Hujan, Masa Kanak yang Menepi

August 6, 2008 · Print This Article

Barangkali, beginilah hidup tanpa gairah. Aku cuma bergerak antara kasur, jendela, dan meja belajar. Dikuasai malas. Sedari pukul 6 tadi, hidungku menempel di kaca jendela, memandang hujan yang menderas di luar sana. Kubiarkan kaca mengembun, dihangati napasku yang masih bau mimpi. Kubiarkan tanganku menggarisi kaca, membentuk silangan-silangan, yang aku sendiri tak tahu, untuk apa?

Aku juga tak tahu, mengapa kemalasan ini begitu memenjara.

Bangun tidur tadi, badanku seperti menolak untuk bergerak. Kupandang langit-langit, kucari-cari selipan mimpi, tapi ingatanku tak memberi satu pun informasi. Pasti, aku tak bermimpi buruk. Tapi juga bukan mimpi indah. Ah, barangkali aku tak bermimpi. Aku sering tidur tanpa mimpi. Dan kata Papa, itu tidur yang baik sekali. Aneh. Bukankah dalam hidup, ketika melek, kita acap diminta bermimpi?

Hujan masih menggila di luar sana. Di tanah, air yang jatuh dari genteng teras, membuat cekungan kecil. Beberapa ekor ayam, berdiam di bawah pohon mangga, seperti kedinginan. Tapi di sebelah mereka, dua itik justru mengepakkan sayapnya, bermain dengan hujan, bergembira.

Bergembira? Rasanya, sudah lama aku tidak merasakan hal itu. Dulu, kalau hujan begini, di halaman belakang, aku pasti bertelanjang, dan berlari, mengejari ayam. Kubiarkan cipratan tanah basah melukisi pahaku, kadang sampai ke badanku. Kurasakan Papa yang tertawa, dan memerintahiku untuk terus berlari, sepuas-puasnya. Terkadang Papa turun gelanggang, berkolor dan ikut bergulingan di taman. Lalu kegembiraan itu kami tutup dengan mandi, dari air yang dialirkan selang.

Yang dulu itu, kini telah hilang.

Hilang sejak Papa bilang aku tak lagi pantas mandi di taman, dan telanjang.

Hilang sejak Papa bilang kalau aku harus belajar jadi dewasa.

Dewasa? Betapa mengerikan. Aku kehilangan hujan, aku tak dapat lagi mandi bersama Papa dengan semburan air dari selang. Dan sejak itu, aku merasa hujan cuma mendatangkan keburaman. Seperti pagi ini.

Haahh… masa kanak, mengapa cepat pergi. Sungguh, aku tak ingin jadi dewasa dengan cara begini, terasing di suatu pagi, dan memandangi hari yang begitu kusenangi, cuma dari jendela ini. Silangan-silangan dari jari yang tanpa sengaja menggarisi kaca jendelaku ini, barangkali adalah garis nasib yang memotong masa kanakku menjadi seorang gadis.

Menjadi gadis, hmm… entah apa gunanya.

Comments

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by udin
2008-08-07 20:26:44

masih berbekas ya cerita lamanya, hehehe….

 
Comment by Buku Gratis
2009-05-14 12:51:15

wah ini sangat menyentuh hati…betul2 merupakan curhat ya ^_^

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post