Jalan Sunyi Van Gogh

August 6, 2008 · Print This Article

Kesakitan adalah energi, kematian selalu membebaskan. Van Gogh tahu betul itu. 27 Juli 1890, setelah serangan epilepsi yang hebat, ia keluar dari rumahnya, dan berjalan beberapa ratus langkah. Langit di atas tubuhnya hitam, dan kakinya berhenti di kawasan ladang gandum. Ditariknya sepicuk pistol dari kantong, dia tempelkan ke perut kanannya, dan tersenyum. Selebihnya adalah dor!

Tubuh van Gogh limbung, meski tak jatuh. Dengan menyeret langkah, dia kembali ke biliknya, dan terjerembab di kasur. 36 jam kemudian dia mati, di usia yang begitu muda, 37 tahun.

Kematian selalu membebaskan, van Gogh yakini itu. Sebelum bunuh diri itu dia rencanakan, sebuah lukisan terakhir telah dia persiapkan, lebih sebagai tanda, lukisan “Ladang Gandum dan Gagak.” Dalam lukisan yang muram itu, van Gogh adalah gagak yang terhalang awan hitam, di tengah kekayaan gandum. Dia ingin lepas, dan maut, sungguh, salah satu jalan, yang indah. Tentu baginya.

Sebelumnya, maut juga telah lama membujuknya.

Ketika 8 Mei 1889 ia dimasukkan ke rumah sakit, dengan sebilah bilik untuk kerja, van Gogh tahu betul makna bebas. Dia acap tampak ke luar bilik, hanya untuk berjalan mengelilingi kamar asrama yang kosong, dengan pandangan yang hampa. Dan setelah sawan akut itu reda, ia dibolehkan pulang, berobat jalan. Kehidupan selanjutnya, lebih sebagai siksaan, ketika dia diharuskan membawa pengawal. Namun, di pagi akhir Mei itu, selepas melukis di sisi pelabuhan di Saint-Remy, sawan itu mengerjainya lagi, sangat parah, sampai airmatanya pun tumpah. Dan ketika cahaya terang sudah dapat memasuki matanya, kematian begitu dia rindukan. Cat lukisnya pun jadi sarana, dia telan. Untunglah, pengawal yang sigap berhasil mengalahkan bujukan maut itu.

Dokter tak menyebut dia gila, dan boleh pulang, meski selalu mendampinginya, tiap makan malam, sampai sebuah siang, ketika maut merayunya, di ladang gandum itu, setahun kemudian.

<B>Gagal sebagai Pendeta</B>

Vincent van Gogh dilahirkan 30 Maret 1853 di desa Groot Zunbert, di daerah Brabant Utara, Belanda. Ayahnya, Theodorus adalah paderi kampung, pendeta, pengikut Gereja Reformasi Belanda, Dutch Reformed Church. Ibunya, Anna Cornelia Carbentus, tak bekerja. Dia punya lima saudara, tiga perempuan Anna, Elizabeth dan Wilhelmien, serta Theo dan Cornelius.

Usia 12 tahun, dia masuk asrama di desa Zevenbergen, berjarak 12 mil dari desanya, sampai dia berusia 16 tahun. Menggunakan pengaruh Pakdenya, Cent, dia diterima bekerja di Goupil dan Cie di Hague. Goupil adalah pusat restorasi lukisan, khusus untuk perbaikan lukisan-lukisan terbaik. Empat tahun di sana, atas prestasinya yang baik, van Gogh dipindahkan ke kantor pusat Goupil di London, Mei 1873 dengan gaji 90 lira setahun. Di kota ini dia menyewa kamar di rumah Mrs. Loyer yang mempunyai anak perempuan cantik, Ursula/Eugenie, yang membuat dada van Gogh membuncah, jatuh cinta. Ini cinta pertama van Gogh, yang bertepuk sebelah tangan, juga menjadi awal kegagalannya berhubungan dengan wanita.

Kegagalan cinta ini amat memengaruhi Gogh. Atas pengaruh Cent, dia pun dapat dipindahkan ke cabang Goupil di Paris untuk perbaikan batinnya. Di sini dia tak tertolong, dan setelah tiga bulan percobaan, kinerjanya tak juga membaik, Goupil mengeluarkannya. Kariernya sebagai “ahli reperasi” lukisan pun tamat.

Tak memunyai rencana, Gogh pergi ke Inggris, dan bekerja paro waktu sebagai guru di sebuah asrama. Tak lama, dia pun pindah dan mengajar di sebuah SMA di Isleworth.

Kehidupan masa kecilnya sebagai anak pedeta membuat dia ingin mengabdikan diri untuk tugas pelayanan. 1878 dia berusaha melamar masuk sekolah teologi, tapi ditolak. Namun, dia tak putus asa, dan menjadi pendeta, berdakwah keliling, dengan kehidupan yang serba hemat, menabung, yang kemudian dia dermakan untuk kaum papa.

Namun, van Gogh adalah anomali. Dakwahnya selalu gagal. Ini karena Gogh terlalu ketat dan menerapkan ajaran Kristiani secara bulat-bulat. Puncaknya, ketika dia berdakwah di kalangan petani dan penambang batu bara di Borinage, Belgia Selatan, dia diusir karena ajaran yang terkesan menakutkan.

Usianya baru 25, dan dia mulai putus asa.

Dua tahun berikutnya adalah masa yang sulit. Ketika menyadari sisi sosialnya amat buruk dan seni komunikasi serta pikirannya tak dapat diterima masyarakat, van Gogh mulai mengikhtiarkan cara lain. Dia masih merasa simpati pada kesengsaraan kaum tadi dan penambang, meski tak tahu harus bagaimana cara menunjukkan simpati itu. Tapi, di puncak sedih itu, keisengan van Gogh untuk menumpahkan risau melalui kanvas membuka satu kesadaran baru: para petani dan penambang menyukai curahan kuasnya, sesuatu yang semua tak dia bayangkan.

DI usia 27 tahun, dia memulai niat baru.

Dengan bantuan seorang penambang yang bersedia menyewakan rumahnya dengan harga murah, serta bantuan dana dari ayahnya, van Gogh membuka “studio” pertama di Borinage. Dia melukis siang-malam, hanya untuk mencari kesamaan kiblat gayanya dengan pelukis lain. Perubahan ini sangat didukung keluarganya. Kakaknya, Theo, mengantar puluhan lukisan duplikat dari Paris untuk dia pelajari. Dia juga mendapat teks-teks lukisan dari pengurus Goupil di Hague, terutama tentang garis perspektif dan teks anatomi. Tak cukup hanya itu, Theo bahkan mengundangnya melanglang ke Paris untuk meluaskan referensinya di pusat seni dunia itu. Van Gogh menolaknya. Sebaliknya, di musim panas 1880, dia malah menempuh jalan sunyi, pergi ke Brussel, Bergia, dan tinggal di hotel termurah. Hampir setahun dia di sini, hanya untuk mematangkan teknik sapuan dan mempelajari pengaruh warna secara lebih filosofis pada lukisannya, bergelut siang malam, dan menulis ratusan surat kepada Theo untuk melaporkan perkembangan yang telah dia capai.

Di Brusel inilah tahap pertama kematangan van Gogh, yang kelak dia lanjutkan dengan belajar pada teknik Monet.

Comments

RSS feed | Trackback URI

Comments »

No comments yet.

Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post