STA, Perangkum Semua Kebudayaan

September 1, 2008 · Print This Article

INDONESIA hari ini, juga Indonesia akan datang, tidak dibangun dalam satu hari, juga tidak oleh satu orang. Meski, untuk peletak dasar kebudayaan, ada satu orang yang namanya tak mungkin dihapuskan. Dialah Sutan Takdir Alisjahbana, yang namanya biasa disingkat STA.

Takdirlah yang dengan serius memikirkan kebudayaan Indonesia. Tak hanya melalui Polemik Kebudayaan –yang sampai kini masih acap dibicarakan- dan Majalah Pujangga Baru yang semua dia garap dengan sangat serius, tapi juga upayanya menjadikan bahasa Indonesia menjadi sebuah bahasa modern.

Bagi Takdir, bahasa bukanlah semata alat untuk berpikir. Bahasa adalah pikiran itu sendiri.

Dan modernisasi adalah kunci dari pemikiran Takdir, yang sering diidentikkan orang dengan pembaratan. Padahal, Takdir memaksudkan itu sebagai adopsi rasionalitas. Dan itulah yang terus ia pertahankan mulai Polemik Kebudayaan, sampai di akhir masa hidupnya.

“Perdebatan ketika itu adalah mengenai perbedaan antara yang saya namakan kebudayaan progresif –penguasaan ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi-dan kebudayaan ekspresif –kebudayaan tradisional yang dikuasai nilai agama dan seni. Yang pertama berdasarkan kerasionalan berpikir, yang kedua berdasarkan intuisi, dan imajinasi,” terangnya di tahun 1986.

“Perbedaan kedua hal itu amat besar. Seperti perbedaan antara kebudayaan Indonesia dan pra-Indonesia. Zaman Islam dan zaman Jahiliyah,” tambahnya di tulisan yang lain.

Sebelumnya di tahun 1985, saat dia berumur 77 tahun, dengan marah Takdir menyerang pihak yang masih merindukan kebudayaan lama atau daerah, sewaktu seminar di Bali. “Kebudayaan lama adalah kebudayaan pramodern yang sama sekali ta pernah menghasilkan teknologi.” Bagi Takdir, kebudayaan adalah totalitas agama, ilmu dan teknologi. “Kebudayaan pramodern, irrelevant dengan totalitas itu,” kecamnya.

Guru yang Ganas

“Sewaktu lahir, Takdir tak menangis, tapi langsung berdebat.” Begitulah kelakar teman-teman masa mudanya, menggambarkan betapa acapnya tokoh satu ini mendebatkan banyak soal.

Lahir di Natal Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 11 Februari 1908, Takdir mengaku berdarah campuran.
“Ayah saya berdarah Jawa, namanya Raden Alisjahbana, gelar Sutan Arbi. Gelar Raden itu diakui Kesultanan Yogyakarta, dan ayahlah yang pernah diminta memata-matai kegiatan Sentot Alibasjah di Bengkulu. Dari jurusan darah ini, saya memang orang campuran,” akunya sambil bergelak pada Tempo.

Ayah Takdir seorang guru, dan Takdir mewarisi bakat itu. Setelah menamatkan sekolah di HIS Bengkulu (1921) dan melanjutkan ke Kweekschool, Bukittinggi, Lahat, Muaraenim (1925) dia mulai mengajar. Tapi bakat yang diturunkan ayahnya ternyata tak cuma menjadi guru, juga suka bermain bola, berdebat, dan ini yang paling parah, pemberang. Tak heran, dia acap mengamuk mengamati kebodohan murid-muridnya.

“Sering betul saya menampar murid-murid. Suatu hari, saya malah menampar seluruh kelas,” kenangnya.

Peristiwa itu berlanjut. Seorang murid melaporkan peristiwa itu, dan nama Takdir tercantum dalam sebuah liputan di koran Pertja Selatan, dengan berita panas, “Guru yang Ganas”.

Mungkin karena itu Takdir terbang ke Jakarta, melamar menjadi redaktur di majalah Panji Poestaka, tapi ia malah diterima di bagian penerbitan buku. Di Jakarta ini dia masih melanjutkan sekolahnya di Hogere Hoofdacte Curcus (1933), dan melahirkan roman pertamanya, Dian yang tak Kunjung Padam, dan dilanjutkan dengan Layar Terkembang.

Kariernya melesat karena redaktur Panji Poestaka Adinegoro pindah ke Medan. Takdir menggantikannya, dan melesatkan projek “Gerakan Sastra Baru” pada tahun 1933. Gerakan ini membuat dia akrab dengan sastrawan kondang masa itu, Armijn Pane dan Amir Hamzah.

Takdir kemudian berkenalan dengan A Dahleer, seorang Belanda pemilik percetakan Kolf. Lewat percetakan itulah Poejangga Baru pertama kali terbit, yang kemudian Takdir terbitkan sendiri.

“Meskipun pembaca Majalah itu tidak banyak, tapi pengaruhnya besar sekali. Banyak ahli yang menyumbangkan tulisan, di antaranya Prof Husein Djajadiningrat, Maria Ulfah Santoso, Amir Sjarifuddin, Mr Sumanang, dan Poerwadarminta. Ada sekitar 20 orang intelektual Indonesia yang menjadi inti gerakan itu,” kenangnya.

Tenggelam dalam Bahasa

Ketika Jepang masuk Indonesia, Takdir masih sempat menamatkan sekolahnya di Rechtshogeschool dan Leeterkundige Fakulteit Jakarta (1942). Dan ketika Jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia, Takdir pegang peranan penting.

“Saya diangkat jadi Sekretaris Ahli. Sekretaris sesungguhnya adalah Mr Soewandi,” jelasnya. Namun, sejarah mencatat, Takdirlah yang kemudian menjadi napas Lembaga itu, terutama saat Lembaga itu berubah menjadi Kantor Bahasa, dia mengetuainya. Dan Takdir memulai kerja, menyeragamkan istilah-istilah yang dipakai di sekolah-sekolah.

“Kami berhasil menghimpun lebih dari 400 ribu istilah dalam bahasa Indonesia,” ucapnya bangga.

Di masa Jepang ini, dia pun melahirkan novel Anak Perawan di Sarang Penyamun.

Di era kemerdekaan, Takdir kemudian mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) dan Universitas Nasional, dan menjadi rektornya. Dia menjadi penganjur yang tak kenal lelah untuk usaha modernisasi, menganjurkan penerjemaan karya-karya asing secara sistematis dan berkualitas. Ia pun mendirikan lembaga penerjemahan di Universitas Nasional.

“Semua kebudayaan dunia adalah kebudayaan saya,” jelasnya, saat ditanya kenapa dia begitu getol menerjemahkan berbagai karya sastra dunia. Namun, ia mengaku kecewa dengan kualitas penguasaan bahasa Indonesia.

“Saya kecewa. Ini menunjukkan bahwa bahasa yang pernah menggetarkan dunia linguistik ini, dengan kesanggupan memersatukan 13 ribu pulau, masih saja jadi bahasa yang terbelakang, belum modern, belum menjadi pintu ilmu dan teknologi,” keluh suami tiga istri, dan bapak sembilan anak ini, selain lima novel dan beberapa karya ilmiah.

Obsesi Takdir adalah menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ia memberian gambaran bahwa Malaysia, Brunai, Singapura dan sebagian Philipina adalah pemakai bahasa Melayu. Karena itu, dengan kerja sama dan pengertian yang baik, Takdir percaya, keempat negara itu akan mampu mewujudkan bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di Asia Tenggara.

Sayang, obsesi si perangkum semua kebudayaan itu tak pernah terwujud, sampai ia menutup mata 15 Juli 1995, di usia 87 tahun. Bahkan, sampai kini, enam tahun setelah kepergiannya itu, tak ada pewaris obsesinya yang masih mau mengumandangkan cita-cita itu.

Comments

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post