Jalan Sunyi Van Gogh (2)

August 7, 2008 · Print This Article

HARI bagi Van Gogh terasa cepat. Di galerinya itu, kesibukan kerja membuat ia selalu menemu cahaya awal, fajar pertama. Hasratnya yang tak pernah puas, menuntun jarinya tak hanya melukis, tapi juga menulis; kritik berupa pandangannya tentang seni lukis saat itu. Namun, surat yang terkadang ia tulis berpuluh lembar sehari itu, hanya ia kirimkan pada Theo, bahkan berisi kegundahannya yang paling dalam; perasaan muak, benci pada kelambanannya, putus asa, juga obsesi yang paling liar. Theo-lah yang dengan sabar membalas, dan menyegarkan semangat Van Gogh.

Surat-surat itu, yang disimpan oleh istri Theo, hampir berjumlah 1000 pucuk, kemudian dianggap kritik yang luar biasa, penuh dengan daya jelajah pada pencapaian seni artistik yang tinggi, di masa itu. Van Gogh telah menunjukkan ketajaman intuisi yang cemerlang, hasil dari ketakpernahpuasan pada torehan di kanvasnya.

Namun, di surat itu, Van Gogh juga merasa kecewa; “tak pernah ada yang tuntas lewat kata-kata,” tulisnya. Ia pun kembali fokus pada lukisan.

Tahun 1881, Van Gogh kembali ke rumah keluarganya di Etten. Di sini, meski masih rajin melukis, hatinya gundah karena terpesona pada sepupunya, Kee Vos, si janda muda. Tapi, kembali ia ditolak, dan Kee Vos menghindarinya, berpindah ke Amsterdam. Van Gogh yang kadung cinta mati, mengikuti ke Amsterdam, tapi Kee Vos tetap menampiknya.

Lelah mengejar Kee Vos, 1883 dia kembali ke Etten. Di saat inilah, dia sangat suka memakai warna-warna gelap, cokelat, dan hijau tua; warna-warna yang merepresentasikan kegundahan jiwanya. Lukisan terbaik di masa ini adalah “Willows”.

1886, dia pergi ke Paris melawat Theo, dan tertarik dengan perkembangan teknik lukis di sana. “Potato Eaters, Pemakan Kentang” adalah lukisan terbaik di masa itu. Banyak pengamat yang mencari rujukan Van Gogh atas lukisan itu, tapi tak menemukan referensi apa pun. Lukisan itu yang semula diyakini mereferensi ritual keagamaan pun akhirnya tak terbuktikan.

Jiwa yang rindu pasangan

Paris ternyata menjadi surga bagi jiwa Van Gogh. Di sini, asmara tak lagi memesonanya. Kehidupannya menjadi begitu padat, bergaul dan berdiskusi dengan seniman, menceburi segala kemunginan pencapaian, dan meracik warna-warna baru, dengan teknik yang juga baru. Dua tahun dia bergerak, dan lukisannya berubah terus, mencari bentuk. Warna-warna muram yang semula mendominasi, perlahan luntur, kian terang, dan unsur permainan cahaya melatari karyanya. Ketenangan, pemandangan di dalam kafe, angin yang mengelus ujung pepohonan, dan bebungaan rekah yang memancarkan banyak warna saat menjilati cahaya matahari, menjadi fokusnya. Lukisan di masa ini adalah pembalikan dari lukisan sebelumnya, cahaya muram dari pekerja tambang, dan kekelaman dari batinnya yang didera cinta.

Namun, kemahiran dalam warna ini tak memuaskan Gogh karena ia melihat ketaksempurnaan dalam teknik sapuannya. Ia pun mempertajam garis sapuan, membentuk lajur-lajur khas dengan sapuan tegas melibas, ditingkahi warna terang garang.

Ia sempat kembali ke kampungnya, ketika ayahnya meninggal. Namun, delapan bulan saja ia bertahan, dan ia kembali ke Paris. Tapi, selama di Antwerp itu, pencariannya pada warna menemukan pendedahan yang lebih dalam dan tajam, dan ini mendorongnya untuk mengeksplorasi ke tingkat yang lebih lanjut, warna sebagai titik api filosofi. Ia tercatat pemakai warna paling berani dan rajin, dan menggemborkan bahwa warna tak hanya seperti apa yang tampak, warna juga menyiratkan “sesuatu” yang tak tampak. Warna adalah jembatan untuk realitas yang tak tertaklukkan mata.

Dua tahun itu, karyanya seperti ternak yang beranak pinak. Dari bulan Februari 1886 sampai Desember 1887, ia telah menghasilkan 90 sket dan 100 lukisan, sebelum epilepsi merubuhkannya. Penghasilannya, justru kebalikan dari produktivitasnya. Itu karena ia selalu merujuk harga lukisannya dengan standar nilai lukisan Clude Monet. Tentu, di masa itu, sangat sedikit yang mau membeli lukisannya.

Selepas serangan epilepsi pertama itu, gairahnya justru meledak. Dalam masa Februari 1888 hingga Mei 1889, ia menghasilkan 200 lukisan dan puluhan sket. Beberapa karya di masa ini, lepas dari sindroma kegilaan karena kejang epilepsi, dinilai terbaik. Bahkan, hasil karyanya di Arles, menjadikannya sebagai raksasa seni lukis masa itu, mulai dihormati, dipuja dan dikagumi. Kenikmatan yang hanya ia nikmati setahun.

Serangan sawan yang kian menghebat dan produktivitasnya yang kian keras, membuat mutu karyanya dinilai terpengaruh oleh “kegilaannya”. Tapi, lepas dari peristiwa pemotongan sebelah telinganya di Arles, tak ada apa pun yang dapat menghentikan gairahnya ketika melukis. Setiap kali epilepsi itu berlalu, ia kembali dapat tersenyum, memegang kuas, dan mendedahkan cat dengan riang, bermodal semangat yang tak padam, sampai pengawal menghentikannya karena makan, atau hari yang telah meninggalkan malam. Ia waras, sangat waras, sebagaimana terlihat dari surat-suratnya pada Theo, juga penjelasannya atas maksud lukisannya. Lukisannya matang, sangat matang, gemilang, meski dia akui, kematangan teknik dan warna itu lahir dari kegagalan dirinya, kegalauan hatinya.

Mungkin, penderitaan batinlah yang menghidupkan lukisan Van Gogh. Dia acap merasa kesepian. Hanya epilepsi yang setia menemaninya. Banyak lukisan di masa akhir hayatnya, berisi gambar bilik tidurnya yang terang, tapi kosong; hasrat kerinduan akan seorang teman. Sungguh, lukisan itu ceria, tapi terdapat tanda dari perasaan kosong dan kesepian yang nelangsa. Bilik yang sempit terang, dengan perabotan yang selalu ia buat berpasangan; dua bantal, dua kursi, juga lukisan yang dia gantung berpasangan. Representasi dari kerinduan dan kepedihan batin.

Bahkan, lukisannya yang paling terkenal, “Sunflowers, Bunga Matahari”, yang menonjolkan warna kuning keemasan, adalah bagian dari obsesi Van Gogh. Dia meletakkan bunga itu di depan biliknya, membiarkan disiram matahari, dan mengamati pertumbuhan bunga itu dengan saksama, perubahan daun dan dan warna. Satu hal yang membuat dia terpesona adalah warna keemasan, kegemilangan bunga itu, di hidupnya yang tak lama. Van Gogh merasa, dia pun akan begitu, meraih gemilang, di usia yang tak perlu lama, seperti bunga matahari itu.

Dan kita tahu, Van Gogh tak salah, tak pernah salah….

Comments

RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post