Anang dan Kemenangan Ingatan

May 19, 2011

Anang, barangkali, sudah disuratkan untuk selalu jadi pemenang. Dan Syahrini terlambat menyadari hal itu, ketika telah terlanjur menabuh genderang ”perang”. Maka, ibarat permainan catur, bidak tak pernah bisa melangkah mundur, Syahrini, terutama manajer dan adiknya Aisyahrani, terus menembakkan amunisi, hanya sebagai tanda, mereka belum menyerah.

Kata menyerah sebenarnya tak terlalu tepat untuk kondisi semacam ini. Perang antarmereka sebenarnya bukan di medan yang mereka kuasai. Anang dan Syahrini, berperang di arena yang dikuasai orang ramai: pemirsa. Di antara pemirsa itu ada penggemar keduanya, yang fanatik, dan yang apatis. Tapi yang paling utama dan menentukan arah perang itu adalah pemirsa yang punya ingatan, tahu kesejarahan duet Anang-Syahrini.

Dan karena itulah, Syahrini tak akan pernah bisa menang.

Dalam ingatan banyak orang, Anang bukanlah sosok yang kini dituduhkan pihak Syahrini. Mantan suami Krisdayanti itu sudah terlalu dalam masuk ke memori banyak orang sebagai lelaki yang humble, tenang, dan matang. Anang tak pernah terlihat emosional, dan selalu menjaga bicara, meski dengan diksi yang terlalu biasa. Ia pria yang sederhana, dan melihat masalah dengan cara yang sederhana, mempersempit konflik, mengusahakan kesepahaman, dan menjadikan diri sebagai tameng untuk orang yang dia sayang.

”Jika Yanti melakukan kesalahan, saya minta maaf. Sebagai suami, sayalah yang pertama-tama bersalah…” itulah ucapannya, ketika KD tersangkut gosip selingkuh dengan Tohpati.

Ketika KD tersangkut narkoba, seperti pengakuan sang diva itu, Anang juga yang ”mengobatinya” di sebuah pesantren di Jawa Timur, diam-diam, tanpa amarah, tanpa menyalahkan. Anang selalu menjadikan dirinya sebagai imam, pemimpin, dan KD adalah makmumnya. Jika makmum menyimpang, bagi Anang, sang imam yang pertama kali mendapat teguran.

Dan ketika KD berkhianat lagi, lagi, Anang memilih cara yang paling elegan, melepaskan ikatan perimaman tersebut, bercerai. Nyaris tanpa kemarahan ke media, bahkan tanpa aduan, apalagi ungkitan tentang jasa dan kesakitannya ”mengurus” dan ”mendivakan” KD.

”Saya dan Anang itu klop, ibarat tumbu ketemu tutup,” bangga KD, dulu.

Sebagai ”tutup”, Anang memang ”bertugas” menyimpan, merahasiakan. Dan jika pun tak mampu menahan, dia dapat bersuara, berkata, dengan isyarat, dengan makna yang bertingkat. Tidak frontal, emosional, apalagi menyerang-garang. Itulah sebabnya, ketika sang tumbu mencampakkan tutup, Anang hanya bersuara, merintih, rasa sakit yang dia bungkus dengan indah, ”Sepatuh Jiwaku Pergi” dan ”Jangan Memilih Aku” atau ”Tanpa Bintang”.

Sikap Anang itu telah membuat penonton berada di pihaknya. Anang seakan menjadi anomali dalam dunia industri, yang populer dengan menyebar sensasi, kadang gosip racauan-racauan kontroversial. Meski kemudian Anang masuk pada jualan ”kemesraan”, tetap saja gaya ”malu-malu” yang menjengkelkan penggemarnya itu, menjadi tali komunikasi paling kuat menjelaskan ”kesederhanaannya”. Justru di titik itu, Syahrini mengendali sebagai sosok yang glamour, acap memberi ”tekanan” pada kemesraan mereka, dan memberikan diksi-diksi penguatan sosok Anang dalam hidupnya.

”Saat ini Mas Anang memang orang yang paling berjasa dalam karier bermusik saya. Tanpa Mas Anang, Syahrini tidak mungkin akan seperti sekarang ini,” akunya, jujur, tulus, spontan.

Lalu Anang-Syahrini yang begitu fenomenal, sampai membuat fans berharap mereka berpacaran dan kemudian kawin, pecah kongsi. Syahrini memilih berkarier sendiri, karena Anang berduet dengan Aurel, dan kemudian Ashanty, yang lalu menempel sebagai kekasih. Dan, sikap Syahrini mulai berubah, setidaknya itulah yang tayang di berbagai infotainmen. Komentarnya mulai pedas, dengan diksi yang penuh sindiran, dan sunggingan senyum, yang dapat dibaca sebagai sikap ketakpuasan, bahkan cibiran. Puncaknya, dengan yakin dia mengatakan posisi yang dia raih selama ini bukan campur tangan orang lain, tapi atas pemberian Tuhan atas kerja kerasnya.

Syahrini mulai menghapus kehadiran Anang. Dia mulai membawa nama Tuhan, bukan untuk mengagungkan Sang Pencipta, tapi sebagai bemper atas argumentasinya untuk ”mengusir” peran Anang. Dan kemudian, terutama lewat adiknya, ”cacat” Anang dia ungkap, dan tak lupa membombastiskan keluguan dirinya. ”Dengan Anang itu proyek ikhlas…” katanya, menyebut ketiadaan bukti hitam-putih kerja sama.

Anang, seperti biasa, selalu mendiamkan hal-hal seperti itu. Dia bicara, seperlunya, santai, ringan, bahkan tertawa-tawa. Lucunya, dia justru merasa bangga pernah bekerja sama dengan Syahrini, seperti dia dulu juga amat bangga pernah hidup sebagai suami bersama KD. Bayangkan! Anang, dengan lugas mengakui, Syahrini telah membantunya meraih popularitas, dan itu sebuah kerja yang luar biasa.

Anang memang lahir untuk jadi pemenang. Bukan karena dia punya banyak strategi, melainkan dia menguasai hati dan ingatan banyak orang. Memori khalayak yang tak pernah dia rusak itulah modal terbesar Anang untuk dengan diam dan senyum, sudah dapat menangkal berbagai tuduhan. Apalagi, Anang terlihat begitu percaya diri, tak risau, atas tuduhan itu. ”Semua kontrak ada, bukti ada…”

Syahrini barangkali tahu Anang tak akan banyak bicara dan membela diri. Sebagai pasangan duet yang bersama nyaris setahun, dia tahu ”kelemahan” Anang itu, yang tak suka pamer diri di luar karya. Maka, Syahrini ingin ”menguasai” media, menginfiltrasi citra Anang dengan cara yang sama, mencipta lagu sebagai manifestasi kesakitan hatinya, ”Kau yang Memilih Aku”. Namun, dia lupa ada Hadi Sunyoto, manager Anang, yang berani bersuara, dan juga ikut menabuh genderang.Hadi, sosok yang Syahrini abaikan ini, sebenarnya adalah personifikasi dari penonton, pengemar, yang punya ingatan, yang mengerti sejarah Syahrini, tahu betul siapa Anang.

Dan di depan penonton dan penggemar yang punya ingatan, Syahrini sulit untuk memenangi perang. Arena yang dia masuki adalah milik orang banyak, memori yang telah sekian lama dibangun Anang, bahkan sebelum Syahrini jadi penyanyi. Tak heran jika dia jadi tergagap-gagap, terus bersuara, hanya untuk meyakinkan media bahwa mereka berani, ada, meski kemenangan dan ”kebenaran” kian jauh dari genggaman. Bidak memang tak mungkin melangkah mundur, meski mungkin hancur…

Syahrini, Tuhan, dan Kacang

March 24, 2011

Yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu.

Syahrini, barangkali, tengah menegaskan hal itu ketika berkata, ”Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan.” Dia seperti memberi makna bahwa sebagai ”pemberian Tuhan”, anugerah, tentu sukses itu dia dapat dengan jalan yang benar dan halal. Ada proses yang tidak melanggar dari rambu yang dipatok agama. Tak heran juga, seusai kematian ayahnya, Syahrini pun selalu berkata dengan mata yang menerawang, ”Papa selalu mengingatkan aku agar ingat salat, dan menutup aurat.”

Tapi tentu kita juga tahu, Tuhan bekerja bukan dengan cara yang bisa selalu diurutkan dalam logika. Dia memberi, terkadang, lebih sebagai misteri, bukan ”upah” atas kepatuhan kita. Dan karena itu, ”pemberian Tuhan” tidak selalu berbanding lurus dengan ”kesetiaan di jalan-Nya”. Kausalitas, sebab-akibat, pilih kasih, pamrih, adalah pikiran manusia. Dia bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Karena itu, bisa jadi ucapan Syahrini, ”Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan” bukan semata memuliakan Yang di Atas, melainkan dan terutama, untuk mengeliminasi kata sebelumnya, ”bantuan manusia”. Dan kita tahu, kalimat ”bersayap” itu mengarah kepada Anang. Apalagi, dia memberi jelas dengan kalimat sebelumnya, ”Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain.”

Tanpa suport orang lain? Syahrini jelas ”lebay”. Tapi kita dapatlah memaafkan hal itu. Dia tengah berada di posisi puncak, kerap disorot media, dan itu dengan semacam ingatan, ”Kesuksesanmu karena Anang”.

Dulu, sebelum ”bercerai” dari Anang, tak ada bantahan darinya. Sembari bergayut manja, atau melempar senyum, kadang lirikan ”gimana gitu”, dia akan berkata, ”Mas Anang mengubah hidup saya…” atau kalimat pujian dan pengakuan sejenisnya. Tapi kini, ketika ”talak” telah terjadi, Syahrini bergegas menghapus jejak Anang dalam dirinya. Penghapusan itu bahkan tidak cukup dengan dua kalimat negasi di atas, tapi juga dalam bentuk lagu, ”Kau yang Memilih Aku”.

Lagu yang ”menyerang” tentu, meski dengan nada-nada sendu. Dengar liriknya, ”Kau yang telah memilih aku/ kau juga yang sakiti aku/ Kau putar cerita/  sehingga aku yang salah// Kau selalu mempermainkan wanita/ Kau ciptakan lagu cinta/ hingga semua tahu/ kau makhluk sempurna//“.

“Ini kisah nyata, di mana aku lakonnya. Aku yang merasakan feel lagu ini. Aku memang mau curhat lewat lirik yang indah. Lirik yang frontal sebenarnya. Pengalaman hidup secara personal,” kata Syahrini, usai menjadi bintang tamu acara ”Dahsyat” di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (21/3).

”Menghapus” masa lalu, atau rekam jejak seseorang di dalam karier, bukan hal tabu dalam dunia industri. Penghambaan dan kekaguman pada diri sendiri terkadang menjadi titik didih yang tak terkendali. Proses, yang menisbatkan keterlibatan orang lain, kadang disembunyikan, atau tak diakui. Jika pun terucap, lebih sering terasa sebagai basa-basi. ”Aku bisa karena perjuanganku sendiri” dijadikan mantra justru ketika tengah berada di puncak.

Syahrini, dengan ”Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain” berada dalam euforia itu. Dia dalam situasi tertekan, ketika publik ragu, akankah tanpa Anang popularitas yang sama dapat dia genggam? Karena, bertahun sebelumnya, Syahrini bukanlah siapa-siapa. Dia adalah sosok yang dipilih Anang untuk ”memerisai” diri dari luka Krisdayanti. Dia dipilih Anang untuk menambal separuh jiwanya yang telah pergi. Syahrini ”hadir” di saat yang tepat ketika Anang juga ingin menghapus jejak Krisdayanti yang ”tak mampu setia”. Dan kini, Syahrini membalik posisi itu, dia hapus bekas Anang di dalam dirinya karena ”Kau selalu mempermainkan wanita”.

Ya, berbalas pantun, saling sindir, biasa dalam industri musik kita. Ada lagu ”Jandamu” berbalas ”Dudamu”.  Seperti juga ”Pengkhianat Cinta” Maia Estianti yang berbalas ”Kau Tusuk Aku dari Belakang” Dhani.  Jadi, jika Anang membuat ”Jangan Memilih Aku”, bukan hal aneh muncul ”Kau yang Memilih Aku”. Masalahnya, jika Maia, seburuk apa pun hubungannya dengan Dhani, tak pernah menghapus jejak ‘’sang guru”, Syahrini justru berbeda. Dia ”nekad” menghilangkan jejak Anang, meski, tanpa sadar justru mengakui hal itu secara lebih benderang.

Frasa ”bukan karena bantuan manusia” dan ”tanpa support orang lain”, justru dia bantah dengan ”Kau yang telah memilih aku”.  Sebagai yang ”dipilih”, Syahrini bukanlah subjek, melainkan objek. Dan kita tahu, objek selalu melekati subjek baru bisa berfungsi. Dengan kata lain, jika objek sukses, maka kesuksesan itu tentulah sekadar nimbrung, nunut, terikut oleh kerja subjek. Dan objek tak akan mungkin bisa mengklaim ”kerja” atas nama dirinya sendiri.

”Kau yang memilih aku” menjelaskan tentang diri yang tak memiliki hak untuk mengelak, hanya menjalani, menerima. Dan jika Syahrini mengakui bahwa dirinya hanyalah sosok yang dipilih maka secara tegas dia pun ”mengatakan” kesuksesan itu bukanlah kerjanya, meski dapat menjadi bagian dari haknya.

Sayang, dalam euforia untuk menunjukkan diri dapat berarti tanpa orang lain dan akar kesilaman, Syahrini lupa kontradiksi itu. Dia membawa nama Tuhan untuk ”mengemplang kuasa” Anang, karena hanya itu cara terindah yang bisa dia lakukan. Tapi, dalam euforia, terkadang hal kecil dapat memupus ‘’skenario” indah itu. ”Kau yang memilih aku..” adalah pernyataan bahwa aku tak akan berarti tanpa dirimu. Aku tak pernah meminta, tapi kau pilih, kau beri… sebuah situasi yang pedih, kesadaran non-eksis.

Tapi, yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu. Syahrini mencoba menghapus ”cara” dia mendapatkan posisi sekarang. Dan itu benar, karena sebelumnya, sebagai sosok yang ”dipilih”, dia tak tahu cara dan metode itu. Kini ketika dia harus bergerak sendiri, tanpa Anang, wajarlah jika dia hanya dapat pasrah kepada Tuhan.

Kacang bisa mengabaikan kulit tapi kulit tak dapat melupakan kacang. Tapi untuk Syahrini dan Anang, kita jadi rumit menilai mana kulit dan mana si kacang… :D

Manohara dan Ingatan Pasar

February 24, 2011

Apa yang dapat kita ingat dari Manohara adalah persoalan tubuh. Ia, dengan airmata deras, menunjukkan pada kita luka lebam, dan bekas sayatan, di bagian dada. Ia, dengan bantuan ibunya, Daisy, membuka mata kita tentang dua soal yang tak gampang diurai: cinta –yang gaib, batiniah, dan tubuh –yang nyata, teraba. Dalam tragedi Manohara, kita menemukan kausalitas antara cinta yang cidera dan tubuh yang terdera.

Ia mengajak kita ingatan kita tamasya pada dua periode yang berbeda: tubuh Manohara sebelum ke Malaysia, dan sesudah menikah dengan Fakhry, si pangeran kaya. Dengan bantuan infotainmen, kita menemukan kontras tegas, tubuh pertama demikian sintal, sensual, dan, ”model yang diperkiraan akan menjadi ikon produk kecantikan,” kata narator ”Insert” Trans TV. Tapi tubuh kedua, yang tampil dengan tangis itu, sudah melebar, gemuk, dengan lengan bawah yang tergayuti lemak. Beberapa video dirinya di Malaysia yang tertawa dalam berbagai acara negara, dan dengan tubuh yang ‘’sentosa” itu, ternyata tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Kegemukan adalah kemalangan. ”Dia dipaksa makan oleh Fachri, biar cepat gemuk!” tegas Daisy.

Dan ketika di tubuh gemuk itu berdiam lebam dan bekas sayatan, Mano mendapatkan senjata.

Mano menggugat, Daisy menghujat. Mereka mendapat iba.

Dan kemudian kita tahu, publik jadi berada di belakang Manohara. Asmara dan luka yang semula hanya melibatkan sepasang manusia, berubah menjadi ”percakapan” bangsa, dan politik identitas pun menemukan ruangnya. Mano pun menang, dan ia melenggang. Kisahnya kemudian jadi ‘’sejarah”, meski tak semua orang mau mengingatnya.

Tapi bagi Mano, sejarah kepedihan itu tak pernah dapat dia abaikan.

”Sejarah yang selalu dikenang bukanlah sejarah yang penuh dengan romantika manis. Namun, apa yang selalu membayangi orang adalah ingatan akan penderitaan, memoria passionis,” kata Walter Benyamin, filsuf dari Mazhab Frankfurt.

Sejarah jenis itu, tak hanya menjejaki otak dengan tanggal, hari, percik suasana dan hangat percakapan, melainkan telah berubah menjadi verstehen; pemahaman dalam diri, terinternalisasikan, tertubuhkan. Dalam sejarah semacam itulah, masa depan, hidup yang kini dijalani, mendapatkan penebusan.

”Aku tak bisa melupakan masa lalu. Ada fase dalam hidupku yang begitu bodoh, yang sampai kini pun masih membuatku bertanya, ‘kok bisa aku melakukan hal itu’,” kata Shu Qi, aktris China yang kini telah menapak di Hollywood. ”Tapi ya, itu memang hidupku. Dulu.

”Aku tahu telah berbuat keliru. Saat itu, dalam ketiadaan pengharapan dan dukungan keluarga, aku merasa telah dewasa untuk melakukan apa saja,” tuturnya dalam sesal yang punah sebagai tangis.

Manohara, barangkali, berada di fase yang sama dengan Shu Qi. Ia tak bisa lupa, kepedihan itu, pasti, akan mengikuti dirinya sepanjang masa. Sejarah yang, seperti kata Benyamin, akan menjadi penebusan hidupnya di masa depan. Seperti Shu Qi yang bangkit dan menjadi bintang, Mano pun melakukan hal yang sama, bergerak, menentukan arah, membangun hidup baru, membentuk citra. Tapi tak mudah, gelinjang masa lalu itu, selalu membuatnya menoleh, menoleh, meski tidak lagi dengan sesal, melainkan siasat yang kenyal.

Apa yang kita ingat dari Manohara adalah persoalan tubuh. Dan dia amat tahu itu.

Ingatan kita akan tubuhnya yang telah cidera, dalam lebam, dan bekas sayatan, adalah ”pasar” yang luas dan terabadikan. Kita seakan selalu dalam fase tanya, ”bagaimana tubuh Mano setelah luka itu? Apakah bisa sempurna, sesintal dan semulus dulu?

Maka, ketika ada gosip video porno Mano, semua seakan gempita, berharap dalam melihat dan menguji ingatan tubuh yang luka itu. Juga ketika foto-foto tubuh Mano yang berpakaian minim, tengah pesta dan bergoyang di dugem malam, kita mencari-cari, apakah bekas luka dan lebam itu masih ada. Kita penasaran karena berharap ingatan akan tubuh luka itu dapat dibuang, dipunahkan.

Mano mengerti benar hal itu, dan dia pun ”memberi”. Dalam berbagai penampilan, dia tunjukkan tubuh yang telah pulih, tanpa bekas luka, dan ingatan yang tak lagi menyimpan trauma. Pakaian minim yang dia kenakan adalah sinyal diri yang telah kembali, sekaligus senjata yang menodong dengan tanya, ”Tahukah kalian apa yang membuatku dapat bebas dari trauma dan kembali bertubuh ’sempurna’?

Dan karena ingatan kita atas tubuhnya adalah ”pasar”, di sanalah produk ketubuhan dia tebar. Mano menjual produk kecantikan dengan namanya, Manohara, berlabel M, dengan lambang lotus, di bagian tutupnya.

”Lotus membuat jiwa dan kehidupan keseharian mendapatkan peningkatan spiritual. Bunga Lotus mengandung arti murni, bersih, dan agung,” katanya.

Lalu dengarlah penjelasannya, ”Produk ini aman dan halal. Mano telah menjadi kelinci percobaan selama beberapa bulan. Mano puas, tak ada efek samping.”

Mano, dengan percaya diri, juga menyadari, akan ada yang menganggap dia hanya menjual nama, tapi, ”Apa pun opini yang muncul, saya tetap akan berpikir positif dan keep moving,” tegasnya.

Mano benar. Dia memang berpikir positif, dan dapat memanfaatkan sejarah tubuhnya sebagai penebusan, bahkan obat di masa depannya. Dengan bisnis kecantikan itu, Mano meletakkan dirinya secara cerdas untuk terus berada di dalam ingatan banyak orang. Tapi kini, bukan dengan jerit tangis, dan tubuh yang guram dalam lebam serta bekas sayatan. Mano telah melampaui ingatan kesakitan itu dan menuju sejarah baru, tarikh pathos, ketika luka dan derita diubah jadi arah, jadi tujuan. Dan bukan hal yang salah, jika kemudian, ingatan kita akan luka dan lebam tubuhnya dia ubah jadi lapak, tempat untuk berjualan….

Komposisi Kau dan Aku

July 28, 2009

kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu
entah kapan kau bisa kutangkap

[nokturno - sapardi djoko damono]

/1/

sore yang berbeda. kau datang ke pikiranku lewat puisi-puisi sapardi, yang dinyanyikan dua-ibu: tatyana dan reda. hujan di luar. dingin. dan lagu “hujan bulan juni” –kenapa tidak gerimis saja– memberi aksentuasi nyeri pada ujung juli ini, dengan “dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu“. akankah jejakku terhapuskan juga dari halaman hatimu?

/2/

kukenang percakapan kita. di riuh ruang maya, sms panjang, jauh tengah malam. ada yang tiba-tiba tanggal, ingatanku tentang peta yang kita pegang.

“kenapa kita bertemu di separuh jalan?”

kau diam.

kutemani kau melangkah, dalam tawa-tangis, berharap ujung jalan ini tak ada. kita mencoba tak mengingatnya ada. tapi, sungguhkan pikiran bisa dibersihkan dari kenyataan? dan mata dari kepedihan? atau begini barangkali memang hidup harus dijalani. “…dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.”

/3/

barangkali, nasib kita berjalan dalam komposisi sapardi. bukankah pernah kukatakan padamu tentang hatiku yang selembar daun? kau tertawa waktu itu. kini kita tahu, memapasmu di separuh jalan, adalah menikmati kebersaatan yang menjadi abadi. ahh-, jadi ingin kuberikan lagi pada telingamu lagu ini:

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput.
nanti dulu, biarkan aku sejenak
berbaring di sini:
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput.
sesaat adalah abadi, sebelum kausapu
tamanmu setiap pagi
“.

aku akan mencari abadi itu, dalam sesaat. setiap pagi, siang, senja dan malam, seperti yang telah kita lakukan selama ini. jadi, tolong buang sapumu…
/4/

kau mungkin tak akan kudapat.

ya. tak akan kudapat.

aku hanya mengantarmu, sampai ke ujung itu. tapi, aku akan merebutmu, meski “entah kapan kau bisa kutangkap“. yang penting, aku telah melakukannya, dan itu bukan sesuatu yang sia-sia. karena aku tahu, “…cinta kita mabuk berjalan, di antara jerit bunga-bunga rekah“.

Frasa Lirih Konsonan Sedih

October 27, 2008

Setiap kali memasuki kamar, lelaki itu pasti mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Membantali kepalanya dengan satuan dua telapak tangan, matanya nanap ke langit-langit, napasnya terdengar panjang. Tiga empat menit dia begitu, lalu duduk, melepaskan tali sepatu. Melemparkan sepatu ke kolong meja, tangannya yang panjang akan meraih kulkas. Segelas aqua kecil dia tenggak. Sebelum berdiri, dan berjalan 7 langkah ke kanan, botol itu dia lempar ke tempat sampah. Menyibak tirai, ia membuka pintu kaca yang menghubungkannya dengan suara-suara di luar sana.

Biasanya juga, ia akan melewati celah pintu kaca itu, dan membiarkan kaki telanjangnya merasai dingin lantai teras kamar. Itu lantai 5, dan dari tembok pengaman sepinggang, pandangannya mengedar ke utara, ke lanskap langit yang bebas dari beton tinggi. 10 menit berdiri, merasa udara kamar telah berganti, tubuhnya bergerak. Mengunci pintu, menarikkan tirai, ia menuju kamar mandi.

Tak lama, ia akan keluar dengan rambut basah. Bersijingkat, tubuh telanjangnya seperti menari menuju almari, menarikkan sarung dan kaos tipis. Dan ketika geraknya sampai ke tengah kasur, sarung dan kaos telah sempurna menyelimuti tubuhnya.

Pasti juga, dia akan memesan kopi kental melalui telepon, kemudian dia tarikkan notebook yang tergolek di dekat bantal. Kalimat yang nyaris sama akan dia ketikkan, “Sepi menekan mendesak. Sendiri. Menanti. Hari keempat, dan hatiku masih saja mau menunggu, ketukannya di bibir pintu.”

Saat notebook padam, terdengar ketukan, tapi bukan dari yang dia tunggu. Kopi datang, dan dia tahu, malam kembali akan terasa panjang.

Setiap kali memasuki kamar, lelaki itu akan melakukan hal yang sama, empat hari ini. Tapi tidak malam ini. Saat dia menolakkan pintu, di kasurnya telah duduk seorang perempuan, memangku bantal. Menunggu.

Perempuan itu adalah aku.



Lima hari lalu, sebuah SMS. “dari sini, aku seperti mendengar halus tarikan napasmu. mataku pun melihat siluet tubuhmu mencemari kaca, di lantai 9 itu. jarak begitu pendek, tapi kau masih terasa jauh…

SMS dari Elang. Ia sudah datang.

Tujuh hari lalu, aku tak bisa berjanji menemuinya. “Elang, kalau menemuimu, aku akan meninggalkan dia. Dan saat ini aku tak bisa. Cukuplah kamu sadari, aku ada. Mengajakmu berbicara dengan hatiku. Kita dekat, elang. Tak berjarak. Masih seperti dulu.”

“Aku tak memintamu meninggalkan dia,” suaranya terdengar cemas. “Aku hanya ingin berjumpa. Aku ingin mengenangmu tidak hanya dari masa lalu.”

“Maaf Elang. Tidak bisa, tidak lagi bisa….”

Ketika sampai di hotelnya 23 menit lalu, resepsionis seperti sudah menungguku. “Ibu Ara, ya? Bapak Elang tadi pesan, jika ibu datang, silakan menunggu saja di kamarnya.” Aku terpaku. Ahh-, lelaki itu masih saja dapat menebak hatiku. Kupegang kunci kamar 512, langkahku berayun seperti hatiku.

Sekarang aku di kamar ini.

Lelaki itu masih seperti 370 hari lalu. Tak ada yang berubah, kecuali matanya yang kian dalam. Geraknya yang terhenti antara jarakku dan televisi, membuatku menangkap sempurna ketegangan di wajahnya.

“Aku tahu kau akan datang…” suaranya seperti cemas yang lepas. Ketika kusambut tangannya, kurasakan tarikannya. Tubuhku memberat. Ia akhirnya yang mendekat, menyandarkan dadanya ke pipiku. Ini janjinya, dan aku memang mendengar gemuruh yang begitu menyenangkan di tubuhnya. Rasa itu masih ada. Ia lalu duduk di depanku, dengan kaki yang menjuntai.

“370 hari, betapa lama….”

Ya, betapa lama. Ketika dulu mengucapkan janji bertemu setelah 12 purnama, aku yakin akan dengan gampang memenuhinya. Elang juga tak meminta lebih. Ia hanya rindu duduk berdua, berbicara. Masih kuingat keinginannya, di suatu subuh saat kubangunkan dia. Suaranya masih berbau mimpi saat berkata, “Mungkin kita hanya bertutur tentang pagi, dingin udara, dan rekah fajar di utara. Atau tertawa mendengar seruling gembala, di sebuah desa, yang namanya tak pernah kita temukan di peta. Kita cuma tahu, kita bahagia.

“Barangkali, kita sesaki percakapan itu dengan tegukan teh, gigitan donat, dan desah membuang dingin. Atau ringkukkan tubuh, gerak refleks mencari hangat. Berkali-kali kusenyumi napasmu yang mengental, uap putih yang tampak sebentar, sebelum dibusar angin.

“Aku bayangkan, di bibir meja, jari-jari kita bersentuhan, dan kau ketukkan baku jarimu di punggung tanganku, iringi lirih bibirmu mendendangkan lagu, “Because I Love You”. Dan dari getar tangan itu, mengalir nada-nada hangat memenuhi dadaku.

“12 purnama, itu tak lama…”

Tapi tadi, dia mengatakan betapa lama.

“Elang, ceritai aku tentang kamu. Aku kangen suaramu, kangen puisi-puisimu.”

Lelaki itu menaikkan kakinya, bersila, dengkul kami bersentuhan. Ia bercerita tentang kerja, dan waktu-waktu kosong yang menyiksa. “Setiap berhenti bergerak, pikiranku serentak menghitung hari, 365 yang telah terkurangi. Dinding kamarku penuh garis, coretan hari yang telah kujalani. Menunggumu, Ra; seperti membunuh diri.”

Ia lalu membuat blog, dan menuliskan patah-patah kenangan. “Tapi, selalu ada yang tak bisa ditulis. Selalu ada yang tak bisa dipindahkan…”

Ia ceritai beberapa perempuan yang memapas langkahnya, tapi, “Dalam hidup seorang lelaki, akan Tuhan tunjukkan satu keajaiban di dalam diri perempuan. Dan aku tahu, kamulah keajaiban itu. Maafkan jika sampai hari ini, aku masih berharap….”

“Elang, sudahlah. Tidak usah diteruskan. Ingat apa yang aku katakan, ingat kan? Kita tidak boleh banyak berharap. Kita percayai saja, garis yang Tuhan bentangkan ini ada ujungnya. Yakin saja, kita akan sampai ke ujung itu. Kalau pun tidak sampai, kita bisa apa? Kita tidak selalu bisa memilih, elang….”

“Tapi Ra, tapi…”

“Ssstt… sudahlah. Sudahlah, elang.” Ada kejap protes di matanya. Tapi aku tahu, jika tak kuhentikan ucapannya, percakapan kami nanti akan berubah jadi ratapan. Aku cuma tak ingin, hari ini diisi dengan kesedihan. “Bacakan saja aku puisi, ya?”

Ia terdiam. Kubiarkan jariku diremasnya, dan sesaat setelah bibirnya menyentuh punggung tanganku, gumam pelannya terdengar.

dalam sel ini kita berbahagia, sebenarnya
bercakap tentang cerita pendek
dan bab yang hilang
pada kertas robek

atau bertanya apa yang diucapkan Ophelia
sebelum hanyut,
meskipun malam
tak hanya menyahut

atau terbaring di dipan datar
mengusut kata, kata, kata,
menyangsikan yang benar adalah benar
dan nasib yang mencederai kita

kadang kita dengar frase yang lirih
dan di luar itu, desah hantu
seperti sepatah konsonan sedih
yang menyimpan masa lalu

tapi dalam sel ini kita berbahagia, sebenarnya*

“Sekarang, ceritakan tentang kamu, Ra. Aku ingin kamar ini tahu semua yang terjadi denganmu, sejak 12 purnama lalu. Kamu tahu kenapa kupilih kamar 512 ini? karena aku bayangkan, akan 5 hari bersamamu, setelah 12 bulan itu. Tapi satu senja ini pun cukuplah. Ayo, berceritalah cintaku. Bukakan tubuhmu di kasur ini. Mengapa kau selalu berangkat dari kelam ke kelam, dari kecemasan sampai istirahat dalam kecemasan…”

Aku tergeragap. Sihir puisi tadi belum sepenuhnya bisa kukuasai, dan Elang meminta cerita. Tentang apa? Yang bisa aku katakan adalah seseorang selain dia. Aku tak bisa, aku tak bisa melihat dia terluka.

“Elang, aku tak punya cerita apa-apa. Aku cuma tahu, aku sayang Elang. Itu saja.” Tanpa sadar, kupindahkan bantal dari pangkuanku. Mata lelaki itu terbeliak.



Aku memekik tanpa suara. Ketika bantal itu berpindah dari pangkuannya, kulihat perutnya yang tidak lagi rata. Wajahnya pias, tangannya menggapai-gapai, kembali meraih bantal. Matanya basah, menangis. “Aku tidak ingin memberitahumu dengan cara begini, Elang. Aku tak ingin menemuimu. Tapi hatiku tak bisa, tak bisa…”

Sedari tadi sebenarnya aku merasa ada yang tak biasa. Ketika melihat dia duduk bersandar dengan memangku bantal, aku merasa ada yang janggal. Tapi hatiku tak terbiasa menaruh curiga. Dan beginilah akhirnya, tubuhku kaku. Lidahku terkunci. Yang dapat aku lakukan hanya membuang napas, dan bangkit. Kuteguk aqua dari kulkas, kuremukkan gelasnya sebelum masuk ke tempat sampah. Kamar ini terasa begitu panas.

Duduk di meja, sedan itu memaksa mataku menemukannya. Dia masih duduk, menatapku dengan mata basah. Di ujung hidungnya, kulihat air. Ingin rasanya aku bergerak, menyurukkan tangis itu ke dadaku. Tapi kakiku tak ada daya. Bahkan ketika berkali-kali kudengar lirihnya, “Maafkan aku, Elang… Tak seharusnya aku datang, tak seharusnya…” Aku tak juga bergerak. Dadaku masih terasa sangat sesak. Dan apa ini, ya Tuhan… mataku pun basah.

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Ra. Tak ada yang salah…. Bukankah kita sama percaya pada ujung dari garis ini? Bukankah kita sama berjanji untuk mengikuti rencana Tuhan ini, sampai selesai. Aku tak apa-apa. Aku hanya kaget, sungguh…”

Kubalikkan tubuhku. ingin rasanya aku memekik, memekik, biar semua ganjalan, semua yang tertahan di dada ini tumpah. Biar semua ‘Kenapa? Kenapa?’ ini terbuang. Biar semua… HHhhh–….” Kubuang tubuhku ke kanan, keras kutarikkan tirai, kubuka pintu, dan segar udara luar menyerbu wajahku. Di tembok pembatas sepinggang itu, di luas langit yang tak terjerat beton, kuhembuskan napasku, sekuatnya, sekuat-kuatnya, sebisanya….



Aku tahu Elang menangis. Aku tahu dia terluka. Sedari tadi, sebenarnya aku sangat takut dia melihat perubahan di tubuhku. Tapi kukira, bantal itu akan dapat menghalangi sempurna. Dan benar, bantal itu bisa, tapi hatiku yang tidak. Hatiku yang terlalu gembira dengan puisinya, tak bisa menjaga rahasia. Iya Elang, aku hamil. Dengan dia yang datang sebelum kamu. Dengan dia yang tetap ada sesudah kamu. Aku pernah bercerita padamu, bukan? Dan kau paham. Tapi aku tahu Elang, melihat perempuan yang kamu cintai hamil, pasti lebih sakit dari apa pun.

Aku tahu kamu menangis. Dari sini, kulihat pundakmu yang naik turun. Sesenggukan. Maafkan aku, Elang. Seharusnya aku memang tidak menjumpaimu. Seharusnya aku percaya, bahwa ini akan jadi menyakitkan. Tapi tahukah kamu Elang, ini anakmu. Tahukah kamu, setiap malam aku bayangkan kamu yang bersamaku. Setiap saat, aku rasakan kamu yang mencumbuku. Bukan dia, bukan dia, Elang. Secara psikologis, ini anakmu, Elang: anak kita. Kamu harus tahu!

Tapi aku tak sempat mengatakannya. Aku tak bisa lagi mengatakannya.

Sia-sia.

Aku tahu kamu menangis. Bersandar di pintu kaca ini, aku mendengar isakmu, juga isakku. Maafkan aku, Elang. Tidak seharusnya kita berpisah begini. Tapi aku harus pamit, biar ini tak tambah menyakitkan. Percayalah, aku masih menyayangimu. Selalu.

Kulambaikan tangan pada punggung lelaki itu. Ia pasti akan tahu, akan mengerti. Dan saat langkahku menjauhi pintu kaca itu, gumam isaknya menjangkau telingaku.

aku tengah menantimu, mengejang bunga randu alas
di pucuk kemarau yang mulai gundul itu
berapa juni menguncup dalam diriku dan kemudian layu
yang telah hati-hati kucatat, tapi diam-diam terlepas

awan-awan kecil melintas di atas jembatan itu, aku menantimu
musim telah mengembun di antara bulu-bulu mataku
kudengar berulang suara gelombang di udara memecah
nafsu dan gairah telanjang di sini, bintang-bintang gelisah

telah rontok kemarau yang tipis, ada yang mendadak
sepi
di tengah riuh bunga randu alas dan kembang turi aku pun
menanti
barangkali semakin jarang awan-awan melintas di sana
dan tak ada, kau pun, yang merasa ditunggu begitu lama**




*puisi gm, **puisi sdd

Kau yang Dikirim Hujan

September 9, 2008

Kaki hujan itu, Lita, menghampiri lagi rumah kita, menjarumi gentengnya, dengan rintik yang pernah kita khayalkan akan kita dengar bersama.

“Aku akan menghangatkan tubuhmu, dengan peluk dan cium, segelas kopi hangat, atau cerita tentang Luka, anak kita,” katamu di suatu senja yang basah, yang aku tak ingat lagi tanggalnya.

Tapi khayalan memang selalu lebih manis dari apa pun. Di rumah ini, rumah yang kita angankan akan kita tempati bersama, aku terbaring sendiri, menikmati curah hujan yang begitu ritmis, yang menghantarkanku pada kenangan tentangmu.

Rumah ini Lita, kubeli sebulan setelah engkau pergi, kuharapkan, rumah ini akan memanggilmu kembali. Tapi ternyata tidak. Sampai rintik hujan yang kesekian, tak kudengar ketukan di pintu, darimu.

Kau tahu, Lita: kunci itu selalu kuletakkan di bawah pot bunga, di depan rumah kita, seperti yang dulu kamu pinta. “Nanti kuncinya selalu kita letakkan di bawah pot bunga, ya? Biar jika Abang atau aku yang pulang duluan, kita sudah dapat selalu berada di dalamnya,” pintamu, suatu kali, dengan mata terbakar cinta.

Aku selalu menunggumu, Lita, sendiri, terpenjara di sini, dikuasai kenangan tentangmu.
****

Di senja itu, di beranda kontrakannya, rasanya sudah lama sekali, dengan secangkir kopi dan sepotong donat, juga gerimis, ia memulai membuka peta. “Aku harus pergi, Bang,” bisiknya. “Ada yang ingin kuyakinkan.”

Aku diam. Kopi ini terlalu berharga jika harus dipotong dengan percakapan yang serius. Kuacak rambutnya, kutarik pundaknya, menyandar di dadaku. “Kenapa? Tidakkah aku cukup bagimu?”

Dia mencium pipiku, lembut, basah aroma kopi. “Aku hanya ingin pergi,” desisnya. “Nggak tahu kenapa?”

“Berapa lama?”

Dia menggeleng. “Aku akan kirim surat, SMS, atau e-mail, nanti.”

“Ya, sudah, pergilah.”

“Abang nggak ingin tahu alasanku?”

Aku menggeleng. Dia mencium pipiku, membasahi bibirku. “Jika ada uang, belilah rumah yang kita lihat kemarin ya? Suatu waktu, aku akan berada di dalamnya.”
****

Tapi menunggu, Lita: adalah Hawa yang digoda buah khuldi. Dan kesepian, lebih sunyi dari bangun tengah malam dengan irama titik air yang jatuh dari kran. Tidakkah engkau pernah melihat gelisah bayi kehausan yang mencari ujung puting ibunya? Kukira aku kuat. Tapi cinta, ternyata tak lebih seperti Adam, yang mengikutkan Hawa, tergelincir, takut ditinggalkan. Aku pun, ternyata, tak selamanya bisa berpegang hanya pada kenangan. Rumah kita ini, Lita: memanggil penghuninya yang lain, suatu sore.

Hujan. Deras. Genteng rumah seperti disirami ribuan pasir. Di langit utara, lidah petir berkali-kali menyambukkan pijar. Dan di ujung jalan itu, di bawah rimbun pohon mangga, aku melihatnya: tubuh yang hanya berlindungkan payung kecil, kaki yang dirapatkan, tak jelas, adakah gigil yang dia tahan. Aku melambainya. Tubuh itu bergerak.

Kesalahan acap datang dari keramahan yang tanpa pamrih. Begitu dia mendekat –rambut basah panjang, kemeja yang mencetak tubuh, dan pucat pada bibir, juga gigil —menerbitkan iba yang aneh. Kuhangatkan dia dengan senyuman, kuayun tangan memintanya masuk.

“Mau handuk?”

Dia menggeleng.

Tapi, kusorongkan juga handuk padanya. Ragu, dia tarik, dan kemudian, terjadilah visualisasi ini: dia mengelap muka, kedua tangannya membuka ketika mengeringkan rambut, menggoyangkan kepala membuang butir air, yang sebagian dinginnya menerpai wajahku. Sensual sekali.

Hidup, barangkali, berjalan seperti patahan-patahan dalam teka-teki silang, kita tinggal mengisi di kotak-kotak yang kosong, dalam lajur yang telah disediakan. Satu kata, mengisi dan menjadi penentuk kata lain. Namanya Maia, sekretaris di sebuah media. Sore itu, dia ingin melihat salah satu rumah yang diklankan, tapi hujan dan angin mengirimkannya padaku.

Jika kemudian Adam dan Hawa dilempar dari surga, siapakah yang patut disalahkan? Bagiku, kesalahan Adam dan Hawa justru terjadi kemudian, ketika mereka melahirkan keturunan: aku, Lita, dan Maia. Dan hidup, ternyata tak sama persis dengan teka-teki silang, yang jika gagal diisi hari ini, minggu esok sudah tersedia jawaban. Tangan yang kusodorkan pada Maia, siapa sangka, adalah tulang rusuk Adam yang mengubah diri jadi Hawa.
****

Kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan kita rencanakan. Aku pun memilih merangkai peta lain. Tapi, siapa sangka, peta baru ini begitu memesona, bayi yang tergeragap mengayun langkah pertama. Lita, perlahan, jadi hanya berupa bayang, baur, berjalan antara kenangan dan penghargaan. Dan cakrawala, ternyata memberi warna yang berbeda tiap sore, atau hati kita kah yang mengubah warna, Maia? Sampai suatu sore…

Aku, Maia, dan gerimis. Secangkir teh, kopi, dan secukupnya pelukan. Lalu sebuah ketukan…

Maia bergerak, aku menahan pundaknya. Aku takut itu Lita. Tapi terlambat, Maia sudah bergerak, meninggalkan aku yang sibuk berdoa. Lalu, di sisi pintu itu, Maia berdiri, menatapku. Dia seperti bingung. Tak ada siapa-siapa, katanya. Lega. Maia pun masuk lagi ke rangkulanku, menyandarkan pipinya pada hangat punggung tanganku. Lalu ketukan lagi….

Maia beranjak. Aku gelisah. Kususul dia. Di teras, aku melihat Lita yang melihat Maia, rambut basah panjang, kemeja yang mencetak tubuh, dan pucat pada bibir, juga gigil —menerbitkan iba yang aneh. Seperti pada Maia, kaki hujan itu, telah kembali mengirimkan Lita padaku.

Tapi, kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan yang kita rencanakan. Hidup, seperti kubilang, juga bukan semacam teka-teki silang. Atau, barangkali, aku adalah Adam, yang diletakkan antara Qain dan Qabil. Ketika Lita, Maia, bersamaan bertanya padaku, sambil saling menunjuk, “siapa?”, aku kehilangan suara, tak punya jawab. Kurasakan sore begitu senyap, dan titik air di kran, entah kenapa, jadi terasa begitu dekat, begitu nyaring.