Pasar di Indonesian Idol

August 6, 2008 · Print This Article

Aris dan Gisel bertempur di grandfinal “Indonesian Idol”. Yang menang adalah modal dan pasar.

Patudu, wakil Jawa Tengah itu, gugur dalam sebuah pertarungan yang tak adil. Pertarungan yang dipersiapkan dengan skema bahwa dia harus jadi pecundang. Ketidakadilan yang lahir dari analisa Indra Lesmana, satu hari sebelum kontes dimulai. “Terlepas dari kualitasnya, saya ragu kalau Patudu bisa lolos dua besar. Dia nggak punya pasar yang jelas seperti Gisel dan Aris.”

“Indonesian Idol” adalah kontes suara, dan Indra, juri utama, justru menilai Patudu “terlepas dari kualitasnya”. Indra berubah jadi pedagang, dan memasukkan pertimbangan pasar. Indra hanya melihat Patudu sebagai komoditas, satuan barang dengan nilai nominalnya, yang dapat berharga atau pantas dibuang.

Sebab Aris, di mata Indra, cocok menjadi ikon anak jalanan. Sebab Gisel, telah cocok jadi ikon gadis zaman sekarang. “Kalau Patudu, saya bingung. Dia itu mewakili siapa, dan condong ke mana, saya tidak tahu. Jadi dia itu belum jelas mempunyai pasar kalau jadi Idol,” tambah Indra. Dan sebelum Patudu diadu, Indra telah berbisik ragu.

RCTI menangkap keraguan pasar seperti yang dibisikkan Indra itu.

Namun, dalam sebuah tayangan reality show, keraguan, prediksi, tak selalu bergulir jadi kenyataan. Telah beberapa kali Patudu diramalkan juri akan terbuang. Anang dan juga Titi, telah dua kali menyatakan Patudu pantas pulang. Tapi kenyataan bicara lain, Patudu selalu kembali, bahkan ketika berada dalam penampilan terburuk. SMS untuk pria Batak ini selalu cukup, dia punya pendukung yang luas, dari Jawa Tengah, dan Medan, asal puaknya. Lebih dari itu, Patudu adalah “kontestan lelaki yang paling stabil penampilannya,” puji Indra. Dalam diri Patudu tersedia dua hal, kualitas suara dan dukungan pemirsa. Keduanya akan dapat mengalahkan keraguan pasar Indra.

RCTI pun merasa takut. Pertarungan yang adil seperti sebelumnya tak bisa dilakukan lagi. Harus ada skema, cara, yang bisa “mengacaukan” perebutan suara pemirsa. RCTI ingat satu nama, Titiek Puspa.

Maka, dalam pertarungan tiga besar itu, tiba-tiba Titiek Puspa hadir. Sendiri.

Sebelum Titiek Puspa, telah pernah hadir Audi, juga Rossa. Mereka acap menjadi suara alternatif di luar juri, yang mengomentari penampilan kontestan. Sebagai suara alternatif, mereka menilai semua, berada di antara penonton dalam “sudut netral”. Terkadang membenarkan penilaian juri, meski lebih sering membantah. Tapi Titiek Puspa hadir bukan sebagai suara alternatif. Titiek Puspa datang untuk memilihkan pemenang. Itulah sebabnya, dia tidak berada di zona netral bersama penonton, tapi duduk dalam apitan Ibu dan istri Aris. Di zona terlibat itu, kamera berkali-kali menampakkan Titiek yang ikut berdendang dan mengacungkan jari atas penampilan Aris.

Di sisi lain, di pusaran pendukung Patudu, tak ada satu artis pun. Tak ada kamera yang betah menayangkannya, hanya sekelebatan.

Dan apa kata Titiek Puspa? “Wes, sing baju kuning itu pasti masuk grandfinal.” Aris memang memakai jas kuning. “Merinding awakku mendengar suaranya,” tambah Titiek Puspa. Cukup? Belum. “Sudah lama saya suka sama yang baju kuning itu. Banyak orang yang punya suara seperti kamu. Tapi cuma kamu yang punya soul, karakter. Pokoke, komplet!”

Titiek tak mengomentari yang lain, tak menilai yang lain. Kehadirannya hanya punya satu tujuan, menciptakan panggung grandfinal untuk Aris. Titiek dihadirkan untuk menjadi pemulung suara (vote getter) bagi Aris. Di panggung itu, Titiek memainkan perannya seperti artis di dunia politik, mengajak orang untuk memilih seperti pilihannya. Hasilnya? Efektif. Aris meraih suara terbanyak. Patudu, yang tak “punya pasar” itu, terbuang.

“Aku bangga sama kamu,” bisik Titiek ketika Aris merangkulnya, usai perhelatan yang tak menarik itu. Barangkali, Titiek bangga pada dirinya sendiri, yang kembali mampu menaikkan “pamor” Aris, seperti pada Inul, yang pernah dia lakukan dulu.

Lalu, dalam pertarungan yang tak adil itu, Ariskah yang menang? Titiek Puspa atau Indra Lesmana, dengan prediksi saudagarnya? Tidak. Yang menang adalah modal dan pasar. Dalam ajang itu, intervensi modal dan pasar telah membuat kualitas bukan lagi yang utama. Penghambaan pada pasar telah membuat seluruh aspek pertunjukan “Indonesian Idol” yang di babak audisi penuh dengan citraan pencarian talenta berbakat dalam bidang tariksuara, runtuh begitu saja. Perdebatan-pertengkaran Titi, Anang, Indra, tentang musikalitas suara seorang peserta tak lagi punya gema. Karena di babak akhir, Indra justru menciderai musikalitas itu.

Menempatkan pasar sebagai ukuran tertinggi di dalam berkesenian adalah dosa terbesar bagi kreativitas. Karena pasar juga adalah setan yang selalu menggoda iman berkesenian. Dan di Jumat malam (18/7) itu, iman berkesenian “Indonesian Idol” telah padam.

Tapi, apakah salah jika sebuah kontes, seorang juri, mempertimbangkan pasar? Salah, jika pasar ditempatkan sebagai sebuah kekuatan yang tak terlawan. Karena sesungguhnya, pasar selalu bisa dinegosiasi. Pasar bukanlah sebuah medan yang tetap dan ajek, melainkan bergerak dan mengalir, menerima setiap anasir untuk memperkaya. Pasar adalah sebuah muara, yang sebenarnya dapat dikendalikan dan dibentuk siapa saja. Pasar bukanlah areal seteril, melainkan wilayah yang bisa dipengaruhi, bahkan dikejutkan. Pasar adalah sebuah anomali, dan dengan demikian, sepertinya dia bisa diduga, padahal tidak, seakan bisa dikendalikan, tapi juga bukan. Pasar adalah dunia yang, meminjam Amir Hamzah, “bertukar tangkap dengan lepas.”

Indra dan RCTI barangkali lupa akan hal itu. Dan mereka “membuang” Patudu, karena yakin, tak ada pasar yang jelas untuk anak yang audisi dari Brebes itu. Padahal, ketika “Indonesian Idol” memenangkan Mike dan juga Ihsan, dengan asumsi yang sama, bukankah pasar “menolaknya”? Mike dan Ihsan tak pernah diterima pasar dengan sempurna, kaset dan CD mereka tak pernah meraih hasil seperti yang dikira. Karena itu Indra, janganlah percaya kepada pasar sebagai sesuatu yang tak terlawan. Begitu engkah percaya, pasar akan membuat engkau kecewa. Cukuplah sudah hanya sampai pada Patudu saja.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Agustus 2008]

Comments

RSS feed | Trackback URI

14 Comments »

Comment by Julinawa
2008-08-07 21:58:10

Aku seneng sama tulisan ini. Berkali2 aku yakin bahwa PATUDU sudah hendak “dijebak”. Terakhir kali saat dia harus menyanyikan lagu boyband jadul ME,sbg pengisi penampilan TIGA BESAR.
Kenapa harus takut pada pasar, sehingga meninggalkan kualitas.
Aris menang, agaknya pun dia tak punya kualitas minimal sbg penyanyi internasional (dia tak bs berbahasa inggris), yaa walaupun segala nya masih bisa dan mungkin dipelajari.

 
Comment by Niff
2008-08-08 16:03:28

yang menang adalah…………………… harry tanoe :P

 
Comment by Movie Corner
2008-08-09 00:12:47

ya, this is the ironic of a reality show. the winner are chosen based on the the voters taste. and unfortunately, we have to say, mass do not always reflect the quality. so, though Patudu finally failed become the winner, he would be the best, especially for people like mas Aulia…

 
Comment by yusephira
2008-08-20 14:46:18

Hee…

Terlalu menduga tanpa adanya bukti cukup..hanya pemikiran semata…..Patudu memang bersuara bagus …tapi tidak cukup suaranya menarik hati pemirsa..dan Aris membuktikan..bahwa dia mampu menerik pemirsa dengan karakter yang sangat menonjol….seni dan pasar beda tipis……dan ini juga pemikiran yang sepihak…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-20 15:14:18

yusephira, ini memang hanya pemikiran semata, hehehe… lha pemikiran itu “buktinya” ya cuma argumentasi yang lahir dari premis-premis. jika bukti lain, lha itu kan kerja polisi atau kejaksaan, bukan penulis opini.

kamu malah tidak menunjukkan bukti, hanya bermain asumsi. karena, selama idol 5 itu, lebih banyak aris mendapat kritik dari juri, dan lebih banyak aris juga berada di posisi tak aman dibandingkan patudu.

satu lagi yusephira, setiap pemikiran itu sepihak, karena tak pernah objektif. dan “opini” kamu yang pendek di atas pun, sangat sepihak dan, seperti kata kamu, tanpa bukti. sayang sekali….

Comment by josephira
2008-08-25 13:29:54

Semua yang terjadi pasti ada permainan…dan balik lagi ini terjadi karena izinNya..semua yang terjadi….percayalah…kalau mau bagus…mungkin ajie lebih bagus dari pada patudu…gisel bahkan Aris….

kalau memang mendukung PATUDU…cukup banyak ga kemarin kirim sms….. :-)) lumrah mba …ada menang ada kalah…legowo…semua ada aturan main…termsuk mba…bersyukur diberi talenta yang luar biasa…dan aku salut sekali dengan bahasa puitisnya…dan aku lebih seneng lagi kalau mba sebijak tulisannya

(Comments wont nest below this level)
Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 13:50:47

josephira, engkau salah membaca, hehe… pelan-pelan saja dibaca ulang, maka engkau akan tahu, aku bukan pendukung patudu. juga bukan pembenci aris, atau gisel. cobalah kamu cari di arsip, telah ada 5 tulisanku tentang “Indonesian Idol”, dan semua itu tidak pernah merupakan “ketakjuban” pada seseorang. Aku cuma melihat “proses” yang tidak alamiah dalam acara2 semacam itu. Proses yang membuat sebuah kompetisi tidak berjalan adil.

dan lucu ah, kalau harus bawa-bawa kehendak-Nya, atau karena izin-Nya, hehe… [jangan marah ya phira….)

 
Comment by josephira
2008-08-25 14:10:57

Ngga kok Mba….ga marah…sesama muslim musti kompak….bravo…. ;-)

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 14:53:05

asyikk… oh ya, jangan panggil Mbak atuh. Belum juga pernah ganti kelamin, phira…

 
Comment by josephira
2008-08-25 15:08:06

:-P ooo..co tuh

sorry ga buka2 profilenya…..salam kenal…berbeda dan berpendapat itu bebas dan syah2 saja….bravo mas…

 
 
 
 
Comment by banyu
2008-08-24 23:26:58

orang aneh. blog paling aneh juga yg pernah ak liat. namanya kompetisi ada menang ada kalah to mbak. masa mau menang semua. lah apa gunanya kompetisi kalau gitu? tp gak aneh juga, penyakitnya sebagian orang indonesia ya kayak begini ini, gak mau dewasa nerima kekalahan. siapapun yang menang, aris, gisel, patudu, aji, atau siapapun ya harus diterima dengan sabar dan berjiwa besar…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 11:21:57

banyu, benar dan setuju kalau kamu orang aneh, hehehe…

 
 
Comment by Yulis
2008-09-09 23:29:20

Menang seharusnya Juri memberkan penilaian yang jujur dan biarkan masyarakat yang menilai, karena ini adalah ajang popularitas. thanks

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-10 12:59:29

thanks too…

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post