Surat untuk Aa Gym (2)

January 15, 2011

Aa Gym yang baik, bolehkan saya tahu, bagaimana kabar Teh Ninih hari ini?

Di saat-saat seperti ini, saya ingin sekali mendapat kabar Teh Ninih dari Aa. Bukan, bukan karena saya kehilangan kabar Teh Ninih, melainkan saya ingin sekali melihat nada suara Aa ketika menyebutkan sosok yang sudah saya anggap Mbak dan Ibu saya itu. Saya ingin tahu, apakah Aa masih menyebut nama itu dengan nada cinta dan keberterimakasihan, seperti saat dulu Teteh mendampingi Aa mengumumkan perpoligamian itu, ataukah sudah ambang, karena Aa akhirnya tahu, Teh Ninih mengerti bahwa Aa tak bisa seadil seperti yang Aa janjikan dulu.

Aa, di pengajian di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (11/1) malam itu, untuk pertama kali saya tahu bahwa Aa menganggap perceraian ini hal yang biasa, tak berat, dan sepertinya, konsekuensi yang telah lama Aa sadari akan terjadi. Ya, malam itu Aa meminta jamaah bertanya, dan dibatasi satu pertanyaan. Tapi, penanya ketiga, memberi dua soal, dan Aa lupa mengingat pertanyaannya. Lalu, setengah bercanda, Aa berkata, ”Kelemahan saya, kalau dua, suka lupa yang pertama.”

Aa tersenyum ketika mengatakan itu, dan jamaah ramai tertawa.

Tahu tidak Aa, hati saya sakit mendengar candaan itu. Saya langsung ingat Teh Ninih, Mbak dan ibu saya itu.

Iyya, Aa dapat mengatakan pernyataan itu adalah konteks dari pertanyaan jamaah. Tidak bersangkut-paut dengan istri pertama dan istri kedua, yang memang tak pernah ingin Aa tanggapi. Tapi, secara logika, saya percaya, pernyataan Aa itu adalah ungkapan hati sebagai jawaban atas berbagai prasangka, mengapa Aa ”melepaskan” Teh Ninih. Karena jika hanya menyangkut pertanyaan jamaah, maka yang seharusnya Aa lupakan adalah pertanyaan kedua, bukan pertanyaan pertama. Jadi Aa, jika pernyataan itu murni adalah ungkapan situasional dalam pengajian di atas, maka Aa akan berkata, ”Kelemahan saya, kalau dua pertanyaan, suka lupa yang kedua.”

Dan Aa tidak menyatakan itu. Karena secara nyata, memang itulah yang terjadi, Aa lupa yang pertama.

Aa telah lupa kepada Teh Ninih, ibu yang dari rahimnya telah melahirkan tujuh anak buat Aa.

Masihkan Aa ingat saat dulu dengan didampingi Teh Ninih, mengumumkan alasan poligami? Aa, dengan senyum yang masih sama seperti saat ini, mengatakan bahwa keputusan itu lahir dari keprihatinan karena poligami dianggap sebagai perbuatan tidak benar, sering dicemooh, bahkan diperlakukan tidak sebagaimana mestinya. Istri kedua dianggap sebagai perebut suami orang.

Saat itu, Aa tampaknya ingin mendudukkan posisi poligami, ingin menunjukkan bahwa istri kedua tidak selamanya buruk.

Maaf Aa, dulu, saya tidak terharu dengan penjelasan itu. Dulu, penjelasan itu bagi saya, adalah ”tausiah” terburuk yang pernah Aa sampaikan. Saya sempat berpikir, bahwa Aa ”berlindung” di balik ”penghalalan” poligami untuk memfasilitasi naluriah alamiah Aa, yang mencintai keindahan. Dulu, saya menaruh prasangka pada Aa, dan yakin Aa pasti salah. Maka saya membuat surat untuk Aa, surat yang agak kecewa. Surat yang membuat banyak pengikut dan pengagum Aa ”marah” dan mengecam saya.

Aa tahu tidak. Berbulan setelah menulis surat itu, saya menyesal. Saya merasa salah menilai Aa. Saya mulai percaya, Aa kembali menunjukkan bahwa keteduhan Aa benar-benar dapat tergambarkan dalam perkawinan dua istri tersebut. Saya yang belum apa-apa berdiri sebagai penentang, merasa telah menzalimi Aa, dan mengambil posisi yang salah. Saya melihat ternyata Teh Ninih dan Rini –maaf Aa, saya tak pernah bisa memanggil Teh untuk istri kedua Aa itu sampai sekarang– bisa berdampingan, berbagi suami, dan senyuman: merenda bersama kebahagiaan.

Saya terharu karena Aa benar, tak selamanya istri kedua adalah perebut suami orang. Saya lihat Rini yang pandai membawa dan menahan diri, sebagai madu –tentu lebih manis dari teh– dia tak mengumbar kemanisan, dan acap mendahulukan Teh Ninih daripada dirinya.

Tapi Aa, ketika rasa bersalah saya belum habis, mengapa kini apa yang saya takutkan justru terjadi? Mengapa seluruh ‘’statemen” tentang poligami Aa runtuhkan sendiri? Mengapa lima tahun waktu untuk berpikir sebelum poligami itu, tak menjadi pondasi yang kuat untuk menjaga dua rumah tangga? Mengapa tujuh anak tak juga dapat menahan langkah Aa untuk bertahan dalam sakit dan senang? Mengapa Aa menyalahkan jamaah yang mengkultuskan Aa? Mengapa Aa berkata bahwa Aa adalah manusia biasa? Dan terakhir Aa, mengapa Teh Ninih yang Aa talak? Apakah karena madu memang lebih kuat untuk menjaga stamina? Dan teh hanya membuat gigi menguning tak bagus untuk sebuah senyuman? Mengapa, mengapa, mengapa?

Aa, selama lima tahun sebelum poligami itu, apakah Aa tidak menyadari diri sebagai manusia biasa, tempat alpa dan salah, tempat khilaf dan lemah? Apakah itu bukan ”kesombongan tersembunyi” karena yakin akan mampu adil, bahkan dalam kasih sayang? Dan lalu mencoba?

Di pengajian Masjid Pondok Indah itu Aa juga berkata kepada jamaah agar kuat menghadapi respon negatif dari lingkungan. ”Dihina, dicaci, tidak akan mengurangi kemuliaan seseorang. Ada waktunya sempit, ada waktunya lapang,” kata Aa. Bahkan, Aa berbagai resep jitu, ”Pakai ilmu orang puasa saja. Orang puasa kan biarpun lemas, bisa sabar saja. Sabar karena yakin akan ada adzan magrib. Ya, semua akan ada waktunya. Yang penting tawakal.”

Aa yang baik, saya percaya, seseorang yang benar-benar mulia, tidak akan diogahi, apalagi sampai ”ditinggalkan” pengikutnya. Saya percaya, kemuliaan itu adalah pengusahaan yang terus-menerus, pendakian iman, dalam pikir, dalam zikir, dan terutama, dalam diam. Bukan berseru-seru untuk dimaklumi, dan menangis untuk dimengerti. Saya sangat percaya Aa pasti tahu itu. Kemuliaan bukan sesuatu yang terberi, apalagi yang didapat dari euforia di televisi. Kemuliaan itu Aa-ku adalah perasaan lemah iman terus-menerus, sehingga tak riya, tak merasa kuasa menahan godaan, tak menantang…

Aa, saya setuju sekali dengan Aa untuk meniru orang berpuasa. Karena itulah, sampai kini saya berpuasa terus, melatih sabar, memilih ”lemas”, menahan diri untuk tak berpoligami. Saya percaya, kali ini Aa akan lebih kuat berpuasa lagi, dan mencukupkan diri hanya dengan satu Rini.

Aa yang baik, bolehkah saya tahu, bagaimana kabar Teh Ninih hari ini?

Bicaralah Aa, jangan berdiam diri. Beri kami pengertian, katakanlah alasannya, biar tak lahir praduga, tak lahir prasangka. Biar antara jamaah dan kiainya mendapat predikat yang sama mulia. Karena Aa adalah milik umat, milik jamaah, milik kami, maka berceritalah dan berbagilah kepada kami, bukan hanya untuk seorang Rini.

Aa yang baik, bolehkah saya tahu, bagaimana kabar Teh Ninih hari ini?

Cinta 15 Mei

June 1, 2009

Tidurlah, kekasih. Tidurlah. Pejamkan matamu, ikutkan kantuk yang membujuk. Tujulah seberang impian itu, sehingga kau terlelap dalam senyum.

Duduk di samping pinggulmu, kukagumi lentik bulu matamu yang rebah. Baru kutahu, dalam lelap pun kau bisa begitu indah. Keningmu yang bersih, yang selalu kau tempeli punggung tanganku ketika berpamit, begitu lembut. Maafkan, jika tak dapat kutahan bibir ini untuk menciumnya.

Tapi kekasih, kenapa napasmu mengeras? Adakah ciumanku mengganggumu? Atau impimu sedikit terusik, berjeda? Ahh– lama sekali aku tak melihat sempurna tidurmu. Biasanya, sehabis bercinta, akulah yang tertidur, dan membiarkanmu tersenyum sambil memandangi alisku, yang katamu tebal. Sering, sebelum terlelap, kurasai kau garisi alisku dengan telunjukmu, dan kau selalu ngikik kalau aku terganggu. Tapi kini, melihat alismu yang tipis, dengan keringat halus yang membeningkan garisnya, wajahmu nyaris seperti sketsa, dengan kehalusan arsir yang sempurna. Tuhan barangkali tengah tertawa ketika menciptakanmu. Dan pasti Dia juga tengah bersuka, sehingga menjadikan kau bilah rusukku.

Kekasih, aku tak tahu kamu memimpikan apa, sehingga bibirmu membuka. Ahh–, jika engkau tidak pulas, pastilah bukaan bibir itu kuanggap sebagai tantangan untuk mencium, mencumbumu. Engkau tahu sayang, menciummu adalah menjemput kesegaran, kelembutan alamiah. Kekenyalan yang mendatangkan ricik air di kali bening, hujan tipis berkabut, dan… berahi. Tapi kamu, ahh– kenapa selalu menakaliku tiap kita bercium. Selalu kau tarikkan bibirmu, tersenyum, menikmatiku yang sesaat terbebas dari nikmat. “Aku suka melihatmu seperti haus…” bisikmu, sebelum kulekapkan bibirmu.

Tidurlah kekasih, tidurlah. Malam ini kuwakafkan waktu untuk menjagamu. Akan kumanterai ubun-ubunmu, dengan doa-doa jutaan tahun, agar cinta kita terikat, seperti takdir Adam dan Hawa yang selalu merapat. Akan kurajahi dahimu dengan isim Yusuf, sehingga cahaya cinta Zulaikha menapasimu.

Tidurlah kekasih, tidurlah. Jemputlah impimu, dan ceritakan padaku, nanti. Karena kutahu, dalam mimpimu pun, kita selalu bersatu.

Tidurlah cintaku, bilah rusukku, ibu anak-anakku. Lelaplah….