Tangisan Penonton Perempuan

May 19, 2009

Di dunia ketiga, masihkan teve wakil dari mata pria?

Tangisan selalu dimulai dari perempuan. Setidaknya, begitulah yang acap kita lihat di layar televisi. Di acara “Masihkah Kau Mencintaiku???” yang tayang setiap Rabu malam di RCTI misalnya, 15 menit terakhir pasti diwarnai air mata. Bahkan, tangisan penonton perempuan itu seakan menjadi menu, karena ditampilkan secara close-up, dari satu wajah ke wajah penonton yang lain, mulai gerakan menyusut air mata, menutupkan sapu tangan ke wajah, sampai tarikan napas berat menahan sedan.

Tangisan penonton itu sekilas terlihat wajar. Maklum, di 15 menit terakhir, Helmi dan Dian Nitami memang mengondisikan acara  untuk masuk dalam suasana haru melalui peluk dan isakan; narasumber yang bermaafan. Penonton terbawa, air mata tersita. Namun, tangisan penonton perempuan itu juga tumpah untuk acara yang tak dikondisikan berharu-haruan. Di “D-Show” TransTV Senin (4/5) misalnya, acara itu penuh tawa. Julia Perez membuat Desi Ratnasari tergelak, meski dia bercerita tentang ibunya yang menolak Gaston Castanyo. Dialog ibu-anak itu menyegarkan, seperti percakapan mereka di dapur rumah, tanpa basa-basi, apa adanya. Tapi, tawa penonton itu secara cepat berubah jadi tangisan ketika narasumber yang lain, Siska, mengungkapkan juga penolakan ibunya untuk asmara dia dan suaminya. Perpindahan tangis ke tawa ini terasa menakjubkan. Betapa gampang penonton perempuan merasa, terlena….

Bahkan, tangisan semacam itu juga terjadi di acara musik.

Okky Lukman yang berhasil membawa hadiah Rp 100 juta dalam acara “Missing Lyrics” Trans TV, juga memancing tangisan penonton. Okky, memeluk ibunya, jejingkrakan tertawa-tawa. Di sekitar panggung, beberapa menonton menyusut air mata. Ajaib. Di final “Dream Girl” Global TV (13/5) yang mempertemukan trio Topodade dan 3G, penonton bahkan terisak nyaris sepanjang acara. Padahal, di panggung tak ada pertunjukan keharuan ala “Indonesian Idol”, “Idola Cilik”, atau “AFI”. Topodade hanya bernyanyi, sebaik-baiknya. Bukan lagu sedih, terutama ketika bersama Idol Divo mereka menyanyikan “Hitam” milik Andra & The Backbone. Dan penonton, juga Sita RSD yang menjadi juri, tak hanya memberi tepukan, tapi juga tangisan.

Haru. Sesak. Isak.

Air mata.

Bagaimana bisa bertandang?

Kecairan Identitas

Ya. Dari mana datangnya air mata? Mengingat, bahkan acara sejenis “Masihkah Kau Mencintaiku???” saja, menyisakan lobang logika, sehingga amat terlihat yang terjadi di panggung adalah semata rekayasa. Kesedihan di pentas itu, seharusnya, tak akan memancing tangis. Apalagi nyanyian Topodade. Tapi, kritikus Macherey punya jawaban. Dalam bukunya, A Theory of Literary Production, dia mengatakan setiap pembaca, juga penonton, selalu berada di antara representasi dan figurasi. Representasi adalah tujuan yang ingin disampaikan, subjek narasi, niatan. Sedangkan figurasi merupakan pembubuhan di dalam narasi, yang kadang hadir melalui efek pembayangan. Dalam tindak figurasi, pembaca atau penonton melakukan produksi teks atau cerita sendiri. Dengan kata lain, terjadi “pembentukan” teks atau cerita baru di benak penonton yang bisa jadi berbeda dari yang tersaji di atas panggung. Bahasa gampangnya, penonton melakukan pengkhayalan kembali.

Pendapat Macherey di atas didukung oleh Thomas Elsaesser. Dalam Cinema Futures: Cain, Abel or Cable? The Screen Art in the Digital Age, dia menulis bahwa televisi yang visual sangat mendorong efek figural, menghadirkan dunia tiruan, dunia bayangan. Penonton pun tumbuh dan hidup dalam dunia rekaan. Jadi, jika pun ada tangis, air mata itu tumpah bukan karena cerita yang tersaji, melainkan lebih karena proses keterlibatan dalam sebuah “kesedihan yang dibayangkan, direka-ulang”.

Tapi mengapa penonton perempuan? Neil Postman punya jawaban. Sebagaimana yang juga dikutip Wilson Sitorus, dalam Amusing Ourselves to Death, Postman mengatakan televisi merupakan dunia kapitalis laki-laki yang tak ramah kepada masyarakat lain di luar itu. Dan sebagai “wakil” lelaki, televisi sangat digdaya menghadirkan dan memancing figur/cerita khayalan. Penonton perempuan adalah mangsa, korban. Meski pandangan Postman ini mulai diragukan para feminis, terutama oleh Gamman dan Marshment melalui The Female Gaze: Women as Viewrs of Popular Culture, tapi di dunia ketiga, televisi memang masih menjadi wakil pria.

Di Indonesia, pendapat Postman didukung data AGB Nielsen, bahwa penikmat terbesar televisi adalah perempuan. Dan efek figurasi itu makin kuat karena penonton perempuan tadi berasal dari strata sosial dan ekonomi D-E. Artinya, pendidikan penonton perempuan ini sebagian besar maksimal SMP, dengan pengeluaran bulanan tak lebih dari satu juta rupiah, dengan ketidakmampuan memiliki barang mewah seperti kulkas dan penyejuk ruangan. Mereka adalah ibu-ibu dan gadis.

Namun, lebih dari faktor pendidikan dan ekonomi, pembayangan cerita dan keterlibatan penonton tercipta karena proses pembentukan identitas feminin dalam model cerita sinematik. Mengikuti argumen Stacey dalam Star Gazing: Hollywood and Female Spectatorship, figurasi terjadi karena tercipta kecairan sementara (temporary fluidity) di antara identitas penonton dan aktor. Kecairan dan “pertukaran” identitas itu biasanya dipicu faktor kesamaan keinginan, nasib, dan hasrat-hasrat yang secara potensial ingin mereka penuhi. Maka, apa yang terjadi di atas panggung, secara sementara, tercipta juga pada penonton. Kesedihan, tangis, meskipun itu rekayasa pemanggungan, bagi penonton, bukan  hanya sebuah tayangan melainkan menjadi internalisasi diri, dirasakan, dialami….

Penonton perempuan melompat ke dalam cerita, memainkan perannya. Maka wajar, jika kemudian mereka bersimbah air mata.

Klien yang Melayani Penonton

May 6, 2009

Ketika reality show hanya bertugas menghibur penonton, tayangan itu pun berubah menjadi sinetron.

Sambil menatap Siksa, dengan yakin Dedy berkata, “Saya tidak pernah menyesal menikahinya. Saya masih mencintainya….” Mendengar pengakuan itu, penonton bertepuk tangan. Sebagian tersenyum dan –ini di-close up berkali-kali– menyusut air mata. Di sisi kanan panggung, Siska, istri Dedy, menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan pengakuan itu. Ia terisak….

Helmi Yahya kemudian mempertemukan keduanya di panggung.

Dapat ditebak, Dedy dan Siska bersedia kembali untuk berbaikan, melupakan berbagai masalah, menempuh hidup bersama dengan cara yang berbeda. Keduanya berpelukan, bertangisan. Dan kembali kamera beredar ke penonton, yang menyambut adegan itu dengan leleran air mata.

Itulah klimaks acara “Masihkah Kau mencintaiku???” yang tayang di RCTI, Rabu malam (29/4). Reality Show yang dipandu Helmi Yahya dan Dian Nitami itu memberikan berbagai pertanyaan untuk menguji “kelekatan” sebuah pasangan. Siksa dan Dedy misalnya, yang tampil dalam tajuk “Suami Kurang perhatian, Istri Menuntut Cerai”, mendapat pertanyaan yang menguji ingatan mereka tentang ukuran beha, kapan ulangtahun mertua, hari lahir anak, sampai apa yang mereka rasakan setelah 11 tahun menikah. Dari ketakyakinan, juga kesalahan, jawaban itulah konflik kemudian tercipta, ditambah keterlibatan kedua orangtua mereka yang selalu membela anak masing-masing. Bahkan, Ray Sita, yang dihadirkan sebagai konsultan, melihat keterlibatan orangtualah yang menjadi konflik utama Siksa dan Dedy.

Memang, dalam tayangan itu tampak ibu Dedy amat membenci dan menyalahkan Siska. Dalam satu adegan, dia bahkan sampai melompat dari bangkunya dan dengan tangan terkepal menuju ke Siska. “Untung” Helmi berhasil menahan langkahnya. Jika tidak, perkelahian mertua-menantu pasti tak terelakkan.

Tapi, di acara sejenis di TPI, “Curhat Bareng Anjasmara”, perkelahian antarkeluarga tak terelakkan. Perkelahian itu juga yang menjadi iklan utama tayangan itu, dengan memperlihatkan Anjasmara yang emosional, berteriak, seakan putus harapan.

Harus diakui, dan seperti telah menjadi kesepakatan, reality show di televisi memang sarat dengan pertengkaran dan perkelahian.  ”Termehek-mehek”, “Kacau”, sampai “Cinta Pertama”, adalah contoh acara yang mengadopsi jurus itu. Tak ada kreativitas yang berbeda untuk menciptakan klimaks yang bukan berwujud kekerasan. Mereka hanya percaya, klimaks berupa perkelahianlah yang dapat membuat akhir cerita menjadi penuh airmata. “Masihkah Kau Mencintaiku???” memang kembali membuktikan ampuhnya resep standar tersebut. Rabu malam itu, sebagian penonton bahkan membiarkan airmata mereka jatuh begitu saja. Mereka seperti terkesima.
Tanpa Empati

“Masihkah Kau Mencintaiku???” dan “Curhat Bareng Anjasmara”, sebagaimana tayangan reality show  lainnya, adalah “adopsi” dari produk mancanegara. Acara jenis ini telah hadir kurang lebih 5 tahun lalu di berbagai televisi di Amerika, Eropa, bahkan India. Di Amerika misalnya, tersedia “The Jerry Springer Show” yang tayang di NBC. Sedangkan di Inggris, acara sejenis bernama “The Jeremy Kyle Show” tayang di ITV. Bahkan, di India Kiran Deli memandu “Aap Ki Kachehri… Kiran Ke Saath”, show dengan tema yang sama.

Sebagai contekan, seharusnya dua acara di atas mampu tampil lebih baik dari yang mereka adopsi. Kenyataannya, Helmi dan Anjasmara hanya menang dalam membuat keributan. Konklusi yang tercipta pun hadir hanya dari kesepakatan hati, berupa kesediaan memberi dan menerima maaf. Pengakuan bersalah muncul bukan sebagai kesadaran personal tapi keterdesakan dari opini konselor dan teriakan penonton. Ini berbeda dari “The Jeremy Kyle Show” misalnya. Jeremy ttampak tak terlalu pusing dengan respon penonton, dia hadir untuk membuktikan agar seorang “tertuduh” menerima kesalahan sebagai pengakuan pribadi. Dalam satu sesi, Jeremy bahkan menghadirkan bukti DNA, sehingga seorang pria tak lagi dapat membantah untuk mengakui anak yang selama ini dia ingkari.

Pembuktian semacam itu penting untuk menjadi pembeda utama acara ini. Jerry, Jeremy dan Kiran, hadir untuk melayani klien yang punya problem dan mencarikan solusi yang tak terbantahkan, bukan sekadar memaafkan. Sedangkan Helmi dan Anjasmara, juga acara dengan embel-embel reality show lainnya, menghadirkan klien tak lebih hanya untuk melayani penonton. Dan untuk melayani penonton, klien pun harus berlaku sebagai aktor.

Pengaktoran itu tampak sekali dalam “Masihkah Kau Mencintaiku???” Sebagai “pemilik” masalah, Siska dan Dedy tampak rumit mendeskripsikan diri, mereka justru terasing dari problem itu. Bahkan, dalam kategori tertentu, terutama dengan dukungan “aktor” cadangan ibu Dedy, masalah mereka terlihat sebagai naskah yang dihapalkan, skenario yang dimainkan. Gestur ayah Dedy tak bisa menipu. Dia tampak tak cemas dengan kebringasan istrinya, dan hanya bisa berakting dengan mengusapi bahu, untuk menyabarkan. Siska sendiri –duh, memungut dari mana sih,  Hel?– sepanjang acara hanya merengek. Dia tak terlihat menderita dengan permasalahan itu.

Tapi, masalah utama “pengaktoran” justru berada pada Helmi dan Dian Nitami. Helmi masih saja tampil seperti membawakan kuis “Siapa Berani” yang dulu populer di Indosiar, tanpa keterlibatan emosional, tanpa empati. Dia terpaku pada pertanyaan, melempar, selesai. Tak ada penggalian lebih jauh untuk memunculkan endapan-endapan psikologis klien. Helmi bahkan tidak berada di dalam masalah, tidak mengambil posisi untuk terlibat. Barangkali kesadaran bahwa masalah adalah rekaan yang membuat Helmi sudah untuk terlibatkan. Dian Nitami? Ah, setali tiga uang. Dia lebih banyak tertawa, tergelak menikmati “sandiwara”.

Kesadaran hanya untuk melayani penonton juga membuat tayangan ini harus happy ending, berakhir riang gembira, penonton harus bahagia. Perceraian tak akan pernah menjadi solusi. Padahal, dari pemanggungan masalah, sulit diterima nalar hanya dengan 60 menit dikurangi iklan, semua dapat diselesaikan. Penonton di studio dan di rumah bertepuk tangan, terpuaskan dalam tangisan.
Reality show sejenis tayangan itu  pada dasarnya hadir untuk melayani klien, mencarikan solusi terbaik, yang jernih dari infiltrasi kepentingan penonton. Klien hadir di panggung sebagai diri sendiri dan tanpa keinginan untuk memberi inspirasi. Mereka bukan aktor. Tapi di sini, apa pun jenisnya, reality show dihadirkan untuk menjadi hiburan. Klien hanya figuran, yang barangkali diambil dari jalanan, dan dijebloskan ke dalam skenario yang berantakan. Mereka harus menyenangkan penonton, dan karena itu, reality show  selalu berubah jadi sinetron.

 [Artikel di atas telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Mei 2009]

Si Doel dan WC Kita

March 20, 2009

Di dalam tiap keramaian, tempik-sorak, tawa-bahak, selalu ada suara sepi. Dan itulah yang kita saksikan dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang kini tayang ulang di RCTI, setiap pagi. Ada suara Mandra, Atun, dan Mas Karyo, yang selalu ingar. Atau deram Babe yang seakan marah, juga desis Mak Nyak yang tergambar sabar. Tapi, lebih dari semua itu, ada si Doel, pemilik porsi terbesar, yang sunyi.

Kalau bicara, Doel bersuara dengan nada ngambang, mirip gumam. Matanya tak pernah berdiam pada objek, mengalih, lebih sering menerawang. Sinar wajahnya kusam, dengan kening yang selalu berhias kerutan. Bahkan cinta Sarah pun, dia rasakan sebagai beban.

Ia wakil dari suara yang, seakan, kehilangan gairah.

Sinetron itu memang dipenuhi “caci-maki” khas Betawi, pertengkaran segitiga Mandra-Atun-Karyo pun menjadi warna utama. Tapi makna sinema itu justru hadir dalam gelisah senyap Doel. Meminjam kosa kata pantun; pertengkaran adalah sampiran, kesunyian menjadi isi. Meski isi itu, dalam beberapa hal, terlihat anomali.

Doel, tokoh kita itu, memang tak mematok tujuan. Ia bergerak dari saat ke saat, setindak-tindak, laku dalam proses. Dia seperti laku yang diminati kaum “nihilis-aktif”, bergerak tanpa patokan, kreativitas yang lahir dalam suasana.

Tapi, di situlah anomali terjadi. Ketakterpatokan itu terasa dalam gairah yang tidak kentara, atau mungkin tak ada. Berbeda dari kaum nietzschean yang bergerak dalam gairah, menerima nasib dengan rasa cinta, “kusayangi apa yang terberi”, atau menjadi “gila”, Doel justru menepi, merenung, seakan pasti menyerah. Ia lebih seperti ketenangan air danau, yang menutupi gerak arus di bawahnya.

Doel memang tak menampik apa pun yang diberi hidup, tapi keberterimaan itu tidak dengan cinta. Ia menerima dalam keadaan yang seakan, “Apa boleh buat…” Dalam hal ini, dia lebih seperti yang dikatakan Camus dalam Mite Sisifus, “Selalu tiba saatnya kita harus memilih antara renungan dan tindakan. Begitulah hakikatnya menjadi manusia. Kepedihan-kepedihan itu mengerikan. Namun untuk hati yg memiliki kebanggaan, di situ tidak mungkin ada pilihan tengah. Ada tuhan atau waktu, salib atau pedang. Dunia ini mempunyai arti yang lebih tinggi yang melampaui segala hiruk pikuknya atau tidak ada suatu pun yang benar selain hiruk pikuk itu.”

Tapi, suara Doel, getar yang kehilangan gairah, atau ajakan Camus untuk merenung, mendapatkan arti yang melampaui kehirukpikukan itu, kini tak kita temukan lagi. Yang kita dengar saat ini dan lusa adalah “tidak ada suatu pun yang benar selain hiruk-pikuk itu.”

Fitri dan Farel contohnya. Dua tokoh utama dalam sinetron Cinta Fitri itu tak pernah sekalipun “jatuh” menjadi Doel, senyap dalam permenungan, diam yang “apa boleh buat”. Fitri dan Farel, dan juga semua tokoh dalam cerita itu, larut dalam keingaran yang tanpa ujung, untuk mendapatkan sesuatu yang mereka jadikan tujuan. Seluruh kisah bermuara menjadi perlawanan pada “nasib”, dengan mengatakan “Tidak!”

Doel mengatakan “Ya”, afirmatif, meski tidak dengan cinta, dan itu membuat dia tahu potensi dirinya di depan nasib, “Aku ingin….” Berbeda dari Farel dan semua tokoh di Cinta Fitri, yang menidakkan nasib, sehingga tak mampu melihat diri dalam relasi dengan dunia, sehingga berkata, “Kalian harus!”

Energi “Kalian harus!” itulah juga yang mendasari keseluruhan sinetron di televisi saat ini. Karena itu, meski cerita bising oleh kebencian, warna dendam, dan alur ketakmasukakalan, sinema itu tetap saja jalan. Ketakberterimaan pada “nasib” itu juga yang membuat cerita sinetron kini terasa jauh, bukan menjadi bagian dari kisah kita. Sinema itu tak mampu memupus keberjarakan seperti yang pernah dilakukan Kisah Serumpun Bambu, Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara, atau Jendela Rumah Kita.

“Beberapa waktu lalu saya ke Bandung. Kemudian ada seorang bertanya kepada saya. ‘Bang, apakah anak-anak sekolah di Jakarta seperti di film atau sinetron, ya?’ Saya jadi sedih, kita harus punya tanggung jawab atas tontonan yang kita tampilkan,” harap Rano Karno.

Tanggung jawab itu sebenarnya sudah lama diambil alih kesepian dan permenungan, yang kini menjadi “si entah” dalam televisi kita. Yang kalau pun datang, “si entah” itu hadir tak dalam kesebandingan. Sepi itu muncul sebagai ulangan, bukan dauran. Dan di dalam ulangan, tak ada lagi proses, tak terjadi perubahan, Si Doel tak seperti Si Unyil yang bermetamorfosa. Si Doel lebih seperti Oshin yang juga tayang lagi di TVRI, hadir sebagai kenangan, untuk ingatan suatu masa, untuk ikatan sebuah massa. Massa yang bukan menjadi bagian dari penonton teve kini.

Dengan kata lain, meski yang sunyi itu tetap hadir, sebenarnya dia ditampik. Yang diterima adalah kebingaran yang telah menjadi “kebenaran”. Kebenaran, yang cuma sampiran itu,   dibobotkan ke dalam selera penonton, rating, dan iklan. Kebenaran yang seakan berkata, “Tak ada lagi tempat untuk kesepian dan renungan.”

Barangkali, tempat untuk itu masih ada, di WC kita. Sayangnya, tak pernah ada yang betah berlama di sana.

 

[Dalam versi yang lebih pendek dan berbeda, telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 21 Maret 2009]