Citra & Moralitas Budak

March 9, 2009 · Print This Article

SIAPAKAH aku? Siapakah engkau? Benarkah diriku dan dirimu itu ada, maujud, nyata?

Barangkali, telah lama kita tak bertanya, dan jika pun bertanya, kita tak tahu jawabannya.

Tapi tidak bagi Fariz Rustam Munaf. Penyanyi era 80-an itu justru telah sampai pada kesimpulan, “Saya bukan Fariz RM. Fariz RM itu fiktif!”

Seperti tanpa beban ketika pernyataan negasi itu terbir dari bibirnya. Dengan santai, dia meyakinkan bahwa dirinya yang acap kita lihat bernyanyi itu bukanlah dirinya.

Lho, lalu siapa?

“Fariz RM itu adalah tokoh rekayasa yang saya buat untuk kepentingan industri.”

Fariz RM adalah fiksi, sosok tak nyata, yang hadir sebagai teman fantasi bagi penggemar dan penonton semata.

“Fariz itu tidak suka pop, tapi dia harus main pop, main ini, main itu. Sementara Fariz sendiri senangnya Led Zepelin, Pink Floyd, Beatles, Jimmy Hendrik, blues,” jelasnya.

Mengejutkan. Mengejutkan karena Fariz baru menyadarinya sekarang. Karena sesungguhnya, apa yang terjadi dengan dirinya, adalah hal yang biasa di dunia industri pencitraan. Film America’s Sweethearts, misalnya, dengan bening telah lama menunjukkan hal itu. Pencitraan, panggung, dan mata publik, selalu mengubah seseorang, meski sang objek terkadang tak menyadari.

Di atas panggung, di mata penggemar, apa boleh buat, diri asali harus undur diri.

Yang tampil adalah sosok “sempurna” sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan, searah dengan harizon pengharapan publik.

Tapi, pencitraan itu tak sepenuhnya dalam kendali. Terkadang, tekanan dan sorotan mata publik, justru meniadakan diri yang asli. Di ruang yang paling pribadi pun, sosok citraan itu tak bisa diselehkan, ditanggalkan lagi. Diri yang asali, bukan saja mengecil, bahkan menghilang. Karena itulah, kata rekayasa tak sepenuhnya tepat untuk menggambarkan situasi ini. Rekayasa mengisyaratkan kesadaran, ketaatan pada sebuah prosedur, tindak yang diarahkan. Padahal, dalam prosesnya, bukan rekayasa itu yang bekerja melainkan si citra. “Metamorfosa” diri itu sang aktris akhirnya bekerja secara alamiah, menihilkan kesadaran, bergerak tanpa kendat, juga kendali, ke arah horizon pengharapan penggemar atau penonton. Horizon pengharapan itulah yang memiliki energi, menggulung diri asali.

Sayang, Fariz tak menyadari hal itu, dan dengan keyakinan yang sama, mengatakan, “Selama ini, masyarakat telah terkecoh….”

Padahal, untuk kasus Fariz, masyarakat tak pernah terkibuli. Sosok Fariz RM selama ini adalah “pribadi” yang memang diinginkan –dan juga diciptakan– masyarakat.

Keterkecohan masyarakat, barangkali, terjadi hanya dalam kasus Aris di “Indonesian Idol”.

Ketika memasuki panggung itu, Aris dicitrakan sebagai calon idola. Bukan saja cara berpakaian, teknik bicara dan pola tatapan pun telah diubah. Maka, selama pemanggungan itu, pencitraan yang ditembakkan –inilah fase rekayasa itu– berhasil masuk ke publik. Masyarakat terpesona, menerima, dan menambah kualitas pencitraan itu ke dalam horizon pengharapan mereka. Maka, ketika Aris berjanji, “Saya tidak akan berubah…” semua terkesima, dan memilihnya untuk menjadi juara.

Dan Aris memenuhi janjinya.

Dia tidak berubah.

Dia tidak masuk ke dalam rekayasa citra, dan juga horizon pengharapan pemirsa. Aris tetap menjadi dirinya, yang liar, kasar, dan keras kepala. Ia kembali menjadi pria yang dulu memaknai hidup dengan mencari receh dari satu gerbong kereta ke stasiun lainnya. Dan ketika recehan itu bernilai juta, watak kasar, liar, dan keras kepala pun kian mengemuka. Dia gunakan uangnya untuk membalas dendam atas kemiskinannya; rumah kecil dan istri yang sederhana, tak lagi cukup baginya. Uang, mata publik, popularitas, ternyata tak dapat membeli kepribadiannya, tak mampu menghilangkan watak asalinya.

Di sisi inilah masyarakat yang terkecoh, terkibuli, karena Aris yang mereka beli –dan mereka ciptakan di dalam angan– tak mewujud dalam kenyataan.

Dalam kasus Fariz, dirinyalah yang tertipu, karena tak mampu terus bertahan dalam “nilai diri” dan meletakkan wajah ke dalam cermin publik.

Fariz, dalam bahasa Nietzsche, telah jatuh ke dalam moralitas kawanan, nilai budak.

Dalam bahasa Pramudya Ananta Toer, Fariz tak beda dengan ternak.

Tapi Fariz bukan ternak yang tak berpikir. Dia kemudian menyadari diri yang telah tertipu, dan memutus tali angonan publik. Fariz mulai mengenali dirinya yang asali, dan menguatkan keasalian itu untuk mengerdilkan yang ilusi, yang fantasi.

Untuk semua itu, Fariz harus berterimakasih pada terali besi. Di penjaralah, di luar mata publik, diri asali itu menguar lagi, dan memegang kendali. Di bui-lah, setelah bisa khatam mengaji, Fariz bertemu diri.

“Dan siapa yang mengenal dirinya, pasti juga mengenal Tuhannya.” Fariz kini tengah menuju ke sana.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 10 Maret 2009]

Comments

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by haris
2009-03-11 10:25:07

istilah kerennya, apa yang terjadi itu adalah “hiperrealitas”–sebuah kata seksi yang begitu digemari sekarang. ajaib kau tak menggunakan kata itu sama sekali, mas. he2. tapi pandanganmu soal aries itu menarik. sangat menarik. tapi btw, kenapa kamu banyak sekali menyinggung soal aries sih mas? he2. cuma btw thok. :D

Comment by Aulia A Muhammad
2009-03-11 14:42:08

ris, hiperrealitas bagiku sudah gak seksi, hehehe… mana ada lagi seksinya kalau selama 10-an tahun ini kata itu sudah jadi mantra, dan dalam skala tertentu, dipakai orang hanya untuk mendapat cap mengerti posmo, hehehe….

soal aris karena dia unik dalam posisi menjadi “idol”, hahaha…

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post