Kezaliman Kelaziman

October 7, 2008 · Print This Article

ASRUL barangkali memang tak beruntung. Baru bekerja, dan merasakan hidup senang sesaat, dia memutuskan mundur. Rasa bersalah, dan juga malu, membuatnya berani untuk mengambil keputusan pahit itu, meninggalkan Azzam dan Aya, yang kaget, dan tak bisa berbuat apa-apa.

Adegan dalam sinetron “Para Pencari Tuhan” itu memang menyentuh. Gestur Asrul, juga mimiknya yang tertolong rambut ikal bergayut lemak, sangat mengesankan. Tapi, tak ada yang lebih pedih daripada ketika menyaksikan dia harus berterus-terang, mengaku kepada istrinya, bahwa dia tak lagi bekerja. “Dik, kayaknya kita akan kembali miskin, hidup seperti dulu.”

Perempuan itu kaget, matanya meredup, kehilangan cahaya. Setelah membuang napas, wajah yang sempat pias tadi, kembali bersemu. Paras yang sudah terbiasa meredam kecewa. “Nggak apa-apa, Bang. Aku juga sudah menduga hal ini akan terjadi pada kita. Terlalu lama hidup dalam kemiskinan telah membuat Abang tak bisa hidup dengan cara yang lain.”

Tak ada marah dalam kalimat itu, hanya kecewa yang dibungkus sebuah praduga-pemakluman, kebiasaan membuat manusia sulit berubah. Kebiasaan membuat sisi kreatif manusia menjadi tumpul, terbelenggu dalam rutinitas yang mempermajal daya cipta.

Tapi uniknya, dalam “Para Pencari Tuhan” juga kemajalan daya cipta itu dibobol. Sinetron ini, berbeda dari yang lain, menunjukkan, meski kebiasaan mengurung sisi kreatif manusia, tapi sebuah “kejutan” bisa menembusnya. Dalam sinetron itu, kejutan hadir lewat sosok Baha, Zulfikar Baharuddin, pemabuk yang justru mampu menunjukkan bahwa kiblat Mushala al-Taufik, melenceng sekian derajat.

Seorang pemabuk, yang meninggalkan salat, tapi menunjukkan kesalahan arah kiblat; bukankah ramuan yang memikat? Di sinilah kelaziman –yang acap jadi kezaliman– itu ditundukkan, bahwa suara kebenaran bisa datang dari siapa saja, sepanjang manusia mau mendengarkannya. Bahwa, “Kebenaran itu tetap kebenaran, sekalipun datang dari mulut seorang pemabuk,” kata Bang Jack.

Tapi kenapa seorang pemabuk? “Karena yang tidak mabuk, tidak pernah peduli pada arah kiblat.” Bang Jack bersungut.

Yang tidak mabuk, bukan tidak peduli, tapi sudah masuk dalam iklim kebiasaan, menerima tanpa bertanya. Yang tidak mabuk sudah masuk dalam ketunggalan, keberterimaan, bahwa kebenaran harus datang dari ulama, atau setidaknya, dari mereka yang bersih zahirnya. Tapi Baha menunjukkan, seperti juga manusia, hidup pun tak bisa diduga. Anomali bisa datang kapan saja.

Suara sinetron itu, dengan demikian, adalah wajah manusia yang tampil dengan banyak sisi. Asrul bukan pemalas, tapi dia tak tahu cara hidup di luar meminta. Bang Jack, pengurus mushola, bahkan acap “memiringkan” nasihatnya untuk mendahulukan kepentingan pribadinya. Juga ustad Jeffy, juga Pak Jalal, orang terkaya di desa, yang pasti memberi setelah melepas caci.

Di sinetron itu, manusia hadir sebagai mahkluk yang memiliki hati, qalbu –yang makna etimologisnya gampang terombang-ambing. Manusia yang bukan menerima, tapi mencari, sedang menuju, dan tak akan sampai. Di sinilah, watak fiksional manusia berjiwa malaikat ditampik, kebejadan yang hitam pun dibuang. Sinetron ini menunjukkan, manusia sesungguhnya berada di garis abu-abu, belang-belang. Bersifat hitam atau putih, iblis atau malaikat, adalah pilihan yang, mungkin, sesaat, bertukaran, tak menetap. Kecuali telah dikurung oleh kebiasaan.

Lalu bagaimana membuang kebiasaan? Sulit memang. Tapi, Baha memberikan sedikit titik terang, jadilah pemabuk. Mabuk pada hal-hal baru. Hanya dalam “mabuk” saja, kelenjar psikedelik terpancing, “mata ketiga” terbuka. Sehingga kreativitas mengelana, dan diri dapat suntuk mencari jalan. Karena, nilai manusia diukur bukan pada apa yang telah dia capai, melainkan bagaimana cara dia mencapai. Karena Tuhan pun harus dicari, barulah Dia mau menampakkan diri.

Comments

RSS feed | Trackback URI

21 Comments »

Comment by goop
2008-10-07 14:52:51

kelenjar psikedelik, apa itu?
apakah sama dengan ekstasenya sufi?
bisakah dikondisikan “mabuk” itu?
:D

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-07 15:59:25

berselancar aja goop, mungkin paman google punya penjelasan yang lebih beragam. ketika sufi ekstase atau syatahat “dipercayai” karena ada peningkatan produksi kelenjar psikedelik. tapi tentu, fungsi kelenjar ini dulu belum mendapatkan telaah yang cukup atau mungkin dijelaskan dengan bahasa yang lain.

para pengikut yoga meyakini peningkatan kelenjar psikedelik mampu membuka “mata ketiga”, yang posisinya dipercayai berada dua jari di antara dua mata.

mabuk tentu bisa dikondisikan.

 
 
Comment by ernita
2008-10-08 15:18:42

Waduh….saya bukan penikmat film sinetron, gak tahu para pencari tuhan, gak kenal Asrul, Baha, Jack, dsb (garuk2 kepala). Satu2nya yang kutahu cuma suami2 takut istri hehehe. Mengenai kelenjar mendelik itu juga baru kudengar :-)
Secara umum sih, tulisan kali ini membuat saya berpikir dulu waktu mbacanya. Maklum, tulisan sastrawan agak susah bagi orang awam kayak saya ini hehehehe.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-08 16:04:17

gak tahu ya gapapa, ernita. bukan dosa.

 
 
Comment by diedra
2008-10-08 19:07:25

yup. aku setuju. sinetron ini memanusiakan manusia

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-08 20:20:49

dalam beberapa hal, juga mengibliskan manusia…

 
 
Comment by bunda
2008-10-09 11:13:33

Eh, dah nonton laskar pelangi blom? buat tulisannya dong…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-09 12:51:09

sudah. tapi lagi merasa kok tidak seperti yang ramai digelembungkan media2….

 
 
Comment by edhi
2008-10-09 20:44:38

Waduh kali ini mas Aulia bikin saya sekali lagi ‘bingung’ dengan istilah2 baru (bagi saya).
But, nice article kang. terus berkarya, bebas, lepas, tinggi setinggi ‘Elang’…..emangnya Elang tinggi?, urung ngerti sih hik hik hik….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-10 12:40:30

oke, sip, pasti, swear…

 
 
Comment by haris
2008-10-12 17:06:29

kelaziman yang jadi kelzaliman? hi hi hi itu sesuatu yang amat mengena, mas. kenormalan memang membikin tumpul. utk itulah kadang dibutuhkan sebuah “masalah” yang bisa juga diartikan sebagai “sesuatu yang tidak normal”.

btw, kasih komentar ttg perwajahan baru blog-ku, mas. agak bimbang. he2.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-13 10:27:35

padahal ris, yang “tumpul” itu yang enak, hahaha….

 
 
Comment by mezzalena
2008-10-14 09:16:34

eh, iya jadi ingat kata dosen saya, Pak… Selalu biasakan hidup yang benar tapi jangan benarkan semua kebiasaan.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-14 10:29:19

iya, bener sekali tuh si pak dosen.

 
 
Comment by amin fauzi
2008-10-22 10:26:47

sepakat mas, kebanaran tak selamanya hadir dari ulama’ fisik semata, apapun yang ada di dunia ini pasti bisa memancarkan kebenaran, hanya waktu yang membedakan. wah qu salut cara mas aulia menyampaikan. dahsyat boooo’

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-22 14:39:46

iya mas… waktu adalah hakim yang paling jujur

 
 
Comment by Arief
2008-10-26 11:19:44

Apapun itu, menurut saya itu hanyalah sinetron mas. Mungkin pesan moralnya memang jauh lebih ‘mengena’ dibandingkan sinetron-sinetron lain. Tapi tujuannya ya tetap sama. Mas aulia ngerti kan maksud saya? Hmmmm…….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-27 14:28:09

nggak ngerti, swear.

 
 
Comment by muhandhis
2008-11-03 15:56:06

wah, samean koq pinter sekali mengolah kata-kata Pak..
salut… jadi ingin berguru… -__-

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-03 16:24:36

wah, muhandhis pinter banget ngece, hehehe

 
 
Comment by gambul
2008-11-12 15:15:27

goop, mabuk yook!

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post