Sumur di dalam Kamar

September 12, 2008

“BANG…,” sapa Intan, begitu kakiku melewati pintu, mau masuk ke kantor tabloid, “Ada yang mau bertemu. Tuh, nunggu di depan.” Bibirnya maju, menunjuk ke arah tamu itu.

Aku mengangguk dan memberi senyum thanks, meletakkan tas di meja, lalu bergegas ke ruang tamu redaksi. Di sofa hijau itu, seorang perempuan paro baya, tengah menantiku.

“Mas Aulia?” tanyanya, berdiri dan menyorongkan tangan.

Aku mengangguk, menyambut salamnya. Sembari menyilakan dia duduk kembali, kutanyakan tujuannya.

“Begini Mas, Saya Witri. Saya kan selalu membaca zodiak di tabloid. Nah, selama ini saya merasa apa yang ada di situ cocok sekali dengan situasi saya. Kena, gitu. Lalu saya telepon redaksi, tanya siapa yang menulis zodiak. Tenyata Mas Aulia. Nah, sekalian saya datang, ingin konsultasi.”

Konsultasi? Kuamati perempuan di depanku itu. Kutaksir usianya di bawah 35. Dengan kemeja ketat-putih, dan rok pendek, dia dapat tetap duduk dengan nyaman, meski sebagian pahanya terbuka. Jelas busana itu adalah pilihan sadarnya. Tas bermerek, berselimutkan blazer, tertidur di samping pinggulnya, juga menegaskan seleranya. Terkadang, selera seseorang dapat menunjukkan tingkat pendidikannya. Dan karena berpendidikan, tentu dia mengerti, psikolog-lah tempat yang paling cocok untuk berkonsultasi. Lha, aku? Maka kutanyakan, apakah dia tidak salah orang? Pertama, karena aku bukan psikolog, apalagi juru terawang. Kedua, aku tak pintar mengarang. Orang yang tak pandai mengarang, tak cocok untuk tempat berkonsultasi.

Perempuan itu akhirnya menjelaskan, bahwa dia percaya, aku dapat memberikan “sesuatu” berkaitan dengan hidupnya. Karena, selama ini, tanpa disadari, melalui “ramalam” di zodiak, dia sudah merasa terbantu. Dia minta kesediaan aku mendengarkan ceritanya, dan memberikan pendapat.

Aku tak bisa mengelak. Aku yakin, jika gusti “mengirimkan” seseorang kepadamu untuk meminta tolong, pasti dia pun telah menyiapkan “sesuatu” dalam diriku untuk menolong orang itu. Aku percaya, selalu ada jawaban di dalam tiap misteri. Masalahnya adalah bagaimana menemukan atau mencari jawaban itu.

“Saya bermimpi, Mas,” Witri memulai ceritanya. “Tepatnya tiga malam lalu, dan telah dua kali berulang. Di dalam kamar saya, di bawah tempat tidur, tiba-tiba terdapat sumur, dengan mata air yang jernih dan berlimpah sekali. Di mimpi itu, saya sampai meraupi air yang berlimpah itu, mencuci wajah dan meminum airnya. Segar sekali. Tapi anehnya, suami saya tidak tahu sumur itu. Ia bahkan tidak melihat saya yang mencuci muka dan minum air sumur itu. Saya ajak dia melihat, tapi dia tidak mau membuka mata. Katanya, sumur itu hanya khayalan aku saja. Saya memaksa. Tapi, ketika suami akhirnya mau, mendadak sumur itu kering. Tak ada air sama sekali. Berkali-kali saya ciduk, tak ada air yang tertangkap gayung. Saya sedih sekali, Mas. Dan terbangun.”

Witri menatapku, jarinya memilin-milin ujung roknya. “Kira-kira apa artinya, Mas?”

Oalah, ternyata ini yang akan dia “konsultasikan.” Aku tertawa. Bukan, bukan menertawai mimpinya, melainkan nasibku yang harus kembali jadi pembaca mimpi. Kenapa aku pakai kata “kembali”, akan terjawab di cerita-cerita berikutnya.

Aku menarik napas. Biasanya, dalam tarikan napas itulah, kudapatkan letikan-letikan informasi di kepalaku untuk dapat menjawab hal-hal semacam ini. Letikan informasi itu sangat penting bagiku, bukan karena kandungan kebenarannya, melainkan kemampuannya membebaskanku dari tagihan penafsiran.

Kutarik napas lagi. Kok masih blank, ya? hahaha parah, nih! Terpaksalah kuulur waktu. Kutanyakan pekerjaannya, usia, pekerjaan suami, dan berapa tahun mereka sudah menikah. Kujelaskan juga bahwa aku bukanlah tukang ramal. Kemampuanku menulis nasib di tabloid, bukanlah karena indera keenam, melainkan tugas redaksionalan semata. Jadi, aku tidak punya kemampuan apa pun untuk dapat menerawang nasib, membaca takdir, atau menujum mimpi. Jadi, jika pun aku memberikan tafsir, itu semata “pembacaan” biasa atas mimpinya. Tidak ada hubungannya dengan mistik, atau patgulipat terawangan alam gaib.

Lalu bagaimana tafsirku. Begini. “Dari mimpi Mbak Witri, saya hanya membaca bahwa ada masalah dalam wilayah kamar tidur, Mbak. Masalah itu muncul dalam petanda sumur. Dan dalam banyak kebudayaan, sumur dapat dimaknai apa pun. Tapi karena berlokasi di kamar, makna itu dibatasi konteks. Saya menafsirkan sumur sebagai subur.”

“Maksudnya, Mas?”

“Barangkali, rumah tangga Mbak telah lama dirisaukan oleh masalah kesuburan ini. Maaf, apakah Mbak telah memiliki anak?” Witri menggeleng. Aku membuang napas, lega. Tafsir bisa dilanjutkan. “Mungkin, ketakhadiran anak telah membuat benih curiga lahir di antara Mbak dan suami, tentang siapa yang subur dan siapa yang tidak. Tapi, kecurigaan itu tak pernah dikomunikasikan. Makanya, sumur itu berada di bawah tempat tidur. Tertutupi, tertiduri, sesuatu yang tak ingin diketahui, tak ingin dijamah.”

“Artinya, apakah saya yang tidak subur, Mas?”

“Sekali lagi, ini tafsir, Mbak. Bukan mutlak-mutlakan. Dan tafsir saya, justru tidak mengatakan begitu.”

“Maksud Mas, saya subur, begitu? Bisa hamil?”

Witri menatapku. Di mata itu, aku tahu, dia berharap –bahkan mungkin meminta– aku mengatakan, ‘Ya.’ Tapi, aku harus jujur. Aku tak boleh menjawab hanya untuk menyenangkan hatinya.

Aku mengangguk. Dia membuang napas. Terlihat begitu lega. “Tapi masalahnya bukan di situ, Mbak?” sambungku.

“Maksud Mas, suamiku yang tidak subur?”

Aku menggeleng. Kulihat bibirnya membuka, setengah melongo. Manis juga Witri ini kalau bengong begitu, hahaha…

“Lalu siapa yang tidak subur?”

“Yang tidak subur adalah kejujuran, Mbak.”

“Maksud Mas Aulia apa? Saya kok tidak mengerti?”

“Sekali lagi, ini tafsir ya Mbak, bukan mutlak-mutlakan. Dari yang saya baca, suami Mbak sebenarnya tidak atau belum menginginkan anak. Saya tidak tahu sebabnya. Tapi, seperti mimpi Mbak, ternyata dia tidak mau melihat sumur itu, kesuburan itu. Dan ketika Mbak paksa, sumur itu jadi tidak ada, kesuburan itu jadi kering. Nah, di sini terlihat, bahwa ada ketidakjujuran. Suami tidak mengatakan kepada Mbak bahwa dia belum atau tidak ingin memiliki momongan. Dan membiarkan ketidakhadiran anak itu sebagai masalah kesuburan, dan bukan persoalan kesengajaan. Jadi, saran saya, coba suami diajak bicara, jujur-jujuran, ceritakan mimpi Mbak, dan tanya dia, apakah sungguh ingin punya momongan atau tidak. Semoga saja, apa yang kita baca dari mimpi itu benar adanya, dan Mbak bisa merumuskan bagaimana selanjutnya.”

Witri diam. Menyandari sofa, matanya menerawang. Aqua yang tadi diberikan Intan, belum dia sentuh. Barangkali dia berpikir, mencari-cari apakah benar suaminya tidak ingin momongan, apakah benar mimpi itu bicara demikian. Aku menunggu, sembari memperhatikan lebih jeli dirinya, terutama posisi duduknya. Hahaha….

Tak lama kami dirampas diam. Witri kemudian mengucapkan terimakasih, menggapai sesuatu dari tasnya. Tapi aku bertindak cepat. Aku tahu, dari tas yang terbuka itu, telah kulihat amplop sejak tadi. Aku tak ingin menerima hal itu. Maka, ketika dia berdiri dan mengansurkan itu, kutepiskan tangannya. “Tak perlu, Mbak. Saya tak memberi apa-apa, kok. Cuma mendengarkan mimpi Mbak, dan mengomentarinya. Anggap saja itu bonus karena Mbak telah membuang waktu untuk datang ke kantor ini.”

Dia tersenyum, aku tertawa. Setelah meminta, dan kuberikan nomor ponsel, dia pun pamit, setelah berkali-kali mendaraskan terimakasih. Aku mengantarnya sampai parkiran, melihatnya masuk mobil, dan pergi. Kuhembuskan napas. Satu tafsir, selesai sudah, intuisi semoga kian terasah.

*****

Tiga hari setelah itu, sebuah SMS masuk. “Mas, ini Witri. Cerita Mas kemarin benar semua. Suami sudah mengakui semuanya. Thanks banget, ya?” Aku tertawa, tertawa. Tuhan memang maha mengatur segalanya.