Mendengar Suara yang Kalah

November 7, 2008 · Print This Article

OBAMA. Obama. Obama. Itulah histeria publik hari-hari ini. Semua bergembira, dunia berpesta. Media massa, ataupun media pribadi semacam blog, juga menghisteriakan Obama. Kita larut untuk merayakan –dan seolah sungguh dapat merasakan– kemenangan itu. Di layar televisi, aktris-aktris pun ikut senang. Rianti berkaos Obama, mengaku ikut berdoa. Naisyila Mirdad merasa bangga. Semua bersuara, mengekor di belakang yang menang, tertawa, berteriak senang.

Tapi lihatlah, di panggung Grant Park, Chicago, Obama tidak tertawa-jejingkrak. Apalagi berteriak.

Obama hanya tersenyum. Santun.

Jas Obama berwarna hitam. Dua anaknya, Malia dan Sasha, bergaun hitam dan merah. Istrinya, Michele, juga bergaun sederhana, hitam dengan pendaran merah di bagian depan.

Obama dari Partai Demokrat. Demokrat adalah biru. Obama dan keluarga tak mengenakan warna itu.

Di seluruh panggung, hanya alas pentas yang berbeludru biru. Biru adalah alas, dasar. Partai adalah langkah, jalan. Ketika sampai ditujuan, politik “warna”, tak pantas lagi dikenakan.

Obama tahu persis hal itu.

Ia dewasa. Matang.

Di panggung, dalam pidato kemenangan, dia tak menepuk dada. “Kemenangan ini milik Anda semua,” ucapnya. Obama memilih menggunakan kata “Anda”, bukan “Kita”. Bahkan, ucapan pertamanya ketika menang pun, dia telah merangkul yang kalah.

“Saya takkan pernah lupa, siapa yang layak menikmati kemenangan ini. Ia milik Anda… Saya berjanji kepada Anda, kita sebagai bangsa akan sampai ke tujuan!”

Di depan pecintanya, ratusan ribu pendukungnya, euforia itu diletakkan Obama langsung pada esensinya, kemenangan mereka sebagai bangsa. “Jika masih ada orang di luar sana meragukan bahwa Amerika adalah tempat di mana semua hal mungkin; yang masih mempertanyakan kekuatan demokrasi Amerika, malam ini adalah jawaban Anda,” kata Obama.

Ia juga memuji McCain dan Palin, sebagai lawan yang tangguh dan terhormat. Obama meminta keduanya membantu, bersama, dalam kemenangan Amerika. Di panggung itu, dia tak meletakkan McCain sebagai lawan lagi. Tak ada Republik, juga Demokrat. Usai pertarungan itu, yang tersisa adalah warga Amerika.

“Ini adalah malam yang agung. Ini adalah malam yang sulit dipercaya,” kata John Lewis, anggota Republik, pecinta McCain, dari Georgia.

******

McCAIN. Nama itu akan segera menghilang. Riwayat yang kalah selalu begitu, kadang bahkan ditulis sebagai sebuah kesalahan sejarah. Pedih memang. McCain tahu itu, bahkan setelah dia dengan berani menunjuk Sarah Palin, sebagian pendukungnya telah mengatakan dia salah langkah.

Tapi McCain telah berusia 72. Kekalahan bukan sesuatu yang tampak terlalu menyakitkan baginya.

Dia dengan enteng, mengakui dan menyelamati kemenangan Obama. “Dia saingan yang kini telah menjadi presiden saya.”

McCain tentu tak memilih Obama. Tapi ketika kalah, dengan cepat dia mengubah statusnya sebagai calon presiden menjadi warga, yang kini telah memiliki presiden baru.

Dia, di depan ribuan pendukungnya, keluarganya, pecintanya, di Phoenix, Arizona, mengaku kalah. Itu bukan hal yang mudah. Di depannya, ratusan orang menangis. McCain menatap semuanya. Ia tahu, tangis itu tak akan pernah dapat dia miliki lagi. Dia tahu, tangis itu tak boleh lebih dari malam itu.

McCain mengambil alih, kesedihan itu harus jadi miliknya.

“Saya sangat bersyukur atas dukungan yang Anda berikan terhadap saya. Saya ingin, hasil pemilu tidak seperti ini, sahabatku…” Ratusan orang menjawab, “Kami pun tak menginginkan ini…”

“Kita berjuang, sekeras mungkin. Dan walapun kita merasakan kekurangan, ini adalah kekalahan saya, bukan kekalahan Anda.”

Pecintanya, sebagian terisak, menjawab, “Tiiidaakkk….”

McCain Diam. Matanya berkedut berkali-kali. Jelas ada yang bergolak di dadanya, melihat bahwa dia masih dicintai, bahwa ada orang yang mau bersama dalam kesakitan itu. Tapi itu tak boleh terjadi. Kekalahan, kesakitan, harus dienyahkan, untuk tak jadi dendam. Karena pertarungan telah usai, arena telah digulung. Banyak hal yang harus dibersihkan.

“Besok kita harus beranjak dan bekerja sama menggerakkan negara kita…. Saya menawarkan kepadanya segala kemampuan saya membantu dia memimpin kita menghadapi tantangan besar yang ada. Karena, apa pun perbedaan yang ada, kita tetap sesama warga Amerika.”

Dengar frasa itu, “…membantu dia memimpin kita.” Terasa sungguh keikhlasan, keberterimaan. McCain mengaku kalah, dan itu tak membuatnya malu. Karena bertarung melawan Obama, bagi dia adalah sebuah kehormatan. “Saya adalah orang yang selalu beruntung. Dan semua itu tidak akan terjadi tanpa cinta dan semangat Anda kepada saya.”

Suara yang kalah. Tak terdengar pasrah, getir, dan resah.

******

OBAMA. Nama ini punya gema yang luar biasa di Indonesia. Apalagi setelah dia menang. SBY pun mengucapkan selamat, seraya mengingatkan masa empat tahun Obama di Indonesia. Entah untuk apa. Andi Mallarangeng malah merasa bangga jadi anggota Partai Demokrat setelah kemenangan Obama. Entah apa alasannya. Tapi beginilah watak kita, selalu hanya mau bersama yang menang, selalu meletakkan diri dalam sejarah mereka yang tertawa riang.

McCAIN. Dia memang kalah. Tapi sebagai politikus, dia sungguh menang. McCain menunjukkan etika yang benar setelah pertarungan, menegaskan bahwa dia memang pantas berada di arena itu. Seharusnya, sikap semacam inilah yang wajib digugu. Watak seorang ksatria, ketika kekalahan tak membuatnya takut dan jadi pengecut.

[Dimuat sebagai "Jeda" di tabloid Cempaka, Sabtu 8 November 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

19 Comments »

Comment by Neni
2008-11-07 18:11:12

Jadi ingat perbincanganku semalam menjelang tidur…
“Teh, bosen aku liat OBAMA terus di TV…”
“iya, kenapa kita jadi bangga dengan 4 tahun OBAMA tinggal di Indonesia ? padahal hubungan antar negara itu gak ada hubungannya dengan rasa personal”
“Teh,Memangnya, kalau OBAMA menang, rakyat Indonesia akan lebih sejahtera ?”
“tentu tidak, kesejahteraan ditentukan oleh usaha kita yang terencana dan disiplin”
“Teh, kenapa trio bom bali gak juga ditembak mati ?”
“udahlah, tidur aza, mendingan mimpi yang indah-indah daripada ngobrolin yang gak kita tau jawabnya…”
dan…kami tertidur setengah satu pagi setelah ngobrol banyak hal sambil nonton film di tv yang menceritakan seorang gadis yang tidak mempercayai ramalan masa depan dan memilih menentukan takdir dengan tangannya. Kami tidur tersenyum…dengan mimpi baik.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-08 12:47:01

hiihhihi kita kan bangsa pemimpi, bukan pemimpin.

 
 
Comment by edhi
2008-11-08 14:01:18

Kayaknya setiap calon pemimpin terlebih calon presiden kita WAJIB membaca tulisan ini. Kita ini bangsa yang baru siap menang, tapi belum siap kalah. Kita saksikan Pilkada dimana2 hampir berakhir rusuh. Yang kalah akan berdalih, salah itunglah, manipulasi datalah, intinya mereka akan bilang ‘kalau tidak ada kecurangan maka saya PASTI menang’. Iya menang jika anda terus bermimpi. Bangun dong…..

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-08 14:03:26

halah! mas edhi bisa aja, pake mewajibkan segala. lha mereka itu yang benar2 wajib aja gak dikerjakan kok, apalagi membaca blog cepete gini, heheheh

 
 
Comment by haris
2008-11-08 14:49:52

ya ya. itulah Amerika Serikat, mas. mereka punya sejarah politik yang panjang dan sejarah kekalahan yang panjang pula. jadi, masing2 sy kira telah siap utk menang ato kalah. mccain pasti telah belajar utk kalah, dan dia sukses.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-08 15:45:19

yupe, ris. begitu hebat liputan dan euforia untuk obama, tapi aku percaya, esensi dari “pertarungan” mereka tidak akan berjejak di batin politikus kita…

 
 
Comment by Adie
2008-11-10 21:06:27

Jadikan pelajaran aja, buat kt kedepannya, agar lebih baik lagi

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-10 21:17:41

setuju!

 
 
Comment by sawali tuhusetya
2008-11-11 00:26:01

semoga terpilihnya barack obama bisa membuat dunia menjadi lebih damai, selama ini amrik selalu mengklaim diri sebagai “polisi dunia”. repotnya, selama itu pula, amrik dipimpin oleh tokoh2 yang menurut banyak kalangan kurang visioner dalam menjalankan misi2 politiknya.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-11 12:39:40

semoga… meski sulit diharapkan. Amrik negara dengan sistem yang sudah mapan, dan personalisasi kekuasaan sangat sulit terjadi di sana.

 
 
Comment by ernita
2008-11-11 07:57:42

Yak sip!! Aku setuju ama mb. Neni. Apa sih hubungannya kemenangan Obama dengan kita? Tidak bikin gaji naik, kriminal menghilang, kemiskinan terentaskan. Apalagi, dia nggak cakep pula, jadi nggak bisa kujadikan kecengan hahahahha…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-11 12:40:21

ngeceng? paan tuh?!

 
 
Comment by syfa
2008-11-11 19:29:12

Kalah atau menang dipisah garis yang tipis, bahkan seolah tak bersekat, keduanya ada pucuk kehormatan (juga sebaliknya kenistaan), kalah atau menang tak berarti apapun dalam sebuah pengabdian…

Boso Jowone yo legowo…. meski kalah tetep menghormati diri dan orang lain, juga bangsa…..

 
Comment by budimaryono
2008-11-11 19:36:26

Aku paling suka pidato si McCain: kalah yang menang (atas keterpurukan diri sendiri). Hebat bener dia. Kita gak punya orang yang kalah dengan posisi tegak kayak gitu. Andi Malarangeng bangga? Hwaaaaaa……

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-11 19:46:29

yupe! Khofiffah dan Saifullah yang sama NU-nya, sama-sama pernah “di ketiak” Gus Dur pun, tak bisa saling menghargai. Yang kalah menuntut, yang menang langsung lantang. Ajaib!

Lalu, dari bagian mana sebenarnya yang dirayakan bangsa ini atas kemenangan Obama?

Andi mah pasti bangga sama kumisnya, hehehe

 
 
Comment by Kuwat
2008-11-24 12:13:45

Andai para calon presiden membaca tulisan ini dan mengaplikasikannya pasti deh indonesia bisa lepas dari kebangkutan nasional he…he….he.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-24 12:23:20

kuwat sukanya berlebihan ah,hehehe

 
 
Comment by danivn
2008-11-26 18:20:08

Pernahkah kita dua kali melalui sungai yang sama? Sementara air yang mengalir serta sampah yang terhanyut sudah tidak lagi sama?

Anehnya, di Indonesia yang melintas justeru air yang sama, sampah yang sama!

*

There is nothing permanent except change!

Betulkah ucapan Herakleitos ini tidak berlaku di tanah air tercinta?

:(

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-26 19:19:09

heraklitos sudah menjadi dewi hera, hehehe… jadi, menangis sajalah kita, bersama.

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post