Rintihan Rumah Tangga

September 4, 2008 · Print This Article

Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang tak diungkapkan. Karena dalam tali percintaan, engkau dan aku belum menjadi kita. Pernikahanlah yang kemudian dipercaya dapat menyembuhkan luka, menerbangkan dusta, dan membuka kejujuran. Sebab dalam sebuah pernikahan, selepas ijab dalam satu tarikan napas itu, engkau dan aku telah melebur menjadi kita. Tubuhmu dan tubuhku telah diizinkan menjadi satu, bersetubuh.

Tapi, tidak setiap pernikahan dapat menyebuhkan. Dewi Yull malah percaya, seperti juga percintaan, perkawinan, rumah tangga, selalu menyimpan luka, dusta, dan kejujuran yang tak diucapkan.

“Tidak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga memiliki rintihan,” katanya dengan mata berkaca, ketika menjelaskan perceriannya dengan Ray Sahetapi, Agustus 2004.

Karena berisi rintihan itulah, setiap rumah tangga, pada hakikatnya, berdiri di tepi jurang perceraian. Sedikit saja rintihan itu naik menjadi jerit atau pekik, perkawinan pun kehilangan pondasi. Jadi, mengikuti ucapan Dewi, berumah tangga sebenarnya adalah mau mendengar rintihan, dan tidak mengabaikannya. Hanya dengan mau mendengar, sebuah rintihan akan berdiam hanya sebagai erang, dan perkawinan tak sampai guncang.

Kini, Andara Early yang merasakan rintihan dalam perkawinan. Rumah tangga yang dia pancang dengan Cessa David Lukman, guyang. Early pun meyakini, hanya perceraian yang bisa menyelamatkannya. “Untuk kebaikan bersama, satu-satunya jalan!” ucapnya. Padahal dulu, ketika tengah dilanun asmara, Early justru merasa Cessa-lah juru selamatnya. Dia menjanda dengan aib yang susah dicerna. Ferry, suaminya, mengira Maghali, anak mereka, lahir bukan dari benihnya. Ada lelaki lain yang telah membuahi Early. Betapa ngeri. Tapi Cessa abai itu. Dia mencinta, matanya tak hirau perawan atau janda, teraibi atau mulia. Cessa percaya, pernikahan akan menyembukan Early, menyatukan mereka dalam kejujuran dan keberterimaan.

Tapi, keberterimaan Cessa berhimpitan dengan masa lalu. Ia pun jadi begitu menjaga kecintaannya. Penjagaan yang, dalam bahasa Early, berubah menjadi posesivitas. Early merasa dihaki, dimiliki, diawasi, dibatasi; tak dipercayai. “Yang saya dengar dari Early, Cessa sangat posesif, ruang gerak Earlu jadi terbatas,” jelas Agus, pengacaranya. Early merasa dimiliki, padahal, “Suami, anak, itu milik Allah. Manusia tak boleh mengklaim memiliki manusia lain,” jelas Dewi Yull.

Merasa memiliki. Barangkali, ketika itulah perkawinan mulai menerbitkan rintihan. Karena tak ingin menghaki jugalah, Dewi pun melepaskan Ray. Karena tak ingin dihaki, dimiliki itu juga, Early memilih bercerai.

Pernikahan dengan demikian, apakah bukan sebuah kemenyatuan? Bukan engkau dan aku yang melebur menjadi kita? Khalil Gibran dengan pasti menjawab, bukan.

Berpasangan kalian telah diciptakan, maka bersamalah
selamanya
Bersamalah, saat sayap-sayap putih sang maut
Mengacaukan hari-hari kalian
Namun biarkan ada ruang dalam kebersamaan

Ruang di dalam kebersamaan, barangkali adalah sebuah sikap untuk mengerti bahwa sedekat apa pun, seintim apa pun, sudah bersetubuh sesering dan sebergaya apa pun, pasanganmu bukanlah dirimu, yang bisa engkau mengerti. Bahkan dirimu sendiri pun tak bisa sepenuhnya dapat engkau pahami, apalagi pasanganmu. Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.

Saling isilah cawan minuman kalian
Namun jangan meminum dari satu cawan saja
Berbagilah roti, tapi jangan memakan dari kerat yang sama
Bernyanyi dan menarilah bersama dalam kegembiraan
Tapi ijinkan masing-masing dalam kesendirian
Sebab dawai-dawai harpa pun sendiri
Saat menggetarkan senandung yang sama

Gibran tampaknya mengerti, menikah bukanlah saling menguasakan: Berikanlah hati kalian, namun jangan saling menguasakan. Menikah adalah lebih pada memberi, dan bukan sekadar berbagi.

Selalu ada luka di dalam tiap percintaan, juga dusta, dan kejujuran yang disimpan. Dan kerena itulah, percintaan selalu memiliki gairah penaklukan, ketika belum ada yang dikuasakan. Tampaknya, pernikahan harus juga dibayangkan seperti percintaan, sebelum ijab, ketika aku dan engkau tak harus menjadi kita. Hanya dengan begitu, pernikahan, rumah tangga, tak lagi diisi rintihan.
[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 6 September 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

29 Comments »

Comment by edhi
2008-09-04 20:15:31

Pertamaxxx
Komentarnya nanti lagi ya mas, yang penting bisa yang pertama x nih heheeee…

 
Comment by edhi
2008-09-04 20:48:46

Setubuh eh setuju mas.
Coba mereka2 yang mau bercerai disuruh membayangkan lagi bagaimana dulu waktu dimabok cinta dan memutuskan untuk menikah. Betapa segalanya terasa indah, sehari terasa setahun hanya ingin melihat senyum si dia. Apa2 indah dan bunga.
Sekarang…….bisanya cuma bilang, jika ini jalan satu2nya, ini jalan terbaik, jika Alloh yang menghendaki ini …ya jalani saja. Mereka tahu ga ya kalau Alloh tuh ga pernah menghendaki perceraian, bahkan sangat membenci perceraian.
Wah kalau mau cerai-kawin-cerai-cerai-kawin dan merintih tiap malam mending ke Doli saja deh (mas Aulia tahu ga tempat ini ya).
Maaf lagi puasa je ngomngin doli dan marah2 habisnya ada yang puasa2 mau bercerai huhh…..

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-05 12:44:16

Dolly? apaan itu, Mas? Telinga saya ini kadang aneh, tidak dapat mendengar hal-hal yang buruk, hahaha….

 
 
Comment by goop
2008-09-05 21:26:19

menjadi benar barangkali saat clark kent berkata kepada lana
“rahasia yang kusimpan ini, untuk melindungimu.”

ono hubungane ora, mas? hihi

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-06 11:41:47

ya, berhubungan banget dungs, goop. lana dan clark kan “yangyangan”, jelas mereka membina hubungan, hihiihi… barangkali, terkadang, “kebohongan menyelamatkan sekaligus mengindahkan sebuah keterikatan.”

 
 
Comment by haris
2008-09-06 11:31:14

“Tapi, tidak setiap pernikahan dapat menyebuhkan. Dewi Yull malah percaya, seperti juga percintaan, perkawinan, rumah tangga, selalu menyimpan luka, dusta, dan kejujuran yang tak diucapkan.”

itulah ironi pernikahan, cinta, mungkin juga persahabatan. apakah karena itu pula Sartre bilang bahwa hubungan dengan orang lain selalu merupakan sebuah “penaklukan”? tapi ah Sartre juga jatuh cinta. itulah indahnya manusia: ia tak pernah bisa melepaskan diri dari paradoks2

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-06 11:44:05

iya, ris. karena eksis selalu berarti ko-eksis. paradoks membuat manusia tidak suci, dan selalu berada dalam “ambang” kebenaran. dengan itulah hidup jadi asyik, jadi nikmat disimak…

 
 
Comment by syfa
2008-09-06 12:08:14

Mas Aulia, hidup ini sebentar-sebentar kering, sebentar-sebentar basah, sebentar lapar, sebentar kenyang, sebentar senang sebentar susah,,,aku tau itu!
tapi kadang janggal mendengar rumus SEBENTAR-SEBENTAR NIKAH.

adalah salah jika pernikahan butuh keakuan-keakuan (lebih daripada sendiri yang sadar dalam keberduaan) pribadi , bagi saya…
keakuan sejatinya hanya ada dalam diri seorang dalam temali kesebentar-bentaran, tak mau total, cenderung memberi jarak, tak mau “mengikis,,,,,”
aku tak begitu tau persoalan posesif, tapi coba renungkan: seorang suami mempunyai hak, begitu juga istri, untuk menegaskan “sesuatu”.

meskipun belum nikah (tapi kadang suda mengimpikan, hehe…) boleh lah ikut nyumbang kata: bahwa sering arah-arah yang berbeda, yang diambil diantara istri dan suami, adalah arah-arah yang tidak satu muara. kadang mereka tak tau: demi apa semua arah yang dituju?, apakah akan kembali ke dalam pangkuan keluarga/cinta?

Kesebentar-bentaran itu adalah untuk mereka yang kehilangan kenangan manis, bahkan tak punya, atau pura-pura dan tak bisa mengingatnya.
sekiranya: pasangan-pasangan hendaknya merajut kenangan indah/manis/haru (unforgotable pokoe…) sebagai ayat/pengingat/penanda bahwa pernah ada satu titik yang membuat dua dunia berupaya dipadukan.

aduh bingung mas, aku malah gak mudeng dewe!!
Yo wis salam kenal ja, kita dah pernah ketemu di kampus IAIN lho!

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-06 12:40:54

lha, kok terakhir malah “mbingungi” gitu, hehehe… tapi aku mengerti kok maksudmu, dan aku bersetuju. karena itulah, dalam tulisan di atas kutegaskan ini: Ruang di dalam kebersamaan itu adalah hak, izin, untuk “merasa sendiri”, adalah zona “menjadi diri pribadi”, sebuah kamar untuk “kembali menjadi aku”.

oh ya, di kampus IAIN ketika acara apa? ingatkan aku ya?

Comment by syfa
2008-09-08 12:37:59

dulu pas acara bedah buku Menelisik Perjalanan Batin Iwan Fals karya mas Yudi, yang wawancara sebentar ma mas Aulia tentang subkultur musik jalanan itu lho, secara aku kan wartawan kampus, hehe…
Wes, pokoke, tulisane mas Aulia mesti bagozz!

(Comments wont nest below this level)
Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-08 13:17:55

ohh.. maturnuwun mengingatkan.. iya, jadi ingat suasana malam itu.

 
 
 
 
Comment by artofreed
2008-09-06 21:22:09

biasanya insan yang sedang mabuk cinta dan memutuskan menikah tidak berfikiran atau berniat cerai atau berpisah dan saling benci satu sama lain.
Namun dalam kenyataan hidup hal itu kadang terjadi dan tidak bisa dielakkan.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-08 11:10:27

ya, begitulah hidup, arto. menarik, karena selama menjalani, kita tak bisa menebak arah dan akhirnya…

 
 
Comment by tyas
2008-09-06 23:51:24

wiiiih, dalem banget.. bener banget..
setiap rumah tangga punya rintihan…
tp rintihan bisa kita ubah jadi raungan atau tawa kegembiraan..

tergantung yg satu menghargai yg lain..

jangan sampai….
keikhlasan mengabdi..
berubah menjadi kewajiban yang membebani..
atau bahkan keterpaksaan yg menyakitkan..

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-08 11:12:15

wuihh tyas, dalem banget deh komentarnya. jadi menambah bobot tulisan di atas. thanks banget!

 
 
Comment by nana
2008-09-08 14:56:38

bener juga sih..
wah, tapi saya blum ngerasain berumah tangga jadi ga ngerti kali ya..
someday…
huhuhu
yah..itu kan resiko dari setiap jalan yg diambil..

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-08 15:33:23

iya, setiap jalan punya resiko…

 
 
Comment by ernita
2008-09-09 09:48:22

Ahem… aku sering mbaca tulisannya mas Aulia yg “dalem”. Jadi terbayang seperti apakah mas Aulia itu? Apakah dia juga bisa menjamin rumah tangganya bebas “rintihan”?? Hehehe.
Saya setuju kalo tidak setiap pernikahan bisa menyembuhkan. Karena saya cewek, bagi saya, pernikahan hanyalah ajang untuk “mengabdi” pada laki-laki. Dengan pernikahan, kebebasan saya hilang sudah. Mau jjs mesti ijin suami. Mau males-malesan di rumah, suami sewot karena gak ada makanan. Mau tidur duluan, dimarahin. Walah, susah ya jadi cewek… :)
Apapun yang terjadi, psangan kita adalah yg kita pilih. Kalo kita sudah memutuskan menikah, kita harus siap dengan segala resikonya dong. Masak mau gonta-ganti pasangan kalo dirasa tidak cocok? Kayak baju aja…hihihi

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-09 16:02:31

ernita, aku memilih dan menciptakan rintihan yang berbeda, hihihihi

 
 
Comment by Yulis
2008-09-09 23:03:20

Saya baru saja memasuki kehidupan rumah tangga, untuk saat ini semua masih indah dan semoga akan selalu indah untuk selamanya.Terimakasih atas tulisannya Mas Aulia banyak hal yang bisa saya ambil pelajaran. terimakasih

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 12:56:37

sama-sama, yulis. thanks telah berkunjung

 
 
Comment by Alina
2008-09-10 14:34:47

Aku cuma berbagi mas……

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 15:08:58

thanks Alina, bagianku itu kusuka kok…

 
 
Comment by unai
2008-09-11 09:47:37

ehehhe kalo rintihan berubah menjadi erangan atau auman…gimana dong Om ? :P

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-11 11:52:19

ya unai yang tahu, yang suka mengerang-ngerang, hahaha….

 
 
Comment by ika
2008-09-11 09:51:30

wah mas…aku lebih melihatnya sebagai pilihan.
merintih pun adalah pilihan karena sebenarnya kita bisa tidak merintih. jadi bahagia pun paralel dengan rintihan…adalah pilihan

btw mas.. tulisanmu bisa-bisa membuat dho wedi kawin lo.. hehehe

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-11 11:54:58

Mbak Ika, hidup terkadang cuma “menyorongkan” sesuatu, harus dijalani. tidak semua hal bisa dipilih atau dikesampingkan. kalau semua hal bisa dipilih, hidup akan kehilangan misterinya, keindahannya….

 
 
Comment by milla-Ferrari
2008-09-12 07:50:58

Emang enakan pacaran dong… kalo dah bosen tinggal putusin aja. kalo dah merried persoalannya lebih kompleks lagi… qeqeqe
**ngawurmodeon**

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-12 11:56:55

nggak ikut-ikut ah, hahaha…

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post