Yang Menyapa Tuhan Begitu Akrab

May 19, 2011

Malam telah sampai di ujungnya. Di samping ranjang yang reot, lelaki muda, tirus dan kurus, duduk menghadapi bukunya. Beberapa kali matanya memejam, napasnya tampak mengejan, seperti ingin melahirkan. Pena di tangannya digerakkan ke buku tulis itu, tapi ditarikkannya lagi. Setelah membuang napas, tubuhnya membungkuk, menuliskan sesuatu.

15 Juli 1969, Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya.

Tubuhnya menegak. Jemari tangan kirinya bergerak meluruskan rambut ikalnya  yang menjatuhi dahi. Ia menulis lagi.

Aku baru tahu Islam menurut HAMKA, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, menurut Johan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain. Dan terus-terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya.

Bagaimana? Langsung studi dari Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang lain pun akan beranggapan yang kudapat adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa yang kupahami itu adalah islam yang menurut Allah.

Aku harus yakin itu.

Lelaki itu tersenyum, bangkit, bergerak, menjatuhkan dirinya di ranjang.

Di luar, embun telah jatuh.

Di Yogya, hampir semua intelektual muda mengenalnya. Pergaulannya luas, dan dengan satu ciri khas, pertanyaan yang menyentuh wilayah tak terpikirkan, mendobrak tabu. “Ia acap membuat dahi orang lain mengerut. Lebih lagi, apa yang dia persoalkan bagi orang lain adalah sesuatu yang tabu dan telah final,” kenang Mukti Ali dalam pengantar buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib.

Kelebat lelaki itu, Ahmad Wahib, adalah gerak intelektual. Ia penggagas “Lingkaran Diskusi Limited Group”, forum Jumatan di rumah Mukti Ali, kompleks IAIN Sunan Kalijaga, Demangan. Anggota inti forum ini adalah intelektual yang bersinar: Dawam rahardjo, Djohan Effendi, Syuba’ah Asa, Syaifullah Mahyuddin, Djauhari Muslim, Kuntowidjoyo, Syamsuddin Abdullah, Simuh, Rendra, Deliar Noer, sampai Nono Anwar Makarim. Empat yang pertama adalah anggota inti grup itu.

Wahib juga aktivis HMI. Di kelompok mahasiswa islam ini, ia pun menonjol. Kemenonjolan ini, dalam aktivitas dan pemikiran, membuat “kariernya” melesat, memasuki “lingkaran elite” HMI Yogya, dan Jawa Tengah. Djohan Effendi mengenangnya sebagai sosok yang berani berpendirian dan bersikap beda, malah kadang berlawanan dengan sikap umat dan golongan Islam pada umumnya.

“Bagi Wahib, komitmen muslim, pertama-tama dan terutama adalah pada nilai-nilai Islam dan bukan pada organisasi Islam atau pun tokoh Islam tertentu,” kenang Djohan.

Atau dalam kata-kata Wahib, tertanggal 9 Oktober 1969:

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.

Memahami manusia sebagai manusia.

Mengakrabi Tuhan

Ahmad Wahib dilahirkan 9 Nopember 1942 di Sampang, Madura. Lingkungan bergaulnya di masa kanak adalah iklim beragama yang ketat. Ayahnya, Sulaiman, tergolong pemuka agama. Ia sendiri meski tak total, pernah mengecap bangku pesantren.

Namun, keterbukaan ayahnya membuat Wahib bebas memasuki pendidikan umum. Selepas SMA Pamekasan bagian Ilmu Pasti, 1961, ia berangkat ke Yogyakarta. Ia mengambil Fakultas Ilmu Pasti dan Alam (FIPA) UGM. Sayang, meski mengecap sampai tingkat terakhir, ia tak menamatkannya.

Di Yogya, Wahib tinggal di Asrama Mahasiswa Realino, asrama Katolik. Dan dalam pergaulan bersama para Romo dan teman seasrama, ia merasa sangat bahagia. Sampai, “Aku tak yakin, apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka,” tanya dalam buku harian itu.

Di luar HMI, lingkungan pergaulan Wahib sangat luas. Dia akrab dengan AR Baswedan, pendiri partai Arab, Ki Muhammad Tauchid, tokok Taman Siswa, Karkono, mantan anggota PNI, dan dari kalangan muda, Ashadi Siregar, Tahi Simbolon, dan Aini Chalid.

Namun, Baswedan dan Wajiz Anwar yang paling ia akrabi. Di mata Baswedan, ia sosok muda yang mengagumkan. Ia banyak yang tak sepaham dengan pikiran Wahib, tapi ia yakin, pemuda itu sangat jujur dengan pikiran-pikirannya.

Tuhan, bisakah aku menerima hukum-Mu tanpa meragukannya lebih dahulu? Karena itu Tuhan, maklumilah lebih dulu bila aku masih ragu akan kebenaran hukum-hukum-Mu. Jika Engkau tak suka hal itu, berilah aku pengertian-pengertian sehingga keraguan itu hilang….

Tuhan, murkakah Engkau bila aku berbicara dengan hati dan otak yang bebas, hati dan otak sendiri yang telah Engkau berikan kpadaku dengan kemampuan bebasnya sekali?….

Tuhan, aku ingin bertanya pada Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya, Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan yang munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran yang munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan  yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri (9 Juni 1969).

Orang kedua, Wajiz Anwar, adalah dosen filsafat di IAIN Sunan Kalijaga, alumnus Gontor, yang minggat ke Mesir, tapi membelot ke Jerman untuk mendalami filsafat. Sama seperti Wahid, ia juga orang yang sangat getol melempar persoalan yang sangat menggoda pikiran dan mengguncangkan sendi.

Dan karena merasa tak sejalan lagi dengan “kekakuan” di HMI, Wahib pun –bersama Djohan Effendi– menyatakan ke luar, dengan mengeluarkan “Memorandum Pembaharuan dan Kekaderan”. Ia ingin mencari dunia yang lebih memberi arti pada keberbedaan.

Berada di luar HMI, pikiran liar Wahib kian menguar. Ia mengkritisi “sekularisasi” yang dipopulerkan Nurcholis Madjid, mengkritik Mukti Ali, dan kian tajam dalam perenungan-perenungan. Namun, dunia kerja memintanya ke Jakarta. Menjadi reporter Tempo, kuliah di STF Driyarkara, dan aktif berdiskusi di rumah Dawam Rahardjo.

Namun, Tuhan yang acap diajak Wahid berdiskusi, ternyata tak kuat menahan rindu. 31 Maret 1973, tengah malam, ketika ke luar dari kantor Tempo, sebuah sepeda motor menerjangnya. Ia terlempar, dan dalam keadaan tak sadar, kaum gelandanganlah yang membopong tubuh lunglainya ke RS Gatot Subroto. Sayang, lukanya sangat parah, dan dalam perjalanan pemindahan ke RSUP, ia menghembuskan napas terakhir.

“Subuh 1 April 1973, Amidhan, dengan suara terputus menahan tangis mengabarkan kepergiannuya kepada saya. Di sebelahnya, seingat saya, Nurcholis Madjid diam tak mampu bersuara,” kenang Djohan.

Semua sahabat menyesali kepergian Wahid yang terlalu cepat. Tapi Wahid sendiri, mungkin telah lama merindukannya:

Tuhan, aku menghadap padamu bukan hanya di saat-saat aku cinta padamu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang dirimu, di saat-saat aku seolah-olah mau memberontak terhadap kekuasaanmu. Dengan demikian Rabbi, aku berharap cintaku padamu akan pulih kembali...

Begitulah tulis Wahib, dalam 17 buku catatan harian, yang tersusun rapi di kamar sempit, di gang sempit, Kebon Kacang I/12. Catatan harian yang kemudian diterbitkan LP3ES, yang sempat dilarang beredar karena dikhawatirkan telah “menyempal dari akidah Islam”.

Mencontoh Kanjeng Nabi?

October 31, 2008

Pujiono terkekeh, kadang bahkan tergelak-gelak. Di layar Anteve dalam “Telisik” Rabu tengah malam (29/10) itu, lagak dan gestur tubuhnya sangat teaterikal. “Referensi saya tidak main-main, Kanjeng Nabi,” katanya.

Pujiono memang telah jadi sorotan. Dua minggu lalu, dia mengumumkan ke publik telah menikah lagi, untuk kali kedua. Hal yang biasa, terutama untuk mereka yang menyebut diri sebagai kiai. Tapi, Pujiono berbeda. Dengan bangga dia memberitahu kalau “permaisuri” itulah adalah Lutfiana Ulfa, remaja 12 tahun.

Ulfa, cerita Puji sebagaimana banyak “dibenarkan” media, bukan perempuan biasa. Dia cerdas, selalu rangking satu. Meski muda, tapi Ulfa tidak mentah. Puji menilai kedewasaan Ulfa melewati usianya. Bahkan, ketika diangkat menjadi Managing Director PT Silenter, Ulfa unjuk diri, berbahasa Inggris, yang kata beberapa saksi mata, cukup fasih.

Ulfa memang muda, dan faktor itu justru menjadi kriteria utama Puji. Dia ingin mewariskan ilmu mengelola perusahaan itu kepada Ulfa sejak dini. “Mengelola perusahaan itu tidak mudah, tidak ada di sekolah-sekolah. Banyak rahasianya.” Tapi mengapa Ulfa? Puji ternyata tidak percaya produk sekolahan. “Yang sekolahan, yang kuliahan itu, untuk apa? Sudah rusak semua!” geramnya ke kamera Anteve.

Dan satu lagi, Puji punya dasar tarikh, sejarah. Kanjeng Nabi pun menikahi Aisyah dalam usia muda. Dan di mata Puji, itu adalah cara atau metode, sehingga Aisyah menjadi istri yang paling mengerti dan tahu segala hal tentang Nabi. Metode itulah yang Puji ambil untuk membuat Ulfa mengerti sejarah dan rahasia dirinya, juga perusahaannya. Betapa sederhana.

Tapi, penyederhanaan itu justru menyimpan masalah. Puji lupa, ada konteks yang berbeda antara masa hidupnya dan Kanjeng Nabi. Ada beda yang tegas antara syariat Islam dan “syariat” negara. Dan yang utama, Puji tak memiliki otoritas untuk dipercaya dapat berlaku seperti Kanjeng Nabi.

Mengikuti atau mencontoh Muhammad memang telah lama menjadi “wacana” berlindung diri. Aa Gym, ketika menikahi Rini pun, mengambil sejarah nabi sebagai syiyasah. Juga Komar, pelawak yang kemudian jadi politikus. Berpoligami adalah jalan, sarana, mencontoh Nabi, dan karena itu tak dapat disalahkan. Tapi, wacana perlindungan diri itu acap tak mempan karena khalayak percaya nyaris mustahil mengikuti nabi dalam hal berlalu adil, terutama menyangkut hati, menyoal cinta. Nabi, sebagai sosok terpuji pun masih “dikawal” Jibril, dan “dikritik” Allah, terutama ketika sisi manusia Beliau mendominasi. Peristiwa terpisahnya Aisyah dari kafilah, dan pendiaman Nabi karena cemburu, adalah contoh bahwa keadilan, prasangka, cinta, bukanlah hal yang mudah untuk dikelola. Allah pun, melalui Jibril, harus “turun tangan” untuk memperjernih masalah itu, terutama setelah dimunculkan fitnah kepada Aisyah oleh para musuh Nabi.

Dalam “sejarah” dan perlindungan semacam itulah Kanjeng Nabi dapat selalu berbuat adil dan benar, ketika “syahwat dunia” bahkan telah sejak kecil dibedah dan dibuang dari dalam tubuhnya. Dan, kondisi itulah yang tak mungkin dialamai atau diciptakan oleh manusia lain, bahkan yang mencap diri sebagai ulama atau syech sekalipun. “Mencontoh Nabi” dengan demikian hanyalah siasat untuk menambal tingkah profan dengan tarikh sakral. “Mencontoh nabi” adalah metode untuk melepaskan tanggungjawab, dan bukan jalan keimanan.

Apalagi, dalam “mencontoh nabi” itu, yang tampak menonjol adalah aspek “guna bagi diri” dan bukan “fungsi sosial”. Karena itulah, yang dicontoh pun terpragmentasi pada hal-hal yang “menyenangkan” saja. Artinya, pencontohan itu tidak mengikuti seluruh sejarah hidup nabi, hanya mengambil sisi pragmatis, dan melepaskan alasan ideologis dan iman. Padahal, dalam tarikh Nabi, ada Zaid bin Haritsah, yang bisa dijadikan teladan sebagai pecinta dan pecontoh sempurna semua hal yang dilakukan Nabi. Saking begitu cinta dan ingin mengikuti jejak Rasulullah, jika di suatu tempat pernah dia ketahui unta Nabi berjalan melingkar, maka tanpa ragu Zaid akan melingkarkan jalan untanya, menapaktilasi sedetil-detilnya. Tapi Zaid tidak berpoligami. Zaid tahu, bahwa ada hal-hal yang dapat dia ikuti dengan setia, dan ada yang tak mungkin dia ikuti tanpa harus terjatuh dalam dosa, bagi dirinya atau orang lain.

Sayang, semangat semacam Zaid itulah yang tak pernah dijadikan pedoman bagi mereka yang acap menyebut diri ulama atau syech. Pencontohan itu lebih banyak hanya menyangkut tentang poligami dan tentu, sepeti yang dilakukan Pujiono, menikahi gadis belia. Pencontohan yang, semoga saja tidak, menjadikan Islam terbebani oleh perilaku-perilaku syahwati, mengejar kepuasan dan sensasi diri.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 1 November 2008]