Taman, Prasasti Ingatan

August 8, 2008 · Print This Article

Tak ada hujan di dua hari ini. Kemarau –musim yang kubenci– tampaknya, mulai bertandang. Pagi tadi, uap embun pun tak kurasakan bersisa di ujung pohon singkong, yang memagari taman belakang rumahku. Udara memang masih dingin, dingin yang kering. Mawar ungu, yang dahan berdurinya menjuntai, kelopak kembangnya tak menyisakan bintik air sisa malam. Juga talas hutan, telapak daunnya mengasap, menahan kering.

Aku pun telah merasakan kemarau, di dadaku.

Kemarau adalah bunga yang menguning satu-satu, lalu layu. Talas yang berubah hijau tua, juga tanah yang ditinggalkan rerumputan, menandus, dan merekah, beretakan. Aku tahu betul metamorfosa alam itu. Dari jeruji jendela kamarku yang menghadapi taman, perubahan itu selalu terbaui hidungku. Setiap tahun, jika kemarau mampir, siklus sikap tetumbuhan di tamanku itu nyaris sama. Di sisi kanan taman, yang dipagari koral-koral bulat sekepalan, akan terbaring selang. Pagi dan sore, jika sempat, kusemburkan air, menepikan kemarau.

Karena, hanya taman itulah yang bisa mengusir kemarau, di dadaku.

Tamanku berada di bagian belakang rumah. Tak luas, 9×7 meter, di lingkari teras. Di taman itulah masa kanakku terpahatkan. Rumput Jepang yang menjadi alas tanah, membuat aku bebas bermain, tanpa takut jatuh dan terluka. Pinus paro-baya besar, tempat bersandar, ketika lelah mulai menggoyahkan kakiku. Saat menyandar di pinus itu, dapat kulihat seluruh bagian belakang rumah. Meski tak pernah bisa lama aku melepas lelah bertopang dagu. Papa yang biasanya duduk sembari membaca koran, akan memanggilku, memintaku masuk dalam pelukannya, memangku. Papa akan meminumkan teh dari gelasnya, mengusap keringat dari keningku sebelum mendaratkan ciumannya, dan berbisik pelan di telingaku, “<I>I love you</I>.” Papa lalu membacakan koran dengan suara yang cukup keras, meski aku acap tak mengerti. Tak lama, Papa pasti menggelar kolam-kolaman plastik, mengisikan air, dan membiarkan aku bermain di dalamnya, sepuasnya. Sesekali Papa akan mengangsurkan gelasnya, memaksaku mereguk teh pahit hangat kesukaannya.

Itulah rutinitas pagiku di hari Minggu. Bertahun lalu.

Di taman, masih kulihat jelas jejek-jejak kemesraan itu. Pinus itu telah kian menua, dengan batang yang membersih di bagian bawahnya, karena terlalu sering kusandari. Mawar ungu telah berganti beberapa kali. Nyaris tiap awal penghujan, ditanam mawar-mawar baru, mengganti mawar lama yang pasti mati. Hanya talas hutan itu yang kuat bertahan, dengan cara menuakan kehijauan daunnya. Rerumputan Jepang pun menguningkan diri, sebagian mati. Meski nanti ketika hujan datang, seperti disihir, mereka menghijau lagi.

Kemarau memang mengubah tamanku. Tapi setiap penghujan, mereka akan kembali. Utuh lagi.

Cuma aku yang tak bisa kembali. Ditinggalkan masa lalu, masa kanakku.

“Menjadi gadis,” kata Papa, “adalah meluangkan waktu untuk diri sendiri. Menjadi gadis adalah rajin bertanya, apa yang aku maui untuk hidupku.”

Aku mau kembali menjadi anak kecil Papa, yang disulangi ketika lapar, dan dipangku sembari minum teh bersama. Aku mau bermain air bersama, bergulingan di taman, dan berpura-pura jatuh dan terluka. Aku mau digendong, diayun-ayunkan, atau duduk di pundak Papa, dan memandang taman dari ketinggian tubuhnya. Aku mau dibedaki, diminyaki, diparfumi, sebelum dipakaikan kemeja atau celana. Aku mau semua hal yang dulu begitu indah dan mengundang tawa. Aku mau….

Tapi, “Bukan itu, Ila. Bukan itu. Semua yang kamu inginkan itu masih ada. Akan selalu ada, dalam wujud yang beda. Ila cuma harus menerima perubahan kemesraan kita. Karena Ila sudah dewasa,” jelas Papa.

Papa, kalau harus kehilangan semua itu, aku tak mau jadi gadis, apalagi dewasa. Aku tidak mau, Papa…

Comments

RSS feed | Trackback URI

8 Comments »

Comment by anonim
2008-08-08 19:01:41

hmm.. aku menangis..
tulisan ini membuatku sadar bahwa sekarang aku (harusnya) sedang merindukan Papa.

merindukan kemesraannya (yang pernah)

Pria yang membuatku (kami) perlahan melupakan keberadaannya

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 14:12:56

tangis itu adalah tanda engkau tak akan pernah bisa melupakannya, seperlahan apa pun

 
 
Comment by maria
2008-08-14 15:33:48

kenapa kok tulisan ini meninggalkan kesan bahwa Ila itu father-complex??

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 14:14:22

ada masa, semua gadis mengalami father-complex. perlahan bayang ayah itu akan memudar, dengan sendirinya, seiring usia.

 
 
Comment by unai
2008-09-04 14:36:02

aku merasa ada di dalam cerita ini, membaur menjadi tokohnya. Ah, kau selalu pandai menerbangkan angan orang, Om :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-04 20:00:39

ahh, bukannya si Tante yang selalu bisa membuat melayang ;))

 
 
Comment by lina
2010-10-09 10:55:35

air mataku rasanya ingin meleleh..namun tak jua ia keluar..namun memang betul adanya bahwa air mata ini memang sebuah pertanda akan rasa sayang kita yang tak pernah berujung terungkap dalam syarat apapun……

Comment by Aulia A Muhammad
2011-04-21 16:40:42

setuju banget.. banget amat setuju!

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post