Dewasa, Mencari Lelaki

August 14, 2008 · Print This Article

Papa sudah dari tadi mengetok kamarku, dan masuk begitu aku izinkan. Matanya agak kaget melihatku belum cuci muka. Tapi, Papa kemudian tersenyum, dan ikut menempelkan keningnya di kaca jendela. Kami berjajaran, belum juga bicara. Kulirik, kaca di depan Papa pun mengembun, bau rokok yang samar kurasakan keluar.

“Ada apa, Ila? Mau main hujan?” tanya Papa, tanpa mengalihkan wajah.

Aku mengangguk.

“Ila….”

Oalah, Papa pasti tak melihat anggukanku. “Iya… tapi malu, Pa. Nanti pasti Papa meledek, bilang Ila belum dewasa.”

Papa memaling, tersenyum. “Apa hubungannya hujan dan dewasa?”

“Ya ada, Pa. Papa kan tahu, Ila suka mandi hujan. Dari dulu. Dan kalau mandi hujan, Papa juga pasti tahu, paling enak itu telanjang. Nah, kalau Ila telanjang, Papa pasti marah, dan menganggap Ila kekanak-kanakan, atau edan. Iya, kan?”

Papa tertawa, bergelak. Jemarinya mengacak rambutku. “Hari ini tidak sekolah?”

Aku menggeleng. “Malas, Pa.”

“Ya sudah. Tapi jangan lama-lama malasnya.” Papa pergi, setelah mengelus pipiku. Aku tahu, Papa pasti menuju kamar adikku, bertanya ini-itu, selalu begitu sejak dulu.

Aku kembali terperangkap kemalasan. Tak tahu sebabnya. Jendela kubuka, angin yang basah segera menyerbu kamarku. Tapi kemalasan ini tak juga pergi. Aku tak akan sekolah. Bolos. Tanpa surat izin. Tak mungkin kan, menulis “malas” di surat izin? Berbohong dan bilang sakit? Papa pasti akan marah.

Ihh… kenapa ya bisa begini, bahkan keluar kamar pun aku tak tergoda. Mama pasti sibuk di dapur sana. Membuat sarapan, meski sekadar telur ceplok atau dadar. Samar, angin menerbangkan bau dapur ke kamarku, memancing kemeriyuk usus di perutku. Sarapan? Malas ah!

Aku memang diizinkan Papa untuk tak sekolah, jika malas. Papa tidak pernah ingin aku melakukan sesuatu dengan terpaksa. “Kemalasan itu bukan dosa,” kata Papa, “Sepanjang tidak membuat orang lain jadi menderita.” Maksud Papa, aku boleh malas dan tidak melakukan apa pun, jika kemalasan itu tidak membuat rugi orang lain. Bersekolah misalnya. Cuma satu kemalasan yang tak diizinkan Papa, salat. “Malas pun, semalas-malasnya, kamu harus tetap salat,” pintanya. Itu harga mati. Aku tak pernah menawarnya, tak pernah berani.

Papa sesungguhnya ayah yang luar biasa. Meski sedikit bicara, tapi seluruh gestur Papa menunjukkan dia sangat <I>care</I> pada keluarga ini. Papa juga sangat menghargai hak pribadi. Ia tidak akan pernah berani masuk kamarku sebelum aku izinkan. Papa juga tak pernah membuka laci mejaku, telepon selulerku, bahkan saku kemeja atau celanaku. Bagi Papa, sesuatu yang belum aku ceritakan, adalah rahasiaku. “Rahasia itu adalah harta berharga bagi setiap orang. Hanya kepada orang yang paling dia cintai, harta itu ikhlas dia bagi,” kata Papa.

Aku selalu tertawa jika Papa bicara begitu. Dan sambil kurangkul, selalu aku “sanggah” ucapannya. “Kalau Ila belum cerita, itu bukan berarti Ila tidak cinta Papa. Ila cuma menunggu, sampai cinta itu bertambah tua. Seperti Papa, hahaha….” Papa biasanya tertawa, dan memencet hidungku.

Papa juga tidak berusaha tampil sempurna. Kalau ke mal, misalnya, Papa masih sering tergoda pada wajah-wajah cantik, dan menatap lama, terkagum-kagum. Papa tak pernah menyembunyikannya. Dulu aku pernah “marah” dan menegur Papa. Tapi dia cuma tertawa, demikian juga Mama.

“Kenapa Ila tidak marah kalau Papa juga memandang Ila, berlama-lama?”

“Lho, memang Ila cantik?”

Papa mengangguk, tersenyum.

“Tapi…, tapi kan Ila anak Papa.”

“Papa juga memandang mereka dengan mata seorang ayah….”

Halah!

Papa tergelak, demikian juga Mama.

Itulah Papaku, demikian dekat denganku. Aku kadang merasa bukan hanya menjadi anaknya, tapi juga sahabatnya. Bahkan, kemesraan Papa membuat aku kadang merasa menjadi “kekasihnya”.

Dan kedekatan itu mulai berubah. Papa bilang, aku harus mulai kenal lelaki, yang bukan Papa. Lelaki yang seusia denganku, dengan emosi dan pikiran yang setara. “Lelaki yang kepadanya, kamu berani membagi sedikit rahasia.”

“Ila sudah punya, Papa.”

“Hah! Siapa?”

“Elang.”

“Lha, itu kan adikmu?”

Aku tertawa.

Papa ingin aku tidak berada terus dalam image Papa sebagai lelaki yang “sempurna”. Papa bilang, kalau aku masih selalu membandingkan seorang lelaki dengan Papa, itu artinya aku belum dewasa. “Perempuan yang dewasa Ila, sudah dapat lepas dari bayang ayahnya. Menerima lelaki lain tanpa membanding. Kamu harus bisa.”

“Papa ingin aku punya pacar?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Papa ingin kamu punya teman lelaki agar kamu dapat belajar bernegosiasi. Percayalah, makin banyak kamu kenal teman lelaki, kamu akan tahu betapa menarik pikiran mereka. Mengenal mereka membuat kamu tidak akan terpedaya, Ila.”

“Apakah lelaki suka memperdaya, Papa?”

“Untuk wanita cantik, iya?”

“Papa juga sering, dong?”

“Lho, kok?”

“Ila kan cantik. Juga Mama.”

Papa tertawa, begitu kerasnya.

Yah, aku memang harus mengenal lelaki. Hmm… tapi siapa ya? Ray? Nggak ah, dia gak asyik. Heru? Ah, dia masih kekanak-kanakan. Viktor? Emoh ah, dia Batak. Hahaha… apa juga hubungannya. Kayaknya si Galang aja deh. Anaknya pendiam, penyendiri, dan suka puisi. Dia agak mirip Papa. Lho, kok malah “mencari” yang mirip Papa? Tidak, tidak boleh. Lalu siapa?

Papa….. Ila bingung niihhh!

Comments

RSS feed | Trackback URI

25 Comments »

Comment by goop
2008-08-14 15:53:08

Bagaimana kalau saya saja yang berkenalan, mas? Boleh? :D

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 14:07:20

boleh, datanglah ke rumah…

 
 
Comment by tia
2008-08-14 18:14:09

itu kisah anaknya ya? atau siapa?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 14:08:42

iya, anak dalam imajinasi. anak khayali.

 
 
Comment by Edhi
2008-08-29 15:16:29

Iyalah jelas bukan anak mas Aulia,anaknya kan cowok. Atau mungkin pacarnya dulu kali ya…Hee…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-29 16:11:48

hihiihi masa pacar, sih?

 
 
Comment by vira
2008-08-31 18:51:57

hahahah, benar-benar pria ini.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-01 12:31:45

hahaha vira vira… kenapa dengan remaja ini?

 
 
Comment by Mama Pio n Abil
2008-09-11 12:40:48

 
Comment by Yasir Alkaf
2008-09-12 13:47:52

Kalo itu ceritanya mas Aulia saia menangkap ada aroma kenarsisan dari cerita ini. hehehe…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-12 15:32:14

Itu memang ceritaku, Yasir. Aku yang menuliskannya. Tapi, belum tentu ceritaku itu merupakan kisahku. kau mengerti maksudku?

 
 
Comment by sang
2008-09-17 07:22:03

Bagus. Menghibur. Menyentuh.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-17 11:27:03

iya. thanks. banget.

 
 
Comment by aqil fithri
2008-10-22 11:18:00

salaam sdr,

boleh saya dapatkan email saudara? saya hal yang mau dibicangkan. terima kaseh.

aqilfithri@gmail.com

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-22 12:57:52

bung aqil, email saya ada di profil bagian atas kan? tapi tak apa saya sebut ulang: auliasaja@gmail.com

apakah gerangan yang ingin dibicarakan? jadi deg-degan!

 
 
Comment by be samyono
2008-10-31 23:39:12

deep…….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-01 15:19:32

opone sing “deep”?

 
 
Comment by indungg
2008-11-17 19:41:42

mampir,..salam kenal,..
numpangbaca baca,..
link exchange yuk??

Comment by Aulia A Muhammad
2008-12-26 19:07:44

thanks sudah mampir. tapi dengan waktu kunjung 30 detik, apa yang telah Anda baca? hehehe….

 
 
Comment by asti pradia
2008-12-23 01:56:39

bang biru…, aku sudah bangun dari hibernasi blogging, sekarang mau mengasah tulisan lagi. abang, sudah semangat lagi kan??

semangat!!

Comment by Aulia A Muhammad
2008-12-26 19:08:28

good. tulari terus aku semangatmu itu ya…

 
 
Comment by puput
2008-12-28 16:31:43

Mau deh rasanya punya ayah kayak papa Ila :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-12-30 15:43:41

miliki aja, ehehehe

 
 
Comment by eka
2009-02-19 10:47:09

bayang2 ayah bagi anak perempuan.kaya sindrom praoedipalnya codorov.anak cwek pengen punya pacar ky bapaknya,

Comment by Aulia A Muhammad
2009-03-18 18:48:32

lha, aku malah nggak ngerti istilah begituan, thanks ya.

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post