Mengapa Kalau Nana Mirdad Hamil?

May 1, 2006

Kamera teve telah memberi stigma bahwa Nana Mirdad memang tengah hamil

Minggu kemarin, dan pasti masih akan berlanjut sampai minggu ini –jika saja tiada kasus perusakan rumah Mayangsari oleh halimah– pernikahan Nana Mirdad-Andrew White masih jadi pertanyaan besar di televisi. Seluruh infotainmen menjadikan hal itu sebagai sajian utama.

“Insert Investigasi” bahkan mengulasnya selama dua hari berturut-turut, Jumat dan Sabtu minggu lalu, selain “Insert” pagi dan siang. Seakan tak cukup, “Insert” Minggu pun menempatkan berita itu sebagai pilihan terbanyak pemirsa. Nana-Andrew tentulah jadi dua nama yang paling banyak di sebut di acara produksi TransTV itu.

Senin kemarin, “Silet” yang tayang di RCTI pun membahasnya. Lucunya, dua acara yang berbeda ini, sangat-sangat mirip mengulas soal kemungkinan kehamilan Nana, juga dengan foto dan sudut pandang yang sama. Dan satu lagi, dengan narator yang juga sama. Opini yang dibangun pun tak berbeda, mengasumsikan telah terjadi kehamilan sebelum pernikahan dini itu.

Tapi, benarkah Nana telah hamil?

Tak ada penyataaan yang membenarkan asumsi itu. Tapi, inilah “lingkaran” infotainmen. Mereka produksi gosip, menyebarkannya lewat berpuluh tayangan, dan mengubah gosip itu jadi stigma. Dan kita tahu, stigma acap menjadi benar tanpa harus dipertanyakan. Stigmatisasi itu jugalah yang infotainmen lakukan pada Nana-Andrew. Ketika konfirmasi tidak didapat, ketika Jamal dan Lidya malah tenang-tenang saja, memberi restu dan “tampak” bahagia, infotainmen seperti kehabisan akal. Konfirmasi ke manajer Andrew, Benny Simanjuntak pun hanya mendapatkan kata “mungkin”. “Iya, kabar yang saya dengar, kemungkinannya Nana sudah hamil,” jelas pimpinan Contoh Manajemen itu. Dan meski masih “mungkin”, infotainmen langsung menyambar! Kamera pun melakukan “fungsinya”. Kilas balik kisah dan tubuh Nana pun ditayangkan. Dan satu adegan yang paling sering diputar ulang adalah tayangan waktu Nana dan Andrew saling menyangkal bahwa mereka berpacaran. “Nana itu bukan tipe saya…” kata Andrew. Nana pun menjelaskan bahwa hubungan mereka hanya seperti kakak dan adik. “Saya tidak pernah suka sama cowok bule…” akunya.

Kenapa tayangan ini diulang-ulang terus? Jelas ada motivasi tersembunyi. Infotainmen ingin menunjukkan bahwa “berbohong” bukanlah hal yang tabu bagi pasangan itu. Mereka tidak mengakui berpacaran, dan jika sekarang tidak mengaku telah hamil, bukan hal yang aneh, kan? Infotainemen ingin menunjukkan, sedari awal, mereka bukan pasangan yang terbiasa jujur kepada publik.

Stigma badan

Berikutnya adalah tayangan ketika Nana mengenakan gaun hitam transparan yang mencetak tubuhnya. Tayangan ini dikilasbaliki dengan gambar Nana berbusana lain, untuk memunculkan perbedaan. Kamera mensyut perut Nana yang tampak memang lebih berisi, lalu pada, maaf, dadanya, dan juga pipinya. Fokus kamera pada perut, dada, dan pipi ini, jelas untuk menunjukkan kepada penonton tentang perubahan di tubuh Nana. Narator pun menimpali, perubahan bobot tubuh Nana yang naik luar biasa. Meski Nana membantah hamil, dan mengakui memang bobot tubuhnya naik, dan ada temennya yang mengira dia hamil, hal ini tak masuk hitungan. “Opini” kehamilan itu terus dijejalkan. Narator seakan ingin berkata, “jangan percayai ucapannya, tapi lihatlah perubahan tubuh, perut dan pipinya.”

Secara visual, memang tubuh Nana berubah. Tubuhnya lebih berisi, juga pipi dan dadanya. Tapi kehamilan kan bukan hanya menyangkut bobot tubuh dan membengkaknya pipi? Jawaban Nana yang selalu menghindar, juga seakan menegaskan bahwa dia menutupi kemungkinan kehamilan itu. “Insert” bahkan mengajak pemirsa melihat reaksi Nana ketika ditanyakan kemungkinan kehamilannya. Maka tampillah Nana yang gugup, dan meminta wartawan jangan menanyakan hal itu, atau elakannya yang lain. Jawaban Nana pun tersirat dia mengiyakan kehamilan itu. “Ah, jangan tanya soal hamil atau tidak. Yang jelas kami sudah menikah,” ujar Nana sembari tertawa. “Yang penting kami sekarang telah sah di mata agama dan hukum.” Atau, “Yang penting kami sekarang berbahagia.”

Jawaban ini tentu tak memuaskan infotainmen. Stigmatisasi harus terus dilakukan. Caranya? Kuatkan kasus Nana dengan peristiwa sejenis. “Insert” memunculkan wajah-wajah Enno Lerian, Wulan Guritno, dan Puput Melati. Bukan saja karena mereka aktris yang menikah dini karena hamil, narator juga menunjukkan dampak pernikahan dini itu, akhir yang tidak bahagia. Artinya, jika pun Nana menikah bukan karena hamil, tetap saja pernikahan dini mereka itu sesuatu yang sangat buruk. Duh kejamnya!

Hamil, Lalu?

Sampai kini Nana memang belum mengiyakan sangkaan bahwa dia menikah karena hamil. Tapi, jika pun memang Nana menikah karena hamil duluan, kenapa? Itu hal pribadi Nana-Andrew dan keluarganya. Apalagi, orang tua Nana-Andrew juga memberi restu, apa pun alasannya. “Mungkin darah untuk menikah muda itu saat ini sudah mengalir kepada anak-anak saya. Makanya mudah-mudahan rumah-tangga Nana juga bisa harmonis selama-lamanya sampai mereka menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek,” kata Lidya didampingi Jamal. Nah! Jadi, atas dasar apa infotainmen menjadikan pernikahan itu kabar yang layak “diinvestigasi” dan “disilet”? Secara tersirat, infotainmen jelas menjadikan moral sebagai alasan. Tapi, siapa yang memberi hak infotainmen untuk mengawasi dan mengukur moralitas orang lain? Juga, standar moralitas mana yang menjadi ukuran?

Ini jika, jika pun Nana memang hamil, lalu? Apakah infotainmen akan memenjarakannya, mengucilkannya? Tidak kan? Bukankah kasus Mayangsari juga menunjukkan tidak ada apa-apa dibalik kehebohan yang dihembuskan infotainmen? Di balik jargon moral, sesungguhnya tak ada efek apa pun selain membuat pemirsa ikut mengangguki “tuduhan” infotainmen, ikut menepuktangani tayangan yang perlahan telah mengubah diri menjadi jaksa menuntut. Di balik cibiran atas kasus Cut Memey, bukankah infotainmen juga mendudukkannya sebagai “korban” atas kekasaran Jakcson? Bukankah selalu ada watak dan standar ganda di dalam setiap tayangan infotainmen?

Nana dan Andrew punya orang tua, dan mereka menikah atas restu orang tua mereka. Jika pun Nana hamil, orang tua merekalah yang paling merasakan duka, selain diri mereka sendiri. Jika pun mereka dan keluarga ingin merahasiakan kehamilan itu, bukan sesuatu yang menyalahi hukum kan? Karena, seperti kata Niki Astria ketika marah karena dikejar-kejar wartawan infotainmen, “Apa ada undang-undang yang memaksa saya harus mengatakan kehidupan pribadi saya kepada kalian?!”

[Artikel ini telah dimuat di Tabloid Cempaka, 25 Mei 2006]