Epy Tahu dan Menunggu

January 29, 2011 · Print This Article

Siapa kita sesungguhnya, dapat dilihat dari bagaimana kita menghadapi sakit. Epy Kusnandar mengerti benar hal itu.

Ketika kanker otak mendera, wajah sedih memang masih tampak di wajah yang dia hiasi senyum itu, tapi bukan raut yang putus asa. Dia masih gembira, banyak tertawa, dan mampu mengirim lelucon, yang bahkan seperti mengejek sakitnya. Sakit, bagi lelaki yang acap bermain sinetrom komedi itu, barangkali semacam terminal, untuk mencapai hidup yang lebih. Dengan bahasa sederhana, dia mengatakan itu, seperti dikutip ”Insert” Selasa (25/1) lalu. ”Jika saya masih bisa merayakan ulang tahun ke-47 Mei nanti, saya optimis untuk sembuh. Mei itu sudah batas waktu empat bulan vonis dokter,” katanya sembari tertawa. ”Pemirsa, sampai jumpa tanggal 1 Mei ya….”

Sakit, seperti hidup, adalah sesuatu yang terberi. Datang begitu saja. Kita, acap kali, tak bisa mengelak, bertanya, apalagi menggugat. Hanya menerima. Kadang tanpa musabab, tak tahu asal.

”Tidak tahu gimana, tiba-tiba dia sering pusing dan muntah-muntah. Kadang sampai pingsan. Setelah itu baru dibawa ke dokter,” jelas Karina Ranau, istrinya.

Dan karena itu, sebenarnya, sakit bukanlah sesuatu yang harus disesali, ditolak, apalagi disedihkan. Bahkan, dalam perspektif Nietzscean, sakit adalah kesempatan untuk konsolasi, peluang untuk menemukan hal baru dalam kehidupan. Sakit tak memerlukan kambing hitam, atau penyalahan atas sesuatu yang menimpa kita. Kebutuhan akan kejelasan dan pencarian kambing hitam atas sakit, bagi Nietzsche, adalah cara berpikir yang sakit. Cara berpikir semacam itu, membuat si sakit menemukan kompensasi yang tak benar. Makanan, udara, apa pun, bisa disalahkan, meski hal yang sama tak berpengaruh apa-apa pada orang lain. Cara berpikir yang sakit ini, selalu mencari kambing hitam, pada titik ekstem, juga akan ”menyalahkan” Tuhan.

”Barangkali ini cara Tuhan menegur saya,” kata Dinda Kanya Dewi, ketika wajahnya terluka akibat kecelakaan mobil.

”Ini cobaan Tuhan,” ucap Bunga Citra Lestari, ketika dirawat karena lambungnya bermasalah.

”Musibah ini barangkali cara Tuhan memanggil saya untuk kembali dekat pada-Nya,” kata Sammy, mantan vokalis Kerispatih, saat tersangkut narkoba.
Tapi Epy, sejauh saya ikuti dalam berbagai berita, tak sekalipun dia mengatakan sakit itu sebagai teguran atau cobaan. Dia meletakkan sakit sebagai fase ”tetirah”, berhenti sebentar, terminal, untuk menemukan arah, tujuan, jalan, yang lebih baik. ”Allah pasti akan beri jalan kalau saya terus berusaha,” yakinnya.

Bahkan, sakit itu dia anggap tantangan. ”Jadi saya akan terus berjuang melawan sakit ini.”

Sakit harus diterima dengan kegembiraan dan rasa mabuk untuk sembuh. Tirani sakit dengan demikian hanyalah jalan yang disodorkan kehidupan sebagai tempaan. Maka, sakit pun harus dihadapi secara personal, untuk ”menemukan dan menumbuhkan” gizi spiritual. Kita tidak membiarkan dihancurkan dan dihanyutkan oleh rasa sakit, tapi mengolah diri melampaui rasa sakit itu, dan menerima kesembuhan sebagai hal yang biasa.

Di titik itulah, Epy memberi tekanan. ”Lewat pengobatan alternatif, syukur-syukur bisa sembuh, dan tambah ganteng,” katanya, sembari tertawa.

Dia menerima sakit itu sebagai sesuatu yang ”rahasia”, tak terelakkan, dan dengan demikian, sembuh pun bukan sesuatu yang luar biasa. Rasa syukur dia tujukan bukan pada harapan akan lahirnya kesembuhan, tapi lebih, meski mungkin canda, kemungkinan untuk jadi ganteng. Inilah cara penerimaan yang rileks, bersahabat, sakit adalah bagian dari tubuh, dan dengan demikian, bukan ”indikasi” kehadiaran Tuhan dengan wajah yang marah, menegur, atau memberi cobaan.

Dalam tahap itulah, sakit tetap membuat Epy berpikir sehat. Tak ada penyalahan. Menerima kondisi, bagi Epy, adalah obat pertama. Karena itu juga, jika pun tak sembuh, dia tak cemas. ”Umur di tangan yang kuasa. Akhirnya saya bangkit dan tetap berkarya saja, daripada ikutin omongan dokter. Dokter bukan Tuhan, ya sambil nunggu sembuh, saya menulis,” tegasnya.

Epy berobat, dan dia menunggu sembuh. Ini juga sikap yang sama dengan penerimaannya pada sakit, tidak menyerah, tapi bukan merasa pasti. Epy menunggu, menerima situasi apa pun yang terjadi padanya. Sakit dan sembuh, sehat atau dipanggil, adalah bagian yang terberi, tak harus dielakkan.

Berada dalam derita sakit, bagi Epy, barangkali adalah seperti pertapa ketika kali pertama membuka mata, dan melihat realitas dengan sudut pandang baru, begitu memesona. Pertapa yang bangun dari ikhtiar panjang, dari perjalanan batin yang luas, untuk bergerak dalam kenyataan.

”Dokter itu bukan Tuhan…” katanya. Epy menyadari, hidup, dan juga usia, bukanlah persoalan matematika, yang bisa dipastikan segera detik dan jamnya. Selalu ada misteri, yang tak terbaca manusia, juga teknologi. Epy percaya pada misteri itu, pada harapan, pada doa, dan juga usaha. Selebihnya, dia cuma menunggu.

Comments

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post