Kepahitan Nabi Komunisme

August 8, 2008 · Print This Article

SORE di tahun 1883 adalah senja kemurungan. Di sebuah perkuburan, Engels berkali-kali mengejapkan mata, merangkul dan menghibur Jenny von Westphalen, dan menyuruh para tukang menutup lubang pusara itu. Hanya delapan orang berdiri di sana, bergumam, mungkin berdoa, mengiringi kematian nabi komunisme, Karl Marx.

Ya, Marx memang mati dalam kesepian.

Sepanjang hidupnya Marx memang dikenal sebagai lelaki yang payah. Ia otoriter, dan dalam debat, selain tak mau kalah. Dia juga acap mencibir, lalu memburuk-burukkan pribadi rekannya. Tak heran, jika akhirnya Marx seakan tak punya teman, juga di saat ia sedang kesulitan. Teman yang paling bisa mengerti Marx, dengan segala keburukannnya itu hanya Engeles, penajam pemikirannya, sekaligus sekretaris tak resmi, dan penjamin finansial Marx. Jenny pun, istri Marx, meski terbilang bisa menerima kekasaran lelaki itu, setelah kematian putra mereka saat diterkam kemiskinan, setiap malam, acap histeris, seperti dikejar mimpi buruk.

Marx lahir 5 Mei 1818 di Trier, kota di perbatasan Barat Jerman, yang saat itu masuk wilayah Prussia. Ayahnya, Heinrich, seorang ahli hukum, yang meraih jabatan itu dengan berpindah agama dari Jahudi ke Protestan. Ibu Marx, Henreitta, semula menolak pindah, tapi 8 tahun kemudian, ia menyerah. Marx kecil tahu benar posisi sulit ibunya. Dan kelak, kemudahan si ayah untuk berpindah agama, membuat Marx kehilangan minat untuk beragama.
Sastra, Filsafat, Tersesat

Sejak kecil, perhatian Marx sudah terpusat pada sastra dan humaniora. Dia mendapat tentor yang baik, Ludwig von Westphalen, yang dengan riang menjejali Marx sastra dan filsafat. Hidup Marx pun berjalan dari Shakespeare, Carventes, dan Hegel.

Selepas sekolah menengah, Marx tak membantah di masukkan ke Fakultas Hukum Bonn. Namun, cuma setengah semester ia bertahan, dan melompat ke Universitas Berlin, fokus pada filsafat. Masih semester dua, Marx sudah masuk kelompok diskusi paling ditakuti di kampus itu, Klub Para Doktor, dan menjadi anggota yang paling radikal. Kelompok ini selalu memakai Filsafat Hegel untuk menyerang kekolotan Prussia. Tak heran, klub ini pun digelari “Kaum Hegelian Muda”. Namun karena mereka juga menentang agama Protestan, klub ini digolongkan menjadi Hegelian Kiri, lawan Hegelian Kanan, yang menafsirkan Hegel sebagai teolog Protestan.

1841, Marx menjadi doktor dengan disertasi “The Difference between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus”. Kertas kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat Hegelian, dan antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat, dan mulai dijauhi rekan-rekannya.

Meski terkesan, tapi nalar kritis Marx menemukan inkonsistensi filsafat Hegel. Satu pertanyaan selalu mengiang di benak Marx, mengapa masyarakat Prussia tidak seperti yang dicita-citakan Hegel. Marx kemudian tahu jawabnya: Hegel hanya seorang teoretikus. Bagi Marx, itu tak cukup. Ia beranggapan, filsafat harus menemukan tenaga ledaknya sebagai praxis, memerdekakan manusia, menjadi tenaga praktis-revolusioner.

Tulisan-tulisan Marx berikutnya sangat memesona kaum bohemian Jerman. Ketika pemilik koran Reinische Zeitung Moses Hess memintanya menjadi penulis tetap, Marx tak menolak. Tapi, kehadiran Marx cuma membawa bencana bagi Reinische. Tulisan-tulisannya yang secara tajam menghina Rusia, dan membela kaum buruh, mendapat sambutan luas, terutama ajarannya untuk membentuk serikat buruh. Teorinya tentang nilai lebih, membuat Kaisar Rusia Nicholas 1, tak kuasa menahan marah. Nicholas meminta Jerman membredel koran itu, dan tamatlah karier kerja Marx.

Dalam masa menganggur dan miskin itu Marx justru jatuh cinta, dan melamar Jenny, putri mentor masa kecilnya, Ludwig von Westphalen. Keluarga Westphalen menolak, tapi Jenny yang kagum dengan pikiran Marx justru menerima. Dalam kucilan keluarga, di sore April 1843 mereka menikah.
Bersandar pada Engels

Bulan madu bagi Marx justru diisi dengan menulis. Ia meringkas hampir seratus jilid buku-buku filsafat-politik, dari Montesquieu, Rousseau, dan The Essence of Christianity Feuerbach. Kelak, hampir seluruh pemikiran Marx bersandar dari filsafat Feuerbach ini.

1843, Marx pindah ke Perancis. Di sini, meski miskin, pikiran Marx berkembang bak spora. Ia tenggelam dalam filafat Proudhon, Louis Blanc, Fourier, Saint-Simon, dan Blanqui. Tapi, keberuntungan terbesar Marx adalah saat berkenalan dengan Engels. Bersama Engels, Marx menjadi seorang sosialis, yang berpendapat segala masalah sosial bertumpu dari kepemilikan pribadi.

Engels yang kaya, pemilik industri tekstil, menjadi sahabat sejati Marx. Ia merevisi banyak pendar-pendar pikiran Marx menjadi uraian yang tajam dan berstruktur. Engels hanya meminta Marx berpikir dan menulis, dan menjamin ekonomi keluarga Marx, meski tak mewah. Saat Marx diusir dari Perancis pun, Engelslah yang menawarkan London sebagai persinggahan terakhir Marx. Di sini, Marx mencoba bekerja di bagian karcis kereta bawah tanah. Tapi karena tulisan tangannya yang tak terbaca, Marx pun dipecat.

Marx kemudian fokus menulis dan berhenti jadi motivator kaum buruh. Obsesi Marx kemudian adalah menunjukkan teori-teori sosial yang dia tulis menjadi kenyataan. Marx menceburi filsafat ekonomi, dengan susah payah. Baru 1867 ia berhasil menerbitkan magnum opus-nya, das Kapital. Meski buku pertama ini tak jelas fokusnya, nama Marx kian menjulang. Dan Asosiasi Buruh Internasionale Pertama memintanya menjadi pimpinan.

Marx kemudian menjadi penasihat utama dalam aksi-aksi organisasi itu. Tapi, perbedaannya dengan sayap anarkistik Michael Bakunin membuat organisasi itu pecah, sembilan tahun kemudian.

Setelah itu, meski terkenal, kehidupan Marx sepenuhnya berada dalam kesepian. Dia menyelesaikan dua jilid das Kapital lanjutan, menerbitkan artikel untuk New York Daily Trubune, semua atas suntingan Engels. Dan di tahun 1883, nabi komunisme ini meninggal, dalam kemelaratan, dan dikubur tanpa perayaan. Tapi dalam kuburnya, Marx mungkin tersenyum, karena di antara 8 orang yang ikut memakamkannya, ada beberapa buruh dan tukang, kaum yang selama hidup menjadi titik pembelaannya.

Comments

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post