Anang dan Kemenangan Ingatan

May 19, 2011

Anang, barangkali, sudah disuratkan untuk selalu jadi pemenang. Dan Syahrini terlambat menyadari hal itu, ketika telah terlanjur menabuh genderang ”perang”. Maka, ibarat permainan catur, bidak tak pernah bisa melangkah mundur, Syahrini, terutama manajer dan adiknya Aisyahrani, terus menembakkan amunisi, hanya sebagai tanda, mereka belum menyerah.

Kata menyerah sebenarnya tak terlalu tepat untuk kondisi semacam ini. Perang antarmereka sebenarnya bukan di medan yang mereka kuasai. Anang dan Syahrini, berperang di arena yang dikuasai orang ramai: pemirsa. Di antara pemirsa itu ada penggemar keduanya, yang fanatik, dan yang apatis. Tapi yang paling utama dan menentukan arah perang itu adalah pemirsa yang punya ingatan, tahu kesejarahan duet Anang-Syahrini.

Dan karena itulah, Syahrini tak akan pernah bisa menang.

Dalam ingatan banyak orang, Anang bukanlah sosok yang kini dituduhkan pihak Syahrini. Mantan suami Krisdayanti itu sudah terlalu dalam masuk ke memori banyak orang sebagai lelaki yang humble, tenang, dan matang. Anang tak pernah terlihat emosional, dan selalu menjaga bicara, meski dengan diksi yang terlalu biasa. Ia pria yang sederhana, dan melihat masalah dengan cara yang sederhana, mempersempit konflik, mengusahakan kesepahaman, dan menjadikan diri sebagai tameng untuk orang yang dia sayang.

”Jika Yanti melakukan kesalahan, saya minta maaf. Sebagai suami, sayalah yang pertama-tama bersalah…” itulah ucapannya, ketika KD tersangkut gosip selingkuh dengan Tohpati.

Ketika KD tersangkut narkoba, seperti pengakuan sang diva itu, Anang juga yang ”mengobatinya” di sebuah pesantren di Jawa Timur, diam-diam, tanpa amarah, tanpa menyalahkan. Anang selalu menjadikan dirinya sebagai imam, pemimpin, dan KD adalah makmumnya. Jika makmum menyimpang, bagi Anang, sang imam yang pertama kali mendapat teguran.

Dan ketika KD berkhianat lagi, lagi, Anang memilih cara yang paling elegan, melepaskan ikatan perimaman tersebut, bercerai. Nyaris tanpa kemarahan ke media, bahkan tanpa aduan, apalagi ungkitan tentang jasa dan kesakitannya ”mengurus” dan ”mendivakan” KD.

”Saya dan Anang itu klop, ibarat tumbu ketemu tutup,” bangga KD, dulu.

Sebagai ”tutup”, Anang memang ”bertugas” menyimpan, merahasiakan. Dan jika pun tak mampu menahan, dia dapat bersuara, berkata, dengan isyarat, dengan makna yang bertingkat. Tidak frontal, emosional, apalagi menyerang-garang. Itulah sebabnya, ketika sang tumbu mencampakkan tutup, Anang hanya bersuara, merintih, rasa sakit yang dia bungkus dengan indah, ”Sepatuh Jiwaku Pergi” dan ”Jangan Memilih Aku” atau ”Tanpa Bintang”.

Sikap Anang itu telah membuat penonton berada di pihaknya. Anang seakan menjadi anomali dalam dunia industri, yang populer dengan menyebar sensasi, kadang gosip racauan-racauan kontroversial. Meski kemudian Anang masuk pada jualan ”kemesraan”, tetap saja gaya ”malu-malu” yang menjengkelkan penggemarnya itu, menjadi tali komunikasi paling kuat menjelaskan ”kesederhanaannya”. Justru di titik itu, Syahrini mengendali sebagai sosok yang glamour, acap memberi ”tekanan” pada kemesraan mereka, dan memberikan diksi-diksi penguatan sosok Anang dalam hidupnya.

”Saat ini Mas Anang memang orang yang paling berjasa dalam karier bermusik saya. Tanpa Mas Anang, Syahrini tidak mungkin akan seperti sekarang ini,” akunya, jujur, tulus, spontan.

Lalu Anang-Syahrini yang begitu fenomenal, sampai membuat fans berharap mereka berpacaran dan kemudian kawin, pecah kongsi. Syahrini memilih berkarier sendiri, karena Anang berduet dengan Aurel, dan kemudian Ashanty, yang lalu menempel sebagai kekasih. Dan, sikap Syahrini mulai berubah, setidaknya itulah yang tayang di berbagai infotainmen. Komentarnya mulai pedas, dengan diksi yang penuh sindiran, dan sunggingan senyum, yang dapat dibaca sebagai sikap ketakpuasan, bahkan cibiran. Puncaknya, dengan yakin dia mengatakan posisi yang dia raih selama ini bukan campur tangan orang lain, tapi atas pemberian Tuhan atas kerja kerasnya.

Syahrini mulai menghapus kehadiran Anang. Dia mulai membawa nama Tuhan, bukan untuk mengagungkan Sang Pencipta, tapi sebagai bemper atas argumentasinya untuk ”mengusir” peran Anang. Dan kemudian, terutama lewat adiknya, ”cacat” Anang dia ungkap, dan tak lupa membombastiskan keluguan dirinya. ”Dengan Anang itu proyek ikhlas…” katanya, menyebut ketiadaan bukti hitam-putih kerja sama.

Anang, seperti biasa, selalu mendiamkan hal-hal seperti itu. Dia bicara, seperlunya, santai, ringan, bahkan tertawa-tawa. Lucunya, dia justru merasa bangga pernah bekerja sama dengan Syahrini, seperti dia dulu juga amat bangga pernah hidup sebagai suami bersama KD. Bayangkan! Anang, dengan lugas mengakui, Syahrini telah membantunya meraih popularitas, dan itu sebuah kerja yang luar biasa.

Anang memang lahir untuk jadi pemenang. Bukan karena dia punya banyak strategi, melainkan dia menguasai hati dan ingatan banyak orang. Memori khalayak yang tak pernah dia rusak itulah modal terbesar Anang untuk dengan diam dan senyum, sudah dapat menangkal berbagai tuduhan. Apalagi, Anang terlihat begitu percaya diri, tak risau, atas tuduhan itu. ”Semua kontrak ada, bukti ada…”

Syahrini barangkali tahu Anang tak akan banyak bicara dan membela diri. Sebagai pasangan duet yang bersama nyaris setahun, dia tahu ”kelemahan” Anang itu, yang tak suka pamer diri di luar karya. Maka, Syahrini ingin ”menguasai” media, menginfiltrasi citra Anang dengan cara yang sama, mencipta lagu sebagai manifestasi kesakitan hatinya, ”Kau yang Memilih Aku”. Namun, dia lupa ada Hadi Sunyoto, manager Anang, yang berani bersuara, dan juga ikut menabuh genderang.Hadi, sosok yang Syahrini abaikan ini, sebenarnya adalah personifikasi dari penonton, pengemar, yang punya ingatan, yang mengerti sejarah Syahrini, tahu betul siapa Anang.

Dan di depan penonton dan penggemar yang punya ingatan, Syahrini sulit untuk memenangi perang. Arena yang dia masuki adalah milik orang banyak, memori yang telah sekian lama dibangun Anang, bahkan sebelum Syahrini jadi penyanyi. Tak heran jika dia jadi tergagap-gagap, terus bersuara, hanya untuk meyakinkan media bahwa mereka berani, ada, meski kemenangan dan ”kebenaran” kian jauh dari genggaman. Bidak memang tak mungkin melangkah mundur, meski mungkin hancur…

Epy Tahu dan Menunggu

January 29, 2011

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Epy Kusnandar mengerti benar hal itu.

Ketika kanker otak mendera, wajah sedih memang masih tampak di wajah yang dia hiasi senyum itu, tapi bukan raut yang putus asa. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu mengirim lelucon, yang bahkan seperti mengejek sakitnya. Sakit, bagi lelaki yang acap bermain sinetrom komedi itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan bahasa sederhana, dia mengatakan itu, seperti dikutip ”Insert” Selasa (25/1) lalu. ”Jika saya masih bisa merayakan ulang tahun ke-47 Mei nanti, saya optimis untuk sembuh. Mei itu sudah batas waktu empat bulan vonis dokter,” katanya sembari tertawa. ”Pemirsa, sampai jumpa tanggal 1 Mei ya….”

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal.

”Tidak tahu gimana, tiba-tiba dia sering pusing dan muntah-muntah. Kadang sampai pingsan. Setelah itu baru dibawa ke dokter,” jelas Karina Ranau, istrinya.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan ”menyalahkan” Tuhan.

”Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,” kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

”Ini cobaan Tuhan,” ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.

”Musibah ini barangkali cara Tuhan memanggil saya untuk kembali dekat pada-Nya,” kata Sammy, mantan vokalis Kerispatih, saat tersangkut narkoba.
Tapi Epy, sejauh saya ikuti dalam berbagai berita, tak sekalipun dia mengatakan sakit itu sebagai teguran atau cobaan. Dia meletakkan sakit sebagai fase ”tetirah”, berhenti sebentar, terminal, untuk menemukan arah, tujuan, jalan, yang lebih baik. ”Allah pasti akan beri jalan kalau saya terus berusaha,” yakinnya.

Bahkan, sakit itu dia anggap tantangan. ”Jadi saya akan terus berjuang melawan sakit ini.”

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk ”menemukan dan menumbuhkan” gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik itulah, Epy memberi tekanan. ”Lewat pengobatan alternatif, syukur-syukur bisa sembuh, dan tambah ganteng,” katanya, sembari tertawa.

Dia menerima sakit itu sebagai sesuatu yang ”rahasia”, tak terelakkan, dan dengan demikian, sembuh pun bukan sesuatu yang luar biasa. Rasa syukur dia tujukan bukan pada harapan akan lahirnya kesembuhan, tapi lebih, meski mungkin canda, kemungkinan untuk jadi ganteng. Inilah cara penerimaan yang rileks, bersahabat, sakit adalah bagian dari tubuh, dan dengan demikian, bukan ”indikasi” kehadiaran Tuhan dengan wajah yang marah, menegur, atau memberi cobaan.

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Epy berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Epy, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. ”Umur di tangan yang kuasa. Akhirnya saya bangkit dan tetap berkarya saja, daripada ikutin omongan dokter. Dokter bukan Tuhan, ya sambil nunggu sembuh, saya menulis,” tegasnya.

Epy berobat, dan dia menunggu sembuh. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Epy menunggu, menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Epy, barangkali adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

”Dokter itu bukan Tuhan…” katanya. Epy menyadari, hidup, dan juga usia, bukanlah persoalan matematika, yang bisa dipastikan segera detik dan jamnya. Selalu ada misteri, yang tak terbaca manusia, juga teknologi. Epy percaya pada misteri itu, pada harapan, pada doa, dan juga usaha. Selebihnya, dia cuma menunggu.

Titiek Puspa dan Kupu-kupu

January 20, 2010

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Titiek Puspa tahu itu.

Ketika kanker rahim mendera, wajah sedih tak tampak di rautnya. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu menciptakan 69 lagu. Sakit seperti energi. Sakit, bagi nenek yang awet muda itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan diksi yang indah, dalam jumpa pers di Wisma Puspa, Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/1/2010), dia mengatakan, “…dalam sakit ini pula saya merasa dibangunkan oleh Tuhan.”

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal. “Oo… akhirnya saya kena juga tho? Saya tahu bapak saya kena, saudara saya juga kena dan sudah dipanggil,” ucap Titiek.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan “menyalahkan” Tuhan.

“Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,” kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

“Ini cobaan Tuhan,” ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk “menemukan dan menumbuhkan” gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik inilah diksi Titiek Puspa terasa indah. Dia memakai kata “dibangunkan”, seakan sebelum sakit, ketika sehat, Titiek berada dalam tidur yang panjang. Bangun juga mengindikasikan diri yang bangkit, secara fisik atau batin. “Dibangunkan” juga mengindikasikan keakraban, keintiman hubungan Titiek dan Tuhan. Barangkali juga cinta.

“Dibangunkan” juga penerimaan bahwa Tuhan datang kepada kita bukan dengan wajah yang marah, bukan menegur, atau memberi cobaan.

Sakit diterima Titiek tanpa prasangka bahwa Tuhan tengah marah padanya. Lihat cara dia mengungkapkan ihkwal terkena kanker itu, “Oo.. akhirnya saya kena juga.” Begitu ringan, enteng. “Kena,” seakan sakit kanker itu seringan jerawat, mencret, atau batuk. “Kena”, katanya, seperti menisbankan bahwa sakit itu pasti datang dan tak tak terelakkan karena, “Bapak dan kakak saya juga kena.”

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Titiek berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Titiek, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. “Saya sudah siap dipanggil, kapan saja,” katanya.

Titiek berobat, dan dia tetap siap dipanggil. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Titiek menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Titiek, adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

“Saya merasa dibangunkan…” katanya. Dalam sakit, Titiek merasa dirinya adalah ulat yang tidur dalam kepompong, dan Tuhan membangunkannya sebagai kupu-kupu. Betapa indah dia memaknai kehidupan, dan juga kesepian-kesakitan. Betapa intim cara dia berbahasa dengan Tuhan.

Titiek, aku kagum padamu.

Engkau Saja Dik, Cukuplah!

October 17, 2008

Saya bayangkan, sehabis dibakar siang dan deram kereta yang memekakkan telinga, Aris pulang dengan wajah kecewa. Terbungkuk, dia masuk ke rumah yang masih separuh gubuk. Membuang napas, dia sandarkan gitar di dinding bercat kelabu yang mengelupas satu-satu, lalu dia gapai Mocalist Rasya Fattirullah, anak semata wayangnya, yang merangkak mendekati. Di sudut sana, menyandari panglari, Fany, istrinya, menyambut dengan senyum, lebih mirip setengah tawa.

Sembari memanggu Rasya, dan membelai kepala bocah yang belum ditumbuhi rambut sempurna itu, Aris menatap Fanny dan berkata, “Dik, hari ini kita tak ada lagi uang.”

Saya bayangkan juga, Fanny akan menyambut ucapan itu dengan wajah yang biasa. Tersenyum, lalu bibir yang terbiasa mengucapkan cinta itu berkata, “Bang, jangan bicarakan uang di rumah ini. Karena memang tak pernah ada uang di ruangan ini. Marilah Bang, kita bicarakan Allah. Karena hanya Allah sajalah Bang, Allah saja, yang masih tersisa di rumah tangga ini.”

Saya bayangkan, saya melihat air yang mengalir bening di sisi hidung Aris. Lalu Fany mendekat, menyusut tangis itu dengan telunjukknya, menggarisi pipi Aris dengan runcing hidungnya. Dan Aris merangkul bahu istrinya, mengecup kening, dan berbisik, “Dik, bagiku, di dunia ini engkau saja cukuplah. Cukuplah.”

Saya tak tahu, mengapa membayangkan adegan itu milik Aris dan Fany. Padahal, di layar kaca, dialog itu milik Asrul dan istrinya, dalam sebuah lanskap Para Pencari Tuhan yang selalu terlem di benak saya. Saya membayangkan Aris dan Fany, juga Rizky “The Titans” serta Ratna, barangkali karena mereka, kini, setelah lepas dari masalah uang, justru kehilangan kemesraan, cinta, dan juga Tuhan. Aris, yang selalu berkeringat itu, kini telah tak ada lagi. Fany, yang wajahnya kusam dibintiki jerawat, telah bening terawat. Hidup mereka tak lagi melarat. Aris yang selalu pulang ke rumah bercat pucat, kini telah tinggal di flat. Tapi dia sendirian dalam kemewahan itu, tanpa Fany.

“Sehabis menjuarai Indonesian Idol, cuma seminggu dia bersama kami,” terang Fany.

Aris berubah? Ya. “Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit banget. Dia bilang, ‘Boleh dong hatiku berpaling.’ Enak banget dia ngomong begitu,” geram Fany.

Tak hanya kepada Fany, Aris juga seakan lupa pada Rasya. Itulah yang membuat Fany tak lagi dapat memberi maaf. “Aku sudah menemani dia dari bawah sampai ke atas. Jadi, jika nanti dia sudah kembali ke bawah, aku nggak mau lagi sama dia.”

Uang, memang mengubah orang. “Aku lebih baik bersuami pengamen dengan uang 30 ribu perhari daripada seperti ini.”

Uang, juga membelokkan cinta. “Tiba-tiba datang seorang wanita ke rumah, mengaku sebagai kekasih Aris. Dia menunjukkan bukti-bukti. Aku seperti tersambar petir.”

Uang, dapat menduakan Tuhan. “Sampai sekarang, dia belum syukuran,” kecam Fany. “Saya berharap Aris menjalankan nazarnya untuk syukuran,” tambah Siti Rohaya, ibu Aris.

“Sesuatu yang didapatkan dengan teramat cepat dan gampang, lebih sering membuat orang lupa bersyukur,” kata pemikir Islam, Haidar Bagir.

Aril memang terlalu cepat populer. “Indonesian Idol” melempangkan mimpinya, sebuah jalan yang sedari awal tidak disetujui istrinya untuk dia tempuh. “Fany melarang saya untuk ikut acara ini. Dia takut saya berubah. Tapi di panggung ini, saya berjanji, Aris tidak akan berubah,” teriak Aris, ketika masuk ke-3 besar “Indonesian Idol”. Di bawah panggung, kamera menyorot Fany yang terisak. Mungkin dia menyesal pernah melarang Aris, dan merasa bersalah. Barangkali dia percaya, suaminya tak akan berubah.

Tapi Aris berubah.

Barangkali, dia tak ingin berubah. Tapi, dia juga tak bisa bertahan dengan masa lalunya. Aris, mungkin hanya ingin menyingkirkan kesilaman itu dengan cepat, berpaling, tanpa menoleh lagi. Sayang, Aris lupa, ada Fany di sana, masih berdiri di peta masa lalunya. Masih berharap, silau uang dan gemerincing pujian tak mengubah kecintaannya. Fany hanya ingin, seperti dulu, mereka bisa bahagia, meski tanpa nama dan harta.

“Banyak orang percaya, kalau sukses dan punya uang, kita akan bahagia,” terang Haidar, padahal “kebahagiaan terbesar adalah memberi.”

Kebahagiaan terbesar adalah memberi. Dan memberi mengandung sebuah makna “membagi apa yang telah kita dapatkan”. Aris telah mendapatkan semua yang dia impikan, popularitas dan uang. Tapi, dia menggenggamnya sendirian. Dia lupa, ada hak anak dan istrinya dalam semua yang telah dia raih. Ada doa dan airmata, juga kesepian panjang, yang diserahkan Fany, untuk melempangkan jalannya. Aris adalah contoh tentang popularitas dan uang yang dengan gampang diraih, tapi tidak untuk kebahagiaan. “Kita harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan mau memberi,” tambah Haidar.

Maka, saya bayangkan suatu hari nanti, Aris kembali ke rumah setengah gubuk itu, dengan langkah guyah meski tanpa peluh. Dia ketuk pintu, dia peluk Fany, dan bersimpuh. “Dik, maafkan aku. Untukku di dunia ini, engkau dan Rasya saja, cukuplah.”

Lalu Fany menarikkan Aris agar tak bersimpuh, dan memeluk tubuh yang wangi itu. “Bang, dari dulu, engkau telah cukup bagiku. Jadilah pengamen saja, dan nyanyikanlah lagu cinta. Hanya untukku, hanya untuk Rasya. Masuklah, mari, di rumah ini masih ada Allah, masih banyak cinta….”

Lalu Aris akan tertawa, berpaling memandang kamera. “Cut!” teriak sang sutradara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 18 Oktober 2008]