Kau yang Dikirim Hujan

September 9, 2008 · Print This Article

Kaki hujan itu, Lita, menghampiri lagi rumah kita, menjarumi gentengnya, dengan rintik yang pernah kita khayalkan akan kita dengar bersama.

“Aku akan menghangatkan tubuhmu, dengan peluk dan cium, segelas kopi hangat, atau cerita tentang Luka, anak kita,” katamu di suatu senja yang basah, yang aku tak ingat lagi tanggalnya.

Tapi khayalan memang selalu lebih manis dari apa pun. Di rumah ini, rumah yang kita angankan akan kita tempati bersama, aku terbaring sendiri, menikmati curah hujan yang begitu ritmis, yang menghantarkanku pada kenangan tentangmu.

Rumah ini Lita, kubeli sebulan setelah engkau pergi, kuharapkan, rumah ini akan memanggilmu kembali. Tapi ternyata tidak. Sampai rintik hujan yang kesekian, tak kudengar ketukan di pintu, darimu.

Kau tahu, Lita: kunci itu selalu kuletakkan di bawah pot bunga, di depan rumah kita, seperti yang dulu kamu pinta. “Nanti kuncinya selalu kita letakkan di bawah pot bunga, ya? Biar jika Abang atau aku yang pulang duluan, kita sudah dapat selalu berada di dalamnya,” pintamu, suatu kali, dengan mata terbakar cinta.

Aku selalu menunggumu, Lita, sendiri, terpenjara di sini, dikuasai kenangan tentangmu.
****

Di senja itu, di beranda kontrakannya, rasanya sudah lama sekali, dengan secangkir kopi dan sepotong donat, juga gerimis, ia memulai membuka peta. “Aku harus pergi, Bang,” bisiknya. “Ada yang ingin kuyakinkan.”

Aku diam. Kopi ini terlalu berharga jika harus dipotong dengan percakapan yang serius. Kuacak rambutnya, kutarik pundaknya, menyandar di dadaku. “Kenapa? Tidakkah aku cukup bagimu?”

Dia mencium pipiku, lembut, basah aroma kopi. “Aku hanya ingin pergi,” desisnya. “Nggak tahu kenapa?”

“Berapa lama?”

Dia menggeleng. “Aku akan kirim surat, SMS, atau e-mail, nanti.”

“Ya, sudah, pergilah.”

“Abang nggak ingin tahu alasanku?”

Aku menggeleng. Dia mencium pipiku, membasahi bibirku. “Jika ada uang, belilah rumah yang kita lihat kemarin ya? Suatu waktu, aku akan berada di dalamnya.”
****

Tapi menunggu, Lita: adalah Hawa yang digoda buah khuldi. Dan kesepian, lebih sunyi dari bangun tengah malam dengan irama titik air yang jatuh dari kran. Tidakkah engkau pernah melihat gelisah bayi kehausan yang mencari ujung puting ibunya? Kukira aku kuat. Tapi cinta, ternyata tak lebih seperti Adam, yang mengikutkan Hawa, tergelincir, takut ditinggalkan. Aku pun, ternyata, tak selamanya bisa berpegang hanya pada kenangan. Rumah kita ini, Lita: memanggil penghuninya yang lain, suatu sore.

Hujan. Deras. Genteng rumah seperti disirami ribuan pasir. Di langit utara, lidah petir berkali-kali menyambukkan pijar. Dan di ujung jalan itu, di bawah rimbun pohon mangga, aku melihatnya: tubuh yang hanya berlindungkan payung kecil, kaki yang dirapatkan, tak jelas, adakah gigil yang dia tahan. Aku melambainya. Tubuh itu bergerak.

Kesalahan acap datang dari keramahan yang tanpa pamrih. Begitu dia mendekat –rambut basah panjang, kemeja yang mencetak tubuh, dan pucat pada bibir, juga gigil —menerbitkan iba yang aneh. Kuhangatkan dia dengan senyuman, kuayun tangan memintanya masuk.

“Mau handuk?”

Dia menggeleng.

Tapi, kusorongkan juga handuk padanya. Ragu, dia tarik, dan kemudian, terjadilah visualisasi ini: dia mengelap muka, kedua tangannya membuka ketika mengeringkan rambut, menggoyangkan kepala membuang butir air, yang sebagian dinginnya menerpai wajahku. Sensual sekali.

Hidup, barangkali, berjalan seperti patahan-patahan dalam teka-teki silang, kita tinggal mengisi di kotak-kotak yang kosong, dalam lajur yang telah disediakan. Satu kata, mengisi dan menjadi penentuk kata lain. Namanya Maia, sekretaris di sebuah media. Sore itu, dia ingin melihat salah satu rumah yang diklankan, tapi hujan dan angin mengirimkannya padaku.

Jika kemudian Adam dan Hawa dilempar dari surga, siapakah yang patut disalahkan? Bagiku, kesalahan Adam dan Hawa justru terjadi kemudian, ketika mereka melahirkan keturunan: aku, Lita, dan Maia. Dan hidup, ternyata tak sama persis dengan teka-teki silang, yang jika gagal diisi hari ini, minggu esok sudah tersedia jawaban. Tangan yang kusodorkan pada Maia, siapa sangka, adalah tulang rusuk Adam yang mengubah diri jadi Hawa.
****

Kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan kita rencanakan. Aku pun memilih merangkai peta lain. Tapi, siapa sangka, peta baru ini begitu memesona, bayi yang tergeragap mengayun langkah pertama. Lita, perlahan, jadi hanya berupa bayang, baur, berjalan antara kenangan dan penghargaan. Dan cakrawala, ternyata memberi warna yang berbeda tiap sore, atau hati kita kah yang mengubah warna, Maia? Sampai suatu sore…

Aku, Maia, dan gerimis. Secangkir teh, kopi, dan secukupnya pelukan. Lalu sebuah ketukan…

Maia bergerak, aku menahan pundaknya. Aku takut itu Lita. Tapi terlambat, Maia sudah bergerak, meninggalkan aku yang sibuk berdoa. Lalu, di sisi pintu itu, Maia berdiri, menatapku. Dia seperti bingung. Tak ada siapa-siapa, katanya. Lega. Maia pun masuk lagi ke rangkulanku, menyandarkan pipinya pada hangat punggung tanganku. Lalu ketukan lagi….

Maia beranjak. Aku gelisah. Kususul dia. Di teras, aku melihat Lita yang melihat Maia, rambut basah panjang, kemeja yang mencetak tubuh, dan pucat pada bibir, juga gigil —menerbitkan iba yang aneh. Seperti pada Maia, kaki hujan itu, telah kembali mengirimkan Lita padaku.

Tapi, kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan yang kita rencanakan. Hidup, seperti kubilang, juga bukan semacam teka-teki silang. Atau, barangkali, aku adalah Adam, yang diletakkan antara Qain dan Qabil. Ketika Lita, Maia, bersamaan bertanya padaku, sambil saling menunjuk, “siapa?”, aku kehilangan suara, tak punya jawab. Kurasakan sore begitu senyap, dan titik air di kran, entah kenapa, jadi terasa begitu dekat, begitu nyaring.

Comments

RSS feed | Trackback URI

39 Comments »

Comment by edhi
2008-09-09 18:53:55

Pertamax Lagi….heheee

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 13:00:01

kamsudnya eh maksudnya apaan tuh?

 
 
2008-09-09 21:40:53

Asyik punya bacanya. Salam

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 13:01:10

salam juga. asyiikk karena selalu terinspirasi dari EWA yang sangat amat posmodernis

 
 
Comment by goop
2008-09-10 09:25:36

jah… ketahuan deh… :mrgreen:

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 13:01:46

emang mataband?

 
 
Comment by sekar asmara
2008-09-11 08:08:34

aahh… puitisnyaa … ijin add link yaaa…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-11 11:49:08

silakan, silakan….

 
 
Comment by unai
2008-09-11 09:52:54

busyet dah dicintai dua perempuan..asik pula dipeluk peluk. Ughhh lama gak baca yang beginian. LAma pula gak mampir. Apa kabar sih??? huh sumbung deh yaaaa

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-11 11:51:16

unai kan lagi sibuk menggantikan bapak2 bos, manalah awak yang di bawah ini berani interupsi, hihiihi…

 
 
Comment by syfa
2008-09-11 11:16:30

“Tapi, kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan yang kita rencanakan,” katamu mas Aulia. Membaca paragraf terakhir itu, aku teringat pada film Hell Boy. Si “anak neraka” pada akhir petualangan; pencarian; dan penentuan keputusan untuk menjadi manusia (meski wujudnya ganjil/tak lazim)itu berkata, “Kesempurnaan bukanlah apa yang kita rencanakan, tapi bagaimana kita mengakhiri keadaan.”

Pemberani (mungkin) adalah orang-orang yang berani meyakinkan diri untuk menjadi;menyediakan ruang baru;………. Sebab, di tiada tempat lain di antara senggang surga dan neraka. Dan, (mungkin) manusia harus memilih salah satunya.

Wah, jadi perlu banyak belajar al-manzilah baina al-manzilataini; “memosisikan diri di antara dua keadaan yang mengundang perang.”

Salam,… moga ketemu di lain kesempatan. Tapi di ruang nyata lho mas.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-11 11:57:06

wuihhh, komentarnya membuat minder deh. muantap! thanks ya….

 
 
Comment by Mama Pio n Abil
2008-09-11 12:32:49

mantaps…*tozzz*…
ternyata pndah kesini, pada sudah lama dicari.. :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-11 12:43:01

alhamdulillah ketemu juga ya, hiihih… beginilah kalau pindah tanpa selamatan.

 
 
Comment by Kemal
2008-09-12 00:39:55

salam kenal bang aulia….bagus sekali tulisan anda…silahkan mampir ke kisah pribadi saya….sedikit menghangatkan diri di dalamnya….pada kisah tragis kami…..kemal dan aisha

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-12 11:55:36

salam kenal juga. tulisan dan katahati kamu luar biasa di blogmu. thanks ya…

 
Comment by Kemal
2008-09-12 18:47:36

teriring salam dari rama-rama saya…Aisha, terimakasih katanya, sudah sudi mampir

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-15 11:20:16

sami2

 
 
Comment by nadhif
2008-09-14 10:16:06

eh, dulu manggilnya “ann”, trus skrg “lita”. emg punya mantan berapa sih oom? hihi

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-15 11:20:49

wuaakiihh! hihihihi

 
 
Comment by enno
2008-09-17 20:16:41

cerita yang bagus sekali, bikin saya berpikir ‘trus jadinya gimana?’

makasih sudah mampir ke blog saya, bang! salam kenal
saya link ya :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-18 12:11:32

iya, ada teman memintaku membaca blogmu. dan rekomendasinya memang yahud. makasih ya….

 
 
Comment by eL
2008-09-23 12:58:26

hujan..
lagi lagi hujan,
heran.

hujan..
ya ampun..

sedemikian banyak yang terkirim bersama hujan,
di njenengan juga ternyata.

salam, bang Aulia :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-23 13:45:14

kan kalau hujan bisa berteduh di dangau ilalangmu, eL…

 
 
Comment by eL
2008-09-26 12:57:43

ah, iya.
lalu aku bisa sekalian menceritakan mimpi, lalu minta njenengan menaja-nya

begitu? ^_^

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-26 16:25:28

silakan mencoba, barangkali kita bisa belajar membacai mimpi-mimpi, bersama….

 
 
Comment by bangzenk
2008-10-09 14:51:49

Tapi, kepastian adalah apa yang kita pilih, bukan yang kita rencanakan. Hidup, seperti kubilang, juga bukan semacam teka-teki silang.

selalu begitu.. hidup adalah pilihan, semua bersimpul pada satu kata “mati”.

terimakasih atas cerita yang sungguh menginspirasi hati, cerita di atas seperti menjelma pada pengalaman pribadi saya.

salamhangat

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-10 12:41:38

salam hangat kembali…

 
Comment by gitafh
2008-10-12 09:04:35

hi aulia, deuh punya rumah baru :)

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-13 10:25:07

rumah baru tapi mewarisi kenangan lama, hihihi….

 
 
Comment by Muhajir Arrosyid
2008-10-13 09:29:43

Hujan adalah rindu langit pada tanah!
dan kenangan seberpapun indah adalah luka yang menghujam..
Silahkan Lita, Silahkan

Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-13 10:26:13

silakan apa? berbuka? berlebaran? berlari, menjauh?

 
 
Comment by Muhajir Arrosyid
2008-10-14 09:52:46

He he he

 
Comment by harjito
2008-10-16 10:52:54

ending yang sangat menggigit. seperti komentar saya terdahulu, saya sangat menunggu mas aulia buat buku. Mas aulia lama nggak nulis di suara merdeka minggu ya? sesekali mampir dong di blok kami http://lembarrenung.wordpress.com Salam!

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-10-17 16:36:18

iya mas, sudah lama kering ide, hehehe… oke, saya akan sering mampir. asyiikkk!!

 
Comment by yon's
2008-10-22 18:54:43

buset baru tahu ada blog inih. sori bos lom sempet baca-baca. ini buru buru soalnya. kapan-kapan dech bacanya he he

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-05 20:35:34

kapan?

 
 
Comment by wija
2009-01-28 09:33:05

…ditulis sbg kado ultah untuk galuh lallita swasti. jiwa putih yang tak pernah berhenti membersihkan jiwaku… -lukka

nah aku ud sering baca tulisan yang ini di pi. jadi lukka adl mas aulia. dan kata temenku yang anak sastra inggris 97 litta itu memang cantik abis katanya. bener g sih mas? pantes tulisan yang dibikin pun luar biasa. hehehe…

well, ini adl tulisan mas aul yg lian. tentang cinta segitiga yang lain. belum merasa perlu menanggalkan “segitiga” nya ya mas? ;)

Comment by Aulia A Muhammad
2009-02-05 20:36:19

hanya someone yang boleh menanggalkan “segitiga”ku, hahahah

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post