Wahidin, Pionir BU

September 12, 2008 · Print This Article

Di penghujung tahun 1907, seorang lelaki tua, berteman sebatang tongkat dan blangkon yang memudar warnanya, memberi ceramah di depan mahasiswa STOVIA. Pramudya Ananta Toer dalam Jejak Langkah, melalui tokoh Minke, melukiskan lelaki tua ini dengan menakjubkan. Mata lelaki tua itu, bercahaya, seakan menyimpan bara semangat yang luar biasa. Dia berpidato tentang gagasan baru, tentang masa depan Indonesia. Gagasan yang di era itu seperti bersit sinar di malam gulita.

Di antara mahasiswa Stovia, hadir Soetomo. Dia tergugah dengan pidato yang tenang tapi meledak-ledak itu. Dalam buku Kenang-kenangan, Herrineringen Soetomo menulis dengan penuh puji. “Berbicara dengan dia merupakan pengalaman yang sangat mengharukan. Dengan mudah orang tahu tentang luhurnya semangat pengabdian dokter ini”. Dan kelak, Soetomolah yang berusaha mewujudkan pidato lelaki tua itu.

Pengide yang tersingkir

Tapi, siapakah lelaki berblangkon yang sanggup memukai mahasiswa STOVIA itu? Dia tak lain adalah Dr Wahidin Sudirohusodo. Kedatangan dokter jawa ini tak lain karena dia sudah merasa putus asa menyampaikan ide-ide besarnya pada rakyat jelata.

Lima tahun sebelum pidato yang menggemparkan itu, Wahidin sudah mulai menyebarkan idenya melalui majalah Retnodoemilah, berbahasa Melayu dan Jawa. Di majalah yang terbit tiga kali seminggu itu, dia meliput tentang organisasi-organisasi pribumi tradisional. Dalam terbitan 4 Januari 1901 misalnya, dia menulis tentang Mardiwara (Berupaya), organisasi diskusi di antara pejabat kerajaan. Tiga edisi kemudian, dia meliput kelahiran Suria Sumirat (Matahari Bersinar), sebuah organisasi pengrajin yang bertujuan meningkatkan mutu produk dan daya sebar barang sampai ke Eropa. Di edisi ke-15, Wahidin bahkan langsung memuat pidatonya di depan organisasi tradisional itu, tentang perlunya kebangkitan Jawa. Dia menggelar bukti, pendidikan modern dapat disatukan dengan budaya Jawa, untuk memperbaiki kualitas hidup. Dalam pidato yang berisi itu, Wahidin memaparkan kebangkitan bangsa lain di Asia, seperti Cina dan Jepang. Juga mencontohkan kaum pendatang di Jawa yang justru lebih maju dan giat berorganisasi.

Tapi, semua ”provokasi” Wahidin tak menemukan gema. Para pembaca dan pendengarnya hanya mengangguk, tanpa berbuat apa-apa. Dan Wahidin takut, cita-citanya lapuk di makan usia.

Di usia 53, di pertengahan tahun 1906, dia mengambil keputusan penting, meninggalkan Retnodoemilah dan berkelana. Tujuannya satu, memprovokasi para pemuka Jawa sekelas bupati (regent) untuk menggalang dana yang kelak disalurkan sebagai beasiswa (studiefond) untuk rakyat tak mampu, yang berminat sekolah ke Nederland.

Tapi, banyak bupati yang tak mendukung ide itu. Mereka takut, jika peradaban baru muncul, posisi kepriyayian mereka akan tergeser, dan keistimewaan keluarga akan lenyap. Namun, Bupati Serang Raden Adipati Aria Achmad Djajadiningrat mendukung tulus ide ini, dan memberikan berbagai bantuan bagi Wahidin untuk meluaskan ide-idenya, hingga sampai diundang ke Stovia.

Para mahasiswa itu, dimotori Soetomo, mewujudkan ide Wahidin. Budi Utomo pun lahir. Sayang, organisasi modern pertama ini justru menciderai ide mulia itu, dengan menekankan unsur kesukuan, kejawaan. Dengan alasan demi perkembangan organisasi, usul Tirto Adisurjo tentang paham kebangsaan dan usul Wahidin tentang beasiswa, ditolak. Sampai bubarnya, Budi Utomo tetap berorientasi kesukuan, dan tak mengadopsi ide-ide Wahidin. Dia pengide, dan dia disingkirkan.

Jiwa yang Gelisah

Wahidin lahir di desa Mlati, Yogyakarta, pada 17 Januari 1852, sebagai priyayi desa bergelar Mas Ngabehi. Sejak kecil, dia dikenal lincah dan pintar. Tak heran jika kemudian Wahidin kecil tercatat sebagai bumiputera pertama yang diterima di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa.

Tahun 1869 dia tamat, dan langsung melanjutkan ke Inlandsch Geneeskundige, sekolah dokter bumiputera. Di sini Wahidin pun terkenal giat dan pintar. kejutan kembali dia raih, menjadi asisten dosen, dan setelah tamat, 1872, dia mengajar di sekolah itu.

Selama mengajar inilah Wahidin merasa betapa jauhnya jarak antara pribumi dan warga Belanda. Dia kemudian keluar, dan membaktikan diri menjadi dokter kesehatan di Yogyakarta. Namun, selama menjadi dokter pun, dari keliling daerah saat mengunjungi pasien, dia merasa gelisah melihat bangsanya. Dia menyusun pikiran besar, dan di tahun 1899, dia keluar. Di usia 49 tahun, Wahidin percaya, hanya perslah yang akan mampu menyebarkan dan membantu mewujudkan idenya. Sayang, kenyataan berbicara lain.

Tak banyak catatan tentang kehidupan pribadi dokter santun ini. Dia menikahi wanita Betawi, Anna, dan berputra dua. Seornag putranya adalah ahli lukis terkenal di masa itu, Abdullah Subroto. Dan cucunya adalah maestro seni lukis realis Indonesia, Basuki Abdullah.

Sembilan tahun setelah Budi Utomo lahir, dokter yang amat mencintai bangsanya ini meninggal dunia, 26 Mei 1917, dan dimakamkan di desa Mlati, Yogyakarta.

Comments

RSS feed | Trackback URI

5 Comments »

Comment by nadhif
2008-09-20 14:07:01

anehnya, tetap lahirnya BU yg dijadikan tonggak kebangkitan nasional. padahal SDI lahir lebih awal, diikuti lebih banyak anggota. dan berpaham bangsa-ganda, kata MInke. kenapa sih, Om?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-20 14:37:05

perdebatan BU dan SI sudah basi, sih. tiap tahun diperdebatkan, tapi fakta baru tidak ada. akhirnya, seperti kata asvi warman, sejarawan dari LIPI, BU yang paling “memenuhi” syarat untuk dijadikan tonggak, karena syarat non-agamis-nya.

kalau aku bahkan gak merasa ada tonggal kebangkitan bangsa ini. lha, wong pkb aja gak bangkit-bangkit, apalagi bangsa ini, hahahhaa….

 
 
Comment by Jack
2008-11-19 20:32:47

Maaf mas. aku keliru. ternyata ada juga yang peduli dengan tokoh nasional kita (walau baru cuma satu) salut buat nadhif. O ya mas, siapa tokoh politik favorit anda?

Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-20 11:16:20

gak ada favorit, hehehe… semua dinikmati aja, dengan segala salah dan benarnya

 
 
Comment by robin
2009-01-26 20:44:15

terima kasih, ini membantu saya menjawab tugas sejarah saya

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post