli. Sekretaris sesungguhnya adalah Mr Soewandi,” jelasnya. Namun, sejarah mencatat, Takdirlah yang kemudian menjadi napas Lembaga itu, terutama saat Lembaga itu berubah menjadi Kantor Bahasa, dia mengetuainya. Dan Takdir memulai kerja, menyeragamkan istilah-istilah yang dipakai di sekolah-sekolah.

“Kami berhasil menghimpun lebih dari 400 ribu istilah dalam bahasa Indonesia,” ucapnya bangga.

Di masa Jepang ini, dia pun melahirkan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun.

Di era kemerdekaan, Takdir kemudian mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) dan Universitas Nasional, dan menjadi rektornya. Dia menjadi penganjur yang tak kenal lelah untuk usaha modernisasi, menganjurkan penerjemaan karya-karya asing secara sistematis dan berkualitas. Ia pun mendirikan lembaga penerjemahan di Universitas Nasional.

“Semua kebudayaan dunia adalah kebudayaan saya,” jelasnya, saat ditanya kenapa dia begitu getol menerjemahkan berbagai karya sastra dunia. Namun, ia mengaku kecewa dengan kualitas penguasaan bahasa Indonesia.

“Saya kecewa. Ini menunjukkan bahwa bahasa yang pernah menggetarkan dunia linguistik ini, dengan kesanggupan memersatukan 13 ribu pulau, masih saja jadi bahasa yang terbelakang, belum modern, belum menjadi pintu ilmu dan teknologi,” keluh suami tiga istri, dan bapak sembilan anak ini, selain lima novel dan beberapa karya ilmiah.

Obsesi Takdir adalah menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ia memberian gambaran bahwa Malaysia, Brunai, Singapura dan sebagian Philipina adalah pemakai bahasa Melayu. Karena itu, dengan kerja sama dan pengertian yang baik, Takdir percaya, keempat negara itu akan mampu mewujudkan bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di Asia Tenggara.

Sayang, obsesi si perangkum semua kebudayaan itu tak pernah terwujud, sampai ia menutup mata 15 Juli 1995, di usia 87 tahun. Bahkan, sampai kini, enam tahun setelah kepergiannya itu, tak ada pewaris obsesinya yang masih mau mengumandangkan cita-cita itu.