Anang, Mata, dan Telinga Kita

March 18, 2010

Anang barangkali telah bosan menjadi bagian dari berita atau gosip. Maka, di panggung ”Dahsyat” itu, dia menciptakan berita, meletikkan gosip: mencium kening Syahrini.

Sesuatu yang biasa sebenarnya.

Juga bukan hal yang tiba-tiba.

Dalam tayangan ulang itu, kita tahu, Anang dengan lembut menarikkan kepala Syahrini. Tak ada penolakan, Syarini mengikutkan tarikan itu, dan membiarkan keningnya dikecup. Tarikan itu, tentu Syarini tahu arahnya. Dan dia tak menolak. Dari gestur tubuh keduanya, kita dapat membaca, aksi panggung itu bukan sesuatu yang tanpa rencana.

Juga blalakan mata Syahrini, setelah ciuman itu.

Apalagi, untuk Anang, ini bukan kali pertama. Sepuluhan tahun lalu, dengan Krisdayanti, dia telah melakukannya dalam video klip “Berartinya Dirimu”, yang memancing sedikit kontroversi. Dan kemesraan semacam itu dia ulang terus dalam klip berikutnya.

Anang, tampaknya, percaya dengan ”teknik” sukses yang sama. Dia menciptakan kontroversi –lebih tepatnya sensasi– dalam suasana yang telah terbangun sebelumnya, konfrontasi rumah tangga. Ciuman itu, tentu saja benar sebagai tanda terimakasih Anang atas kesediaan Syahrini menjadi teman duetnya. Tapi, dalam ”pembacaan kedua”, terimakasih itu lebih untuk kesediaan Syahrini dalam membantu Anang ”melewati” Krisdayanti.

Di sini, Anang memainkan ”ingatan” mata, sebagai senjata pertama. Keterpilihan Syahrini otomatis akan membuat penonton, terutama infotainmen, secara langsung membandingkannya dengan Krisdayanti. Apalagi, lihatlah, cara bernyanyi Syarini, –amati bentangan tangannya, kibaran rambutnya, sampai pemosisian dirinya di hadapan Anang– plek sebangun dengan Krisdayanti. Syarini menang segar. Menang muda. Dan, dalam komentarnya kemudian, penonton juga tahu, Syarini menang manja.

Anang mendapat Syahrini yang ranum, pemula, dan muda. Krisdayanti menggaet Rahul Lemos yang uzur dan kaya. Kita tahu arahnya.

Tak heran, Krisdayanti akhirnya pun ikut bersuara. “Semoga sukses. Tapi kok memilih yang suaranya mirip saya, ya?” tanyanya, dengan blalakan mata yang khas itu.

Wajahnya juga mirip, kata infotainmen. “Lho, bukannya masih cantikan saya?” sergah KD.

Ingatan mata memang hanya bicara sebatas raga, membaca gestur, dan laku sensasi. Anang, dengan menggaet Syahrini, harus diakui, sukses mengelola hal ini.

Selanjutnya, Anang memainkan telinga publik.

Telinga publik, terutama dalam industri musik, ternyata menyimpan ingatan yang panjang. ”Ingatan” telinga itu jugalah yang, mengikuti Adorno dalam esainya ”On Popular Music” membuat industri musik membentuk standar. Lucunya, standarisasi itu bukan sesuatu yang terpola, tapi lebih mengacu pada telinga pasar. Sekali pola musik atau lirik meraih popularitas, skema itu akan diekploitasi sampai mencapai kelelahan komersial. Akibatnya, detil-detil dari satu lagi yang populer akan dapat dipertukarkan dengan detil lagu populer lainnya. Bom lagu-lagu berpola Melayu yang diusung ST 12, dapat menjadi contoh hal itu. Ratusan lagu yang sama, dengan lirik yang sebangun, kemudian menjadi standart baru industri musik saat ini. Ungu harus mendangdutkan diri, bahkan, Wali sampai harus diminta produsernya menjadi Melayu sebelum diterima telinga.

Anang mengerti benar wajah industri semacam itu.

Telinga publik dia isi dengan ingatan akan pola lagu sebagaimana dia duet dulu dengan Krisdayanti, dan lirik berisi cerita kesakitan senapas dengan “Separuh Jiwaku Pergi”. Dengarlah lirik duet yang diulang terus itu, ”Jangan memilih aku/ bila kau tak sanggup setia/ Kau telah mengerti aku/ diriku/ yang pernah terluka.”

Dengan memainkan ”ingatan” mata dan telinga publik, Anang mengangkat masa silam dan masa kininya secara bersamaan. Di panggung ”Dahsyat” itu, secara otomatis, penonton tak hanya menyaksikan keranuman Syahrini tapi juga kenaifan Krisdayanti. Di panggung itu, Anang menunjukkan bahwa dulu dia juga pernah berduet semanis dan semesra itu, dan kini dengan sosok yang berbeda, karena ”ada yang telah tak setia”. Anang dengan serius telah mengelola mata dan telinga publik untuk menaruh empati pada dirinya, dan menjadikan Krisdayanti sebagai terdakwa, tanpa harus dia bawa atau sebut namanya.

Syahrini, bagi Anang, adalah medium, media penyampai pesannya. Tapi, karena kata Marshall McLuhan, the medium is the message, media adalah pesan itu sendiri, maka Syahrini adalah pesan dengan wajah ganda: memikat pemirsa, sekaligus menembak Krisdayanti. Bukan hal yang luar biasa jika kemudian Anang mencium keningnya.

Terjerat dalam Diva

October 31, 2009

Krisdayanti memang seorang diva. Diva bukan saja karena performa suara dan pencapaian karier bermusik, melainkan juga gaya dan kepintarannya membawa diri, dan membahasakan perilakunya. Lihatlah.

Lihatlah di televisi. Setelah lama berdiam diri, dan hanya tampil sesekali untuk bernyanyi di “Inbox” SCTV atau “Dahsyat” RCTI, KD, demikian dia biasa dipanggil, menggelar jumpa pers setelah resmi menjadi janda, dengan bahasa dan gaya yang sempurna. Krisdayanti tidak saja tampil dengan percaya diri dan dapat bercanda dengan kerling mata, atau gelak tawa, tapi juga mampu memilih diksi yang kuat dan kalimat bijak untuk menyampaikan pendapatnya.

Misalnya, untuk kegiatan dia selama “menyepi” dari media, ibu dari Aurel dan Azriel ini berkata, “Saya lebih banyak baca dan berpikir. Lebih intens kepada ibadah untuk mengobati batin saya.”

Dalam masa “berobat” itu, KD tak menerima telepon siapa pun, dan menonton berita apa pun. Dia menutup diri. Tapi, bagi KD, bukan itu yang terjadi. “Saya enggak menutup diri. Saya diam karena hal itu tepat, di saat orang menyalahkan saya. Ini masalah kamar dan enggak ada yang berhak ikut campur. Saat ini saya bisa menerima dan berbicara, hanya saya, Anang, dan Allah yang tahu,” ucapnya, yang mengaku tidak menggunakan ponsel dengan nomor yang biasa dia gunakan selama dua bulan.

Pelantun “Aku Wanita Biasa” itu pun mengaku tak lagi terluka. “Tapi Alhamdulillah, sekarang lahir batin saya sudah sembuh. Saya berusaha menutupi kesedihan saya untuk melawan kesedihan ibu saya. Ya double kerja keras,” ujarnya.

“Tidak ada yang berubah, saya ikhlas,” katanya mengenai dirinya setelah menjanda. Atau, “Saya ingin membahagiakan orangtua dan keluarga saya di masa depan.” Juga pengakuan, “Saya sekarang telah menjadi single mother dan harus bekerja untuk anak-anak saya. Saya ikhlas hak asuh anak-anak jatuh kepada ayah mereka. Saya yakin Anang akan bertanggung jawab atas anak-anak.”

Sempurnalah.

KD memang selalu sempurna di depan kamera. Bahkan, ketika mengumumkan keretakan rumah tangganya, di bulan puasalalu , dia memulai dengan kalimat yang bercahaya. “Saya yakin ini adalah hari yang berat, karena saya sedang menjalankan ibadah. Tadinya, saya tidak mau, tapi saya harus mengikhlaskan ibadah saya terganggu dengan pemberitaan yang ada.”

Soal pilihan cerai, dia bahasakan dengan, “Saya dan Anang memutuskan tidak melanjutkan kerjasama menyatukan hubungan tali pernikahan. Saya dan Anang memutuskan tali pernikahan dalam keadaan terbuka, tidak mencari kesalahan.”

Dahsyat!

Tapi, hidup seseorang bukan hanya tercatat dan dilihat dari yang tampak di mata kamera.

Sebelum perceraian itu, kita tahu, KD baru saja meluncurkan buku Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret. Dalam buku itu, KD mengaku tak sempurna. Sosok yang tampil di depan kamera itu, adalah diri imitasi, sebagai harga yang harus dia tebus untuk para penggemar yang membayar mahal agar dapat menikmati dirinya. Buku itu, bagi KD, adalah fase terpenting dalam hidupnya, ketika sudah dapat memaafkan diri sendiri.

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku itu.

Artinya, setelah buku itu terbit, KD tak ingin lagi berlaku seperti apa yang dia pertunjukkan dan akui selama ini. Akan hadir KD yang berbeda.

Dan, peluncuran buku itu belum lama. Penggalan pengakuannya masih terngiang di telinga pembaca, termasuk asmaranya yang berkobar bersama Anang, paska permak paha dan payudara. “Anang grogi,” akunya.

Lalu, semua sia-sia.

Pengakuan itu tak lebih fatamorgana.

Buku itu, pengakuan tak sempurna itu, adalah rekayasa paling sempurna untuk “menjual” dirinya. Pengakuan pertobatan itu adalah citra yang paling penting untuk dapat diterima massa. Perasaan bersalah itu adalah magnit yang dia tembakkan untuk mendapat simpati.

Bukan rasa bersalah yang lahir dari dalam diri. Bukan, meminjam diksinya, “kejujuran yang menuju puncak kedewasaan.”

Semua cuma rekayasa. Permainan panggung. Pemanfaatan media. Pertukaran citra.

KD tak pernah berubah. Karena di dalam dirinya, dia tak pernah merasa bersalah. Termasuk juga perselingkuhan itu, yang disaksikan Aurel, anaknya. Atau kesakitan yang diterima Anang dan anak-anak mereka karena pengakuannya bahwa dalam pernikahan itu dia tak pernah merasa bahagia. Karena, kita harus tahu, sudah sejak lama Krisdayanti tidak hidup untuk dirinya, untuk suaminya, anak-anaknya, atau keluarga besarnya.

Krisdayanti hidup untuk penggemarnya. Untuk seluruh citra yang dia bangun. Untuk semua kesempurnaan yang tercipta di dalam benaknya.

Maka tak salahlah kalau dia mendapuk diri menjadi diva, yang rela mengorbankan banyak hal agar selalu dapat terlihat sempurna.

Untunglah, kita selalu tahu, karena tak sempurnalah maka kita disebut sebagai manusia.

Tangisan Penonton Perempuan

May 19, 2009

Di dunia ketiga, masihkan teve wakil dari mata pria?

Tangisan selalu dimulai dari perempuan. Setidaknya, begitulah yang acap kita lihat di layar televisi. Di acara “Masihkah Kau Mencintaiku???” yang tayang setiap Rabu malam di RCTI misalnya, 15 menit terakhir pasti diwarnai air mata. Bahkan, tangisan penonton perempuan itu seakan menjadi menu, karena ditampilkan secara close-up, dari satu wajah ke wajah penonton yang lain, mulai gerakan menyusut air mata, menutupkan sapu tangan ke wajah, sampai tarikan napas berat menahan sedan.

Tangisan penonton itu sekilas terlihat wajar. Maklum, di 15 menit terakhir, Helmi dan Dian Nitami memang mengondisikan acara  untuk masuk dalam suasana haru melalui peluk dan isakan; narasumber yang bermaafan. Penonton terbawa, air mata tersita. Namun, tangisan penonton perempuan itu juga tumpah untuk acara yang tak dikondisikan berharu-haruan. Di “D-Show” TransTV Senin (4/5) misalnya, acara itu penuh tawa. Julia Perez membuat Desi Ratnasari tergelak, meski dia bercerita tentang ibunya yang menolak Gaston Castanyo. Dialog ibu-anak itu menyegarkan, seperti percakapan mereka di dapur rumah, tanpa basa-basi, apa adanya. Tapi, tawa penonton itu secara cepat berubah jadi tangisan ketika narasumber yang lain, Siska, mengungkapkan juga penolakan ibunya untuk asmara dia dan suaminya. Perpindahan tangis ke tawa ini terasa menakjubkan. Betapa gampang penonton perempuan merasa, terlena….

Bahkan, tangisan semacam itu juga terjadi di acara musik.

Okky Lukman yang berhasil membawa hadiah Rp 100 juta dalam acara “Missing Lyrics” Trans TV, juga memancing tangisan penonton. Okky, memeluk ibunya, jejingkrakan tertawa-tawa. Di sekitar panggung, beberapa menonton menyusut air mata. Ajaib. Di final “Dream Girl” Global TV (13/5) yang mempertemukan trio Topodade dan 3G, penonton bahkan terisak nyaris sepanjang acara. Padahal, di panggung tak ada pertunjukan keharuan ala “Indonesian Idol”, “Idola Cilik”, atau “AFI”. Topodade hanya bernyanyi, sebaik-baiknya. Bukan lagu sedih, terutama ketika bersama Idol Divo mereka menyanyikan “Hitam” milik Andra & The Backbone. Dan penonton, juga Sita RSD yang menjadi juri, tak hanya memberi tepukan, tapi juga tangisan.

Haru. Sesak. Isak.

Air mata.

Bagaimana bisa bertandang?

Kecairan Identitas

Ya. Dari mana datangnya air mata? Mengingat, bahkan acara sejenis “Masihkah Kau Mencintaiku???” saja, menyisakan lobang logika, sehingga amat terlihat yang terjadi di panggung adalah semata rekayasa. Kesedihan di pentas itu, seharusnya, tak akan memancing tangis. Apalagi nyanyian Topodade. Tapi, kritikus Macherey punya jawaban. Dalam bukunya, A Theory of Literary Production, dia mengatakan setiap pembaca, juga penonton, selalu berada di antara representasi dan figurasi. Representasi adalah tujuan yang ingin disampaikan, subjek narasi, niatan. Sedangkan figurasi merupakan pembubuhan di dalam narasi, yang kadang hadir melalui efek pembayangan. Dalam tindak figurasi, pembaca atau penonton melakukan produksi teks atau cerita sendiri. Dengan kata lain, terjadi “pembentukan” teks atau cerita baru di benak penonton yang bisa jadi berbeda dari yang tersaji di atas panggung. Bahasa gampangnya, penonton melakukan pengkhayalan kembali.

Pendapat Macherey di atas didukung oleh Thomas Elsaesser. Dalam Cinema Futures: Cain, Abel or Cable? The Screen Art in the Digital Age, dia menulis bahwa televisi yang visual sangat mendorong efek figural, menghadirkan dunia tiruan, dunia bayangan. Penonton pun tumbuh dan hidup dalam dunia rekaan. Jadi, jika pun ada tangis, air mata itu tumpah bukan karena cerita yang tersaji, melainkan lebih karena proses keterlibatan dalam sebuah “kesedihan yang dibayangkan, direka-ulang”.

Tapi mengapa penonton perempuan? Neil Postman punya jawaban. Sebagaimana yang juga dikutip Wilson Sitorus, dalam Amusing Ourselves to Death, Postman mengatakan televisi merupakan dunia kapitalis laki-laki yang tak ramah kepada masyarakat lain di luar itu. Dan sebagai “wakil” lelaki, televisi sangat digdaya menghadirkan dan memancing figur/cerita khayalan. Penonton perempuan adalah mangsa, korban. Meski pandangan Postman ini mulai diragukan para feminis, terutama oleh Gamman dan Marshment melalui The Female Gaze: Women as Viewrs of Popular Culture, tapi di dunia ketiga, televisi memang masih menjadi wakil pria.

Di Indonesia, pendapat Postman didukung data AGB Nielsen, bahwa penikmat terbesar televisi adalah perempuan. Dan efek figurasi itu makin kuat karena penonton perempuan tadi berasal dari strata sosial dan ekonomi D-E. Artinya, pendidikan penonton perempuan ini sebagian besar maksimal SMP, dengan pengeluaran bulanan tak lebih dari satu juta rupiah, dengan ketidakmampuan memiliki barang mewah seperti kulkas dan penyejuk ruangan. Mereka adalah ibu-ibu dan gadis.

Namun, lebih dari faktor pendidikan dan ekonomi, pembayangan cerita dan keterlibatan penonton tercipta karena proses pembentukan identitas feminin dalam model cerita sinematik. Mengikuti argumen Stacey dalam Star Gazing: Hollywood and Female Spectatorship, figurasi terjadi karena tercipta kecairan sementara (temporary fluidity) di antara identitas penonton dan aktor. Kecairan dan “pertukaran” identitas itu biasanya dipicu faktor kesamaan keinginan, nasib, dan hasrat-hasrat yang secara potensial ingin mereka penuhi. Maka, apa yang terjadi di atas panggung, secara sementara, tercipta juga pada penonton. Kesedihan, tangis, meskipun itu rekayasa pemanggungan, bagi penonton, bukan  hanya sebuah tayangan melainkan menjadi internalisasi diri, dirasakan, dialami….

Penonton perempuan melompat ke dalam cerita, memainkan perannya. Maka wajar, jika kemudian mereka bersimbah air mata.

Praduga Kehilangan Drama

May 14, 2009

 

Pernikahan selalu dimulai dengan campur tangan Tuhan. Keyakinan itu diucapkan Adjie Massaid. Dan dia tak sendiri. Angelina Sondakh, istrinya, juga mengaminkan pernyataan itu. Dan kita tahu, campur tangan Yang Esa itu, maksud Adjie, tidak hanya dalam mendekatkan jiwa, tapi juga memilihkan hati mereka untuk berada dalam iman yang sama.

Campur tangan Tuhan itu juga yang membuat Adjie dan Angie tak begitu bernafsu mewartakan pernikahan mereka. Karena setiap warta yang tersiar saat ini, sebahagia apa pun, tak selalu disambut dengan kegembiraan yang sama. Di ujung kamera, dalam gelak tawa, yang tetap diumbar adalah segala cela, juga beda. Apalagi menyangkut agama. Pernikahan Adjie-Angie berada dalam fokus itu, ketika iman, agama, bukan lagi menjadi pilihan dan konsumsi pribadi, melainkan makanan massa.

Adjie mengerti. Ia pun mengelak.

“Soal itu, biarkanlah menjadi hubungan kami dengan yang Maha Kuasa,” ucapnya. “Intinya, kami menikah secara Islam.”

Tapi, bahasa yang halus itu, manalah dimengerti televisi. Terlalu lembut, tanpa bombasme. Penonton tidak diberi keterkejutan, tak mendapat drama. Spekulasi pun dicari. Bukan dalam bentuk bukti, tapi ribuan tanya. Benarkah Angie telah memeluk Islam? Bukankah soal agama itu yang selama ini menjadi penghalang? Siapa yang mengislamkan dia? Apakah masuk Islam hanya untuk dapat menikah? Bagaimana dengan restu orangtua Angie? Benarkah ketiadaan perayaan itu karena kehampaan restu? Mungkinkah Angie melawan orangtuanya? Durhaka?

Tak ada jawaban. Angie tak mau memberi penegasan. Semua dia serahkan pada Adjie, mewakili dirinya. Adjie kembali dengan halus berkata, “Semua sudah selesai dengan baik, damai. Saya sebagai imam keluarga harus bertanggung jawab untuk semuanya…”

Tapi tidak bisa? Apanya yang baik? Bukankah ayah Angie mengaku tidak diberitahu soal pernikahan itu jauh hari? Dan terpaksa merestui? Juga mengapa harus menikah secara sembunyi-sembunyi? Jika memang hari bahagia, mengapa tidak dikabarkan kepada rekan-rekannya? Pasti ada sesuatu? Pasti ada yang disembunyikan!

“Saya senang teman-teman masih menaruh perhatian. Tapi biarkanlah ini menjadi kebahagiaan kami saja,” kata Adjie sembari tersenyum.

Huh! Tidak bisa, dong? Cari Reza? Iya, Reza Artamevia, mantan istri Adjie itu. Tanyain dia, apakah Adjie memberi tahu soal pernikahan itu.

“Wah, saya tidak tahu. Mas Adjie sering menelpon, bercerita soal anak-anak, tapi tidak pernah membicarakan soal itu,” jelas Reza.

Nah, Reza saja tidak tahu. Padahal, ada dua anak mereka yang akan menjadi asuhan Angie, Zahwa dan Aaliyah. Pasti Reza akan merasa tersakiti, merasa dilangkahi.

“Tapi saya berbahagia kok. Itu pilihan yang terbaik untuk Mas Adjie. Saya tahu Angie sosok yang tepat untuk anak-anak saya. Apalagi sudah seiman, ya? Semoga apa yang mereka cita-citakan tercapai…”

Lho? Bagaimana ini? Masa tidak ada gregetnya? Nah, ingat deh! Cari Bella Shapira. Iya, itu mantan kekasih Adjie. Meski sudah puluhan tahun lalu, pasti dia bisa memberi komentar. Apalagi, Bella kan dulunya seagama dengan Angie?

“Aku nggak tahu, ya? Namanya juga menikah diam-diam, jadi ya tidak tahu.”

Nah, ada peluang nih? Tentu Bella merasa ada yang aneh atau disembunyikan dari pernikahan diam-diam itu. 

“Hahaha… aku akan mengikuti jejak kalian. Aku jadi terinspirasi. Irit. Lebih baik diam-diam, tidak boros,” tambah Bella.

Duh! Habis deh! Oh tidak. Ternyata, pernikahan 29 April 2009 itu hanya pengesahan. Sebelumnya, mereka berdua ternyata telah menikah sirri, September 2008. Artinya, telah hampir setahun mereka menyembunyikan perkawinan itu, juga keislaman Angie. Cari Habib Abdurrachman Assegaf. Mintai konfirmasi, kapan Angie memeluk Islam.

“Angie itu sudah belajar ngaji dari dulu. Gurunya banyak. Nah, dia termasuk yang masuk islam karena hidayah, bukan karena ingin kawin. Dia mengikuti orang yang dia cintai…”

Payah! Mengapa tak ada yang berkomentar pedas. Masa hanya kita-kita presenter “Insert”, “Selebrita” dan “Kasak-Kusuk” saja yang berprasangka dan memaksakan drama? Ayo cari alasan pengesahan perkawinan itu. Olala, terjawab sudah. Angie ternyata hamil. Sudah hamil 4 bulan. Jadi, pernikahan itu untuk membuat kehamilan tadi menjadi wajar. Ayo, cari Komar. Dia pasti punya komentar.

“Iya, sudah ada hasilnya. Mas Adjie sudah akan jadi ayah dengan tiga anak.  Ya sudah menikah setahun lalu, ya wajar dong hamil. Wong ada suaminya, hahahaha….”

Nyerah deh! Angie, please deh ah, ngomong dong?

“Itulah mengapa selama ini saya agak enggan. Bukannya nggak mau, tapi saya tahu teman-teman pasti membidik hal agama itu sebagai meteri yang menarik. Kasihan orang tua saya.”

Lho, berarti benar dong belum dapat restu dari orangtua?

“Orang tua saya tak memasalahkan soal keputusan saya untuk memeluk agama yang dianut Mas Adjie. Tapi, berita yang mem-blow-up itu membuat Papa kurang senang.”

Jadi? “Biarkah soal keimanan kami ini menjadi urusan kami dengan Yang di Atas, menjadi pembicaraan kami pribadi saja…” tutup Adjie.

Puas, puas, puas??! 

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 16 Mei 2009]

Gugun dan Kekejaman Media

April 3, 2009

Diiringi petikan gitar Tito Soemarsono, dengan lirih, Gugun  bernyanyi, “Kupersembahkan lagu ini. Sebagai tanda cinta kasihku. Padamu setulus hati ini untukmu… Kau permata hati….

Di sisi kiri Gugun, Anna Marrisa, istrinya, mengejapkan mata, berkali-kali. Tangan kanannya terus sibuk mengusapi pundak Gugun. Dan ketika lagu itu sampai di bagian tengah, airmata Anna pun tumpah. Dia peluk Gugun, dia ikuti larik-larik lagu itu, dia biarkan pipinya basah….

Saya tahu, pikiran Anna tidak sepenuhnya berada di situ.

Berkali-kali dia terlihat menengadah, bukan saja menahan airmata yang akan tumpah, melainkan juga mencoba mengais kenangan lama, yang selalu hadir ketika lagu itu dinyanyikan. Di talkshow  ”Just Alvin” itu, Anna terpenjara antara kenangan dan kenyataan.

Juga harapan.

Dan gelora cinta.

Tapi tangis itu, saya kira, setengahnya juga berisi rasa nyeri; kepedihan harus merawat cinta di tengah masyarakat yang mengimami gosip, dan menjadikan prasangka sebagai agama. Kesakitan ketika dia harus membuka diri, menyingkapkan rahasia, sehingga massa percaya bahwa benih yang tumbuh dirahimnya berasal dari pancaran cinta dan bukan tindak istri yang durhaka, bahwa Gugun masih seorang lelaki yang “bisa”.

“Banyak orang yang masih mengira Gugun mungkin nggak ‘bisa’. Aku dibilang melakukan dengan orang lain. Cuek sajalah. Yang tahu bagaimana sebenarnya, aku dan keluarga. Memang sih tidak seperti dulu, aku yang harus banyak memulai. Tapi dia bisa melakukannya, semua normal,” cerita Anna.

Tapi Anna tahu, cerita dia tak sepenuhnya dipercaya. Atau, jika pun ada yang percaya, juga dengan gelengan kepala, ketakmengertian, mengapa Anna tega berasmara-ria ketika Gugun masih setengah alpa.

Anna, atas nama cinta, juga untuk menjaga nama baik diri dan suaminya, akhirnya harus menelan kepedihan, dan menceritakan proses persetubuhannya, lengkap dengan lenguhannya. Ia tak kuasa untuk melawan “Insert” dan “Silet” yang telah diimani banyak orang.

“Aku harus goda-godain bagian tertentu di tubuhnya. Aku raba-raba. Aku taruh tangan dia di bagian tertentu tubuhku.

“Kalau mood-nya lagi bagus, kira-kira 10 menit, ada reaksi-reaksi kecil.

“Aku ‘karoke’ dia. Kadang aku suka ngomong gini ke dia, ‘Sayang, maaf ya, istrimu ini agresif, istrimu ini gila’.

“Selanjutnya normal, dia bisa mencumbu, dia bisa meremas, seperti normalnya saat kami ML. Tapi memang pelan, arah-arahan juga terus aku lakukan. Habis ini tangannya ke sini, ke situ. Sejak dua bulan lalu, dia sudah bisa posisi di atas. Juga posisi duduk, dia yang memangku aku.

“Kalau sudah dirangsang, diarahkan, selanjutnya mengalir begitu saja. Mencumbu, kissing-nya juga pagut-pagutan.

“Lamanya dia sekitar 20 menit sampai setengah jam. Tapi dengan jeda-jeda, nggak terus-terusan.

“Reaksi Gugun ya kayak dulu, ada suara-suara gitu. Kadang kalau aku tanya, ‘Yang, bagaimana? Enak?’ Dia bisa jawab, ‘Enak banget’.

“Minimal seminggu sekali, biasanya malam. Tapi buat aku, enaknya seminggu dua kali. Kapan saja melihat Gugun, aku pengin kok.”

Sedetil itu Anna bercerita, seberani itu dia membuka rahasia, masyarakat –seperti kata infotainmen– masih bertanya, apakah mungkin Gugun yang sempat sekian lama koma, bahkan pernah lupa nama diri dan istrinya, benar-benar ‘bisa’? Dokter Boyke pun diajak bicara. Ketika Boyke justru menguatkan cerita Anna, keraguan masih terus dipupuk, biar cerita masih seperti kerupuk, renyah dan kemriuk. Boyke diragukan, Naek L Tobing diundang. Hasilnya sama. Ketaklumpuhan Gugun menjadi indikasi tentang kelelakiannya yang tak ikut piuh.

Infotainmen percaya? Tentu tidak. Pertanyaan terus dilemparkan, meskipun Gugun ‘bisa’, tapi apakah spermanya dapat membuahi? Maklum, setiap hari Gugun harus menelan 22 jenis obat kimia. Tidakkah spermatozoa-nya terganggu?

Tentu, dokter pun, tanpa meneliti, tak bisa memberi jawaban pasti. Dan ketakpastian itulah yang dicari infotainmen untuk berspekulasi. Anna, setelaten apa pun dia mencinta dan merawat Gugun seperti terlihat di kamera, sebanyak apa pun airmata yang dia tumpahkan, dalam kondisi ini, tetaplah didudukkan sebagai terdakwa. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjadi pembela, yang menyaksikan persetubuhan mereka.

Wajarlah ketika Alvin bicara, “Mas Tito, Mas Riko Ceper, Mas Sys NS, semua yang hadir di sini, datang untuk Gugun. Agar Gugun cepat pulih, cepat sehat, agar kita dapat lagi bersama-sama. Agar Gugun tahu bahwa banyak sekali yang berdoa untuk kesembuhan Gugun…” Anna tak mampu menahan isaknya.

Sedu itu, bagi saya, adalah gugatan Anna kepada media, yang telah mendudukkannya menjadi terdakwa, sebagai istri yang tak setia. Dalam tangis itu, saya percaya, Anna  pasti berdoa, “Yang, cepatlah sehat, cepatlah bicara. Jadilah pembela, untukku, untuk anak kita….”

 

[Dalam bentuk yang lebih ringkas, telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 4 April 2009]

Engkau Saja Dik, Cukuplah!

October 17, 2008

Saya bayangkan, sehabis dibakar siang dan deram kereta yang memekakkan telinga, Aris pulang dengan wajah kecewa. Terbungkuk, dia masuk ke rumah yang masih separuh gubuk. Membuang napas, dia sandarkan gitar di dinding bercat kelabu yang mengelupas satu-satu, lalu dia gapai Mocalist Rasya Fattirullah, anak semata wayangnya, yang merangkak mendekati. Di sudut sana, menyandari panglari, Fany, istrinya, menyambut dengan senyum, lebih mirip setengah tawa.

Sembari memanggu Rasya, dan membelai kepala bocah yang belum ditumbuhi rambut sempurna itu, Aris menatap Fanny dan berkata, “Dik, hari ini kita tak ada lagi uang.”

Saya bayangkan juga, Fanny akan menyambut ucapan itu dengan wajah yang biasa. Tersenyum, lalu bibir yang terbiasa mengucapkan cinta itu berkata, “Bang, jangan bicarakan uang di rumah ini. Karena memang tak pernah ada uang di ruangan ini. Marilah Bang, kita bicarakan Allah. Karena hanya Allah sajalah Bang, Allah saja, yang masih tersisa di rumah tangga ini.”

Saya bayangkan, saya melihat air yang mengalir bening di sisi hidung Aris. Lalu Fany mendekat, menyusut tangis itu dengan telunjukknya, menggarisi pipi Aris dengan runcing hidungnya. Dan Aris merangkul bahu istrinya, mengecup kening, dan berbisik, “Dik, bagiku, di dunia ini engkau saja cukuplah. Cukuplah.”

Saya tak tahu, mengapa membayangkan adegan itu milik Aris dan Fany. Padahal, di layar kaca, dialog itu milik Asrul dan istrinya, dalam sebuah lanskap Para Pencari Tuhan yang selalu terlem di benak saya. Saya membayangkan Aris dan Fany, juga Rizky “The Titans” serta Ratna, barangkali karena mereka, kini, setelah lepas dari masalah uang, justru kehilangan kemesraan, cinta, dan juga Tuhan. Aris, yang selalu berkeringat itu, kini telah tak ada lagi. Fany, yang wajahnya kusam dibintiki jerawat, telah bening terawat. Hidup mereka tak lagi melarat. Aris yang selalu pulang ke rumah bercat pucat, kini telah tinggal di flat. Tapi dia sendirian dalam kemewahan itu, tanpa Fany.

“Sehabis menjuarai Indonesian Idol, cuma seminggu dia bersama kami,” terang Fany.

Aris berubah? Ya. “Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit banget. Dia bilang, ‘Boleh dong hatiku berpaling.’ Enak banget dia ngomong begitu,” geram Fany.

Tak hanya kepada Fany, Aris juga seakan lupa pada Rasya. Itulah yang membuat Fany tak lagi dapat memberi maaf. “Aku sudah menemani dia dari bawah sampai ke atas. Jadi, jika nanti dia sudah kembali ke bawah, aku nggak mau lagi sama dia.”

Uang, memang mengubah orang. “Aku lebih baik bersuami pengamen dengan uang 30 ribu perhari daripada seperti ini.”

Uang, juga membelokkan cinta. “Tiba-tiba datang seorang wanita ke rumah, mengaku sebagai kekasih Aris. Dia menunjukkan bukti-bukti. Aku seperti tersambar petir.”

Uang, dapat menduakan Tuhan. “Sampai sekarang, dia belum syukuran,” kecam Fany. “Saya berharap Aris menjalankan nazarnya untuk syukuran,” tambah Siti Rohaya, ibu Aris.

“Sesuatu yang didapatkan dengan teramat cepat dan gampang, lebih sering membuat orang lupa bersyukur,” kata pemikir Islam, Haidar Bagir.

Aril memang terlalu cepat populer. “Indonesian Idol” melempangkan mimpinya, sebuah jalan yang sedari awal tidak disetujui istrinya untuk dia tempuh. “Fany melarang saya untuk ikut acara ini. Dia takut saya berubah. Tapi di panggung ini, saya berjanji, Aris tidak akan berubah,” teriak Aris, ketika masuk ke-3 besar “Indonesian Idol”. Di bawah panggung, kamera menyorot Fany yang terisak. Mungkin dia menyesal pernah melarang Aris, dan merasa bersalah. Barangkali dia percaya, suaminya tak akan berubah.

Tapi Aris berubah.

Barangkali, dia tak ingin berubah. Tapi, dia juga tak bisa bertahan dengan masa lalunya. Aris, mungkin hanya ingin menyingkirkan kesilaman itu dengan cepat, berpaling, tanpa menoleh lagi. Sayang, Aris lupa, ada Fany di sana, masih berdiri di peta masa lalunya. Masih berharap, silau uang dan gemerincing pujian tak mengubah kecintaannya. Fany hanya ingin, seperti dulu, mereka bisa bahagia, meski tanpa nama dan harta.

“Banyak orang percaya, kalau sukses dan punya uang, kita akan bahagia,” terang Haidar, padahal “kebahagiaan terbesar adalah memberi.”

Kebahagiaan terbesar adalah memberi. Dan memberi mengandung sebuah makna “membagi apa yang telah kita dapatkan”. Aris telah mendapatkan semua yang dia impikan, popularitas dan uang. Tapi, dia menggenggamnya sendirian. Dia lupa, ada hak anak dan istrinya dalam semua yang telah dia raih. Ada doa dan airmata, juga kesepian panjang, yang diserahkan Fany, untuk melempangkan jalannya. Aris adalah contoh tentang popularitas dan uang yang dengan gampang diraih, tapi tidak untuk kebahagiaan. “Kita harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan mau memberi,” tambah Haidar.

Maka, saya bayangkan suatu hari nanti, Aris kembali ke rumah setengah gubuk itu, dengan langkah guyah meski tanpa peluh. Dia ketuk pintu, dia peluk Fany, dan bersimpuh. “Dik, maafkan aku. Untukku di dunia ini, engkau dan Rasya saja, cukuplah.”

Lalu Fany menarikkan Aris agar tak bersimpuh, dan memeluk tubuh yang wangi itu. “Bang, dari dulu, engkau telah cukup bagiku. Jadilah pengamen saja, dan nyanyikanlah lagu cinta. Hanya untukku, hanya untuk Rasya. Masuklah, mari, di rumah ini masih ada Allah, masih banyak cinta….”

Lalu Aris akan tertawa, berpaling memandang kamera. “Cut!” teriak sang sutradara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 18 Oktober 2008]