Membiarkan Takdir yang Bekerja

February 5, 2009 · Print This Article

Jika, “Hidup yang tak diperiksa,” kata Sokrates, “tak layak untuk dijalani,” maka hidup yang tak punya rencana, pasti tak mungkin juga dikendarai. Dan perkawinan yang tanpa cinta….

Kita tak pernah tahu, apakah perkawinan Jose Purnomo dan Lusy Rahmawati penuh atau tanpa cinta. Tapi, dalam sebuah wawancara “Obsesi” di Global TV, Jose mengakui keretakan rumahtangganya adalah sesuatu yang tak terduga, sama dengan , “… pernikahan yang juga tak pernah saya rencanakan.”

Jose barangkali salah mengambil analogi. Dia mungkin cuma ingin menegaskan bahwa ambang perceraian itu bukanlah sebuah keputusan yang terpikirkan sebelumnya, tapi lebih sebagai sebuah insiden. Dan kita tahu, insiden selalu menyangkut sesuatu yang tak terduga, kadang seperti tanpa sebab –karena sebab itu tak selalu kita sadari. Jose hanya ingin memberi tahu, dalam kehidupan, ada hal-hal yang hadir tanpa dapat dikira, dan tak selalu bisa ditampik. Maka dia pun memberi analogi, bahwa pernikahannya dulu pun seperti tanpa rencana, sesuatu yang entah bagaimana tersaji begitu saja.

Jelas itu analogi yang keliru. Karena, dengan “penyamaan” seperti itu, lidah infotainmen akan cepat menyergap bahwa perceraian itu lahir dari pernikahan yang tak memiliki alasan, tak punya dalil untuk dipertahankan. Padahal, seperti kebanyakan artis lain, Jose hanya ingin memberi jawaban yang bisa diterima, dan jika mungkin, terkesan arif. Maka, ucapan “tanpa rencana” itu adalah sebuah penciptaan kondisi bahwa segala yang terjadi dengan kehidupannya merupakan sesuatu yang terberi, yang kudu dia jalani.

Dengan kata lain, Jose percaya, manusia adalah objek dari Sang takdir.

Dan entah mengapa, keyakinan bahwa “manusia adalah objek dari takdir” itu selalu menjadi pegangan selebriti.

“Barangkali sudah nasib saya, harus menjanda dengan cara seperti ini,” kata Five Vi, yang dicerai Henry Djosodiningrat melalui sebuah SMS. Atau, “Hubungan ini sifatnya memang tidak untuk diniatkan atau direncanakan. Kami nggak sengaja bertemu dan nggak sengaja juga sama-sama mulai merasa ada pengaruh satu sama lain…” terang Ririn dwi Ariyanti, menyangkut asmaranya dengan Aldy Bragi. Ke mana arah asmara itu? “Kami serahkan pada waktu….”

Tanpa rencana. Tidak sengaja.

Seakan, ada sebuah tangan gaib raksasa yang mengatur seluruh siklus hidup mereka.

Padahal, takdir justru tak pernah menampakkan diri dalam hidup yang tak memiliki rencana. Takdir adalah kuasa yang lahir setelah sakit dalam usaha. Takdir tak pernah datang dari sebuah kebetulan-kebetulan, melainkan melalui rahim kerja dan doa. Takdir selalu memiliki sebab dan alasan. Dan jika pun lebih sering hadir dalam sebuah situasi yang ndilalah, itu hanya karena sebabnya acap tak disadari.

Untuk menyadari sebab, Sokrates meminta hidup yang diperiksa.

Hidup yang diperiksa membuat segala ketakterdugaan tak diterima dalam semesta takjub, apalagi kejut.

Takdir dengan demikian bukan hadiah, dan dia tidak semena-mena.

Manusia pun bukan objek.

Manusia masih bisa menjadi subjek, meski terkadang harus “kalah” seperti Hamlet.

Jose Purnomo menyadari sungguh hal itu, juga Five Vi, Ririn dan Aldy, atau Dimas Seto dan Dhini Aminarti. Mereka menyadari takdir adalah bentukan dari diri. Mereka juga kuat dalam rencana dan tujuan. Tapi mereka harus melepaskan keyakinan subjek itu untuk sebuah alasan: mekanisme perlindungan.

Dengan meletakkan takdir sebagai penguasa di atas segalanya, dan tak perlu menjalani hidup dan asmara dalam rencana, mereka dengan gampang menampik kegagalan dan rasa salah.

Dan juga dosa.

Mereka mencoba alpa.

Dengan membiarkan takdir yang bekerja, mereka dapat membebaskan diri dari hujat dan juga nista. “Kami hanya menjalani. Ke depannya seperti apa, kami tak tahu…” tegas Ririn.

Bagi mereka, takdir adalah sebuah misteri. Di depan misteri, mereka tak merasa malu, meski gagal dan terjungkal ke dalam satu persoalan yang sama, terus-menerus, berkali-ulang. “Mengapa selalu masalah seperti ini terus yang menimpa saya,” tanya Sarah Azhari.

Karena bagi mereka, takdir tak pernah hadir sebagai peringatan.

Tak pernah datang sebagai hukuman.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 7 Februari 2009]

Comments

RSS feed | Trackback URI

21 Comments »

Comment by Abe Barreto Soares
2009-02-06 08:11:27

Bung Aulia yang terhormat,

Salam dari Dili, Timor-Leste!

Tulisan-tulisan anda menarik untuk disimak. Saya telah mengitkuti tulisan-tulisan Bung sejak beberapa tahun lalu.
Saya menemukan banyak manfaat dari tulisan-tulisan anda.

Sekian dulu.

Salam,
ABE BARRETO SOARES

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-09 15:46:10

Terimakasih Bung Abe

 
 
Comment by amin
2009-02-07 11:32:29

takdir hadir bukan dari ruang hampa, tapi ada piranti-piranti tertentu yang mengantarkan kesana. sederhananya ada sebeb pasti ada akibat. seperti dalam ayat al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu harus merubah jiwa mereka sendiri.” (Q.S ar-Ra’ad: 11.

mungkiiiiin he…he….

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-09 15:47:14

amin ini, sudah mengutip kitab suci, kok masih memakai kata “mungkin”?

 
 
Comment by haris
2009-02-09 15:12:25

“Manusia pun bukan objek.

Manusia masih bisa menjadi objek, meski terkadang harus “kalah” seperti Hamlet.”

Mas, kalo gak salah, harusnya kata “objek” di kalimat kedua-mu itu diganti “subjek” ya? ato sy yang g tekun baca aja ya?he2.

btw, manusia kan memang selalu ada dlm tegangan dua hal itu: tangan tak terlihat yang dipercaya ada dan juga usahanya yang terlihat tapi kadang gak dipecaya.

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-09 15:45:14

iya, bener Ris, hahaha… jeli bener, salah ketik langsung ketahuan. thanks ya? (”kerjaan” darimu itu sabar ya, masih agak repot nih)

 
 
Comment by wija
2009-02-09 16:45:15

kalau nggak salah, pertanyaan apakah manusia mrupakan pencipta takdirnya sendiri (subjek) ataukah dia hanya menjanali suratan takdir (objek) telah menjadi perdebtan filsuf selama ribuan tahun. socrates, marx, atau sang filsuf german penulis “filsafat sejarah” GWF Hegel. dalam islam, kita mengenal ada aliran jabariyah (manusia hny sbg wayang: objek) dan qadariyah (manusia sang subjek). dan sangat menarik untuk menyimak bahwa masing2 aliran itu memiliki argumentasi masing2 yang sama-sama kuat.

dan hari ini seorang aulia muhammad mencoba ikut meramaikan perdebatan itu, hehe…

salut aku mas, cuman soal selebriti cerai aja kok, mbahasnya sampe segitunya….;)

 
Comment by wija
2009-02-09 16:46:12

pertanyaan apakah manusia mrupakan pencipta takdirnya sendiri (subjek) ataukah dia hanya menjanali suratan takdir (objek) telah menjadi perdebtan filsuf selama ribuan tahun. socrates, marx, atau sang filsuf german penulis “filsafat sejarah” GWF Hegel. dalam islam, kita mengenal ada aliran jabariyah (manusia hny sbg wayang: objek) dan qadariyah (manusia sang subjek). dan sangat menarik untuk menyimak bahwa masing2 aliran itu memiliki argumentasi masing2 yang sama-sama kuat.

dan hari ini seorang aulia muhammad mencoba ikut meramaikan perdebatan itu, hehe…

salut aku mas, cuman soal selebriti cerai aja kok, mbahasnya sampe segitunya….;)

 
Comment by ernita
2009-02-10 10:28:28

Ah…mungkin kata “takdir” untuk nutupin aja atas apa yang mereka perbuat…..
Krn menurutku hidup adalah pilihan, bukan takdir yang datang begitu saja (kecuali hal2 tertentu spt hidup mati dsb) :-)

 
Comment by niez-nya adit
2009-02-10 15:01:08

sependapat sama komeng no.2 (tanpa ‘mungkin’ tentunya :mrgreen: ).
takdir ada 2: yang tidak bisa diubah (jenis kelamin, dll) dan yang bisa diubah (pekerjaan, dll). tinggal kita yang harus selalu do the best dalam mengikuti perintah-Nya saja. :)

 
2009-02-12 17:24:47

Bung Aulia muhamada yang terhormat …
ini dari Timor-Leste
Aku mau mengikuti blog ini tapi bapak adik minta tolong bagaimana cara membuat blog yang baik ..saya sudah coba membuat 2 blog tapi ini merupakan langkah awal dan ini merupakan percobaan.kaka boleh lihat .Adik adik butuh saran dan kritik ..dari kaka mohon ya..

Salam dari Bumi Maubere !!!!
Utuk seluruh kawan-kawan ku di Indonesia.

 
Comment by Edhitok
2009-02-14 10:53:19

Benar mas, manusia memang bukan selalu jadi objek. Manusialah yang “mengantarkan” kepada takdirnya. Ga ada istilah ndilalah dalam dunia ini. Mungkin ada kebetulan tetapi yakinlah kebetulah adalah effek dari aktivitasnya, jawaban dari-Nya. Sadar atau ga sadar.
Nice article mas

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-18 12:49:28

thanks mas…

 
 
Comment by jack
2009-02-14 11:09:03

Mas, saya udah usaha cari kerja kesana kemari. tapi sampai sekarang belum berhasil. apakah ini takdir? bagaimana saya bisa memahami takdir? menurut anda piye?

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-18 12:48:55

supaya paham, baca buku “tiga menguak takdir”.

 
 
Comment by goop
2009-02-17 20:59:08

menjadi benar kemudian pernyataan entah siapa, “nasib adalah kesunyian masing-masing.” pertanyaannya, apakah itu menjadi pembenaran untuk kesendirian yang dipilih-yang ‘kebetulan’-tidak direncakanan :mrgreen:

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-18 12:48:01

itu bukan pernyataan goop, tapi petikan dari puisi Chairil Anwar, hehehe….

 
 
Comment by yon's
2009-03-01 09:48:23

bang aulia yang tetap seksi “tulisannya loh he he”

kalau takdir dapat pekerjaan. nanti aku kerja apa.
kasihan dunk jadi pengangguran ^-^

Comment by Aulia A Muhammad
2009-03-18 18:50:43

pengangguran kan pilihanmu, yons, hahahha

 
 
Comment by Neng Keke
2009-03-16 10:04:45

“Jose mengakui keretakan rumahtangganya adalah sesuatu yang tak terduga, sama dengan , “… pernikahan yang juga tak pernah saya rencanakan.””

Eh… Eh… Emangnya dulu kawinnya MBA? (melempar pandangan khas ibu-ibu gosip)

Comment by Aulia A Muhammad
2009-03-18 18:50:01

hush! jangan bergosip! ntar neng keke dijadiin narasumber oleh nova lagi, lho, hiihihi

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post