Udin Tengu dan Gajah KPI

April 21, 2011

Dalam humor, kita tahu, Bill Cosby dan Mahatma Gandhi dapat ”bertemu”. ”You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it,” kata Cosby. ”Apabila tidak memiliki selera humor, pasti telah lama saya bunuh diri,” timpal Gandhi.

Tapi, disebabkan humor juga, banyak orang yang berpisah jalan, dan merentang pertikaian. Sualuddin dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat (KPI) misalnya, bersilang kata soal mana yang lucu dan apa yang menghina.

Sualuddin, penyanyi lagu ”Udin Sedunie” yang populer lewat You Tube, dan kemudian ”dijual” SCTV itu, memang merekam lagunya dengan maksud melucu, bercanda, bahkan dengan gaya yang konyol dan lebay. Sebuah sikap atau cara, yang seperti kata Cosby, menghumori segala hal, termasuk namanya, untuk mengubah dirinya. Namun, KPI yang didukung Majelis Ulama Indonesia Nusa Tenggara Barat dan pemuka agama setempat punya cara nalar yang berbeda. Tiga nama Udin di dalam lagu ”Udin Sedunie” itu, mereka nilai tak sopan dan berkonotasi negatif, bahkan melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang penyiaran terutama pasal 36. Lagu itu dianggap tak sesuai dengan isi siaran yang dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan, dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama serta martabat manusia Indonesia.

”Radio dan televisi di NTB maupun di Jakarta dilarang menyiarkan yang ada tiga kata itu,” tegas Wakil Ketua KPI NTB, Sukri Aruman.

Seperti dicatat Tempo, tiga nama yang mereka larang dinyanyikan adalah Syarafudin (udin yang stres), Sapiudin (Udin yang suka menggembala sapi), dan Tahirudin (Udin yang senang berada di WC). ”Ada unsur melecehkan orang yang bernama Udin,” yakin Sukri.

Tuduhan yang serius, memang. Dan Sukri memiliki landasan, Undang-Undang. Tapi, sebagai produk orang-orang pintar –mengutip kata Ketua DPR Marzuki Ali– UU Penyiaran itu terlalu berlebihan dilawankan dengan karya Udin yang, maaf, seperti kata Marzuki lagi, rakyat biasa yang tak mengerti pikiran orang pintar. Ibarat pribahasa, melawankan gajah dengan tengu.

Tapi tak apalah, sementara ini, kita anggap saja tiga nama itu memang melecehkan. Udin, sebagai identitas, memang punya makna, arti, maksud, dan setiap nama adalah doa. Masalahnya, dan ini yang barangkali tak disadari Sukri KPI dan MUI, identitas itu bukan sebuah wilayah yang ajeg, diam, dan selesai. Identitas, seperti kata Jonathan Rutherford dalam Identity: Community, Culture, Difference, adalah mata rantai masa lalu dengan hubungan sosial, kultural, dan ekonomi di dalam ruang dan waktu suatu masyarakat. Identitas itu dimiliki bersama, disepakati, sebagai pembeda. Dan karena terbentuk dalam hubungan sosial, identitas itu dipelihara sekaligus amat mungkin dimodifikasi. Dan karena itu, menurut Stuart Hall, sebagaimana dikutip Rutherford  dalam buku yang sama, ”Identitas itu tidak pernah sempurna, selalu dalam proses…”

Ketaksempurnaan itu, ketika bergerak dalam proses itu, identitas selalu cair dan mengambang, tak terpihaki (undecidable). ”…setiap orang lalu kehilangan orisinalitas identitas,” kata Baudrillard dalam America, dan terdiferensiasi. Identitas menjadi sesuatu yang profan, ringan, dan dapat dipertukarmaknakan.

Barangkali, dalam kaitan itulah lagu ”Udin Sedunie” layak ditempatkan.

Udin sebagai nama terambangkan dalam proses sebagaimana ”mekanisme pasar”, bukan menciptakan eksklusivitas pemaknaan melainkan sarana kesenangan, permainan, dan kenikmatan, yang dalam bahasa Barthes, jouissance. Nama Udin dengan segala variannya itu hadir dalam ketakbermaknaan (meaningless) dan sekadar mencari efek esktasi ujaran, untuk tertawa, dalam gembira, penuh canda.

”Lagu itu sekadar untuk menghibur. Keluarga saya sendiri banyak yang bernama Udin. Adik saya bernama Awaludin, dan kakak ipar saya Akhirudin,” terang Sualudin. ”Bahkan yang bernama Tahirudin juga minta agar namanya dimasukkan.” Nah!

Humor dengan demikian, bukan sesuatu yang menakutkan dan atau melecehkan. Mark Twain bilang, ”Humor is mankind’s greatest blessing.” Sebagai rahmat, humor pasti memberi manfaat, bukan laknat. Dan itu juga yang tak disadari KPI, pun MUI. Sebagai rahmat, seharusnya, lagu ”Udin Sedunie” dapat diberi tubuh, atau ruh, untuk digerakkan dalam kemanfaatan yang lebih luas. Identitas Udin dengan berbagai varian itu seharusnya dapat menginspirasi penciptaan teritori baru untuk maksud yang lebih luas. Daripada berkubang dengan ”makna pelecehan”, MUI dan KPI dapat membuat ”makna syiar”, dengan memanfaatkan medium yang sudah populer itu. Apalagi, sepeti kata Adorno dalam ”On Popular Music”, sekali sebuah lagu populer, maka lagu itu akan dieksploitasi hingga mengalami kelelahan komersial. Dan hal itu dapat terjadi karena sebuah lagu pop selalu bersifat mekanis, yang detail tertentu bisa diganti dari satu bagian ke bagian lain tanpa efek apa pun dan tak mengubah keseluruhan.

Udin misalnya, memainkan ”teori” Adorno itu, dengan mempingpong makna baru, dalam tiap lagunya. Dia pernah memasukkan Nasiudin untuk Udin yang suka makan nasi, dan, ini sembari tergelak, menyebut Jaheudin sebagai Udin yang suka minuman pedas, di acara ”Inbox” SCTV. Bahkan Andhika serta Gading Martin, host acara musik itu, menimpali dengan menyubutkan nama-nama Udin yang membuat penonton terpingkal-pingkal. MUI misalnya, bisa meminta Udin memasukkan nama Khatamudin, sebagai Udin yang suka mengkhatamkan Quran, atau Sunatudin, Udin yang suka mengerjakan sunah nabi. Apalagi, lagu itu pun telah memberi contoh dengan Alimudin, si Udin yang suka pergi ke masjid.

Dalam kasus inilah kita melihat humor telah dijadikan KPI dan MUI sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaan, seakan tertawa sama nilainya dengan syariat yang harus dijaga kesuciannya. Humor tidak ditempatkan sebagai rahmat, yang membuat orang seperti Sualuddin memperoleh nasib yang jauh lebih baik. Padahal KPI semestinya dapat berlaku rileks saja, tertawa mendengar pacar si Udin yang telah lahir, si Siti, ”Siti yang suka bernyanyi namanya Siti Nurhaliza. Siti yang senang berdoa namanya Siti Aminah, Siti yang ngenyang setiap belanja namanya Siti Munawarah.”  Atau guyonan yang lebih kacau lagi, ”Siti yang suka tinju namanya Sitison, Siti yang takut kucing namanya Sitikus, dan Siti yang suka jalan-jalan, namanya Siti Walk, serta Siti yang kurang ajar suka nipu-nipu dan bentak-bentak, namanya Sitibank.”

”Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya,” bisik  pianis dan komedian Denmark Victor Borge,  ”Ada lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya.” Apalagi, kita tentu tak ingin, seperti kata jurnalis Amerika Erma Bombeck, ”When humor goes, there goes civilization, ketika humor lenyap, hilang jugalah peradaban.”

Anang, Mata, dan Telinga Kita

March 18, 2010

Anang barangkali telah bosan menjadi bagian dari berita atau gosip. Maka, di panggung ”Dahsyat” itu, dia menciptakan berita, meletikkan gosip: mencium kening Syahrini.

Sesuatu yang biasa sebenarnya.

Juga bukan hal yang tiba-tiba.

Dalam tayangan ulang itu, kita tahu, Anang dengan lembut menarikkan kepala Syahrini. Tak ada penolakan, Syarini mengikutkan tarikan itu, dan membiarkan keningnya dikecup. Tarikan itu, tentu Syarini tahu arahnya. Dan dia tak menolak. Dari gestur tubuh keduanya, kita dapat membaca, aksi panggung itu bukan sesuatu yang tanpa rencana.

Juga blalakan mata Syahrini, setelah ciuman itu.

Apalagi, untuk Anang, ini bukan kali pertama. Sepuluhan tahun lalu, dengan Krisdayanti, dia telah melakukannya dalam video klip “Berartinya Dirimu”, yang memancing sedikit kontroversi. Dan kemesraan semacam itu dia ulang terus dalam klip berikutnya.

Anang, tampaknya, percaya dengan ”teknik” sukses yang sama. Dia menciptakan kontroversi –lebih tepatnya sensasi– dalam suasana yang telah terbangun sebelumnya, konfrontasi rumah tangga. Ciuman itu, tentu saja benar sebagai tanda terimakasih Anang atas kesediaan Syahrini menjadi teman duetnya. Tapi, dalam ”pembacaan kedua”, terimakasih itu lebih untuk kesediaan Syahrini dalam membantu Anang ”melewati” Krisdayanti.

Di sini, Anang memainkan ”ingatan” mata, sebagai senjata pertama. Keterpilihan Syahrini otomatis akan membuat penonton, terutama infotainmen, secara langsung membandingkannya dengan Krisdayanti. Apalagi, lihatlah, cara bernyanyi Syarini, –amati bentangan tangannya, kibaran rambutnya, sampai pemosisian dirinya di hadapan Anang– plek sebangun dengan Krisdayanti. Syarini menang segar. Menang muda. Dan, dalam komentarnya kemudian, penonton juga tahu, Syarini menang manja.

Anang mendapat Syahrini yang ranum, pemula, dan muda. Krisdayanti menggaet Rahul Lemos yang uzur dan kaya. Kita tahu arahnya.

Tak heran, Krisdayanti akhirnya pun ikut bersuara. “Semoga sukses. Tapi kok memilih yang suaranya mirip saya, ya?” tanyanya, dengan blalakan mata yang khas itu.

Wajahnya juga mirip, kata infotainmen. “Lho, bukannya masih cantikan saya?” sergah KD.

Ingatan mata memang hanya bicara sebatas raga, membaca gestur, dan laku sensasi. Anang, dengan menggaet Syahrini, harus diakui, sukses mengelola hal ini.

Selanjutnya, Anang memainkan telinga publik.

Telinga publik, terutama dalam industri musik, ternyata menyimpan ingatan yang panjang. ”Ingatan” telinga itu jugalah yang, mengikuti Adorno dalam esainya ”On Popular Music” membuat industri musik membentuk standar. Lucunya, standarisasi itu bukan sesuatu yang terpola, tapi lebih mengacu pada telinga pasar. Sekali pola musik atau lirik meraih popularitas, skema itu akan diekploitasi sampai mencapai kelelahan komersial. Akibatnya, detil-detil dari satu lagi yang populer akan dapat dipertukarkan dengan detil lagu populer lainnya. Bom lagu-lagu berpola Melayu yang diusung ST 12, dapat menjadi contoh hal itu. Ratusan lagu yang sama, dengan lirik yang sebangun, kemudian menjadi standart baru industri musik saat ini. Ungu harus mendangdutkan diri, bahkan, Wali sampai harus diminta produsernya menjadi Melayu sebelum diterima telinga.

Anang mengerti benar wajah industri semacam itu.

Telinga publik dia isi dengan ingatan akan pola lagu sebagaimana dia duet dulu dengan Krisdayanti, dan lirik berisi cerita kesakitan senapas dengan “Separuh Jiwaku Pergi”. Dengarlah lirik duet yang diulang terus itu, ”Jangan memilih aku/ bila kau tak sanggup setia/ Kau telah mengerti aku/ diriku/ yang pernah terluka.”

Dengan memainkan ”ingatan” mata dan telinga publik, Anang mengangkat masa silam dan masa kininya secara bersamaan. Di panggung ”Dahsyat” itu, secara otomatis, penonton tak hanya menyaksikan keranuman Syahrini tapi juga kenaifan Krisdayanti. Di panggung itu, Anang menunjukkan bahwa dulu dia juga pernah berduet semanis dan semesra itu, dan kini dengan sosok yang berbeda, karena ”ada yang telah tak setia”. Anang dengan serius telah mengelola mata dan telinga publik untuk menaruh empati pada dirinya, dan menjadikan Krisdayanti sebagai terdakwa, tanpa harus dia bawa atau sebut namanya.

Syahrini, bagi Anang, adalah medium, media penyampai pesannya. Tapi, karena kata Marshall McLuhan, the medium is the message, media adalah pesan itu sendiri, maka Syahrini adalah pesan dengan wajah ganda: memikat pemirsa, sekaligus menembak Krisdayanti. Bukan hal yang luar biasa jika kemudian Anang mencium keningnya.