Syahrini, Tuhan, dan Kacang

March 24, 2011

Yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu.

Syahrini, barangkali, tengah menegaskan hal itu ketika berkata, ”Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan.” Dia seperti memberi makna bahwa sebagai ”pemberian Tuhan”, anugerah, tentu sukses itu dia dapat dengan jalan yang benar dan halal. Ada proses yang tidak melanggar dari rambu yang dipatok agama. Tak heran juga, seusai kematian ayahnya, Syahrini pun selalu berkata dengan mata yang menerawang, ”Papa selalu mengingatkan aku agar ingat salat, dan menutup aurat.”

Tapi tentu kita juga tahu, Tuhan bekerja bukan dengan cara yang bisa selalu diurutkan dalam logika. Dia memberi, terkadang, lebih sebagai misteri, bukan ”upah” atas kepatuhan kita. Dan karena itu, ”pemberian Tuhan” tidak selalu berbanding lurus dengan ”kesetiaan di jalan-Nya”. Kausalitas, sebab-akibat, pilih kasih, pamrih, adalah pikiran manusia. Dia bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Karena itu, bisa jadi ucapan Syahrini, ”Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan” bukan semata memuliakan Yang di Atas, melainkan dan terutama, untuk mengeliminasi kata sebelumnya, ”bantuan manusia”. Dan kita tahu, kalimat ”bersayap” itu mengarah kepada Anang. Apalagi, dia memberi jelas dengan kalimat sebelumnya, ”Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain.”

Tanpa suport orang lain? Syahrini jelas ”lebay”. Tapi kita dapatlah memaafkan hal itu. Dia tengah berada di posisi puncak, kerap disorot media, dan itu dengan semacam ingatan, ”Kesuksesanmu karena Anang”.

Dulu, sebelum ”bercerai” dari Anang, tak ada bantahan darinya. Sembari bergayut manja, atau melempar senyum, kadang lirikan ”gimana gitu”, dia akan berkata, ”Mas Anang mengubah hidup saya…” atau kalimat pujian dan pengakuan sejenisnya. Tapi kini, ketika ”talak” telah terjadi, Syahrini bergegas menghapus jejak Anang dalam dirinya. Penghapusan itu bahkan tidak cukup dengan dua kalimat negasi di atas, tapi juga dalam bentuk lagu, ”Kau yang Memilih Aku”.

Lagu yang ”menyerang” tentu, meski dengan nada-nada sendu. Dengar liriknya, ”Kau yang telah memilih aku/ kau juga yang sakiti aku/ Kau putar cerita/  sehingga aku yang salah// Kau selalu mempermainkan wanita/ Kau ciptakan lagu cinta/ hingga semua tahu/ kau makhluk sempurna//“.

“Ini kisah nyata, di mana aku lakonnya. Aku yang merasakan feel lagu ini. Aku memang mau curhat lewat lirik yang indah. Lirik yang frontal sebenarnya. Pengalaman hidup secara personal,” kata Syahrini, usai menjadi bintang tamu acara ”Dahsyat” di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (21/3).

”Menghapus” masa lalu, atau rekam jejak seseorang di dalam karier, bukan hal tabu dalam dunia industri. Penghambaan dan kekaguman pada diri sendiri terkadang menjadi titik didih yang tak terkendali. Proses, yang menisbatkan keterlibatan orang lain, kadang disembunyikan, atau tak diakui. Jika pun terucap, lebih sering terasa sebagai basa-basi. ”Aku bisa karena perjuanganku sendiri” dijadikan mantra justru ketika tengah berada di puncak.

Syahrini, dengan ”Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain” berada dalam euforia itu. Dia dalam situasi tertekan, ketika publik ragu, akankah tanpa Anang popularitas yang sama dapat dia genggam? Karena, bertahun sebelumnya, Syahrini bukanlah siapa-siapa. Dia adalah sosok yang dipilih Anang untuk ”memerisai” diri dari luka Krisdayanti. Dia dipilih Anang untuk menambal separuh jiwanya yang telah pergi. Syahrini ”hadir” di saat yang tepat ketika Anang juga ingin menghapus jejak Krisdayanti yang ”tak mampu setia”. Dan kini, Syahrini membalik posisi itu, dia hapus bekas Anang di dalam dirinya karena ”Kau selalu mempermainkan wanita”.

Ya, berbalas pantun, saling sindir, biasa dalam industri musik kita. Ada lagu ”Jandamu” berbalas ”Dudamu”.  Seperti juga ”Pengkhianat Cinta” Maia Estianti yang berbalas ”Kau Tusuk Aku dari Belakang” Dhani.  Jadi, jika Anang membuat ”Jangan Memilih Aku”, bukan hal aneh muncul ”Kau yang Memilih Aku”. Masalahnya, jika Maia, seburuk apa pun hubungannya dengan Dhani, tak pernah menghapus jejak ‘’sang guru”, Syahrini justru berbeda. Dia ”nekad” menghilangkan jejak Anang, meski, tanpa sadar justru mengakui hal itu secara lebih benderang.

Frasa ”bukan karena bantuan manusia” dan ”tanpa support orang lain”, justru dia bantah dengan ”Kau yang telah memilih aku”.  Sebagai yang ”dipilih”, Syahrini bukanlah subjek, melainkan objek. Dan kita tahu, objek selalu melekati subjek baru bisa berfungsi. Dengan kata lain, jika objek sukses, maka kesuksesan itu tentulah sekadar nimbrung, nunut, terikut oleh kerja subjek. Dan objek tak akan mungkin bisa mengklaim ”kerja” atas nama dirinya sendiri.

”Kau yang memilih aku” menjelaskan tentang diri yang tak memiliki hak untuk mengelak, hanya menjalani, menerima. Dan jika Syahrini mengakui bahwa dirinya hanyalah sosok yang dipilih maka secara tegas dia pun ”mengatakan” kesuksesan itu bukanlah kerjanya, meski dapat menjadi bagian dari haknya.

Sayang, dalam euforia untuk menunjukkan diri dapat berarti tanpa orang lain dan akar kesilaman, Syahrini lupa kontradiksi itu. Dia membawa nama Tuhan untuk ”mengemplang kuasa” Anang, karena hanya itu cara terindah yang bisa dia lakukan. Tapi, dalam euforia, terkadang hal kecil dapat memupus ‘’skenario” indah itu. ”Kau yang memilih aku..” adalah pernyataan bahwa aku tak akan berarti tanpa dirimu. Aku tak pernah meminta, tapi kau pilih, kau beri… sebuah situasi yang pedih, kesadaran non-eksis.

Tapi, yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu. Syahrini mencoba menghapus ”cara” dia mendapatkan posisi sekarang. Dan itu benar, karena sebelumnya, sebagai sosok yang ”dipilih”, dia tak tahu cara dan metode itu. Kini ketika dia harus bergerak sendiri, tanpa Anang, wajarlah jika dia hanya dapat pasrah kepada Tuhan.

Kacang bisa mengabaikan kulit tapi kulit tak dapat melupakan kacang. Tapi untuk Syahrini dan Anang, kita jadi rumit menilai mana kulit dan mana si kacang… :D

Komposisi Kau dan Aku

July 28, 2009

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap

[nokturno - sapardi djoko damono]

/1/

sore yang berbeda. kau datang ke pikiranku lewat puisi-puisi sapardi, yang dinyanyikan dua-ibu: tatyana dan reda. hujan di luar. dingin. dan lagu “hujan bulan juni” –kenapa tidak gerimis saja– memberi aksentuasi nyeri pada ujung juli ini, dengan “dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu“. akankah jejakku terhapuskan juga dari halaman hatimu?

/2/

kukenang percakapan kita. di riuh ruang maya, sms panjang, jauh tengah malam. ada yang tiba-tiba tanggal, ingatanku tentang peta yang kita pegang.

“kenapa kita bertemu di separuh jalan?”

kau diam.

kutemani kau melangkah, dalam tawa-tangis, berharap ujung jalan ini tak ada. kita mencoba tak mengingatnya ada. tapi, sungguhkan pikiran bisa dibersihkan dari kenyataan? dan mata dari kepedihan? atau begini barangkali memang hidup harus dijalani. “…dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.”

/3/

barangkali, nasib kita berjalan dalam komposisi sapardi. bukankah pernah kukatakan padamu tentang hatiku yang selembar daun? kau tertawa waktu itu. kini kita tahu, memapasmu di separuh jalan, adalah menikmati kebersaatan yang menjadi abadi. ahh-, jadi ingin kuberikan lagi pada telingamu lagu ini:

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput.
nanti dulu, biarkan aku sejenak
berbaring di sini:
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput.
sesaat adalah abadi, sebelum kausapu
tamanmu setiap pagi
“.

aku akan mencari abadi itu, dalam sesaat. setiap pagi, siang, senja dan malam, seperti yang telah kita lakukan selama ini. jadi, tolong buang sapumu…
/4/

kau mungkin tak akan kudapat.

ya. tak akan kudapat.

aku hanya mengantarmu, sampai ke ujung itu. tapi, aku akan merebutmu, meski “entah kapan kau bisa kutangkap“. yang penting, aku telah melakukannya, dan itu bukan sesuatu yang sia-sia. karena aku tahu, “…cinta kita mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah“.

Ketelanjangan Krisdayanti

July 28, 2009

Dapatkah kita hidup dalam citra, bergubal kebohongan, kamuflase, dan laku sempurna? “Harus!” kata Krisdayanti.

Tapi itu dulu.

Hari-hari ini, istri Anang Hermansyah itu mengakui, bernapas dalam kebohongan bukanlah sebuah kehidupan.

Dalam buku terbarunya, Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret, dia mengungkapkan banyak rahasia; dia tak pernah sempurna. Dadanya yang penuh itu lahir dari pahatan operasi. Pinggang yang langsing dan kulit bersih berseri datang bukan dari sebuah proses yang alami, tersaru obat dan suntikan di sana-sini. Rumah tangganya pun penuh cela. Anang pernah menceraikannya. Dia berkali-kali nyaris terperosok dalam liang perselingkuhan, dan dalam kegamangan, menjadikan sabu-sabu sebagai pegangan.

Apa yang kau cari, Krisdayanti?

Tahukah engkau, keterusterangan itu bukan saja menyakitkanmu, tapi juga banyak orang?

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku tersebut, di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis 16 Juli lalu.

KD juga sadar, ada resiko dalam tiap kejujuran. Dan dia siap. “Keberanian itu baru muncul saat ini. Proses jujur dan ikhlas itu sulit. Inilah saat yang tepat,” ucapnya.

Kita tak tahu, tepat yang dimaksud KD itu dalam konteks apa. Tepat karena dia sudah melewati semua dan dapat berdamai dengan “kejahatan” itu, atau tepat untuk dijual, dikomersilkan. Karena, bagaimanapun, “kejujuran” KD mengandung anomali. Di buku pertama, yang memotret KD secara sempurna, dia percaya kesempurnaan akan menginspirasikan banyak orang. Profesionalitas itu penting bahkan yang utama. Di buku kedua, KD meyakini, masalah dia yang selama ini tersembunyi dapat menjadi inspirasi, memberi energi bagi orang lain. Di sini, kebohongan dan kejujuran mendapatkan tempat yang sama.

Anomali kedua, “kejujuran itu” dinyatakan secara provokatif dan promotif. Provokatif karena, “KD cerita komplet soal cintanya dengan Anang. Soal seks di mobil, stoking jaring-jaring yang khusus dia pakai untuk Anang,” terang Alberthiene Endah, penulis buku itu. Ditambah dengan, “KD bercerita betapa hangat dan liarnya percintaan mereka.” Promotif karena, “Buku ini berbeda. Semua cerita yang ada di sini tidak pernah saya ceritakan kepada media mana pun,” terang KD. Dan, “KD tidak pernah mau menangis di depan orang. Dia ingin melihat semua orang tersenyum. Itulah KD,” tambah Alberthiene.

Anomali ketiga, “kejujuran” itu pun masih memiliki rahasia. “Mengenai isu perselingkuhan, itu menyangkut nama orang, keluarga, maupun instansi yang tidak tepat untuk dibicarakan. Saya memutuskan untuk tidak menulis karena nanti itu akan menjadi sebuah prejudice,” ucap KD.

Anomali keempat, buku itu masih tampil dalam bentuk KD yang sempurna. Di dalamnya masih berisi foto-foto yang terkonsep dengan baik, dan memamerkan tubuh yang menyimpan banyak kebohongan itu. Porsi KD yang apa adanya, yang ikhlas itu, yang kini, dia akui, telah dia dapatkan, justru terasa tak ada. Sekilas, KD lebih terlihat bangga dengan hasil dari “ketidakjujurannya” selama ini.

Bagaimana kita membaca penelanjangan diri itu? Benarkah ini hanya “pengakuan” dosa saja, dan bukan pertobatan?

Dari Arswendo kita dapat mencari jawaban. Dalam novelnya, Blakanis, pengarang itu membicarakan kejujuran dalam konteks yang berbeda. Kejujuran yang tak memiliki banyak sisi, apalagi menyimpan rahasia. Kejujuran itu bukan saja membebaskan diri dari prasangka diri, tapi juga prasangka orang lain. Kejujuran pun bukan terletak pada pengakuan dosa, salah, khilaf, kepada orang lain, apalagi dikomersialkan, melainkan dalam laku. Jujur dalam laku tidak meminta tepuk tangan, anggukan, persetujuan, bahkan jepetan kamera. Tapi, “…Melakukan kejujuran, istilahnya hidup blaka,” kata Ki Blaka, tokoh utama novel itu.

Dan sampailah kita pada kesimpulan Ki Blaka, bahwa kejujuran punya musuh. “Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. baik pura-pura jujur, atau pura-pura bohong.”

Kita, meski menemukan banyak anomali dari “kejujuran” Krisdayanti, tentu saja lebih baik tidak menduga bahwa dia tengah berpura-pura. KD, barangkali, hanya tengah mencoba menjual dirinya yang berbeda, yang tidak pernah dia ungkap ke media. Itu saja.

Dan, saya sendiri, entah mengapa, jadi ingat Manohara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 26 Juli 2009]

Cinta 15 Mei

June 1, 2009

Tidurlah, kekasih. Tidurlah. Pejamkan matamu, ikutkan kantuk yang membujuk. Tujulah seberang impian itu, sehingga kau terlelap dalam senyum.

Duduk di samping pinggulmu, kukagumi lentik bulu matamu yang rebah. Baru kutahu, dalam lelap pun kau bisa begitu indah. Keningmu yang bersih, yang selalu kau tempeli punggung tanganku ketika berpamit, begitu lembut. Maafkan, jika tak dapat kutahan bibir ini untuk menciumnya.

Tapi kekasih, kenapa napasmu mengeras? Adakah ciumanku mengganggumu? Atau impimu sedikit terusik, berjeda? Ahh– lama sekali aku tak melihat sempurna tidurmu. Biasanya, sehabis bercinta, akulah yang tertidur, dan membiarkanmu tersenyum sambil memandangi alisku, yang katamu tebal. Sering, sebelum terlelap, kurasai kau garisi alisku dengan telunjukmu, dan kau selalu ngikik kalau aku terganggu. Tapi kini, melihat alismu yang tipis, dengan keringat halus yang membeningkan garisnya, wajahmu nyaris seperti sketsa, dengan kehalusan arsir yang sempurna. Tuhan barangkali tengah tertawa ketika menciptakanmu. Dan pasti Dia juga tengah bersuka, sehingga menjadikan kau bilah rusukku.

Kekasih, aku tak tahu kamu memimpikan apa, sehingga bibirmu membuka. Ahh–, jika engkau tidak pulas, pastilah bukaan bibir itu kuanggap sebagai tantangan untuk mencium, mencumbumu. Engkau tahu sayang, menciummu adalah menjemput kesegaran, kelembutan alamiah. Kekenyalan yang mendatangkan ricik air di kali bening, hujan tipis berkabut, dan… berahi. Tapi kamu, ahh– kenapa selalu menakaliku tiap kita bercium. Selalu kau tarikkan bibirmu, tersenyum, menikmatiku yang sesaat terbebas dari nikmat. “Aku suka melihatmu seperti haus…” bisikmu, sebelum kulekapkan bibirmu.

Tidurlah kekasih, tidurlah. Malam ini kuwakafkan waktu untuk menjagamu. Akan kumanterai ubun-ubunmu, dengan doa-doa jutaan tahun, agar cinta kita terikat, seperti takdir Adam dan Hawa yang selalu merapat. Akan kurajahi dahimu dengan isim Yusuf, sehingga cahaya cinta Zulaikha menapasimu.

Tidurlah kekasih, tidurlah. Jemputlah impimu, dan ceritakan padaku, nanti. Karena kutahu, dalam mimpimu pun, kita selalu bersatu.

Tidurlah cintaku, bilah rusukku, ibu anak-anakku. Lelaplah….

Praduga Kehilangan Drama

May 14, 2009

 

Pernikahan selalu dimulai dengan campur tangan Tuhan. Keyakinan itu diucapkan Adjie Massaid. Dan dia tak sendiri. Angelina Sondakh, istrinya, juga mengaminkan pernyataan itu. Dan kita tahu, campur tangan Yang Esa itu, maksud Adjie, tidak hanya dalam mendekatkan jiwa, tapi juga memilihkan hati mereka untuk berada dalam iman yang sama.

Campur tangan Tuhan itu juga yang membuat Adjie dan Angie tak begitu bernafsu mewartakan pernikahan mereka. Karena setiap warta yang tersiar saat ini, sebahagia apa pun, tak selalu disambut dengan kegembiraan yang sama. Di ujung kamera, dalam gelak tawa, yang tetap diumbar adalah segala cela, juga beda. Apalagi menyangkut agama. Pernikahan Adjie-Angie berada dalam fokus itu, ketika iman, agama, bukan lagi menjadi pilihan dan konsumsi pribadi, melainkan makanan massa.

Adjie mengerti. Ia pun mengelak.

“Soal itu, biarkanlah menjadi hubungan kami dengan yang Maha Kuasa,” ucapnya. “Intinya, kami menikah secara Islam.”

Tapi, bahasa yang halus itu, manalah dimengerti televisi. Terlalu lembut, tanpa bombasme. Penonton tidak diberi keterkejutan, tak mendapat drama. Spekulasi pun dicari. Bukan dalam bentuk bukti, tapi ribuan tanya. Benarkah Angie telah memeluk Islam? Bukankah soal agama itu yang selama ini menjadi penghalang? Siapa yang mengislamkan dia? Apakah masuk Islam hanya untuk dapat menikah? Bagaimana dengan restu orangtua Angie? Benarkah ketiadaan perayaan itu karena kehampaan restu? Mungkinkah Angie melawan orangtuanya? Durhaka?

Tak ada jawaban. Angie tak mau memberi penegasan. Semua dia serahkan pada Adjie, mewakili dirinya. Adjie kembali dengan halus berkata, “Semua sudah selesai dengan baik, damai. Saya sebagai imam keluarga harus bertanggung jawab untuk semuanya…”

Tapi tidak bisa? Apanya yang baik? Bukankah ayah Angie mengaku tidak diberitahu soal pernikahan itu jauh hari? Dan terpaksa merestui? Juga mengapa harus menikah secara sembunyi-sembunyi? Jika memang hari bahagia, mengapa tidak dikabarkan kepada rekan-rekannya? Pasti ada sesuatu? Pasti ada yang disembunyikan!

“Saya senang teman-teman masih menaruh perhatian. Tapi biarkanlah ini menjadi kebahagiaan kami saja,” kata Adjie sembari tersenyum.

Huh! Tidak bisa, dong? Cari Reza? Iya, Reza Artamevia, mantan istri Adjie itu. Tanyain dia, apakah Adjie memberi tahu soal pernikahan itu.

“Wah, saya tidak tahu. Mas Adjie sering menelpon, bercerita soal anak-anak, tapi tidak pernah membicarakan soal itu,” jelas Reza.

Nah, Reza saja tidak tahu. Padahal, ada dua anak mereka yang akan menjadi asuhan Angie, Zahwa dan Aaliyah. Pasti Reza akan merasa tersakiti, merasa dilangkahi.

“Tapi saya berbahagia kok. Itu pilihan yang terbaik untuk Mas Adjie. Saya tahu Angie sosok yang tepat untuk anak-anak saya. Apalagi sudah seiman, ya? Semoga apa yang mereka cita-citakan tercapai…”

Lho? Bagaimana ini? Masa tidak ada gregetnya? Nah, ingat deh! Cari Bella Shapira. Iya, itu mantan kekasih Adjie. Meski sudah puluhan tahun lalu, pasti dia bisa memberi komentar. Apalagi, Bella kan dulunya seagama dengan Angie?

“Aku nggak tahu, ya? Namanya juga menikah diam-diam, jadi ya tidak tahu.”

Nah, ada peluang nih? Tentu Bella merasa ada yang aneh atau disembunyikan dari pernikahan diam-diam itu. 

“Hahaha… aku akan mengikuti jejak kalian. Aku jadi terinspirasi. Irit. Lebih baik diam-diam, tidak boros,” tambah Bella.

Duh! Habis deh! Oh tidak. Ternyata, pernikahan 29 April 2009 itu hanya pengesahan. Sebelumnya, mereka berdua ternyata telah menikah sirri, September 2008. Artinya, telah hampir setahun mereka menyembunyikan perkawinan itu, juga keislaman Angie. Cari Habib Abdurrachman Assegaf. Mintai konfirmasi, kapan Angie memeluk Islam.

“Angie itu sudah belajar ngaji dari dulu. Gurunya banyak. Nah, dia termasuk yang masuk islam karena hidayah, bukan karena ingin kawin. Dia mengikuti orang yang dia cintai…”

Payah! Mengapa tak ada yang berkomentar pedas. Masa hanya kita-kita presenter “Insert”, “Selebrita” dan “Kasak-Kusuk” saja yang berprasangka dan memaksakan drama? Ayo cari alasan pengesahan perkawinan itu. Olala, terjawab sudah. Angie ternyata hamil. Sudah hamil 4 bulan. Jadi, pernikahan itu untuk membuat kehamilan tadi menjadi wajar. Ayo, cari Komar. Dia pasti punya komentar.

“Iya, sudah ada hasilnya. Mas Adjie sudah akan jadi ayah dengan tiga anak.  Ya sudah menikah setahun lalu, ya wajar dong hamil. Wong ada suaminya, hahahaha….”

Nyerah deh! Angie, please deh ah, ngomong dong?

“Itulah mengapa selama ini saya agak enggan. Bukannya nggak mau, tapi saya tahu teman-teman pasti membidik hal agama itu sebagai meteri yang menarik. Kasihan orang tua saya.”

Lho, berarti benar dong belum dapat restu dari orangtua?

“Orang tua saya tak memasalahkan soal keputusan saya untuk memeluk agama yang dianut Mas Adjie. Tapi, berita yang mem-blow-up itu membuat Papa kurang senang.”

Jadi? “Biarkah soal keimanan kami ini menjadi urusan kami dengan Yang di Atas, menjadi pembicaraan kami pribadi saja…” tutup Adjie.

Puas, puas, puas??! 

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 16 Mei 2009]

Klien yang Melayani Penonton

May 6, 2009

Ketika reality show hanya bertugas menghibur penonton, tayangan itu pun berubah menjadi sinetron.

Sambil menatap Siksa, dengan yakin Dedy berkata, “Saya tidak pernah menyesal menikahinya. Saya masih mencintainya….” Mendengar pengakuan itu, penonton bertepuk tangan. Sebagian tersenyum dan –ini di-close up berkali-kali– menyusut air mata. Di sisi kanan panggung, Siska, istri Dedy, menggelengkan kepala, seolah tak percaya dengan pengakuan itu. Ia terisak….

Helmi Yahya kemudian mempertemukan keduanya di panggung.

Dapat ditebak, Dedy dan Siska bersedia kembali untuk berbaikan, melupakan berbagai masalah, menempuh hidup bersama dengan cara yang berbeda. Keduanya berpelukan, bertangisan. Dan kembali kamera beredar ke penonton, yang menyambut adegan itu dengan leleran air mata.

Itulah klimaks acara “Masihkah Kau mencintaiku???” yang tayang di RCTI, Rabu malam (29/4). Reality Show yang dipandu Helmi Yahya dan Dian Nitami itu memberikan berbagai pertanyaan untuk menguji “kelekatan” sebuah pasangan. Siksa dan Dedy misalnya, yang tampil dalam tajuk “Suami Kurang perhatian, Istri Menuntut Cerai”, mendapat pertanyaan yang menguji ingatan mereka tentang ukuran beha, kapan ulangtahun mertua, hari lahir anak, sampai apa yang mereka rasakan setelah 11 tahun menikah. Dari ketakyakinan, juga kesalahan, jawaban itulah konflik kemudian tercipta, ditambah keterlibatan kedua orangtua mereka yang selalu membela anak masing-masing. Bahkan, Ray Sita, yang dihadirkan sebagai konsultan, melihat keterlibatan orangtualah yang menjadi konflik utama Siksa dan Dedy.

Memang, dalam tayangan itu tampak ibu Dedy amat membenci dan menyalahkan Siska. Dalam satu adegan, dia bahkan sampai melompat dari bangkunya dan dengan tangan terkepal menuju ke Siska. “Untung” Helmi berhasil menahan langkahnya. Jika tidak, perkelahian mertua-menantu pasti tak terelakkan.

Tapi, di acara sejenis di TPI, “Curhat Bareng Anjasmara”, perkelahian antarkeluarga tak terelakkan. Perkelahian itu juga yang menjadi iklan utama tayangan itu, dengan memperlihatkan Anjasmara yang emosional, berteriak, seakan putus harapan.

Harus diakui, dan seperti telah menjadi kesepakatan, reality show di televisi memang sarat dengan pertengkaran dan perkelahian.  ”Termehek-mehek”, “Kacau”, sampai “Cinta Pertama”, adalah contoh acara yang mengadopsi jurus itu. Tak ada kreativitas yang berbeda untuk menciptakan klimaks yang bukan berwujud kekerasan. Mereka hanya percaya, klimaks berupa perkelahianlah yang dapat membuat akhir cerita menjadi penuh airmata. “Masihkah Kau Mencintaiku???” memang kembali membuktikan ampuhnya resep standar tersebut. Rabu malam itu, sebagian penonton bahkan membiarkan airmata mereka jatuh begitu saja. Mereka seperti terkesima.
Tanpa Empati

“Masihkah Kau Mencintaiku???” dan “Curhat Bareng Anjasmara”, sebagaimana tayangan reality show  lainnya, adalah “adopsi” dari produk mancanegara. Acara jenis ini telah hadir kurang lebih 5 tahun lalu di berbagai televisi di Amerika, Eropa, bahkan India. Di Amerika misalnya, tersedia “The Jerry Springer Show” yang tayang di NBC. Sedangkan di Inggris, acara sejenis bernama “The Jeremy Kyle Show” tayang di ITV. Bahkan, di India Kiran Deli memandu “Aap Ki Kachehri… Kiran Ke Saath”, show dengan tema yang sama.

Sebagai contekan, seharusnya dua acara di atas mampu tampil lebih baik dari yang mereka adopsi. Kenyataannya, Helmi dan Anjasmara hanya menang dalam membuat keributan. Konklusi yang tercipta pun hadir hanya dari kesepakatan hati, berupa kesediaan memberi dan menerima maaf. Pengakuan bersalah muncul bukan sebagai kesadaran personal tapi keterdesakan dari opini konselor dan teriakan penonton. Ini berbeda dari “The Jeremy Kyle Show” misalnya. Jeremy ttampak tak terlalu pusing dengan respon penonton, dia hadir untuk membuktikan agar seorang “tertuduh” menerima kesalahan sebagai pengakuan pribadi. Dalam satu sesi, Jeremy bahkan menghadirkan bukti DNA, sehingga seorang pria tak lagi dapat membantah untuk mengakui anak yang selama ini dia ingkari.

Pembuktian semacam itu penting untuk menjadi pembeda utama acara ini. Jerry, Jeremy dan Kiran, hadir untuk melayani klien yang punya problem dan mencarikan solusi yang tak terbantahkan, bukan sekadar memaafkan. Sedangkan Helmi dan Anjasmara, juga acara dengan embel-embel reality show lainnya, menghadirkan klien tak lebih hanya untuk melayani penonton. Dan untuk melayani penonton, klien pun harus berlaku sebagai aktor.

Pengaktoran itu tampak sekali dalam “Masihkah Kau Mencintaiku???” Sebagai “pemilik” masalah, Siska dan Dedy tampak rumit mendeskripsikan diri, mereka justru terasing dari problem itu. Bahkan, dalam kategori tertentu, terutama dengan dukungan “aktor” cadangan ibu Dedy, masalah mereka terlihat sebagai naskah yang dihapalkan, skenario yang dimainkan. Gestur ayah Dedy tak bisa menipu. Dia tampak tak cemas dengan kebringasan istrinya, dan hanya bisa berakting dengan mengusapi bahu, untuk menyabarkan. Siska sendiri –duh, memungut dari mana sih,  Hel?– sepanjang acara hanya merengek. Dia tak terlihat menderita dengan permasalahan itu.

Tapi, masalah utama “pengaktoran” justru berada pada Helmi dan Dian Nitami. Helmi masih saja tampil seperti membawakan kuis “Siapa Berani” yang dulu populer di Indosiar, tanpa keterlibatan emosional, tanpa empati. Dia terpaku pada pertanyaan, melempar, selesai. Tak ada penggalian lebih jauh untuk memunculkan endapan-endapan psikologis klien. Helmi bahkan tidak berada di dalam masalah, tidak mengambil posisi untuk terlibat. Barangkali kesadaran bahwa masalah adalah rekaan yang membuat Helmi sudah untuk terlibatkan. Dian Nitami? Ah, setali tiga uang. Dia lebih banyak tertawa, tergelak menikmati “sandiwara”.

Kesadaran hanya untuk melayani penonton juga membuat tayangan ini harus happy ending, berakhir riang gembira, penonton harus bahagia. Perceraian tak akan pernah menjadi solusi. Padahal, dari pemanggungan masalah, sulit diterima nalar hanya dengan 60 menit dikurangi iklan, semua dapat diselesaikan. Penonton di studio dan di rumah bertepuk tangan, terpuaskan dalam tangisan.
Reality show sejenis tayangan itu  pada dasarnya hadir untuk melayani klien, mencarikan solusi terbaik, yang jernih dari infiltrasi kepentingan penonton. Klien hadir di panggung sebagai diri sendiri dan tanpa keinginan untuk memberi inspirasi. Mereka bukan aktor. Tapi di sini, apa pun jenisnya, reality show dihadirkan untuk menjadi hiburan. Klien hanya figuran, yang barangkali diambil dari jalanan, dan dijebloskan ke dalam skenario yang berantakan. Mereka harus menyenangkan penonton, dan karena itu, reality show  selalu berubah jadi sinetron.

 [Artikel di atas telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Mei 2009]

Penyelamat dari Masa Lalu

April 21, 2009

Dewi Yull seperti tak berubah. Tampil di “Dorce Show”, senyumnya masih sama seperti empat tahun yang lalu, ketika dia ramai diberitakan infotainmen karena dicerai Ray Sahetapy, lembut dan tampak sabar. Ketika Dorce menyinggung tentang dirinya, Dewi pun tak berubah, menjelaskan anak-anaknya, dan hubungan mereka yang tetap baik dengan ayahnya.

Saya ingat, betapa bijak dia menerjemahkan perceraian itu. “Bisa saja hidup kita itu berubah dalam lima menit. Suami, anak, itu semua milik Allah. Manusia tak bisa mengklaim memiliki manusia lain.” Dengan tersenyum, meski tak mampu menutupi matanya yang terlihat kehilangan gairah, dia menambahkan bahwa, “Rumah tanggaku dengan Bang Ray hanya berubah format saja. Tak ada yang luar biasa.”

Tapi kemudian kita tahu, tak hanya rumah tangga, format hidup Dewi pun berubah. Setelah perceraian itu, kariernya yang sudah muram pun kian redup. Rumahnya yang luas dan asri, terpaksa dia jual, untuk menutupi hutang yang, kata sebagian orang, diciptakan Ray ketika membiayai kegiatan teaternya. Tak hanya itu, Dewi juga berkali-kali masuk teve, dengan kabar yang sebelumnya tak pernah penonton bayangkan, tersangkut kasus penipuan atas sejumlah cek kosong yang tak bisa dicairkan untuk membayar utang.

Dewi bahkan pernah dikabarkan bunuh diri.

Seakan tak cukup, Gisca, sosok yang dijadikan Dewi sebagai contoh untuk menjalani hidup, justru mengikuti jejaknya, juga bercerai. Baru kali itulah, Dewi tampak di kamera dengan diri yang seakan tak terjaga. Tak hanya senyum yang hilang, Dewi pun pasti merasa seperti diingatkan dengan ucapannya bahwa, “Tak ada rumah tangga tanpa rintihan. Semua rumah tangga selalu memiliki rintihan.” Dewi tak pernah menyangka, rintihan itu juga ada di dalam rumah tangga anaknya, dan berakhir dengan jeritan perceraian. Benarlah, “Manusia tak bisa mengklaim memiliki manusia lain.”

Tapi di “Dorce Show”, kesedihan itu tak tampak lagi. Dewi tertawa lepas, tergelak. Hanya ketika menyanyikan lagu “Siapa yang Dusta”, wajah sendunya kembali, sebagai bagian dari penjiwaan. “…semua keputusanmu kuhormati, walaupun akhirnya kita berpisah…

“Jadi Dewi, sebenarnya, siapa yang berdusta?” tanya Dorce sembari tersenyum.

Dewi Yull tertawa. “Sudahlah, Bunda…”

Dewi Yull tentu tahu siapa yang berdusta. Dia cuma tak ingin menjawab. Agaknya Dewi percaya, hanya dengan lupa, apa yang telah menimpanya, meski tak menyembuhkan, terasa tak lagi menimbulkan trauma.

Masalahnya, lupa tidak bekerja seperti yang acap kita inginkan. Lupa seakan punya mekanismenya sendiri. Dan setiap jejak kehidupan lebih sering mengajak kita mengingat daripada melupakan. Dengan kata lain, meski dapat diabaikan, masa lalu tak pernah lelah terus mengejar. Barangkali, itu jugalah sebabnya, Walter Benjamin mengakui tentang waktu –dan masa lalu– yang tak bisa ditampik. Penampikan masa lalu hanya mungkin jika dimampatkan dalam satu konstelasi dengan masa kini. Kemampatan dalam masa kini itulah yang membuat kelampauan –dan luka–  berhenti, bahkan hancur. Benjamin mengistilahkannya sebagai “dialektika dalam keadaan berhenti”, lahirnya makna baru di kekinian yang tercipta dari gubalan dengan kelampauan.

Dewi paham itu. “Sudahlah, Bunda…” dengan demikian lebih dapat dimaknai sebagai penolakan Dewi untuk “kembali” ke peristiwa itu, dan bukan situasi yang telah terbebas dari luka. Karena luka memang dibutuhkan untuk menjembut kebahagiaan. Luka adalah harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkan kenikmatan hidup, atau mengikuti kembali istilah Benjamin, “penyelamatan dari masa lalu”. Dan Dewi memang masih menjadikan luka itu sebagai titik berangkatnya, meraih hal yang baru. “Sepertinya, lagu ciptaan Bunda tadi tepat sekali, hahaha….” gelaknya di lain saat.

Tapi, lebih dari mencari kebahagiaan, penolakan Dewi untuk “kembali” agaknya lebih didasarkan pada tanggungjawab. Ada anak-anak yang harus dia selamatkan. Ada Gisca dan Panji, dua buah hatinya yang memaksanya harus tegar dan kuat, dan “berdialektika dalam keadaan berhenti”. Karena itulah, dalam berbagai kesempatan Dewi mengakui apa yang dia alami tak ada nilainya jika dibandingkan dengan Gisca, yang memiliki “luka” lebih banyak dari dia.

“Saya hanya melihat agar memberi amanat untuk hidup saya dan anak-anak. Ternyata karunia Allah begitu berarti buat saya. Saya bersyukur punya anak seperti Gisca. Saya belajar banyak dari dia. Dia menjadi motivator untuk hidup saya.”

Tapi, di ujung acara itu, Dewi sedikit terisak ketika Dorce mengakui betapa banyak yang sangat menyukai suara lembut Dewi. Dengan bergetar, dia berkata akan terus bernyanyi untuk penggemarnya, dan terutama untuk dua anaknya, Gisca dan Panji, meski, “Sampai kini, mereka berdua belum pernah mendengar suara saya….”  Agaknya, itulah luka –sekaligus energi terakbar– yang membuat Dewi “terselamatkan”, berkali-kali.

 

[Dalam versi yang lebih ringkas, telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 18 April 2009]

Gugun dan Kekejaman Media

April 3, 2009

Diiringi petikan gitar Tito Soemarsono, dengan lirih, Gugun  bernyanyi, “Kupersembahkan lagu ini. Sebagai tanda cinta kasihku. Padamu setulus hati ini untukmu… Kau permata hati….

Di sisi kiri Gugun, Anna Marrisa, istrinya, mengejapkan mata, berkali-kali. Tangan kanannya terus sibuk mengusapi pundak Gugun. Dan ketika lagu itu sampai di bagian tengah, airmata Anna pun tumpah. Dia peluk Gugun, dia ikuti larik-larik lagu itu, dia biarkan pipinya basah….

Saya tahu, pikiran Anna tidak sepenuhnya berada di situ.

Berkali-kali dia terlihat menengadah, bukan saja menahan airmata yang akan tumpah, melainkan juga mencoba mengais kenangan lama, yang selalu hadir ketika lagu itu dinyanyikan. Di talkshow  ”Just Alvin” itu, Anna terpenjara antara kenangan dan kenyataan.

Juga harapan.

Dan gelora cinta.

Tapi tangis itu, saya kira, setengahnya juga berisi rasa nyeri; kepedihan harus merawat cinta di tengah masyarakat yang mengimami gosip, dan menjadikan prasangka sebagai agama. Kesakitan ketika dia harus membuka diri, menyingkapkan rahasia, sehingga massa percaya bahwa benih yang tumbuh dirahimnya berasal dari pancaran cinta dan bukan tindak istri yang durhaka, bahwa Gugun masih seorang lelaki yang “bisa”.

“Banyak orang yang masih mengira Gugun mungkin nggak ‘bisa’. Aku dibilang melakukan dengan orang lain. Cuek sajalah. Yang tahu bagaimana sebenarnya, aku dan keluarga. Memang sih tidak seperti dulu, aku yang harus banyak memulai. Tapi dia bisa melakukannya, semua normal,” cerita Anna.

Tapi Anna tahu, cerita dia tak sepenuhnya dipercaya. Atau, jika pun ada yang percaya, juga dengan gelengan kepala, ketakmengertian, mengapa Anna tega berasmara-ria ketika Gugun masih setengah alpa.

Anna, atas nama cinta, juga untuk menjaga nama baik diri dan suaminya, akhirnya harus menelan kepedihan, dan menceritakan proses persetubuhannya, lengkap dengan lenguhannya. Ia tak kuasa untuk melawan “Insert” dan “Silet” yang telah diimani banyak orang.

“Aku harus goda-godain bagian tertentu di tubuhnya. Aku raba-raba. Aku taruh tangan dia di bagian tertentu tubuhku.

“Kalau mood-nya lagi bagus, kira-kira 10 menit, ada reaksi-reaksi kecil.

“Aku ‘karoke’ dia. Kadang aku suka ngomong gini ke dia, ‘Sayang, maaf ya, istrimu ini agresif, istrimu ini gila’.

“Selanjutnya normal, dia bisa mencumbu, dia bisa meremas, seperti normalnya saat kami ML. Tapi memang pelan, arah-arahan juga terus aku lakukan. Habis ini tangannya ke sini, ke situ. Sejak dua bulan lalu, dia sudah bisa posisi di atas. Juga posisi duduk, dia yang memangku aku.

“Kalau sudah dirangsang, diarahkan, selanjutnya mengalir begitu saja. Mencumbu, kissing-nya juga pagut-pagutan.

“Lamanya dia sekitar 20 menit sampai setengah jam. Tapi dengan jeda-jeda, nggak terus-terusan.

“Reaksi Gugun ya kayak dulu, ada suara-suara gitu. Kadang kalau aku tanya, ‘Yang, bagaimana? Enak?’ Dia bisa jawab, ‘Enak banget’.

“Minimal seminggu sekali, biasanya malam. Tapi buat aku, enaknya seminggu dua kali. Kapan saja melihat Gugun, aku pengin kok.”

Sedetil itu Anna bercerita, seberani itu dia membuka rahasia, masyarakat –seperti kata infotainmen– masih bertanya, apakah mungkin Gugun yang sempat sekian lama koma, bahkan pernah lupa nama diri dan istrinya, benar-benar ‘bisa’? Dokter Boyke pun diajak bicara. Ketika Boyke justru menguatkan cerita Anna, keraguan masih terus dipupuk, biar cerita masih seperti kerupuk, renyah dan kemriuk. Boyke diragukan, Naek L Tobing diundang. Hasilnya sama. Ketaklumpuhan Gugun menjadi indikasi tentang kelelakiannya yang tak ikut piuh.

Infotainmen percaya? Tentu tidak. Pertanyaan terus dilemparkan, meskipun Gugun ‘bisa’, tapi apakah spermanya dapat membuahi? Maklum, setiap hari Gugun harus menelan 22 jenis obat kimia. Tidakkah spermatozoa-nya terganggu?

Tentu, dokter pun, tanpa meneliti, tak bisa memberi jawaban pasti. Dan ketakpastian itulah yang dicari infotainmen untuk berspekulasi. Anna, setelaten apa pun dia mencinta dan merawat Gugun seperti terlihat di kamera, sebanyak apa pun airmata yang dia tumpahkan, dalam kondisi ini, tetaplah didudukkan sebagai terdakwa. Dan tak ada seorang pun yang bisa menjadi pembela, yang menyaksikan persetubuhan mereka.

Wajarlah ketika Alvin bicara, “Mas Tito, Mas Riko Ceper, Mas Sys NS, semua yang hadir di sini, datang untuk Gugun. Agar Gugun cepat pulih, cepat sehat, agar kita dapat lagi bersama-sama. Agar Gugun tahu bahwa banyak sekali yang berdoa untuk kesembuhan Gugun…” Anna tak mampu menahan isaknya.

Sedu itu, bagi saya, adalah gugatan Anna kepada media, yang telah mendudukkannya menjadi terdakwa, sebagai istri yang tak setia. Dalam tangis itu, saya percaya, Anna  pasti berdoa, “Yang, cepatlah sehat, cepatlah bicara. Jadilah pembela, untukku, untuk anak kita….”

 

[Dalam bentuk yang lebih ringkas, telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 4 April 2009]

Silet, Memanjangkan Prasangka

March 31, 2009

Tentu, aku tak bercerita pada Papa. Di kafe itu, kucoba tertawa, sembari menyimpan  airmata. Papa berkali-kali mengelusi rambutku, dan bertanya, mengapa tadi aku menangis. Aku tak menjawab, mengalihkan cerita. Papa tertawa.

“Ila, Papa tahu ada rahasia antara kita. Dan itu tak apa-apa. Tapi, Ila juga harus adil.”

“Adil, Pa?”

“Iya. Jika Ila boleh punya rahasia, orang lain tentu juga punya. Dan seperti Papa yang tak memaksa Ila untuk bercerita, Ila pun tidak punya hak memaksa atau membuka rahasia orang lain.”

“Lho, memang Ila telah membuka rahasia siapa? Papa jangan asal tuduh, dong?!”

Papa tertawa. Jemarinya mengacak rambutku lagi. “Siapa yang menuduh. Papa hanya menjelaskan bahwa kita harus adil, Ila. Apa yang tidak kita sukai dilakukan orang lain pada kita, jangan juga kita perbuat pada orang lain. Papa ingin Ila tahu bahwa ada situasi tertentu yang membuat seseorang tak bisa berbagi atau bercerita. Seperti Ila saat ini misalnya. Dan Papa tidak punya hak untuk memaksa. Ila mengerti?”

Aku mengangguk. Papa menyorongkan kup es krimnya. “Tuh, dihabiskan, kita pulang.”

Kusodorkan juga mangkuk es krimku ke depan Papa. “Stoberinya terlalu asam,” kataku.

“Bukan stoberinya, Nak, tapi suasana hatimu…” bisik Papa, menggoda. 

Tiga menit kemudian, Papa menggenggamkan dompetnya ke tanganku, dan menunjuk kasir. Aku tertawa.

Lima menit berikutnya, kami sudah lepas dari parkiran, dan untuk kali pertama, Papa mengizinkanku menjadi sopirnya.

 

********

 

Biru, pernahkah engkau merasa kecewa? Pernahkah engkau bangun dan melihat pagi dengan warna yang berbeda? Tahukah Engkau bahwa hujan bisa begitu kejam menjarumi kulitmu, perih dan pedih?

Pagi ini Biru, aku merasai semua itu. Sesak di dadaku tak punah. Ganjalan di hatiku tak pergi. Meski Papa bilang setiap orang boleh punya rahasia, aku harus adil kepada siapa saja. Iya, aku pasti bisa adil, bisa… jika rahasia itu tidak melukaiku dan juga Papa. Aku barangkali tak peduli jika Mama menyimpan bawang di kasur atau menyembunyikan cabe di saku kemeja. Tapi ini kan tidak, Mama menyimpan lelaki lain!

Lelaki lain!  Bisa kamu bayangkan itu? Bagaimana aku harus adil?

Biru, bagaimana aku harus menghadapi hal ini? Haruskah aku menelpon lelaki itu dan bertanya, “Hey, kamu siapa? Ada hubungan apa kamu dengan Mamaku?” Sopan tidak ya jika aku bertanya begitu, Biru? Tapi, apakah aku harus bersopan-sopan menghadapi lelaki semacam itu, yang memanggil mesra istri orang lain? Atau aku langsung saja bicara dengan Mama, dan memaksa Mama bercerita, meninggalkan lelaki itu, kalau tidak akan aku laporkan pada Papa. Aku bingung, Biru. Aku mencintai Papa, juga Mama. Aku tak ingin keduanya bertengkar dan apa jadinya jika mereka kemudian berpisah.

Telah dua hari ini tubuhku rasanya berat sekali, seperti menanggung beban yang luar biasa. Telah tiga kali kunaikkan kaki ke timbangan badan, tapi kulihat angka itu seperti tak menunjukkan fakta yang sebenarnya, beratku tak bertambah, bahkan cenderung menurun. Itu kan tidak mungkin, karena aku tahu persis kakiku kini pun mulai goyah untuk melangkah, terutama jika makan malam, sebuah situasi yang membuatku tak bisa tidak harus bertemu Mama.

Iya Biru, telah dua hari ini aku mencoba menghindari Mama. Tak lagi berlama-lama bersama, termasuk menemani membuat sarapan untuk Papa dan adikku. Aku juga tahu, Mama pasti menyadari perubahanku itu, karena berkali-kali kutangkap Mama menatapku dan mulutnya terbuka, tapi tak ada suara. Barangkali Mama mulai menyadari rahasianya sudah kuketahui, dan malu. Barangkali Mama ingin bercerita tapi ragu. Barangkali Mama merasa aku masih terlalu kecil untuk mengerti hal yang sebenarnya. Barangkali…. Ah entahlah, aku pusing.

Tapi tahu tidak, Papa tenang-tenang saja, Biru. Masih tertawa-tawa, memangku Mama sehabis makan malam sembari membaca koran, masih semesra biasa, seperti tak ada apa-apa. Ya, Papa memang tak mengerti bahwa Mama telah berubah, bahwa perempuan yang selalu mencium punggung tangannya, dan selalu Papa hadiahi kecupan di kening itu, bukan lagi sosok yang sama.

Biru, pedih sekali rasanya melihat Papa menjadi korban sandiwara Mama. Sakit melihat Mama menggelendot manja. Padahal….

Biru, aku tak bisa bercerita langsung padamu. Kutuliskan resahku ini, dan tak akan sampai padamu. Maaf, aku harus menjadikan rahasia ini sebagai milikku sendiri. Biarlah diari ini menjadi bukti, aku telah bercerita padamu, telah berbagi. Bahwa di saat-saat paling pedih pun dalam hidupku, engkaulah sumber energiku, Biru. Kepadamulah kukabarkan semuanya, meski kali ini engkau cuma sosok yang kuhadirkan dalam anganku saja.

 

******

 

“Ila, tahu tidak mengapa banyak orang yang merasa tidak bahagia dengan hidupnya?”

Kuurungkan membuka pintu mobil. Tak biasa Papa mengajak bicara dalam situasi yang pendek seperti ini. Biasanya, Papa hanya berpesan, “Riangkan hatimu, hari ini pasti menyenangkan,” dan mendadaiku yang melangkah ke halaman sekolah. Pasti ada sesuatu. Apakah Papa melihat ada yang berubah dengan diriku?

“Maksud Papa apa Ila terlihat tidak bahagia?”

Papa tertawa. “Kamu itu, selalu saja mengambil kesimpulan…, dan salah. Papa tidak mengatakan dirimu, hanya bertanya apakah Ila tahu apa sebab orang sering merasa tidak bahagia dengan hidupnya. Kalau Ila ya pasti bahagia, ada Papa yang sebaik ini, dan ada Mama yang sesempurna itu. Iya, kan?”

Aku menggeleng.

“Lho, jadi Ila tidak bahagia?” suara Papa agak bergetar, seperti terkejut.

Aku tertawa. “Papa itu selalu saja menyimpulkan…, dan salah. Ila menggeleng itu karena tidak tahu mengapa banyak orang yang tidak bahagia. Bukan karena Ila tidak bahagia dengan keluarga kita.”

Papa meninju pundakku, tersenyum. “Kamu itu, mulai pintar membolak-balik kata. Ya sudah, sana turun, nanti terlambat.”

“Lho, terus apa sebabnya orang merasa tidak bahagia dengan hidupnya, Papa?”

Dari tasnya, Papa mengambil selembar kertas kecil berlipat. “Nih, baca di kelas.” Papa menggenggamkan kertas itu, menarikkan pundakku agar hidungnya menjangkau keningku. “Gembirakan dirimu…” bisiknya.

Aku bergegas turun. Kujejalkan kertas berlipat itu ke saku tasku.

Di dalam kelas, segera kubuka lipatan kertas itu. Ada tulisan tangan Papa, bertinta biru, bertandatangan. Aku tersenyum. Papa selalu saja bisa melakukan hal-hal yang membuat aku bahagia. Kubaca kalimat yang cuma dua baris itu. “Angan-angan. Memanjangkan kenyataan. Membenihkan praduga dan syakwasangka, menanam ketakutan dan kesedihan. Itulah sebabnya, Ila. Jadi, jika Ila ingin terus dalam lingkupan suasana bahagia, semailah kepercayaan bahwa kebaikan tidak akan pernah mengkhianati dirimu. Bahwa yang tampak di mata terkadang bukan kenyataan yang sebenarnya, dan jangan dipanjangkan menjadi cerita dengan praduga dan wasangka.”

Aku membaca berkali-kali, mencoba mencerna. Ah, iya aku ingat, Papa pasti tengah memintaku untuk tak seperti Fenny Rose, pembawa acara “Silet”, yang selalu berpraduga atas sebuah peristiwa.

Tapi, memangnya aku tengah menduga-duga apa??

SMS, Rahasia yang tak Terjaga

March 18, 2009

Sepanjang hidup, cukupkah kita dijaga oleh satu cinta? Aku pasti menjawab ‘Cukup!’ Atau, dicukup-cukupkan. Aku juga percaya, meski usiaku masih jauh dari pengenalan cinta, pendapatku itu pasti disetujui banyak orang. Satu cinta adalah tanda setia. Satu cinta adalah tanda penyerahan diri yang utuh pada seseorang, tanpa rahasia. Semuanya. Semua-muanya. Dan aku percaya, Papa pun telah lama mencukupkan dirinya dengan hanya satu cinta dari Mama.

Tapi ternyata Mama tidak.

Aku menemukan rahasia itu tak sengaja. Dari sebuah SMS.

Sebuah SMS dari satu telepon. Sebuah telepon yang menyimpan satu SMS yang sempat kubaca, dan ratusan SMS lain yang belum sempat kubuka.

Tapi satu SMS itu pun sudah cukup membuatku menjerit: Mama telah tak setia.

Dan semua adalah salahku.

Sore itu, aku berjanji bertemu dengan Papa di sebuah mal. Karena Papa pulang agak telat, aku diminta menunggu di suatu tempat. Sebelum berangkat, aku kirim SMS ke Papa. Tapi gagal. Kucek, pulsaku ternyata telah karam. Takut Papa teraniaya, aku pun meminjam ponsel Mama. “Di meja kerja,” teriak Mama, yang tengah mandi.

Aku segera menemukan ponsel Mama. Segera kuketikkan nama sebuah kafe, dan kukirim ke Papa. Tapi, pada saat itulah, aku mendengar suara SMS masuk. Bukan. Bukan ke ponsel yang aku pegang. Tanda SMS itu keluar dari ponsel yang lain, yang aku tak tahu di mana.

Barangkali, seharusnya aku abai pada suara itu. Dan bergegas keluar dari ruang kerja. Tapi aku justru segera mencari, dan menemukan asal suara itu: dari tas Mama. Aku juga tak meminta izin Mama untuk membuka tasnya. Padahal, dari kecil, tak pernah kami berani membuka milik pribadi siapa pun di rumah ini, tanpa diizinkan. Aku tak tahu, mengapa tiba-tiba saja menarikkan resluiting tas itu. Barangkali aku kaget, ternyata Mama punya lebih dari satu ponsel. Mungkin aku telah curiga.

Tuhan, betapa jahatnya aku. Kepada Mama pun aku curiga.

Tapi kecurigaan itu ada hasilnya. Di tas itu, ada ponsel. Refleks, aku buka SMS itu. Dari “Masku”. Mama punya Mas? Siapa? Bukankah Mama anak tertua? Kupencet, dan pesan itu terbuka: “Dik, nanti pake lingerie yang merah transparan itu, ya?”

Deg!

Dadaku seperti dipukul puluhan palu. Sesak sekali. Tanganku gemetar. Ponsel itu nyaris terlepas dari genggamanku. Mama, Mama… punya seseorang yang memanggilnya “Dik”? Seseorang yang memintanya memakai lingerie? Ya Tuhan….

Airmataku tiba-tiba telah menggenang. Dan dalam mata kaburku, kulihat puluhan SMS lain, hanya dari satu pengirim “Masku”. Mama telah lama berhubungan dengan lelaki itu. Mama telah lama menyimpan rahasia itu. Mama telah lama telah tak setia. Mama telah lama telah mengkhianati Papa.

Dadaku kian sakit, airmataku makin berloncatan.

Kuhapus SMS yang kubuka tadi, kukembalikan ponsel itu ke tempatnya semula. Segera kuhapus airmata, ketika kudengar teriakan Mama, “Ila…, ayo berangkat, jangan membuat Papamu menunggu. Kasihan…”

Kasihan? Mama yang tidak kasihan dengan Papa. Mama! Bukan aku.

Segera aku bergegas. Kuhampiri Mama tanpa menatap wajahnya. Aku takut, Mama dapat melihat airmataku, dan curiga. Aku tak ingin Mama tahu kalau aku telah menemukan rahasianya. Kucium tangannya tanpa suara. Aku tak ingin Mama mendengar isak di antara pamitku. Setengah berlari, selepas pintu, tangisku pecah lagi.

Di sepanjang jalan, dalam angkot, kukuatkan hati. Aku tak boleh menunjukkan wajah sedih. Aku tak boleh membuat Papa bertanya, “Ila, ada apa?” Aku harus tabah. Aku harus membiarkan rahasia itu tersimpan dulu. Aku harus mencari tahu, siapa lelaki itu. Siapa lelaki yang telah membuat Mama tega mengkhianati Papa. Aku harus membuat Mama kembali ke Papa, tanpa Papa harus tahu tentang kesalahan Mama. Aku tak ingin keluarga ini berantakan. Ya, aku harus gembira. Harus. Papa tak boleh melihat apa pun di wajahku.

Tapi niat itu tak terlaksana. Begitu melihat Papa berdiri, aku telah lupa diri. Seperti terbang, aku berlari, memeluknya, dan… menangis. Entah kenapa, melihat Papa, tiba-tiba dadaku sakit sekali. Aku merasa tak pantas Papa dikhianati. Sangat tak pantas.

“Ila, Ila, ada apa? Ehh, ehh, kok menangis begitu. Hey, Ila… Lho?” Suara Papa yang bingung memasuki telingaku.

Mungkin 10 menit aku tergugu di dada Papa. Kunikmati belaiannya di kepalaku. Lalu, ketika sesak di dadaku sedikit berkurang, kulepaskan tanganku dari pinggangnya. Kemeja Papa basah. Kulihat Papa merogoh sakunya, dan menyodorkan saputangan. “Tuh, lap dulu ingus kamu. Sudah gadis kok masih suka nangis.”

Next Page »