Mencontoh Kanjeng Nabi?

October 31, 2008

Pujiono terkekeh, kadang bahkan tergelak-gelak. Di layar Anteve dalam “Telisik” Rabu tengah malam (29/10) itu, lagak dan gestur tubuhnya sangat teaterikal. “Referensi saya tidak main-main, Kanjeng Nabi,” katanya.

Pujiono memang telah jadi sorotan. Dua minggu lalu, dia mengumumkan ke publik telah menikah lagi, untuk kali kedua. Hal yang biasa, terutama untuk mereka yang menyebut diri sebagai kiai. Tapi, Pujiono berbeda. Dengan bangga dia memberitahu kalau “permaisuri” itulah adalah Lutfiana Ulfa, remaja 12 tahun.

Ulfa, cerita Puji sebagaimana banyak “dibenarkan” media, bukan perempuan biasa. Dia cerdas, selalu rangking satu. Meski muda, tapi Ulfa tidak mentah. Puji menilai kedewasaan Ulfa melewati usianya. Bahkan, ketika diangkat menjadi Managing Director PT Silenter, Ulfa unjuk diri, berbahasa Inggris, yang kata beberapa saksi mata, cukup fasih.

Ulfa memang muda, dan faktor itu justru menjadi kriteria utama Puji. Dia ingin mewariskan ilmu mengelola perusahaan itu kepada Ulfa sejak dini. “Mengelola perusahaan itu tidak mudah, tidak ada di sekolah-sekolah. Banyak rahasianya.” Tapi mengapa Ulfa? Puji ternyata tidak percaya produk sekolahan. “Yang sekolahan, yang kuliahan itu, untuk apa? Sudah rusak semua!” geramnya ke kamera Anteve.

Dan satu lagi, Puji punya dasar tarikh, sejarah. Kanjeng Nabi pun menikahi Aisyah dalam usia muda. Dan di mata Puji, itu adalah cara atau metode, sehingga Aisyah menjadi istri yang paling mengerti dan tahu segala hal tentang Nabi. Metode itulah yang Puji ambil untuk membuat Ulfa mengerti sejarah dan rahasia dirinya, juga perusahaannya. Betapa sederhana.

Tapi, penyederhanaan itu justru menyimpan masalah. Puji lupa, ada konteks yang berbeda antara masa hidupnya dan Kanjeng Nabi. Ada beda yang tegas antara syariat Islam dan “syariat” negara. Dan yang utama, Puji tak memiliki otoritas untuk dipercaya dapat berlaku seperti Kanjeng Nabi.

Mengikuti atau mencontoh Muhammad memang telah lama menjadi “wacana” berlindung diri. Aa Gym, ketika menikahi Rini pun, mengambil sejarah nabi sebagai syiyasah. Juga Komar, pelawak yang kemudian jadi politikus. Berpoligami adalah jalan, sarana, mencontoh Nabi, dan karena itu tak dapat disalahkan. Tapi, wacana perlindungan diri itu acap tak mempan karena khalayak percaya nyaris mustahil mengikuti nabi dalam hal berlalu adil, terutama menyangkut hati, menyoal cinta. Nabi, sebagai sosok terpuji pun masih “dikawal” Jibril, dan “dikritik” Allah, terutama ketika sisi manusia Beliau mendominasi. Peristiwa terpisahnya Aisyah dari kafilah, dan pendiaman Nabi karena cemburu, adalah contoh bahwa keadilan, prasangka, cinta, bukanlah hal yang mudah untuk dikelola. Allah pun, melalui Jibril, harus “turun tangan” untuk memperjernih masalah itu, terutama setelah dimunculkan fitnah kepada Aisyah oleh para musuh Nabi.

Dalam “sejarah” dan perlindungan semacam itulah Kanjeng Nabi dapat selalu berbuat adil dan benar, ketika “syahwat dunia” bahkan telah sejak kecil dibedah dan dibuang dari dalam tubuhnya. Dan, kondisi itulah yang tak mungkin dialamai atau diciptakan oleh manusia lain, bahkan yang mencap diri sebagai ulama atau syech sekalipun. “Mencontoh Nabi” dengan demikian hanyalah siasat untuk menambal tingkah profan dengan tarikh sakral. “Mencontoh nabi” adalah metode untuk melepaskan tanggungjawab, dan bukan jalan keimanan.

Apalagi, dalam “mencontoh nabi” itu, yang tampak menonjol adalah aspek “guna bagi diri” dan bukan “fungsi sosial”. Karena itulah, yang dicontoh pun terpragmentasi pada hal-hal yang “menyenangkan” saja. Artinya, pencontohan itu tidak mengikuti seluruh sejarah hidup nabi, hanya mengambil sisi pragmatis, dan melepaskan alasan ideologis dan iman. Padahal, dalam tarikh Nabi, ada Zaid bin Haritsah, yang bisa dijadikan teladan sebagai pecinta dan pecontoh sempurna semua hal yang dilakukan Nabi. Saking begitu cinta dan ingin mengikuti jejak Rasulullah, jika di suatu tempat pernah dia ketahui unta Nabi berjalan melingkar, maka tanpa ragu Zaid akan melingkarkan jalan untanya, menapaktilasi sedetil-detilnya. Tapi Zaid tidak berpoligami. Zaid tahu, bahwa ada hal-hal yang dapat dia ikuti dengan setia, dan ada yang tak mungkin dia ikuti tanpa harus terjatuh dalam dosa, bagi dirinya atau orang lain.

Sayang, semangat semacam Zaid itulah yang tak pernah dijadikan pedoman bagi mereka yang acap menyebut diri ulama atau syech. Pencontohan itu lebih banyak hanya menyangkut tentang poligami dan tentu, sepeti yang dilakukan Pujiono, menikahi gadis belia. Pencontohan yang, semoga saja tidak, menjadikan Islam terbebani oleh perilaku-perilaku syahwati, mengejar kepuasan dan sensasi diri.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 1 November 2008]

Frasa Lirih Konsonan Sedih

October 27, 2008

Setiap kali memasuki kamar, lelaki itu pasti mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Membantali kepalanya dengan satuan dua telapak tangan, matanya nanap ke langit-langit, napasnya terdengar panjang. Tiga empat menit dia begitu, lalu duduk, melepaskan tali sepatu. Melemparkan sepatu ke kolong meja, tangannya yang panjang akan meraih kulkas. Segelas aqua kecil dia tenggak. Sebelum berdiri, dan berjalan 7 langkah ke kanan, botol itu dia lempar ke tempat sampah. Menyibak tirai, ia membuka pintu kaca yang menghubungkannya dengan suara-suara di luar sana.

Biasanya juga, ia akan melewati celah pintu kaca itu, dan membiarkan kaki telanjangnya merasai dingin lantai teras kamar. Itu lantai 5, dan dari tembok pengaman sepinggang, pandangannya mengedar ke utara, ke lanskap langit yang bebas dari beton tinggi. 10 menit berdiri, merasa udara kamar telah berganti, tubuhnya bergerak. Mengunci pintu, menarikkan tirai, ia menuju kamar mandi.

Tak lama, ia akan keluar dengan rambut basah. Bersijingkat, tubuh telanjangnya seperti menari menuju almari, menarikkan sarung dan kaos tipis. Dan ketika geraknya sampai ke tengah kasur, sarung dan kaos telah sempurna menyelimuti tubuhnya.

Pasti juga, dia akan memesan kopi kental melalui telepon, kemudian dia tarikkan notebook yang tergolek di dekat bantal. Kalimat yang nyaris sama akan dia ketikkan, “Sepi menekan mendesak. Sendiri. Menanti. Hari keempat, dan hatiku masih saja mau menunggu, ketukannya di bibir pintu.”

Saat notebook padam, terdengar ketukan, tapi bukan dari yang dia tunggu. Kopi datang, dan dia tahu, malam kembali akan terasa panjang.

Setiap kali memasuki kamar, lelaki itu akan melakukan hal yang sama, empat hari ini. Tapi tidak malam ini. Saat dia menolakkan pintu, di kasurnya telah duduk seorang perempuan, memangku bantal. Menunggu.

Perempuan itu adalah aku.



Lima hari lalu, sebuah SMS. “dari sini, aku seperti mendengar halus tarikan napasmu. mataku pun melihat siluet tubuhmu mencemari kaca, di lantai 9 itu. jarak begitu pendek, tapi kau masih terasa jauh…

SMS dari Elang. Ia sudah datang.

Tujuh hari lalu, aku tak bisa berjanji menemuinya. “Elang, kalau menemuimu, aku akan meninggalkan dia. Dan saat ini aku tak bisa. Cukuplah kamu sadari, aku ada. Mengajakmu berbicara dengan hatiku. Kita dekat, elang. Tak berjarak. Masih seperti dulu.”

“Aku tak memintamu meninggalkan dia,” suaranya terdengar cemas. “Aku hanya ingin berjumpa. Aku ingin mengenangmu tidak hanya dari masa lalu.”

“Maaf Elang. Tidak bisa, tidak lagi bisa….”

Ketika sampai di hotelnya 23 menit lalu, resepsionis seperti sudah menungguku. “Ibu Ara, ya? Bapak Elang tadi pesan, jika ibu datang, silakan menunggu saja di kamarnya.” Aku terpaku. Ahh-, lelaki itu masih saja dapat menebak hatiku. Kupegang kunci kamar 512, langkahku berayun seperti hatiku.

Sekarang aku di kamar ini.

Lelaki itu masih seperti 370 hari lalu. Tak ada yang berubah, kecuali matanya yang kian dalam. Geraknya yang terhenti antara jarakku dan televisi, membuatku menangkap sempurna ketegangan di wajahnya.

“Aku tahu kau akan datang…” suaranya seperti cemas yang lepas. Ketika kusambut tangannya, kurasakan tarikannya. Tubuhku memberat. Ia akhirnya yang mendekat, menyandarkan dadanya ke pipiku. Ini janjinya, dan aku memang mendengar gemuruh yang begitu menyenangkan di tubuhnya. Rasa itu masih ada. Ia lalu duduk di depanku, dengan kaki yang menjuntai.

“370 hari, betapa lama….”

Ya, betapa lama. Ketika dulu mengucapkan janji bertemu setelah 12 purnama, aku yakin akan dengan gampang memenuhinya. Elang juga tak meminta lebih. Ia hanya rindu duduk berdua, berbicara. Masih kuingat keinginannya, di suatu subuh saat kubangunkan dia. Suaranya masih berbau mimpi saat berkata, “Mungkin kita hanya bertutur tentang pagi, dingin udara, dan rekah fajar di utara. Atau tertawa mendengar seruling gembala, di sebuah desa, yang namanya tak pernah kita temukan di peta. Kita cuma tahu, kita bahagia.

“Barangkali, kita sesaki percakapan itu dengan tegukan teh, gigitan donat, dan desah membuang dingin. Atau ringkukkan tubuh, gerak refleks mencari hangat. Berkali-kali kusenyumi napasmu yang mengental, uap putih yang tampak sebentar, sebelum dibusar angin.

“Aku bayangkan, di bibir meja, jari-jari kita bersentuhan, dan kau ketukkan baku jarimu di punggung tanganku, iringi lirih bibirmu mendendangkan lagu, “Because I Love You”. Dan dari getar tangan itu, mengalir nada-nada hangat memenuhi dadaku.

“12 purnama, itu tak lama…”

Tapi tadi, dia mengatakan betapa lama.

“Elang, ceritai aku tentang kamu. Aku kangen suaramu, kangen puisi-puisimu.”

Lelaki itu menaikkan kakinya, bersila, dengkul kami bersentuhan. Ia bercerita tentang kerja, dan waktu-waktu kosong yang menyiksa. “Setiap berhenti bergerak, pikiranku serentak menghitung hari, 365 yang telah terkurangi. Dinding kamarku penuh garis, coretan hari yang telah kujalani. Menunggumu, Ra; seperti membunuh diri.”

Ia lalu membuat blog, dan menuliskan patah-patah kenangan. “Tapi, selalu ada yang tak bisa ditulis. Selalu ada yang tak bisa dipindahkan…”

Ia ceritai beberapa perempuan yang memapas langkahnya, tapi, “Dalam hidup seorang lelaki, akan Tuhan tunjukkan satu keajaiban di dalam diri perempuan. Dan aku tahu, kamulah keajaiban itu. Maafkan jika sampai hari ini, aku masih berharap….”

“Elang, sudahlah. Tidak usah diteruskan. Ingat apa yang aku katakan, ingat kan? Kita tidak boleh banyak berharap. Kita percayai saja, garis yang Tuhan bentangkan ini ada ujungnya. Yakin saja, kita akan sampai ke ujung itu. Kalau pun tidak sampai, kita bisa apa? Kita tidak selalu bisa memilih, elang….”

“Tapi Ra, tapi…”

“Ssstt… sudahlah. Sudahlah, elang.” Ada kejap protes di matanya. Tapi aku tahu, jika tak kuhentikan ucapannya, percakapan kami nanti akan berubah jadi ratapan. Aku cuma tak ingin, hari ini diisi dengan kesedihan. “Bacakan saja aku puisi, ya?”

Ia terdiam. Kubiarkan jariku diremasnya, dan sesaat setelah bibirnya menyentuh punggung tanganku, gumam pelannya terdengar.

dalam sel ini kita berbahagia, sebenarnya
bercakap tentang cerita pendek
dan bab yang hilang
pada kertas robek

atau bertanya apa yang diucapkan Ophelia
sebelum hanyut,
meskipun malam
tak hanya menyahut

atau terbaring di dipan datar
mengusut kata, kata, kata,
menyangsikan yang benar adalah benar
dan nasib yang mencederai kita

kadang kita dengar frase yang lirih
dan di luar itu, desah hantu
seperti sepatah konsonan sedih
yang menyimpan masa lalu

tapi dalam sel ini kita berbahagia, sebenarnya*

“Sekarang, ceritakan tentang kamu, Ra. Aku ingin kamar ini tahu semua yang terjadi denganmu, sejak 12 purnama lalu. Kamu tahu kenapa kupilih kamar 512 ini? karena aku bayangkan, akan 5 hari bersamamu, setelah 12 bulan itu. Tapi satu senja ini pun cukuplah. Ayo, berceritalah cintaku. Bukakan tubuhmu di kasur ini. Mengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelam, dari kecemasan sampai istirahat dalam kecemasan…”

Aku tergeragap. Sihir puisi tadi belum sepenuhnya bisa kukuasai, dan Elang meminta cerita. Tentang apa? Yang bisa aku katakan adalah seseorang selain dia. Aku tak bisa, aku tak bisa melihat dia terluka.

“Elang, aku tak punya cerita apa-apa. Aku cuma tahu, aku sayang Elang. Itu saja.” Tanpa sadar, kupindahkan bantal dari pangkuanku. Mata lelaki itu terbeliak.



Aku memekik tanpa suara. Ketika bantal itu berpindah dari pangkuannya, kulihat perutnya yang tidak lagi rata. Wajahnya pias, tangannya menggapai-gapai, kembali meraih bantal. Matanya basah, menangis. “Aku tidak ingin memberitahumu dengan cara begini, Elang. Aku tak ingin menemuimu. Tapi hatiku tak bisa, tak bisa…”

Sedari tadi sebenarnya aku merasa ada yang tak biasa. Ketika melihat dia duduk bersandar dengan memangku bantal, aku merasa ada yang janggal. Tapi hatiku tak terbiasa menaruh curiga. Dan beginilah akhirnya, tubuhku kaku. Lidahku terkunci. Yang dapat aku lakukan hanya membuang napas, dan bangkit. Kuteguk aqua dari kulkas, kuremukkan gelasnya sebelum masuk ke tempat sampah. Kamar ini terasa begitu panas.

Duduk di meja, sedan itu memaksa mataku menemukannya. Dia masih duduk, menatapku dengan mata basah. Di ujung hidungnya, kulihat air. Ingin rasanya aku bergerak, menyurukkan tangis itu ke dadaku. Tapi kakiku tak ada daya. Bahkan ketika berkali-kali kudengar lirihnya, “Maafkan aku, Elang… Tak seharusnya aku datang, tak seharusnya…” Aku tak juga bergerak. Dadaku masih terasa sangat sesak. Dan apa ini, ya Tuhan… mataku pun basah.

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Ra. Tak ada yang salah…. Bukankah kita sama percaya pada ujung dari garis ini? Bukankah kita sama berjanji untuk mengikuti rencana Tuhan ini, sampai selesai. Aku tak apa-apa. Aku hanya kaget, sungguh…”

Kubalikkan tubuhku. ingin rasanya aku memekik, memekik, biar semua ganjalan, semua yang tertahan di dada ini tumpah. Biar semua ‘Kenapa? Kenapa?’ ini terbuang. Biar semua… HHhhh–….” Kubuang tubuhku ke kanan, keras kutarikkan tirai, kubuka pintu, dan segar udara luar menyerbu wajahku. Di tembok pembatas sepinggang itu, di luas langit yang tak terjerat beton, kuhembuskan napasku, sekuatnya, sekuat-kuatnya, sebisanya….



Aku tahu Elang menangis. Aku tahu dia terluka. Sedari tadi, sebenarnya aku sangat takut dia melihat perubahan di tubuhku. Tapi kukira, bantal itu akan dapat menghalangi sempurna. Dan benar, bantal itu bisa, tapi hatiku yang tidak. Hatiku yang terlalu gembira dengan puisinya, tak bisa menjaga rahasia. Iya Elang, aku hamil. Dengan dia yang datang sebelum kamu. Dengan dia yang tetap ada sesudah kamu. Aku pernah bercerita padamu, bukan? Dan kau paham. Tapi aku tahu Elang, melihat perempuan yang kamu cintai hamil, pasti lebih sakit dari apa pun.

Aku tahu kamu menangis. Dari sini, kulihat pundakmu yang naik turun. Sesenggukan. Maafkan aku, Elang. Seharusnya aku memang tidak menjumpaimu. Seharusnya aku percaya, bahwa ini akan jadi menyakitkan. Tapi tahukah kamu Elang, ini anakmu. Tahukah kamu, setiap malam aku bayangkan kamu yang bersamaku. Setiap saat, aku rasakan kamu yang mencumbuku. Bukan dia, bukan dia, Elang. Secara psikologis, ini anakmu, Elang: anak kita. Kamu harus tahu!

Tapi aku tak sempat mengatakannya. Aku tak bisa lagi mengatakannya.

Sia-sia.

Aku tahu kamu menangis. Bersandar di pintu kaca ini, aku mendengar isakmu, juga isakku. Maafkan aku, Elang. Tidak seharusnya kita berpisah begini. Tapi aku harus pamit, biar ini tak tambah menyakitkan. Percayalah, aku masih menyayangimu. Selalu.

Kulambaikan tangan pada punggung lelaki itu. Ia pasti akan tahu, akan mengerti. Dan saat langkahku menjauhi pintu kaca itu, gumam isaknya menjangkau telingaku.

aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
berapa juni menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
kudengar berulang suara gelombang di udara memecah
nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

telah rontok kemarau yang tipis, ada yang mendadak
sepi
di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun
menanti
barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama**




*puisi gm, **puisi sdd

Engkau Saja Dik, Cukuplah!

October 17, 2008

Saya bayangkan, sehabis dibakar siang dan deram kereta yang memekakkan telinga, Aris pulang dengan wajah kecewa. Terbungkuk, dia masuk ke rumah yang masih separuh gubuk. Membuang napas, dia sandarkan gitar di dinding bercat kelabu yang mengelupas satu-satu, lalu dia gapai Mocalist Rasya Fattirullah, anak semata wayangnya, yang merangkak mendekati. Di sudut sana, menyandari panglari, Fany, istrinya, menyambut dengan senyum, lebih mirip setengah tawa.

Sembari memanggu Rasya, dan membelai kepala bocah yang belum ditumbuhi rambut sempurna itu, Aris menatap Fanny dan berkata, “Dik, hari ini kita tak ada lagi uang.”

Saya bayangkan juga, Fanny akan menyambut ucapan itu dengan wajah yang biasa. Tersenyum, lalu bibir yang terbiasa mengucapkan cinta itu berkata, “Bang, jangan bicarakan uang di rumah ini. Karena memang tak pernah ada uang di ruangan ini. Marilah Bang, kita bicarakan Allah. Karena hanya Allah sajalah Bang, Allah saja, yang masih tersisa di rumah tangga ini.”

Saya bayangkan, saya melihat air yang mengalir bening di sisi hidung Aris. Lalu Fany mendekat, menyusut tangis itu dengan telunjukknya, menggarisi pipi Aris dengan runcing hidungnya. Dan Aris merangkul bahu istrinya, mengecup kening, dan berbisik, “Dik, bagiku, di dunia ini engkau saja cukuplah. Cukuplah.”

Saya tak tahu, mengapa membayangkan adegan itu milik Aris dan Fany. Padahal, di layar kaca, dialog itu milik Asrul dan istrinya, dalam sebuah lanskap Para Pencari Tuhan yang selalu terlem di benak saya. Saya membayangkan Aris dan Fany, juga Rizky “The Titans” serta Ratna, barangkali karena mereka, kini, setelah lepas dari masalah uang, justru kehilangan kemesraan, cinta, dan juga Tuhan. Aris, yang selalu berkeringat itu, kini telah tak ada lagi. Fany, yang wajahnya kusam dibintiki jerawat, telah bening terawat. Hidup mereka tak lagi melarat. Aris yang selalu pulang ke rumah bercat pucat, kini telah tinggal di flat. Tapi dia sendirian dalam kemewahan itu, tanpa Fany.

“Sehabis menjuarai Indonesian Idol, cuma seminggu dia bersama kami,” terang Fany.

Aris berubah? Ya. “Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit banget. Dia bilang, ‘Boleh dong hatiku berpaling.’ Enak banget dia ngomong begitu,” geram Fany.

Tak hanya kepada Fany, Aris juga seakan lupa pada Rasya. Itulah yang membuat Fany tak lagi dapat memberi maaf. “Aku sudah menemani dia dari bawah sampai ke atas. Jadi, jika nanti dia sudah kembali ke bawah, aku nggak mau lagi sama dia.”

Uang, memang mengubah orang. “Aku lebih baik bersuami pengamen dengan uang 30 ribu perhari daripada seperti ini.”

Uang, juga membelokkan cinta. “Tiba-tiba datang seorang wanita ke rumah, mengaku sebagai kekasih Aris. Dia menunjukkan bukti-bukti. Aku seperti tersambar petir.”

Uang, dapat menduakan Tuhan. “Sampai sekarang, dia belum syukuran,” kecam Fany. “Saya berharap Aris menjalankan nazarnya untuk syukuran,” tambah Siti Rohaya, ibu Aris.

“Sesuatu yang didapatkan dengan teramat cepat dan gampang, lebih sering membuat orang lupa bersyukur,” kata pemikir Islam, Haidar Bagir.

Aril memang terlalu cepat populer. “Indonesian Idol” melempangkan mimpinya, sebuah jalan yang sedari awal tidak disetujui istrinya untuk dia tempuh. “Fany melarang saya untuk ikut acara ini. Dia takut saya berubah. Tapi di panggung ini, saya berjanji, Aris tidak akan berubah,” teriak Aris, ketika masuk ke-3 besar “Indonesian Idol”. Di bawah panggung, kamera menyorot Fany yang terisak. Mungkin dia menyesal pernah melarang Aris, dan merasa bersalah. Barangkali dia percaya, suaminya tak akan berubah.

Tapi Aris berubah.

Barangkali, dia tak ingin berubah. Tapi, dia juga tak bisa bertahan dengan masa lalunya. Aris, mungkin hanya ingin menyingkirkan kesilaman itu dengan cepat, berpaling, tanpa menoleh lagi. Sayang, Aris lupa, ada Fany di sana, masih berdiri di peta masa lalunya. Masih berharap, silau uang dan gemerincing pujian tak mengubah kecintaannya. Fany hanya ingin, seperti dulu, mereka bisa bahagia, meski tanpa nama dan harta.

“Banyak orang percaya, kalau sukses dan punya uang, kita akan bahagia,” terang Haidar, padahal “kebahagiaan terbesar adalah memberi.”

Kebahagiaan terbesar adalah memberi. Dan memberi mengandung sebuah makna “membagi apa yang telah kita dapatkan”. Aris telah mendapatkan semua yang dia impikan, popularitas dan uang. Tapi, dia menggenggamnya sendirian. Dia lupa, ada hak anak dan istrinya dalam semua yang telah dia raih. Ada doa dan airmata, juga kesepian panjang, yang diserahkan Fany, untuk melempangkan jalannya. Aris adalah contoh tentang popularitas dan uang yang dengan gampang diraih, tapi tidak untuk kebahagiaan. “Kita harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan mau memberi,” tambah Haidar.

Maka, saya bayangkan suatu hari nanti, Aris kembali ke rumah setengah gubuk itu, dengan langkah guyah meski tanpa peluh. Dia ketuk pintu, dia peluk Fany, dan bersimpuh. “Dik, maafkan aku. Untukku di dunia ini, engkau dan Rasya saja, cukuplah.”

Lalu Fany menarikkan Aris agar tak bersimpuh, dan memeluk tubuh yang wangi itu. “Bang, dari dulu, engkau telah cukup bagiku. Jadilah pengamen saja, dan nyanyikanlah lagu cinta. Hanya untukku, hanya untuk Rasya. Masuklah, mari, di rumah ini masih ada Allah, masih banyak cinta….”

Lalu Aris akan tertawa, berpaling memandang kamera. “Cut!” teriak sang sutradara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 18 Oktober 2008]

Biografi Chairil Merindui Jassin

October 15, 2008

neruda love poem by chester elmore

Galuh yang baik,

Dalam genggaman budaya, identitas dan estetika yang kian catur-marut, ketika kata-kata telah kehilangan daya pesonanya, seberapa besarkah arti Chairil bagi kita. Di sini, kini dan esok, dalam problema kehidupan yang kian menjadi mistis untuk diselesaikan, masihkah penting bagi kita untuk membicarakan Chairil, mengutak-atik seutas puisi? Masihkah kita menganggap puisi punya arti dalam kehidupan terpribadi kita?

Aku ragu.

Dalam bilikku yang apak dan temaram ini, kuingat sebuah puisi Ook Nugroho,

Seorang lelaki yang sedang kesepian
bersikeras memcoba menulis sebaris sajak.
Hasilnya adalah tanpa judul samasekali.
Dan kekosongan di antara kata-kata yang
dipilihnya itu tak bisa diisi apa pun
agaknya. Mungkin engkau sendiri yang harus
masuk, melambai atau sekadar sapaan “hallo!”
sudah akan cukup melengkapi sebelum sunyi
menutupnya dengan semacam erangan yang
tak teramat jelas benar maknanya

(”Sajak 1″ dalam Kalam 3/1995)

Puisi itu, dengan sangat jenial justru menunjukkan kehendak sebuah puisi. Di situ ada sebersit ngilu sunyi, mungkin dengan sepercik nada getir, tapi bukan kesedihan. Dengan ringan, puisi itu mengajak kita masuk, sesaat, mungkin melambai, menguluk salam, “hai, hallo!”, sebelum kembali ke sunyi.

Sunyi itulah Galuh, yang menjadi nada puisi. Ia mengajak kita mendengarkan, sesekali melengkapi, dengan sesuati yang mungkin tak berarti; tapi ada. Namun, bisakah kita melengkapi kekosongan yang ditawarkan sebuah puisi?

Aku tak tahu benar jawabnya.

Aku hanya sedikit meyakini, kekosongan yang disediakan seutas puisi, Bukan maksudku mau berbagi nasib. Sebab, nasib adalah kesunyian masing-masing. Kupilih kau dari yang banyak. Tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring. Karena puisi bukan hanya sebatas kata, melainkan juga nada, suasana, atau –meminjam ungkapan yang paling sering diucapkan GM– semacam enigma, yang merajuk, sekaligus membujuk kita untuk membuka diri, dengan tertawa, beria, bahkan berlupa.

*****


Galuh yang baik,

Masa lalu memang tak mudah pergi meskipun kita seperti tak ingin menengoknya. Tapi, jika masa lalu tak mudah pergi, dari bahagian manakah dari Chairil yang akan datang kepada kita, kini? Dari wilayah makannya yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan?

Kebohemiannyakah? Atau kejujurannya dalam mengungkap sang hidup?

Kadang aku berpikir, apalagi yang bisa kita harap dari Chairil. Dia, dalam semesta keliarannya, toh sudah didudukkan sebagai tokoh tanpa tanding perpuisian. Bahkan, kukira terlalu berlebihan kalau menganggap masih banyak dari dirinya yang belum diungkap. Chairil, aku lihat, justru telah dibakukan dalam sebentuk buku –bukan teks– dengan pendahuluan yang memikat dan menjerat, dan penutup yang mencengangkan. Dengan kata lain, sebagai buku, Chairil telah selesai dituliskan.

Atau tanyakanlah pada sahabat-sahabat kita yang mengerti puisi, masihlkah mereka tertarik memaknai sajaknya? Kukira, mereka, sebagaimana aku, lebih acap menggumamkan puisi Chairil dengan makna yang itu-itu saja. Ya, Chairil telah jadi semacam monumen; tanda terpenuhinya mimpi-mimpi kita tentang idealitas puisi dan penyair.

Lalu, masihhkah kita layak menerapkan hidup dan estetika Chairil sebagai ukuran kehidupan dan estetika penyair?

Maaf, aku menjawab tidak. Kita tak lagi bisa bercermin dari wajah Chairil. Kehidupan yang kita jalani dalam ritus kebudyaan yang hampir tak tertebak arahnya, seharusnya membuat kita mendadai Chairil:

Kalau sampai waktuku, dada
Kumau tak seorang kan merayu, dada. Tidak
juga kau, dada tak perlu
sedu sedan itu, dada
Aku ini binatang jalang, dada

(Agus R Sarjono dalam Horison 12/1992)

Atau,

Aku mengaji, anwar anwar
Hidup dari pasar terbuka dalam tubuh
Anwar mengirim tubuh kaku ke daging-daging
Dihembuskan pasar ke pohon-pohon sunyi
Jadi penyair seribu tahun. O
Makani tuhan dalam kuburm anwar-anwar

Aku orang sunyi berlalu dalam cerita

(Afrizal Makna, “Penyair Anwar”)


Galuh,

Penambahan kata dada dari puisi Chairil di atas justru membuat puisi itu kehilangan daya dobraknya. Menggenang, sunyi, mengambang.

Bait puisi yang semula utuh, dengan kelahiran dada kini tampil sendiri-sendiri, terfragmentasi, dan seakan menggumamkan kesunyian sendiri. Ada semacam penumpasan antroposentris, aku sebagai pusat pemaknaan.

Afrizal itu Galuh, menyindir lebih tajam. Sindiran itu bukan saja dapat kita lihat dari makna puisi, melainkan juga ditumpasnya konsep estetik Chairil, mengubah keutuhan makna menjadi kelumpuhan, dan menegaskan jalinan tanda. Diksi, yang menjadi kekuatan Chairil, dilolosi daya lecutnya, dilumpuhkan, ditunda, dengan jeda dada dan anwar-anwar.

Tapi Galuh, kita masih bisa melihat satu hal dari puisi Chairil: kesombongan sang Aku.

Sang aku adalah aku lirik yang tersedimentasi menjadi nama pengucapan diri bagi penyair. Bahkan, bagi Chairil otoritas penciptaan begitu disakralkan dan yang bukan penyair jangan ambil bagian. Nah, dalam kondisi yang demikian, semua proses pemaknaan akhirnya menumpuk hanya padanya. Di luar aku-lirik, makna yang lain tidak ada, dan kalaupuna ada, tak dapat tampil sejajar. Inilah yang dipahami Afrizal sebagai perubahan aku-lirik menjadi aku-ideologis, yang menekan, bahkan melampaui otoritas pembaca dan menjadi semacam hegemoni pemaknaan. Akibatnya, tidak pernah ada yang berani memberi makna lain. Hal itu, misalnya, tampak dalam aku-lirik aku-ideologis; aku ini binatang jalang.

Hal itu berlangsung lama sekali. Aku-lirik menjadi mata yang sepenuhnya memandang. Mata yang berkuasa menafsirkan dunia.

Tentu, kita dapat juga melihat titik ragu dalam diri Chairil, Galuh. Ada kala, aku-lirik yang semula menjadi identifikasi dirinya, pada suatu saat justru diragukannya. Keraguan yang datang dengan nada getir karena terhapusnya keyakinan. Aku berkaca. Ini muka penuh luka. Siapa punya? Aku-lirik, aku-ideologis, mata yang berkuasa memaknai dunia, justru bertanya dan meragukan wajah yang dia pandang di dalam cermin.

Galuh, bagi Afrizal, keraguan itu, walaupun sesaat, menunjukkan ada semacam kelehaman tentang kekuasaan aku-lirik. Aku-lirik yang telah menjadi aku-ideologis, mata-penuh-kuasa, menyadari keterbatasannya sebagai sumber dan peletak makna. Di titik lanjut, bahkan terjadi perubahan keyakinan. Aku yang memandang akhirnya menjadi aku yang dipandang, kemudian menjadi diri-diri lain yang dipandang. Di level lain, aku-lirik pun akhirnya menyerah, mati, dan punah.

hotel sepi. bumi sendiri tanpa manusia. dada. diam. hotelsekarang jadi
kupu-kupu terbang, jadi ulatpergi, jadi kepompong mati, menyembunyikan
radio mati, menyetir mobil mati, menyalakan lampu mati. dunia ditangan
ku. DADA. tidak lagi berpeta.

(Afrizal Malna, “Ekstase Hotel 2″)


*****


Galuh yang baik,

secara gampangan, penyair adalah orang yang berurusan dengan dunia dalam, menggarap makna, berkiprah dalam permenungan. Prestasinya diukur dari seberapa dalam ia mengendapkan dan menyerap makna, lalu mengabarkannya. Maka, tugas penyair bukanlah membuat kita yang membaca puisinya menjadi lebih pintar, atau lebih hebat, melainkan kian mengukuhkan ikatan barin kita dengan sang hidup.

Penyair dalah orang yang berkubang dalam pengalaman. Kalau pun ada ide –untuk menjadikan ide itu bagian yang organis dari puisinya– haruslah ide yang dialami, gagasan yang tidak hanya dipikirkan, tapi diajak bergulul dengan daing dan darah, pikiran yang mengudarkan bau napas dan keringat.

Maka, sebuah puisi pada akhirnya, seharusnya, bukanlah selebaran konsep-konsep. Dia hanya semacam kesaksian. Tentu, kesaksian itu bisa saja imajinatif, reflektif, dan juga naratif, yang kesemuanya dipungut dari inang kehidupan. Puisi, meminjam Karl R Popper, adalah uraian yang brsifat ekspresionisme epistemologis, di mana bagian bagian lariknya tak dapat didiskusikan secara objektif, tetapi harus diterima sebagai ekspresi keadaan mental, situasi kejiwaan, atau percikan keluar dari suatu interioritas yang pribadi dan intim. Dengan demikian, menghadapi seutas puisi tak ubah bak termangu di depan lukisan. Kita hanya dihadapkan pada dua pilihan; menerima atau menolak, menyukai atau mencampakkan. Tanpa harus berkeringat dalam baku argumentasi.

Nah, jika kita melihat puisi dan penyair dengan wajah demikian, masihkah kita dapat mendewakan Chairil, Galuh?

Jujur saja, bagiku, mengingat Chairil adalah mengenang luka. Luka itu lahir bukan dari rasa kehilangan, melainkan semesra sesal. Aku merasa, perpuisian kita telah terlalu lama menggantungkan diri pada Chairil. Itu tidak sehat. Seakan tidak ada penyair lain. Bukankah tanpa Jassin, Chairil tak akan berbunyi senyaring kini?

Padahal, di tiap daerah ini, telah terlalu banyak penyair. Banyak yang menyebut mereka sebagai “Chairil Muda”. Tapi bagiku, Galuh; penyebutan itu pun masih membiaskan betapa Chairil adalah dewa. Karena itu, aku tak setuju sebutan Chairil muda itu, karena ada keberjarakan minat dan hasrat yang amat berbeda, dalam situasi dan zaman yang jauh lebih komplek dan menakutkan, juga lebih kaya.

Membaca puisi-puisi mereka, aku melihat semacam posona yang subtil, yang tak mendaras dalam diksi yang keras, dan dalam batas tertentu, memaksaku memekikkan jerit; puisi mereka bukan hanya minta dirasakan tapi juga dipikirkan. Tapi Galuh, inilah zaman ketika kita tak punya lagi Jassin, yang ikhlas membongkar puisi. Inilah masa ketika penyair hidup di zaman puisi tak lagi semenggairahkan dulu, ketika media meletakkan puisi sebagai sedekah budaya, bukan komoditi yang layak. Inilah zaman yang mengogahi dan berlari meninggalkan roh puisi.

Ketiadaan kritikus yang intens inilah yang membuat aku rindu pada Jassin, yang tahu dimana berakhirnya mata seorang penyair.

Galuh, dalam irama budaya kini, mengagungkan Chairil tentu mengingkari zaman. Kini kita harus berani memandang keunikan tiap person tanpa meletakkan superioritas satu subjek di atas subjek yang lain. Semua harus dicatat, semua dapat tempat. Kita harus berbesar hari untuk mendengar suara-suara dari pinggir, dan pelan-pelan menggeser “pusat”. Juga mulai harus bisa menganggap penyair sebagai profesi yang biasa, yang dapat tumbuh dan hidup dalam budaya apa saja. Selama masih ada kekosongan dan kepenuhan rasa, sepi dan juga cinta, selama itu juga puisi akan terus tercipta, penyair terlahir.

Pada intinya yang paling dalam
Sajak ini adalah sebuah hati, impian-
impian tak terhitung dan hasrat tak
kesampaian. Tak perlu judul lagi
sebetulnya. Kata-kata di dalamnya juga
hanya selubung. Engkau harus mencoba
menyingkapnya, dan menyeberangi kekosongan yang
ditinggalkannya bagiku. Hanya dengan begini
engkau akan sampai padaku

(Ook Nugroho, “Sajak 2″)

Galuh Lalita yang baik,

Dalam budaya yang centang-perenang, agaknya Chairil harus kita letakkan hanya sebagai petanda dan bukan penanda dalam dunia kepenyairan kita. Sebagai salah satu petanda, dia tak beda dengan petanda yang lain, yang tak sakral, yang bisa ditampik dan dibongkar. Sebagai petanda, dia bukan diri yang absolut memaknai diri sendiri. Sebagai petanda, dia bertemu tafsir, dia harus membuka diri.

Galuh Lalita Swasti yang baik,

Setakat ini dulu suratku. Sampaikan salamku untuk sahabat-sahabat sejatimu. Di hari lain, aku mungkin akan bercerita tentang puisi-puisi saja, sehingga kita bisa sampai pada kekosongan, pada hening dan bening, cinta yang sama.


Semarang, 28 April 1999. 00.37 WIB

(Maaf Galuh, surat untukmu ini aku umumkan juga dalam diskusi “Hari Chairil Anwar” di FS Undip, 28 April 1999)

Diplomat Minang Berlidah Pedang

October 14, 2008

Di panggung rapat Sarekat Islam itu, Muso –kelak menjadi tokoh Partai Komunis Indonesia– berdiri, kokoh. Dia melihat para anggota rapat, tersenyum.

“Saudara, saudara, seperti apa orang yang berjanggut itu,” tanyanya.

Para peserta seperti kaget. Tapi, mereka menjawab juga. “Kambing!”

“Lalu, seperti apa orang yang memasang kumis,” tanya Muso lagi.

“Kucing!”

“Terimakasih.” Muso tergelak, lalu turun dari podium.

Kemudian, seorang lelaki kecil, berjanggut panjang, berkumis, naik podium. Dia tersenyum sebentar pada peserta rapat. Mengelus janggutnya, berdehem, dan bertanya, “Tahukah Saudara, seperti apa orang yang tidak berkumis dan berjanggut?”

Koor jawaban pun bergema. “Anjing!”

Lelaki berjanggut itu tersenyum. Kemudian meneruskan pidatonya, menjelaskan agenda Sarekat Islam dalam menghadapi politik kolonialisasi Belanda.

Lelaki berjanggut dan berkumis panjang itu adalah Haji Agus Salim, pentolan Sarekat Islam. Sejak awal, dia memang agak berbeda sikap dengan Muso. Tapi, Agus Salim selalu menanggapi semua perdebatan dengan Muso, bahkan sampai menyentuh hal yang amat pribadi. Bagi Agus Salim, setiap perdebatan harus ia hadapi, dan mesti ia menangi.

“Jarang ada yang mau menghadapi Agus Salim dalam berdebat. Ia amat ahli berkelit, bernegosisi, dan lidahnya amat tajam kala mengecam,” jelas Mohamad Roem, rekan Agus Salim semasa aktif di Jong Islamieten Bond.

Menolak Bea Siswa

Agus Salim lahir di kota Gedang, Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1884. Ia anak keempat dari Haji Moehammad Sali, jaksa di pengadilan negeri setempat. Karena kedudukan ayahnya itu, Agus kecil yang bernama asli Mashudul Haq, dapat bersekolah Belanda. Hebatnya, lelaki yang memang sedari muda suka memelihara janggut ini, amat pintar. Waktu lulus dari Hogere Burgerschool (HBS) di usia 19 tahun, ia meraih predikat sebagai lulusan terbaik untuk wilayah tiga kota: Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus kemudian mengajukan permintaan beasiswa pada pemerintaan Belanda. Tapi, permintaan itu ditampik. Agus Salim patah arang.

Sementara itu, di Jawa, tepatnya di Jepara, Kartini yang mendapat beasiswa tapi tak diizinkan orang tuanya, mendesak pemerintahan Belanda untuk menghibahkan beasiswa itu pada Agus Salim. Pemerintah Belanda menyanggupi. Tapi apa kata Agus Salim?

“Jika beasiswa itu diberikan kepadaku karena desakan Kartini, dan bukan karena penghargaan atas diriku sendiri, lebih baik tidak akan pernah kuterima,” kecamnya.

Sebagai sikap pembangkangan, Agus Salim bahkan hengkang ke Jeddah, dan belajar pada ulama di sana, sambil bekerja di konsulat Belanda.

Karier politik Agus Salim bermula saat dia pulang ke Indonesia, dan bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis di Sarekat Islam. Waktu kedua tokoh SI itu mundur dari Volksraad (dewan rakyat), Agus menggantikannya. Tapi, karena Belanda tak juga mengubah kebijakanannya pada Indonesia, Agus pun akhirnya mundur.

SI kemudian pecah, antara golongan Semaun dan Muso yang condong ke garis kiri, dan Agus Salim-Tjokro yang tetap di jalur agama. SI Semaun-Muso berkembang menjadi partai komunis, sedangkan Agus Salium kemudian aktif di Jong Islamieten Bond.

Di organisasi baru ini, Agus pernah dituduh memecah belah pemuda berdasarkan sentimen keagamaan. Tapi Agus menolak, dan mengajak berdebat, dan dia menang.

Di lembaga ini Agus kemudian melakukan gebrakan. Dalam kongres Jong Islamieten Bond di Yogyakarta 1925, peserta lelaki dan wanita duduk terpisah dan berbatas tabir, sesuai syariah Islam. Tapi, dua tahun kemudian, dalam kongres di Solo, Agus atas nama pengurus membuka tabir itu, setelah menjelaskan penafsirannya. Semangat pembaruan Islam ini terus berkembang.

“Ajaran dan semangat Islam, memelopori emansipasi perempuan. Itu pasti,” ucapnya, berapi. Kisah ini sering diucapulangkan Seokarno dalam tiap pidatonya, untuk menerangkan perlunya memandang Islam dan berbagai agama dengan dada terbuka.

Tak Hirau Harta Dunia

Setelah Indonesia merdeka, bakat debat dan ketajaman lidah Agus Salim dimanfaatkan untuk menyokong politik luar negeri Indonesia. Agus menjadi diplomat, yang bahkan atas lobinya, Mesir mau mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali. Dalam perjanjian dengan Belanda dan negara lain pun, Agus pasti disertakan. Tapi, sebagai pejabat negara, hidup keseharian Agus tak ubahnya rakyat jelata.

Hidupnya berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lain. Kadang, rumah itu hanya satu kamar, di gang becek, dan dia huni bersama 8 anaknya, serta ribuan buku koleksinya.

Tapi, menjadi miskin tak membuat keluarga itu murung. Penampikan Agus pada harta tak membuat anaknya kehilangan kegairahan dan keceriaan hidup. Mohamad Roem yang acap bertandang, menjadi saksi: “Kegembiraan berada di tengah keluarga Agus Salim, membuat kita acap lupa, sungguh betapa melaratnya keluarga ini,” katanya.

Agus Salim memang tak dendam pada kemiskinannya. Yang ia dendami adalah perlakuan Belanda yang menolak beasiswa dia. Karena itu, sedari lahir, tak pernah anaknya ia sekolahkan formal, kecuali yang bungsu. Agus mendidik sendiri anaknya dengan cinta dan pengertian. Bermain bagi Agus adalah belajar, belajar juga adalah permainan.

Hebatnya, sistem pendidikan informal ini cukup berhasil. Anak tertuanya, Jusuf Taufik, telah mampu membaca Mahabrata berbahasa Belanda di usia 13 tahun, dan yang lainnya, di usia belasan telah mampu menghapal syair Belanda. Perlu diketahui, tata bahasa Belanda amat sulit, sehingga butuh ketekunan yang luar biasa untuk bisa menguasainya.

Bagi Agus Salim, keberhasilan dirinya dia ukur dengan kemampuannya mengantarkan jiwa merdeka dan mandiri bagi anak-anaknya, tak menggantungkan hidup pada orang atau bangsa lain.

Jiwa yang merdeka ini, lidah yang amat tajam ini, dan otak yang luar biasa cemerlang itu, akhirnya rebah, 4 November 1954, di usia 70 tahun, sambil tersenyum. Dia tak pernah berhutang pada dunia.

Kezaliman Kelaziman

October 7, 2008

ASRUL barangkali memang tak beruntung. Baru bekerja, dan merasakan hidup senang sesaat, dia memutuskan mundur. Rasa bersalah, dan juga malu, membuatnya berani untuk mengambil keputusan pahit itu, meninggalkan Azzam dan Aya, yang kaget, dan tak bisa berbuat apa-apa.

Adegan dalam sinetron “Para Pencari Tuhan” itu memang menyentuh. Gestur Asrul, juga mimiknya yang tertolong rambut ikal bergayut lemak, sangat mengesankan. Tapi, tak ada yang lebih pedih daripada ketika menyaksikan dia harus berterus-terang, mengaku kepada istrinya, bahwa dia tak lagi bekerja. “Dik, kayaknya kita akan kembali miskin, hidup seperti dulu.”

Perempuan itu kaget, matanya meredup, kehilangan cahaya. Setelah membuang napas, wajah yang sempat pias tadi, kembali bersemu. Paras yang sudah terbiasa meredam kecewa. “Nggak apa-apa, Bang. Aku juga sudah menduga hal ini akan terjadi pada kita. Terlalu lama hidup dalam kemiskinan telah membuat Abang tak bisa hidup dengan cara yang lain.”

Tak ada marah dalam kalimat itu, hanya kecewa yang dibungkus sebuah praduga-pemakluman, kebiasaan membuat manusia sulit berubah. Kebiasaan membuat sisi kreatif manusia menjadi tumpul, terbelenggu dalam rutinitas yang mempermajal daya cipta.

Tapi uniknya, dalam “Para Pencari Tuhan” juga kemajalan daya cipta itu dibobol. Sinetron ini, berbeda dari yang lain, menunjukkan, meski kebiasaan mengurung sisi kreatif manusia, tapi sebuah “kejutan” bisa menembusnya. Dalam sinetron itu, kejutan hadir lewat sosok Baha, Zulfikar Baharuddin, pemabuk yang justru mampu menunjukkan bahwa kiblat Mushala al-Taufik, melenceng sekian derajat.

Seorang pemabuk, yang meninggalkan salat, tapi menunjukkan kesalahan arah kiblat; bukankah ramuan yang memikat? Di sinilah kelaziman –yang acap jadi kezaliman– itu ditundukkan, bahwa suara kebenaran bisa datang dari siapa saja, sepanjang manusia mau mendengarkannya. Bahwa, “Kebenaran itu tetap kebenaran, sekalipun datang dari mulut seorang pemabuk,” kata Bang Jack.

Tapi kenapa seorang pemabuk? “Karena yang tidak mabuk, tidak pernah peduli pada arah kiblat.” Bang Jack bersungut.

Yang tidak mabuk, bukan tidak peduli, tapi sudah masuk dalam iklim kebiasaan, menerima tanpa bertanya. Yang tidak mabuk sudah masuk dalam ketunggalan, keberterimaan, bahwa kebenaran harus datang dari ulama, atau setidaknya, dari mereka yang bersih zahirnya. Tapi Baha menunjukkan, seperti juga manusia, hidup pun tak bisa diduga. Anomali bisa datang kapan saja.

Suara sinetron itu, dengan demikian, adalah wajah manusia yang tampil dengan banyak sisi. Asrul bukan pemalas, tapi dia tak tahu cara hidup di luar meminta. Bang Jack, pengurus mushola, bahkan acap “memiringkan” nasihatnya untuk mendahulukan kepentingan pribadinya. Juga ustad Jeffy, juga Pak Jalal, orang terkaya di desa, yang pasti memberi setelah melepas caci.

Di sinetron itu, manusia hadir sebagai mahkluk yang memiliki hati, qalbu –yang makna etimologisnya gampang terombang-ambing. Manusia yang bukan menerima, tapi mencari, sedang menuju, dan tak akan sampai. Di sinilah, watak fiksional manusia berjiwa malaikat ditampik, kebejadan yang hitam pun dibuang. Sinetron ini menunjukkan, manusia sesungguhnya berada di garis abu-abu, belang-belang. Bersifat hitam atau putih, iblis atau malaikat, adalah pilihan yang, mungkin, sesaat, bertukaran, tak menetap. Kecuali telah dikurung oleh kebiasaan.

Lalu bagaimana membuang kebiasaan? Sulit memang. Tapi, Baha memberikan sedikit titik terang, jadilah pemabuk. Mabuk pada hal-hal baru. Hanya dalam “mabuk” saja, kelenjar psikedelik terpancing, “mata ketiga” terbuka. Sehingga kreativitas mengelana, dan diri dapat suntuk mencari jalan. Karena, nilai manusia diukur bukan pada apa yang telah dia capai, melainkan bagaimana cara dia mencapai. Karena Tuhan pun harus dicari, barulah Dia mau menampakkan diri.