maafkan aku

August 8, 2008 · Print This Article

Debar jantungku, telah kuikhlaskan engkau pergi. pergilah…

tapi, sebelum langkahmu menjauh, tolong maafkan kesalahanku. kau ingat, betapa dulu begitu susah aku menyebutkan namamu. tiga kata saja, dan begitu repot kuhapal urutannya. sungguh, aku tak tahu kenapa bisa begitu. namun percayalah, seterbalik apa pun aku menyapamu, di benakku kamu tetap indah. dengan kata apa pun lidahku menjeritkanmu, kaulah itu. ya, kamu.

aku juga sering salah mengenali suaramu, maafkanlah. kau tentu tahu, selalu kusapa mesra setiap kali operator telepon kantormu menghubungiku. kukira itu kamu, selalu kamu. sebenarnya, bukan hanya operator kantormu, nyaris setiap suara kukira kamu. terutama di hari-hari kangenku.

debar, aku bukan tak kenal warna suaramu. begitu terjajah gendang telingaku, sehingga membuat setiap gema selalu kukenali sebagai kamu. kini, setiap suara harus kusaring dua-tiga kali, sampai aku yakin, itu bukan kamu.

maafkan juga, aku yang sering menghubungimu tiba-tiba, hanya untuk mengatakan, “aku kangen kamu, kangen kamu…” percayalah, sebelum mengatakan itu, telah habis tenagaku untuk menahan gempurannya. aku kalah. jadilah, di saat-saat yang barangkali tidak kamu sangka, aku mengucapkannya. kini kusadari, betapa hal itu pasti membuatmu jengah, malu pada sekitarmu. sehingga, selalu kamu berbisik, “aku tahu, ia. aku tahu…” ucapan yang pasti membuat semua gemuruh di dadaku punah. gempa yang kehilangan tenaga.

yang utama, maafkanlah aku di pertemuan itu, karena kubiarkan waktu berjalan dalam diam. dan hanya kunikmati kamu bermain dengan ponsel, tanpa ada usaha untuk menarikmu masuk dalam arusku. tak kututupi pandanganmu yang “berjalan” pada lelaki di luarku. kubiarkan kamu bercerita tentang semuanya, tapi bukan tentang kita.

debar, aku sudah bahagia bisa bersama kamu. melihatmu, merasakan keras napasmu, melihat kau nyata, seperti keringatmu yang kuseka tanpa sengaja di punggung tanganmu. seluruh sketsa tubuhmu, yang semula hanya permainan bayang di benakku, adalah keajaiban. keajaiban itu pula yang membuatku tidak bisa melakukan apa pun, kecuali membebaskanmu, meluaskan pandanganmu. saat itu, kamulah yang memenuhi duniaku. jadi, bagaimana mungkin aku dapat menarikkanmu ke garis edarku?

aku juga pernah membuat kamu marah. ahh-, terlalu sering bahkan. ketika engkau cemas, aku seperti meringankan ketakutanmu. ketika kamu ingin berbagi, aku seperti berlari. ketika kamu menangis, aku malah memberi lelucon basi. ketika kamu cemburu, aku tak tahu. ketika aku cemburu, aku memaksamu tahu. maafkahlah semua itu… tak ada alasan pembenaran apa pun atas kebodohan itu. yang aku tahu, aku menyayangimu.

debar…, banyak sekali kebodohanku. menilasi semua kesalahan itu, aku insyaf, kamu telah menghipnotisku. dalam ketaksadaran atas pesonamu itulah aku berani mendekatkan garis takdirku, menjajarimu. kumimpikan, suatu waktu, garis itu akan menyilang, bersinggungan, nasib kita bertemu. nyatanya, kamu bergerak lebih lekas, terlepas. jadi, jika memang kau harus pergi, pergilah…. karena aku tak akan mampu menahanmu. cuma, jangan paksa aku melupakanmu. karena dengan mengingatmulah aku merasa, ada satu fase dalam hidupku yang demikian bermutu.

pergi, pergilah, debaranku. maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu. karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu.

Comments

RSS feed | Trackback URI

4 Comments »

Comment by enno
2008-10-17 15:30:28

mas, tulisan yg ini kok aku banget ya… pada suatu masa yang telah berlalu sih…
tapi tetap saja aku terpana membacanya. Seandainya kubaca pada saat itu, aku pasti nangis :)

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-17 16:25:56

thanks berat enno, masa itu pun sampai kini masih mendenyuti jantungku, padahal telah lama berlalu.

seperti kamu, aku pun masih merasakan pedih membacai kalimat-kalimat itu. kepedihan yang selalu menyadarkanku, bahwa, barangkali, kepedihan adalah ibu dari cinta…

 
Comment by Neni
2008-11-07 18:29:30

“pergi,pergilah,debaranku.maafkan, jika aku akan tetap menjeritkanmu,karena kalau kau debar jantungku, bagaimana mungkin aku bisa terus hidup tanpamu”.
Boleh aku pinjam untaian kata ini buat seseorang, Pak ?
Melepaskan itu menyakitkan.
Melupakan itu …..sesuatu yang gak perlu, mungkin.
Nanti juga lupa sendiri, terkubur jejak-jejak baru.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-08 12:48:20

untuk si akang itu ya? silakan, silakan….

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post