Andaikata Minggu tak Pernah Ada

February 12, 2011

Kematian biasanya menerbitkan iba, dan kenangan atas si mayit melahirkan cinta. Kita dapat dengan jelas menemukan contohnya, dalam keberpulangan Adjie Massaid, dan rasa kehilangan Angie.

Adjie yang meninggal Sabtu (5/2), menerbitkan iba yang luar biasa. Kita terhenyak, dan tiba-tiba terserang rasa ‘’seram”, bahwa kematian demikian adikuasa, tak bisa ditawar, dan bersifat memaksa. Adjie yang bugar, tiba-tiba runduk, dan sadar, tak pernah ada negosiasi di depan sang maut. Politikus itu tak bisa memberikan konsesi apa pun di depan elmaut, selain wasiat kepada yang hidup, Angie, istrinya. Dan kita pun terbata, ketika Angie menceritakan kepasrahan itu, ””Angie, take care of everything, take care of the children. Mungkin ini udah waktunya.”

Kematian Adjie membuat kita bukan saja merunduk pada sang maut, melainkan lebih berani melihat hidup. Angie, selepas tangisnya yang demikian menyulut iba, mengingatkan kita tentang hidup yang harus dia jalani, sendiri. Kita pun mengira-duga, kuatkah dia, melangkah tanpa genggaman cinta, merawat Keanu, dan menemani Zahwa dan Aaliya, sendiri. Kita lalu membayangkan hidupnya yang akan terasa sulit, dan tanpa sadar, membandingkan dengan hidup kita.

Maut, di titik itu, membuat kita berhenti, mengevaluasi diri, mencerna hidup.

Kematian Adjie membuat kita bertanya dengan nada iri, apakah kelak kita juga mendapatkan kehormatan, cinta, dan ungkapan kehilangan yang sama, selepas kematian.

Adjie mengingatkan kita bahwa hidup secara bersih dan tulus bukanlah sesuatu yang sia-sia, akan selalu kembali kepada kita, bahkan di saat maut mengambil kita dari dunia.

Adjie menginspirasi bahwa kehidupan itu penting, berharga, dan harus dijaga.

Di atas kematiannya, di basah pusaranya, kita menemukan cinta yang lahir, bermekaran, dan menyesakkan dada. Kita jadi percaya, bahwa energi terbesar manusia adalah mencinta, adalah mencinta.

Kematian biasanya menerbitkan iba, dan kenangan atas si mayit melahirkan cinta. Tapi hari-hari ini, kita juga melihat kematian yang melahirkan benci, amarah, dan dendam. Dan kenangan, juga sejarah sang korban, tak menampilkan rasa belas, justru umpat yang culas. Cinta, seperti juga negara, tak hadir, alpa, dalam kasus pembantaian jemaah Ahmadiyah.

Kematian, yang bahkan datang dalam bentuk yang sadis, entah bagaimana, tak menerbitkan rasa miris karena digonggong kebencian dan perasaan absolut dalam menggenggam kebenaran. Pembantaian jemaah Ahmadiyah, yang merupakan bencana kemanusiaan, bukan dihadirkan sebagai ingatan, ancaman, akan nilai-nilai dasar manusia, tapi direduksi sebagai ”kewajaran” dari kesesatan. Di atas mayat sang korban, para cerdik-cendekia, yang mengaku pemuka agama, berdebat siapa benar siapa sesat, bukan menyatakan empati dan bela sungkawa. Cinta entah menguap ke mana. Padahal, di depan tragedi kemanusiaan bukankah kita seharusnya ”melepaskan” agama.

Tapi lihatlah, negara yang diwakili Menteri Agama bahkan meminta Ahmadiyah dibubarkan, dan atau, membentuk agama baru. Sebuah sikap yang bukan menenangkan, mengayomi sang korban, melainkan seperti ”pembenaran” kerusuhan. Padahal, ”Menteri Agama kan bukan cuma menteri orang Islam, tapi semua umat beragama di Indonesia,” kata Karding, Ketua Komisi VIII DPR RI.

Guntur Romly, aktivis antar-iman, dalam debat ”Apa Kabar Indonesia” TV One, juga mengatakan hal yang sama. ”Bagaimana mungkin di hadapan korban kita masih menyalahkan mereka?”

Beriman sekaligus membantai sesama, saya tak tahu bagaimana formulasi itu bisa ada. Saya juga tak tahu darimana ide membentuk agama baru itu bisa lahir?

Hal di atas cuma membuktikan, dalam amarah, dan mungkin juga benci, kita bukan saja kehilangan kemanusiaan, melainkan juga pengetahuan dan kearifan. Secara cepat, ”kita” membedakan diri dan mengambil garis demarkasi dengan ”mereka”, seakan tanpa hubungan, tanpa ikatan, bahkan atas nama bangsa dan kemanusiaan. Luka, darah, dan kematian,  memang disesalkan, tapi berhenti sebagai ucapan.

Itulah sebabnya, di kematian jemaah Ahmadiyah, kita tak lagi menemukan cinta, dan kita gusar.  Kita melihat kemanusiaan kalah oleh kebencian, dan keadilan dilepaskan dari belas dan iba.

Sabtu (5/2), almarhum Adjie mengingatkan kita tentang cinta, dan hidup yang berharga. Angie memberi kita inspirasi tentang sejarah yang tak berhenti, bahkan ketika Adjie mati. Kita, meski mungkin tak bisa, ingin memiliki dan atau mengenang kisah cinta mereka. Karena kita tahu, dalam cinta, melalui belas dan iba, hidup terasa begitu bersih dan berharga, penuh warna.

Tapi Minggu (6/2), dan juga Senin (7/2) saat tiga gereja di bakar massa di Temanggung, otak kita seakan buntu. Di depan korban, jemaah Ahmadiyah itu, kita merasa malu, menatap cinta yang purna, dan kemanusiaan yang sirna. Kita melihat agama dilepaskan dari cinta, ketika yang ‘’sibuk menentukan batas”, menelikung ”yang menjangkau tanpa batas”. Di depan sang korban, kita berharap tragedi kemanusiaan itu tak tercatat dalam sejarah, tak membekas dalam ingatan.  Di hari-hari ini, barangkali, kita berbisik, ”Andaikata Minggu tak pernah ada, maka Sabtu akan terasa begitu sempurna….”

Tangisan Penonton Perempuan

May 19, 2009

Di dunia ketiga, masihkan teve wakil dari mata pria?

Tangisan selalu dimulai dari perempuan. Setidaknya, begitulah yang acap kita lihat di layar televisi. Di acara “Masihkah Kau Mencintaiku???” yang tayang setiap Rabu malam di RCTI misalnya, 15 menit terakhir pasti diwarnai air mata. Bahkan, tangisan penonton perempuan itu seakan menjadi menu, karena ditampilkan secara close-up, dari satu wajah ke wajah penonton yang lain, mulai gerakan menyusut air mata, menutupkan sapu tangan ke wajah, sampai tarikan napas berat menahan sedan.

Tangisan penonton itu sekilas terlihat wajar. Maklum, di 15 menit terakhir, Helmi dan Dian Nitami memang mengondisikan acara  untuk masuk dalam suasana haru melalui peluk dan isakan; narasumber yang bermaafan. Penonton terbawa, air mata tersita. Namun, tangisan penonton perempuan itu juga tumpah untuk acara yang tak dikondisikan berharu-haruan. Di “D-Show” TransTV Senin (4/5) misalnya, acara itu penuh tawa. Julia Perez membuat Desi Ratnasari tergelak, meski dia bercerita tentang ibunya yang menolak Gaston Castanyo. Dialog ibu-anak itu menyegarkan, seperti percakapan mereka di dapur rumah, tanpa basa-basi, apa adanya. Tapi, tawa penonton itu secara cepat berubah jadi tangisan ketika narasumber yang lain, Siska, mengungkapkan juga penolakan ibunya untuk asmara dia dan suaminya. Perpindahan tangis ke tawa ini terasa menakjubkan. Betapa gampang penonton perempuan merasa, terlena….

Bahkan, tangisan semacam itu juga terjadi di acara musik.

Okky Lukman yang berhasil membawa hadiah Rp 100 juta dalam acara “Missing Lyrics” Trans TV, juga memancing tangisan penonton. Okky, memeluk ibunya, jejingkrakan tertawa-tawa. Di sekitar panggung, beberapa menonton menyusut air mata. Ajaib. Di final “Dream Girl” Global TV (13/5) yang mempertemukan trio Topodade dan 3G, penonton bahkan terisak nyaris sepanjang acara. Padahal, di panggung tak ada pertunjukan keharuan ala “Indonesian Idol”, “Idola Cilik”, atau “AFI”. Topodade hanya bernyanyi, sebaik-baiknya. Bukan lagu sedih, terutama ketika bersama Idol Divo mereka menyanyikan “Hitam” milik Andra & The Backbone. Dan penonton, juga Sita RSD yang menjadi juri, tak hanya memberi tepukan, tapi juga tangisan.

Haru. Sesak. Isak.

Air mata.

Bagaimana bisa bertandang?

Kecairan Identitas

Ya. Dari mana datangnya air mata? Mengingat, bahkan acara sejenis “Masihkah Kau Mencintaiku???” saja, menyisakan lobang logika, sehingga amat terlihat yang terjadi di panggung adalah semata rekayasa. Kesedihan di pentas itu, seharusnya, tak akan memancing tangis. Apalagi nyanyian Topodade. Tapi, kritikus Macherey punya jawaban. Dalam bukunya, A Theory of Literary Production, dia mengatakan setiap pembaca, juga penonton, selalu berada di antara representasi dan figurasi. Representasi adalah tujuan yang ingin disampaikan, subjek narasi, niatan. Sedangkan figurasi merupakan pembubuhan di dalam narasi, yang kadang hadir melalui efek pembayangan. Dalam tindak figurasi, pembaca atau penonton melakukan produksi teks atau cerita sendiri. Dengan kata lain, terjadi “pembentukan” teks atau cerita baru di benak penonton yang bisa jadi berbeda dari yang tersaji di atas panggung. Bahasa gampangnya, penonton melakukan pengkhayalan kembali.

Pendapat Macherey di atas didukung oleh Thomas Elsaesser. Dalam Cinema Futures: Cain, Abel or Cable? The Screen Art in the Digital Age, dia menulis bahwa televisi yang visual sangat mendorong efek figural, menghadirkan dunia tiruan, dunia bayangan. Penonton pun tumbuh dan hidup dalam dunia rekaan. Jadi, jika pun ada tangis, air mata itu tumpah bukan karena cerita yang tersaji, melainkan lebih karena proses keterlibatan dalam sebuah “kesedihan yang dibayangkan, direka-ulang”.

Tapi mengapa penonton perempuan? Neil Postman punya jawaban. Sebagaimana yang juga dikutip Wilson Sitorus, dalam Amusing Ourselves to Death, Postman mengatakan televisi merupakan dunia kapitalis laki-laki yang tak ramah kepada masyarakat lain di luar itu. Dan sebagai “wakil” lelaki, televisi sangat digdaya menghadirkan dan memancing figur/cerita khayalan. Penonton perempuan adalah mangsa, korban. Meski pandangan Postman ini mulai diragukan para feminis, terutama oleh Gamman dan Marshment melalui The Female Gaze: Women as Viewrs of Popular Culture, tapi di dunia ketiga, televisi memang masih menjadi wakil pria.

Di Indonesia, pendapat Postman didukung data AGB Nielsen, bahwa penikmat terbesar televisi adalah perempuan. Dan efek figurasi itu makin kuat karena penonton perempuan tadi berasal dari strata sosial dan ekonomi D-E. Artinya, pendidikan penonton perempuan ini sebagian besar maksimal SMP, dengan pengeluaran bulanan tak lebih dari satu juta rupiah, dengan ketidakmampuan memiliki barang mewah seperti kulkas dan penyejuk ruangan. Mereka adalah ibu-ibu dan gadis.

Namun, lebih dari faktor pendidikan dan ekonomi, pembayangan cerita dan keterlibatan penonton tercipta karena proses pembentukan identitas feminin dalam model cerita sinematik. Mengikuti argumen Stacey dalam Star Gazing: Hollywood and Female Spectatorship, figurasi terjadi karena tercipta kecairan sementara (temporary fluidity) di antara identitas penonton dan aktor. Kecairan dan “pertukaran” identitas itu biasanya dipicu faktor kesamaan keinginan, nasib, dan hasrat-hasrat yang secara potensial ingin mereka penuhi. Maka, apa yang terjadi di atas panggung, secara sementara, tercipta juga pada penonton. Kesedihan, tangis, meskipun itu rekayasa pemanggungan, bagi penonton, bukan  hanya sebuah tayangan melainkan menjadi internalisasi diri, dirasakan, dialami….

Penonton perempuan melompat ke dalam cerita, memainkan perannya. Maka wajar, jika kemudian mereka bersimbah air mata.

Klien yang Melayani Penonton

May 6, 2009

Ketika reality show hanya bertugas menghibur penonton, tayangan itu pun berubah menjadi sinetron.

Sambil menatap Siksa, dengan yakin Dedy berkata, “Saya tidak pernah menyesal menikahinya. Saya masih mencintainya….” Mendengar pengakuan itu, penonton bertepuk tangan. Sebagian tersenyum dan –ini di-close up berkali-kali– menyusut air mata. Di sisi kanan panggung, Siska, istri Dedy, menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan pengakuan itu. Ia terisak….

Helmi Yahya kemudian mempertemukan keduanya di panggung.

Dapat ditebak, Dedy dan Siska bersedia kembali untuk berbaikan, melupakan berbagai masalah, menempuh hidup bersama dengan cara yang berbeda. Keduanya berpelukan, bertangisan. Dan kembali kamera beredar ke penonton, yang menyambut adegan itu dengan leleran air mata.

Itulah klimaks acara “Masihkah Kau mencintaiku???” yang tayang di RCTI, Rabu malam (29/4). Reality Show yang dipandu Helmi Yahya dan Dian Nitami itu memberikan berbagai pertanyaan untuk menguji “kelekatan” sebuah pasangan. Siksa dan Dedy misalnya, yang tampil dalam tajuk “Suami Kurang perhatian, Istri Menuntut Cerai”, mendapat pertanyaan yang menguji ingatan mereka tentang ukuran beha, kapan ulangtahun mertua, hari lahir anak, sampai apa yang mereka rasakan setelah 11 tahun menikah. Dari ketakyakinan, juga kesalahan, jawaban itulah konflik kemudian tercipta, ditambah keterlibatan kedua orangtua mereka yang selalu membela anak masing-masing. Bahkan, Ray Sita, yang dihadirkan sebagai konsultan, melihat keterlibatan orangtualah yang menjadi konflik utama Siksa dan Dedy.

Memang, dalam tayangan itu tampak ibu Dedy amat membenci dan menyalahkan Siska. Dalam satu adegan, dia bahkan sampai melompat dari bangkunya dan dengan tangan terkepal menuju ke Siska. “Untung” Helmi berhasil menahan langkahnya. Jika tidak, perkelahian mertua-menantu pasti tak terelakkan.

Tapi, di acara sejenis di TPI, “Curhat Bareng Anjasmara”, perkelahian antarkeluarga tak terelakkan. Perkelahian itu juga yang menjadi iklan utama tayangan itu, dengan memperlihatkan Anjasmara yang emosional, berteriak, seakan putus harapan.

Harus diakui, dan seperti telah menjadi kesepakatan, reality show di televisi memang sarat dengan pertengkaran dan perkelahian.  ”Termehek-mehek”, “Kacau”, sampai “Cinta Pertama”, adalah contoh acara yang mengadopsi jurus itu. Tak ada kreativitas yang berbeda untuk menciptakan klimaks yang bukan berwujud kekerasan. Mereka hanya percaya, klimaks berupa perkelahianlah yang dapat membuat akhir cerita menjadi penuh airmata. “Masihkah Kau Mencintaiku???” memang kembali membuktikan ampuhnya resep standar tersebut. Rabu malam itu, sebagian penonton bahkan membiarkan airmata mereka jatuh begitu saja. Mereka seperti terkesima.
Tanpa Empati

“Masihkah Kau Mencintaiku???” dan “Curhat Bareng Anjasmara”, sebagaimana tayangan reality show  lainnya, adalah “adopsi” dari produk mancanegara. Acara jenis ini telah hadir kurang lebih 5 tahun lalu di berbagai televisi di Amerika, Eropa, bahkan India. Di Amerika misalnya, tersedia “The Jerry Springer Show” yang tayang di NBC. Sedangkan di Inggris, acara sejenis bernama “The Jeremy Kyle Show” tayang di ITV. Bahkan, di India Kiran Deli memandu “Aap Ki Kachehri… Kiran Ke Saath”, show dengan tema yang sama.

Sebagai contekan, seharusnya dua acara di atas mampu tampil lebih baik dari yang mereka adopsi. Kenyataannya, Helmi dan Anjasmara hanya menang dalam membuat keributan. Konklusi yang tercipta pun hadir hanya dari kesepakatan hati, berupa kesediaan memberi dan menerima maaf. Pengakuan bersalah muncul bukan sebagai kesadaran personal tapi keterdesakan dari opini konselor dan teriakan penonton. Ini berbeda dari “The Jeremy Kyle Show” misalnya. Jeremy ttampak tak terlalu pusing dengan respon penonton, dia hadir untuk membuktikan agar seorang “tertuduh” menerima kesalahan sebagai pengakuan pribadi. Dalam satu sesi, Jeremy bahkan menghadirkan bukti DNA, sehingga seorang pria tak lagi dapat membantah untuk mengakui anak yang selama ini dia ingkari.

Pembuktian semacam itu penting untuk menjadi pembeda utama acara ini. Jerry, Jeremy dan Kiran, hadir untuk melayani klien yang punya problem dan mencarikan solusi yang tak terbantahkan, bukan sekadar memaafkan. Sedangkan Helmi dan Anjasmara, juga acara dengan embel-embel reality show lainnya, menghadirkan klien tak lebih hanya untuk melayani penonton. Dan untuk melayani penonton, klien pun harus berlaku sebagai aktor.

Pengaktoran itu tampak sekali dalam “Masihkah Kau Mencintaiku???” Sebagai “pemilik” masalah, Siska dan Dedy tampak rumit mendeskripsikan diri, mereka justru terasing dari problem itu. Bahkan, dalam kategori tertentu, terutama dengan dukungan “aktor” cadangan ibu Dedy, masalah mereka terlihat sebagai naskah yang dihapalkan, skenario yang dimainkan. Gestur ayah Dedy tak bisa menipu. Dia tampak tak cemas dengan kebringasan istrinya, dan hanya bisa berakting dengan mengusapi bahu, untuk menyabarkan. Siska sendiri –duh, memungut dari mana sih,  Hel?– sepanjang acara hanya merengek. Dia tak terlihat menderita dengan permasalahan itu.

Tapi, masalah utama “pengaktoran” justru berada pada Helmi dan Dian Nitami. Helmi masih saja tampil seperti membawakan kuis “Siapa Berani” yang dulu populer di Indosiar, tanpa keterlibatan emosional, tanpa empati. Dia terpaku pada pertanyaan, melempar, selesai. Tak ada penggalian lebih jauh untuk memunculkan endapan-endapan psikologis klien. Helmi bahkan tidak berada di dalam masalah, tidak mengambil posisi untuk terlibat. Barangkali kesadaran bahwa masalah adalah rekaan yang membuat Helmi sudah untuk terlibatkan. Dian Nitami? Ah, setali tiga uang. Dia lebih banyak tertawa, tergelak menikmati “sandiwara”.

Kesadaran hanya untuk melayani penonton juga membuat tayangan ini harus happy ending, berakhir riang gembira, penonton harus bahagia. Perceraian tak akan pernah menjadi solusi. Padahal, dari pemanggungan masalah, sulit diterima nalar hanya dengan 60 menit dikurangi iklan, semua dapat diselesaikan. Penonton di studio dan di rumah bertepuk tangan, terpuaskan dalam tangisan.
Reality show sejenis tayangan itu  pada dasarnya hadir untuk melayani klien, mencarikan solusi terbaik, yang jernih dari infiltrasi kepentingan penonton. Klien hadir di panggung sebagai diri sendiri dan tanpa keinginan untuk memberi inspirasi. Mereka bukan aktor. Tapi di sini, apa pun jenisnya, reality show dihadirkan untuk menjadi hiburan. Klien hanya figuran, yang barangkali diambil dari jalanan, dan dijebloskan ke dalam skenario yang berantakan. Mereka harus menyenangkan penonton, dan karena itu, reality show  selalu berubah jadi sinetron.

 [Artikel di atas telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Mei 2009]