Jika Hidup adalah Kemunafikan

August 21, 2008 · Print This Article

“Kalau kamu berusaha mencukupi kebutuhan orang lain, otomatis kebutuhan kamu pun tercukupkan. Percayailah hal itu,” tutur Ny Lalu Slamet, menirukan ucapan suaminya. “Saya ikuti saja apa kata suami, meski saya tak mengerti.”

1/

HIDUP terkadang memang tak butuh pengertian. Dia hanya minta dijalani, tanpa tanya apalagi gugat. Karena kearifan diberikan kehidupan bukan melalui serangkaian teori dan abstraksi, melainkan praktek dan pengalaman. Lalu Slamet membuktikan hal itu. Di desanya, Dompu, di pedalaman Nusa Tenggara Barat, yang ada hanya kegersangan. Tanah membentang, tapi kering kerontang. Tak ada sumber air kecuali sebuah sungai besar berpagar bukit cadas, bermuara ke laut. Slamet selalu mendengar ricik itu, dan membayangkan arus air berbelok ke desanya, membasahi bentangan gersang ladang-ladang yang tak memiliki tuan.
Tapi pembayangan adalah impian. Dan Slamet tak cukup puas dengan itu. “Saya lalu lubangi bukit, dan membelokkan arus sungai agar mengaliri tanah kami,” ceritanya.

Dalam tayangan “Balada di Balik Nama”, di Trans TV, Selasa pagi (29/7) itu, Slamet dan beberapa penduduk memulai kerja dengan linggis. Rekaman dengan gambar bergaris dan buram itu menunjukkan bagaimana tekad baja mampu merontokkan bukit padas. Bukit berlubang, air sungai pun bisa menerjang ladang. Slamet pun mulai menanam. Lebih dari 20 tahun dia merekayasa alam, dua kali dia belokkan arus sungai, membuat irigasi, dan membuka jalan tembus antardesa. Hasilnya, kini tak ada lagi tanah gersang. Sisi lembah di utara bukit padas itu, telah lama menjadi waduk buatan dengan ribuan ikan tanaman. Di genangan air itu, dia dirikan berbagai rumah apung untuk memancing. “Sekarang desa ini lebih dikenal sebagai tempat wisata,” ceritanya, bangga. Slamet memang layak bangga, karena dia berhasil “menyelamatkan” lebih dari 23 ribu hektar tanah di wilayahnya.

Slamet hanya orang biasa. Tubuh dan wajahnya hitam dan kering, dijilat matahari terlalu sering. Dalam tayangan itu, selama menunjukkan hasil karyanya, dia hanya bersandal jepit, berkaos dan bersarung. Tak ada nada bangga dalam tiap ucapannya. Meski semua kehijauan dan kemakmuran desa itu akibat kerja tangannya, Slamet selalu mengikutsertakan bantuan warga desa dalam tiap penegasannya. Tak ada niat pamer. Padahal, “Ya kalau dihitung, barangkali sudah menghabiskan puluhan miliar ya?”

Untuk kerja kerasnya itu, Slamet tak meminta apa pun, meski dia mendapatkan banyak rasa hormat dan kagum dari warga desa. Tokoh beberapa desa mengaku berhutang budi pada kerja Slamet. Dan dampaknya jelas, berkali-kali mereka mendesak Slamet untuk mencalonkan diri menjadi anggota legislatif. Mereka yakin Slamet pantas dan pasti terpilih. Tapi Slamet menolak. “Modal saya cuma ikhlas, jujur, dan tawakal. Saya tidak cocok untuk berpolitik. Itu bukan tujuan saya,” elaknya.

2/

HIDUP adalah perbuatan. Itulah moto iklan politik Soetrisno Bachir. Iklan manis dengan wajah riang anak-anak itu berkali-kali tayang di berbagai televisi. Soetrisno, ditemani istrinya yang sumringah menyapa dan tertawa bersama warga, mengajak untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa. Meski, di mata ahli komunikasi Effendi Ghazali, iklan itu tak jelas untuk apa. “Saya hanya jadi tahu ternyata istri Mas Soetrisno itu cantik ya? Tapi iklannya sendiri ingin mengatakan apa, saya tidak dapat menangkap. Kurang spesifik,” gugatnya dalam acara “Topik Kita” di Anteve, Minggu (17/8).

Soetrisno membalas ketakmengertian Ghazali itu dengan, “Saya kira, meski sudah doktor, tak ada salahnya ya, untuk rendah hati, mau belajar ilmu komunikasi dengan saya yang cuma lulusan S1.” Lalu Soetrisno menjelaskan makna iklan itu, bahwa hidup adalah perbuatan. Perbuatan yang seperti apa? Di mana, dan siapa yang berbuat, juga untuk apa, memang tak terjelaskan. Iklan itu, tagline itu, tetap hanya menjadi moto, semboyan, abstraksi, logos, ilmu, dan bukan laku. Dalam iklan itu, “hidup adalah perbuatan” masih duduk sebagai predikat, tanpa subjek, juga objek. Dia tak sempurna.

Barangkali, Ghazali, seperti juga banyak pengamat lain, ingin bertanya, selain iklan itu, apakah “hidup adalah perbuatan” telah menjadi laku-lahir Soetrisno Bahir. Dan Soetrisno paham dengan hal itu, dan mengakui di berbagai forum, bahwa telah miliaran uang dia habiskan untuk membantu orang lain.

3/

HIDUP adalah perbuatan, berbuat untuk bangsa. Dalam bahasa iklan politik Rizal Mallarangeng menjadi “Save Our Nations”. Berlanskap rumah pembuangan Bung Karno di Bandaneira, dengan aroma laut dan gairah persatuan, Rizal tampil sebagai sosok muda yang mengerti kebutuhan bangsa. “Save Our Nations” menjadi begitu indah dan nyaman didengar telinga. Kenyamaman yang memaksa John Pantau untuk bertanya kepada Rizal, berapa sebenarnya jumlah provinsi di Indonesia?

Rizal tampak tak nyaman dengan pertanyaan itu. Dalam tayangan “John Pantau” di TransTV, Minggu 817/8), wajahnya tak yakin ketika menjawab, “34.”

John Pantau terkikik, dan dengan gayanya yang selalu menggoyang-goyangkan tubuh dan biji mata, dia tertawa tak yakin. Rizal dapat membaca “ejekan” ketakyakinan itu, dan menambah dengan, “Pasti kamu belum tahu kan, provinsi yang terakhir masuk, yakni Sulawesi Barat.” John makin tertawa, tubuhnya kian bergoyang, “Sulawesi Barat yaaaa?”

Di layar, tertera tulisan, “Bukannya Sulawesi Barat telah jadi provinsi sejak 2004″. Rizal memang salah, sampai kini Indonesia baru memiliki 33 Provinsi. “34, kalau Singapura diikutkan,” kata Soetrisno Bachir di acara yang sama, tanpa bermaksud meledek Rizal, tentunya.

Rizal juga mengelak ketika diminta hanya menyanyikan refrain “Indonesia Raya”, karena “Saya kalau bernyanyi harus dari awal, sudah jadi kebiasaan.” Rizal tahu dia diuji, dan dia tak ingin salah lagi.

Padahal, tagline “Save Our Nations” Rizal menyimpan anomali dalam dirinya sendiri. Bagaimana menyelamatkan bangsa, jika Rizal adalah pawang utama yang mendukung liberalisasi harga BBM dan privatisasi BUMN, dan negosiator yang menyerahkan pengelolaan Blok Cepu ke Exxon Mobile.

4/

HIDUP adalah perbuatan, berbuat untuk menyelamatkan bangsa. Barangkali, dibandingkan Soetrisno dan Rizal, hanya Lalu Slamet yang telah melakukannya. Lebih dari 20 tahun dia bekerja, membelah gunung dan membelokkan aliran sungai, tanpa bertanya apakah itu akan bermakna untuk bangsa, tanpa berpikir apakah “kegilaan” itu dilihat Indonesia. “Modal saya cuma ikhlas, jujur, dan tawakal. Saya tidak cocok untuk berpolitik,” katanya.

Lalu Slamet tahu, politik tak pernah menginginkan keikhlasan, kejujuran, dan ketawakalan. Karena politik dihidupkan oleh popularitas, uang, dan sebesar-besarnya kemunafikan. Dan kemunafikan adalah watak yang dihinggapi kemudahan untuk cidera janji, berkhianat, dan berbohong. Sayangnya, kebohongan terbesar acap kita temukan dalam iklan, –dalam arus kata-kata yang cuma duduk sebagai semboyan, dalam watak-peranan para aktris yang kini diundang ragam partai untuk berpolitik di senayan.

5/

Hidup adalah kemunafikan. Indonesia sungguh tak bisa lagi diselamatkan.

[Artikel di atas telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 24 Agustus 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

23 Comments »

Comment by Shun
2008-08-21 22:37:08

Shun setuju, iklan2 politik di TV itu cuma untuk mencari popularitas. Sama halnya suatu merk yang mengiklankan produk barunya, untuk mengenalkan produk baru tersebut kepada masyarakat, dengan harapan masyarakat akan mencarinya di supermarket.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-22 12:38:09

Benar, Shun. Iklan kan selalu hiperbolis, lebih bagus dari produknya, hehehe…. “hidup adalah beriklan”.

Comment by Shun
2008-08-25 04:52:42

Hehehehe juga, majas metonimia kali

(Comments wont nest below this level)
 
 
 
Comment by arimbi
2008-08-22 10:51:23

lama nggak mampir kesini.selalu suka dengan cara mas ia melihat sesuatu, mengkritisi dan menuangkannya dalam kata2.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-22 12:39:00

Arimbi iki, iso ae!

 
 
Comment by vicsky
2008-08-24 15:37:46

tulisan ini saya baca di suara merdeka hari ini. sangat bagus dan menggugah kesadaran para (calon) pemimpin bangsa agar lebih mengenal negeri ini, jangan hanya ‘jualan kecap’…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 11:26:13

namanya kecap, pasti nomor atu, ya? tapi ingat lho, kecap itu selalu hitam…

 
 
Comment by griyatawang
2008-08-24 22:50:01

Mas tulisan ini ada di Suara Merdeka, bagus banget. Saya mengikuti tulisan Mas setiap Minggu, tapi baru hari ini saya buka blog ini. Tulisan tentang dunia pertelevisian Indo yang bikin muak selalu membuat saya siaga bahwa bahaya TV lebih mengancam daripada kekerasan fisik yang lahiriah. Nothing in this world kills calmly like TV. Keep ur good work,Sir.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 11:28:06

iya, para produser acara di teve memang menjadi “pembunuh” yang paling berbahaya…. maturnuwun

 
 
Comment by haris
2008-08-25 08:55:39

akhirnya bisa komen jg. beberp hari stlh iklan soetrisno, tempo buat liputan ttg iklan politik. judulnya: “hidup adalah beriklan”. sy terus ingt kata2 kivlan zein, capres yang gak mau iklan. katanya: “sy bukan barang, buat apa diiklankan?” he2.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 11:30:19

iya, Ris; meski tak semua barang layak diiklankan, tak semua iklan selalu berwujud barang.

 
 
Comment by Yasir Alkaf
2008-08-29 09:56:44

Saya juga sering mengikuti tulisan anda ddi Suara Merdeka dan menurut saya sangat bagus. Cuma saya mengikutinya ketika pas dirumah saja ketika pulang kampung. Gara-gara tulisan ini akhirnya saya tahu oh ternyata ada blognya, sepertinya saya kan seirng berkunjung nih….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-29 11:57:25

seringlah bersilaturahmi, tuan rumah selalu menanti….

 
 
Comment by aRuL
2008-08-30 00:50:29

makanya kalo jadi pemimpin harus belajar…
masalah segini aja ngak bisa :D

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-30 13:06:37

iya, kalau jadi dan ingin jadi apa pun, kudu mau belajar mendengar dan rendahati…

 
 
Comment by 28764ku
2008-08-31 20:55:28

Tidaklah optimisme itu harus kita tinggalkan. Masih banyak harapan akan perbaikan. Biarkan mereka bicara apa saja, tapi mari kita lakukan saja kebaikan itu. Siapa tahu ini hanya bukit kecil yang dibaliknya mengalir sungai harapan.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-01 12:25:15

setuju! siappp!!

 
 
Comment by Yulis
2008-09-09 23:17:39

Wah pernyataan terakhir 5/ mengerikan. Tapi kalau kita masih memiliki orang seperti Pak Lalu Slamet bukannya masih ada harapan mas Aulia. Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan. thanks

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 12:58:10

lha, kalimat akhir yulis kok meminjang slogan Rizal Mallarangeng? Tim pendukung ya? hihiihi

 
Comment by Darryl Peeling
2011-04-03 17:51:04

I am usually to running a blog and i actually admire your content. The article has really peaks my interest. I’m going to bookmark your site and hold checking for brand new information.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post