Malinda Dee & Metafora Dada

April 6, 2011 · Print This Article

Malinda Dee bukan selebriti, dan apa pun tingkahnya, seharusnya infotainmen bisa mengabaikannya. Tapi ternyata tidak. Infotainmen tetap menggelar kasus MD, dan pasti bukan semata karena kecerdasan kriminalitasnya. Memang, ada kehadiran Andhika Gumilang, bintang film dan iklan, yang bisa dijadikan newspeg. Namun, ternyata, porsi Andhika sebagai suami muda, kalah menarik ”disiletkan” daripada tubuh Malinda Dee.

Dan terjadilah komentar yang mewakili kepenasaran banyak pihak. Streotip Fenny Rose pun meruak, untuk bertanya, apa yang terjadi dengan wanita yang ketika remaja berjampul-poni itu, sehingga bisa ”dari bebek menjadi angsa”. Jawabannya sederhana, uang. ”Kebebasan finansial” telah membuat Inong Malinda, nama aslinya, yang tidak populer ketika remaja, dapat mewujudkan semua fantasi termutakhirnya tentang tubuh yang sempurna.  Dan seperti kataTempo, uang, tubuh, dan gaya hidup kelas atas itulah yang membuat dia dapat diterima kalangan sosialita Jakarta.

Andhika Gumilang pun tentu dia dapatkan sebagai ekses dari tiga hal itu.

Maka, di televisi, yang tayang kemudian adalah MD –nama ini pasti dulu dimimikrikan dengan KD– bukan sekadar sebagai pesakitan, tapi pesohor yang bohayMetro TV misalnya, menayangkan aksinya di atas panggung, ketika memeragakan busana. Dan, mata kamera, jujur saja, tak menyasar pada kebaya, tapi pada ”ciri khasnya”, yang barangkali akan membuat Julia Perez tak lagi bisa jumawa, dada.

Ya, selain kelangsingan yang memesona, tubuh putih MD memang mengundang keterperangahan pada wilayah dada. Saking seriusnya persoalan dada itu, polisi bahkan tak bisa menyediakan pakaian khusus tersangka padanya. ”Aduh, enggak ada yang pas,” kata Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi, dengan gerak tangan menunjuk dada, dengan mimik serius saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (5/4).

Persoalan tubuh dan uang itu jugalah, di mata media, yang membuat Malinda lebih populer dari penipu cantik Selly Yustiawati. Tubuh MD sebagai aset ”ditempatkan” dalam konteks atau status yang lebih tinggi dari Selly. Malinda, sederhananya, ”memainkan” tubuh untuk kelas sosial yang jauh berbeda. Dan visualisasi juga narasi di televisi menunjukkan ”kepongahan” tubuh itu.

Tubuh Sosial

Tubuh adalah metafor, dan sebagai metafor, tubuh menyatakan lebih daripada apa yang tampak. Tubuh bukan hanya dapat dilihat sebagai sesuatu yang alamiah atau badanniah, tapi juga sesuatu yang magis. Bahkan menurut Michael Foucault, pemikir paling serius tentang tubuh, persepsi seseorang tentang tubuh adalah efek dari struktur sosial di sekitar kita. Tubuh hanya bisa dilihat sebagai sesuatu yang non-alamiah, memuat citra, tanda, dan prilaku, dan hanya dapat dipahami dalam konsekuensi perubahan sosial. Atau bahasa mudahnya, tubuh seseorang memuat dan menunjukkan tanda dan perilaku, juga situasi sosialnya. Dan dalam kaitan inilah, visualisasi tubuh MD dalam kasus di atas dapat kita baca.

Kamera atau foto yang melahap tubuh Malinda dan menunjukkannya kepada penonton sesungguhnya mengajak kita untuk melakukan tiga hal: berpikir (think), merasa (feel), dan berfantasi (fantasy). Jika tiga hal itu dilakukan, penonton akan mendapatkan sebuah ”jawaban” dari semua kasus di atas, yang secara verbal tidak mungkin dinyatakan oleh infotainmen tersebut. Bahkan, untuk ”membantu” penonton, aksi panggung berkebaya Malinda dapat terus diputar ulang dan juga dalam gerak slow motion, sehingga gambaran ketubuhan itu kian jelas.

Foto dan video tubuh ”alamiah” Malinda meminta kita berpikir seperti Andhika, suami mudanya. Wajah MD yang masih sangat kencang, dengan tulang pipi yang menonjol, tubuh  langsing, dan kaki yang bagus di usia 47, membuat pikiran penonton membandingkan langsung wanita seumurannya. Kamera teve dan berbagai foto yang secara lugas menonjolkan tubuh segar MD itu meminta penonton merasa ada sebuah ”kepantasan” badaniah bagi Andhika untuk bersedia menjadi suami mudanya.

Getaran tubuh ”alamiah” dalam kamera itu juga meminta penonton seolah merasakan dan berfantasi sebagaimana rasa dan fantasi Andhika yang tercukupkan, sebagai pria muda. Di sinilah tubuh itu merespresentasikan dirinya sebagai mesin hasrat, yang meminta untuk dipuaskan. Tubuh sebagai mesin hasrat inilah yang dalam rangka pemenuhan kebutuhannya dapat melanggar norma dan tabu. Sebagai mesin hasrat, tubuh-tubuh itu bukan hanya meminta dipuasi,  melainkan juga meminta dipahami bagaimana cara kepuasan itu didapatkan.

Tubuh sebagai metafor juga menampilkan tanda sosial yang lebih jelas.  Tubuh MD menjelaskan lebih banyak daripada yang tampak. Seruan seorang pembaca saat tahu sosok MD, ”Besarnya… kaya lagi, gelap mata deh Andhika, hahaha…” atau, ”Wow… pantas Andhika jadi iklan Bebaskan Ekspresimu, hehehe..” adalah ungkapan yang paling tepat meski sederhana. Tubuh MD memuat tanda sosial yang sangat jelas. Di usia 47, tubuhnya bak remaja. Pipi kencang, dan badan nyaris tanpa lemak. Tubuh MD membuat penonton langsung berpikir tentang operasi plastik, diet yang ketat, olahraga dengan istruktur hebat, dan lingkup pergaulan yang luar biasa. Tubuh MD bukan hanya dimuati oleh semua ikon kecantikan yang ditawarkan industri melainkan juga menjelaskan betapa adaptifnya dia dengan semua itu. Dan lebih dari itu, tubuh MD menjelaskan status sosial-ekonomi dirinya. Hanya orang sangat kaya sajalah yang dapat merawat dirinya bak remaja di usia senja. Dengan tubuh sosialnya, MD bak permata di usia tua, yang banyak memancing para kolektor untuk memiliki atau menyentuhnya. ”Tanda tangan nasabah juga kerap di atas punggung Malinda,” catat Tempo.

Tubuh sosial itulah yang membuat cinta Andhika bergayut manja. Membuat ratusan nasabah mau menyerahkan miliar duitnya untuk ”dikelola” MD, bertekuk lutut dalam rayuan, kata Tempo, dan menyerahkan blanko kosong. Kecantikan dan tubuh sensual MD, memang punya semacam ”kekuasaan” yang membuat hidup dapat berjalan lebih mudah. Atau mengikuti Paul Virilio dalam The Aesthetics of Disappearance, ” …kekuasaan yang menawarkan kesenangan, kegembiraan, dan kemudahan-kemudahan; kekuasaan yang memungkinkan setiap individu untuk menentukan posisinya di dalam wacana-wacana yang ditawarkan industri.” Kecantikan membuat seseorang merasa dirinya memiliki identitas, kartu akses, yang dapat membuatnya melenggang…

Jadi, kamera yang menampilkan ”kesempurnaan” tubuh Malinda setidaknya memberi kita ruang untuk membaca, merasa, dan berfantasi, seperti Andhika dan nasabah-nasabah itu. Dan dengan cara itu, setidaknya, sedikit tafsir yang berbeda kita dapatkan. Mungkin jadi lebih gampang bagi kita untuk menerima mengapa Andhika dapat menjadi suami muda, dan Malinda mampu merayu-tipu miliaran duit nasabahnya –yang sebagaian besar tak mau membuka identitas. Di depan kebohaian Malinda,  kita jadi dapat mengira betapa hebat daya isap goda, betapa tidak sempurnanya manusia….

Comments

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post