Tuhan dan Kecemburuan

September 18, 2008 · Print This Article

Marilah kita bicara tentang Tuhan, yang kata Amir Hamzah, juga ganas dan memangsa: Engkau ganas/ Engkau cemburu/ Mangsa aku dalam cakar-Mu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Tuhan di sini, ibarat kekasih, yang tak ingin kecintaannya berpaling. Karena itulah, Ustad Fery, dalam satu nasihat yang bening, memperingatkan Azam, agar tak terlalu memikirkan Aya. “Jangan buat Allah cemburu, Azam. Karena tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah.”

Azam, tentu saja, terhenyak. “Kenapa Allah cemburu pada saya, Ustad?”

“Karena hatimu, setiap hari, lebih menzikirkan hal-hal duniawi.”

Bagi Ustad Fery, yang dimainkan Akri Patrio dengan bagus dalam Para Pencari Tuhan, cinta manusia pada apa pun, haruslah merupakan jalan untuk mencintai dan mendapatkan cinta Allah. Karena itu, anak, istri, kekasih, jabatan, harta, baru bernilai ketika dapat menjadi selasar untuk menjumpai sang Khalik.

Bertuhan, dengan demikian, lebih merupakan suatu pengalaman personal.

Dalam personalisasi semacam itulah, Tuhan acap “ditemukan” dalam banyak “wajah”. Novelis Danarto misalnya, mengaku melihat Tuhan dalam paras kanak, yang bercahaya. Atau Alm Gito Rollies, yang menjadi “kenal” dan akrab dengan Tuhan, ketika menanggungkan sakit. Zaskia Mecca malah merasa “ditegur” Tuhan lewat foto merokoknya yang tersebar. Di sini, dalam pengalaman personal mereka, Tuhan telah hadir, meski tersamar,  tampak, mengejawantah. Mereka merasakan persentuhan itu. Padahal, Chairil Anwar, merasakan betapa… susah sungguh/ Mengingat Kau penuh seluruh.

Tapi di sinilah dilema itu dimulai. Mengingat, mengenal, ditegur, adalah pengalaman yang mewaktu, ketika alpa dan ingat, dapat bertukar lepas dengan tangkap. Padahal, Tuhan yang datang lewat wahyu, justru mengatasi waktu. Wahyu hakikatnya tak mewaktu, melampaui masa, di luar fase sejarah. Jadi, bagaimana mungkin “sesuatu” yang di luar waktu, dbahasakan dalam personalisasi pengalaman?

Dilema itu punya titik temu: bertuhan adalah pengalaman personal yang terbahasakan.

Pengalaman personal yang dimaksud di sini adalah sebuah situasi yang berada di luar kala, semacam ekstase kaum sufi, suasana ning ketika berzikir, atau blank, suwung, tatkala menanggungkan sakit atau rindu. Dalam ketakmewaktuan itulah Tuhan hadir. Seperti “ketercerabutan” Muhammad dari realitas, kebersaatan, ketika menerima wahyu melalui Jibril.

Nah, kehadiran Dia yang di luar kala itu, tak punya arti, sebelum dikatakan dalam bahasa orang ramai. Itulah sebabnya, al-Hallaj, membuka rahasia syatahat. Yazid al-Bistami bernubuat di kelimun umat. Tuhan yang mereka dapat di dalam ketakberkalaan, bukan mereka simpan, tapi dileburkan dalam kancah perbuatan.

Bertuhan dengan demikian adalah perilaku. Adalah akhlak, sikap, tindak, adalah cara mencinta.

Ukuran kebertuhanan pun menjadi bukanlah pada pengalaman personal seseorang dalam kesendirian, kealiman batin dan kesantunan pribadi, melainkan kesalehan sosial, keberdampakan iman bagi orang banyak. Bertuhan, dan beriman, dalam skala yang paling akbar, adalah perjalanan atau pengalaman personal mikraj Muhammad, ketika mendapat pesan melalui bahasa langit, dan kembalinya Muhammad untuk mewartakan pesan tadi kepada umat ke dalam bahasa bumi.

Bertuhan, dan sekaligus beriman, “Bukanlah orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid,” kata Emha, “dan membiarkan beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.” Bertuhan adalah melihat segala hal sebagai “tak ada yang bukan Tuhan”,  al-fana’ ‘an al-nafs wa al-baqa, bi ‘l-Lah.  Segala nikmat dan laknat ibarat thariqah dan syariah,  sebagai jalan, atau pintu, meraih Tuhan.  Menyatunapaskan tugas lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Tapi tentu,  bukan dengan keinginan untuk meraih surga sendirian.  ”Di pintu-Mu aku mengetuk. Aku tak bisa berpaling,” kata Chairil.

Diri yang tak bisa berpaling itulah, barangkali, insan yang  tak lagi dicemburui Tuhan.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 20 September 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

25 Comments »

Comment by capung
2008-09-19 01:31:22

sewaktu kecil, saya membayangkan tuhan itu bidadari berparas cantik. dia lembut. mengasihi anak-anak.

ketika sudah menginjak remaja, gambaran saya tentang tuhan berubah. tuhan itu sosok yang memerintah. siapapun harus mematuhinya. kesannya jadi serem.

sekarang, ketika saya sudah melewati masa kanak dan puber itu, saya ingin membunuh semuanya. sesekali saya menantangnya, mencoba untuk mengujinya. anehnya, ketika saya ingin membunuhnya, bayangangan akan tuhan itu semakin nampak jelas, meski ia tak berujud. ada rasa bersalah ketika tak memujinya, tak melakukan penyembahan, yang saya sendiri juga tak bisa menjelaskan rasa bersalah itu.

saya sadar, saya tak sanggup benar-benar membunuhnya. saya ingin membunuhnya karena hingga kini belum juga menemukan tuhan yang konon sedekat urat nadi manusia itu.

mungkinkah kita perlu mengasingkan diri ke goa, atau mendaki ke puncak tertinggi untuk mengalahkan tuhan, karena dengan itu kita bisa benar2 menemukan sosok tuhan yang benar2 dekat dengan kita.

oh ya, mas aul sendiri sudah pernah bertemu tuhan belum. seperti apakah dia?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-19 12:14:48

gema, aku belum mampu membahasakan-Nya. maafkan. tapi jalan atau pintu menuju “pertemuan” itu dapat kubahasakan padamu, untuk kau coba, tentu. kau mau?

Comment by gema_yudha
2008-10-02 23:55:07

selamat idul fitri mas,,
mohon maaf lahir batin

sayang kemarin lebaran belum ketemu tuhan,,
tapi tak apa, ku tunggu “bahasa” mu

trims

(Comments wont nest below this level)
Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-03 15:20:14

gema, kalau engkau tak yakin bisa “menemukannya”, yakini saja bahwa Dia selalu telah menemukanmu. gampang kan? hihihhi

maaf laherbaten juga ya?

 
 
 
 
Comment by fokus.
2008-09-19 21:49:09

Benar, kesalehan sosial itu sangat mendasar dalam Islam. Tapi benarkah –dengan mengutip kalimat sampeyan– “ukuran kebertuhanan bukanlah pada pengalaman personal seseorang dalam kesendirian, kealiman batin dan kesantunan pribadi, melainkan kesalehan sosial”?

Bagaimana dengan para sufi yang dari berasal dari jenis penyendiri total? Bisakah kita menyebutnya tak kebertuhanan hanya karena ia khusyuk dengan perjumpaan dengan Tuhan dalam intimitas yang masyuk dan tak terganggu, termasuk diam menyendiri dan tak peduli dengan orang lain macam “Si Matahari dari Tabriz” atau dari sekte sufi Malamatiyya?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-20 12:46:10

zen, syamsi tabriz pun tidak bersendiri total, ia pun “memacari” rumi, untuk menjadi satu aku dengan-Nya. jadi, kukira, perlu memperhatikan petikan di awal tulisan, “Bertuhan, dengan demikian, lebih merupakan suatu pengalaman personal” yang kemudian berlanjut pada, “…bertuhan adalah pengalaman personal yang terbahasakan”. dan lanjut dengan yang engkau kutipkan, ““ukuran kebertuhanan bukanlah pada pengalaman personal seseorang dalam kesendirian, kealiman batin dan kesantunan pribadi, melainkan kesalehan sosial” dan kalimat lanjutannya, yang paling penting, “keberdampakan iman bagi orang banyak.”

nah, dari petikan di atas, terlihat semacam “fase”. tapi, frasa “keberdampakan iman bagi banyak orang” itu “menisbatkan” bahwa bersendiri apa pun, seorang sufi sesungguhnya tak pernah sendiri. rabiah pun memberi dampak yang luar biasa pada hasan bisri, justru ketika bertaut dalam persinggungan “asmara”.

jadi, meskipun ada sufi yang suntuk sendiri, sepanjang keberimanannya menggeletarkan banyak orang, hakikatnya dia tak sepenuhnya menutup diri. karena allah pun adakah khazanah tersembunyi yang sangat ingin dan berhasrat dikenali, apalagi pencintanya….

 
 
Comment by veridiana
2008-09-20 23:45:38

Saya suka pada kalimat di paragraf terakhir:
“Bertuhan adalah melihat segala hal sebagai ‘tak ada yang bukan Tuhan’.”

Salam kenal, Mas Aulia.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-22 11:24:57

salam kenal juga, veridiana….

 
 
Comment by syfa
2008-09-23 13:13:27

Membaca tulisanmu kali ini (Tuhan dan Kecemburuan), mas Aulia, membuat aku terhenyak. Tentu karena persoalan Tuhan (yang selalu dicari dan dipertanyakan).
Kuingat butiran wahyu yang kurang lebih: “Sesunguhnya Aku (Tuhan) ada dalam persangkaan (dzan) hamba-hamba-Ku”. Dengan itu, sesungguhnya Tuhan telah mendeklarasikan wujud-Nya yang multitafsir. Tiada “bayangan” imaji baku untuk-Nya. Sebab Dia pun tak mengkhabarkan bentuk (kecuali sifat-sifat yang Maha).
Lantas, manusia dengan pergulatannya membelai alam (yang membuahkan pengalaman/kearifan) mencoba mendeskripsikan bayangan Tuhan yang nampak dalam prasangkanya. Melalui alam, lingkungan, bahkan manusia sendiri, manusia dapat merekam sekelebat persangkaan akan Sang Hyang itu. Sebenarnya itu hanya metafora, sebab kata seuntai kata yang lahir dari kontemplasi dan pembahasaannya itu tak mewakili dzat-Nya.
Wajar jika muncul “persepsi” tentang Tuhan yang ganas; memangsa (metafora Amir Hamzah) paras kanak, yang bercahaya (aku Danarto) atau teguran dan sakit (pengalaman Zaskia dan Gito Rollies alm). Atau yang lembut, memesona (yang mungkin diimajinasikan manusia lain-lain). Adalah penguasan personalisasi akan kebertuhanannya sendiri.
Bahasa manusia takkan sanggup mendeskripsikan-Nya, sekalipun dalam yang paling sederhana. Sebab kekuatannya bahasa yang dipahami manusia adalah profan dan kefanaan, yang tak mampu bisandingkan dengan-Nya. Bahasa adalah makhluk, dan Dia adalah Khaliq.
Aku, kamu, mereka, punya persangkaan yang lain-lain tentang Tuhan. Dan sekali-kali, kita sering terusik untuk mempertanyakan, memperdebatkannya secara pribadi dalam pikiran dan hati (yang kerap berseberangan).

Komentar ini saya posting agak lebih panjang di blog saya, mampirlah di http://www.syfa-peace08.blogspot.com jika ada waktu mas.Tapi jangan kejut-kejut jika blognya berantakan kaya kapal pecah, hehe….konvensional lagi,,, monggo pinarak.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-23 13:53:34

syfa, komentarmu panjang, tapi kok berulang-ulang, hehehe… kukira, untuk mengenal Tuhan, kita dapat berpatokan pada “tasbih” dan “tanzih”. Nggak rumit-rumit amat, kok.

(blogmu gak menerima komentar selain blogger. diubah dong setting-nya)

 
 
Comment by syfa
2008-09-25 11:23:41

ya, itu masalahnya, blognya nggak laku, hik….
padal dah pernah nongol di BLOGPRINT SM 2X lho, tetep aja sepi pengunjung, atau memang tulisannya yang gak mutu, he…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-25 11:42:16

kamu juga aneh, blog kok “promosi” di media cetak, hiihhii…

 
 
Comment by masex
2008-09-26 13:41:30

blog ini bagus sekaliiiiii…… jossssss! salam, Tuhan memberkati.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-26 16:26:34

tuhan memberkati

 
 
Comment by enno
2008-09-26 14:48:46

membaca ini, tampaknya saya jadi sadar betapa saya telah membuat cemburu Tuhan amat sering. makasih tulisannya mas :)

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-26 16:27:43

ah enno, engkau beruntung telah dicemburui tuhan, beruntung sekali…..

 
Comment by rista
2008-09-28 02:07:09

Assalam wr.wb

mas aulia… banyak hal yang saya peroleh dengan hanya membaca tulisan anda. entah kenapa bila lama tak membacanya terasa rindu berat…

Pada tulisan ini membuat saya semakin merasa kecilnya sbg manusia yang kadang lalai akan perintah²Nya… dan hanya sibuk dgn urusan dunia saja.

Tulisan anda akan selalu saya nantikan… maaf bila kadang copy paste karena ingin selalu bsa mengabadikan karya anda…
terus berkarya ya mas…

klo anda tidak berkenan akan saya hapus di web saya http://www.modelayu.com terimakasih
wassalam wr.wb

 
Comment by fitri mohan
2008-09-28 13:34:10

dahsyat banget tulisan ini. apa kabarnya nih? pindahan di rumah baru, tulisan makin menggetarkan hati begini.

sebelum lupa, ijinkan aku untuk mengucapkan selamat lebaran 2008. minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-29 11:56:10

thanks fitri, maafkan daku maaf lahir batin juga, ya?

 
 
Comment by yunik
2008-10-04 16:05:28

untung Tuhan kita tidak pernah menceraikan kita, umatnya yang selalu berkhianat, berselingkuh, berpaling, dan berlainnya kita selain padaNya.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-04 16:39:18

iya nik, untunglah…

 
 
Comment by nene'
2008-10-17 19:04:40

bisa dibilang ak pernah loh ngalamin hal ini.saat ak terlalu mikirin hal2 duniawi dan trus2an memujanya,Tuhan menegurku.Rasanya ga bakal pernah ak lupain mpe sekarang…..
Tapi yg jd pertanyaan sampe dmn kt bisa mengambil makna dari semuanya.Toh,kt2 ini makhluk yg gampang bgt alpa.dan selalu mengulang kesalahan yg sama.nyadar ga????

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-17 19:08:27

nggak. tolong dong disadarkan?

 
 
Comment by alia
2008-10-19 14:15:56

tak ingin lepas dan ingin menjemput langkah seperti sampean. kadang terbersit nulis kayak sampean, tapi ketika nulis,ngak nyambung banget,mau disambungin kelihatane dipaksain banget.

uch… tulisan yang bikin tenggelam dan menjerat nalar…

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-21 14:40:44

jangan tenggelam alia, ayooo berenanglah…

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post