Kesepian dan Airmata

August 21, 2008 · Print This Article

TAK ada teman yang paling setia, selain kesepian dan airmata. Begitulah Khalil Gibran pernah berkata. Dan di minggu-minggu ini, kesepian dan airmata itulah yang menjadi teman Sheila Marcia. Setelah tertangkap karena mengonsumsi narkoba, di dingin penjara, Sheila pasti telah menemukan sahabat setianya itu. Hanya kesepian, juga airmata. Tak ada orang lain, termasuk pria yang dia cinta, Roger Danuarta.

Tapi di luar penjara, kesepian dan airmata juga dimiliki perempuan lain, Maria Cecelia, ibu Sheila. Perempuan yang tampak masih cantik di usia paro baya itu pasti merasa sepi, karena buah cintanya harus hidup dalam terali. Kesepian yang lahir bukan karena malu, melainkan perasaan gagal sebagai seorang ibu. “Sebagai ibu, sudah saya akui, saya yang salah. Jangan diskriminasikan anak saya. Sebagai ibu saya yang kurang atensi. Saya manusia biasa, saya tolol,” ucapnya pelan, menahan sedan.

Itulah kesepian yang paling dalam, sesal seorang ibu. Dan sesal itu, rasa gagal itu, hanya bisa dihapus dengan pengakuan, bukan pengambinghitaman. Maria menempuh hal itu. Membiarkan Sheila sendirian di Jakarta sejak berusia 14 tahun, bukanlah langkah bijaksana. Mengenalkan dunia malam, ke disko dan klab malam, adalah memamahkan racun ke dalam raga muda Sheila. “Waktu dia umur 14 tahun, sudah diajak clubbing sama kami. Kami memang salah,” akunya.

Maria memang punya alasan, Sheila terlalu manja. Dan dia berharap, di Jakarta, kemandirian akan menjadi pengasuhnya. Ternyata Maria salah. Jakarta terlalu buas untuk jiwa muda Sheila. “Itu keputusan yang salah. Maaf kepada semua pihak, termasuk orang yang nama baiknya ikut dirugikan,” pintanya.

Pembiaran itu juga yang membuat banyak gosip tak sedap meruyak. Maria dikabarkan berada di belakang penangkapan itu. Dia yang menelpon polisi untuk menangkap putrinya.

Kabar yang gila. Meski mengaku gagal sebagai ibu, Maria tentu tak mungkin mengerkah anaknya sendiri. Karena itu, tubuhnya gemetar dan limbung ketika mendengar kabar itu. “Buar apa? Itu lebih kejam dari pembunuhan! Masa ada seorang ibu yang memanggil polisi untuk menangkap anaknya sendiri!” teriaknya. Dan, braakk!! Maria pingsan.

Kesepian. Airmata. Hanya itulah teman ketika kegagalan menerpa. Berkali-kali tampil di kamera, tak ada wajah suaminya, Joseph, menemaninya. Maria bernasib sama dengan anaknya, yang ketika berada dalam kegagalam mereka, justru kehilangan dukungan, dampingan, dari orang-orang yang mereka cinta. Maka, menangislah Maria, menangislah Sheila. Meski, tangis kesekian itu, akunya, bukan lagi tangisan kesedihan. “Saya menangis karena bahagia. Saya gagal sebagai ibu, tapi saya bangga, Sheila bisa menghadapi situasi ini.”

Bangga, karena Sheila, seperti dirinya, mampu sendirian menghadapi semua. Bahagia karena anaknya, tertangkap ketika semua belum terlambat. “Mungkin, inilah bagian dari pelajaran hidup.”

Hidup memang memberi pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan, melalui tangis dan tawa. Sheila dan Maria telah merasakan keduanya. Sebuah situasi yang membuat mereka tahu, dalam nestapa, dalam bencana, akan teruji siapa sebenarnya orang-orang yang mencintai mereka. Sheila tahu, nyaris dua minggu, tak datang juga Roger menguatkannya. Maria tahu, sampai kini, tak muncul juga Joseph merangkul bahunya. Dalam nestapa, ibu-anak itu merasa kuat, karena mereka punya teman terakrab dan setia, kesepian dan airmata.

Hanya melewati nestapa kita bisa tahu rasa bahagia, kita tahu makna cinta. Maria, Sheila, hari-hari ini, sedang diasuh kehidupan untuk lebih dewasa. “Sebagai ibu, saya yang salah,” kata Maria. Ucapan itu, kini terasa lebih mirip sebagai doa, untuk anaknya.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di Tabloid Cempaka, Sabtu 23 Agustus 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

16 Comments »

Comment by diedra
2008-08-22 22:22:32

Btw udah tau gossip ini blum. Hehehhe

Ternyata Rogerlah yg berperan besar dlm penangkapan Sheila Marcia, berikut petikan percakapannya….

Pelapor : break… break… ada pesta shabu di apartement golden sky

Tim Buser : Ok Roger, kita akan langsung meluncur dan melakukan penggerebekan ke sana.. ..

Akhirnya tertangkaplah Sheila bersama teman2nya….

piss

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-23 14:08:46

lutju sekali diedra, lucu….

 
Comment by syfa
2008-08-25 09:05:45

bagaimana daya, pelajaran selalu datang setelah salah…
ya, mungkin ada surga setelah dosa

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 11:37:42

benar syfa, benar.

 
Comment by tatari
2008-08-26 08:34:45

wow..kolom gosip yg indah sekali kata2nya…
keren !

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-26 13:43:17

bukan gosip ahh! tapi belajar “sesuatu” dari artis, hehe.. makasih mbak tari

 
 
Comment by edhi
2008-08-26 21:22:31

Wis jan, mas Aulia emang ga ada matinya nih kalau ngupas sebuah kejadian. selalu ada hikmah yang bisa dipetik jika mas Aulia dan mau bicara. Mantep mas.
Mas, kalau saya jadi artis nanti bikinin berita yang hot hot pot ya hehee….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-27 12:06:14

mas edhi iki pancen gombal, hehehe….

 
 
Comment by bundanya niha
2008-08-27 12:31:16

aku berkunjung kesini lho mas….
salam….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-27 12:41:06

thanks alina…

 
 
Comment by Muhajir Arrosyid
2008-08-29 11:09:45

Mas bagaimana kalau buat konsultan produksi gosip?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-29 12:16:21

muhajir ki aneh-aneh wae. gosip itu mengelola dirinya sendiri, dong! kan ada teorinya, hihiihihi..

 
 
Comment by Neng Keke
2008-08-29 13:34:01

Terlalu intelek neh bahasa gosipnyaaaa…. :p Cukup mengharu biru siiiyyy….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-29 13:40:38

ah ibu neng keke ini, masa begitu intelek, sih? itu mah bahasa melayu rendahan, sebelum era van ophujsen, hehehe

 
 
Comment by harjito, ikip pgri semarang
2008-08-30 10:02:42

Mas Aulia,
Seperti cowok abg yang berharap-harap bahagia menanti sang kekasih, mungkin demikianlah saya selalu menunggu tulisan-tulisan Mas Aulia. Tulisan Mas Aulia diksinya kuat, tetapi mudah ditangkap. Jernih dan mengalir. Banyak ide segar yang diluar dugaan.
Dua tulisan terakhir yang saya baca adalah “Teman yang Paling Setia” (Cempaka XIX, 23-29 Agustus 2008) dan “Hidup adalah (Semoga Bukan) Kemunanifan” (Suara Merdeka, 24 Agustus 2008)
Menurut saya, sudah saatnya tulisan-tulisan panjenengan dikumpulkan dan dibukukan. Atau saya yang belum tahu lantaran kurang gaul? Jika sudah dibukukan, tolong saya diberi tahu dimana saya bisa mendapatkan buku panjenengan.
Jagad kehidupan Semarang dan Indonesia terlalu diriuhi dan bising oleh televisi, hape, dan internet. Kita kekurangan sesuatu buat merenung, atau sekedar istirah menangkap makna kehidupan. Dan itulah yang saya dapatkan dari tulisan-tulisan panjenengan. Tenang. Mengalir. Sampai.

Harjito, ikip pgri semarang

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-30 13:02:49

wah, mas harjito ini, paling bisa membuat bungah. jadi bergairah nih, hahaha. tulisan tentang teve belum dibukukan, mas. belum ada penerbit yang melirik. mungkin tidak punya daya jual. atau, mas harjito mau menerbitkan? *ngarep*

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post