Rahim Kemarau

August 14, 2008 · Print This Article

kulupakan hari-hari yang lewat
agar aku dapat hidup kembali di hari ini
kubuang puing waktu ke kuburannya yang paling rahasia
barangkali serahasia mimpi
yang ada kemudian hanyalah kesamaran
semakin samar
dan… hilang*

tapi dia tidak sepenuhnya hilang. gerimis yang tiba-tiba merintih pagi ini, yang lahir dari rahim kemarau, datang seperti sapa, memintaku mengingatnya. kepedihan, entah kenapa, selalu punya jalan untuk tetap bertandang.

“ia, aku senang kok sempat jadi hujanmu. makasih juga telah dibuatkan tulisan seperti itu.”

aku hanya bisa menulis, debar. dengan itulah aku mengobati semuanya. membuat yang “sempat” bisa jadi abadi, yang sementara dapat bertahan masa. siapa tahu, tulisanku dapat membuat hujan mau tercurah selamanya.

“hujan akan selalu ada, ia. meski bukan aku lagi. bukan aku lagi…”

******

“kamu bisa ikhlas kan, ia?”

bukan bisa. tapi harus, debar. hanya dengan ikhlas aku bisa menerima apa pun yang terjadi sebagai jalan yang mesti dilalui. menyadari diri hanya lintasan-lintasan dari apa pun. jika yang memintas itu mau berlabuh, menetap, atau hanya lewat, semua sudah ada garisnya. semua harus berjalan…

“iya ya, bener banget.”

setiap sahabat adalah rahmat. setiap rahmat adalah harap, debar…

“dan setiap harap pasti berjawab, kan?”

dan harap itu cintaku, tidak bicara tentang keabadian, tapi kebersaatan, keterkejutan, nikmat kejap, syukur dalam keterbatasan.

“bagaimana syukur dalam keterbatasan, ya?”

iya, dengan meyakini, memang kebersaatan itulah yang menjadi hakku. singgahmu yang sebentar itulah milikku. aku tak boleh berharap lebih. aku harus mampu berterimakasih dengan meski….

*******

alam memang contoh terbaik dari keajaiban. jika hujan bisa lahir dari rahim kemarau, tawa pun pasti bisa terbit dari fajar airmata. pelan-pelan, aku patrikan hal itu di benakku. aku ikhlaskan dia pergi, tanpa sesal, tanpa pedih. aku kenang semuanya dengan tawa, ucap syukur, dan rasa lega, seperti keleluasaan rasa yang hinggap saat pertamakali kukecup matanya.

berjalanlah, kasih. aku tak memberatimu lagi. karena seperti katamu, engkau tetap akan pergi, kini atau nanti. bergeraklah, raihlah kegembiraanmu. yakinlah, dari tiap sujud sempurnaku, akan tetap lahir doa-doa terbaik tempaan ribuan tahun, yang memanteraimu, menjagamu, agar tetap bahagia, seperti saat sebelum engkau denganku berjumpa. bergegaslah….

*) dikutip dari ingatan, satu pasase dalam novel segi empat patah kaki

Comments

RSS feed | Trackback URI

18 Comments »

Comment by goop
2008-08-14 15:58:05

entah kenapa, selalu merinding saat membaca rahim kemarau ini :)
dan tawa, bisa lahir dari fajar air mata…
tsahhh….

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 13:41:36

merinding? serem ya, goop?

Comment by goop
2008-08-19 18:05:58

bukan serem mas…
apa ya…
bagaimana persisnya menerakannya?
cieee :mrgreen:

(Comments wont nest below this level)
Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 18:33:34

wah, mengapa tak bisa membahasakannya? orang yang aneh, hehehe…

 
Comment by danivn
2008-11-26 15:33:07

Comment by goop
2008-08-19 18:05:58
bukan serem mas…
apa ya…
bagaimana persisnya menerakannya?
cieee

Bagaimana menerakakannya? :)

Ah gampang: terapkan aja pada bukan pasanganmu sahmu :p

 
Comment by Aulia A Muhammad
2008-11-26 19:12:58

hahaha… danivn, gak boleh ah bersaran begitu…

 
 
 
 
Comment by penikmat
2008-08-15 09:29:25

blognya berevolusi ya mas…, salam kenal.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 13:44:40

salam kenal juga, tapi mengapa “identitasmu” tersamar? juga blogmu?

 
 
Comment by Lena
2008-08-16 13:15:48

Hiks…
Sedih yang terkamuflase ketegaran. Tapi tetap saja….SEDIH!!!!

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 13:45:45

sedih itu tawa yang bersembunyi dalam airmata, kan?

 
 
Comment by Meida
2008-08-16 15:47:12

mas ia,, selalu seneng baca tulisan2 n puisi2nya
tpi yang “rahim kemarau” ini bener2 mirip bgt ma kisah aku,,hehehehe…
jadi terharu klo baca tulisan di atas…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-08-19 13:51:50

mirip kisahmu, tapi kisahmu itu bukanlah kisahku. rugi benar aku, hehehe….

 
 
Comment by syfa
2008-09-21 10:49:27

bulu kudukku berdiri, merinding mas….
mengingatkan pada asaku yang melambung tinggi, padahal semua kebersaatan, merasa takut pada kekadang-kadangan itu baik gak sih mas?
tapi emang harus sadar kalo semuanya fana, kecuali Dia. Kisah, asa,dan keputusan adalah titian waktu, bagiku.

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-22 11:26:13

aku juga merinding membaca komentarmu….

 
 
Comment by syfa
2008-09-23 13:15:49

Hoo… malah prinding-prindingan dewe, hehe…

Comment by Aulia A Muhammad
2008-09-23 13:56:31

iya… lebih asyik gitu, masa lelaki merinding bersama, hahaha

 
 
Comment by eko
2009-01-16 10:23:52

tulisan yg bagus :)
salam kenal mas…

Comment by Aulia A Muhammad
2009-01-19 17:53:51

thanks eko, salam kenal juga…

 
 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Trackback responses to this post