Anang dan Kemenangan Ingatan

May 19, 2011

Anang, barangkali, sudah disuratkan untuk selalu jadi pemenang. Dan Syahrini terlambat menyadari hal itu, ketika telah terlanjur menabuh genderang ”perang”. Maka, ibarat permainan catur, bidak tak pernah bisa melangkah mundur, Syahrini, terutama manajer dan adiknya Aisyahrani, terus menembakkan amunisi, hanya sebagai tanda, mereka belum menyerah.

Kata menyerah sebenarnya tak terlalu tepat untuk kondisi semacam ini. Perang antarmereka sebenarnya bukan di medan yang mereka kuasai. Anang dan Syahrini, berperang di arena yang dikuasai orang ramai: pemirsa. Di antara pemirsa itu ada penggemar keduanya, yang fanatik, dan yang apatis. Tapi yang paling utama dan menentukan arah perang itu adalah pemirsa yang punya ingatan, tahu kesejarahan duet Anang-Syahrini.

Dan karena itulah, Syahrini tak akan pernah bisa menang.

Dalam ingatan banyak orang, Anang bukanlah sosok yang kini dituduhkan pihak Syahrini. Mantan suami Krisdayanti itu sudah terlalu dalam masuk ke memori banyak orang sebagai lelaki yang humble, tenang, dan matang. Anang tak pernah terlihat emosional, dan selalu menjaga bicara, meski dengan diksi yang terlalu biasa. Ia pria yang sederhana, dan melihat masalah dengan cara yang sederhana, mempersempit konflik, mengusahakan kesepahaman, dan menjadikan diri sebagai tameng untuk orang yang dia sayang.

”Jika Yanti melakukan kesalahan, saya minta maaf. Sebagai suami, sayalah yang pertama-tama bersalah…” itulah ucapannya, ketika KD tersangkut gosip selingkuh dengan Tohpati.

Ketika KD tersangkut narkoba, seperti pengakuan sang diva itu, Anang juga yang ”mengobatinya” di sebuah pesantren di Jawa Timur, diam-diam, tanpa amarah, tanpa menyalahkan. Anang selalu menjadikan dirinya sebagai imam, pemimpin, dan KD adalah makmumnya. Jika makmum menyimpang, bagi Anang, sang imam yang pertama kali mendapat teguran.

Dan ketika KD berkhianat lagi, lagi, Anang memilih cara yang paling elegan, melepaskan ikatan perimaman tersebut, bercerai. Nyaris tanpa kemarahan ke media, bahkan tanpa aduan, apalagi ungkitan tentang jasa dan kesakitannya ”mengurus” dan ”mendivakan” KD.

”Saya dan Anang itu klop, ibarat tumbu ketemu tutup,” bangga KD, dulu.

Sebagai ”tutup”, Anang memang ”bertugas” menyimpan, merahasiakan. Dan jika pun tak mampu menahan, dia dapat bersuara, berkata, dengan isyarat, dengan makna yang bertingkat. Tidak frontal, emosional, apalagi menyerang-garang. Itulah sebabnya, ketika sang tumbu mencampakkan tutup, Anang hanya bersuara, merintih, rasa sakit yang dia bungkus dengan indah, ”Sepatuh Jiwaku Pergi” dan ”Jangan Memilih Aku” atau ”Tanpa Bintang”.

Sikap Anang itu telah membuat penonton berada di pihaknya. Anang seakan menjadi anomali dalam dunia industri, yang populer dengan menyebar sensasi, kadang gosip racauan-racauan kontroversial. Meski kemudian Anang masuk pada jualan ”kemesraan”, tetap saja gaya ”malu-malu” yang menjengkelkan penggemarnya itu, menjadi tali komunikasi paling kuat menjelaskan ”kesederhanaannya”. Justru di titik itu, Syahrini mengendali sebagai sosok yang glamour, acap memberi ”tekanan” pada kemesraan mereka, dan memberikan diksi-diksi penguatan sosok Anang dalam hidupnya.

”Saat ini Mas Anang memang orang yang paling berjasa dalam karier bermusik saya. Tanpa Mas Anang, Syahrini tidak mungkin akan seperti sekarang ini,” akunya, jujur, tulus, spontan.

Lalu Anang-Syahrini yang begitu fenomenal, sampai membuat fans berharap mereka berpacaran dan kemudian kawin, pecah kongsi. Syahrini memilih berkarier sendiri, karena Anang berduet dengan Aurel, dan kemudian Ashanty, yang lalu menempel sebagai kekasih. Dan, sikap Syahrini mulai berubah, setidaknya itulah yang tayang di berbagai infotainmen. Komentarnya mulai pedas, dengan diksi yang penuh sindiran, dan sunggingan senyum, yang dapat dibaca sebagai sikap ketakpuasan, bahkan cibiran. Puncaknya, dengan yakin dia mengatakan posisi yang dia raih selama ini bukan campur tangan orang lain, tapi atas pemberian Tuhan atas kerja kerasnya.

Syahrini mulai menghapus kehadiran Anang. Dia mulai membawa nama Tuhan, bukan untuk mengagungkan Sang Pencipta, tapi sebagai bemper atas argumentasinya untuk ”mengusir” peran Anang. Dan kemudian, terutama lewat adiknya, ”cacat” Anang dia ungkap, dan tak lupa membombastiskan keluguan dirinya. ”Dengan Anang itu proyek ikhlas…” katanya, menyebut ketiadaan bukti hitam-putih kerja sama.

Anang, seperti biasa, selalu mendiamkan hal-hal seperti itu. Dia bicara, seperlunya, santai, ringan, bahkan tertawa-tawa. Lucunya, dia justru merasa bangga pernah bekerja sama dengan Syahrini, seperti dia dulu juga amat bangga pernah hidup sebagai suami bersama KD. Bayangkan! Anang, dengan lugas mengakui, Syahrini telah membantunya meraih popularitas, dan itu sebuah kerja yang luar biasa.

Anang memang lahir untuk jadi pemenang. Bukan karena dia punya banyak strategi, melainkan dia menguasai hati dan ingatan banyak orang. Memori khalayak yang tak pernah dia rusak itulah modal terbesar Anang untuk dengan diam dan senyum, sudah dapat menangkal berbagai tuduhan. Apalagi, Anang terlihat begitu percaya diri, tak risau, atas tuduhan itu. ”Semua kontrak ada, bukti ada…”

Syahrini barangkali tahu Anang tak akan banyak bicara dan membela diri. Sebagai pasangan duet yang bersama nyaris setahun, dia tahu ”kelemahan” Anang itu, yang tak suka pamer diri di luar karya. Maka, Syahrini ingin ”menguasai” media, menginfiltrasi citra Anang dengan cara yang sama, mencipta lagu sebagai manifestasi kesakitan hatinya, ”Kau yang Memilih Aku”. Namun, dia lupa ada Hadi Sunyoto, manager Anang, yang berani bersuara, dan juga ikut menabuh genderang.Hadi, sosok yang Syahrini abaikan ini, sebenarnya adalah personifikasi dari penonton, pengemar, yang punya ingatan, yang mengerti sejarah Syahrini, tahu betul siapa Anang.

Dan di depan penonton dan penggemar yang punya ingatan, Syahrini sulit untuk memenangi perang. Arena yang dia masuki adalah milik orang banyak, memori yang telah sekian lama dibangun Anang, bahkan sebelum Syahrini jadi penyanyi. Tak heran jika dia jadi tergagap-gagap, terus bersuara, hanya untuk meyakinkan media bahwa mereka berani, ada, meski kemenangan dan ”kebenaran” kian jauh dari genggaman. Bidak memang tak mungkin melangkah mundur, meski mungkin hancur…

Syahrini, Tuhan, dan Kacang

March 24, 2011

Yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu.

Syahrini, barangkali, tengah menegaskan hal itu ketika berkata, ”Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan.” Dia seperti memberi makna bahwa sebagai ”pemberian Tuhan”, anugerah, tentu sukses itu dia dapat dengan jalan yang benar dan halal. Ada proses yang tidak melanggar dari rambu yang dipatok agama. Tak heran juga, seusai kematian ayahnya, Syahrini pun selalu berkata dengan mata yang menerawang, ”Papa selalu mengingatkan aku agar ingat salat, dan menutup aurat.”

Tapi tentu kita juga tahu, Tuhan bekerja bukan dengan cara yang bisa selalu diurutkan dalam logika. Dia memberi, terkadang, lebih sebagai misteri, bukan ”upah” atas kepatuhan kita. Dan karena itu, ”pemberian Tuhan” tidak selalu berbanding lurus dengan ”kesetiaan di jalan-Nya”. Kausalitas, sebab-akibat, pilih kasih, pamrih, adalah pikiran manusia. Dia bekerja dengan cara-Nya sendiri.

Karena itu, bisa jadi ucapan Syahrini, ”Kesuksesan aku bukan karena bantuan manusia. Ini pemberian Tuhan” bukan semata memuliakan Yang di Atas, melainkan dan terutama, untuk mengeliminasi kata sebelumnya, ”bantuan manusia”. Dan kita tahu, kalimat ”bersayap” itu mengarah kepada Anang. Apalagi, dia memberi jelas dengan kalimat sebelumnya, ”Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain.”

Tanpa suport orang lain? Syahrini jelas ”lebay”. Tapi kita dapatlah memaafkan hal itu. Dia tengah berada di posisi puncak, kerap disorot media, dan itu dengan semacam ingatan, ”Kesuksesanmu karena Anang”.

Dulu, sebelum ”bercerai” dari Anang, tak ada bantahan darinya. Sembari bergayut manja, atau melempar senyum, kadang lirikan ”gimana gitu”, dia akan berkata, ”Mas Anang mengubah hidup saya…” atau kalimat pujian dan pengakuan sejenisnya. Tapi kini, ketika ”talak” telah terjadi, Syahrini bergegas menghapus jejak Anang dalam dirinya. Penghapusan itu bahkan tidak cukup dengan dua kalimat negasi di atas, tapi juga dalam bentuk lagu, ”Kau yang Memilih Aku”.

Lagu yang ”menyerang” tentu, meski dengan nada-nada sendu. Dengar liriknya, ”Kau yang telah memilih aku/ kau juga yang sakiti aku/ Kau putar cerita/  sehingga aku yang salah// Kau selalu mempermainkan wanita/ Kau ciptakan lagu cinta/ hingga semua tahu/ kau makhluk sempurna//“.

“Ini kisah nyata, di mana aku lakonnya. Aku yang merasakan feel lagu ini. Aku memang mau curhat lewat lirik yang indah. Lirik yang frontal sebenarnya. Pengalaman hidup secara personal,” kata Syahrini, usai menjadi bintang tamu acara ”Dahsyat” di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (21/3).

”Menghapus” masa lalu, atau rekam jejak seseorang di dalam karier, bukan hal tabu dalam dunia industri. Penghambaan dan kekaguman pada diri sendiri terkadang menjadi titik didih yang tak terkendali. Proses, yang menisbatkan keterlibatan orang lain, kadang disembunyikan, atau tak diakui. Jika pun terucap, lebih sering terasa sebagai basa-basi. ”Aku bisa karena perjuanganku sendiri” dijadikan mantra justru ketika tengah berada di puncak.

Syahrini, dengan ”Seorang perempuan juga bisa punya semangat juang tanpa suport dari orang lain” berada dalam euforia itu. Dia dalam situasi tertekan, ketika publik ragu, akankah tanpa Anang popularitas yang sama dapat dia genggam? Karena, bertahun sebelumnya, Syahrini bukanlah siapa-siapa. Dia adalah sosok yang dipilih Anang untuk ”memerisai” diri dari luka Krisdayanti. Dia dipilih Anang untuk menambal separuh jiwanya yang telah pergi. Syahrini ”hadir” di saat yang tepat ketika Anang juga ingin menghapus jejak Krisdayanti yang ”tak mampu setia”. Dan kini, Syahrini membalik posisi itu, dia hapus bekas Anang di dalam dirinya karena ”Kau selalu mempermainkan wanita”.

Ya, berbalas pantun, saling sindir, biasa dalam industri musik kita. Ada lagu ”Jandamu” berbalas ”Dudamu”.  Seperti juga ”Pengkhianat Cinta” Maia Estianti yang berbalas ”Kau Tusuk Aku dari Belakang” Dhani.  Jadi, jika Anang membuat ”Jangan Memilih Aku”, bukan hal aneh muncul ”Kau yang Memilih Aku”. Masalahnya, jika Maia, seburuk apa pun hubungannya dengan Dhani, tak pernah menghapus jejak ‘’sang guru”, Syahrini justru berbeda. Dia ”nekad” menghilangkan jejak Anang, meski, tanpa sadar justru mengakui hal itu secara lebih benderang.

Frasa ”bukan karena bantuan manusia” dan ”tanpa support orang lain”, justru dia bantah dengan ”Kau yang telah memilih aku”.  Sebagai yang ”dipilih”, Syahrini bukanlah subjek, melainkan objek. Dan kita tahu, objek selalu melekati subjek baru bisa berfungsi. Dengan kata lain, jika objek sukses, maka kesuksesan itu tentulah sekadar nimbrung, nunut, terikut oleh kerja subjek. Dan objek tak akan mungkin bisa mengklaim ”kerja” atas nama dirinya sendiri.

”Kau yang memilih aku” menjelaskan tentang diri yang tak memiliki hak untuk mengelak, hanya menjalani, menerima. Dan jika Syahrini mengakui bahwa dirinya hanyalah sosok yang dipilih maka secara tegas dia pun ”mengatakan” kesuksesan itu bukanlah kerjanya, meski dapat menjadi bagian dari haknya.

Sayang, dalam euforia untuk menunjukkan diri dapat berarti tanpa orang lain dan akar kesilaman, Syahrini lupa kontradiksi itu. Dia membawa nama Tuhan untuk ”mengemplang kuasa” Anang, karena hanya itu cara terindah yang bisa dia lakukan. Tapi, dalam euforia, terkadang hal kecil dapat memupus ‘’skenario” indah itu. ”Kau yang memilih aku..” adalah pernyataan bahwa aku tak akan berarti tanpa dirimu. Aku tak pernah meminta, tapi kau pilih, kau beri… sebuah situasi yang pedih, kesadaran non-eksis.

Tapi, yang mulia dari dirimu bukanlah di mana posisimu saat ini melainkan bagaimana caramu meraih posisi itu. Syahrini mencoba menghapus ”cara” dia mendapatkan posisi sekarang. Dan itu benar, karena sebelumnya, sebagai sosok yang ”dipilih”, dia tak tahu cara dan metode itu. Kini ketika dia harus bergerak sendiri, tanpa Anang, wajarlah jika dia hanya dapat pasrah kepada Tuhan.

Kacang bisa mengabaikan kulit tapi kulit tak dapat melupakan kacang. Tapi untuk Syahrini dan Anang, kita jadi rumit menilai mana kulit dan mana si kacang… :D

Anang, Mata, dan Telinga Kita

March 18, 2010

Anang barangkali telah bosan menjadi bagian dari berita atau gosip. Maka, di panggung ”Dahsyat” itu, dia menciptakan berita, meletikkan gosip: mencium kening Syahrini.

Sesuatu yang biasa sebenarnya.

Juga bukan hal yang tiba-tiba.

Dalam tayangan ulang itu, kita tahu, Anang dengan lembut menarikkan kepala Syahrini. Tak ada penolakan, Syarini mengikutkan tarikan itu, dan membiarkan keningnya dikecup. Tarikan itu, tentu Syarini tahu arahnya. Dan dia tak menolak. Dari gestur tubuh keduanya, kita dapat membaca, aksi panggung itu bukan sesuatu yang tanpa rencana.

Juga blalakan mata Syahrini, setelah ciuman itu.

Apalagi, untuk Anang, ini bukan kali pertama. Sepuluhan tahun lalu, dengan Krisdayanti, dia telah melakukannya dalam video klip “Berartinya Dirimu”, yang memancing sedikit kontroversi. Dan kemesraan semacam itu dia ulang terus dalam klip berikutnya.

Anang, tampaknya, percaya dengan ”teknik” sukses yang sama. Dia menciptakan kontroversi –lebih tepatnya sensasi– dalam suasana yang telah terbangun sebelumnya, konfrontasi rumah tangga. Ciuman itu, tentu saja benar sebagai tanda terimakasih Anang atas kesediaan Syahrini menjadi teman duetnya. Tapi, dalam ”pembacaan kedua”, terimakasih itu lebih untuk kesediaan Syahrini dalam membantu Anang ”melewati” Krisdayanti.

Di sini, Anang memainkan ”ingatan” mata, sebagai senjata pertama. Keterpilihan Syahrini otomatis akan membuat penonton, terutama infotainmen, secara langsung membandingkannya dengan Krisdayanti. Apalagi, lihatlah, cara bernyanyi Syarini, –amati bentangan tangannya, kibaran rambutnya, sampai pemosisian dirinya di hadapan Anang– plek sebangun dengan Krisdayanti. Syarini menang segar. Menang muda. Dan, dalam komentarnya kemudian, penonton juga tahu, Syarini menang manja.

Anang mendapat Syahrini yang ranum, pemula, dan muda. Krisdayanti menggaet Rahul Lemos yang uzur dan kaya. Kita tahu arahnya.

Tak heran, Krisdayanti akhirnya pun ikut bersuara. “Semoga sukses. Tapi kok memilih yang suaranya mirip saya, ya?” tanyanya, dengan blalakan mata yang khas itu.

Wajahnya juga mirip, kata infotainmen. “Lho, bukannya masih cantikan saya?” sergah KD.

Ingatan mata memang hanya bicara sebatas raga, membaca gestur, dan laku sensasi. Anang, dengan menggaet Syahrini, harus diakui, sukses mengelola hal ini.

Selanjutnya, Anang memainkan telinga publik.

Telinga publik, terutama dalam industri musik, ternyata menyimpan ingatan yang panjang. ”Ingatan” telinga itu jugalah yang, mengikuti Adorno dalam esainya ”On Popular Music” membuat industri musik membentuk standar. Lucunya, standarisasi itu bukan sesuatu yang terpola, tapi lebih mengacu pada telinga pasar. Sekali pola musik atau lirik meraih popularitas, skema itu akan diekploitasi sampai mencapai kelelahan komersial. Akibatnya, detil-detil dari satu lagi yang populer akan dapat dipertukarkan dengan detil lagu populer lainnya. Bom lagu-lagu berpola Melayu yang diusung ST 12, dapat menjadi contoh hal itu. Ratusan lagu yang sama, dengan lirik yang sebangun, kemudian menjadi standart baru industri musik saat ini. Ungu harus mendangdutkan diri, bahkan, Wali sampai harus diminta produsernya menjadi Melayu sebelum diterima telinga.

Anang mengerti benar wajah industri semacam itu.

Telinga publik dia isi dengan ingatan akan pola lagu sebagaimana dia duet dulu dengan Krisdayanti, dan lirik berisi cerita kesakitan senapas dengan “Separuh Jiwaku Pergi”. Dengarlah lirik duet yang diulang terus itu, ”Jangan memilih aku/ bila kau tak sanggup setia/ Kau telah mengerti aku/ diriku/ yang pernah terluka.”

Dengan memainkan ”ingatan” mata dan telinga publik, Anang mengangkat masa silam dan masa kininya secara bersamaan. Di panggung ”Dahsyat” itu, secara otomatis, penonton tak hanya menyaksikan keranuman Syahrini tapi juga kenaifan Krisdayanti. Di panggung itu, Anang menunjukkan bahwa dulu dia juga pernah berduet semanis dan semesra itu, dan kini dengan sosok yang berbeda, karena ”ada yang telah tak setia”. Anang dengan serius telah mengelola mata dan telinga publik untuk menaruh empati pada dirinya, dan menjadikan Krisdayanti sebagai terdakwa, tanpa harus dia bawa atau sebut namanya.

Syahrini, bagi Anang, adalah medium, media penyampai pesannya. Tapi, karena kata Marshall McLuhan, the medium is the message, media adalah pesan itu sendiri, maka Syahrini adalah pesan dengan wajah ganda: memikat pemirsa, sekaligus menembak Krisdayanti. Bukan hal yang luar biasa jika kemudian Anang mencium keningnya.

Prasangka Keartisan

December 15, 2009

“Jika mungkin, saya ingin mencari kekasih dari kalangan orang biasa. Artis atau anak band membuat saya takut,” kata Aura Kasih.

Orang biasa. Kata itu jadi populer kini, untuk mendikotonomikan antara mereka yang aktris dan bukan. Dan tiap kali seorang aktris berkekasih “orang biasa”, infotainmen pun ramai menggunjingkannya. Seakan, orang biasa itu jadi aneh, sesuatu yang unik, tak biasa, dan mungkin, akan gagap dalam interaksi dengan pasangannya. Bahkan, dalam beberapa infotainmen, frasa “orang biasa” itu diucapkan dengan sedikit nada cemooh. Dengan kata lain, jika di luar aktris adalah “orang biasa” maka mereka yang aktris pasti masuk dalam kategori “luar biasa”.

Tapi, “luar biasa” dalam hal apa?

Ya, kita ingat klan Azhari. Untuk prestasi pamer tubuh mereka memang luar biasa. Skandal seks apalagi, tiap tahun nyaris ada. Atau Roy Marten, yang dua kali tersangkut kasus sama, kasus narkoba? Atau mungkin kisah semacam Krisdayanti, yang sudah memermak tubuhnya di sana-sini untuk tampil dalam kecantikan yang abadi?

Luar biasa, dengan demikian, hanya mengandung pengertian tentang mereka yang mampu melakukan hal-hal yang tidak umum dilakukan khalayak. Bukan saja karena mereka punya keberanian, melainkan memiliki kuasa uang. Dan yang utama, predikat untuk “tampil berbeda”. Luar biasa menegaskan tentang sesuatu yang dapat mereka lakukan dan tetap dianggap pantas.

Juga tentu, menyangkut moralitas.

Masalahnya adalah, tidak semua mereka yang “luar biasa” itu dapat digolongkan dalam “kelas” yang sama. Keluarbiasaan mereka terkadang dicitrakan dengan moralitas yang “bebas-dosa.” Kita ingat bagaimana Pasha Ungu begitu disorot media setelah sukses album religinya. Bersama Enda, Pasha bercerita bagaimana sisi spiritual mereka, ilham lagu yang demikian kuat, datang seperti kilat, lebih sebagai titipan ilahiah. Dan praktis, busana mereka pun mengikuti. Pasha jadi berpeci, berbaju koko, dan tiba-tiba menjadi sahabat dekat ustad gaul Jefri al-Buchori. Pasha, tiba-tiba, di mata kita, menjadi ikon anak muda yang amat kenal agama dan takwa.

Lalu muncul juga Marshanda. Aktris ini memang punya banyak pemuja setelah sukses berperan dalam sinetron “Bidadari”. Wajahnya yang belum jauh dari remaja dan terlihat polos, selalu menimbulkan rasa sayang setiap melihatnya. Tingkahnya yang sopan, berbicara nyaris tanpa teriakan, dan tak pernah terkena gosip murahan, membuat Cacha terbentengi dari “prasangka keartisannya”.

Prasangka keartisan adalah sejenis praduga bahwa sebaik apa pun seorang aktris tampil di media, penonton selalu percaya bahwa mereka memiliki sisi nakal yang tak ditampakkan. Nah, Marshanda bebas dari itu. Pertumbuhannya dari penyanyi remaja sampai kini dewasa, terjaga dengan ketat. Ada selalu ibu di dalam setiap langkahnya. Marshanda pun menjadi contoh sempurna aktris remaja. Dia seakan menjadi protagonis Sheila Marcia.

Tapi tampaknya, stigma itu mewujud juga.

Pasha, tiba-tiba terbukti sangat tempramental, dan suka main tangan. Okie Agustina yang mendampinginya dari mulai “bebek” sampai dia menjelma “angsa” pun angkat tangan, menyerah, mengembalikan rumah tangganya ke pengadilan: bercerai. Bahkan, setelah perceraian pun, Pasha masih menghadiahkan kekerasan kepada istrinya. “Tempramental. Dia suka memukul saya di depan anak-anak, dan juga memukul anak-anak,” terang Okie.

Marshanda sebaliknya,  mulutnya yang biasa melantunkan nada lembut dan asma Ilahiah, tiba-tiba tersebar di <I>youtube<P> dengan sumpah-serapah. Tak ada lagi kendali. Pasha dan Cacha telah muncul sebagai tawanan amarah. Mereka tak ubahnya sosok “orang biasa” yang jika emosi dan dalam tekanan jiwa, melakukan tindakan yang terkadang tak pernah dipikirkan. Lalu, semua terpana. Tak mengira, bahwa pribadi yang demikian terjaga dan menjadi sandera citra, dapat juga terlempar dalam laku “orang biasa”.

Lalu, di mana beda tegas antara aktis –yang mengklain sebagai luar biasa– dan kita-kita yang diklain media sebagai kaum biasa? Satu saja. Jika berbuat salah, kita mengakuinya dan berusaha tak mengulanginya. Sementara mereka, para sandera citra itu, tak pernah merasa salah, tak pernah mencoba memperbaikinya. Tak heran, kita sering mendapatkan mereka terjerembab, berkali-kali, di dalam kesalahan yang sama. Betapa luar biasa!

Terjerat dalam Diva

October 31, 2009

Krisdayanti memang seorang diva. Diva bukan saja karena performa suara dan pencapaian karier bermusik, melainkan juga gaya dan kepintarannya membawa diri, dan membahasakan perilakunya. Lihatlah.

Lihatlah di televisi. Setelah lama berdiam diri, dan hanya tampil sesekali untuk bernyanyi di “Inbox” SCTV atau “Dahsyat” RCTI, KD, demikian dia biasa dipanggil, menggelar jumpa pers setelah resmi menjadi janda, dengan bahasa dan gaya yang sempurna. Krisdayanti tidak saja tampil dengan percaya diri dan dapat bercanda dengan kerling mata, atau gelak tawa, tapi juga mampu memilih diksi yang kuat dan kalimat bijak untuk menyampaikan pendapatnya.

Misalnya, untuk kegiatan dia selama “menyepi” dari media, ibu dari Aurel dan Azriel ini berkata, “Saya lebih banyak baca dan berpikir. Lebih intens kepada ibadah untuk mengobati batin saya.”

Dalam masa “berobat” itu, KD tak menerima telepon siapa pun, dan menonton berita apa pun. Dia menutup diri. Tapi, bagi KD, bukan itu yang terjadi. “Saya enggak menutup diri. Saya diam karena hal itu tepat, di saat orang menyalahkan saya. Ini masalah kamar dan enggak ada yang berhak ikut campur. Saat ini saya bisa menerima dan berbicara, hanya saya, Anang, dan Allah yang tahu,” ucapnya, yang mengaku tidak menggunakan ponsel dengan nomor yang biasa dia gunakan selama dua bulan.

Pelantun “Aku Wanita Biasa” itu pun mengaku tak lagi terluka. “Tapi Alhamdulillah, sekarang lahir batin saya sudah sembuh. Saya berusaha menutupi kesedihan saya untuk melawan kesedihan ibu saya. Ya double kerja keras,” ujarnya.

“Tidak ada yang berubah, saya ikhlas,” katanya mengenai dirinya setelah menjanda. Atau, “Saya ingin membahagiakan orangtua dan keluarga saya di masa depan.” Juga pengakuan, “Saya sekarang telah menjadi single mother dan harus bekerja untuk anak-anak saya. Saya ikhlas hak asuh anak-anak jatuh kepada ayah mereka. Saya yakin Anang akan bertanggung jawab atas anak-anak.”

Sempurnalah.

KD memang selalu sempurna di depan kamera. Bahkan, ketika mengumumkan keretakan rumah tangganya, di bulan puasalalu , dia memulai dengan kalimat yang bercahaya. “Saya yakin ini adalah hari yang berat, karena saya sedang menjalankan ibadah. Tadinya, saya tidak mau, tapi saya harus mengikhlaskan ibadah saya terganggu dengan pemberitaan yang ada.”

Soal pilihan cerai, dia bahasakan dengan, “Saya dan Anang memutuskan tidak melanjutkan kerjasama menyatukan hubungan tali pernikahan. Saya dan Anang memutuskan tali pernikahan dalam keadaan terbuka, tidak mencari kesalahan.”

Dahsyat!

Tapi, hidup seseorang bukan hanya tercatat dan dilihat dari yang tampak di mata kamera.

Sebelum perceraian itu, kita tahu, KD baru saja meluncurkan buku Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret. Dalam buku itu, KD mengaku tak sempurna. Sosok yang tampil di depan kamera itu, adalah diri imitasi, sebagai harga yang harus dia tebus untuk para penggemar yang membayar mahal agar dapat menikmati dirinya. Buku itu, bagi KD, adalah fase terpenting dalam hidupnya, ketika sudah dapat memaafkan diri sendiri.

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku itu.

Artinya, setelah buku itu terbit, KD tak ingin lagi berlaku seperti apa yang dia pertunjukkan dan akui selama ini. Akan hadir KD yang berbeda.

Dan, peluncuran buku itu belum lama. Penggalan pengakuannya masih terngiang di telinga pembaca, termasuk asmaranya yang berkobar bersama Anang, paska permak paha dan payudara. “Anang grogi,” akunya.

Lalu, semua sia-sia.

Pengakuan itu tak lebih fatamorgana.

Buku itu, pengakuan tak sempurna itu, adalah rekayasa paling sempurna untuk “menjual” dirinya. Pengakuan pertobatan itu adalah citra yang paling penting untuk dapat diterima massa. Perasaan bersalah itu adalah magnit yang dia tembakkan untuk mendapat simpati.

Bukan rasa bersalah yang lahir dari dalam diri. Bukan, meminjam diksinya, “kejujuran yang menuju puncak kedewasaan.”

Semua cuma rekayasa. Permainan panggung. Pemanfaatan media. Pertukaran citra.

KD tak pernah berubah. Karena di dalam dirinya, dia tak pernah merasa bersalah. Termasuk juga perselingkuhan itu, yang disaksikan Aurel, anaknya. Atau kesakitan yang diterima Anang dan anak-anak mereka karena pengakuannya bahwa dalam pernikahan itu dia tak pernah merasa bahagia. Karena, kita harus tahu, sudah sejak lama Krisdayanti tidak hidup untuk dirinya, untuk suaminya, anak-anaknya, atau keluarga besarnya.

Krisdayanti hidup untuk penggemarnya. Untuk seluruh citra yang dia bangun. Untuk semua kesempurnaan yang tercipta di dalam benaknya.

Maka tak salahlah kalau dia mendapuk diri menjadi diva, yang rela mengorbankan banyak hal agar selalu dapat terlihat sempurna.

Untunglah, kita selalu tahu, karena tak sempurnalah maka kita disebut sebagai manusia.

Ketelanjangan Krisdayanti

July 28, 2009

Dapatkah kita hidup dalam citra, bergubal kebohongan, kamuflase, dan laku sempurna? “Harus!” kata Krisdayanti.

Tapi itu dulu.

Hari-hari ini, istri Anang Hermansyah itu mengakui, bernapas dalam kebohongan bukanlah sebuah kehidupan.

Dalam buku terbarunya, Catatan Hati krisdayanti, My Life My Secret, dia mengungkapkan banyak rahasia; dia tak pernah sempurna. Dadanya yang penuh itu lahir dari pahatan operasi. Pinggang yang langsing dan kulit bersih berseri datang bukan dari sebuah proses yang alami, tersaru obat dan suntikan di sana-sini. Rumah tangganya pun penuh cela. Anang pernah menceraikannya. Dia berkali-kali nyaris terperosok dalam liang perselingkuhan, dan dalam kegamangan, menjadikan sabu-sabu sebagai pegangan.

Apa yang kau cari, Krisdayanti?

Tahukah engkau, keterusterangan itu bukan saja menyakitkanmu, tapi juga banyak orang?

“Saya hanya ingin bicara kejujuran dalam diri saya. Ini adalah kejujuran yang menuju pada puncak kedewasaan. Saya berada pada puncak ketidaknyamanan dan saat ini ingin berdamai dengan ketidaknyamanan itu,” ucapnya saat peluncuran buku tersebut, di Grand Indonesia, Jakarta, Kamis 16 Juli lalu.

KD juga sadar, ada resiko dalam tiap kejujuran. Dan dia siap. “Keberanian itu baru muncul saat ini. Proses jujur dan ikhlas itu sulit. Inilah saat yang tepat,” ucapnya.

Kita tak tahu, tepat yang dimaksud KD itu dalam konteks apa. Tepat karena dia sudah melewati semua dan dapat berdamai dengan “kejahatan” itu, atau tepat untuk dijual, dikomersilkan. Karena, bagaimanapun, “kejujuran” KD mengandung anomali. Di buku pertama, yang memotret KD secara sempurna, dia percaya kesempurnaan akan menginspirasikan banyak orang. Profesionalitas itu penting bahkan yang utama. Di buku kedua, KD meyakini, masalah dia yang selama ini tersembunyi dapat menjadi inspirasi, memberi energi bagi orang lain. Di sini, kebohongan dan kejujuran mendapatkan tempat yang sama.

Anomali kedua, “kejujuran itu” dinyatakan secara provokatif dan promotif. Provokatif karena, “KD cerita komplet soal cintanya dengan Anang. Soal seks di mobil, stoking jaring-jaring yang khusus dia pakai untuk Anang,” terang Alberthiene Endah, penulis buku itu. Ditambah dengan, “KD bercerita betapa hangat dan liarnya percintaan mereka.” Promotif karena, “Buku ini berbeda. Semua cerita yang ada di sini tidak pernah saya ceritakan kepada media mana pun,” terang KD. Dan, “KD tidak pernah mau menangis di depan orang. Dia ingin melihat semua orang tersenyum. Itulah KD,” tambah Alberthiene.

Anomali ketiga, “kejujuran” itu pun masih memiliki rahasia. “Mengenai isu perselingkuhan, itu menyangkut nama orang, keluarga, maupun instansi yang tidak tepat untuk dibicarakan. Saya memutuskan untuk tidak menulis karena nanti itu akan menjadi sebuah prejudice,” ucap KD.

Anomali keempat, buku itu masih tampil dalam bentuk KD yang sempurna. Di dalamnya masih berisi foto-foto yang terkonsep dengan baik, dan memamerkan tubuh yang menyimpan banyak kebohongan itu. Porsi KD yang apa adanya, yang ikhlas itu, yang kini, dia akui, telah dia dapatkan, justru terasa tak ada. Sekilas, KD lebih terlihat bangga dengan hasil dari “ketidakjujurannya” selama ini.

Bagaimana kita membaca penelanjangan diri itu? Benarkah ini hanya “pengakuan” dosa saja, dan bukan pertobatan?

Dari Arswendo kita dapat mencari jawaban. Dalam novelnya, Blakanis, pengarang itu membicarakan kejujuran dalam konteks yang berbeda. Kejujuran yang tak memiliki banyak sisi, apalagi menyimpan rahasia. Kejujuran itu bukan saja membebaskan diri dari prasangka diri, tapi juga prasangka orang lain. Kejujuran pun bukan terletak pada pengakuan dosa, salah, khilaf, kepada orang lain, apalagi dikomersialkan, melainkan dalam laku. Jujur dalam laku tidak meminta tepuk tangan, anggukan, persetujuan, bahkan jepetan kamera. Tapi, “…Melakukan kejujuran, istilahnya hidup blaka,” kata Ki Blaka, tokoh utama novel itu.

Dan sampailah kita pada kesimpulan Ki Blaka, bahwa kejujuran punya musuh. “Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. baik pura-pura jujur, atau pura-pura bohong.”

Kita, meski menemukan banyak anomali dari “kejujuran” Krisdayanti, tentu saja lebih baik tidak menduga bahwa dia tengah berpura-pura. KD, barangkali, hanya tengah mencoba menjual dirinya yang berbeda, yang tidak pernah dia ungkap ke media. Itu saja.

Dan, saya sendiri, entah mengapa, jadi ingat Manohara.

[Telah dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 26 Juli 2009]