Mencontoh Kanjeng Nabi?

October 31, 2008 · Print This Article

Pujiono terkekeh, kadang bahkan tergelak-gelak. Di layar Anteve dalam “Telisik” Rabu tengah malam (29/10) itu, lagak dan gestur tubuhnya sangat teaterikal. “Referensi saya tidak main-main, Kanjeng Nabi,” katanya.

Pujiono memang telah jadi sorotan. Dua minggu lalu, dia mengumumkan ke publik telah menikah lagi, untuk kali kedua. Hal yang biasa, terutama untuk mereka yang menyebut diri sebagai kiai. Tapi, Pujiono berbeda. Dengan bangga dia memberitahu kalau “permaisuri” itulah adalah Lutfiana Ulfa, remaja 12 tahun.

Ulfa, cerita Puji sebagaimana banyak “dibenarkan” media, bukan perempuan biasa. Dia cerdas, selalu rangking satu. Meski muda, tapi Ulfa tidak mentah. Puji menilai kedewasaan Ulfa melewati usianya. Bahkan, ketika diangkat menjadi Managing Director PT Silenter, Ulfa unjuk diri, berbahasa Inggris, yang kata beberapa saksi mata, cukup fasih.

Ulfa memang muda, dan faktor itu justru menjadi kriteria utama Puji. Dia ingin mewariskan ilmu mengelola perusahaan itu kepada Ulfa sejak dini. “Mengelola perusahaan itu tidak mudah, tidak ada di sekolah-sekolah. Banyak rahasianya.” Tapi mengapa Ulfa? Puji ternyata tidak percaya produk sekolahan. “Yang sekolahan, yang kuliahan itu, untuk apa? Sudah rusak semua!” geramnya ke kamera Anteve.

Dan satu lagi, Puji punya dasar tarikh, sejarah. Kanjeng Nabi pun menikahi Aisyah dalam usia muda. Dan di mata Puji, itu adalah cara atau metode, sehingga Aisyah menjadi istri yang paling mengerti dan tahu segala hal tentang Nabi. Metode itulah yang Puji ambil untuk membuat Ulfa mengerti sejarah dan rahasia dirinya, juga perusahaannya. Betapa sederhana.

Tapi, penyederhanaan itu justru menyimpan masalah. Puji lupa, ada konteks yang berbeda antara masa hidupnya dan Kanjeng Nabi. Ada beda yang tegas antara syariat Islam dan “syariat” negara. Dan yang utama, Puji tak memiliki otoritas untuk dipercaya dapat berlaku seperti Kanjeng Nabi.

Mengikuti atau mencontoh Muhammad memang telah lama menjadi “wacana” berlindung diri. Aa Gym, ketika menikahi Rini pun, mengambil sejarah nabi sebagai syiyasah. Juga Komar, pelawak yang kemudian jadi politikus. Berpoligami adalah jalan, sarana, mencontoh Nabi, dan karena itu tak dapat disalahkan. Tapi, wacana perlindungan diri itu acap tak mempan karena khalayak percaya nyaris mustahil mengikuti nabi dalam hal berlalu adil, terutama menyangkut hati, menyoal cinta. Nabi, sebagai sosok terpuji pun masih “dikawal” Jibril, dan “dikritik” Allah, terutama ketika sisi manusia Beliau mendominasi. Peristiwa terpisahnya Aisyah dari kafilah, dan pendiaman Nabi karena cemburu, adalah contoh bahwa keadilan, prasangka, cinta, bukanlah hal yang mudah untuk dikelola. Allah pun, melalui Jibril, harus “turun tangan” untuk memperjernih masalah itu, terutama setelah dimunculkan fitnah kepada Aisyah oleh para musuh Nabi.

Dalam “sejarah” dan perlindungan semacam itulah Kanjeng Nabi dapat selalu berbuat adil dan benar, ketika “syahwat dunia” bahkan telah sejak kecil dibedah dan dibuang dari dalam tubuhnya. Dan, kondisi itulah yang tak mungkin dialamai atau diciptakan oleh manusia lain, bahkan yang mencap diri sebagai ulama atau syech sekalipun. “Mencontoh Nabi” dengan demikian hanyalah siasat untuk menambal tingkah profan dengan tarikh sakral. “Mencontoh nabi” adalah metode untuk melepaskan tanggungjawab, dan bukan jalan keimanan.

Apalagi, dalam “mencontoh nabi” itu, yang tampak menonjol adalah aspek “guna bagi diri” dan bukan “fungsi sosial”. Karena itulah, yang dicontoh pun terpragmentasi pada hal-hal yang “menyenangkan” saja. Artinya, pencontohan itu tidak mengikuti seluruh sejarah hidup nabi, hanya mengambil sisi pragmatis, dan melepaskan alasan ideologis dan iman. Padahal, dalam tarikh Nabi, ada Zaid bin Haritsah, yang bisa dijadikan teladan sebagai pecinta dan pecontoh sempurna semua hal yang dilakukan Nabi. Saking begitu cinta dan ingin mengikuti jejak Rasulullah, jika di suatu tempat pernah dia ketahui unta Nabi berjalan melingkar, maka tanpa ragu Zaid akan melingkarkan jalan untanya, menapaktilasi sedetil-detilnya. Tapi Zaid tidak berpoligami. Zaid tahu, bahwa ada hal-hal yang dapat dia ikuti dengan setia, dan ada yang tak mungkin dia ikuti tanpa harus terjatuh dalam dosa, bagi dirinya atau orang lain.

Sayang, semangat semacam Zaid itulah yang tak pernah dijadikan pedoman bagi mereka yang acap menyebut diri ulama atau syech. Pencontohan itu lebih banyak hanya menyangkut tentang poligami dan tentu, sepeti yang dilakukan Pujiono, menikahi gadis belia. Pencontohan yang, semoga saja tidak, menjadikan Islam terbebani oleh perilaku-perilaku syahwati, mengejar kepuasan dan sensasi diri.

[Dimuat sebagai "Tajuk" di tabloid Cempaka, Sabtu 1 November 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

24 Comments

Comment by Attar
2008-10-31 22:07:57

nabi melamar aisyah ketika putri abu bakar itu berusia 7 tahun dan resmi menikahinya pada usia 9 thn. 9th dipake sebagai patokan seorang perempuan mengalami menstruasi. tapi fakta bahwa kapan nabi mulai menggauli aisyah memang masih misteri. benarkah nabi menggauli aisyah yang masih 9th itu?

pernikahan nabi dengan aisyah menjadi peluang bagi kelompok yang ingin menjatuhkan islam. mereka menyebut tokoh panutan umat islam itu melakukan tindakan pedofilia (pencabulan). sementara bagi umat muslim, yang paling mungkin adalah dengan menengok konteks peristiwanya.

saya suka dengan tulisan sampeyan ini. setidaknya bisa menunjukkan kepada mereka yang mengaku mengaku pengikut nabi agar tidak dengan gampang menjadikan pernikahan nabi itu sebagai kedok untuk menghalalkan tindakannya, sementara mereka tidak melihat dirinya sendiri secara proporsional.

sikap MUI saya kira juga sudah benar dengan menggunakan hukum perkawinan yang berlaku di negara ini, bahwa seorang perempuan boleh menikah setelah berusia minimal 16 tahun. dengan mengacu pada uu itu, syeh puji bisa dijerat hukum. soal menyamakan dengan tindakan nabi, itu susah dimengerti, selain juga peristiwanya sendiri yang masih misteri.

 
Comment by unai
2008-11-01 08:55:33

eneg banget lihat si sex pudji itu. Huh pedopil dia itu

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-01 15:10:28

hush, unai ini, pamali ah… ingat-ingat, kan lagi hamil… kudu bicara yang baik, hahahhaha

 
 
Comment by aldohas
2008-11-01 10:07:46

yah, saya juga sepakat dengan tulisan ini
hanya saja yang perlu diingat secara hukum Islam dia gak bisa disalahin, nah klo hukum formal negara salah

jangan sampai kita menilai jelek sebuah hukum “syariah”, berbahaya loh, apalgi klo kita emang muslim, kecuali gak mau dianggap muslim ya ga masalah.
saya juga nulis dikit tentang ini
di http://blog.aldohas.com

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-03 15:50:36

gak ada yang menilai jelek syariat, kok. dan lagipula, menikahi anak 12 tahun itu belum pernah menjadi syariat. dan ukuran muslim atau tidak itu, masa hanya ditentukan oleh hal-hal yang justru tak diwajibkan dalam syariat. ada-ada saja deh!

 
 
Comment by edhitok
2008-11-01 21:59:25

Mas Aulia, saya suka tulisan anda.
Engga lah mas, saya ga ikut2an Puji itu (semoga) hehe….
Mas sendiri? hayo…
Apalagi sama2 semarang, deket memang bukan berarti sama om.
Sukses terus lah mas, ditunggu tulisan2 menarik lainnya.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-03 12:22:35

thanks berat….

 
 
Comment by haris
2008-11-03 13:58:15

“meniru kanjeng nabi” adalah sebuah alibi, sebuah apologi buruk, guna melampiaskan nafsu. lha wong nabi itu manusia pilihan. lha syeh puji kan cuma manusia jenggotan. ha2. :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-03 14:29:10

hahahha haris ini, jenggot jangan dibawa2 dung, nanti mas ahmad dhani marah, lho….

 
 
Comment by syfa
2008-11-04 12:57:59

daun muda kayake enak tuch…
Mungkin syaikhina al-kirom pujiyono lebih suka lalap daripada lauk,hahahaha….
aku inget lalap daun muda lamtoro plus sambal bawang putih,,gak nyambung yo

 
Comment by Neni
2008-11-04 16:22:45

Aku heran, virus poligami ini bisa mewabah kemana-mana ya… dulu rame di bandung, sekarang di semarang. awas, ketularan ya mas!
Sebenarnya,klo bilang meniru Nabi, salah besar Om Puji ini, kayaknya dia lebih meniru raja-raja jawa tuh, yang suka bermewah-mewah dan punya banyak selir. Gemes aku, pingin cukur jenggotnya itu.

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-05 12:33:47

jenggot atas atau….?

 
Comment by amin fauzi
2008-11-06 12:18:15

ya benar, sekaya apaun orang, sebanayak apapun hartanya. persoalan perasaan, perhatian ga bisa di bagi-bagi, tetap ada yang saling mendominasi.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-06 12:36:53

yupe, setujju!

 
 
Comment by eL
2008-11-06 14:58:28

syekh Puji ini (syekh? oh, ayolah..),

“ndilalah” kok ya hidup di lingkungan sosial yang memungkinkan terjadinya praktek-praktek semacam itu.
entah bagaimana, sejak pertama dengar soal ini, saya selalu tibatiba terbayang sebuah adegan di mana orang tua si Ulfa ini bicara pada anaknya :
” nduk, iki berkah saka Gusti Allah. kowe disuwun syekh puji sing mulyo kae. nderek’o syekh puji, iki kabeh kanggo kamudharatan-mu nduk, ugi ngangkat martabat wong tuwamu. ”

subjektif sekali ya SAYA? Arrrrgghhh.. saya usir seperti apapun, pikiran itu selalu langsung begitu saja mencelat tiap dengar nama syekh (syekh?) puji.

BUSYET BENAR DIA!

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-06 19:04:55

iya, pujiono memang membuat orang jadi gampang berprasangka buruk.

 
 
Comment by randu
2008-11-13 12:15:51

Puji mungkin artinya terpuji, tapi tindakannya kata orang tidak terpuji. Dia hanyalah manusia yang mencoba berjalan dengan benar. Dan kalaupun salah itu adalah manusiawi. Dia bukan nabi, tapi juga bukan koruptor, bukan pencuri. Tetapi dia hanya menikah yang syarat sah pernikannya tidak diragukan lagi menurut agamanya yaitu Islam. Adapun kalau ada hukum konvensional tidak mengesahkan, tentu bukan hal besar. Coba kita telanjangi kehidupan kita sekitar kita, sudahkah kita dan mereka menjalankan hukum negara dengan benar, tidak melanggar rambu2 polisi saja sudah bagus, apalagi aturan laennya. Sangat susah mas.

Kalau menurut kita orang yang berusaha meniru tindakan nabinya itu salah, lalu bagaimana yang tidak menirunya?? Apakah dapat di benarkan? kalau menilai orang baik itu dari segi kebaikannya saja tanpa melihat keburukannya, apakah anda orang baik yang sudah pantas menyalahkan orang laen?

saya sangat salut dengan Kak Seto yang dengan arief mensikapi masalah Puji ini dengan penuh persaudaraan, tanpa ada bahan tertawaan, itulah figur orang baik dan bijak atas sesama saudara, bukan menghakimi dari satu sisi saja, karena dia tidak sejalan.

Thanks.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-13 15:13:39

Randu, menurutku, ada perbuatan nabi yang dapat ditiru dan yang tidak. berpoligami dan atau menikah muda adalah salahsatunya. Ali bin Abi Tyalib saja tak mendapat izin untuk memadu Fatimah.
masalahnya, kukira, banyak hal-hal yang boleh dalam syariat dikatakan seakan menjadi wajib. itu yang berbahaya. menikahi perempuan muda memang boleh dan halal, berpoligami pun boleh dan halal, tapi tidak wajib. dan percayalah, hal yang boleh dan halal itu, menurut kaidah ushul fiqh, dapat menjadi haram karena sifat-sifat tertentu.
Randu, engkau juga harus tahu, UU Perkawinan itu bukan produk negara semata. UU itu lahir sebagai kesepakatan ulama atas tafsir perkawinan dalam Islam. coba pelajari sejarahnya….

 
 
Comment by randu
2008-11-14 11:33:56

Kenapa hanya Aliy mas, kenapa yang lain tidak, sejarah juga harus jelas dong, dan tentunya masalah yg dihadapi adalah anak itu baru umur 12 tahun, karena ortuku juga menikah 12 tahun mas kala itu, di ulang pernikahannya sampai 3 kali, sebab si anak selalu mengatakan ini kehendak ortu bukan dirinya, tetapi setelah penghulu jelas mendapat jawaban nikahnya karena dirinya sendiri (telah siap menikah) segera akad nikah dilaksanakan. Alhamdulillah sampai sekarang nggak ada masalah (insyaAllah mendapat ridloNya). Amiin.

Kalau kita mencari salahnya, tentu orang akan berat melaksanakan pernikahan. Apakah kita mau generasi penerus itu pada sanksi dengan pernikahan dan hanya kumpul kebo saja, dikarenakan UU yang sangat rumit dan jelimet.

Sebenarnya hanya masalah pandangan saja menurut saya, apalagi MUI yang dengan tidak tegas mengatakan “barangkali boleh menurut Islam(agama)”. Sebenarnya dia itu tahu hukum apa tidak, jangan membuat umat yang belum banyak mengerti hukum jadi bimbang dengan hukum agamanya sendiri.

Dan poligami ini adalah jalan keluar menurut agama yg hukumnya pasti dan jelas, dan apabila banyak orang menentang itu semua tidak lebih karena mereka cenderung keluar jalan daripada ada jalan keluar dan juga rasa egoisme semata.

thankz.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-14 11:54:47

Randu, engkau lari dari masalah. UU Perkawinan itu bukan “buatan” negara, tapi kesepakatan dari ulama. UU itu adalah legalisasi dari hukum perkawinan di dalam Islam. Itu masalahnya. Jadi coba kamu pahami itu, biar tidak nggeladrah ke mana-mana, hehehe….

Kenapa Ali? Karena itu berhubungan dengan Fatimah, anak nabi. Jadi bayangkanlah, jika Nabi saja tidak izin anaknya dimadu, dan tidak percaya pada “keadilan” Ali, apakah engkau bisa berkata ada yang lebih baik perasaan seorang ayah daripada nabi kita? adakah yang lebih baik imannya daripada Ali? kemon, pren….

Tapi sudahlah, aku malas memperpanjang masalah ini. Kita harus bedakan “hukum islam” di negara islam, dan “hukum islam” yang dilegalisasi dalam negara sekuler seperti Indonesia. Itu saja.

 
 
Comment by randu
2008-11-14 13:33:58

Okey mas, kita nggak usah perpanjang karena ini hanya ajang silaturrahim saja, biar fasilitas ada manfaatnya, oh ya ku minta maaf tak tayangin tulisan anda di salah satu blogku, tapi pasti ada sumbernya dari dirimu, habisnya okey banget, kalau ada sesuatu dariku yang nggak berkenan karena dangkalnya pengetahuan maapin daku, terimakasih atas semua pertimbangannya. salam randu.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-14 13:39:18

siippp randu. kita berbeda, dan itu tak mengubah rasa hormat kita atas masing2 pendapat.

thanks banget. maafin juga.

 
 
Comment by Kuwat
2008-11-17 11:01:49

Poligami emang boleh menurut syariat. Lebih ok lagi bila hukum negara juga dipatuhin. Soal adil dalam poligami sangat relatif bagaimana yang ngejalaninnya aja.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-17 14:15:13

poligami itu muridnya einstein, jadi dia memakai teori relativitas keadilan, hehehe

 
 

Sorry, the comment form is closed at this time.