Doa Kamis Malam

August 8, 2008

tidurlah, kekasih. tidurlah. pejamkan matamu, ikutkan kantuk yang membujuk. tujulah seberang impian itu, sehingga kau terlelap dalam senyum.

duduk di samping pinggulmu, kukagumi lentik bulu matamu yang rebah. baru kutahu, dalam lelap pun kau bisa begitu indah. keningmu yang bersih, yang selalu kau tempeli punggung tanganku ketika berpamit, begitu bersih. maafkan, jika tak dapat kutahan bibir ini untuk menciumnya.

tapi kekasih, kenapa napasmu mengeras? adakah ciumanku mengganggumu? atau impimu sedikit berjeda? ahh– lama sekali aku tak melihat sempurna tidurmu. biasanya, sehabis bercinta, akulah yang tertidur, dan kamu hanya tersenyum sambil memandangi alisku, yang katamu tebal. sering, sebelum terlelap, kau garisi alisku dengan telunjukmu, dan kau selalu senang kalau aku terganggu. tapi kini, melihat alismu yang tipis, dengan keringat halus yang membeningkan garisnya, wajahmu nyaris seperti sketsa, dengan kehalusan arsir yang sempurna. tuhan barangkali tengah tertawa ketika menciptakanmu. dan pasti Dia juga tengah bersuka, sehingga menjadikan kau bilah rusukku.

aku tak tahu kamu memimpikan apa, sehingga bibirmu membuka. ahh-, jika engkau tidak pulas, pastilah bukaan bibir itu kuanggap sebagai undangan untuk menciummu. engkau tahu sayang, menciummu adalah mendapatkan kesegaran, kelembutan alamiah. kekenyalan yang mendatangkan ricik air di kali bening, hujan tipis berkabut, dan… berahi. tapi kamu, ahh– selalu menakaliku tiap berciuman. selalu kau tarikkan bibirmu, tersenyum, menikmatiku yang sesaat terbebas dari nikmat. “aku suka melihatmu seperti haus…” bisikmu, sebelum kulekapkan bibirmu.

tidurlah kekasih, tidurlah. malam ini kuwakafkan waktu untuk menjagamu. akan kumanterai ubun-ubunmu, dengan doa-doa jutaan tahun, agar cinta kita terikat, seperti takdir adam dan hawa yang selalu merapat. akan kurajahi dahimu dengan isim yusuf, sehingga cahaya cinta zulaikha menapasimu.

tidurlah kekasih, tidurlah. jemputlah impimu, dan ceritakan padaku, nanti. karena kutahu, dalam mimpimu pun, kita selalu bersatu. tidurlah cintaku, bilah rusukku, ibu anak-anakku, lelaplah….

Jalan Sunyi Van Gogh (2)

August 7, 2008

HARI bagi Van Gogh terasa cepat. Di galerinya itu, kesibukan kerja membuat ia selalu menemu cahaya awal, fajar pertama. Hasratnya yang tak pernah puas, menuntun jarinya tak hanya melukis, tapi juga menulis; kritik berupa pandangannya tentang seni lukis saat itu. Namun, surat yang terkadang ia tulis berpuluh lembar sehari itu, hanya ia kirimkan pada Theo, bahkan berisi kegundahannya yang paling dalam; perasaan muak, benci pada kelambanannya, putus asa, juga obsesi yang paling liar. Theo-lah yang dengan sabar membalas, dan menyegarkan semangat Van Gogh.

Surat-surat itu, yang disimpan oleh istri Theo, hampir berjumlah 1000 pucuk, kemudian dianggap kritik yang luar biasa, penuh dengan daya jelajah pada pencapaian seni artistik yang tinggi, di masa itu. Van Gogh telah menunjukkan ketajaman intuisi yang cemerlang, hasil dari ketakpernahpuasan pada torehan di kanvasnya.

Namun, di surat itu, Van Gogh juga merasa kecewa; “tak pernah ada yang tuntas lewat kata-kata,” tulisnya. Ia pun kembali fokus pada lukisan.

Tahun 1881, Van Gogh kembali ke rumah keluarganya di Etten. Di sini, meski masih rajin melukis, hatinya gundah karena terpesona pada sepupunya, Kee Vos, si janda muda. Tapi, kembali ia ditolak, dan Kee Vos menghindarinya, berpindah ke Amsterdam. Van Gogh yang kadung cinta mati, mengikuti ke Amsterdam, tapi Kee Vos tetap menampiknya.

Lelah mengejar Kee Vos, 1883 dia kembali ke Etten. Di saat inilah, dia sangat suka memakai warna-warna gelap, cokelat, dan hijau tua; warna-warna yang merepresentasikan kegundahan jiwanya. Lukisan terbaik di masa ini adalah “Willows”.

1886, dia pergi ke Paris melawat Theo, dan tertarik dengan perkembangan teknik lukis di sana. “Potato Eaters, Pemakan Kentang” adalah lukisan terbaik di masa itu. Banyak pengamat yang mencari rujukan Van Gogh atas lukisan itu, tapi tak menemukan referensi apa pun. Lukisan itu yang semula diyakini mereferensi ritual keagamaan pun akhirnya tak terbuktikan.

Jiwa yang rindu pasangan

Paris ternyata menjadi surga bagi jiwa Van Gogh. Di sini, asmara tak lagi memesonanya. Kehidupannya menjadi begitu padat, bergaul dan berdiskusi dengan seniman, menceburi segala kemunginan pencapaian, dan meracik warna-warna baru, dengan teknik yang juga baru. Dua tahun dia bergerak, dan lukisannya berubah terus, mencari bentuk. Warna-warna muram yang semula mendominasi, perlahan luntur, kian terang, dan unsur permainan cahaya melatari karyanya. Ketenangan, pemandangan di dalam kafe, angin yang mengelus ujung pepohonan, dan bebungaan rekah yang memancarkan banyak warna saat menjilati cahaya matahari, menjadi fokusnya. Lukisan di masa ini adalah pembalikan dari lukisan sebelumnya, cahaya muram dari pekerja tambang, dan kekelaman dari batinnya yang didera cinta.

Namun, kemahiran dalam warna ini tak memuaskan Gogh karena ia melihat ketaksempurnaan dalam teknik sapuannya. Ia pun mempertajam garis sapuan, membentuk lajur-lajur khas dengan sapuan tegas melibas, ditingkahi warna terang garang.

Ia sempat kembali ke kampungnya, ketika ayahnya meninggal. Namun, delapan bulan saja ia bertahan, dan ia kembali ke Paris. Tapi, selama di Antwerp itu, pencariannya pada warna menemukan pendedahan yang lebih dalam dan tajam, dan ini mendorongnya untuk mengeksplorasi ke tingkat yang lebih lanjut, warna sebagai titik api filosofi. Ia tercatat pemakai warna paling berani dan rajin, dan menggemborkan bahwa warna tak hanya seperti apa yang tampak, warna juga menyiratkan “sesuatu” yang tak tampak. Warna adalah jembatan untuk realitas yang tak tertaklukkan mata.

Dua tahun itu, karyanya seperti ternak yang beranak pinak. Dari bulan Februari 1886 sampai Desember 1887, ia telah menghasilkan 90 sket dan 100 lukisan, sebelum epilepsi merubuhkannya. Penghasilannya, justru kebalikan dari produktivitasnya. Itu karena ia selalu merujuk harga lukisannya dengan standar nilai lukisan Clude Monet. Tentu, di masa itu, sangat sedikit yang mau membeli lukisannya.

Selepas serangan epilepsi pertama itu, gairahnya justru meledak. Dalam masa Februari 1888 hingga Mei 1889, ia menghasilkan 200 lukisan dan puluhan sket. Beberapa karya di masa ini, lepas dari sindroma kegilaan karena kejang epilepsi, dinilai terbaik. Bahkan, hasil karyanya di Arles, menjadikannya sebagai raksasa seni lukis masa itu, mulai dihormati, dipuja dan dikagumi. Kenikmatan yang hanya ia nikmati setahun.

Serangan sawan yang kian menghebat dan produktivitasnya yang kian keras, membuat mutu karyanya dinilai terpengaruh oleh “kegilaannya”. Tapi, lepas dari peristiwa pemotongan sebelah telinganya di Arles, tak ada apa pun yang dapat menghentikan gairahnya ketika melukis. Setiap kali epilepsi itu berlalu, ia kembali dapat tersenyum, memegang kuas, dan mendedahkan cat dengan riang, bermodal semangat yang tak padam, sampai pengawal menghentikannya karena makan, atau hari yang telah meninggalkan malam. Ia waras, sangat waras, sebagaimana terlihat dari surat-suratnya pada Theo, juga penjelasannya atas maksud lukisannya. Lukisannya matang, sangat matang, gemilang, meski dia akui, kematangan teknik dan warna itu lahir dari kegagalan dirinya, kegalauan hatinya.

Mungkin, penderitaan batinlah yang menghidupkan lukisan Van Gogh. Dia acap merasa kesepian. Hanya epilepsi yang setia menemaninya. Banyak lukisan di masa akhir hayatnya, berisi gambar bilik tidurnya yang terang, tapi kosong; hasrat kerinduan akan seorang teman. Sungguh, lukisan itu ceria, tapi terdapat tanda dari perasaan kosong dan kesepian yang nelangsa. Bilik yang sempit terang, dengan perabotan yang selalu ia buat berpasangan; dua bantal, dua kursi, juga lukisan yang dia gantung berpasangan. Representasi dari kerinduan dan kepedihan batin.

Bahkan, lukisannya yang paling terkenal, “Sunflowers, Bunga Matahari”, yang menonjolkan warna kuning keemasan, adalah bagian dari obsesi Van Gogh. Dia meletakkan bunga itu di depan biliknya, membiarkan disiram matahari, dan mengamati pertumbuhan bunga itu dengan saksama, perubahan daun dan dan warna. Satu hal yang membuat dia terpesona adalah warna keemasan, kegemilangan bunga itu, di hidupnya yang tak lama. Van Gogh merasa, dia pun akan begitu, meraih gemilang, di usia yang tak perlu lama, seperti bunga matahari itu.

Dan kita tahu, Van Gogh tak salah, tak pernah salah….

Hujan itu Indah

August 6, 2008

engkaukah yang datang bersama hujan ini, ann?

gerimisnya yang rintik membangunkan tidurku. pukul 01.32 dini hari. dan aku seperti mendengar ketukan di pintu belakang, juga guman, “ia, ia… bangun.”

benarkah itu engkau, ann? sungguhkah engkau datang? tapi, gegasku membuka pintu tak menemukan parasmu. hanya dingin yang menyambar, juga lengang. mataku yang mencari, menangkap tirisan air menciprati pinggiran teras, sisi keramik kotor, rumput basah, dan harum tanah. engkau tak ada.

ann, kekasih batinku, kamu di mana?

biasanya, tiap kali hujan, engkau pasti datang. aku merasakan; dingin yang semula bertandang, meredup, lalu hangat merayap. ya ann, aku menandaimu lewat hangat yang menjalari tubuhku. setiap kali tanganku menerima hujan, arus hangat merambati sel darahku. dan jika senja kamu datang, kubugili diriku segera, dan menerima pecahan dirimu menyakiti tubuhku. merasakan jarummu menitiki lembut rongga poriku. sampai aku merasa penuh, penuh…

tapi malam ini, aku merasai dingin. dan kosong. di mana engkau sembunyi, ann? di mana?

****

“datanglah ke sini, ia. hujan di kota ini indah.”

“oh ya? seindah siapa?”

“aku.”

tapi ann, tak kutemukan hujan di sini. hari-hari di kotamu seperti menanam kemarau dalam diriku. kering. keindahan yang kau janjikan, tak dapat kulihat. debu ini ann, menyakitkan. sepi itu ann, melebarkan kemarauku. apakah kau memang ingin aku tandus? tak hanya haus?

“ia, barangkali aku hujan di salah musim.”

tidak sayang, engkaulah hujan yang tak kenal musim. kuinginkan kau begitu. aku bukan kemarau, juga semi, atau salju, yang bisa memanggil atau menampikmu. aku hanya rindu pecahan dirimu mencecah tubuhku, sebagai sapa, sebagai arus dalam darahku. aku butuh kamu lebih dari kemarau di mana pun. jadi sayang, jangan hiraukan musim. datanglah, seperti yang aku pinta. musim hanya membuat jarak. musim hanya menegaskan kedatanganmu sebagai tugas. engkau itu rindu. dan rindu sayang, tak harus menunggu musim, juga waktu. bergegaslah. basahi aku. lumat aku dalam ribuan jarummu. dan kita bergelut dalam tarian purba, seperti ketika norma belum tercipta.

“tidak ia, kita hanya bisa bersisihan. memandang. kita wakafkan saja rindu pada alam. kita tebarkan kangen pada lengang. kita titipkan cinta pada harap. kita ludeskan hasrat pada senyap. aku tak bisa beranjak. waktu mengikatku pada masa lalu. engkau musimku yang kemudian, ia…”

barangkali, aku memang bukan takdirmu.

“aku tak bisa berjalan di dua takdir, ia. tak bisa.”

dan hujan itu akan pergi?

“hujan akan tetap datang.”

dan tetap indah?

“hujan itu akan selalu indah, ia. bagimu, bagiku. karena ada diri kita di dalamnya, yang jatuh serupa garis, mungkin serupa tangis.”

*****

ann kekasih, di mana kamu sembunyi? apakah aku tak harus lagi menanti? katakan padaku, kapan hujan penghabisanmu. biar kuserap pecahan dirimu, kusimpan. agar ketika engkau tak lagi datang, bisa kutumbuhkan hujan di dalam diriku. sehingga, seperti pesanmu, tetap bisa kukatakan: hujan itu indah. hujan itu indah. bahkan, ketika kau tak ada, ketika kamu mulai enggan menyapa. karena hatiku mulai percaya, kamu telah merasa aku adalah musimmu yang salah….

Hujan, Masa Kanak yang Menepi

August 6, 2008

Barangkali, beginilah hidup tanpa gairah. Aku cuma bergerak antara kasur, jendela, dan meja belajar. Dikuasai malas. Sedari pukul 6 tadi, hidungku menempel di kaca jendela, memandang hujan yang menderas di luar sana. Kubiarkan kaca mengembun, dihangati napasku yang masih bau mimpi. Kubiarkan tanganku menggarisi kaca, membentuk silangan-silangan, yang aku sendiri tak tahu, untuk apa?

Aku juga tak tahu, mengapa kemalasan ini begitu memenjara.

Bangun tidur tadi, badanku seperti menolak untuk bergerak. Kupandang langit-langit, kucari-cari selipan mimpi, tapi ingatanku tak memberi satu pun informasi. Pasti, aku tak bermimpi buruk. Tapi juga bukan mimpi indah. Ah, barangkali aku tak bermimpi. Aku sering tidur tanpa mimpi. Dan kata Papa, itu tidur yang baik sekali. Aneh. Bukankah dalam hidup, ketika melek, kita acap diminta bermimpi?

Hujan masih menggila di luar sana. Di tanah, air yang jatuh dari genteng teras, membuat cekungan kecil. Beberapa ekor ayam, berdiam di bawah pohon mangga, seperti kedinginan. Tapi di sebelah mereka, dua itik justru mengepakkan sayapnya, bermain dengan hujan, bergembira.

Bergembira? Rasanya, sudah lama aku tidak merasakan hal itu. Dulu, kalau hujan begini, di halaman belakang, aku pasti bertelanjang, dan berlari, mengejari ayam. Kubiarkan cipratan tanah basah melukisi pahaku, kadang sampai ke badanku. Kurasakan Papa yang tertawa, dan memerintahiku untuk terus berlari, sepuas-puasnya. Terkadang Papa turun gelanggang, berkolor dan ikut bergulingan di taman. Lalu kegembiraan itu kami tutup dengan mandi, dari air yang dialirkan selang.

Yang dulu itu, kini telah hilang.

Hilang sejak Papa bilang aku tak lagi pantas mandi di taman, dan telanjang.

Hilang sejak Papa bilang kalau aku harus belajar jadi dewasa.

Dewasa? Betapa mengerikan. Aku kehilangan hujan, aku tak dapat lagi mandi bersama Papa dengan semburan air dari selang. Dan sejak itu, aku merasa hujan cuma mendatangkan keburaman. Seperti pagi ini.

Haahh… masa kanak, mengapa cepat pergi. Sungguh, aku tak ingin jadi dewasa dengan cara begini, terasing di suatu pagi, dan memandangi hari yang begitu kusenangi, cuma dari jendela ini. Silangan-silangan dari jari yang tanpa sengaja menggarisi kaca jendelaku ini, barangkali adalah garis nasib yang memotong masa kanakku menjadi seorang gadis.

Menjadi gadis, hmm… entah apa gunanya.

Pasar di Indonesian Idol

August 6, 2008

Aris dan Gisel bertempur di grandfinal “Indonesian Idol”. Yang menang adalah modal dan pasar.

Patudu, wakil Jawa Tengah itu, gugur dalam sebuah pertarungan yang tak adil. Pertarungan yang dipersiapkan dengan skema bahwa dia harus jadi pecundang. Ketidakadilan yang lahir dari analisa Indra Lesmana, satu hari sebelum kontes dimulai. “Terlepas dari kualitasnya, saya ragu kalau Patudu bisa lolos dua besar. Dia nggak punya pasar yang jelas seperti Gisel dan Aris.”

“Indonesian Idol” adalah kontes suara, dan Indra, juri utama, justru menilai Patudu “terlepas dari kualitasnya”. Indra berubah jadi pedagang, dan memasukkan pertimbangan pasar. Indra hanya melihat Patudu sebagai komoditas, satuan barang dengan nilai nominalnya, yang dapat berharga atau pantas dibuang.

Sebab Aris, di mata Indra, cocok menjadi ikon anak jalanan. Sebab Gisel, telah cocok jadi ikon gadis zaman sekarang. “Kalau Patudu, saya bingung. Dia itu mewakili siapa, dan condong ke mana, saya tidak tahu. Jadi dia itu belum jelas mempunyai pasar kalau jadi Idol,” tambah Indra. Dan sebelum Patudu diadu, Indra telah berbisik ragu.

RCTI menangkap keraguan pasar seperti yang dibisikkan Indra itu.

Namun, dalam sebuah tayangan reality show, keraguan, prediksi, tak selalu bergulir jadi kenyataan. Telah beberapa kali Patudu diramalkan juri akan terbuang. Anang dan juga Titi, telah dua kali menyatakan Patudu pantas pulang. Tapi kenyataan bicara lain, Patudu selalu kembali, bahkan ketika berada dalam penampilan terburuk. SMS untuk pria Batak ini selalu cukup, dia punya pendukung yang luas, dari Jawa Tengah, dan Medan, asal puaknya. Lebih dari itu, Patudu adalah “kontestan lelaki yang paling stabil penampilannya,” puji Indra. Dalam diri Patudu tersedia dua hal, kualitas suara dan dukungan pemirsa. Keduanya akan dapat mengalahkan keraguan pasar Indra.

RCTI pun merasa takut. Pertarungan yang adil seperti sebelumnya tak bisa dilakukan lagi. Harus ada skema, cara, yang bisa “mengacaukan” perebutan suara pemirsa. RCTI ingat satu nama, Titiek Puspa.

Maka, dalam pertarungan tiga besar itu, tiba-tiba Titiek Puspa hadir. Sendiri.

Sebelum Titiek Puspa, telah pernah hadir Audi, juga Rossa. Mereka acap menjadi suara alternatif di luar juri, yang mengomentari penampilan kontestan. Sebagai suara alternatif, mereka menilai semua, berada di antara penonton dalam “sudut netral”. Terkadang membenarkan penilaian juri, meski lebih sering membantah. Tapi Titiek Puspa hadir bukan sebagai suara alternatif. Titiek Puspa datang untuk memilihkan pemenang. Itulah sebabnya, dia tidak berada di zona netral bersama penonton, tapi duduk dalam apitan Ibu dan istri Aris. Di zona terlibat itu, kamera berkali-kali menampakkan Titiek yang ikut berdendang dan mengacungkan jari atas penampilan Aris.

Di sisi lain, di pusaran pendukung Patudu, tak ada satu artis pun. Tak ada kamera yang betah menayangkannya, hanya sekelebatan.

Dan apa kata Titiek Puspa? “Wes, sing baju kuning itu pasti masuk grandfinal.” Aris memang memakai jas kuning. “Merinding awakku mendengar suaranya,” tambah Titiek Puspa. Cukup? Belum. “Sudah lama saya suka sama yang baju kuning itu. Banyak orang yang punya suara seperti kamu. Tapi cuma kamu yang punya soul, karakter. Pokoke, komplet!”

Titiek tak mengomentari yang lain, tak menilai yang lain. Kehadirannya hanya punya satu tujuan, menciptakan panggung grandfinal untuk Aris. Titiek dihadirkan untuk menjadi pemulung suara (vote getter) bagi Aris. Di panggung itu, Titiek memainkan perannya seperti artis di dunia politik, mengajak orang untuk memilih seperti pilihannya. Hasilnya? Efektif. Aris meraih suara terbanyak. Patudu, yang tak “punya pasar” itu, terbuang.

“Aku bangga sama kamu,” bisik Titiek ketika Aris merangkulnya, usai perhelatan yang tak menarik itu. Barangkali, Titiek bangga pada dirinya sendiri, yang kembali mampu menaikkan “pamor” Aris, seperti pada Inul, yang pernah dia lakukan dulu.

Lalu, dalam pertarungan yang tak adil itu, Ariskah yang menang? Titiek Puspa atau Indra Lesmana, dengan prediksi saudagarnya? Tidak. Yang menang adalah modal dan pasar. Dalam ajang itu, intervensi modal dan pasar telah membuat kualitas bukan lagi yang utama. Penghambaan pada pasar telah membuat seluruh aspek pertunjukan “Indonesian Idol” yang di babak audisi penuh dengan citraan pencarian talenta berbakat dalam bidang tariksuara, runtuh begitu saja. Perdebatan-pertengkaran Titi, Anang, Indra, tentang musikalitas suara seorang peserta tak lagi punya gema. Karena di babak akhir, Indra justru menciderai musikalitas itu.

Menempatkan pasar sebagai ukuran tertinggi di dalam berkesenian adalah dosa terbesar bagi kreativitas. Karena pasar juga adalah setan yang selalu menggoda iman berkesenian. Dan di Jumat malam (18/7) itu, iman berkesenian “Indonesian Idol” telah padam.

Tapi, apakah salah jika sebuah kontes, seorang juri, mempertimbangkan pasar? Salah, jika pasar ditempatkan sebagai sebuah kekuatan yang tak terlawan. Karena sesungguhnya, pasar selalu bisa dinegosiasi. Pasar bukanlah sebuah medan yang tetap dan ajek, melainkan bergerak dan mengalir, menerima setiap anasir untuk memperkaya. Pasar adalah sebuah muara, yang sebenarnya dapat dikendalikan dan dibentuk siapa saja. Pasar bukanlah areal seteril, melainkan wilayah yang bisa dipengaruhi, bahkan dikejutkan. Pasar adalah sebuah anomali, dan dengan demikian, sepertinya dia bisa diduga, padahal tidak, seakan bisa dikendalikan, tapi juga bukan. Pasar adalah dunia yang, meminjam Amir Hamzah, “bertukar tangkap dengan lepas.”

Indra dan RCTI barangkali lupa akan hal itu. Dan mereka “membuang” Patudu, karena yakin, tak ada pasar yang jelas untuk anak yang audisi dari Brebes itu. Padahal, ketika “Indonesian Idol” memenangkan Mike dan juga Ihsan, dengan asumsi yang sama, bukankah pasar “menolaknya”? Mike dan Ihsan tak pernah diterima pasar dengan sempurna, kaset dan CD mereka tak pernah meraih hasil seperti yang dikira. Karena itu Indra, janganlah percaya kepada pasar sebagai sesuatu yang tak terlawan. Begitu engkah percaya, pasar akan membuat engkau kecewa. Cukuplah sudah hanya sampai pada Patudu saja.

[Artikel ini telah dimuat di Harian Suara Merdeka, Minggu 3 Agustus 2008]

Jalan Sunyi Van Gogh

August 6, 2008

Kesakitan adalah energi, kematian selalu membebaskan. Van Gogh tahu betul itu. 27 Juli 1890, setelah serangan epilepsi yang hebat, ia keluar dari rumahnya, dan berjalan beberapa ratus langkah. Langit di atas tubuhnya hitam, dan kakinya berhenti di kawasan ladang gandum. Ditariknya sepicuk pistol dari kantong, dia tempelkan ke perut kanannya, dan tersenyum. Selebihnya adalah dor!

Tubuh van Gogh limbung, meski tak jatuh. Dengan menyeret langkah, dia kembali ke biliknya, dan terjerembab di kasur. 36 jam kemudian dia mati, di usia yang begitu muda, 37 tahun.

Kematian selalu membebaskan, van Gogh yakini itu. Sebelum bunuh diri itu dia rencanakan, sebuah lukisan terakhir telah dia persiapkan, lebih sebagai tanda, lukisan “Ladang Gandum dan Gagak.” Dalam lukisan yang muram itu, van Gogh adalah gagak yang terhalang awan hitam, di tengah kekayaan gandum. Dia ingin lepas, dan maut, sungguh, salah satu jalan, yang indah. Tentu baginya.

Sebelumnya, maut juga telah lama membujuknya.

Ketika 8 Mei 1889 ia dimasukkan ke rumah sakit, dengan sebilah bilik untuk kerja, van Gogh tahu betul makna bebas. Dia acap tampak ke luar bilik, hanya untuk berjalan mengelilingi kamar asrama yang kosong, dengan pandangan yang hampa. Dan setelah sawan akut itu reda, ia dibolehkan pulang, berobat jalan. Kehidupan selanjutnya, lebih sebagai siksaan, ketika dia diharuskan membawa pengawal. Namun, di pagi akhir Mei itu, selepas melukis di sisi pelabuhan di Saint-Remy, sawan itu mengerjainya lagi, sangat parah, sampai airmatanya pun tumpah. Dan ketika cahaya terang sudah dapat memasuki matanya, kematian begitu dia rindukan. Cat lukisnya pun jadi sarana, dia telan. Untunglah, pengawal yang sigap berhasil mengalahkan bujukan maut itu.

Dokter tak menyebut dia gila, dan boleh pulang, meski selalu mendampinginya, tiap makan malam, sampai sebuah siang, ketika maut merayunya, di ladang gandum itu, setahun kemudian.

<B>Gagal sebagai Pendeta</B>

Vincent van Gogh dilahirkan 30 Maret 1853 di desa Groot Zunbert, di daerah Brabant Utara, Belanda. Ayahnya, Theodorus adalah paderi kampung, pendeta, pengikut Gereja Reformasi Belanda, Dutch Reformed Church. Ibunya, Anna Cornelia Carbentus, tak bekerja. Dia punya lima saudara, tiga perempuan Anna, Elizabeth dan Wilhelmien, serta Theo dan Cornelius.

Usia 12 tahun, dia masuk asrama di desa Zevenbergen, berjarak 12 mil dari desanya, sampai dia berusia 16 tahun. Menggunakan pengaruh Pakdenya, Cent, dia diterima bekerja di Goupil dan Cie di Hague. Goupil adalah pusat restorasi lukisan, khusus untuk perbaikan lukisan-lukisan terbaik. Empat tahun di sana, atas prestasinya yang baik, van Gogh dipindahkan ke kantor pusat Goupil di London, Mei 1873 dengan gaji 90 lira setahun. Di kota ini dia menyewa kamar di rumah Mrs. Loyer yang mempunyai anak perempuan cantik, Ursula/Eugenie, yang membuat dada van Gogh membuncah, jatuh cinta. Ini cinta pertama van Gogh, yang bertepuk sebelah tangan, juga menjadi awal kegagalannya berhubungan dengan wanita.

Kegagalan cinta ini amat memengaruhi Gogh. Atas pengaruh Cent, dia pun dapat dipindahkan ke cabang Goupil di Paris untuk perbaikan batinnya. Di sini dia tak tertolong, dan setelah tiga bulan percobaan, kinerjanya tak juga membaik, Goupil mengeluarkannya. Kariernya sebagai “ahli reperasi” lukisan pun tamat.

Tak memunyai rencana, Gogh pergi ke Inggris, dan bekerja paro waktu sebagai guru di sebuah asrama. Tak lama, dia pun pindah dan mengajar di sebuah SMA di Isleworth.

Kehidupan masa kecilnya sebagai anak pedeta membuat dia ingin mengabdikan diri untuk tugas pelayanan. 1878 dia berusaha melamar masuk sekolah teologi, tapi ditolak. Namun, dia tak putus asa, dan menjadi pendeta, berdakwah keliling, dengan kehidupan yang serba hemat, menabung, yang kemudian dia dermakan untuk kaum papa.

Namun, van Gogh adalah anomali. Dakwahnya selalu gagal. Ini karena Gogh terlalu ketat dan menerapkan ajaran Kristiani secara bulat-bulat. Puncaknya, ketika dia berdakwah di kalangan petani dan penambang batu bara di Borinage, Belgia Selatan, dia diusir karena ajaran yang terkesan menakutkan.

Usianya baru 25, dan dia mulai putus asa.

Dua tahun berikutnya adalah masa yang sulit. Ketika menyadari sisi sosialnya amat buruk dan seni komunikasi serta pikirannya tak dapat diterima masyarakat, van Gogh mulai mengikhtiarkan cara lain. Dia masih merasa simpati pada kesengsaraan kaum tadi dan penambang, meski tak tahu harus bagaimana cara menunjukkan simpati itu. Tapi, di puncak sedih itu, keisengan van Gogh untuk menumpahkan risau melalui kanvas membuka satu kesadaran baru: para petani dan penambang menyukai curahan kuasnya, sesuatu yang semua tak dia bayangkan.

DI usia 27 tahun, dia memulai niat baru.

Dengan bantuan seorang penambang yang bersedia menyewakan rumahnya dengan harga murah, serta bantuan dana dari ayahnya, van Gogh membuka “studio” pertama di Borinage. Dia melukis siang-malam, hanya untuk mencari kesamaan kiblat gayanya dengan pelukis lain. Perubahan ini sangat didukung keluarganya. Kakaknya, Theo, mengantar puluhan lukisan duplikat dari Paris untuk dia pelajari. Dia juga mendapat teks-teks lukisan dari pengurus Goupil di Hague, terutama tentang garis perspektif dan teks anatomi. Tak cukup hanya itu, Theo bahkan mengundangnya melanglang ke Paris untuk meluaskan referensinya di pusat seni dunia itu. Van Gogh menolaknya. Sebaliknya, di musim panas 1880, dia malah menempuh jalan sunyi, pergi ke Brussel, Bergia, dan tinggal di hotel termurah. Hampir setahun dia di sini, hanya untuk mematangkan teknik sapuan dan mempelajari pengaruh warna secara lebih filosofis pada lukisannya, bergelut siang malam, dan menulis ratusan surat kepada Theo untuk melaporkan perkembangan yang telah dia capai.

Di Brusel inilah tahap pertama kematangan van Gogh, yang kelak dia lanjutkan dengan belajar pada teknik Monet.

« Previous Page