Hatta, Revolusioner di Jalur Lurus

August 15, 2008 · Print This Article

SEPANJANG hidup Hatta, ada satu masa yang membuat matanya berlinang air mata. Bukan saat proklamasi, karena ini memang air mata duka. Suatu masa ketika Soeharto berkuasa, dan Hatta tak mendapat izin membentuk Partai Demokrasi Islam Indonesia, ramuan antara Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia, yang diberangus Soekarno.

Masa itu, awal tahun 1970-an, Soeharto adalah raja. Dan Hatta, yang seluruh hidupnya ia baktikan untuk kepentingan negara ini, tak dianggap sebelah mata oleh Soeharto. Bukan hanya haknya untuk mendirikan partai politik dihapus, tapi hak Hatta untuk ambil bagian dalam kehidupan politik pun ditangkal. Hatta tak tahu lagi harus berbuat apa.

Hatta memang adalah sosok yang sunyi. Ia selalu menempuh jalur lurus, dan tak heran, jalam pikirannya gampang ditebak. Tapi dia kukuh dalam pilihan. Hidupnya adalah bauran antara keberhasilan seorang anak manusia, dan kegagalan cita-cita besar: mendemokratisasikan bangsanya. Bukan karena dia tak punya kuasa, melainkan jalan yang telah ia rintis, tiba-tiba ditutup, dibelokkan, bahkan diputuskan. Namun Hatta, dalam diam, tak pernah merasa optimisme itu harus ia tinggalkan.

Tak heran jika Mavis Rose, sejarawan Australia, menulis sosok proklamator ini dengan penuh takjub. Dalam bukunya Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, yang ia selesaikan jauh setelah Hatta meninggal, terasa sungguh, Rose merasa kehilangan.

“Hatta melukiskan ketegasan, keberanian, dan optimisme yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin Indonesia jika dia harus menghadapi kekuasaan kolonial, dan memerdekakan bangsanya.

“Dia telah memainkan peran yang penting dalam mendirikan Indonesia, sekaligus menjadi seorang negarawan kaliber tertinggi yang siap mengorbankan ambisi, kekayaan, dan kedudukan demi cita-citanya.”

Bukan Sosok Pemberontak

Hatta lahir 12 Agustus 1902, di Bukittinggi, Sumatra Barat. Alam minang, ayah dan kakeknya yang ulama tarekat terkenal, mendidik Hatta kecil dalam kehidupan yang egaliter-demokratis.

Hatta sesungguhnya seorang muslim yang elektis; sufi, wahabi, sekaligus modernis. Meski pendidikan Belanda yang ia terima kelak membuat ia terbius pada filsafat Barat, Hatta yakin, perjuangan untuk rakyat adalah tugas suci agama.

Ketertarikan Hatta pada ekonomi bukan sebuah kebetulan. Semua datang dari keluarga ibunya sebagai pedagang yang berhasil. Dari sinilah Hatta melihat faktor-faktor ekonomi amat berpengaruh bagi rakyat, terutama setelah ia aktif di Jong Sumatren Bond.

Selepas MULO, ia bersekolah ke Prins Hendrikschool, sekolah menengah dagang di Batavia. Di sini ia akrab dengan de Socialisten karya HP Quark, yang membuka matanya, sosialisme bukan temuan Marx tapi sudah ada sejak zaman Yunani.
Sosok Hatta memang bukan tampilan pemberontak. Tapi setelah dia bersekolah di Rotterdam Handelshogeshcool, jiwanya menjadi revolusioner sejati. Dia aktif di Perhimpunan Indonesia, dan saat dilantik menjadi ketua, dia menggugat lewat pidato “Struktur Dunia Ekonomi dan Konflik Kekuasaan” dengan analisa Marx dan Hegel.

Hatta mulai terkenal, dan dunia kolonial agak guncang. Kecamannya dalam jurnal Indonesia Merdeka di jantung kekuasaan Belanda, membuat Kolonial mulai memperhitungkan sosok ini. Terutama setelah raga yang menjauhi minuman keras, dansa dan pergaulan kalangan atas ini bersumpah, tak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Sumpah yang memang ia tepati!

24 September 1927, Hatta menulis pembelaan atas pembuangan dr Tjipto Mangunkusumo ke Bandaneira. Ia ditangkap. Tapi, dalam sidang di mahkamah Belanda, Hatta kian beringas. Gugatannya berjudul “Indonesia Vrij, Indonesia Merdeka”, sangat keras dan tajam: kini menjadi literatur politik klasik.

Hatta tak jera. Namanya melambung, dia kembali ke Jawa. Dia, bersama Sjahrir, mendirikan koran Daulat Rakjat dan menulis dengan pedas. Ini merisaukan Gubernur Jendral Belanda De Jonge, yang menilai dua orang itu lebih berbahaya dari Soekarno. Keduanya ditangkap Februari 1934, dan kemudian di buang ke Boven Digul, Irian. Di tempat paling mengerikan ini, Hatta membawa 16 peti bukunya, dan sampai bebas di tahun 1941, ia tetap menulis untuk koran Melayu dan Belanda.

Selalu Memaklumi Soekarno

Melalui tulisan-tulisannya itu Hatta bukan saja berhasil mengembangkan pemikian politik, ekonomi dan sosial yang amat orisinal melainkan ia juga secara jenial mengaitkan semua itu dalam konsep kedaulatan rakyat. Dia menemukan kontradiksi antara “kolektivisme-komunisme” dan nasionalisme-daulat rakyat”, yang membuat dirinya acap bersebrangan dengan Soekarno.

Hubungan Hatta dengan Soekarno memang drama paling menarik dalam kehidupan awal bangsa ini. Untuk banyak hal, dalam gaya dan konsepsi serta arah perjuangan, mereka memang berbeda. Dan Hatta selalu mengecam keras tingkah laku dan kebijakan politik Soekarno. Tapi secara pribadi, ia merasa saudara kandung Soekarno.

Dalam Demokrasi Kita, bukunya yang mengecam demokrasi terpimpin Soekarno, dia meramalkan kegagalan konsep itu, tapi tetap mencoba memahami Soekarno.

“Soekarno adalah kebalikan dari tokoh Memphisthopeles dalam Faust-nya Gothe. Tujuan Soekarno selalu baik, tapi langkah-langkah yang ia tempuh, acap menjauhkannya dari tujuan itu,” tulisnya.

Demokrasi Kita tentu saja bukan sekadar polemik pribadi Hatta dengan Soekarno. di buku itu dia meramalkan, demokrasi yang disusun atas akar kebudayaan kita akan jaya. Sayang, kejatuhan Soekarno, dan bangkitnya firaun Soeharto tak mewujudkan ramalannya. Maka, dengan masgul dia menulis, mengutip Julian Benda tentang pengkhianatan kaum intelektual, mengecam Soeharto dan menikam cendekiawan yang mengabdi pada kekuasaan itu.

Comments

RSS feed | Trackback URI

2 Comments »

Comment by haris
2008-08-25 08:58:24

sy jadi ingat tulisan GM ttg sjahrir di banda neira. ternyata benar: sjahrir itu “berkebalikan” dg hatta. sjahrir bergelombang, hatta lurus-lurus aja.

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-25 11:23:25

aku juga telah menulis tentang sjarir, Ris. gelombangnya adalah alun yang mengasikkan!

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post