Hantu dari Masa Lalu

January 9, 2009 · Print This Article

Kita tidak hidup dalam firdaus, dan karena itu kita tak mampu menampik masa lalu.

Walter Benyamin benar ketika mengatakan itu. Masa lampau, bagi filsuf Jerman itu, bukan saja tak pernah tertinggal bahkan terus menghampiri, kadang hadir berulang. “Hanya sejarah-lah yang sesungguhnya dapat menerangkan, siapakah sesungguhnya manusia itu,” demikian dia berkata, menguatkan mazhab historisisme.

Tapi, sejarah semacam apa yang tak bisa diogahi itu? Benyamin punya jawaban: sejarah dengan kepedihan.

“Sejarah yang selalu dikenang ini bukanlah sejarah yang penuh dengan romantika manis. Namun, apa yang selalu membayangi orang adalah ingatan akan penderitaan, memoria passionis.”

Sejarah yang tak hanya menjejaki otak dengan tanggal, hari, percik suasana dan hangat percakapan, melainkan telah berubah menjadi verstehen; pemahaman dalam diri, terinternalisasikan, tertubuhkan. Dalam sejarah semacam itulah, masa depan, hidup yang kini dijalani, mendapatkan penebusan.

“Aku tak bisa melupakan masa lalu. Ada fase dalam hidupku yang begitu bodoh, yang sampai kini pun masih membuatku bertanya, ‘kok bisa aku melakukan hal itu’,” kata Shu Qi, aktris China yang kini telah menapak di Hollywood. “Tapi ya, itu memang hidupku. Dulu.”

Shu Qi memulai karier dengan cara yang tak lazim; dia memanfaatkan tubuhnya.

Dalam film Sex & Zen, yang menjadi sangat populer di Indonesia, aktris itu tak beradegan lain, kecuali menggeliat dan mendesis, menyayukan mata ketika menanggalkan busana, mengelinjangkan pinggul seakan berkuda.

Ya, Shu Qi memulai karier sebagai bintang porno.

Cara yang tepat.

Namanya pun melesat.

Tapi Shu Qi justru merasa cacat.

yang ia rasa, sebenarnya dia tak pernah ke tujuan melangkah.

Shu Qi salah arah.

Shu Qi ingin berubah. “Aku tahu telah berbuat keliru. Saat itu, dalam ketiadaan pengharapan dan dukungan keluarga, aku merasa telah dewasa untuk melakukan apa saja,” tuturnya dalam sesal yang punah sebagai tangis.

Shu Qi berbenah. Ia berakting dengan Jacky Chan dalam Gorgeous, sebagai gadis lugu, tak lagi bersayu-sayu. Aktingnya tak cemerlang di situ. Tapi Shu Qi tahu, dia telah melangkah.

Kemudian, perlahan, dia mulai menemukan arah.

Kini, dia terpilih sebagai aktris dengan bibir terseksi di dunia, mengalahkan Angelina Jolie. Sampai 2010, jadwal filmnya telah penuh, beberapa di antaranya produksi Hollywood. Dia telah bermetamorfosa dari siburik itik menjadi angsa.

Tapi kemana pun melangkah, Shu Qi tak menampik masa lalunya, memoria passionis itu.

Dalam hal itulah Shu Qi berbeda dari Rahma Azhari.

Rahma sampai kini tak mengakui masa lalunya.

Ketika tampil sebagai tamu dalam “Bukan Empat Mata”, dia masih mengelak, dan cuma berkata, “Terserah orang mau bilang apa.” Dalam berbagai tayangan infotainmen, Rahma hanya mengiyakan foto dia dan Sarah yang belum lepas busana. Foto bugil bertiga, dalam tawa riang dan senyum cerah dengan tubuh bersabun busa, Rahma tak mengingatnya. Dia alpa.

Ya, sama seperti Shu Qi, Rahma pun menangis. Tapi tangis Rahma adalah rintihan pengingkaran, bahwa ada seseorang yang dengan sengaja telah menyakitinya, membuatkan aib untuknya. Roy Suryo pun dia anggap menguatkan sesuatu yang bukan saja tak ada, melainkan juga tak pernah dia lakukan.

Tapi, “Foto itu asli,” kata Roy Suryo.

Sarah dan Rahma, di mata Roy adalah korban. Dan karena itu, dia berharap keduanya tak mengingkari. Bahkan harus lapor ke polisi.

Roy barangkali tak menyadari bahwa Rahma tak sepenuhnya ingkar. Rahma hanya lupa.

“Masa lalu yang dapat dilupakan, adalah kelampauan yang tak menyimpan ingatan akan penderitaan,” kata Walter Benyamin. Bagi Rahma, mandi bertiga lepas busana sembari  menggelakkan tawa bukanlah penderitaan, bukan aib atau pun kesalahan. Foto-foto itu adalah pameran kesenangan, kegembiraan, kegenitan, dan juga, berahi; hal yang hanya dilakukan mereka yang lupa diri.

Jadi, biarkan saja Rahma alpa. Karena, kelupaan pada masa lalu itu, kata Benyamin lagi, adalah tanda manusia yang telah kehilangan pathos, tujuan, dan juga sikap moral. Apalagi, tetap akan ada yang mencatatnya dalam sejarah ingatan banyak orang, bahwa ada jenis Shu Qi dan Rahma; yang satu telah berbenah dan melangkah dari masa lalu, satunya lagi masih amnesia, berkubang selamanya.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 10 Januari 2009]

Comments

RSS feed | Trackback URI

17 Comments »

Comment by Edhitok
2009-01-10 01:17:52

Bukan mas, rahma itu bukan lupa pernah melakukan mandi telanjang bertiga dan di foto2 tetapi dia sebenarnya lupa apakah dia pernah pake baju apa engga. Dia lupa mana yang pantas/etis, pake baju apa telanjang. Baginya, dua hal itu sama saja. Mas udah lihat foto-fotonya ya? Bagus ya hehhee….kabur

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-12 11:12:29

saya mah gak berani lihat yang begituan, hehehe… harum eh haram!

 
 
Comment by whisperingwind
2009-01-11 01:43:42

kritise…nyokot banget tulisanmu *halah, ndesoku metu*

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-12 11:13:03

nyokot itu paan? sejenis….?

 
 
Comment by haris
2009-01-11 09:59:25

jadi rahma gak akan menemukan jalannya mas? karena dia telah melupakan masa lalunya?he2.

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-12 11:14:11

dia masih berjalan di tapak kelaluan itu… belum menjadikan sejarah sebagai titik balik, karena sejarah yang dia miliki tak memiliki “ingatan kesakitan”.

 
 
Comment by amin
2009-01-12 10:25:25

Rahma, mungkin telah lupa caranya memakai baju yang benar

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-12 11:14:38

wes tak ajari lagi kok.

 
 
Comment by Muhajir Arrosyid
2009-01-12 20:27:22

Saya ragu untuk komentar mas. malu

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-19 17:50:53

malu sama sarah ya? hehehe

 
 
Comment by eL
2009-01-18 16:17:24

hahahaaa.. keluarga Azhari memang nggak ada matinyaaa…
(tertawa ampang)

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-19 17:51:39

iya, mereka masih sehat-sehat dan seksi-seksi. tapi ayah mereka yang sudah meninggal kok…

 
 
Comment by L. Wiji Widodo
2009-01-30 14:49:28

…pengalaman kesedihan memang telaga air mata yang bening, disana kita bisa berkaca, pantulan sosok kita dalam balutan penyesalan tak pernah bosan selalu hadir…tapi mungkin bagi mereka aib adalah laguna indah yang nyaman didiami…makasih mas ulasannya…

 
Comment by Alfa
2011-03-30 00:57:25

hsu qi itu maen di sex and zen 2, sekuel dari sex and zen. dan dia itu bukan bintang porno, tapi bintang semi porno. ada bedanya antara semi porno dan porno.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post